Mengungkap sosok misterius Harimau Jawa

Hingga pertengahan abad ke-19, Pulau Jawa masih menyisakan rona alam yang indah nan mistis. Rangkaian gunung berapi berselimut kabut tipis tampak kukuh berjajar nun jauh di batas cakrawala. Hutan belantara yang lebat dan padang rumput yang luas mendominasi suasana alam liar kala itu. Berbagai macam satwa liar seperti rusa, banteng, lutung dan elang masih dapat ditemukan dengan mudah.

Sekelompok pria berbadan tegap tampak menunggang kuda dan berpencar mengelilingi sebuah padang rerumputan yang tinggi. Dari pakaian yang disandangnya, jelas terlihat bahwa mereka bukanlah orang-orang “biasa”. Dengan sigap, mereka mengendalikan kuda tunggangan, mengikuti sekelompok anjing pemburu yang berlari sembari mengendus jejak di tanah yang masih basah oleh embun pagi. Wajah mereka terlihat sangat tegang dan penuh kewaspadaan.

Dengan sangat tiba-tiba, diiringi salakan anjing pemburu yang nyaring bersahutan, melompatlah sesosok makhluk dari balik rerumputan yang tinggi, menyerang dan menerkam para penunggang kuda yang duduk di atas pelana dengan sebilah keris terhunus. Tanpa disadari,  salah seorang di antara pemburu telah jatuh terduduk dengan luka menganga. Tubuh orang itu bersimbah darah, diterkam sang Raja Rimba yang mengamuk buas !.

Sepenggal “moment” dramatis tersebut, diabadikan dengan indah oleh maestro pelukis pertama nusantara, Raden Saleh. Lukisan cat minyak di atas kanvas itu dengan jelas menggambarkan satu sosok Harimau Jawa, salah satu karnivora besar terlangka yang keberadaannya hingga kini masih menjadi misteri.

Gambar 1. Salah satu lukisan terkenal karya Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880) “berburu”. Lukisan cat minyak di atas kanvas ini menggambarkan perburuan Harimau Jawa di sekitar pertengahan abad ke-19, suatu saat dimana kucing besar ini masih dapat ditemukan dengan mudah di seluruh pelosok Pulau Jawa.   Sumber Gambar: Mesdag museum. http://www.artknowledgenews.com (magnified).

Profil Harimau Jawa

Harimau Jawa adalah spesies karnivora besar  yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa (endemik). Harimau ini termasuk salah satu sub-spesies harimau (Panthera tigris) yang secara alami tersebar di Asia, mulai dari danau laut Kaspia, Siberia India, China, daerah kontinen Asia Tenggara hingga Kepulauan Nusantara. Meskipun secara umum, kebiasaan hidup Harimau Jawa sama dengan harimau lainnya. Namun berdasarkan fisiknya, sosok Harimau Jawa memperlihatkan ciri  khas yang jauh ‘berbeda”.

Bersama dengan singa, macan tutul dan jaguar, Harimau Jawa termasuk keluarga kucing besar (Felidae) yang menduduki posisi puncak dalam rantai makanan. Untuk menjamin tetap tersedianya hewan mangsa, harimau memiliki daerah teritorialnya sendiri. Pejantan umumnya memiliki luas daerah teritorial berukuran 10 x 10 km. Sedangkan betina memiliki daerah jelajah yang lebih kecil.

Ukuran tubuh rata-rata harimau Jawa lebih besar dari harimau Sumatera dan harimau Bali, bahkan sedikit lebih besar dari harimau Malaya dengan panjang rata-rata 200-245 cm. Berat jantan berkisar antara 100-140 kg dan betina berkisar antara 75-115 kg (Tabel 1). Dibandingkan dengan subspesies lainnya, bentuk tubuh harimau Jawa termasuk yang paling unik dan “sexy”. Berikut ini adalah awetan (taxidermi) utuh dari seekor harimau Jawa yang tersimpan di sebuah museum Eropa :

Gambar 2. Awetan (taxidermi) Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica, Temmick , 1884).  Sumber Gambar: xxx (modified).

Tabel 1. Panjang dan berat sub-spesies Harimau

Sub spesies      Harimau
Panjang Tubuh (cm) Berat Tubuh (kg) Populasi di   alam (ekor)
Jantan Betina Jantan Betina
Benggala 270-310 240-265 220-388 140-170 2000-2500
Siberia 270-330 240-275 180-306 100-167 50-60
Kaspia 200-270 160-180 200-240 100-150 0
Cina Selatan 240-260 220-250 150-180 100-120 0
Indochina 255-285 230-255 150-195 100-130 500-700
Malaya 200-240 180-200 100-150 100-120 600-800
Sumatera 160-200 150-190 90-140 80-90 450-650
Jawa 200-245 190-230 100-140 75-115 0
Bali 180-220 170-195 90-100 65-80 0

Sumber: Wikipedia dll

Berbeda dengan singa yang hidup dalam kelompok, harimau cenderung hidup soliter dan  lebih suka berburu pada malam hari (nokturnal). Harimau jantan juga sangat intoleran terhadap pejantan lain yang memasuki daerah kekuasaannya. Oleh karena itu, sebagai peringatan, harimau akan menandai batas wilayahnya dengan air seni dan gurat-gurat cakaran pada batang pohon tertentu. Tiap individu harimau memiliki bau air seni yang sangat khas.

Dari jejak dan kotoran yang ditinggalkan, diketahui bahwa Harimau Jawa tergolong predator yang oportunis.  Harimau Jawa akan memangsa hewan apa saja yang dapat ditemukan selama menjelajahi hutan. Rusa (Muntiacus muntjak) dan Babi hutan (Sus scrofa) adalah makanan favoritnya. Satwa lain seperti: Banteng (Bos javanicus), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), trenggiling (Manis javanica), ular, ayam hutan,  bahkan hingga serangga seperti kumbang badak juga termasuk dalam daftar menunya.

Selain harimau, di hutan-hutan dan pegunungan Pulau Jawa juga dapat ditemukan hewan pemangsa (Karnivor) lain yang ukurannya lebih kecil yaitu macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan Ajag,  sejenis anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

Karakter unik Harimau Jawa

Kepala harimau Jawa terlihat kecil untuk ukuran badannya yang agak besar, panjang dan ramping. Bentuk kepala juga lebih pipih dengan hidung yang sempit dan panjang. Warna kepala kuning kemerahan gelap dengan sedikit surai/janggut yang tumbuh di dagu/leher. Pipi di dominasi warna putih dengan 2 garis loreng berwarna kontras yang tebal.  Leher  harimau Jawa terlihat lebih jenjang. Kaki agak panjang dengan ukuran telapak kaki yang sangat besar. Bahkan menurut Wikipedia, garis tengah rata-rata jejak kaki harimau Jawa lebih besar dari diameter jejak kaki Harimau Benggala.

Gambar 3. Foto awetan (taxidermi) bagian kepala harimau Jawa. Sumber: http://library.thinkquest.org

Pola belang harimau Jawa juga sangat unik. Dibandingkan subspesies lainnya, harimau Jawa memiliki jumlah belang yang paling banyak (dapat mencapai total lebih dari 100 garis belang per ekor). Bentuk belangnya juga sangat tipis dan panjang dengan jarak yang rapat terutama di bagian paha dan sekitarnya. Anehnya lagi, belang harimau Jawa hanya terkonsentrasi di bagian belakang tubuh. Saat mencapai bagian perut, garis belang tampak menghilang secara tiba-tiba. Setengah bagian perut hingga bagian depan pun terlihat lebih polos  dengan jumlah garis belang yang minim. Hal ini terlihat dengan jelas pada foto awetan (taxidermi) harimau Jawa pada Gambar 2 (di atas) dan 4 berikut ini:

Gambar 4. Perbandingan pola belang pada Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan pola belang harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Belang harimau sumatera terlihat lebih lebar dan tebal (atas). Sedangkan harimau Jawa memiliki pola belang yang tipis, panjang dan sangat rapat (bawah).

Dari gambar di atas terlihat jelas perbedaan fisik Harimau Jawa dengan saudaranya Harimau Sumatera. Perbedaan yang paling menyolok terlihat pada bagian surai (jenggotnya). Perlu diketahui bahwa Harimau Sumatera adalah subspesies harimau yang memiliki surai paling lebat di antara seluruh subspesies harimau di dunia. Jadi, jika anda ingin memastikan suatu harimau tergolong harimau Sumatera atau bukan, lihat saja jenggotnya.

Pola belang Harimau Jawa dan Sumatera juga berbeda. Dengan pola belangnya yang tipis memanjang, warna bulu harimau Jawa terlihat lebih cerah.  Belang harimau Sumatera lebih lebar rapat dan hampir merata di sekujur tubuh sehingga warna bulu terlihat lebih gelap.

Postur tubuh juga memperlihatkan perbedaan yang jelas. Tubuh Harimau Sumatera sedikit lebih kecil, pendek, gempal namun proporsional.  Sedangkan postur tubuh harimau Jawa terlihat lebih unik, dengan kepalanya yang kecil, tubuh ramping dan telapak kaki yang besar (Gambar 4).

Gambar 5. Perbandingan pola belang antara Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dengan Harimau Benggala (Panthera tigris tigris).

Pola belang pada harimau Benggala biasanya dijadikan “standar” untuk menggambarkan sosok harimau, baik dalam film, iklan maupun karya seni lainnya. Hal ini wajar mengingat Harimau Benggala dapat ditemukan hampir di setiap kebun binatang di seluruh dunia. Sebagian besar Harimau putih yang menjadi maskot kebun binatang juga merupakan bagian dari subspesies Harimau Benggala.

Dari Gambar 5 terlihat jelas perbedaan pola belang dan postur tubuh Harimau Benggala dengan Harimau Jawa. Harimau Benggala memiliki postur yang lebih besar. Warna bulu tubuh sangat cerah dengan warna belang hitam yang kontras. Jumlah belang Harimau Benggala jauh lebih sedikit dibandingkan dengan harimau Jawa. Bentuk belang pun lebih lebar dengan jarak yang lebih renggang.

Gambar 6. Perbandingan pola belang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan harimau Benggala (Panthera tigris tigris).

Meskipun berukuran jauh lebih kecil, raut muka Harimau Sumatera cenderung lebih mengintimidasi jika dibandingkan dengan Harimau Benggala. Dengan surai jenggotnya yang lebat, Harimau Sumatera tampak lebih garang dan sangar. Dari Gambar 6 di atas,  terlihat jelas jika Harimau Sumatera memiliki belang yang lebih banyak dan lebih rapat. Sedangkan belang pada Harimau Benggala jumlahnya lebih  sedikit namun lebih lebar.

Gambar 6. Perbandingan pola belang Harimau Bali (Panthera tigris balica) dengan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica).

Berdasarkan ukuran panjang dan berat tubuhnya, Harimau Bali dinyatakan sebagai subspesies harimau terkecil di dunia (Tabel 1). Hal ini kemungkinan merupakan adaptasi terhadap habitat yang  sempit dengan mangsa yang berukuran kecil pula. Pola belang harimau Bali juga unik karena memiliki jumlah loreng yang lebih sedikit dibandingkan dengan Harimau Jawa dan Sumatera. Jarak antar belang pun juga lebih renggang. Bahkan di antara belang terdapat “motif’ tambahan berupa bintik-bintik hitam yang tidak ditemukan pada subspesies harimau lainnya. Dari sampel kulit awetan yang masih tersisa juga diketahui bahwa Harimau Bali memiliki warna kulit/bulu yang lebih gelap dibandingkan dengan harimau lainnya.

Benarkah Harimau Jawa telah Punah ?

Hingga pertengahan abad ke 19 (tahun 1850), Harimau Jawa masih banyak ditemukan di seluruh pelosok Pulau Jawa. Bagi penduduk lokal yang tinggal di daerah pinggiran pedesaan dan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu, Harimau Jawa dianggap sebagai hama karena seringkali mencuri dan memangsa hewan ternak  seperti kambing dan domba.

Pembukaan lahan pertanian yang lebih luas akibat pertambahan penduduk yang pesat menyebabkan ruang hidup bagi harimau jawa semakin menyempit. Akibatnya timbul konflik antara penduduk lokal dengan harimau. Kasus penduduk yang tewas diterkam harimau pun semakin sering terdengar.  Sejak saat itu nasib harimau Jawa kian tak pasti dan hingga kini masih menjadi misteri.

Sebagian ahli satwa liar meyakini Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur  sebagai habitat terakhir bagi Harimau Jawa. Setidaknya hingga tahun 1980-an, 3 ekor harimau Jawa diperkirakan masih hidup di daerah tersebut.

Di awal tahun 1990-an, TN Meru Betiri yang didukung oleh WWF Indonesia berinisiatif memasang kamera jebak (camera trap) untuk memastikan adanya individu harimau Jawa yang masih tersisa. Kamera Jebak pun di pasang di 19 titik yang diduga menjadi daerah perlintasan harimau Jawa. Pemantauan dilakukan selama setahun penuh dari bulan Maret 1993 hingga Maret 1994. Selain dengan kamera, survei juga dilakukan terhadap jejak dan kotoran (faeces) yang ditinggalkan Harimau Jawa.

Hasil pemantauan selama setahun tersebut sungguh menyedihkan. Tak satu pun foto dan jejak harimau Jawa yang berhasil ditemukan. Bahkan, berdasarkan hasil survei tersebut, IUCN (1996) secara resmi menyatakan bahwa Harimau Jawa telah punah dari muka bumi untuk selamanya.

Walaupun IUCN telah menetapkan status kepunahan harimau Jawa, sebagian masyarakat melaporkan masih melihat keberadaan kucing besar tersebut di kawasan hutan Meru Betiri. Hal ini juga didukung oleh mahasiswa dan pencinta alam yang menemukan jejak dan kotoran harimau Jawa selama melakukan penjelajahan di  daerah tersebut.

Atas laporan tersebut, pihak Taman Nasional Meru Betiri pun berinisiatif melakukan survei kembali. Dengan dukungan kamera infra merah dari The Tiger Foundation Kanada, 12 jagawana yang telah dilatih sebelumnya kemudian memasang kamera jebak dan membuat peta observasi. Hasil survei selama setahun tersebut, memperkuat fakta punahnya harimau jawa karena tidak satu foto pun yang berhasil ditemukan. Bahkan, foto satwa yang menjadi makanan harimau pun termasuk jarang. Kekecewaan semakin bertambah lengkap dengan banyaknya foto pemburu yang terjebak kamera Infra merah…!

No picture, no evidence. Tidak adanya foto terbaru seolah menasbihkan kepunahan harimau Jawa. Namun hal ini dibantah oleh Didik Raharyono, seorang peneliti Harimau Jawa yang berdomisili di Cirebon. Sampel faeces, foto jejak dan bekas cakaran di batang pohon menjadi bukti bahwa harimau Jawa benar-benar masih ada. Penelitiannya selama beberapa tahun yang dikombinasikan dengan informasi dari rekan-rekan pencinta alam menunjukkan bahwa harimau Jawa masih eksis. Populasi harimau Jawa tersebut, umumnya tersebar di daerah hutan terpencil atau daerah pegunungan besar di pulau Jawa.

Gambar 7. Awetan Harimau Jawa di salah satu museum Eropa.

Jejak-jejak kaki misterius di dekat kandang ternak yang ditemukan oleh penduduk pasca meletusnya gunung Merapi seolah membuktikan bahwa raja Rimba tersebut memang benar-benar masih ada. Survei yang lebih detail pun perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk memastikan keberadaan harimau Jawa.  Informasi dari penduduk yang masih sering melihat harimau di hutan sekitar tempat tinggalnya pun juga tak bisa dipandang sebelah mata. Pemburu harimau Jawa juga harus diajak bekerja sama karena merekalah yang paling mengenal seluk beluk Harimau yang menjadi buruannya. Jika kita semua peduli, kemungkinan punahnya Harimau Jawa masih dapat dicegah sebelum terlambat. Berapa lama lagikah misteri keberadaan Harimau Jawa ini akan terpecahkan ?. Hanya waktu yang bisa menjawabnya…..

Gambar 8. Dua ekor Harimau Jawa di sebuah Kebun Binatang Batavia.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , , . Tandai permalink.