Burung-Burung Halmahera (2)

Burung termasuk salah satu kelompok fauna yang memiliki fungsi penting dalam ekosistem hutan tropis. Selain berperan sebagai pengendali serangga, burung juga membantu proses penyerbukan dan memencarkan biji-bijian sehingga kelestarian hutan tetap terjaga.

Pada edisi kali ini, penulis akan berbagi cerita tentang jenis burung hutan dataran rendah Halmahera yang berhasil didokumentasikan. Pengamatan burung di hutan terbilang sulit, karena rimbunnya dedaunan sangat menghalangi pandangan. Mengandalkan mata dan teropong binokuler saja tidaklah cukup.

Salah satu cara untuk menentukan posisi bertenggernya burung adalah dengan mendengarkan suaranya. Uniknya lagi, burung di Halmahera jadi lebih kalem saat berada di hutan. Burung-burung ini baru bersuara, saat terbang meninggalkan pohon atau saat menemukan sumber makanan. Suara burung ini sangat penting dalam proses identifikasi.

Penulis banyak belajar dan berdiskusi dengan pemandu yang menjadi pendamping sekaligus penunjuk jalan. Informasi dari pemandu tentang lokasi-lokasi yang menjadi tempat favorit bertenggernya burung, sangat membantu proses dokumentasi.

Bekal dari membaca buku atau mencari literatur di dunia maya, ternyata belumlah cukup untuk diaplikasikan di lapangan. Oleh karenanya, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Bapak Pemandu.

Hasil pengamatan kami menunjukkan bahwa jenis-jenis burung dataran rendah di Halmahera didominasi oleh kelompok burung paruh bengkok, burung pemakan buah dan pemakan serangga. Cerita selengkapnya, dapat dibaca di bawah ini:

  1. Nuri-raja Ambon (Alisterus amboinensis).

Nuri-raja Ambon (Suku Psittaculidae) atau Moluccan King Parrot mungkin termasuk jenis burung nuri terindah di Halmahera. Penulis berhasil mengamati burung ini saat melakukan penjelajahan di hutan primer puncak bukit Tanjung Buli, Halmahera Timur.

Gerakan sayap Nuri-raja Ambon saat terbang mirip ngengat. Kepakan sayapnya dalam. Gerakannya gesit dan indah. Suaranya  terdengar parau dan keras eree eree eree eree. Jika merasa terancam burung ini akan mengeluarkan suara Shhhkk….!!! atau Keek…! yang melengking tinggi dan berulang-ulang saat terbang.

Nuri-raja Ambon umumnya hidup di bawah kanopi hutan primer. Ukurannya cukup besar. Sekitar 35-40 cm. Ekornya sangat panjang dan lebar. Kepala dan tubuh bagian bawah berwarna merah. Sayap berwarna hijau gelap. Pada sub-spesies hypophonius dari Halmahera sayap berwarna biru kelasi. Punggung dan ekor biru-ungu gelap.

Habitatnya berada pada ketinggian 0-1800 m. Makanannya berupa buah-buahan hutan yang keras. Burung ini sering terbang berpasangan atau berkelompok sampai sepuluh ekor. Namun, saat ditemukan penulis, burung ini hanya sendirian bertengger di atas dahan.

Meskipun menyandang nama Ambon, sebaran nuri ini jauh lebih luas, mulai dari Kepulauan Sula dan Banggai hingga Papua bagian utara.

23.Nuri Raja Ambon-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Nuri-raja Ambon (Alisterus amboinensis). Sumber: dokumentasi pribadi.

Berdasarkan daerah sebaran dan pola warna yang berbeda-beda, Nuri-raja Ambon dibagi menjadi 6 ras (sub-spesies), yaitu:

  • hypophonius (S. Müller, 1843) – Halmahera, Maluku Utara .
  • sulaensis (Reichenow, 1881) – Kep. Sula.
  • versicolor Neumann, 1939 – Peleng di Kep. Banggai.
  • buruensis (Salvadori, 1876) – Buru di Maluku Selatan.
  • amboinensis (Linnaeus, 1766) – Ambon dan Seram di Maluku Selatan.
  • dorsalis (Quoy & Gaimard, 1830) – Papua Barat beserta pulau-pulau satelitnya.

Coates dan Bishop (2000), menyatakan bahwa Nuri-raja Ambon termasuk burung yang tidak umum. Namun IUCN menggolongkan burung ini beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern).

Nuri-raja Ambon masuk dalam Appendiks II CITES sebagai hewan yang dapat diperdagangkan, namun dengan syarat dan ketentuan tertentu. Bukan termasuk jenis burung yang dilindungi di Indonesia.

2. Nuri Kalung-ungu (Eos squamata).

Nuri Kalung-ungu (Suku Psittaculidae) atau Violet-necked Lory termasuk jenis burung yang berwarna cerah dan berpembawaan ceria.

Penulis menemukan burung ini di sekitar rangkaian bunga Sagu berukuran sangat besar yang sedang mekar. Puluhan burung ini beterbangan dengan ributnya dan saling patuk memperebutkan nektar.

Merah dan ungu adalah jenis warna yang mendominasi Nuri Kalung-ungu. Muka merah terang. Leher, perut, dan penutup ekor bawah ungu lembayung. Ekor agak panjang dan runcing. Ketika terbang: bulu primer sayap bawah sebagian besar merah dengan ujung hitam.

Warna merah mendominasi tubuh Nuri Kalung-ungu. Burung ini berukuran sekitar 28 cm. Memiliki ekor yang cukup panjang dibanding nuri lainnya. Habitat utamanya adalah daerah pesisir atau pulau-pulau kecil.

21.Perkici Kalung Ungu-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Nuri Kalung-ungu  (Alisterus amboinensis). Sumber: dokumentasi pribadi.

Nuri Kalung-ungu sering ditemukan terbang bergerombol dalam jumlah puluhan hingga ratusan ekor. Terbang melintas antar pulau untuk mencari nektar. Kebun Kelapa dan Rawa Sagu adalah tempat yang disukai burung ini.

Nuri Kalung-ungu tersebar di Maluku Utara terus ke timur hingga Raja Ampat. Burung ini jarang ditemukan di Maluku Selatan. Berdasarkan pola warna dan daerah sebarannya, Nuri Kalung-ungu dibagi menjadi 3 ras, yaitu:

  • riciniata (Bechstein, 1811) – Maluku Utara, termasuk Kep. Widi.
  • obiensis Rothschild, 1899 – Obi dan Bisa di Maluku Utara.
  • squamata (Boddaert, 1783) – Kepulauan di Papua Barat dan Kepulauan Schildpad.

Nuri Kalung-ungu termasuk burung yang umum ditemukan sehingga IUCN menggolongkan burung ini beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern).

Burung ini juga masuk dalam Appendiks II CITES sebagai hewan yang dapat diperdagangkan, namun dengan syarat dan ketentuan tertentu. Tidak termasuk jenis burung yang dilindungi di Indonesia.

3. Perkici Dagu-merah (Charmosyna placentis).

Perkici Dagu-merah (Suku Psittaculidae) termasuk jenis nuri berukuran kecil (16-19 cm). Burung ini diamati saat sedang menyerbu tandan bunga sagu yang sedang mekar bersama dengan Nuri kalung-ungu. Saat makan nektar bunga sagu, suara burung ini terdengar berisik sekali. Dalam Bahasa Inggris burung ini disebut Red-flanked Lorikeet.

Perkici Dagu-merah memiliki warna dominan hijau dengan kombinasi warna yang rumit di bagian kepala. Burung jantan memiliki mahkota depan hijau/kuning, kekang, pipi dan tenggorokan atas merah hati; penutup telinga biru/ungu dengan bercak biru pucat; paruh merah, mata kuning.

Penutup sayap bawah sampai sisi dada dan sayap merah; lingkar kuning di bawah sayap; tunggir memiliki bercak kebiruan dan ekor meruncing berwarna hijau bertepi kuning, bagian tengah bulu sampai ujung merah.

Burung betina memiliki ciri: mahkota depan hijau gelap; penutup telinga biru/hitam gelap dengan coretan kuning mencolok; tunggir memiliki bagian berwarna biru gelap. Remaja: seperti betina dewasa, tetapi jantan muda memiliki kekang merah dan mahkota depan hijau/kuning. Paruh coklat dan mata kuning/coklat.

Perkici Dagu-merah menyukai habitat berupa hutan primer, hutan sekunder, tepi hutan, dan habitat terbuka. Sering mengunjungi pohon Cemara Laut di pesisir, perkebunan kelapa, serta tegalan di sekitar desa. Dapat ditemui sampai ketinggian 1400 m.

22.Nuri Pipi Merah-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Perkici Dagu-merah (Charmosyna placentis). Sumber: dokumentasi pribadi.

Perkici Dagu-merah umumnya terbang berpasangan atau dalam kelompok kecil sampai 25 individu, mengunjungi pohon berbunga atau rumpun epifit  untuk mencari makan berupa; nektar, buah dan biji. Sangat berisik dan aktif ketika makan, tetapi sulit dideteksi dan pendiam saat bertengger di dalam kanopi pohon.

Daerah sebaran Perkici Dagu-merah sangat luas meliputi: Maluku, Papua, Papua Nugini, Kep. Bismarck, dan Kep. Solomon. Berdasarkan pola warna dan daerah sebarannya, dikenal lima sub-spesies:

  • intensior (Kinnear, 1928) – Maluku Utara; Morotai, Halmahera, Widi, Ternate, Kasiruta, Bacan, Obi. Serta Gebe (Kepulauan di Papua Barat).
  • placentis (Temminck, 1834) – Maluku Selatan (Ambelau, Boano, Seram, Ambon, Seram, Tayandu, Kai) dan Kep. Aru, Malalui Papua selatan sampai teluk Papua.
  • ornata Mayr, 1940 – Kepulauan di Papua Barat kecuali Gebe, Papua Barat bagian utara.
  • subplacens (P. L. Sclater, 1876) – Papua utara bagian tengah ke timur.
  • pallidior (Rothschild & Hartert, 1905) – Gugus Kepulauan sampai Bougainville.

Perkici Dagu-merah termasuk burung yang umum ditemukan sehingga IUCN menggolongkan burung ini beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern).

Burung ini juga masuk dalam Appendiks II CITES sebagai hewan yang dapat diperdagangkan, namun dengan syarat dan ketentuan tertentu. Bukan termasuk jenis burung yang dilindungi di Indonesia.

4. Nuri Pipi Merah (Geoffroyus geoffroyi).

Nuri Pipi-merah (Suku Psittaculidae) atau Red-cheeked Parrot tersebar luas di Maluku, Nusa Tenggara dan Australia. Burung ini umum ditemukan di hutan primer dan hutan sekunder dengan pohon yang tinggi, lahan budidaya, kebun kelapa, hutan mangrove dan hutan pesisir di pulau-pulau kecil.

Hijau adalah warna dominan dari Nuri Pipi-merah. Ciri khas nuri ini adalah warna merah membulat pada bagian muka dan kepala. Pada betina, kepala berwarna kecoklatan. Burung ini berukuran sedang (21-30 cm).

Pada saat pengamatan di lapangan, Nuri Pipi merah ditemukan terbang berkelompok di pucuk-pucuk pohon mangrove di Moronopo. Burung ini juga banyak ditemukan hutan perbukitan di Tanjung Buli.

Penulis agak kesulitan melihat Nuri Pipi-merah saat pengamatan, karena burung ini hinggap di kanopi hutan yang tinggi. Tubuh burung ini juga tersamar dengan baik diantara rimbunnya dedaunan. Satu-satunya cara untuk memastikan posisi burung ini dengan tepat adalah dengan mendengarkan suaranya.

32.Nuri Pipi Merah-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Nuri Pipi Merah (Geoffroyus geoffroyi). Sumber: dokumentasi pribadi.

Nuri Pipi-merah mengeluarkan suara Kee! Kee! Kee! Kee! yang keras, nyaring, tajam dan melengking tinggi saat terbang atau bertengger pada dahan pohon. Suara Kee! akan berulang setiap 2 detik selama 10-15 detik.

Nuri Pipi-merah sangat aktif dan gaduh di pagi dan sore hari, terbang saling berkejaran diselingi gerakan akrobatik dan suara panggilan ketika meninggalkan/kembali ke sarang komunal. Makanan utamanya biji, buah dan kuncup bunga.

Berdasarkan pola warna dan daerah sebarannya, Nuri Pipi-merah terbagi menjadi 16 ras. Burung yang ada di Maluku Utara tergolong ras cyanicollis. Nuri Pipi-merah termasuk burung yang umum ditemukan sehingga IUCN menggolongkan burung ini beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern).

Nuri Pipi-merah juga masuk dalam Appendiks II CITES sebagai hewan yang dapat diperdagangkan, namun dengan syarat dan ketentuan tertentu. Bukan termasuk jenis burung yang dilindungi di Indonesia.

5. Uncal Ambon (Macropygia amboinensis)

Uncal Ambon atau Slender-billed Cuckoo-dove (Suku Columbidae) berukuran agak besar (36 cm). Tubuh diselimuti bulu berwarna coklat susu. Tubuh bagian atas berwarna lebih gelap dari bagian bawah.

Sayap coklat gelap. Kepala dan leher burung jantan berbulu abu-abu merah jambu. Dagu kekuningan. Pada betina dan burung remaja semua bulunya berwarna coklat.

Suara Uncal Ambon sangat mirip Uncal besar, berupa serangkaian nada khas yang keras, terdiri dari teriakan dua suku yang menyambung naik: “woo-up woo-up woo-up…” diulang secara monoton dengan jarak waktu rata-rata enam suara tiap 10 detik.

24.Uncal Ambon-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Uncal Ambon jantan (Macropygia amboinensis). Sumber: dokumentasi pribadi.

Habitat utama Uncal Ambon adalah hutan dataran rendah. Sering dijumpai sampai ketinggian 1800 mdpl, jarang sampai 2300 mdpl.

Hidup sendirian atau berpasangan, tetapi berkumpul bersama dalam kelompok kecil saat mencari makan di hutan, hutan sekunder, hutan rawa, semak, lahan budidaya, dan taman-taman. Memakan buah-buah kecil dan biji-bijian.

Meskipun menyandang nama Ambon, burung Uncal ini tersebar luas mulai dari Sulawesi hingga Kepulauan Bismarck dan Australia. Berdasarkan daerah sebaran dan ciri morfologinya, Uncal Ambon dibagi menjadi 15 sub-spesies. Uncal Ambon di Halmahera, Obi, Bacan dan Maluku Utara pada umumnya termasuk dalam ras batchianensis.

24b.Uncal Ambon-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Uncal Ambon betina (Macropygia amboinensis). Sumber: dokumentasi pribadi.

Uncal Ambon termasuk burung yang umum ditemukan dan memiliki daerah penyebaran yang sangat luas, sehingga IUCN menggolongkan burung ini beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern).

Burung ini juga tidak masuk dalam Appendiks CITES dan tidak termasuk jenis burung yang dilindungi di Indonesia.

6. Mandar Padi Kalung-kuning (Gallirallus philippensis)

Mandar Padi Kalung-kuning atau Buff-banded Rail (Suku Rallidae) termasuk jenis burung lahan kering yang sangat umum dan berukuran sedang (32 cm).

Kepala berwarna coklat terang dengan alis abu-abu pucat mencolok dan tenggorokan keputih-putihan. Pita seperti kalung berwarna kuning terang tertera di bagian dada, tubuh bagian bawah berpalang hitam mencolok, serta mantel bertotol coklat.

Habitat utama Mandar Padi Kalung-kuning adalah padang rumput dan vegetasi berawa dari ketinggian permukaan laut sampai 3600 m. Di pulau-pulau kecil sering mengunjungi habitat terbuka.

Aktif di siang hari, sering terlihat berlari melintasi kawasan terbuka, dari petak rumput yang lebat. Memakan inverteberata, verteberata kecil, biji-bijian, buah, dan bangkai. Bersarang di alang-alang dekat perairan. Jumlah telur 5-8 butir setiap periode berbiak.

29b. Mandar Padi Kalung Kuning-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Mandar Padi Kalung-kuning (Gallirallus philippensis). Sumber: dokumentasi pribadi.

Mandar Padi Kalung-kuning memiliki daerah penyebaran yang luas, mencakup: Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara. Juga di Kep Solomon, Australia, Selandia Baru, dan kepulauan di Pasifik tengah.

Berdasarkan daerah sebaran dan karakter morfologinya, burung ini dibagi menjadi 20 sub-spesies. Burung Mandar yang tersebar mulai dari Filipina, Sulawesi hingga Nusa Tenggara tergolong ras philippensis.

Daerah sebaran yang sangat luas dan populasi yang cukup banyak menyebabkan Mandar Padi Kalung-kuning masih dikategorikan beresiko rendah (Least Concern) untuk punah oleh IUCN.

Mandar Padi Kalung-kuning juga tidak termasuk dalam daftar Apendiks CITES dan tidak termasuk dalam daftar flora dan fauna yang dilindungi di Indonesia. Populasi di Halmahera cenderung menurun akibat konversi habitat

7. Julang Papua (Rhyticeros plicatus)

Julang Papua atau Blyth’s Hornbill (Suku Bucerotidae) mungkin termasuk salah satu burung berukuran paling besar dan paling menarik di Halmahera. Tubuh dapat mencapai ukuran 76-91 cm. Bulu didominasi warna hitam dengan ekor putih. Paruh berukuran sangat besar berwarna kuning.

Pada jantan, leher berwarna coklat kekuningan dengan kantung penyimpan biji berwarna putih. Pada betina hampir seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali ekor yang berwarna putih.

Habitat utama Julang Papua berupa kanopi hutan pamah, hutan perbukitan, hutan rawa, dan hutan terbuka, dari ketinggian permukaan laut sampai 500 m. Burung ini sering bergerombol dan bersuara ribut. Mencari buah-buahan, serangga besar, dan verteberata kecil untuk dimakan.

Umur dapat dideterminasi dari jumlah keriput pada tanduk di atas paruh, dengan satu lipatan bertambah satu tahun, sampai umur sekitar enam tahun, pada saat keriput pertama mulai patah.

29.Julang Papua-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Julang Papua (Rhyticeros plicatus) jantan sub-spesies ruficollis. Sumber: dokumentasi pribadi.

Populasi Julang Papua lumayan besar dan cukup mudah ditemukan di Halmahera. Salah satu momen paling berkesan yang dirasakan penulis adalah saat sepasang Julang Papua terbang melintas di atas kepala.

Suara kepakan sayapnya yang berat menderu terdengar keras sekali. Whoop whoop whoop whoop. Sepasang burung ini kemudian hinggap di kawasan hutan yang lebat, setelah sebelumnya terbang menyeberang, melewati lahan terbuka yang cukup luas, di mana penulis sedang berdiri untuk memotret.    

Saat akhir musim hujan di bulan April-Mei, Julang Papua memasuki musim kawin dan sering ditemukan bertengger berpasang-pasangan. Burung ini terbang dengan riang, saling berkejaran dan melompat dari satu dahan ke dahan yang lain di atas tajuk hutan yang tinggi.

Julang Papua termasuk burung yang setia dan hanya berbiak dengan satu pasangan saja hingga akhir hayatnya.

b. Julang Papua-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Sepasang Julang Papua terbang melintas di atas kepala. Burung jantan (kanan) dan burung betina (kiri) Sumber: dokumentasi pribadi.

Perilaku bersarang Julang Papua tergolong sangat unik. Saat mengeram, burung betina akan diisolasi dalam lubang besar yang terdapat pada batang pohon tua.Lubang ini biasanya merupakan bekas sarang burung pelatuk atau lubang yang terjadi secara alami.

Pintu masuk lubang disegel dengan lumpur, kotoran dan material lainnya. Kondisi gelap di dalam lubang, memicu aktifnya hormon tertentu sehingga betina mengalami gugur bulu (moulting). Bulu yang rontok ini membuat sarang lebih hangat dan nyaman.

Sarang hanya menyisakan lubang kecil di pintu masuk untuk melewatkan buah ara yang diberikan pejantan kepada betina dengan paruhnya. Betina baru akan keluar dari lubang pohon, setelah sarang dirasa terlalu sempit bagi induk dan anaknya.

Julang Papua tersebar luas mulai dari Maluku, Papua hingga Kepulauan Solomon. Burung ini dibagi menjadi 6 ras (sub-spesies) berdasarkan daerah sebarannya, yaitu:

  • R. p. plicatus (Forster, 1781) – Maluku Selatan
  • R. p. ruficollis (Vieillot, 1816) – Maluku Utara hingga Papua Nugini.
  • R. p. jungei Mayr, 1937 – Papua Niugini bagian timur. Bagian paling barat dibatasi Sungai Fly
  • R. p. dampieri Mayr, 1934 –Kepulauan Bismarck
  • R. p. harterti Mayr, 1934 –Kepulauan Bougainville dan Pulau Buka
  • R. p. mendanae Hartert, 1924 –Kepulauan Solomon

Populasi Julang Papua juga masih cukup banyak. IUCN menggolongkan burung ini sebagai satwa yang masih beresiko rendah untuk punah (LC = Least Concern). Meskipun demikian, CITES memasukkan burung ini dalam Appendiks II sebagai satwa yang perdagangannya diatur secara khusus.

Pemerintah Indonesia memasukkan burung ini dalam daftar fauna yang dilindungi Undang-Undang (UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No 7. Tahun 1999).

8. Gosong Kelam (Megapodius freycinet).

Salah satu burung unik lainnya yang ditemukan di hutan dataran rendah Halmahera adalah Gosong Kelam atau Dusky Scrubfowl (Suku Megapodidae).

Masyarakat setempat menyebut burung ini dengan nama burung Maleo, karena ukuran telurnya yang cukup besar. Halmahera dan pulau-pulau satelit di sekitarnya seperti Morotai, Ternate, Kasiruta, Obi dan Bacan, dikenal sebagai daerah sebaran utama burung eksotis ini.

Burung Gosong Kelam asal Halmahera umumnyaberukuran besar (41 cm), berwarna keabu-abuan tua, seperti ayam dengan ekor pendek (terlihat seperti tanpa ekor).

Jengger kepala runcing, kulit muka merah, dan iris mata coklat. Paruh pendek berwarna coklat gelap dan kuning. Berkaki besar berwarna gelap. Jantan dan betina mirip.

Gosong Kelam umumnya menghuni hutan rawa, mangrove dan hutan dataran rendah. Mengais seresah daun di lantai hutan untuk mencari biji-bijian, buah, artropoda dan verteberata kecil. Gosong Kelam bersuara siang dan malam hari.

Suara jantan umumnya bernada ganda memekik menyambung dan menurun. Pada malam hari burung jantan sering mengeluarkan suara dengan nada “kuk, kyrrd-kyrrd-kyrrd-kyrrd” yang dijawab oleh betina dengan “ku ku ku ku” lembut seperti ayam kampung.

Suara Pejantan Gosong Kelam terdengar mencekam, mengingatkan penulis pada suara-suara aneh pengiring film-film horor Indonesia.

28d.Gosong Kelam-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Sarang Gosong Kelam yang terdiri dari gundukan serasah daun. Sumber: dokumentasi pribadi. Burung Gosong Kelam (inset). Sumber: Oriental Bird Image.

Gosong Kelam memiliki tingkah laku bertelur yang unik karena telur yang dihasilkan betina dikubur dalam gundukan yang terdiri dari campuran serasah daun, ranting dan pasir.

Gundukan tanah ini dapat mencapai tinggi 2 m dan diameter 3 m yang tersusun dari pasir, seresah daun dan materi seresah lain, dimana panas yang dihasilkan oleh proses dekomposisi materi organik gundukan digunakan untuk mengerami telur.

Burung dewasa tidak mengerami telur dan merawat anaknya. Anakan tumbuh dewasa dengan cepat, menetas dari telur-telur yang terkubur dan keluar dari gundukan ke permukaan, lalu menjaga diri sendiri sampai dewasa. Anak burung yang menetas langsung dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada induknya.

Burung Gosong umumnya ditemukan di sekitar pantai dan Pulau-pulau kecil yang terpencil di Maluku Utara hingga Papua Barat. Menurut Coates dan Bishop (1997), jumlah individu burung ini masih cukup banyak ditemukan, namun populasinya cenderung terus menurun akibat perburuan dan rusaknya habitat.

Berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, burung Gosong Kelam termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi Undang-Undang. Burung ini tidak termasuk dalam daftar Apendiks CITES dan dikategorikan beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern) oleh IUCN.

Birdlife (2013), menyatakan bahwa populasi Gosong Kelam di Halmahera masih banyak ditemukan. Namun populasi di daerah lainnya seperti: Bacan, Obi, Raja Ampat dan Daerah Kepala Burung Papua sudah jarang ditemukan.

9. Gagak Orru (Corvus orru).

Gagak Orru atau Torresian Crow (Suku Corvidae) adalah gagak berukuran besar (45 cm). Seluruh tubuh berwarna hitam. Iris mata putih.

Sepintas bentuknya mirip dengan Gagak Halmahera hanya saja ukuran tubuhnya lebih kecil. Paruh juga lebih kecil, lebih pendek dan lebih melengkung dibandingkan paruh Gagak Halmahera.

Gagak Orru merupakan jenis gagak yang terspesialisasi untuk hidup di daerah pesisir, pulau-pulau kecil dan dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Bersifat omnivor dan oportunis dengan memakan apa saja termasuk sampah sisa makanan.

Makanannya berupa biji-bijian, inverteberata, Burung kecil, ikan, bangkai, telur dan anakan, buah-buahan dan sesekali nektar bunga. Di Australia burung ini berbiak sepanjang musim.

1 .Gagak Orru-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Gagak Orru Sumber: dokumentasi pribadi.

Gagak Orru bersarang di pohon yang tinggi, sarang tersusun dari jalinan ranting dan rumput. Kedua induknya membangun sarang dan memberi makan anakannya. Jumlah telur biasanya 2-4 butir per periode berbiak.

Gagak ini sering terbang dalam kelompok. Suaranya sangat keras, parau, provokatif, bikin ill feel dan sangat menjengkelkan. Suaranya terdiri dari nada Kaak ! Kaak ! Kaaaaaaaooooooowwww yang bervariasi dan berulang-ulang.

Gagak Orru tersebar luas, mulai dari Maluku,  Papua dan pulau-pulau satelitnya (kecuali kepulauan Aru), hingga Australia. Gagak ini terdiri dari tiga sub-spesies, dengan daerah persebaran:

  • orru (Bonaparte, 1850): Maluku ke timur sampai Pulau Papua, termasuk kepulauan D’Entrecasteaux dan Louisiade Kepulauan.
  • latirostris (A. B. Meyer, 1884): Babar dan Kepulauan Tanimbar (di bagian timur Sunda Kecil).
  • cecilae (Mathews, 1912): Australia barat, tengah, dan utara, termasuk pulau-pulau utama di sepanjang pantainya.

Gagak Orru memiliki populasi yang melimpah dan tersebar luas sehingga oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah dari kepunahan (Least Concern). Burung ini juga tidak terdaftar dalam Appendiks CITES dan tidak termasuk satwa yang dilindungi Undang-Undang.

Referensi:

Untuk mendengarkan suara atau melihat gambar yang lebih jelas dari jenis burung yang diuraikan di atas, kami rekomendasikan untuk mengunjungi Website: http://www.kutilang.or.id

Posted in Fauna | Tagged ,