Paus biru: hewan terbesar yang pernah ada

Sudah sejak lama, pertanyaan tentang hewan apakah yang paling besar di bumi, menyelimuti benak setiap anak manusia yang penuh dengan rasa keingintahuan. Sebagian orang menyatakan dinosaurus adalah yang terbesar. Sedangkan yang lain memilih paus sebagai hewan terbesar.

Catatan jejak fosil menunjukkan, beberapa spesies hewan yang hidup di darat memiliki ukuran dan berat yang luar biasa. Hewan ini terutama didominasi oleh keluarga dinosaurus, yang kembali menjadi populer, setelah film Jurassic Park yang diangkat dari novel fiksi karya Michael Crichton, dirilis tahun 1993.

Beberapa dinosaurus berukuran raksasa diantaranya adalah Argentinosaurus huinculensis, yang diperkirakan memiliki panjang 25-30 m dengan berat mencapai 80-100 ton. Dino yang diperkirakan hidup sekitar 95 juta tahun yang lalu ini ditemukan di Argentina.

Gambar 1. Ilustrasi Argentinosaurus (Sumber:www.raulmartin.com)

Dinosaurus herbivor dari Colorado, Amphicoelias fragilissimus, memiliki ukuran lebih besar dari Argentinosaurus, dengan panjang 56-62 m dan berat 120 ton. Sedangkan dino dari selatan India, Bruhathkayosaurus matleyi diestimasikan memiliki panjang 45 m dan berat 140 ton.

Selain Argentinosaurus, perkiraan panjang dan berat untuk kedua jenis dino lainnya, masih diragukan oleh para ahli, mengingat kondisi fosil yang sangat rapuh dan tidak lengkap. Untuk hewan yang hidup di laut, Paus biru didaulat para ahli sebagai spesies terbesar. Hewan ini dapat mencapai panjang lebih dari 30 m dengan berat hingga 200 ton.

Gambar 2. Perbandingan panjang Paus Biru dengan jenis paus lainnya (Sumber: IWC)

Paus biru (blue whale) sejatinya adalah mamalia laut, bukan ikan seperti yang seringkali disebut oleh sebagian orang. Entah mengapa, Linnaeus, dalam bukunya Systema naturae (1758) memberi nama ilmiah Balaenoptera musculus bagi hewan raksasa ini. Mengapa bukan, Balaenoptera giganteus atau Balaenoptera supremus saja, untuk menunjukkan ukuran masif yang tak tertandingi dari hewan ini.

Sampai sekarang, pemberian nama spesies “musculus” pada Paus Biru masih menjadi misteri dan hanya Linnaeus seorang saja yang mengetahui alasannya. Mungkin dalam hal ini, Linnaeus telah bersepakat dengan si Shakespeare, penyair Inggris yang terkenal dengan ungkapannya, “Apalah arti sebuah nama ?”. Dalam ilmu biologi, “musculus” bisa diartikan sebagai “otot” atau diinterpretasikan sebagai tikus putih/mencit “Mus musculus”.

Paus biru memiliki tubuh yang ramping dan sangat panjang. Warna punggung didominasi oleh warna biru kehijauan. Sedangkan warna bagian perut lebih terang. Paus biru tersebar di seluruh lautan/samudera di dunia, kecuali Laut Mediterania, Laut Merah dan Teluk Arab.

Gambar 3. Paus Biru (Sumber: http://www.corbisimages.com).

Dunia ilmu pengetahuan mengenal 3 sub-spesies Paus biru berdasarkan daerah sebarannya, yaitu: Balaenoptera musculus musculus yang tersebar di Pasifik Utara dan Atlantik Utara, Balaenoptera musculus intermedia di Laut Selatan sekitar Antartika serta Balaenoptera musculus brevicauda di Samudera India, Pasifik Selatan dan perairan Nusantara terutama di Laut Timor, Laut Sawu dan Laut Banda. Spesies terakhir, memiliki ukuran tubuh paling kecil.

Paus biru memiliki kepala yang pipih berbentuk U (Gambar 1). Di bagian atas kepala terdapat lubang untuk mengisap oksigen dan membuang karbondioksida.

Pemandangan yang indah seperti air mancur setinggi 9-12 meter akan terlihat, saat Paus biru membuang sisa pernafasan ke udara (Gambar 1). Paru-paru paus biru dapat menampung udara hingga 5000 liter. Volume ini kira-kira sama dengan isi truk tangki Pertamina.

Mulut paus biru dilengkapi dengan balin (baleen), suatu struktur pengganti gigi yang terbentuk dari deretan pelat dengan rambut-rambut tebal seperti sikat yang menggantung di rahang atas.

Balin ini tersusun dari sekitar 300 pelat dengan panjang 1 m, dimana 0,5 meter diantaranya masuk ke dalam mulut. Balin ini berfungsi untuk menyaring makanan yang terdiri dari berbagai jenis udang kecil dan kopepoda yang disebut krill.

Balin berasal dari keratin, semacam senyawa yang juga menyusun tanduk hewan serta kuku dan rambut kita (Gambar 4 dan 5).

Lantai mulut bagian bawah dari paus biru yang menyatu dengan dagu dan leher bawah, membentuk semacam kantong yang sangat lentur dan dapat menggelembung.

Dari luar, kantong ini berwarna terang dan memiliki garis-garis membujur yang disebut “throat groove“. Kantong ini berfungsi untuk menampung air laut berisi krill yang akan disaring oleh balin.

Seekor paus biru dewasa, dapat menampung air laut dalam kantong mulutnya dengan volume setara bis sekolah atau sekitar 100 ton air. (Gambar 6).

Gambar 4. Ilustrasi Balin Paus Biru. Bagian seperti sikat hitam adalah balin untuk menyaring udang krill. Sedangkan bagian bawah berwarna merah jambu adalah lidah yang berperan mendorong gumpalan krill ke dalam kerongkongan/perut. (Sumber: http://sanjuansafaris.com).

Jenis udang krill yang menjadi makanan paus biru juga berbeda-beda berdasarkan daerah sebarannya. Di Atlantik Utara, jenis krill-nya terdiri dari Meganyctiphanes norvegica, Thysanoessa raschii, Thysanoessa inermis dan Thysanoessa longicaudata.

Di Pasifik Utara terdiri dari Euphausia pacifica, Thysanoessa inermis, Thysanoessa longipes, Thysanoessa spinifera, Nyctiphanes symplex dan Nematoscelis megalops. Sedangkan di Laut Selatan dan Antartika terdiri dari Euphausia superba, Euphausia crystallorophias dan Euphausia valentin.

Gambar 5. Balin Paus Bongkok (Sumber: http://farm5.static.flickr.com)

Paus biru dilengkapi dengan sirip kecil di bagian punggung belakang. Sirip depannya memiliki panjang hanya sekitar 3-4 meter saja. Saat berenang, kecepatan paus biru dapat mencapai 50 km/jam untuk jarak yang pendek. Kecepetan rata-rata sekitar 15-20 km. Sedangkan saat mencari makan, kecepatannya hanya 5 km/jam.

Berbeda dengan jenis paus lainnya, paus biru bersifat lebih soliter (penyendiri) dan tidak membentuk sebuah kelompok atau kawanan. Akan tetapi,  jika terdapat sebuah daerah dengan konsentrasi udang yang sangat melimpah, paus biru dapat membuat suatu kumpulan hingga 50 ekor.

Paus biru dewasa dapat memakan hingga 40 juta krill setiap hari. Jumlah ini setara dengan 3.600 kg udang kecil basah yang dapat menghasilkan energi sebesar 1,5 juta kilokalori (kkal).

Untuk mendapatkan krill, paus biru menyelam hingga 100 m saat siang hari dan berenang di permukaan saat malam hari. Pola makannya bergantung pada migrasi vertikal dari udang krill. Lama menyelam sekitar 10-40 menit. Namun seringkali tidak lebih dari 20 menit.

Gambar 6. Paus biru memangsa udang krill. Tampak “kantong leher” paus biru yang fleksibel yang menggembung untuk menampung air laut berisi krill. (www.underwatertimes.com).

Saat akan memangsa udang krill, paus biru akan berenang secara vertikal dari bawah menuju permukaan sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Air laut dengan volume yang besar bersama dengan krill akan masuk ke dalam mulut.

Paus biru kemudian perlahan-lahan akan menutup mulutnya dan menggunakan lidahnya untuk mendorong air laut keluar melalui tepi mulut yang dilengkapi balin. Udang krill pun akan tersaring di balin dan tetap berada dalam mulut. Dengan bantuan lidahnya, paus biru akan menelan gumpalan krill yang terjebak di dalam mulut.

Sebagaimana ukuran tubuhnya yang super, lidah paus biru pun berukuran sangat besar dengan bobot mencapai 3.000 kg (Gambar 4). Rongga mulutnya sanggup menampung 100 ton air dan krill.

Anehnya, kerongkongan paus biru hanya dapat digunakan untuk menelan gumpalan makanan sebesar bola voli saja. Untuk memompa darah ke seluruh tubuh, paus biru dilengkapi dengan jantung yang sangat besar dengan bobot 600 kg. Pembuluh darah aortanya mencapai garis tengah 23 cm.

Musim kawin paus biru berlangsung saat akhir musim gugur hingga akhir musim dingin. Betina akan mengandung selama 10-12 bulan. Bayi yang dilahirkan mencapai panjang 7 m dengan berat 2.500 hingga 2.800 kg.

Berat bayi yang baru lahir ini setara dengan berat kuda nil dewasa. Bayi paus ini akan minum sebanyak 380-570 liter susu setiap hari. Dengan susu berkadar lemak sangat tinggi (40%), bayi paus biru tumbuh pesat dengan pertambahan berat badan 90 kg setiap hari. Bayi paus akan disapih saat berumur 6-7 bulan.

Paus biru jantan akan mencapai usia dewasa setelah 7-8 tahun dengan panjang 20 meter. Sedangkan betina pada usia 5 tahun dengan panjang 20 meter. Paus betina tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan paus jantan. Di alam bebas, Paus diperkirakan dapat hidup hingga usia 80 tahun.

Dengan tubuh yang besar dan tenaga yang sangat kuat, paus biru nyaris hidup tanpa pesaing. Satu-satunya predator yang berani menyerang Paus biru adalah paus pembunuh, Orcinus orca. Para ahli melaporkan, sekitar seperempat dari populasi paus biru memiliki bekas luka di permukaan tubuhnya akibat serangan paus pembunuh.

Dalam satu film dokumenter diperlihatkan, sekitar 40 ekor paus pembunuh mengeroyok seekor paus betina dengan anaknya. Serangan itu berakhir dengan tragis, karena paus betina itu kehilangan anaknya.

Anehnya, kelompok paus pembunuh tadi hanya memakan bagian lidah dari anak paus biru itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, tubuh anak paus biru itupun tenggelam ke dasar samudera.

Gambar 7. Seekor paus biru betina bersama anaknya tertangkap kamera dari pesawat. (Sumber: http://animals.howstuffworks.com).

Paus biru juga mengeluarkan suara di dalam air dengan fungsi yang masih belum dapat dipahami. Para ahli berpendapat, paus biru mengeluarkan suara untuk berkomunikasi dengan sesama spesiesnya, mendeteksi kedalaman laut atau mendeteksi mangsa.

Suara paus biru berada di kisaran 10-40 Hertz. Sedangkan batas terendah suara yang dapat didengar manusia adalah 20 Hz. Jadi, manusia masih dapat mendengar suara paus biru.

Hingga awal abad ke-20, paus biru masih bisa ditemukan dalam jumlah yang melimpah di seluruh dunia dengan kisaran populasi 200.000-300.000 ekor. Sebagian besar populasi ini terkonsentrasi di Laut Selatan di sekitar Antartika.

Jenis paus yang menjadi target utama pemburu adalah Eubalaena australis, Eubalaena glacialis dan Eubalaena japonica. Para pemburu menyebut paus ini “right whale“. Disebut demikian, karena paus ini tetap terapung saat terbunuh, sehingga memudahkan pemburu memotong dan mengangkat tubuhnya ke atas kapal.

Kandungan lemak yang sangat tinggi dari paus jenis ini, selain sangat menguntungkan secara ekonomi, juga membuat tubuh paus jenis ini tidak tenggelam setelah terbunuh.

Teknologi perburuan yang masih sederhana di abad 18-19, membuat proses pengangkatan tubuh ke atas kapal membutuhkan waktu yang lama.

Jenis paus bertubuh besar lainnya seperti paus biru, akan tenggelam ke dasar laut, segera setelah terbunuh, karena bobot tubuhnya yang berat. Hal ini akan menyulitkan pemburu untuk mengangkat badan paus ke atas kapal.

Gambar 8. Teknologi penangkapan paus yang masih sederhana di awal abad ke-20. Tampak paus Sperma (Koteklema) di potong-potong sebelum diangkut ke atas kapal. Foto ini dibuat tahun 1902. Sumber: http://www.executedtoday.com/images/Whaling_photograph.jpg

Pada awal abad ke 20, populasi paus “right whale” sudah semakin jarang hingga nyaris punah akibat perburuan terus menerus. Kondisi ini mendorong para pemburu menciptakan teknologi penangkapan baru untuk membantai jenis paus lain yang lebih besar dan masih melimpah, yaitu: paus biru.

Hanya dalam waktu 40 tahun saja, seluruh populasi paus biru (300 ribu ekor) dibantai hingga nyaris punah oleh pemburu paus yang serakah, sebelum akhirnya dilindungi masyarakat internasional tahun 1966. Sejak saat itu, populasi paus ini tak pernah berkembang lagi. Kini, jumlah paus biru di seluruh dunia hanya tersisa tidak lebih dari 2.000 ekor.

Sebagian besar paus, diburu untuk untuk mendapatkan lemaknya yang berharga mahal. Lemak ini digunakan sebagai bahan baku kosmetik hingga bahan bakar lampu minyak. Dagingnya dikonsumsi.

Jeroannya dijadikan makanan hewan peliharaan. Pelat balinnya yang kuat dan fleksibel digunakan sebagai bahan baku korset. Sedangkan rambut balinnya digunakan untuk membuat sapu… !!!.

Masyarakat pemburu paus tradisional di Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, hanya memburu jenis paus tertentu, seperti Paus Sperma/Koteklema (Physeter catodon) untuk konsumsi lokal. Jumlah paus yang diburu pun rata-rata tidak lebih dari 20 ekor setiap tahun.

Gambar. 9. Dua pemburu paus sedang meloncat untuk menancapkan tombak. (Sumber: http://davemabon.blogspot.com/2010_04_01_archive.html).

Masyarakat Lamalera tidak memburu paus balin seperti paus biru. Selain karena ukurannya yang terlalu besar, juga karena tenaganya yang sangat kuat. Berburu Paus Biru dianggap tabu.

Gambar 10. Berburu Paus Sperma di lepas pantai Lamalera (Koteklema/Physeter catodon). Sumber: http://scubasigns.files.wordpress.com.

Pada bulan Desember 1916, seekor paus biru dengan panjang 27,25 meter dan berat diperkirakan mencapai 119 ton, ditemukan mati terdampar di Pantai Pameungpeuk, Priangan Selatan, Jawa Barat.

Kerangka dari bangkai mamalia raksasa ini kemudian diawetkan dan kini dapat dilihat di Museum Zoologi Bogor. Penulis sempat mengabadikan kerangka paus ini, saat berkunjung ke Museum Zoologi (Gambar 11). Hanya saja, penulis tidak dapat melihat obyek tersebut lebih detail,  karena ruang pajang (display) masih dalam tahap renovasi.

Gambar 11. Kerangka Paus biru di Museum Zoologi Bogor. Sumber: Koleksi Pribadi.

Sekitar pertengahan April 2012, penulis mendapat kesempatan mengunjungi Pulau Kabaena di Sulawesi Tenggara. Tidak jauh dari Pelabuhan Sikeli (P. Kabaena), penulis melihat sebuah bangunan beratap tanpa dinding yang sangat panjang.

Rasa penasaran penulis berubah menjadi keterkejutan luar biasa, saat menjumpai rangka seekor paus yang sangat besar, terpajang di sana (Gambar 12).

Gambar 12. Rangka Paus dengan panjang sekitar 18-20 meter di Pelabuhan Sikeli, Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Masyarakat setempat mengenal paus semacam ini dengan nama Raja Baena (Inset). Sumber: Koleksi Pribadi.

Dari tengkorak kepala yang berbentuk huruf U, panjang rangka dari kepala hingga ekor yang kira-kira mencapai 18-20 meter dan struktur tulang vertebrae yang mirip dengan rangka paus yang terpajang di Museum Zoologi Bogor (Gambar 11), penulis menduga bahwa rangka paus dari Pulau Kabaena ini berasal dari jenis Paus Biru atau setidaknya berasal dari jenis paus balin yang tidak bergigi. Hal ini terlihat dari bentuk sepasang tulang rahang bawah yang melengkung dengan jarak yang lebar (Gambar 12).

Satu-satunya jenis paus bergigi dengan ukuran tubuh besar yang penulis ketahui adalah Paus Sperma (Koteklema). Paus bergigi pemangsa cumi-cumi raksasa ini memiliki rahang bawah yang lurus dan sempit, seperti tampak pada Gambar 8.

Gambar 13. Rangka kepala (tengkorak) seekor Paus yang dipajang di Pelabuhan Sikeli, Pulau Kabaena Sulawesi Tenggara. Perhatikan deretan gigi terbuat dari semen yang seharusnya tidak ada pada jenis paus ini. Sumber: Koleksi Pribadi.

Penulis tidak sempat mengamati kerangka paus ini lebih dalam karena kunjungan ke Pulau Kabaena yang relatif singkat. Informasi tentang bagaimana terdamparnya paus ini, berapa lama rangka ini telah terpajang dan informasi lainnya, belum sempat kami telusuri lebih jauh.

Gambar 14. Tulang rusuk (costa) dan tulang belakang (vertebrae) yang sangat besar dari seekor Paus di Pelabuhan Sikeli, Pulau Kabaena Sulawesi Tenggara. Sumber: Koleksi Pribadi.

Meskipun telah dilindungi oleh bangunan beratap, namun kondisi rangka paus yang berada di ruang terbuka sangatlah riskan. Kerangka Paus ini rawan dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Udara laut yang mengandung garam pun, juga kurang baik untuk kerangka paus kabanggaan P. Kabaena tersebut.

Kami memberikan apresiasi yang tinggi atas kepedulian pemerintah dan masyarakat  setempat dalam membangun ruang pajang bagi rangka paus raksasa ini. Namun akan lebih baik lagi, jika rangka paus ini dipindahkan ke sebuah museum atau sebuah bangunan yang lebih representatif, agar kelak anak cucu kita masih dapat melihatnya.

Salah satu pertanyaan yang cukup menggelitik kami adalah: mungkinkah hewan dengan ukuran sebesar paus biru hidup di darat ?. Bagaimana dengan kebutuhan makannya ?. Bagaimana pula hewan tersebut akan menopang berat tubuhnya ?.

Di sini akan kita lihat betapa maha kuasanya Sang Pencipta. Lingkungan laut memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan daratan untuk menopang kehidupan hewan yang berukuran super berat seperti paus biru ini.

Pertama, lingkungan laut yang didominasi air memiliki daya apung yang akan membantu pergerakan hewan super berat seperti paus. Dengan bantuan daya apung air laut, paus dapat bergerak lebih leluasa.

Kedua, lingkungan laut memungkinkan hewan kecil seperti udang krill tumbuh dengan cepat, untuk melipatgandakan diri sehingga menjadi sumber makanan yang tiada habisnya bagi paus biru.

Ketiga, laut dengan keluasan dan kedalamannya menciptakan ruang 3 dimensi yang seolah tak terbatas bagi paus untuk terus bergerak. Berdasarkan hal tersebut, dapatlah dipahami, mengapa paus biru dapat tumbuh hingga menjadi hewan terbesar yang pernah ada.

Manusia yang dikaruniai akal, diberi amanah oleh yang maha kuasa untuk memanfaatkan sekaligus memelihara alam ini dengan sebaik-baiknya. Begitu banyak kerusakan yang telah terjadi akibat keserakahan manusia.

Dari sini, kita dapat melihat begitu pentingnya peran kearifan lokal dalam menjaga harmoni alam semesta. Semoga saja, paus biru akan tetap lestari hingga di akhir zaman.

Referensi :

http://sanjuansafaris.com

http://animals.howstuffworks.com/mammals/baleen-whale4.htm

http://davemabon.blogspot.com/2010_04_01_archive.html

http://scubasigns.files.wordpress.com/2009/06/whalesplit1bm_593x8001.jpg?w=500&h=674

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Laut dan tag , , , , . Tandai permalink.