Kudu-kudu: si buntal tanduk nan lucu

Awal bulan Agustus 2014, penulis diajak beberapa sahabat melakukan kegiatan snorkeling di Pulau Balanglompo (Kabupaten Pangkajene Kepulauan), Sulawesi Selatan. Ini adalah perjalanan kali kedua bagi penulis ke pulau ini. Kunjungan pertama terjadi sekitar dua tahun yang lalu.

Perlu waktu tempuh satu jam, sejak keberangkatan dari anjungan pantai Losari  hingga speedboat yang kami tumpangi berlabuh tepat di sisi barat pulau Balanglompo. Rataan terumbu di bagian ini cukup luas, didominasi bongkahan karang batu dan rimbunan algae coklat, sehingga cocok dijadikan lokasi snorkeling.

Tak perlu waktu lama bagi kami untuk langsung terjun ke air, menikmati keindahan bawah laut Pulau Balanglompo sambil bersnorkeling ria. Namun, sayangnya tak banyak flora dan fauna laut yang dapat kami amati.

Sebagaimana pulau-pulau lainnya di Kepulauan Spermonde, ekosistem laut dangkal di Pulau Balanglompo telah mengalami gangguan berat akibat eksploitasi alam yang tak terkendali.

Saat bersnorkeling tak jauh dari pantai, kami melihat seekor biota laut dengan bentuk tak lazim, melintas di depan mata. Gaya renangnya canggung. Badannya kotak. Kulit keras seperti memakai baju zirah yang tebal, bermotif heksagonal mirip pola geometris sarang lebah. Kulitnya juga memiliki motif bintik polkadot berwarna putih kebiru-biruan. Tubuh bagian bawah berwarna kuning terang.Sepasang tanduk panjang tumbuh menghias kepala.

Kudu-5-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Biota laut yang sedang melintas di depan kami. Sumber: dokumentasi pribadi

Biota laut tak dikenal itu berenang pelan, penuh percaya diri. Dua bilah sirip dada bergerak teratur dan bergantian. Ekornya sangat aktif, menyapu kolom air ke kiri dan ke kanan. Bergerak maju dan mundur seperti sedang mencari makan di antara tegakan alga laut yang rimbun berwarna kecoklatan.

Penulis dan seorang rekan (buddy) menjadi semakin penasaran, karena biota laut yang terlihat janggal itu, seolah-olah tak memperdulikan keberadaan kami.

Tanpa pikir panjang, rekan penulis segera bertindak. Tangannya bergerak cepat menyambar tubuh hewan tersebut. Terjadi pergumulan sebentar hingga akhirnya… Haaaap. Dapat. Tubuh hewan itu bergetar hebat, meronta-ronta di tangan rekan penulis. Mulutnya tampak membulat lucu, membuka dan menutup. Matanya berkedip-kedip. Mungkin terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

Kudu-6-dody94.wordpress.comGambar 2. Kudu-kudu. Sumber: dokumentasi pribadi

Segera saja makhluk laut seperti ikan yang aneh ini kami naikkan ke atas speedboat untuk didokumentasikan.  Dengan, tergesa-gesa, sampel hidup itu kami letakkan di tempat duduk panjang bercat putih dan kami potret dari segala sisi. Tak lupa, kami berfoto bersama sebelum melepas hewan ini kembali ke laut.

Dari penelusuran pustaka, barulah kami tahu jati diri biota laut yang kami tangkap. Ternyata hewan tersebut adalah ikan Buntal Kotak atau Buntal Bertanduk yang umum ditemukan di laut dangkal. Ikan ini termasuk spesies Lactoria cornuta dari suku Ostraciidae. Dalam bahasa Inggris ikan ini disebut Boxfish atau Longhorn Cowfish. Masyarakat setempat menyebut ikan ini dengan nama “Kudu-kudu”.

Kudu-3-dody94.wordpress.comGambar 3. Tampak samping dan tampak atas ikan Kudu-kudu. Sumber: dokumentasi pribadi

Buntal kotak termasuk jenis ikan yang hidup di perairan tropis yang dangkal. Panjang dapat mencapai 50 cm. Bersifat omnivora dengan memakan algae, foraminifera, sponge, cacing, keong kecil, udang kecil, ikan kecil dan lain-lain. Daerah sebaran Buntal Kotak sangat luas, meliputi perairan Afrika Timur, Laut Merah, Korea, Jepang, Indonesia, Australia Selatan hingga Kepulauan Pasifik.

Buntal Kotak memiliki gigi yang kuat dan tajam sehingga mampu memecahkan cangkang kulit keong yang tebal. Ikan ini mampu menemukan mangsa yang bersembunyi di balik pasir dengan cara menyemprotkan air bertekanan tinggi dari mulut ke dasar perairan.

Untuk menghadapi kehidupan laut yang ekstrim dan penuh mara bahaya, si Buntal Kotak dilengkapi Sang Pencipta dengan berbagai macam senjata. Kepala dan tubuh bagian belakang dilengkapi sepasang tanduk, kulitnya tebal dan ringan, terbuat dari lempengan tulang yang keras, paruhnya kuat dan tajam hingga dapat memecah cangkang keong yang tebal.

Kudu-2-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Tampak samping dan tampak bawah. Perut ikan Kudu-kudu yang kami temukan berwarna kuning menyolok. Salah satu duri belakangnya patah saat dilakukan penangkapan. Sumber: dokumentasi pribadi

Jika merasa sangat terancam, Buntal Kotak mampu melumpuhkan musuhnya dengan senjata pembunuh massal super-canggih bernama Ostracitoxin. Jika diluncurkan, senjata kimiawi buatan sendiri ini, sanggup membuat ikan se-akuarium mati dalam sekejap .

Bagaimana dengan pergerakannya ?. Meskipun berbentuk kotak, Ikan Buntal sanggup bergerak dengan kecepatan 6 kali panjang tubuhnya dalam sedetik. Salah satu produsen mobil ternama, Mercedes, pernah meneliti sisi aerodinamis dari Buntal Kotak ini.

Peneliti di perusahaan tersebut membuat replika Buntal Kotak seukuran mobil, kemudian mengukur efek daya hambat yang ditimbulkan dari bentuk kotak ini di dalam terowongan angin.

Hasilnya, model tubuh Buntal Kotak dinyatakan memiliki daya hambat yang rendah dan efisiensi energi yang tinggi. Dengan kata lain, jika dibuat mobil, Buntal Kotak adalah salah satu mobil paling stabil, paling cepat dan paling kuat dengan konsumsi bahan bakar yang paling irit.

Kudu-4-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Ekspresi lucu ikan Kudu-Kudu. Sumber: dokumentasi pribadi

Meski beracun, Kudu-kudu menjadi salah satu menu makanan favorit di restoran-restoran mahal di Kota Makassar. Daging Kudu-kudu biasanya diolah dan dimasak dengan berbagai cara.

Salah satu yang paling populer adalah menu Kudu-kudu goreng tepung. Daging yang sudah digoreng biasanya ditempatkan dalam wadah yang terbuat dari tempurung/kulit Kudu-kudu yang keras. Konon tekstur dagingnya agak berserat, namun rasanya dijamin lezat.

Berbeda dengan ikan buntal lainnya, Kudu-kudu hanya menghasilkan racun saat masih hidup saja. Kudu-kudu yang sudah almarhum tak bisa lagi memproduksi racun.  Tidak ada residu atau bahan racun yang disimpan dalam organ tubuh tertentu seperti pada hewan berbisa lainnya sehingga ikan ini aman untuk dimakan.

Kudu-1-dody94.wordpress.comGambar 6. Berpose bersama ikan Kudu-kudu. Sumber: dokumentasi pribadi

Akhir-akhir ini, ikan Kudu-kudu semakin populer sebagai hewan peliharaan. Menurut hobiis ikan hias, Kudu-kudu tidak boleh dicampur dengan jenis ikan hias lainnya dalam satu akuarium. Ikan ini harus rutin diberi makan keong kecil yang masih hidup, agar giginya tidak tumbuh terlalu panjang. Kudu-kudu tidak termasuk dalam daftar spesies yang terancam punah dan tidak pula termasuk dalam daftar jenis ikan yang dilindungi undang-undang.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan pada Ibu Nadiarti Nurdin, salah satu mentor penulis, yang telah mensponsori perjalanan kali ini. Terima kasih pula kami sampaikan pada kru kapal: Pak Amin dan Rusli.

 

Dipublikasi di Laut | Tag , | Tinggalkan komentar