Eboni: Si hitam manis nan mahal

Tubuhnya tinggi semampai, bak peri fashion di atas catwalk. Pembawaanya teduh. Beberapa kuntum bunga berwarna putih menghias bagian atas tubuhnya. Kulit coklat hitamnya terlihat indah, berkilauan di bawah terpaan cahaya mentari. Kehadirannya nampak selalu dinanti oleh khalayak ramai. Dialah eboni si pujaan hati.

Penulis sempat menemuinya beberapa kali dan memintanya untuk berfoto bersama. Namun, sayang seribu sayang,  si eboni yang berasal dari familia Ebenaceae  ini nyatanya bukanlah seorang gadis. Ia hanyalah nama sejenis pohon kayu, kesayangan seniman dan pembuat meubel mewah.

Gambar 1. Tegakan pohon kayu hitam di Kebun Raya Bogor (tengah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Eboni Diospyros celebica atau dikenal juga dengan nama kayu hitam, Macassar ebony, Coromandel ebony, streaked ebony dan black ebony, adalah sejenis pohon penghasil kayu dengan corak seperti kue lapis, berwarna hitam dan kuning yang secara alami hanya dapat ditemukan di Sulawesi (endemik). Batang tumbuh tegak dan lurus dengan tinggi dapat mencapai 40 m.  Batang bawahnya dapat mencapai garis tengah hingga 1 meter dan sering kali dilengkapi dengan akar papan (banir) yang besar.

Gambar 2. Kulit batang kayu hitam. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kulit batangnya beralur, mengelupas kecil-kecil dan berwarna coklat hitam. Pepagannya berwarna coklat muda dan di bagian dalamnya berwarna putih kekuning-kuningan.

Gambar 3. Daun kayu hitam. Sumber: dokumentasi pribadi.

Daun tunggal, tersusun berseling, berbentuk jorong memanjang, dengan ujung meruncing, permukaan atasnya mengkilap, seperti kulit dan berwarna hijau tua, permukaan bawahnya berbulu dan berwarna hijau abu-abu. Permukaan atas daun tidak berbulu dan berwarna hijau tua.

Gambar 4. Daun kayu hitam (sisi bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Bunganya mengelompok pada ketiak daun, berwarna putih. Buahnya bulat telur, berbulu dan berwarna merah kuning sampai coklat bila tua. Daging buahnya yang berwarna keputihan kerap dimakan monyet, bajing dan kelelawar; yang dengan demikian bertindak sebagai agen pemencar biji. Buahnya bulat telur, berbulu dan berwarna merah kuning sampai coklat bila tua. Bijinya berbentuk seperti baji yang memanjang berwarna coklat kehitaman.

Gambar 5. Buah kayu hitam. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jenis ini dapat dijumpai di hutan primer pada tanah liat, pasir atau tanah berbatu-batu yang mempunyai drainase baik, pada ketinggian kurang dari 400 m dpl. Kayu hitam juga menyukai daerah perbukitan dengan topografi lereng yang curam.

Kayu hitam menghasilkan kayu berkualitas sangat baik. Warna kayu coklat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan. Kayu gubal berwarna putih sampai merah muda dan kayu teras yang berwarna hitam atau coklat vang berbaris-baris hitam. Kayu ini sangat berat, dengan berat jenis 0,76; kelas keawetan dan kekuatannya digolongkan dalam kelas satu. Kayu hitam termasuk kayu berat dengan berat jenis melebihi air, sehingga tidak dapat mengapung.

Gambar 6. Tekstur kayu hitam yang sangat indah. Sumber: Wikipedia Indonesia.

Eboni dikenal memiliki pertumbuhan yang sangat lambat.  Di habitat aslinya, tekstur kayu yang berwarna belang coklat dan kuning dengan motif yang terkenal sangat indah itu, baru akan terbentuk sempurna setelah pohon mencapai umur sekitar 60-80 tahun.

Akibat penebangan yang sangat massif di era 1970-an, saat ini populasi pohon dengan umur di atas 50 tahun sudah sangat jarang ditemui. Seiring dengan semakin banyaknya permintaan, harga kayu hitam pun kian membumbung tinggi. Harga per meter kubik kayu hitam kualitas terbaik di Inggris dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Karena kualitasnya yang sangat baik, kayu ini termasuk kayu ekspor yang sangat mahal dan mempunvai banyak kegunaan termasuk di antaranya untuk tiang jembatan, vinir mewah, mebel, patung, ukiran, hiasan rumah, alat musik (misalnya gitar dan piano), tongkat, dan kotak perhiasan.

Di Indonesia, eboni dikenal dengan nama kayu hitam.  Nama lainnya adalah kayu itam, toetandu, sora, kayu lotong, dan kayu maitong. Kayu hitam merupakan flora identitas Propinsi Sulawesi Tengah.

Referensi:

Lemmens, R.H.M.J., Soerianegara, I. and W.C. Wong (Eds.), 1995. Plant Resources of South-East Asia (PROSEA) No. 5(2) Timber Trees: Minor commercial timbers. Backhuys Publishers, Leiden.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu_hitam_sulawesi

About these ads
This entry was posted in Flora and tagged , , , . Bookmark the permalink.