Padang Balua: desa juara di tengah belantara (1)

Profil Desa Padang Balua

Pernahkah sahabat mendengar nama Desa Padang Balua?. Yap. Nama Desa ini terdengar begitu asing di telinga kita, sebab desa ini terletak jauh di pedalaman belantara Sulawesi sehingga jarang terekspose ke dunia luar.

Meskipun terpencil dan kurang dikenal, desa ini memiliki prestasi mencengangkan, yaitu sebagai juara II lomba desa tingkat Nasional tahun 2014. Untuk menjadi juara dalam ajang lomba ini bukanlah perkara mudah, karena desa ini harus bersaing dengan 76.000 desa lainnya di seluruh Indonesia.

Menurut situs resmi pemerintah propinsi Sulawesi Selatan, Desa Padang Balua, berhasil meraih Juara II Perlombaan Desa Tingkat Nasional dan memperoleh piala/penghargaan Adikarya Bhakti Madya Praja. Penghargaan itu secara resmi telah diserahkan Menteri Dalam Negeri pada 16 Agustus 2014 lalu, di Jakarta.

Juara I pada ajang lomba desa tahun 2014 ini diraih Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan juara III diraih Desa Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kantor Desa Padang Balua-dody94.wordpress.comGambar 1. Kantor Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Desa Padang Balua mewakili Provinsi Sulawesi Selatan, setelah berhasil menjadi Juara I Lomba Desa tingkat provinsi dengan nilai skor 429. Hal itu terungkap dalam acara Penyerahan Penghargaan, Piagam dan Hadiah Perlombaan Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Sulsel Tahun 2014 yang digelar di Baruga Sangiaseri Makassar, Senin (25 Agustus 2014).

Adapun juara I-III lomba Desa tingkat propinsi adalah sebagai berikut: Juara I: Desa Padang Balua, Kecamatan Seko, Luwu Utara, nilai skor 429. Selanjutnya, Juara II: Desa Poleonro Kecamatan Lamuru, Bone, nilai skor 421. Sedangkan Juara III diraih Desa Jinato, Kecamatan Taka Bonerate, Selayar, nilai skor 402.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa dan Kelurahan (BPMPDK) Sulawesi Selatan, Ir. H. Muhammad Kasim Alwi, mengatakan, kepada para Juara perlombaan Desa dan Kelurahan tingkat provinsi diberikan penghargaan oleh Gubernur Sulawesi Selatan yaitu Piala Bergilir berupa piala Emas bagi Juara I, Piala Tetap bagi juara I, II, III dan Juara Harapan I, II, dan III.

Padang Balua-Desa Juara-dody94.wordpress.comGambar 2. Tugu juara lomba desa (kiri atas dan kiri bawah). Pemandangan desa Padang Balua dari puncak bukit (kanan atas). Kepala Desa Padang Balua Ibu Ruth Taely S.H. saat berkunjung ke Istana Negara (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Menurut Gubernur Sulawesi Selatan, DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH., M.Si., M.H., juara dan prestasi ini hanya bisa diraih dengan kerja keras dan kepemimpinan yang baik. Ada manajemen yang baik, ada agenda aksi, ada dana yang mendukung yang penggunaanya jelas. Penghargaan ini diraih berkat kekompakan dan kerjasama semua elemen masyarakat termasuk bupati dan walikota yang selalu memberikan dukungan penuh.

Isolasi dan keterpencilan rupanya tidak membuat Padang Balua menjadi desa tertinggal, bahkan menjadikan daerah ini sebagai desa mandiri yang berprestasi.

Letak Geografis

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara (2015), Desa Padang Balua memiliki luas 295,26 km persegi. Wilayah ini berada di sebuah dataran tinggi tepat di jantung Sulawesi dengan elevasi 1330 meter di atas permukaan laut.

Kontur daratan umumnya bergunung-gunung diselingi banyak anak sungai yang mengairi dasar lembah. Gunung-gunung di daerah ini termasuk bagian dari rangkaian pegunungan Tokalekaju yang membentang di perbatasan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah.

Menurut Kepala Desa, ibu Ruth Taely S.H., nama desa Padang Balua berasal dari dua suku kata yaitu; “padang” berarti “tanah lapang/padang rumput” dan “balua” berarti “yang luas”. Jadi secara harfiah, Padang Balua berarti tanah lapang atau padang rumput yang luas. Secara administratif, desa ini menjadi ibukota kecamatan Seko dan terbagi dalam tiga dusun, yaitu Eno Timur, Eno Barat dan Kampung Baru.

Topografi Seko-dody94.wordpress.comGambar 3. Kawasan Pegunungan di Seko. Daerah ini didominasi padang rumput dan hutan belantara yang luas.  Sumber: dokumentasi pribadi.

Suhu di desa Padang Balua sangat bervariasi. Pada siang hari, suhu dapat mencapai 30 derajat Celcius. Sedangkan pada malam hari, suhu dapat mencapai 8-15 derajat Celcius. Kabut pekat seringkali muncul di pagi hari bahkan hingga pukul 07.00 pagi.

Beberapa hari pertama di Padang Balua merupakan waktu yang berat bagi penulis. Siang hari cuacanya sangat panas, gerah, kering dan berdebu. Sedangkan pada malam hari, suhu udara menurun drastis. Meskipun sudah memakai baju kaos dilapisi jaket tipis berbahan polyester, celana panjang, kain sarung, kaos kaki dan sleeping bag, udara dingin masih saja terasa hingga menembus tulang.

Mandi pagi juga menjadi tantangan berat bagi saya dan teman-teman. Pernah sekali, saya mencoba mandi jam 7 pagi. Air dari bak di kamar mandi rasanya seperti es. Dingin sekali.

Tak lama setelah diguyur air, badan saya bergetar hebat dan mulai goyang-goyang sendiri tanpa bisa dikendalikan lagi. Saya merasa seperti kena epilepsi. Gigi geraham bergemerutuk. Badan ini rasanya seperti ditusuk-tusuk. Setelah peristiwa itu, saat di Seko, saya tak pernah mandi lagi, kecuali setelah lewat jam 9 pagi. Saya jera.

Kabut di Alun-Alun Ponghuloi-dody94.wordpress.comGambar 4. Kabut tebal di alun-alun Punghuloi Desa Padang Balua. Foto diambil sekitar pukul 7 pagi.  Sumber: dokumentasi pribadi.

Penduduk

Penduduk asli Desa Padang Balua adalah suku Seko. Suku ini merupakan bagian dari Suku Toraja yang menyebar ke utara, barat dan timur hingga mencapai Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Suku Toraja sendiri merupakan salah satu suku Melayu tertua di Indonesia (Protomalayu).

Diperkirakan, suku Toraja hadir di Indonesia melalui gelombang migrasi awal bangsa Protomalayu dari Taiwan melalui Filipina sekitar 7000 tahun yang lalu. Suku ini kemudian menetap dan mengisolasi diri di dataran tinggi Sulawesi.

Nenek moyang bangsa Indonesia diyakini berasal dari 3 kelompok utama, yaitu Austro-Asiatik dari daratan Asia, Austronesia dari Taiwan dan Melanesia (Papua). Ketiga kelompok ini saling campur aduk melalui proses perkawinan.

Gen Austronesia adalah tipe gen dasar (utama) dan dapat ditemukan di seluruh suku di Indonesia. Makin ke barat, proporsi campuran gen dari Asia daratan (Austro-Asiatik) makin besar. Sedangkan makin ke timur proporsi campuran gen dari Papua (Melanesia) makin besar.

Pakaian adat Seko-dody94.wordpress.comGambar 5. Remaja Seko dengan pakaian adatnya. Sumber: dokumentasi pribadi.

Hasil riset Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang melakukan pemetaan genetik terhadap suku-suku di Indonesia menunjukkan bahwa suku Toraja memiliki proporsi campuran gen Papua yang paling rendah dibandingkan suku lain di Indonesia timur.

Bahkan, gen dari suku Mentawai nyaris seluruhnya merupakan gen Austronesia tanpa campuran dari gen Asia daratan maupun gen Papua. Dengan demikian, Mentawai merupakan suku dengan komposisi gen paling murni di Indonesia. Rendahnya campuran dari gen lain pada suku Toraja dan Mentawai menunjukkan bahwa kedua suku ini telah mengalami isolasi dalam jangka waktu yang lama.

Penduduk asli diduga telah mendiami wilayah Limbong dan Seko sejak tahun 1500-an. Penduduk asli diperkirakan mencapai Seko dengan menelusuri sungai Rongkong hingga ke daerah hulunya.

Jumlah penduduk di desa Padang Balua sebanyak 1126 jiwa. Dari jumlah tersebut, 534 orang berjenis kelamin laki-laki dan  592 orang perempuan. Jumlah rumah tangga 279 keluarga dengan rata-rata anggota keluarga sebanyak 4 orang.

Dengan luas desa sebesar 295 km persegi, rata-rata kepadatan penduduk Padang Balua hanya sekitar 4 orang per km persegi. Rata-rata penduduk ini tergolong jarang dibandingkan dengan daerah lainnya. Area pertanian, peternakan dan perkebunan yang dapat dikembangkan masih sangat luas (BPS Luwu Utara 2015).

Transportasi

Desa Padang Balua dapat dicapai melalui jalur darat dan udara. Jalur darat umumnya ditempuh menggunakan jasa ojek sepeda motor, terutama saat musim hujan. Sedangkan pada musim kemarau truk dan mobil gardan ganda dapat mencapai desa. Hingga saat ini, kondisi jalan darat menuju desa Padang Balua sangat memprihatinkan.

Jalan di Seko-dody94.wordpress.comGambar 6. Jalan di depan Puskesmas yang telah mengalami pengerasan (kiri atas). Jembatan gantung yang sudah tua (kanan atas). Jembatan darurat (kiri bawah). Jalan menuju bukit (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Infrastruktur jembatan juga setali tiga uang. Jumlah jembatan di Desa Padang Balua sangat kurang. Sebagian besar jembatan kecil terbuat dari kayu yang kondisinya sudah keropos dimakan usia. Jembatan gantung dari kawat besi yang melalui sungai besar pun sudah berkarat. Lapisan semen terkelupas. Papan kayu hilang.  Untuk melewati sungai yang banyak ditemukan di Seko, motor terpaksa harus diseberangkan dengan rakit bambu.

Jembatan di sekitar Desa Padang Balua sangat khas karena dilengkapi dengan atap. Atap ini sengaja dibangun, agar penduduk yang kehujanan atau kemalaman di jalan dapat berteduh dan beristirahat.

Menyeberang-dody94.wordpress.comGambar 7. Pengojek menyeberang sungai Kasummong menggunakan rakit bambu karena belum ada jembatan penyeberangan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Meskipun kondisi jalan darat menuju Desa Padang Balua hancur lebur, desa ini patut berbangga, karena termasuk satu dari sedikit desa di Indonesia yang memiliki bandara perintis. Bayangkan, desa tapi punya bandara. Luar biasa. Bandara ini dilayani oleh satu pesawat Twin-Otter DHC-6-300 berkapasitas 21 kursi dari maskapai Aviastar.

Kondisi jalan di dalam Desa Padang Balua sendiri sudah lumayan baik, karena telah dilakukan pengerasan dengan pasir dan batu. Saat penulis berada di padang Balua, perbaikan jalan dan jembatan terus dilakukan. Bahkan, setiap hari senin, desa memiliki program kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekitar permukiman serta memperbaiki fasilitas umum seperti jalan, saluran air, jembatan dan sebagainya.

Bandara Seko di Padang Balua-dody94.wordpress.comGambar 8. Bandara Perintis Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat ini, bandara Seko memiliki panjang lintasan lebih dari 1 km. Di masa depan, bandara ini dapat diperluas sesuai kebutuhan mengingat masih luasnya area kosong di sekitar bandara.

Telekomunikasi

Sarana telekomunikasi di desa Padang Balua dan daerah sekitarnya masih mengandalkan radio amatir (ORARI). Pada bulan September 2015, Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Syahrul Yasin Limpo meresmikan beroperasinya antena BTS Telkomsel.

Telekomunikasi-Seko-dody94.wordpress.comGambar 9. Antena BTS Telkomsel di samping kantor Camat Seko (kiri). Perangkat Radio Amatir-ORARI (Kanan).  Sumber: dokumentasi pribadi.

Peresmian ini disambut suka cita oleh masyarakat karena hal ini menjadi simbol berakhirnya keterisolasian Seko dan merupakan wujud nyata dari kepedulian pemerintah terhadap daerah terpencil.

Perekonomian

Kondisi wilayah yang sulit terjangkau justru menjadi motivasi kuat bagi seluruh warga  untuk membangun dan memajukan desa mereka. Desa Padang Balua memiiki usaha ekonomi produktif, antara lain: Kelompok Mitra Tani Usaha Hasil Pertanian Organik, Koperasi Kopi dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan.

Pasar Seko-dody94.wordpress.comGambar 10. Pasar Desa “Tahuang” di Padang Balua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pasar yang dibangun di dekat kantor desa belum berfungsi karena masyarakat Desa Padang Balua yang jumlahnya sedikit lebih senang berbelanja kebutuhan sehari-hari di Toko/Kios Kelontong kecil di sekitar rumah yang jaraknya lebih dekat (bersambung).

Referensi :

http://www.koran-desa.com/bergelimang-pangan-di-desa-padang-balua/

http://profilesmakassar.blogspot.co.id/2008/09/terhimpit-motor-nyaris-diterjang-kerbau.html

http://www.sulselprov.go.id/berita-desa-padang-balua-juara-ii-lomba-desa-tingkat-nasional.html

Dipublikasi di Wisata | Tag , , , , | 2 Komentar