Muara Angke: Suaka Margasatwa Terkecil di Indonesia

Di antara rimbunan hutan beton, antrean panjang kendaraan, udara pengap dan sungai penuh sampah, ternyata Kota Jakarta masih menyisakan sedikit ruang untuk perlindungan tetumbuhan dan satwa.

Kawasan ini berupa sepetak kecil hutan mangrove yang dipertahankan sebagai benteng terakhir bagi kelangsungan hidup flora fauna asli ibukota.

Hutan mangrove ini terletak di Muara Angke, Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kodya Jakarta Utara. Kawasan Konservasi dalam bentuk Suaka Margasatwa seluas 25,02 hektar ini ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 755/Kpts-II/1998.

Selain untuk melindungi flora dan fauna yang ada, area ini juga menjadi pusat pendidikan konservasi lahan basah dan ekowisata.

Vegetasi Muara Angke

Gambar 1. Jalur Papan untuk pejalan kaki (boardwalk) dan vegetasi Nipah di SM Muara Angke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sejarah

Seabad-dua abad yang lalu, daerah sepanjang pesisir utara Jawa masih berupa hutan mangrove yang lebat dan luas. Hutan ini kaya akan jenis-jenis satwa seperti berbagai jenis burung air, ikan, kerang, hewan reptil dan mamalia.

Salah satu jenis satwa yang terkenal dari hutan mangrove ini adalah Trulek Jawa, Vanellus macropterus.  Burung pantai yang anggun ini termasuk jenis endemik yang hanya dapat ditemukan di pesisir utara Jawa Barat hingga Jawa Tengah serta di pesisir selatan Jawa Timur. Laporan resmi menunjukkan, Trulek Jawa tercatat terakhir kali pada tahun 1940.

Kuat dugaan, burung endemik Jawa ini telah punah, mengingat semenjak catatan terakhir 70 tahun yang lalu, tak seekor individu pun yang  pernah ditemukan lagi.

Kali Angke

Gambar 2. Kali Angke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Muara Angke ditetapkan sebagai cagar alam oleh pemerintah Hindia Belanda berdasarkan SK Gubernur Jenderal No. 24 Tanggal 18 Juni 1939 dengan luas 15,04 Hektar. Pada Tahun 1960-an, kawasan cagar alam diperluas oleh pemerintah Indonesia hingga mencapai luas total 1.344,62 Hektar.

Pada tahun 1977 Menteri Pertanian dengan Keputusan Nomor 161/Um/6/1977 tanggal 10 Juni 1977 menetapkan kembali peruntukan kawasan hutan Tegal Alur Angke Kapuk sebagai hutan lindung, Cagar Alam Muara Angke, Hutan Wisata, Kebun Pembibitan Kehutanan dan Lapangan dengan Tujuan Istimewa.

Pertambahan populasi penduduk Jakarta menyebabkan kebutuhan akan ruang untuk sarana dan prasarana kota semakin meningkat. Cagar Alam Muara Angke pun dirambah sedikit demi sedikit hingga terjadi alih fungsi lahan yang masif.

Akibatnya, dalam kurun waktu 30 tahun, sebagian besar kawasan konservasi Muara Angke dengan luas lebih dari 1000 Ha mengalami kerusakan sangat parah dan tidak dapat diselamatkan lagi.

Peta Muara Angke-1

Gambar 3. Citra Satelit Muara Angke. Hutan Wisata Alam Muara Angke (HWAMA), Hutan Lindung Muara Angke (HLMA), Pantai Indah Kapuk (PIK) dan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Sumber: Google Earth.

Besarnya kerusakan menyebabkan pemerintah menata ulang dan menetapkan kembali batas-batas kawasan Konservasi Cagar Alam Muara Angke.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 097/Kpts-II/1988, luas total kawasan konservasi dibawah pengelolaan pemerintah sebesar 322,6 Ha dari luas sebelumnya yang mencapai  1.344,62 Ha pada tahun 1960-an.

Penetapan batas kawasan Konservasi Muara Angke kembali berubah melalui SK Menteri Kehutanan No. 667/Kpts-II/1995 tentang penetapan kembali kawasan hutan Angke-Kapuk di Wilayah DKI Jakarta sebesar 327,70 Hektar.

Perincian peruntukan kawasan meliputi: Hutan lindung  44,76 Ha, Hutan Wisata 99,82 Ha, Cagar Alam 25,02 Ha serta hutan dengan tujuan istimewa terdiri dari kebun pembibitan 10,51 Ha, Transmisi PLN 23,70 Ha, Cengkareng Drain 28,39 Ha dan jalan tol-jalur hijau 95,50 Ha.

Status Cagar Alam Muara Angke kemudian diubah menjadi Suaka Margasatwa berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 755/Kpts-II/1998. Jadilah Muara Angke, Suaka Margasatwa terkecil di Indonesia.

Flora dan Fauna

Jenis flora yang tumbuh di sekitar Suaka Margasatwa Muara Angke sebanyak 30 jenis dengan  11 jenis diantaranya tergolong pohon. Flora yang ada termasuk  jenis-jenis tumbuhan pembentuk hutan bakau dan hutan pantai.

Flora hutan bakau meliputi bidara (Sonneratia caseolaris), Api-Api (Avicenia marina), Buta-Buta (Excoecaria agallocha). Vegetasi bawah terdiri dari Paku Laut/Warakas (Acrostichum aureum), Talas (Collocasia esculenta) dan Kangkung (Ipomoea aquatica).

Vegetasi Muara Angke-2

Gambar 4. Vegetasi bawah hutan mangrove Muara Angke yang didominasi oleh Paku Laut/Warakas Acrostichum aureum (atas). Jenis lainnya adalah Talas Collocasia esculenta (kiri bawah) dan Kangkung Ipomoea aquatica (Kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Flora hutan pantai terdiri dari Waru (Hibiscus tiliaceus), Beluntas (Pluchea indica), Putri Malu (Mimosa pudica), Dadap (Erythrina variegata), Trembesi (Samanea saman), Flamboyan (Delonix regia), Ki Tower (Derris heterophylla) dan Ketapang (Terminalia catappa).

Akibat kerusakan yang parah, sebagian besar hutan bakau di Suaka Margasatwa Muara Angke berubah menjadi rawa yang didominasi tumbuhi Eceng Gondok (Eichchornia crassipes), Nipah (Nypa fruticans) dan Rumput Gelagah (Saccharum spontaneum). Dari keseluruhan area, diperkirakan hanya 10 % saja dari luas kawasan yang ditumbuhi  pohon-pohon.

Gelagah dan Paku Laut-1

Gambar 5. Gelagah Saccharum spontaneum (atas) dan Paku Laut/Warakas Acrostichum aureum (bawah), jenis tumbuhan paling dominan di Suaka Margasatwa Muara Angke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Beberapa jenis pohon yang ada di Muara Angke merupakan hasil penghijauan (reboisasi). Diantaranya adalah Asam Jawa (Tamarindus indica), Bintaro (Cerbera manghas), Akasia (Acacia auriculiformis), Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Tanjang Merah (Bruguiera gymnorrhiza), dan Waru Laut (Hibiscus tiliaceus).

Komunitas relawan lahan basah, Jakarta Green Monster melaporkan bahwa di Suaka Margasatwa Muara Angke tercatat setidaknya 91 jenis burung terdiri dari 28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan. Sekitar 17 jenis di antaranya termasuk jenis burung yang dilindungi.

Burung Angke-2

Gambar 6. Jenis burung di Suaka Margasatwa Muara Angke. Remetuk laut Gerygone sulphurea (kiri atas), Perenjak Jawa Prinia familiaris (kanan atas), Cerek Jawa Charadrius javanicus (kiri bawah) dan Kareo Padi Amaurornis phoenicurus (Kanan bawah). Sumber: flickr, tidechaser.blogspot.com.

Jenis burung yang sering dijumpai antara lain adalah kelompok burung Bangau dan burung air seperti: Pecuk Ular (Anhinga melanogaster), Kowak Maling (Nycticorax nycticorax), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Blekok Sawah (Ardeola speciosa), Pecuk-padi Kecil (Phalacrocorax niger), Cangak  (Ardeola spp.), Kuntul (Egretta spp.), Kareo Padi (Amaurornis phoenicurus).

Jenis burung lainnya adalah: Mandar Batu (Gallinula chloropus), Betet Biasa (Psittacula alexandri), Merbah Cerukcuk (Pycnonotos goiavier), Kipasan Belang (Rhipidura javanica), Remetuk laut (Gerygone sulphurea), Perenjak Jawa  (Prinia familiaris), Sikatan Bajau (Cyornis rufigastra) dan lain-lain.

Meskipun berukuran sangat kecil, Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan rumah bagi berbagai jenis satwa. Bahkan beberapa diantara tergolong satwa endemik yang langka dan terancam punah seperti Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) dan Cerek Jawa (Charadrius javanicus).

Burung Angke-1

Gambar 7. Burung yang terancam punah. Trulek Jawa Vanellus macropterus (Atas). Bangau Bluwok Mycterea cinerea (kiri bawah) dan Bubut Jawa Centropus nigrorufus (kanan bawah). Sumber: naturalis.nl dan Arkive.org.

Burung terancam punah lainnya yang menghuni kawasan ini ialah Bangau Bluwok (Mycteria cinerea). Di Pulau Jawa, bangau jenis ini diketahui hanya berbiak di Pulau Rambut yang terletak tidak jauh dari Muara Angke.

Birdlife, sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang konservasi burung juga memasukkan Muara Angke sebagai kawasan yang penting bagi habitat burung di Pulau Jawa (Important Bird Area/IBA).

Mamalia Angke-1

Gambar 8. Fauna SM Muara Angke. Kera Ekor Panjang Macaca fascicularis (atas). Biawak Varanus salvator (kiri bawah) dan Berang-Berang Cakar-Kecil Aonyx cinerea yang lebih aktif pada malam hari (kanan bawah). Sumber: arkive.org.

Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis) banyak ditemukan di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke. Mamalia yang sangat mahir memanjat ini umumnya hidup berkelompok hingga belasan ekor. Makanan utama terdiri dari daun muda dan buah Pedada Sonneratia caseolaris serta buah-buahan lainnya.

Kera ekor panjang memiliki peran yang penting dalam membantu regenerasi hutan sebagai agen penyebar biji. Biji-biji yang tidak tercerna akan keluar bersama feses. Seringkali, biji yang dikeluarkan berlokasi di tempat yang jauh dari pohon asalnya.

Mamalia lain yang ditemukan adalah Berang-Berang Cakar-Kecil Aonyx cinerea. Hewan ini termasuk jenis Karnivor yang aktif pada malam hari (nokturnal) sehingga sulit diamati. Makanannya terdiri dari ikan dan hewan air lainnya.

Jenis hewan Reptil cukup banyak ditemukan di Muara Angke, diantaranya adalah: Biawak Air (Varanus salvator), Sanca Kembang (Python reticulatus), Ular Sendok alias Kobra Jawa (Naja sputatrix), Ular Welang (Bungarus fasciatus).

Ular Angke-1

Gambar 9. Beberapa jenis ular di SM Muara Angke. Ular Welang Bungarus fasciatus (kiri atas), Ular Bakau Cerberus rhynchops (kanan atas), Kobra Jawa Naja sputatrix (kiri bawah) dan Ular Cincin Mas Boiga dendrophila (kanan bawah). Sumber: britannica encyclopedia, flickr dan Arkive.org.

Ular Kadut Belang (Homalopsis buccata), Ular Cincin Mas (Boiga dendrophila), Ular Pucuk (Ahaetulla prasina) dan Ular Bakau (Cerberus rhynchops). Buaya Muara (Crocodylus porosus) diduga juga pernah hidup di Muara Angke.

Jenis Ikan yang cukup unik adalah ikan Gelodok Periopthalmus sp. Ikan ini sering keluar dari air dan “memanjat” akar-akar mangrove untuk berburu mangsa. Ikan lainnya adalah Sapu-Sapu Hypothamus sp., Gabus Ophiocephalus striatus dan ikan lainnya.

Peran dan Fungsi

Suaka Margasatwa Muara Angke sejatinya memiliki banyak peran dan fungsi, diantaranya adalah: penentu produktifitas perairan, habitat bagi satwa, pengatur fungsi hidrologis, pengatur kualitas air, pencegah bencana alam, penjaga sistem dan proses alami.

Selain itu, Muara Angke berperan sebagai daerah sumber perikanan, penghasil kayu, sumber plasma nutfah, sumber mata pencaharian masyarakat, sumber pangan, sumber bahan obat-obatan, sarana rekreasi/wisata alam, sarana penelitian dan pendidikan serta atribut sosial budaya.

Belajar ekologi lahan basah-1

Gambar 10. Belajar ekosistem Lahan Basah di Suaka Margasatwa Muara Angke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana yang tersedia di Suaka Margasatwa Muara Angke diantaranya adalah Kantor lengkap dengan kamar mandi, Jalan Papan (Board Walk) sepanjang 843 m, Pusat Informasi, Pos Jaga dan Shelter.

Ancaman

Ancaman utama terhadap ekosistem di Suaka Margasatwa Muara Angke diantaranya adalah pencemaran limbah dan sampah dari Sungai Angke, alih fungsi lahan menjadi tambak atau kompleks permukiman, perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut dan lain-lain.

Penutup

Revitalisasi total, meliputi peningkatan sarana dan prasarana, perbaikan infrastruktur, reboisasi dengan spesies asli, promosi wisata, pendidikan lingkungan hidup serta penyadaran masyarakat kiranya perlu dilakukan untuk menyelamatkan Muara Angke.

Meskipun kecil, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki nilai konservasi yang tak ternilai.

Referensi

Rachmat, A.M., Mujiastuti, Rismunandar dan Dede Fauzi. 2002. Buku Informasi Taman Wisata Alam Angke-Kapuk. Departemen Kehutanan. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Balai Konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta-PT. Murindra Karya Lestari.

Posted in Konservasi | Tagged , , , ,