Sepuluh biota laut paling beracun

Sejatinya, lautan adalah lingkungan yang ektrim. Agar dapat hidup dengan baik, flora dan fauna penghuni laut harus mampu beradaptasi. Beberapa jenis hewan laut telah mengembangkan racun khusus agar lebih mudah menangkap mangsa. Selain untuk berburu, racun ini juga digunakan untuk membantu proses pencernaan secara kimiawi. Dalam keadaan memaksa, racun ini akan digunakan untuk mempertahankan diri.

Pada postingan kali ini, Cakrawala menyusun daftar 10 kelompok biota laut yang paling berbisa. Sebagian besar didominasi oleh hewan dari phylum Cnidaria, biota laut yang sangat rapuh, namun memiliki sel penyengat dengan racun yang mematikan. Berikut ini daftar kelompok 10 biota laut yang paling berbisa versi blog cakrawala. Selamat membaca.

1. Zoanthid

Zoanthid (zoos= hewan  anthos= bunga) adalah kelompok hewan yang bentuknya seperti bunga. Hewan berukuran mini ini termasuk dalam phylum Cnidaria, kelas Anthozoa, subkelas Hexacorallia dan suku Zoantharia. Kerabat Zoanthid termasuk hewan pembentuk karang, hydroid, karang lunak, karang api, anemon dan ubur-ubur.

Zoanthid banyak ditemukan menempel pada substrat keras dan terumbu karang. Hewan ini juga sering ditemukan menempel di daun lamun, terutama pada jenis Lamun Tropika Enhalus acoroides.  Meski hanya berukuran seujung jari, zoanthid memiliki nematocyst yang sangat gatal jika mengenai kulit.

Zooanthid-flickrcom

Gambar 1. Zoanthus sp. Sumber: flickr.com

Penulis seringkali merasakan gatal yang tak tertahankan pada bagian betis, saat menjelajah di pantai yang banyak ditumbuhi lamun Enhalus. Kulit yang gatal ini, seringkali mengelupas dan berubah menjadi luka karena secara tak sadar digaruk terus menerus. Meskipun tidak menimbulkan luka yang serius, racun zoanthid menimbulkan rasa tidak nyaman yang luar biasa.

2.  Hydroid

Hydroid adalah  kelompok biota laut yang berbentuk seperti helaian bulu ayam yang besar. Hewan ini termasuk dalam kelas Hydrozoa dan ordo Leptothecata. Hidup dengan menyaring plankton yang terbawa arus. Menyukai perairan yang agak keruh dengan kandungan bahan organik terlarut yang tinggi.

Sebagaimana anggota phylum Cnidaria lainnya, permukaan Hydroid dipenuhi sel penyengat untuk melumpuhkan plankton dan mempertahankan diri.

Hydroid-poppeimages.com

Gambar 2. Bulu Ayam (Hydroid) Aglaophenia cupressina. Sumber: poppe-images.com

Sel penyengat hydroid mengandung racun yang dapat menimbulkan sensasi rasa gatal yang luar biasa jika masuk ke dalam kulit. Rasa gatal ini bercampur dengan rasa panas,  dan akan menjalar dengan cepat saat digaruk. Kulit akan memerah dan bentol-bentol dengan ukuran besar-besar seperti orang yang mengalami gejala alergi (urticaria).

Penulis pernah beberapa kali merasakan gatal tingkat dewa yang sulit ditahan akibat menyentuh hydroid ini. Selain gatal dan panas, penulis juga mengalami  shock ringan serta merasa sangat tidak nyaman. Rasa gatal ini baru berkurang, setelah penulis mengoleskan larutan cuka makan pada bagian yang gatal.

3. Karang Api

Salah satu alasan penyelam memakai sarung tangan saat menyelam adalah untuk menghindari sengatan karang api. Hewan ini termasuk dalam phylum Cnidaria yang memiliki sel-sel penyengat. Racun yang dihasilkan sel penyengat ini termasuk racun yang sangat kuat karena dapat menyebabkan jari tangan melepuh seperti habis tersulut api.

Millepora tenera-flickrcom

Gambar 3. Karang Api Millepora tenera. Sumber: flickr.com.

Karang api dapat dibedakan dengan jelas dari karang bercabang sejati. Permukaan karang api lebih halus, berwarna krem, kuning kecoklatan tanpa lubang-lubang koralit seperti pada karang Acropora. Ciri yang paling menyolok adalah warna keputih-putihan yang terdapat di ujung cabang serta sel penyengat seperti benang-benang halus yang terjulur.

Salah satu jenis karang api yang umum ditemukan di Indonesia adalah Millepora tenera. Penulis sering melihat karang api jenis ini saat melakukan snorkelling di bagian pantai terluar (slope), namun penulis tak berani menyentuhnya.

4. Landak Laut

Landak laut atau Bulu Babi termasuk dalam kategori biota laut yang harus dihindari karena menimbulkan rasa tidak nyaman bagi manusia. Beberapa jenis diantaranya seperti Landak Laut Hitam Diadema setosum, Echinothrix calamaris dan Echinothrix diadema memiliki duri beracun yang panjang, rapuh dan menyakitkan bila masuk ke dalam kulit. Namun racun ini tidak berbahaya bagi manusia. Jenis bintang laut predator seperti Acanthaster planci memiliki duri berbisa yang lebih menyakitkan jika menusuk kulit.

Toxopneustes-1-flickrcom

Gambar 4. Landak Laut Bunga Toxopneustes pileolus. Spesies ini tersebar luas di perairan Pasifik termasuk Indonesia. Sumber: flickr.com.

Meskipun sebagian besar spesies landak laut tidak terlalu membahayakan jiwa manusia. namun kita harus waspada. Lebih baik tidak menyentuh sama sekali hewan laut yang tidak kita kenal.

Seorang peneliti berkebangsaan Jepang, Dr. Tsutomu Fujiwara dari Hiroshima Zoological Laboratory, menceritakan pengalamannya saat tersengat suatu jenis Landak Laut dalam jurnal Annotationes Zoologicae Japonensis 15 (1): 62-68 yang terbit tahun 1935.

“Pada tanggal 26 Juni 1930, saya sedang bekerja di atas kapal penelitian  di pantai Tsuta-jima di Saganoseki. Saat itu saya mengambil satu Landak Laut dari tangan seorang penyelam yang mengambilnya pada kedalaman 10 meter. Saya memindahkan landak laut itu ke sebuah tangki air kecil yang ada di atas kapal. Saya tidak memakai sarung tangan. Saat memindahkan, 7-8 pedicellaria yang terputus dari landak laut melekat pada jari tengah dari tangan kanan saya. Tiba-tiba saja, saya merasa sangat kesakitan. Saya seperti akan jatuh. Saya sulit bernapas. Bibir, lidah, muka dan kelopak mata tidak bisa digerakkan. Tangan dan kaki seperti lumpuh. Saya merasa ajal sudah sangat dekat. 15 menit kemudian, gejala tersebut sedikit demi sedikit mulai berkurang dan hilang setelah satu jam kemudian.  Tetapi otot wajah saya masih lumpuh dan baru normal kembali setelah 6 jam kemudian”.

Dr. Tsumotu Fujiwara cukup beruntung, karena tidak terlalu banyak racun yang masuk ke dalam tubuhnya. Seandainya landak laut itu dipegang lebih lama, mungkin jiwa Dr. Tsumotu tak akan tertolong lagi, akibat gagal napas yang dialaminya. Landak laut yang dipegang Dr. Tsutomu adalah Landak Laut Bunga, Toxopneustes  pileolus, spesies landak laut paling beracun di dunia.

Penulis secara tidak sengaja pernah menemukan landak laut bunga saat melakukan snorkelling di Pulau Sarappo Keke, Kepulauan Spermonde. Hewan ini menyamarkan diri dengan melekatkan pecahan karang Acropora ke seluruh permukaan tubuhnya sehingga cukup sulit untuk dilihat.

5. Siphonophora

Ubur-ubur Portugis adalah hewan berkoloni yang memiliki 3 macam polip. Koloni hewan ini juga bersama-sama membentuk kantung udara yang disebut layar atau Pneumatofor. Kantung udara berasal dari planula.

Kantung udara berbentuk simetris bilateral, dengan tentakel. Kantung udara ini berwarna sangat indah bening, ungu dan merah jambu. Panjang kantung udara ini antara 9-30 cm. Kantung udara ini 15 cm di atas permukaan air. Kantung udara berisi karbon monoksida, nitrogen, oksigen dan argon. Karbondioksida sangat sedikit.

Polip ubur-ubur Portugis terdiri dari: dactylozoid untuk pertahanan diri, gonozoid untuk reproduksi dan gastrozoid untuk makanan. Tentakel untuk pertahanan diri memiliki panjang antara 10-50 meter. Tentakel ini mengandung banyak sel penyengat yang berfungsi membunuh mangsa seperti ikan kecil dan udang kecil.

Selanjutnya sel-sel kontraktil bekerja membawa mangsa mendekat ke arah jangkauan polip pencerna (gastrozoid) yang akan mengelilingi mangsanya dan mencernanya dengan bantuan enzim. Enzim ini akan menguraikan senyawa protein, karbohidrat dan lemak.

Physalia_physalis,_Tayrona_national_park,_Colombia

Gambar 5. Ubur-ubur Portugis Physalia physalis. Sumber: Doug Richardso

Ubur-ubur Portugis banyak ditemukan di perairan Australia barat dan selatan pada musim panas. Di Australia hewan ini kerap menyengat dan memakan korban hingga 10.000 orang per tahunnya.

Sel sengat pada tentakel ubur-ubur Portugis dapat melumpuhkan ikan-ikan dan mangsa berukuran kecil lainnya. Tentakel dan tubuh ubur-ubur Portugis yang mati dan terdampar di tepi pantai selama beberapa hari, tidak boleh disentuh dengan tangan kosong secara langsung karena masih memiliki racun dengan daya bunuh yang kuat

Seseorang yang tersengat ubur-ubur Portugis akan mengalami kesakitan yang parah. Kulit akan berbekas dengan bilur-bilur merah seperti terkena pukulan cambuk. Tanda ini akan berangsur-angsur mulai menghilang setelah 2-3 hari kemudian. Rasa sakit yang sangat menyakitkan mulai terasa sekitar satu jam setelah korbat tersengat tentakel ubur-ubur.

Efek yang ditunjukkan korban sangat bergantung pada jumlah bisa yang masuk ke dalam tubuh. Jika dosis bisa cukup tinggi dapat menimbulkan reaksi alergi, demam, syok, rasa sakit yang parah, sesak napas dan gangguan pada jantung. Dosis racun yang sangat tinggi dapat menimbulkan kematian. Namun, kasus seperti ini sangat jarang terjadi. Tindakan medis untuk korban perlu dilakukan secepatnya untuk mengurangi rasa sakit tak tertahankan yang dirasakan korban.

6. Ular Laut

Ular laut telah beradaptasi sepenuhnya untuk hidup di lingkungan bahari. Ekor memipih membentuk dayung, sisik perut yang berguna untuk merayap di darat menghilang, warna punggung berpola belang dan gelap agar tak mudah diintai elang. Sedangkan perutnya berwarna putih untuk menyamarkan diri dari predator yang ada di bawahnya.

Sebagaimana sepupu daratnya dari suku Elapidae, ular laut dilengkapi dengan racun mematikan pada taringnya. Mangsa ular ini berupa hewan laut berukuran kecil. Menangkap ikan-ikan yang berenang cepat, bukanlah perkara mudah, sehingga ular laut harus sesegera mungkin melumpuhkan mangsanya.

Berbeda dengan kerabatnya seperti Cobra dam Mamba, ular laut bersifat non agresif. Ular ini tidak akan menggigit kecuali dalam keadaan sangat terpaksa. Mulutnya yang berukuran kecil, menyulitkan ular ini menggigit manusia dan menyuntikkan bisa dalam jumlah besar. Meskipun demikian, sebaiknya, ular ini diperlakukan dengan hati-hati.

Beaked-sea-snake

Gambar 6. Ular Laut Enhydrina schistosa. Sumber: Arkive.org.

Racun ular laut didesain untuk melumpuhkan mangsa dan merusak otot tubuh dengan cepat (rhabdomyolisis). Gejala awal yang dirasakan korban setelah digigit ular laut adalah pusing-pusing, lidah kelu, haus, berkeringat dan muntah-muntah. Dalam 30 menit hingga beberapa jam kemudian korban akan lumpuh dan merasa sakit di seluruh tubuh. Korban juga akan sulit bernapas.

Setelah 3-8 jam, sel-sel darah merah akan pecah. Terjadi gagal ginjal. Dalam waktu 6-12 jam kemudian otot tubuh akan kejang-kejang, otot jantung berdetak sangat cepat dan tak beraturan. Penderitaan ini baru selesai setelah serangan jantung mengakhiri hidup korban.

Jika seorang korban digigit ular laut, dosis racun yang masuk ke dalam tubuh biasanya tidak banyak, karena mulut ular laut yang kecil. Dosis kecil menyebabkan racun ular laut bekerja lambat pada manusia sehingga kemungkinan korban untuk diselamatkan menjadi lebih besar. Namun, jika tak segera mendapat perawatan medis, korban akan mengalami penderitaan yang sangat berat sebelum hidupnya berakhir.

7. Ikan

Berbeda dengan ular laut yang menggunakan racun untuk melumpuhkan mangsa, ikan memanfaatkan racun hanya untuk pertahanan diri saja. Racun ini umumnya diakumulasi pada bagian duri-duri sirip. Misalnya pada ikan Pari, Baronang dan Sembilang. Ada juga ikan yang mengakumulasi racun di dalam hati dan organ pencernaan seperti pada keluarga ikan Buntal yang meliputi Buntal Tanduk, Buntal Balon dan Buntal Durian.

Salah satu jenis ikan yang paling ditakuti nelayan karena bisanya adalah Lepu Batu Synanceia verrucosa. Ikan ini hidup dengan berdiam diri sepanjang hari di dasar perairan. Warna dan bentuk tubuhnya sangat mirip dengan batu karang sehingga ikan ini sulit dilihat. Ikan ini dapat tumbuh hingga mencapai panjang tubuh 50 cm.

Meskipun terkesan lamban dan malas, ikan Lepu Batu mampu bergerak sangat cepat saat didekati oleh mangsa yang tidak menyadari keberadaannya.  Ikan dan udang kecil yang berenang di dekatnya dijamin akan lenyap disantap dalam sekejap. Cara mencari mangsa dari ikan lepu ini boleh dikata sangat efisien dan hemat energi.

Stonefish-1

Gambar 7. Ikan Lepu Batu Synanceia verrucosa. Sumber: neviditelnypes.lidovky.cz.

Ikan Lepu memiliki 13 duri punggung. Masing-masing duri memiliki 2 kantung bisa. Empat duri terbesar terletak di bagian depan dan memuat racun lebih banyak dibandingkan duri lainnya. Duri ini sangat kuat dan mampu menembus alas sepatu boot yang umumnya terbuat dari karet.

Penulis pernah tertusuk duri Lepu Batu saat berjalan-jalan tanpa alas kaki di pantai sekitar gusung Bone Batang, Kepulauan Spermonde. Saat itu pantai sedang surut rendah dengan tinggi air sebatas lutut. Matahari pun telah condong jauh di ufuk barat. Saat melangkahkan kaki, tiba-tiba saja terasa seperti ada benda kecil yang menusuk telapak kaki kanan. Saya pun melanjutkan jalan-jalan karena mengira hanya tertusuk duri landak laut yang memang banyak terdapat di pantai ini.

Tiga menit setelah tertusuk duri, kaki kanan saya secara tiba-tiba terasa lemas dan sulit digerakkan. Dua menit berikutnya saya jatuh terduduk dan tak dapat bangun lagi. Tubuh bergetar dan terasa dingin. Rasa khawatir dibenak memuncak. Saya pun berteriak lemah memanggil teman saya, Dominik dan memberi isyarat dengan tangan. Dominik pun segera berlari mendekat dan memeriksa kaki saya. Tampak sebuah lubang kecil dengan lingkaran menghitam terpampang dengan indah di sana. “Aahh… ini gawat bro..”, gumam Dominik, singkat.

Segera saja saya dipapah ke atas speed boat. Bagian pergelangan kaki diikat erat dengan baju ganti. Speed boat pun melaju kencang menuju rumah sakit Stella Maris. Sepanjang perjalanan adalah saat yang sangat menyiksa. Kaki tidak dapat digerakkan, mulai membengkak hitam kebiruan dan terasa sangat panas seperti dibakar api. Rasanya sakit sekali. Kalo tak ingat malu, rasanya saya ingin menangis saja.

Seumur hidup belum pernah saya merasakan luka sesakit ini. Wajah saya pucat karena syok. Jantung berdegup kencang. Saya berusaha untuk tenang, fokus dan berpikir positif.  Ya Allah, saya belum mau mati sekarang. Saya masih muda dan masa depan saya masih terbentang luas…. Hahaha… Lebay. Pak Saido yang mengemudikan Speed Boat terlihat gelisah luar biasa.

Setelah terguncang-guncang di atas speed boat selama 45 menit, kami bertiga berlabuh di anjungan pantai losari. Dominik segera membantu saya naik ke atas anjungan dan berlari mencari becak. Saya pun dibawa dengan becak ke rumah sakit yang jaraknya hanya sepelemparan batu.

Segera saja saya dibawa memasuki ruang UGD. Perawat dan dokter jaga melakukan anamnesis sambil memeriksa kedua telapak kaki saya. Baju saya yang masih bagus dan digunakan untuk mengikat kaki dibuang ke tempat sampah. Perawat meminta saya untuk tengkurap. Tak lama kemudian, saya merasakan jarum suntik di bagian bokong dan telapak kaki yang terluka.

Melalui pantulan di cermin, saya melihat telapak kaki yang terluka disayat menggunakan scalpel membentuk huruf X besar. Lubang yang menghitam pun kemudian dibuka, dikorek-korek, di cuci bersih, dibubuhi obat dan dibungkus perban. Saya dan Dominik pun mendapat penjelasan tentang cara meminum obatnya. Dominik ke apotik untuk mengurus obat. Tak lama kemudian, saya pun diperbolehkan pulang.

Butuh waktu empat hari bagi kaki saya yang bengkak untuk menyusut dan normal kembali. Dua minggu setelah sembuh, saya nekad bermain-main ke laut lagi dengan teman yang sama. Kami bertiga berdiskusi membahas luka yang saya alami.

Berdasarkan pengalamannya, pak Saido menjelaskan bahwa besar kemungkinan, luka di telapak kaki saya terjadi karena tertusuk duri  ikan Lepu Batu. Dari diameter warna hitam pada luka yang terlihat kecil, Pak Saido menduga saya tertusuk duri lepu batu yang masih muda. Pak Saido juga menambahkan jika lubang bekas tusukan duri ikan pari akan berwarna kemerah-merahan dan bukan berwarna hitam.

Pak Saido pernah tertusuk duri ikan Lepu yang besar di telapak kakinya. Setelah tertusuk, kaki pak Saido membengkak hingga ke pangkal paha. Bengkaknya besar sekali, berwarna hitam kebiruan. Karena tak punya biaya, pak Saido hanya mengobati lukanya secara tradisional. Bahan baku obatnya berasal dari ikan Lepu juga.

Bagian yang paling mujarab sebagai bahan baku obat adalah sirip dan duri ikan lepu tersebut. Daging lepu juga bisa digunakan. Bahan obat ini terlebih dahulu dibakar sampai hangus, kemudian digerus hingga halus. Setelah menjadi bubuk kemudian dicampur dengan minyak kelapa dan dioleskan ke bagian kaki yang terluka. Butuh lebih dari seminggu bagi Pak Saido untuk pulih kembali.

Dari beberapa pustaka, diketahui bahwa racun Lepu Batu mengakibatkan rasa sakit seperti terbakar yang luar biasa, syok, kelumpuhan, kerusakan sistem syaraf, atrofi otot dan rusaknya jaringan yang terkena racun. Dosis racun yang besar dapat menimbulkan kematian, terutama pada anak-anak dan orang tua yang daya tahan tubuhnya lemah.

Racun Lepu Batu terdiri dari campuran protein spesifik seperti stonutoxin yang menyebabkan pecahnya sel darah merah, verrucotoxin yang menyebabkan kelumpuhan dan cardiotoxin yang menyebabkan munculnya serangan jantung.  Para ahli toksikologi mengkategorikan Lepu Batu sebagai salah satu ikan paling mematikan di dunia.

8. Gurita

Gurita dikenal sebagai predator yang cerdas dan tangguh. Tubuhnya sangat lentur, dilengkapi 8 lengan dengan banyak batil penghisap.  Kemampuan merubah warna tubuh untuk berkamuflase sangat mengagumkan.  Paruh cukup kuat untuk memecahkan cangkang keong yang tebal dan keras. Mata gurita juga berkembang dengan baik.

Untuk mempertahankan diri, gurita dilengkapi dengan kantung berisi cairan tinta yang berguna untuk mengelabui hewan pemangsa. Selain bersenjata cairan tinta, jenis gurita tertentu mengandalkan racun untuk melumpuhkan mangsa dan mempertahankan diri. Salah satunya adalah Gurita Cincin Biru.

9-Blue-Ringed-Octopus-photo-by-Doug-Richardson

Gambar 5. Gurita Cincin Biru Hapalochlaena lunulata sedang menjelajahi padang lamun. Sumber: Doug Richardson

Racun gurita cincin biru mengandung senyawa protein spesifik seperti: tetrodotoxin, histamine, tryptamine, octopamine, taurine, acetylcholine dan dopamine. Tetrodotoxin termasuk neurotoksin yang menyerang sistem syaraf. Racun-racun ini berasal dari bakteri yang hidup di kelenjar ludah (saliva) gurita.

Korban yang tergigit dan terkena racun gurita ini akan mengalami muntah, seluruh badan menjadi lumpuh, penglihatan berkurang drastis, sistem pernapasan terhenti yang berlanjut pada serangan jantung.

Akhirnya, korban akan meninggal akibat terhentinya pasokan oksigen ke otak. Semua gejala ini terjadi hanya dalam hitungan menit saja. Bisa Gurita Cincin Biru 10.000 kali lebih beracun dari Sianida.  Hingga saat ini, belum tersedia antidot untuk menetralisir racun akibat gigitan gurita cincin biru.

9. Keong

Keong kerucut Conus dikenal sebagai predator pemakan ikan yang ulung. Sewaktu berburu, keong Conus akan bergerak secara perlahan. Belalai yang bisa memanjang dijulurkan untuk mendekati mangsa. Saat jarak ikan sudah dekat, dengan gerakan tiba-tiba yang sangat cepat, senjata seperti tombak harpun pun diluncurkan dari belalai dan menusuk badan ikan.

Conus-geographus-2-underwaterkwaj.com

Gambar. Keong Conus geographus. Sumber: underwaterkwaj.com

Dalam beberapa detik saja, ikan akan lemas dan mati tak lama kemudian. Keong Conus memang harus dapat melumpuhkan korbannya dengan cepat, sebab mangsa berupa ikan termasuk hewan yang dapat bergerak sangat cepat di dalam air.

Harpun keong Conus dilengkapi dengan zat racun yang sangat mematikan. Salah satu jenis keong yang memiliki racun paling mematikan adalah racun dari spesies Conus geographus. Jika dipelihara di akuarium, keong ini harus mendapat perhatian khusus, tidak boleh dipegang tanpa sarung tangan.

Conus geographus memiliki racun sangat kuat, tersusun dari campuran ratusan senyawa protein beracun. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa konsentrasi racun sebanyak 0,001 mg/kg berat badan sudah cukup menyebabkan kelumpuhan total. Sedangkan dosis racun sebesar 0,012 mg/kg berat badan dapat menimbulkan kematian.  Racun ini menyebabkan kelumpuhan, kegagalan organ pernapasan dan jantung.

10. Ubur-Ubur

Ubur-ubur adalah hewan dari Phylum Cnidaria yang juga mencakup karang api, hydroid, anemon dan Zooanthid. Seluruh anggota phylum ini memiliki sel penyengat yang disebut cnidocyte atau nematocyst untuk melumpuhkan mangsa sekaligus mempertahankan diri.

Salah satu jenis ubur-ubur yang terkenal adalah ubur-ubur kotak. Hewan ini bertubuh sangat rapuh, namun dapat dengan mudah menangkap mangsanya yang terdiri dari ikan-ikan kecil. Hewan dewasa berdiameter 30 cm, berat 2 kg dengan tentakel sepanjang 3 m.

Box jellyfish-huffingtonpost.com

Gambar. Ubur-Ubur Kotak Chironex fleckeri. Sumber: huffingtonpost.com

Ubur-ubur ini memiliki 60 tentakel, masing-masing tentakel memuat lebih dari 5 ribu nematocyst, berisi harpun-harpun kecil yang memuat racun.

Saat menangkap buruannya, ubur-ubur kotak harus dapat sesegera mungkin melumpuhkan korbannya, agar tentakelnya yang rapuh tidak terkoyak oleh mangsanya yang meronta-ronta ingin melepaskan diri. Untuk itu, ubur-ubur kotak dilengkapi dengan senjata berdaya bunuh tinggi. Ikan-ikan kecil yang terkena tentakel dipastikan akan mati seketika.

Jika tentakel ubur-ubur kotak bersentuhan dengan kulit manusia, maka secara biokimiawi, dinding tentakel akan mengenali adanya senyawa asing yang memicu keluarnya pneumatosit dari dalam sel-sel penyengat. Saat tentakel melekat di kulit, harpun berukuran mikro pun ditembakkan ke dalam kulit.

Seseorang yang telah terkena racun ubur-ubur kotak akan mengalami rasa terbakar yang sangat menyakitkan dalam tubuhnya. Sel-sel di permukaan kulit dan jaringan yang ada dibawahnya akan hancur dan membekas seperti orang yang habis dicambuk.

Beberapa saat kemudian, tubuh mengalami syok dan lumpuh seketika. Gerakan diafragma paru-paru terhenti, sehingga orang tersebut tak dapat bernapas. Suplai oksigen ke otak pun terhenti. Hal ini menyebabkan denyut jantung menjadi tidak beraturan sehingga memicu serangan jantung. Tak lama kemudian, orang tersebut akan meregang nyawa dan pergi untuk selama-lamanya.

Racun yang terdapat dalam satu ubur-ubur kotak, cukup untuk membunuh 60 pria dewasa.  Korban yang terkena racun di laut, biasanya tak akan bertahan lebih dari 5 menit, dan akan meninggal sebelum mencapai garis pantai. Hingga saat ini, sebagian besar peneliti Biologi Laut meyakini bahwa ubur-ubur kotak adalah hewan yang paling mematikan di bumi. Uniknya, Penyu Belimbing dan Penyu Sisik, kebal terhadap racun ubur-ubur kotak.

Di Australia, korban jiwa akibat serangan ubur-ubur kotak jauh lebih banyak dibandingkan dengan korban akibat serangan hiu. Antivenom untuk racun ubur-ubur kotak telah tersedia. Menurut sebagian ahli, cairan cuka makan dapat digunakan untuk meredakan dan mengurangi serangan racun ubur-ubur pada bagian tubuh yang tersengat.

Jika racun yang masuk ke tubuh sangat sedikit dan korban segera mendapatkan perawatan medis, besar kemungkinan korban masih dapat diselamatkan. Namun, jika racun yang masuk ke dalam tubuh cukup banyak dan lambat mendapatkan perawatan medis, maka besar kemungkinan, korban takkan selamat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, racun biota laut yang dikategorikan ringan hanya menimbulkan gatal-gatal, kulit melepuh dan rasa tidak nyaman yang luar biasa. Racun kategori sedang mengakibatkan syok, muntah-muntah dan sakit kepala. Sedangkan racun kategori berat menyebabkan syok, kelumpuhan, sesak napas berat dan serangan jantung yang dapat berakhir dengan kematian.

Jadi, buat sobat-sobat yang sering beraktifitas di laut, kenali dan berhati-hatilah terhadap jenis-jenis hewan mematikan seperti yang telah diceritakan di atas.

Referensi :

http://www.huffingtonpost.com/diana-nyad/box-jellyfish-deadly-veno_b_3546799.html  diakses Tanggal  10 Oktober 2014.

http://www.animals.howstuffworks.com/marine-life/jellyfish-venom1.htm diakses Tanggal  10 Oktober 2014.

 

Gambar | Posted on by | Tag , , , ,