Matano: Danau Purba yang Mempesona

Unik dan istimewa. Dua kata itu mungkin tak cukup untuk melukiskan pesona danau Matano yang luar biasa.

Matano merupakan sebuah danau tektonik purba yang terbentuk dari aktifitas pergerakan lempeng kerak bumi pada akhir masa Pliosin sekitar 1-4 juta tahun yang lalu (Haffner et al. 2001). Posisi danau ini tepat berada di atas zona patahan/sesar aktif yang disebut “patahan Matano” (Ahmad, 1977).

Selain danau Matano, di sekitar zona sesar ini juga terbentuk dua danau besar; Mahalona dan Towuti serta dua danau satelit yang ukurannya jauh lebih kecil, yaitu : Wawantoa/Lantoa dan Masapi.

Kelima danau tersebut membentuk satu sistem danau yang disebut Kompleks Danau Malili (Malili Lake Complex).

Gambar 1.Letak Danau Matano Sumber Gambar: Google.com

Sistem danau Malili dihubungkan oleh jaringan sungai yang bermuara ke Teluk Bone (Gambar 2). Danau Matano-Mahalona dihubungkan oleh sungai Petea (sepanjang 9,5 km-selisih elevasi 72 m).

Mahalona-Towuti dihubungkan oleh sungai Tominanga (selisih elevasi 17 m). Towuti-Wawontoa/Lantoa juga dihubungkan oleh sebuah sungai yang posisi tepatnya masih diperdebatkan.

Satu-satunya danau yang tidak memiliki hubungan dengan danau lainnya adalah danau Masapi. Danau yang bentuknya menyerupai kawah ini memiliki aliran sungai tersendiri yang akan menyatu dengan sungai Larona sebelum bermuara ke teluk Bone (Gambar 1).

Sistem danau juga dikelilingi oleh daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat. Sungai-sungai kecil banyak ditemukan di kaki bukit dan umumnya mengalir menuju danau.

Dengan demikian, sungai-sungai kecil tersebut berperan sebagai penyuplai air (river inlet) bagi danau. Dasar danau Matano umumnya terdiri dari lapisan lumpur tipis atau bongkahan batu berukuran besar.

Gambar 2. Peta Topografi Kompleks Danau Malili. Garis kuning menunjukkan sistem sungai yang menghubungkan masing-masing danau dan menjadi satu sebelum bermuara ke Teluk Bone. Garis putih menunjukkan sungai penyuplai air (river inlet). Dari peta topografi di atas terlihat bahwa seluruh danau dikelilingi oleh bukit-bukit dengan ketinggian 500-700 m. Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/65/Sulawesi_Topography.png (modified).

Menurut Herder et al. (2006), Fritz dan Paul Sarasin, geologis dan naturalis berkebangsaan Swiss adalah dua orang barat pertama yang menjelajahi danau Matano dan Towuti pada tahun 1896.

Mereka juga orang pertama yang membuat peta danau dan mengumpulkan koleksi ikan endemik danau Matano dan Towuti yang kemudian dilaporkan oleh Boulenger (1897).

Geografer dan Geologis berkebangsaan Belanda, E. C. Abendanon, melakukan penjelajahan di danau Matano dan Towuti  dan kemudian “menemukan” tiga buah danau lainnya yang berukuran lebih kecil, yaitu: Mahalona, Wawontoa/Lantoa dan Masapi pada tahun 1909.

Abendanon juga membuat peta dan deskripsi yang detail dari seluruh danau yang ada.

Penelitian terakhir yang dilakukan terhadap sampel air oleh Giesen et al. (1991) dan penelitian limnologi oleh Haffner et al. (2001), menunjukkan bahwa seluruh danau yang ada di kompleks danau Malili tergolong danau Ultra-Oligotrofik.

Perbedaan ketinggian dari tiap-tiap danau, menyebabkan dimungkinkannya aliran air dari danau yang letaknya lebih tinggi menuju ke danau yang lebih rendah.

Matano yang letaknya lebih tinggi bertindak sebagai hulu bagi ketiga danau terbesar. Sedangkan Towuti yang letaknya paling rendah menjadi daerah hilirnya (Gambar 1).

Perbedaan elevasi juga menjadi penghalang (barrier) bagi migrasi organisme antar danau terutama dari arah hilir menuju hulu.

Hal ini menimbulkan pola penyebaran/distribusi organisme yang unik, dimana beberapa danau memiliki spesies endemiknya sendiri (yang tidak dimiliki oleh danau lainnya) walaupun letak danau-danau tersebut saling berdekatan.

Adapun profil dari danau-danau yang termasuk dalam Kompleks Danau Malili dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1. Profil Kompleks Danau Malili.

Matano Mahalona Towuti Wawantoa Masapi
Luas Area (km²) 164 24.4 561.1 1.6 2.2
Ketinggian (m dpl) 382 310 283 586 434
Kedalaman       Maksimum (m) 590 73 203 3 4

Nb: Kedalaman rata-rata danau Matano: 37 m

Dari 521 danau yang dimiliki Indonesia, secara limnologis, Matano memiliki karakteristik yang paling unik dan paling banyak dikaji oleh para ilmuwan khususnya peneliti dari mancanegara.

Danau Matano memiliki perairan yang sangat dalam dan merupakan satu-satunya danau di Nusantara yang bagian dasarnya berada di bawah level permukaan air laut (cryptodepression).

Danau Matano juga menunjukkan fenomena yang tidak lazim dari sisi biogeokimiawi. Perairan yang mengandung oksigen hanya terdapat pada lapisan teratas (100 m).

Pada kedalaman >100 m hingga dasar danau, perairan bersifat anoksik (tidak memiliki oksigen). Kandungan Sulfat, bahan organik dan inorganik, baik yang terlarut maupun yang tersuspensi sangat rendah.

Ini menyebabkan perairan di danau ini menjadi sangat jernih  sehingga cahaya matahari dapat menembus  hingga kedalaman 100 m dengan baik. Suplai nutrien yang minim dari lingkungan sekitarnya menyebabkan rendahnya produktifitas primer.

Gambar 3. Peta Batimetri yang menunjukkan beberapa tingkat kedalaman di danau Matano. Warna hijau menunjukkan bagian danau yang memiliki kedalaman hingga 100 m dan masih mengandung oksigen. Warna merah muda menunjukkan kedalaman >100 m dengan kondisi perairan yang bersifat anoksik. Sumber: http://www.pnas.org/cgi/content/full/0805313105/DCSupplemental (modified).

Sebaliknya, kandungan besi (Fe) tergolong sangat tinggi pada kedalaman 100 m hingga dasar perairan.

Hal ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi berkembangnya bakteri sulfur-hijau yang bersifat fototrof di lingkungan yang hampa oksigen (anoxygenic phototrophic green sulfur bacteria).

Crowe dkk (2008), menganalogikan kondisi lingkungan di danau Matano saat ini mirip dengan kondisi lautan pada masa awal munculnya kehidupan pertama dibumi (eon Archaean) sekitar 2,5-4 Milyar tahun yang lalu.

Selain kondisi fisik dan kimiawi-nya yang unik, danau Matano juga menjadi laboratorium alam yang penting bagi peneliti Biologi.

Posisi danau yang terisolasi selama jutaan tahun menyebabkan jenis flora-fauna di danau Matano menjadi sangat unik dan tidak ditemukan ditempat lain di manapun (endemic).

Sekitar 26-30 jenis ikan endemik (15 diantaranya termasuk suku Thelmatherinidae), 60 spesies moluska (keong) air tawar, 3 jenis kepiting, 1 jenis ular, 10 jenis udang, beberapa jenis sponges air tawar, kopepoda dan serangga air telah berhasil ditemukan dan di deskripsikan.

Bahkan, beberapa jenis ikan diantaranya tergolong endemik hingga ke tingkat marga (2 genera). 7 spesies tumbuhan yang ditemukan di sekitar kompleks danau Malili juga tergolong endemik.

Menurut daftar merah tentang spesies-spesies yang terancam punah dari IUCN (2010), ikan endemik danau Matano (kompleks danau Malili) tergolong rentan “vulnerable” terhadap kepunahan.

Artinya, ikan endemik tersebut menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi akibat kecilnya ukuran habitat dan terbatasnya daerah sebaran (http://www.iucnredlist.org/technical-documents/categories-and-criteria/1994-categories-criteria).

Gambar 4. Beberapa marga ikan endemik danau Matano (Kompleks danau Malili). Sumber: Haffner et. al. (2000) & Dennis Roy (2007) (modified)

Masyarakat setempat memanfaatkan danau Matano sebagai sumber air, tempat rekreasi dan tempat mencari nafkah (nelayan).

Adanya introduksi ikan non asli untuk kebutuhan konsumsi, buangan limbah dan pembangkit listrik (power plant) dari salah satu perusahaan tambang Nikel terbesar di dunia yang ada di Soroako, dapat mengancam kelestarian spesies endemik yang ada di danau Matano.

Upaya perlindungan terhadap kompleks danau Malili harus dilakukan, mengingat daerah ini (khususnya danau Matano) memiliki keanekaragaman jenis ikan air tawar endemik tertinggi di Asia.

Bahkan menurut Hutchinson (1957), danau Matano tercatat sebagai danau terdalam ke-8 di dunia. Matano memang benar-benar mempesona…..

Gambar 5. Danau Matano dengan hamparan bukit dan beberapa organisme endemik yang ditemukan. Sumber: http://inlinethumb47.webshots.com/11950/2247423400102365357S600x600Q85.jpg

Referensi :

Ahmad, W. 1977. Geology along the Matano Fault Zone East Sulawesi, Indonesia. Regional Conference on the Geology and Mineral resources of South East Asia, Jakarta.

Bramburger, A.J., Haffner, G.D., Hamilton, P.B., Hinz, F., Hehanussa, P.E. 2006. An examination of species within the genus Surirella from the Malili Lakes, Sulawesi Island, Indonesia, with descriptions of 11 new taxa. Diatom Res. 21, 1-56.

Crowe, S.A., Carriayne Jones, Sergei Katsev, Cedric Magen, Andrew H. O’Neill, Arne Sturm, Donald E. Canfield, G. Douglas Haffner, Alfonso Mucci, Bjorn Sundby dan David. A Fowle. 2008. Photoferrotrophs thrive in an Archaean Ocean analogue. PNAS October 14, 2008 vol. 105 no. 41 15938-15943

Giesen, W., Baltzer, M., Baruadi, R. 1991. Integrating conservation with land-use development in wetlands of South Sulawesi. Directorate General of Forest Protection and Nature Conservation, Bogor.

Gray, S., McKinnon, J.S.. 2006. A comparative description of mating behavior in the endemic telmatherinid fishes of Sulawesi’s Malili Lakes. Env.. Biol. Fishes 75, 471-482.

Hadiaty, R.K., Wirjoatmodjo, S. 2002. Studi pendahuluan Biodiversitas dan distribusi Ikan di Danau Matano, Sulawesi Selatan (Preliminary study: Biodiversity and distribution of fishes in Lake Matano, South Sulawesi). J. Iktiol. Indonesia 2, 23-29.

Haffner, G.D., Hehanussa, P.E., Hartoto, D. 2001. The biology and physical processes of large lakes of Indonesia: Lakes Matano and Towuti, pp. 182-192. In: The Great Lakes of the world (GLOW) Food web, health and integrity (Munawar, M., Hecky, R.E. eds). Backhuis Publishers, Leiden.

Herder, Fabian,  Julia Schwarzer, Jobst Pfaender, Renny K. Hadiaty, and Ulrich K. Schliewen.2006. Preliminary checklist of sailfin silversides (Teleostei: Telmatherinidae) in the Malili Lakes of Sulawesi (Indonesia), with a synopsis of systematics and threats. Verhandlungen der Gesellschaft für Ichthyologie Band 5, 2006, 139-163

Hutchinson, G.E. 1957. A treatise on limnology. John Wiley & Sons, New York.

von Rintelen, T., Glaubrecht, M. 2003. New discoveries in old lakes: three new species of Tylomelania Sarasin & Sarasin, 1897 (Gastropoda: Cerithioidea: Pachychilidae) from the Malili Lake system on Sulawesi, Indonesia. J. Moll. Stud. 69, 3-17.

Kottelat, M. 1990a. Sailfin silversides (Pisces: Telmatherinidae) of Lakes Towuti, Mahalona and Wawontoa (Sulawesi, Indonesia) with descriptions of two new genera and two new species. Ichthyol. Explor. Freshwaters 1, 35-54.

Kottelat, M. 1990b. The ricefishes (Oryziidae) of the Malili Lakes, Sulawesi, Indonesia, with description of a new species. Ichthyol. Explor.Freshwaters 1, 151-166.

Kottelat, M. 1991. Sailfin silversides (Pisces: Telmatherinidae) of Lake Matano, Sulawesi, Indonesia, with descriptions of six new species. Ichthyol. Explor. Freshwaters 1, 321-344.

Kottelat, M., Whitten, T., Kartikasari, S.N., Wirjoatmodjo, S. 1993. Freshwater fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions, Hong Kong.

Roy, D., Docker, M.F., Hehanussa, P.E., Heath, D.D., Haffner, G.D. 2004. Genetic and morphological data supporting the hypothesis of adaptive radiation in the endemic fish of Lake Matano. J. Evol. Biol. 17, 1268-1276.

About these ads
This entry was posted in Kebumian and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Matano: Danau Purba yang Mempesona

  1. Rachmad says:

    wahh…
    keren..
    tak di sangka..
    menarik sekali ya..
    kunjungi juga..
    http://punzjrs24.wordpress.com

Comments are closed.