Mengenal species kucing nusantara

Kucing termasuk salah satu hewan peliharaan yang memiliki hubungan emosional paling dekat dengan manusia. Bukti arkeologi paling awal menunjukkan, kucing mulai dipelihara setidaknya sejak 9.500 tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kerangka kucing di sebelah kerangka manusia, dalam sebuah makam di Siprus.

Para ahli menduga, kucing liar Afrika (Felis sylvestris lybica) adalah nenek moyang dari semua kucing peliharaan yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Upaya domestikasi, budidaya, dan seleksi  selama ribuan tahun akhirnya menghasilkan berbagai macam ras kucing peliharaan seperti yang dikenal manusia saat ini, mulai dari ras kucing Abbysinia, Angora, Balinese, Javanese, Siam, Russian blue, Tonkin dan lain-lain. Sebagian besar ras kucing peliharaan tersebut masuk dalam satu spesies kucing yang sama, yang disebut Felis catus.

Selain kucing peliharaan, dikenal pula spesies kucing liar yang hidup di alam bebas dan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan manusia. Jumlah spesies kucing liar di dunia mencakup 40 jenis, termasuk 4 jenis kucing besar: Harimau, Singa, Jaguar dan Macan Tutul. Seluruh spesies kucing tersebut masuk dalam satu familia hewan karnivor yang disebut Felidae. Kucing peliharaan manusia yang terlepas dan kemudian tumbuh liar dan berkembang biak di alam bebas disebut kucing feral.

Indonesia memiliki 10 spesies kucing liar.  Beberapa diantaranya tergolong spesies endemik yang tidak  ditemukan di tempat lain . Kucing liar yang merupakan hewan berkarakter Asia, hanya ditemukan di pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan saja.  Di sebelah timur garis Wallace, spesies kucing liar tidak ditemukan.

Species kucing asli adalah spesies kucing yang secara alami hidup di suatu daerah/wilayah tertentu. Sedangkan spesies kucing endemik adalah suatu spesies kucing yang memiliki daerah sebaran sangat terbatas dan tidak ditemukan di tempat lain.

1. Kucing Congkok/Leopard Cat (Prionailurus bengalensis Kerr, 1792)

Kucing Congkok termasuk salah satu spesies kucing liar yang memiliki daerah sebaran paling luas di dunia. Mulai dari wilayah Pakistan ke arah timur hingga Filipina dan dari Semenanjung Korea/Rusia Timur ke arah selatan hingga Pulau Jawa. Berdasarkan daerah sebaran dan ciri fisiknya, Kucing Congkok dibagi menjadi 11 sub-spesies dengan 3 sub-spesies diantaranya ada di Indonesia, yaitu: Prionailurus bengalensis sumatranus, P.b. javanensis and P.b. borneoensis.

Gambar 1.  Kucing Congkok (Prionailurus bengalensis Kerr, 1792)

Kucing congkok berwarna kuning abu-abu dengan pola totol hitam di sekujur tubuh menyerupai macan tutul. Bagian perut berwarna putih. Ukuran tubuh bervariasi dari mulai panjang 46 cm (berat 2,2 kg) untuk sub-species di Indonesia hingga 65 cm (berat 7,5 kg) di timur Rusia. Panjang ekor mencapai setengah panjang tubuh.

Kucing Congkok dapat hidup diberbagai macam tipe habitat hingga ketinggian 3000 m. Jenis ini amat terampil memanjang pohon dan mahir berenang. Telapak kaki di lengkapi dengan semacam selaput renang. Daerah jelajah kucing ini mencapai 3,5-7,5 km persegi pada jantan (yang dipertahankan dari pejantan lain) dan 2-2,5 km persegi pada betina. Batas wilayah ditandai dengan semprotan urin, kumpulan faeces, dan bekas cakaran pada pohon.

Kucing Congkok berburu mangsa pada malam hari berupa mamalia kecil seperti tikus, burung, kadal, reptil dan serangga. Kadang kadang telur, rumput, ikan dan hewan ternak seperti ayam juga menjadi santapannya. Populasi kucing ini masih cukup banyak di alam (sekitar 50.000 ekor) sehingga IUCN dan CITES belum memasukkan kucing Congkok sebagai hewan yang terancam punah.

2. Kucing Hutan/Jungle Cat (Prionailurus planiceps Vigors and Hortsfields, 1827)

Kucing hutan tergolong spesies kucing kecil yang memiliki daerah sebaran terbatas di Semenanjung Malaya, Sumatera dan Kalimantan. Jenis kucing ini terspesialisasi untuk hidup di daerah lahan basah seperti tepi sungai, rawa, danau dan tepi pantai. Panjang tubuh 41-50 cm dengan berat 1,5-2,5 kg.

Bulu kucing hutan umumnya lebat dengan komposisi warna yang sangat unik dibandingkan spesies kucing lainnya. Bagian kepala berwarna merah dan berangsur-angsur menjadi putih pada bagian dada, leher dan perut bawah. Kaki depan berwarna gelap yang terus berlanjut ke seluruh tubuh hingga ke ekor (Gambar 2 dan 3). Telapak kaki dilengkapi selaput renang yang memungkinkan hewan ini bergerak cepat di tanah berlumpur dan berenang dengan mudah. Gigi terspesialisasi untuk menggigit hewan berkulit licin/berlendir seperti ikan, udang dan katak. Kadang-kadang tikus dan ayam juga menjadi buruannya. Ciri yang paling aneh dari kucing hutan ini  adalah bentuk kepalanya yang pipih.  Bentuk kepala seperti ini sangatlah tidak lazim dalam keluarga kucing.

Gambar 2. Kucing Hutan menyelinap di bawah akar pohon.

Gambar 3. Seringai Kucing Hutan. Perhatikan kaki depan yang berbulu hitam.

Populasi kucing hutan tersebar luas namun tergolong jarang di alam. Saat ini jumlah keseluruhan individu diperkirakan hanya mencapai 2.500 ekor. Populasi ini cenderung terus menurun akibat hilangnya habitat lahan basah dan kontaminasi bahan polutan yang banyak mencemari  sungai.  IUCN memasukkan kucing hutan sebagai spesies yang terancam punah (endangered species).

3. Kucing Bakau/Fishing Cat (Prionailurus viverrinus Bennet, 1833)

Kucing bakau tersebar di Asia Selatan dan Asia tenggara termasuk Pulau Sumatra dan Jawa. Tubuh umumnya berwarna abu-abu hijau zaitun dengan pola total yang membentuk garis membujur di sepanjang tubuh. Seperti kucing hutan, kucing bakau terspesialisasi hidup di daerah perairan sepanjang tepi sungai dan hutan bakau. Kucing ini termasuk spesies yang mahir berenang dan sangat menyukai air. Telapak kaki yang berselaput renang memungkinkan kucing bakau menyergap ikan yang menjadi mangsa utamanya dengan mudah.

Gambar 4. Seekor Kucing Bakau Betina

Kucing bakau termasuk kucing berukuran sedang dengan ukuran tubuh dua kali lebih besar dari rata-rata kucing rumah. Panjang dapat mencapai 57-78 cm dengan panjang ekor 20-30 cm. Berat mencapai 5-16 kg. Daerah teritorial jantan meliputi area seluas 16-22 km persegi. Sedangkan betina 4-6 km persegi. Daerah dipertahankan dengan menandai batas wilayah melalui urin, faeces dan cakaran pada pohon.

Gambar 5. Kucing Bakau mengintai mangsa dari tepi air

Kucing bakau berburu pada malam hari dengan cara menyambar ikan dari tepian sungai atau dari atas akar bakau. Kadang-kadang, kucing bakau menyelam ke dalam air untuk mendapatkan mangsanya. Di daerah berlumpur yang dangkal karena air surut, kucing ini akan menangkap ikan dengan cara mengacak-acak lumpur menggunakan cakarnya yang kuat. Selain ikan sebagai menu utama, kucing bakau juga memangsa katak, burung air, udang, burung yang hinggap di pohon, tikus, ular dan bahkan bayi rusa yang baru lahir. Populasi kucing ini semakin jarang akibat hilangnya habitat. IUCN memasukkan kucing bakau sebagai spesies yang terancam punah.

Gambar 6. Menangkap ikan dengan cakar depannya yang kuat

4. Kucing Merah/Bay Cat/Bornean Red Cat (Catopuma badia Gray, 1874)

Kucing merah adalah salah satu spesies kucing yang paling misterius di dunia. Semua pengetahuan tentang jenis kucing ini hanya berasal dari 12 spesimen awetan yang tersimpan di museum Eropa. Spesimen pertama diperoleh Alfred Russel Wallace, seorang naturalis ternama berkebangsaan Inggris di Sarawak, Kalimantan utara pada tahun 1855. Hingga akhir abad ke-20, tak seorang pun yang pernah melihat rupa kucing ini dalam keadaan hidup, hingga seekor kucing berhasil ditangkap tahun 1992. Enam tahun kemudian, kucing merah kedua berhasil ditangkap dan didokumentasikan. Begitu misteriusnya kucing ini, hingga butuh waktu 143 tahun untuk mendapatkan fotonya dalam keadaan hidup.

Gambar 7. Kucing Merah dalam sangkar

Kucing merah tergolong spesies kucing berukuran kecil, dengan panjang tubuh 53-67 cm. Ekor sangat panjang dan berbulu tebal dengan ukuran 32-39 cm. Berat diperkirakan mencapai 3-4 kg. Kucing merah aktif berburu pada malam hari (nokturnal). Sebagian besar mangsanya berupa burung, tikus, serangga, reptil dan monyet. Kadang-kadang kucing ini juga memakan bangkai hewan yang dibunuh binatang lain.

Kucing merah dilaporkan mendiami habitat berupa daerah berhutan lebat hingga ketinggian 900 m. Perbukitan karst dan daerah dekat pantai juga menjadi habitatnya. Analisis genetik menunjukkan bahwa kucing merah memiliki ciri genetik yang unik dan memiliki hubungan paling dekat dengan kucing emas.

Kucing merah termasuk spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di Pulau Kalimantan. Kucing ini tergolong sangat langka dan populasi di habitat aslinya diperkirakan hanya tersisa 50 ekor. IUCN menyatakan kucing merah sebagai spesies yang paling terancam punah dalam waktu dekat.

Hilangnya habitat akibat penebangan hutan menyebabkan kian berkurangnya populasi kucing merah. Hingga saat ini belum ada satu pun kebun binatang dan penangkaran yang berhasil mengoleksi kucing ini. Menurut Wikipedia, seekor kucing merah hidup bisa mencapai harga lebih dari 100 juta rupiah di pasar gelap luar negeri. Di Malaysia, Brunei dan Indonesia, kucing merah termasuk spesies yang dilindungi. Daerah sebaran yang terbatas dan populasi yang sedikit menyebabkan kucing ini mendapatkan prioritas utama untuk dilindungi.

5. Kucing Emas/Asiatic Golden Cat (Catopuma temminckii Vigors & Horsfield, 1827)

Kucing emas termasuk jenis kucing berpostur sedang dengan ukuran tiga kali lebih besar dari kucing rumah. Panjang tubuh 66-105 cm dengan ekor berukuran 40-57 cm, berat 9-16 kg dan tinggi bahu 56 cm. Daerah sebaran kucing ini tergolong sangat luas, meliputi seluruh Asia Selatan, China dan Asia Tenggara termasuk daerah semenanjung Malaya. Di Indonesia, Kucing emas hanya dapat ditemukan di Pulau Sumatera.

Gambar 8. Kucing Emas (Catopuma temminckii)

Kucing emas memiliki postur tubuh yang tegap dan kokoh. Bulu (fur) didominasi oleh warna keemasan atau kemerahan. Corak seperti huruf M yang rumit dapat ditemukan di bagian kepala. Subspesies kucing emas di China memiliki motif bulu yang indah menyerupai leopard. Sedangkan di Nepal, ditemukan varian warna bulu hitam (melanistic) yang menyerupai warna bulu macan kumbang.

Kucing emas hidup di berbagai tipe habitat hingga ketinggian 3000 m. Sebagaimana spesies kucing lainnya, kucing emas termasuk hewan soliter dan memiliki daerah teritorial yang dipertahankan seluas 30-50 km persegi. Kucing ini aktif berburu pada malam hari. Kadang-kadang siang hari. Mangsa utamanya adalah burung, tikus besar, reptil, kambing, domba, rusa muda hingga anak kerbau.

Dalam berburu, kucing ini tidak terlalu sering memanjat pohon. Populasi kucing emas termasuk cukup besar, namun di beberapa negara populasinya terus menurun akibat perburuan dan hilangnya habitat. Kucing emas banyak diburu untuk diambil bulunya (fur) sebagai pengganti bulu harimau yang semakin sulit dicari. IUCN menggolongkan kucing emas sebagai spesies yang rentan (vulnerable) terhadap kepunahan.

6. Kucing Batu/Marbled Cat (Pardofelis marmorata Martin, 1837)

Kucing batu termasuk kucing kecil yang memiliki postur seukuran kucing rumah. Kucing ini dikenal sebagai kucing yang sangat gesit, pemanjat pohon ulung yang lebih banyak menghabiskan waktunya di atas canopy hutan tropis (arboreal).

Tidak banyak hal yang diketahui dari kucing ini di habitat aslinya karena sulitnya pengamatan. Kucing batu memiliki panjang tubuh 45-62 cm dengan panjang ekor 35-55 cm dan berat 2-5 kg. Kucing batu berbulu kecoklatan, abu-abu, kuning dan hitam dengan pola totol yang menyerupai macan dahan (clouded leopard).

Ekor kucing batu sangat panjang dan berbulu sangat tebal, berfungsi sebagai alat keseimbangan saat bergerak di antara cabang dan batang pohon. Di antara spesies kucing liar Asia Tenggara, selain kucing congkok dan kucing emas, kucing batu dianggap sebagai salah satu spesies kucing dengan corak bulu yang paling indah.

Gambar 9. Kucing Batu (Pardofelis marmorata)

Kucing batu tersebar di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, kucing ini dapat ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Habitat utamanya adalah daerah berhutan tropis hingga ketinggian 3.000 m. Hewan ini berburu pada malam hari dalam suatu wilayah territorial yang mencapai 4-6 km persegi. Mangsa utamanya adalah burung, tupai, tikus dan reptil. Sering kali, kucing batu turun ke tanah untuk berburu mangsa, minum dan menjelajah. Populasi kucing batu di seluruh dunia diperkirakan sekitar 10.000 ekor dan cenderung terus menurun akibat hilangnya habitat. IUCN menggolongkan kucing hutan sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan (vulnerable).

7. Kucing Rumah/Domestic Cat (Felis catus, Linnaeus, 1758)

Kucing rumah atau kucing peliharaan adalah spesies kucing yang memiliki keterkaitan paling erat dengan manusia. Kucing rumah memiliki ukuran tubuh dan warna yang sangat bervariasi. Populasinya paling banyak dan tersebar di seluruh dunia. Upaya seleksi, persilangan dan budidaya selama ribuan tahun, menghasilkan berbagai macam ras kucing yang memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda.

Gambar 10. Kucing Siam.  Salah satu kucing ras  yang populer sebagai hewan peliharaan. Kucing ini berasal dari Thailand.

Saat ini populasi kucing rumah yang tak terkendali menjadi masalah di Kota-Kota besar di seluruh dunia termasuk di Jakarta. Kucing menjadi masalah terutama karena dapat menjadi vektor (pembawa) penyakit seperti rabies.

8. Macan Dahan/Sumatran-Bornean Clouded leopard (Neofelis diardi G. Cuvier, 1823)

Macan dahan adalah spesies kucing berukuran sedang yang tersebar di Asia Selatan, China dan Asia Tenggara, termasuk Sumatera dan Kalimantan. Hingga kini dikenal 2 spesies macan dahan. Spesies daratan Asia diberi nama Neofelis nebulosa dan spesies pulau Sumatera-Kalimantan diberi nama Neofelis diardi. Hasil analisis genetik terakhir menunjukkan bahwa macan dahan Sumatera dan Kalimantan tergolong sub-spesies berbeda. Macan dahan Sumatera kemudian diberi nama Neofelis diardi diardi dan macan dahan Kalimantan diberi nama Neofelis diardi borneensis.

Gambar 11. Macan Dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis)

Macan dahan adalah spesies kucing terbesar di Kalimantan. Tubuhnya memanjang dan tegap dengan berat mencapai 12-25 kg. Kakinya pendek, dengan telapak kaki yang lebar dan cakar yang kuat. Ekor macan dahan sangat panjang, mengindikasikan hewan ini adalah predator pemanjat pohon yang mahir. Telapak kaki yang lebar juga menunjukkan bahwa macan dahan juga seringkali berjalan di lantai hutan dan dapat berenang.

Macan dahan memiliki rasio taring/tengkorak terbesar dibandingkan semua kucing, menjadikannya sebagai spesies kucing dengan taring terpanjang (5 cm). Pengamatan kehidupan macan dahan di alam aslinya tergolong sulit dilakukan sehingga populasi kucing ini tidak dapat diketahui dengan pasti. Para ahli memperkirakan populasi di Sumatera berkisar antara 3.000 -7.000 ekor dan di Kalimantan berkisar antara 5.000 – 11.000 ekor.

9. Macan Tutul Jawa/Macan Kumbang/Leopard/Panther (Panthera pardus melas G. Cuvier, 1809)

Macan tutul memiliki tubuh yang kokoh dan ramping. Keempat kakinya relatif pendek dengan ekor sangat panjang. Bentuk tubuh seperti ini sangat cocok untuk hidup di atas pohon (arboreal). Ciri khas lainnya dari macan tutul adalah adanya pola totol-totol di sekujur tubuh.

Di antara 4 kucing besar (Harimau, Singa, Jaguar dan Leopard), macan tutul termasuk kucing yang paling kecil. Meskipun kecil, gerakan macan tutul dikenal gesit dan cepat. Kemampuan melompat dan memanjatnya tak tertandingi kucing manapun. Penyamaran (kamuflase) dalam berburu dan menyergap mangsa pun nyaris menyamai  si Raja Rimba.

Macan tutul juga dapat berenang dengan baik. Gigi dan otot macan tutul sangat kuat hingga mampu mengangkat mangsa yang lebih berat dari bobot tubuhnya sendiri ke atas pohon yang tinggi. Di Afrika, anak macan tutul belajar berburu dengan menyergap tupai yang berkeliaran di batang-batang pohon.

Di seluruh dunia dapat ditemukan sekitar 9-11 sub-spesies macan tutul.  Daerah sebaran meliputi daerah padang sabana di Afrika hingga daerah gurun di Afrika dan Asia, daerah bersalju di Himalaya dan Siberia sampai daerah berhutan lebat di Asia Tenggara. Kemampuan beradaptasi yang luar biasa menyebabkan macan tutul mampu hidup di berbagai tipe habitat berbeda. Di Indonesia, macan tutul hanya dapat ditemukan di pulau Jawa (endemik) dan dikenal dengan nama macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).

Gambar 12. Macan tutul jawa ((Panthera pardus melas)

Macan tutul Jawa termasuk kucing besar yang oportunistik. Saat berburu,  predator ini tidak pilih-pilih mangsa dan akan menyergap hewan apa saja yang ditemui. Rusa, monyet ekor panjang, owa, babi hutan, dan kijang menjadi menu favoritnya. Tupai, reptil dan burung pun akan dikejarnya. Jika terpaksa, hewan ternak seperti kambing dan domba juga takkan disia-siakan. Hal ini menyebabkan macan tutul dianggap sebagai hama oleh penduduk. Kadang-kadang macan tutul juga memakan sedikit  rumput untuk membantu proses pencernaan. Macan tutul adalah hewan soliter yang lebih sering berburu pada malam hari (nokturnal).

Dari seluruh sub-spesies macan tutul, ukuran tubuh macan tutul Jawa termasuk yang paling kecil. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh dimensi daratan pulau jawa yang sempit dan ukuran mangsa yang kecil pula. Rata-rata daerah jelajah macan tutul sekitar 10 km persegi. Di gunung Halimun, macan tutul jawa dilaporkan aktif pada pagi hari dan petang.

Warna macan tutul Jawa hampir sama dengan macan tutul pada umumnya. Variasi bulu dengan warna hitam (melanistic) juga ditemukan pada macan tutul jawa. Bahkan frekuensi melanistic ini tergolong cukup tinggi. Warna gelap melanistic menyerupai warna sayap kumbang yang hitam mengkilat sehingga masyarakat lokal menyebut macan tutul hitam ini sebagai macan kumbang .

Sejatinya, macan tutul  hitam juga memiliki pola totol seperti macan tutul biasa. Akan tetapi pola totol ini hanya akan terlihat jika  macan tersebut berada di bawah sinar yang terang. Warna gelap terjadi akibat munculnya alel  resesif yang memicu produksi pigmen melanin secara berlebihan di permukaan kulit. Kemungkinan, warna hitam ini juga muncul sebagai adaptasi terhadap kondisi hutan yang lebat dan gelap. Dalam keadaan seperti ini, macan kumbang akan sangat sulit terlihat pada malam hari.

Gambar 13. Varian melanistic macan tutul jawa akibat pemunculan alel resesif  (seringkali disebut macan kumbang/black panther).

Macan tutul Jawa dapat ditemukan di seluruh hutan dan areal konservasi mulai dari hutan pegunungan di Jawa Barat hingga hutan musiman di Jawa timur. Akan tetapi populasinya diperkirakan menurun drastis hingga tersisa antara 100-250 ekor. IUCN menetapkan status konservasi macan tutul sebagai satwa yang sangat terancam punah dalam waktu dekat/kritis (critically endangered). Populasi terbanyak diperkirakan berada di hutan-hutan Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Halimun-Salak. Penangkaran yang dilakukan oleh Taman Safari dinilai cukup sukses menambah populasi macan tutul Jawa.

Gambar 14. Macan tutul/kumbang termasuk predator ulung yang sangat gesit

Dibandingkan sub-spesies lainnya, macan tutul jawa memiliki karakter genetik yang paling unik akibat isolasi selama ribuan tahun. Tidak menutup kemungkinan macan tutul jawa akan “naik kelas” menjadi spesies tersendiri di kemudian hari.

10. Harimau Sumatera/ Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae, Poocock, 1929)

Harimau adalah spesies kucing terbesar  dan menjadi salah satu megafauna Asia yang paling dikenal. Kekuatan, kecepatan dan ketangguhannya sebagai pemangsa menjadikan harimau sebagai pemuncak dalam piramida makanan. Sosoknya yang besar dengan seringai dan suara auman yang mengintimidasi menjadikan harimau sebagai penghuni rimba yang paling ditakuti suku-suku pedalaman di seluruh Asia  semenjak berabad-abad silam.

Harimau mudah dikenali dari corak garis loreng yang ada pada tubuhnya. Sebenarnya, garis-garis loreng ini sama dengan corak totol pada leopard dan jaguar. Hanya saja, seiring dengan berjalannya waktu, pola totol pada harimau ini melebar ke atas dan ke bawah membentuk garis loreng sebagai hasil adaptasi terhadap habitat yang didominasi oleh hutan lebat, semak dan rumput yang tinggi. Garis loreng ini berguna sebagai kamuflase, agar harimau dapat mendekati mangsanya hingga tepat berada pada jarak sergap.

Indonesia merupakan salah satu daerah pusat penyebaran harimau di dunia. Dari 7-8 sub-spesies harimau yang dikenal dunia, 3 sub-spesies diantaranya ada di Indonesia, yaitu Harimau Sumatera, Jawa dan Bali. Uniknya lagi, semua harimau di Indonesia tergolong hewan endemik yang tidak ditemukan ditempat lain. Saat ini hanya harimau Sumatera yang masih bertahan hidup. Harimau Jawa dan Bali telah dinyatakan punah oleh IUCN akibat perburuan dan hilangnya habitat.

Gambar 15. Profil Harimau Sumatera Jantan

Gambar 16. Harimau Sumatera Jantan (Sumber: Shutterstock)

Harimau Sumatera merupakan subspesies terkecil dari  harimau yang masih hidup. Panjang tubuh dari kepala hingga ekor berkisar antara 198-204 cm dengan berat 90-150 kg.

Sebagai adaptasi terhadap habitat berupa hutan hujan tropis yang lebat, warna tubuh harimau Sumatera cenderung kusam dan gelap dengan garis loreng yang lebar dan rapat.  Meskipun berpostur kecil, harimau sumatera dikenal  sangat agresif dan temperamental. Ciri lain dari harimau sumatera yang sangat khas adalah surai-nya (janggut) yang lebat pada hewan jantan.

Pola hidup harimau sumatera umumnya sama dengan sub-spesies lainnya. Suka berburu pada malam hari dan penyendiri. Menguasai teritori seluas 100 km persegi yang ditandai dengan air seni, faeces dan bekas cakaran pada pohon tertentu. Harimau sumatera merupakan predator oportunis dengan mangsa utama berupa babi hutan, rusa, tapir, burung, reptil, tikus dan ikan. Kadang-kadang orang utan yang berada terlalu dekat dengan lantai hutan juga menjadi mangsanya. Jika sudah terlalu tua, cacat dan tak mampu berburu lagi, harimau akan mencari mangsa yang paling mudah ditangkap, yaitu: hewan ternak. Manusia tidak termasuk dalam daftar menu harimau Sumatera.

Studi genetik terakhir menunjukkan bahwa harimau sumatera memiliki komposisi genetik yang unik dan sangat berbeda dari sub-spesies harimau lainnya.

Kini, daerah sebaran harimau Sumatera hanya terbatas di hutan-hutan pegunungan dalam wilayah  Taman Nasional atau area konservasi lainnya. Populasinya terus menurun akibat perburuan dan degradasi habitat. Saat ini jumlahnya diperkirakan tidak lebih dari 400-500 ekor. IUCN memasukkan harimau sebagai spesies yang kritis/sangat terancam punah dalam waktu dekat (critically endangered).

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , , , , . Tandai permalink.