Jenis-jenis pohon terbaik untuk peneduh jalan

Pohon peneduh jalan adalah pohon yang sengaja ditanam di tepi jalan untuk berbagai fungsi dan tujuan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendefenisikan tanaman peneduh sebagai jenis tanaman berbentuk pohon dengan percabangan yang tingginya lebih dari 2 meter dan dapat memberikan keteduhan dan penahan silau matahari bagi pengguna jalan.

Menurut Carpenter (1975) dalam Wungkar (2005), pohon peneduh jalan memiliki banyak fungsi. Diantaranya berfungsi sebagai kontrol visual, pengarah angin, mendinginkan suhu udara dan mengurangi kelembaban, perlindungan dari terik matahari dan hujan.

Selain itu, pohon peneduh juga memiliki fungsi ekologis, yaitu sebagai penghasil oksigen, penyaring polutan, peredam kebisingan, pencegah erosi, penyedia sumber makanan bagi hewan serta memiliki fungsi estetika dan menjadi ciri khas bagi suatu daerah atau negara.

Penanaman pohon di tepi jalan juga memiliki fungsi konservasi, yaitu untuk mengembangkan dan melestarikan jenis-jenis pohon yang mulai langka.

Direktorat Jenderal Bina Marga (1996), menambahkan bahwa penanaman pohon ditepi jalan bertujuan untuk memisahkan pejalan kaki dari kendaraan demi keselamatan dan kenyamanan serta memberi ruang bagi utilitas ataupun perlengkapan jalan lainnya.

Memilih jenis pohon untuk peneduh jalan tidaklah mudah, karena harus memenuhi banyak kriteria. Pohon peneduh jalan haruslah dari jenis yang kuat, tahan terhadap pengaruh cuaca ekstrim dan dapat beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan berbeda.

Beberapa kriteria pohon peneduh jalan yang baik adalah: memiliki batang kayu yang kuat, tinggi pohon tidak lebih dari 15 meter, daunnya rimbun dan rapat serta tidak mudah gugur, berbau harum, cabang dan ranting tidak mudah patah, batang tegak lurus dengan daerah bebas cabang di atas 3 meter, sistem perakaran yang kuat dan dalam serta tidak melebar sehingga tidak merusak jalan/saluran air.

Selain itu, pohon peneduh jalan yang baik tidak mengandung racun yang berdampak pada pengguna jalan, tidak berduri, serbuk sari tidak menimbulkan alergi, tidak bersifat invasif (berbiak cepat dan mendominasi), memiliki nilai estetika (keindahan) yang tinggi, menghasilkan banyak bunga dan buah yang menjadi sumber makanan bagi berbagai jenis hewan liar terutama serangga, burung dan kelelawar serta dapat menjadi nilai tambah jika jenis pohon tersebut menjadi icon daerah, identitas propinsi atau negara.

Penentuan jenis-jenis pohon peneduh di jalan telah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2012 tentang pedoman penanaman pohon pada sistem jaringan jalan.

Namun, dari pengamatan penulis, jenis pohon yang banyak digunakan sebagai tanaman peneduh jalan saat ini, seperti: Trembesi, Angsana, Kiara Payung, Beringin, Bintaro dan Oleander berpotensi memberikan dampak yang membahayakan bagi pengguna jalan sehingga tidak layak dijadikan pohon peneduh. (Hal ini akan kami paparkan lebih jauh pada tulisan berikutnya).

Berdasarkan uraian di atas, Cakrawala merekomendasikan jenis-jenis pohon di bawah ini sebagai pohon peneduh jalan di Indonesia.

  1. KERSEN Muntingia calabura

Kersen, Ceri atau Talok termasuk perdu yang banyak tumbuh di sekitar kita. Buah kecilnya yang berwarna merah sangat disukai anak-anak. Tajuknya tumbuh melebar laksana payung yang mengembang indah. Memberi naungan yang menyejukkan bagi siapa saja yang berada di bawahnya.

Pohon kecil dari suku Muntingiaceae ini dapat tumbuh hingga 12 meter, namun seringkali ditemukan dalam bentuk perdu setinggi 3-6 meter saja. Kersen pertama kali diintroduksi ke Filipina dari Amerika tropis pada abad ke 19. Spesies ini kemudian menyebar cepat ke seluruh Asia. Orang Belanda menamai pohon ini “japanse kers” atau ceri Jepang. Dari sinilah awal mula pohon ini disebut kersen atau ceri. Dalam bahasa Belanda “kers” berarti Ceri.

Gambar 1. Pohon Kersen layak dijadikan tanaman peneduh tepi jalan.

Tumbuh liar di tepi selokan, lahan kosong, kebun, jalan sempit, tepian sungai bahkan di antara celah rekahan tembok pagar, kersen tergolong tumbuhan pionir yang memiliki daya adaptasi tinggi. Kersen bahkan masih tumbuh dengan baik di daerah dengan musim kemarau yang panjang.

Berbunga dan berbuah nyaris sepanjang tahun. Daunnya lembut, buahnya manis dan mudah dicerna. Berbagai jenis burung dan kelelawar kerap menyambangi pohon ini silih berganti untuk menghisap madu dan memakan buahnya.

Kulit kayunya liat dan kuat dengan cabang pohon yang fleksibel tak mudah patah. Kemampuan menyerap zat pencemar di udara juga relatif tinggi. Kayu Kersen mudah kering sehingga sering digunakan sebagai kayu bakar. Buahnya dapat dibuat selai dan banyak mengandung vitamin C.  Daun dan serutan kayu batangnya kerap diseduh menjadi semacam teh yang berkhasiat dalam pengobatan penyakit asam urat dan diabetes.

Pohon Kersen dapat diperbanyak dengan biji. Mudah tumbuh dan beradaptasi dengan berbagai macam kondisi lingkungan. Pertumbuhan tajuk Kersen tergolong cepat sehingga diperlukan pemangkasan teratur. Serasah dari daun yang gugur ke tanah juga cukup banyak. Namun secara ekologis, serasah ini berperan penting dalam menjaga kelembaban tanah.

Meski kerap dipandang sebelah mata, pohon Kersen nyatanya sangat cocok dijadikan pohon peneduh terutama di area terbuka dengan intensitas cahaya matahari tinggi seperti: rest area dan tepian jalan tol, area parkir khusus motor roda dua, di sekitar gubuk/saung di persawahan, di sekitar kolam pemancingan, saung restoran, pasar tradisional, taman bermain, halaman sekolah, lapangan terbuka, dan lain-lain.

  1. TRENGGULI/KAYU RAJA Cassia fistula, Cassia javanica

Trengguli Cassia fistula termasuk pohon berukuran sedang dengan tinggi dapat mencapai 20 m. Pohon dari suku polong-polongan (Fabaceae) ini banyak tumbuh di daerah hutan gugur dan hutan-hutan jati yang cenderung beriklim kering di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Indonesia, Trengguli tersebar luas mulai dari Sumatera hingga Maluku. Tajuk tumbuh melebar dengan batang bebas cabang sekitar 5 meter dari permukaan tanah.

Gambar 2. Pohon Trengguli yang ditanam di Sepanjang jalan di Thailand.

Pohon Trengguli banyak diminati orang karena bunganya yang elok dan berbau harum. Warna bunganya kuning cerah, bersusun-susun dalam satu tangkai besar, membentuk rangkaian bunga yang menggantung indah. Begitu indahnya, sehingga orang Melayu menamai pohon ini dengan nama Kayu Raja. Sedangkan di Thailand, pohon ini dikenal dengan nama Tree Golden Shower dan ditasbihkan sebagai bunga nasional kerajaan.

Pohon lain yang serupa dengan Trengguli juga tersebar luas di Indonesia dan Asia Tenggara. Bunganya berwarna merah jambu serupa bunga Sakura di negeri Jepang. Di Jawa Tengah pohon ini disebut Trengguli Wanggang. Sedangkan orang Sunda mengenal pohon ini dengan sebutan Bobondelan.

Gambar 3. Pohon Trengguli Wanggang di tepi jalan di Thailand.

Linnaeus menamai pohon ini Cassia javanica. Di Jawa Timur, Trengguli Wanggang Cassia javanica berbunga pada bulan Oktober-Desember dan berbuah pada musim kemarau. Saat kemarau panjang, pohon ini akan menggugurkan daunnya.

Trengguli menghasilkan kayu perkakas yang bermutu baik, awet dan kuat; meskipun jarang yang panjang ukurannya. Kayu ini padat, berat dan keras; kuning pucat hingga kemerah-merahan pada yang tua, kayu terasnya kelabu kehitam-hitaman. Disebutkan bahwa serat-serat kayu tengguli ini kasar atau agak kasar; kekuatannya termasuk kelas kuat II dan kelas awet II.

Tengguli banyak ditanam karena kegunaannya dalam pengobatan, selain karena bunganya yang indah. Polong yang masak dan biji-bijinya digunakan sebagai obat urus-urus (laksativa); begitu pula bunga, daun-daun dan kulit akarnya, meski dengan kekuatan yang lebih rendah.

Gambar 4. Pohon Trengguli Wanggang di Amerika Selatan.

Air rebusan akar tengguli digunakan untuk membersihkan luka dan bisul. Pepagannya digunakan di Jawa dan India untuk mengatasi penyakit kulit, sementara daun-daunnya di Filipina dipakai untuk menyembuhkan sakit kulit akibat jamur. Di India, akarnya dipakai untuk mengobati demam. Tengguli juga digunakan di Panama untuk mengobati kencing manis.

Dalam pengobatan modern, daging buah tengguli yang kehitam-hitaman kadang kala dipakai sebagai laksativa menengah.Simplisia (bahan obat dasar) dari buah tengguli ini dikenal sebagai Fistulae Fructus (Buah Trengguli), dan setidaknya pada masa lalu, dimasukkan sebagai salah satu simplisia yang wajib tersedia di apotik. Daging buah ini terutama mengandung hidroksimetil antrakinon, yang berkhasiat sebagai pencahar; dan juga gula, pektin, lendir, minyak atsiri yang berbau seperti madu.

Gambar 5. Pohon hasil silangan Trengguli dan Trengguli Wanggang

Pepagan tengguli juga menghasilkan zat penyamak (tanin), yang dalam penggunaannya di perusahaan penyamakan kulit biasanya dicampur dengan pepagan pilang (Acacia leucophloea). Tanin dan bahan-bahan lain dari pepagan tengguli dapat membentuk asam, sehingga dapat menyamak dengan cepat. Hasilnya adalah kulit dengan mutu yang baik berwarna kuning muda; sebagai bahan pembuatan sepatu, atau pakaian kuda.

Pohon-pohon ini cukup populer sebagai tanaman hias dan pohon peneduh di negara-negara tropis Amerika Tengah dan Amerika Latin. Ironisnya pohon ini sudah jarang ditemukan di Indonesia. Trengguli dan Trengguli Wanggang cocok ditanam sebagai tanaman peneduh di daerah beriklim kering di Indonesia.

  1. KETAPANG KENCANA Terminalia mantaly

Ketapang kencana termasuk jenis tumbuhan endemik Madagaskar yang akhir-akhir ini menjadi popular sebagai tanaman hias dan pohon peneduh. Bentuk tajuknya simetris, sangat rapi dan indah. Batang ramping dan lurus dengan daun yang tumbuh melebar, bersusun-susun membentuk kanopi yang rindang. Akar tidak berbanir sehingga tidak merusak trotoar dan jalan. Ukuran daun juga relatif kecil sehingga tidak mengotori jalanan.

Gambar 6. Profil pohon Ketapang Kencana.

Berdasarkan bentuk pertumbuhannya yang minimalis, Ketapang Kencana ini sangat cocok dijadikan sebagai tanaman peneduh dan tanaman hias di perkotaan terutama di sekitar area perkantoran, lahan parkir, pusat perbelanjaan, taman bermain, tempat ibadah, hotel dan lain-lain. Batang ketapang kencana yang ramping juga sangat mendukung pohon ini untuk ditanam di area sempit. Tumbuhan dari suku Combretaceae ini diperbanyak dengan biji.

Gambar 7. Ketapang Kencana di tanam di sekitar jalan taman di China.

  1. PULAI HITAM Alstonia angustiloba

Pulai hitam termasuk pohon berukuran besar dari suku Apocynaceae. Pohon ini dapat tumbuh hingga mencapai 45 m dengan diameter batang hingga 60 cm. Pulai hitam menyukai habitat dengan tanah liat atau tanah berpasir hingga ketinggian 500 m dpl. Tumbuh secara alami di hutan-hutan primer dataran rendah Asia Tenggara mencakup Thailand, Malaysia dan SIngapura. Di Indonesia pulai hitam dapat ditemukan tumbuh secara alami di hutan-hutan primer Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

Tajuk pulai hitam berbentuk payung yang tidak terlalu lebar, namun terlihat indah. Tajuk ini tumbuh bersusun-susun seperti tajuk Ketapang Kencana. Bunganya ini berbau harum. Dengan struktur tajuk seperti ini. Pulai hitam terlihat ramping dan tinggi seperti model di atas catwalk.

Salah satu kelebihan dari Pulai hitam dibandingkan dengan jenis pulainya terletak pada batangnya yang tumbuh lurus dan beralur indah. Alur ini terbentuk dari akar banirnya yang tinggi dan sempit. Warna batang umumnya abu-abu coklat. Kulit batang mengandung getah berwarna putih.  Beberapa tegakan pohon Pulai Hitam dapat dilihat di Kebun Raya Bogor.

Gambar 8. Pohon Pulai Hitam ditanam tepi jalan di Singapura..

Sebagaimana jenis pulai lainnya, kayu pulai hitam tergolong kurang kuat dan awet. Kayu pohon ini mempunyai berat jenis 0,36 yang termasuk dalam kelas kekuatan IV – V dan kelas keawetan V. Meskipun demikian, pulai umumnya memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit.  Kayu pulai hitam umumnya digunakan untuk papan, alat – alat rumah tangga, patung, ukiran dan lain-lain.

Di Semenanjung Malaysia, daun eksternal diterapkan ke daerah limpa untuk mengobati demam remiten. Di Sarawak, lateks yang digunakan untuk menyembuhkan bisul dan abses. Ekstrak kulit kayu yang ditumbuk adalah unsur dari febrifuges dan vermifuges.

Di Thailand, lateks yang digunakan untuk menenangkan sakit gigi. Kayunya digunakan sebagai pulai. Lateks yang digunakan terhadap herpes zoster, bisul, abses, dan cacing cincin. Juga digunakan sebagai bahan untuk permen karet.

Pulai hitam berpotensi untuk dijadikan sebagai pohon peneduh. Tampilannya yang tinggi dan langsing minimalis memberi kesan elegan jika ditanam di tengah taman kota atau ditanam di ruang terbuka di antara gedung-gedung tinggi. Pohon ini juga cocok ditanam di tepi atau median jalan raya. Salah satu negara yang menjadikan pulai hitam sebagai pohon peneduh adalah Singapura.

  1. JAMBU DERSANA Syzygium malaccense

Jambu Dersana termasuk anggota suku jambu-jambuan (Myrtaceae) dengan rupa yang paling indah. Pohon ini berukuran sedang dengan tinggi hingga 15 meter.  Batang lurus berdiameter 20-45 cm. Tajuk menyerupai kubah atau segitiga, bercabang rendah dengan daun yang rimbun dan rapat. Bunganya indah dan berlimpah. Berwarna merah keunguan dengan benangsari besar.

Musim berbunga berlangsung antara bulan Mei-Juni dan sudah bisa dipanen pada Agustus-September. Kadang-kadang, terjadi gejala dimana satu pohon jambu bol tampak subur dan segar, namun tidak mau berbunga dan berbuah.

Di Indonesia, Jambu Dersana lebih dikenal dengan nama Jambu Bol. Tidak begitu jelas mengapa dinamakan demikian karena bol (bahasa Melayu) atau bool (bahasa Sunda) berarti “pantat”.

Nama-nama daerahnya di antaranya jambu bo, jambu jambak (Minang), jambu bool (Sunda), nyambu bol (Bali), jambu bolo (Makassar), jambu bolu (Bugis), jambu darsana, dersana, tersana, (Jawa, Madura); kupa maaimu (Sulut) dan nutune, lutune, lutu kau, rutuul (Maluku).

Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Apel Melayu (Malay apple), sementara nama ilmiahnya adalah Syzygium malaccense (yang berarti: ‘berasal dari Malaka’) menunjuk pada salah satu wilayah asal-usulnya.

Gambar 9. Pohon Jambu Dersana ditanam di pinggir jalan di Brazil.

Buah Jambu Dersana berbentuk lonjong sekepalan tangan. Daging buah padat dengan tekstur lembut, mengandung banyak air dan berbau harum yang khas. Oleh karenanya, buah jambu ini disukai banyak orang.

Rasa buahnya bervariasi, ada yang manis, manis asam hingga sepat. Biji berbentuk bulat dengan ukuran besar. Buah muda Jambu Dersana dapat dibuat rujak, buah yang matang dapat dimakan langsung atau dibuat asinan. Kulit batang kerap digunakan sebagai obat Sariawan.

Jambu Dersana termasuk tumbuhan asli Indonesia. Tersebar luas mulai dari Semenajung Malaya, Sumatera, Jawa, Sulawesi hingga Maluku. Jambu ini mulai tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian 1200 m dpl. Kadang-kadang dijumpai di hutan-hutan sekunder tua dan biasanya berasosiasi dengan Jambu Kopo (Syzygium zollingrianum).

Saat ini, Jambu Dersana telah tersebar luas hingga ke daerah Amerika Tropis. Jambu ini cukup popular di Brasil, Trinidad-Tobago, Jamaika. Selain buahnya, jambu Dersana yang bertajuk indah juga ditanam sebagai peneduh jalan.  Kayunya keras, tidak mudah patah, berwarna kemerahan.

Populasi Jambu Dersana juga sudah mulai langka sehingga perlu diupayakan pelestariannya.  Dengan melihat potensinya, jambu ini cukup menjanjikan untuk ditanam sebagai pohon peneduh di jalan-jalan Indonesia.

  1. GAYAM Inocarpus fagifer

Gayam termasuk pohon berukuran sedang dari suku polong-polongan (Fabaceae) dengan tinggi dapat mencapai 20 meter. Diameter batang cukup besar berkisar antara 4-6 meter dengan bentuk tajuk membulat. Tampilannya mirip pohon Beringin. Pohon Gayam tersebar luas di Asia Tenggara hingga kepulauan Pasifik.  Di Bali dan Lombok, pohon ini dikenal dengan nama Gatep atau Tahitian Chestnut dalam bahasa Inggris.

Keunikan pohon Gayam terletak pada bentuk batangnya yang beralur dalam dan akar papannya yang tipis. Kadang-kadang akar ini tumbuh meliuk-liuk dan melebar ke segala arah mirip akar Dungun Heritiera littoralis yang banyak tumbuh di sekitar hutan pantai dan hutan mangrove.

Bentuk batang dan akar Gayam yang unik memberi kesan angker dan menyeramkan sehingga di masa lalu pohon ini kerap dianggap sebagai sarang makhluk halus.  

Gambar 10. Pohon Gayam layak dijadikan tanaman peneduh tepi jalan.

Gayam dapat ditemukan di hutan dataran rendah beriklim basah, rawa-rawaatau tepi sungai  dengan elevasi hingga 500 m dpl. Pohon ini dapat beradaptasi dengan berbagai macam kondisi tanah baik tanah berkapur, tanah asam, ultrabasa hingga tanah yang kerap tergenang air sekalipun.

Akar Gayam diketahui memiliki kemampuan yang besar untuk menyerap dan mengumpulkan air sehingga pohon ini juga sering dijumpai tumbuh di sekitar mata air.

Buah Gayam berdaging tebal namun tidak dapat dimakan. Namun bijinya yang besar dapat dikonsumsi setelah terlebih dahulu direbus atau dibakar. Biji Gayam mengandung banyak senyawa Saponin sehingga tidak dapat dimakan langsung.  Setelah direbus, dibakar, dipanggang atau digoreng  biji dapat dimakan atau diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis makanan seperti: emping atau keripik Gayam.

Pohon Gayam memiliki akar dan batang yang kuat, tajuk yang rimbun dan tahan terhadap berbagai macan penyakit. Gayam juga sangat tahan terhadap dataran rendah yang tergenang air dalam air. Saat ini taman buah Mekarsari sedang melakukan perbanyakan dan pengembangan bibit Gayam sebagai tanaman peneduh dan penahan erosi.

  1. SAWO KECIK Manilkara kauki

Sawo Kecik termasuk pohon berukuran sedang dengan tinggi dapat mencapai 25 m dan garis tengah batang 100 cm. Dalam filosofi budaya Jawa pohon ini disebut “sarwa becik” yang berarti serba baik. Pohon ini kerap di tanaman di halaman rumah abdi dalem dan cukup banyak ditemukan di halaman kompleks Keraton Yogyakarta.  Kata ‘kecik’ dalam bahasa Jawa berarti Sawo.

Tumbuh subur di daerah pesisir (pantai) yang beriklim kering hingga daerah dengan elevasi 500 meter di atas permukaan laut. Pohon ini diduga berasal dari India yang kemudian menyebar ke seluruh daerah tropis di Asia dan Amerika. Di Sulawesi Selatan, pohon ini dikenal dengan nama Nane’(penyebutan diakhiri tanda apostrof yang bunyinya seperti menyebut kata nenek).

Sebagaimana anggota kelompok Sawo-sawoan lainnya (Sapotaceae), Sawo kecik memiliki daun yang terkonsentrasi di ujung batang. Helaian daun berwarna hijau gelap dengan sisi bawah berwarna putih dan halus seperti beledru. Tajuk berbentuk kubah yang sempit atau segitiga menghasilkan daerah naungan cukup luas.

Gambar 11. Pohon dan buah Sawo Kecik.

Buah Sawo Kecik berbentuk bulat telur berukuran sekitar 3-4 cm. Buah dapat dimakan dan kerap dijual di pasar-pasar tradisional.  Saat matang, buah Sawo Kecik akan berwarna merah jingga diselubungi lapisan kulit tipis yang mudah dikupas. Rasanya juga manis-manis bercampur sepat seperti Sawo biasa.

Sawo Kecik termasuk spesies yang tangguh. Pohon ini masih dapat tumbuh dengan baik di daerah yang kurang subur dan beriklim kering. Bahkan, pohon ini sering ditemukan tumbuh liar di pulau-pulau kecil. Batang Sawo Kecik juga kuat dan tidak mudah patah. Para pembudidaya pertanian kerap menggunakan sifat unggul Sawo Kecik ini sebagai batang bawah yang disambung (grafting) dengan mata tunas dari Sawo biasa (Achras zapota atau Manikara zapota).

Kayu Sawo Kecik dikenal keras, kuat dan tidak mudah pecah sehingga sering dijadikan sebagai bahan bangunan, perabot rumah tangga, alat-alat pertukangan, bahkan dimanfaatkan sebagai benda-benda seni berupa patung, ukir-ukiran dan alat musik seperti rebana dan badan biola. Kayu ini juga menjadi pilihan para empu jaman dahulu untuk dijadikan gagang keris.

Keberadaan Sawo Kecik kini sudah mulai langka dan sulit ditemukan. Berdasarkan karakternya, pohon ini sangat direkomendasikan sebagai tanaman peneduh di tepi jalan, terutama di kawasan sekitar pesisir pantai yang panas dan kering.

  1. MAHONI Swietenia macrophylla

Mahoni adalah anggota suku Meliaceae. termasuk pohon besar dengan tinggi pohon mencapai 35–40 m dan garis tengah mencapai 125 cm. Batang lurus berbentuk silindris dan tidak berbanir. Kulit luar berwarna cokelat kehitaman, beralur dangkal seperti sisik, sedangkan kulit batang berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi cokelat tua, beralur dan mengelupas setelah tua. Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun.

Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-tempat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung.Tanaman yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai.

Buah Mahoni dilaporkan dapat melancarkan peredaran darah sehingga para penderita penyakit yang menyebabkan tersumbatnya aliran darah disarankan memakai buah ini sebagai obat, mengurangi kolesterol, penimbunan lemak pada saluran darah, mengurangi rasa sakit, pendarahan dan lebam.

Selain itu, buah Mahoni bertindak sebagai antioksidan untuk menyingkirkan radikal bebas, mencegah penyakit sampar, mengurangi lemak di badan, membantu meningkatkan sistem kekebalan, mencegah pembekuan darah, serta menguatkan fungsi hati dan memperlambat proses pembekuan darah. Buah mahoni mengandung flavonoid dan saponin.

Sifat Mahoni yang dapat bertahan hidup di tanah gersang menjadikan pohon ini sesuai ditanam di tepi jalan. Bagi penduduk Indonesia khususnya Jawa, tanaman ini bukanlah tanaman yang baru, karena sejak zaman penjajahan Belanda mahoni dan rekannya, Pohon Asam, sudah banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh terutama di sepanjang jalan yang dibangun oleh Daendels antara Anyer sampai Panarukan.

Gambar 12. Pohon Mahoni dan bagian-bagiannya.

Sejak 20 tahun terakhir ini, tanaman mahoni mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk meubel, furnitur, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai primadona kedua dalam pasar kayu.

Pemanfaatan lain dari tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur. Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daun mahoni untuk pakan ternak.

Ekstrak biji pohon mahoni juga dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama pada pertanaman kubis, yaitu Plutella xylostella dan Crocidolomia binolalis khususnya pada saat hama berada pada stadia larva. Penggunaan insektisida botani merupakan salah satu alternatif pengendalian yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif akibat penggunaan insektisida sintetik yang tidak bijaksana

Mahoni dapat tumbuh dengan subur di pasir payau dekat dengan pantai dan menyukai tempat yang cukup sinar matahari langsung. Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang mampu bertahan hidup di tanah gersang sekalipun. Walaupun tidak disirami selama berbulan-bulan, mahoni masih mampu untuk bertahan hidup. Syarat lokasi untuk budi daya mahoni diantaranya adalah ketinggian lahan maksimum 1.500 meter dpl, curah hujan 1.524-5.085 mm/tahun, dan suhu udara 11-36 C.

  1. Kenari Canarium vulgare

Kenari tercatat sebagai salah satu jenis pohon yang banyak ditanam sebagai peneduh di pinggir jalan di kota-kota di Indonesia semenjak seabad silam. Sebagian pohon-pohon Kenari tua peninggalan Belanda ini masih dapat ditemui di beberapa kota seperti Bogor, Bandung dan Mataram.

Kenari berukuran besar, dapat tumbuh hingga mencapai  45 m. Pertumbuhan pohon dari suku Burseraceae ini tergolong cepat. Daun rimbun dengan tajuk berbentuk bulat yang dapat memberikan naungan cukup luas. Oleh karenanya, pohon Kenari sering dijadikan tanaman pelindung bagi tanaman Pala Myristica fragrans di Maluku.

Batang Kenari berwarna putih coklat keabu-abuan dengan garis tengah hingga 70-100 cm. Batangnya mengeluarkan resin yang diperdagangkan untuk campuran vernis dan melicinkan perahu]. Resin ini juga dapat digunakan sebagai balsem. Akar papannya berbentuk pipih, tumbuh ekstensif hingga mencapai tinggi 3 m di sisi batang dengan lebar 150 cm.

Gambar 13. Pohon Kenari C. vulgare sebagai tanaman peneduh tepi jalan di Singapura.

Kenari termasuk tumbuhan asli Indonesia yang berasal dari Maluku dan Papua.Pohon ini kemudian menyebar hingga pulau-pulau kecil di Pasifik Barat.Budidaya Kenari terutama ditujukan untuk memperoleh bijinya yang kaya manfaat.  Pohon ini berbunga dan berbuah sepanjang tahun dan dapat tumbuh hingga daerah dengan elevasi hingga 1200 m dpl.

Biji Kenari mengandung lemak dan protein yang tinggi. Bagian luar biji terbungkus cangkang buah (endocarp) yang keras. Sedangkan bagian dalam biji memiliki tekstur seperti Kacang Almond berwarna putih kuning kecoklatan sehingga pohon ini disebut Java Almond. Bagian ini dapat dimakan langsung atau diolah menjadi campuran kue, diekstrak menjadi minyak goreng, DI masa lalu,minyak Kenari digunakan untuk menyalakan pelita,

Dari puluhan jenis kenari, empat spesies diantaranya diketahui menghasilkan buah kenari seperti yang umum kita kenal, yaitu: Canarium vulgare, Canarium indicum, Canarium harveyi dan Canarium solomonense. Canarium vulgare  dan Canarium indicum merupakan spesies kenari yang paling banyak ditanam di Indonesia. Sedangkan dua spesies lainnya berasal dari Kepulauan Pasifik.

Gambar 14. Pohon Kenari sebagai tanaman peneduh tanaman Pala di Pulau Banda.

Keempat spesies Kenari menghasilkan buah yang mirip meskipun ukurannya agak berbeda. Perbedaan keempatnya paling jelas terletak pada daun penyangga (stipula). C. indicum memiliki daun penyangga besar dengan tepi bergerigi. C. vulgare juga memiliki daun penyangga besar tetapi tepinya rata. C. harveyi dan C. solomonense hanya memiliki daun penyangga kecil.

Kayu Kenari berkualitas baik dan sering digunakan untuk membuat badan perahu, bahan bangunan dan perabot rumah tangga. Kenari termasuk pohon berumur panjang. Bibit umumnya berasal dari biji. Mulai berbunga dan berbuah pada umur 6-8 tahun setelah tanam.

Berdasarkan karakter, manfaatnya yang banyak dan sejarahnya yang panjang sebagai tanaman peneduh, Kenari layak direkomendasikan untuk tanaman peneduh di pinggir jalan. Banyaknya pohon Kenari peninggalan Belanda yang tumbang di berbagai kota akhir-akhir ini lebih dikarenakan oleh faktor usia sehingga perlu dilakukan peremajaan . Pemeriksaan kondisi pohon Kenari tua juga sebaiknya dilakukan. Pohon yang telah keropos harus ditebang dan diganti dengan tanaman Kenari yang baru.

  1. Asam Jawa Tamarindus indica

Asam Jawa adalah pohon peneduh jalan paling legendaris. Pohon ini telah teruji sebagai salah satu tanaman peneduh yang kuat dan tahan lama. Begitu tangguhnya hingga pohon-pohon yang ditanam sejak jaman Belanda masih dapat ditemukan berdiri kokoh di seantero kota di Indonesia. Bahkan sampai jauh ke pelosok negeri.

Orang-orang Arab, dulunya mengenal buah asam dengan sebutan “Tamar Hindi” yang secara harfiah diartikan sebagai “kurma India”. Warna coklat gelap dari buah asam yang sudah matang dan dikupas kulitnya memang mirip warna buah kurma.

Dari kosa kata inilah, asam ini dikenal di dunia internasional dengan nama “tamarind”. Orang Melayu memberi nama pohon asam ini dengan sebutan asam Jawa karena buah dari pohon ini banyak digunakan dalam masakan Jawa.

Sudah sejak lama, sari buah dari asam yang manis, dingin dan segar menjadi minuman favorit di Timur Tengah untuk meredakan dahaga. Berbeda dengan buah asam di Indonesia yang rasanya cenderung lebih masam, ada varietas asam tertentu di India dan Thailand yang memiliki rasa manis bercampur sedikit masam menyegarkan. Buah asam yang berasa manis ini menjadi salah satu komoditas ekspor di kedua negara tersebut.

Para ahli meyakini pohon ini berasal dari Afrika timur yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Oleh orang-orang India, pohon asam ini dibudidayakan dalam skala luas untuk memperoleh buahnya yang memiliki banyak manfaat. Linnaeus yang dikenal sebagai bapak taksonomi pun, memberi nama ilmiah pohon ini dengan sebutan Tamarindus indica yang berarti pohon tamarind dari India. Hingga kini, pohon asam masih menjadi satu-satunya anggota dalam marga Tamarindus.

Gambar 15. Asam Jawa tanaman peneduh tepi jalan peninggalan Belanda

Pohon asam berperawakan besar, selalu hijau (tidak mengalami masa gugur daun), tinggi sampai 30 m dan diameter batang di pangkal hingga 200 cm. Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat.  Daunnya kecil-kecil dan tidak mudah gugur. Bunganya berbau harum.

Cabang Asam Jawa liat tidak mudah patah. Akar tak berbanirnya menghujam jauh ke dalam tanah. Pangkal akarnya tak mudah lapuk. Asam tumbuh baik hingga ketinggian sekitar 1.000 m (kadang-kadang hingga 1.500 m) dpl, pada tanah berpasir atau tanah liat, khususnya di wilayah yang musim keringnya jelas dan cukup panjang.

Asam Jawa termasuk dalam suku polong-polongan (Fabaceae). Daging buah asam Jawa digunakan dalam aneka bahan masakan atau bumbu di berbagai belahan dunia. Buah muda digunakan sebagai bumbu sayur asam atau campuran rujak. Buah yang telah masak dapat disimpan lama setelah dikupas dan sedikit dikeringkan dengan bantuan sinar matahari. Buah ini disebut Asam kawak, diperdagangkan antar pulau dan antar negara.

Selain sebagai bumbu, untuk memberikan rasa asam atau untuk menghilangkan bau amis ikan, asem kawak biasa digunakan sebagai bahan sirup, selai, gula-gula, dan jamu. Cara membuatnya adalah menjemur daging buah asam jawa yang sudah dibuang kulitnya yang sudah bulatan-bulatan sekecil telur itik.

Di samping daging buah, banyak bagian pohon asam yang dapat dijadikan bahan obat tradisional. Daun mudanya (Jw. sinom) digunakan dengan kunyit dan bahan ramuan lain untuk membuat jamu jawa tradisional yaitu jamu sinom untuk minuman kesegaran, jamu gepyok diminum untuk melancarkan dan memperbanyak air susu ibu dan juga bisa digunakan sebagai tapal (dioleskan pada atau ditempelkan di permukaan kulit) untuk mengurangi radang dan rasa sakit di persendian, di atas luka atau pada sakit rematik.

Daun muda yang direbus untuk mengobati batuk dan demam. Kulit kayunya yang ditumbuk digunakan untuk menyembuhkan luka, borok, bisul dan ruam. Kulit kayu asam juga digunakan sebagai obat kuat. Tepung bijinya untuk mengobati disentri dan diare. Daun asam jawa bersifat penurun panas, analgesik, dan antiseptik. Kulit kayunya ini bersifat astringen dan tonik. Kemudian, buahnya bersifat pencahar, antipiretik, antiseptik, abortivum, dan meningkatkan nafsu makan.

Kayu teras asam jawa berwarna coklat kemerahan, berat, keras, padat, awet dan bertekstur halus, sehingga kerap digunakan untuk membuat mebel, kerajinan, ukir-ukiran dan patung. Bagi anak-anak di Jawa Tengah, kayu asam merupakan kayu pilihan untuk membuat gasing. Biji asam juga kerap digunakan dalam permainan congklak atau dakon.

Asam Jawa umumnya diperbanyak melalui biji. Pohon ini tahan terhadap pemangkasan dan pemotongan. Seringkali dibuat kerdil untuk dijadikan bonsai. Riwayatnya yang panjang sebagai  tanaman peneduh di Indonesia membuat pohon asam sangat direkomendasikan sebagai tanaman peneduh terutama di tepi jalan besar yang menghubungkan antar propinsi atau antar kabupaten.

  1. SONOKELING Dalbergia latifolia

Sonokeling termasuk pohon dari kelompok polong-polongan (Fabaceae) berukuran sedang dengan tinggi dapat mencapai 20-40 meter. Diameter batang berkisar antara 150-200 cm berwarna abu-abu kecoklatan, sedikit pecah-pecah membujur halus Tajuknya lebat berbentuk kubah. Pohon ini tersebar luas mulaidari India hingga Indonesia.

Di Indonesia, sonokeling hanya didapati tumbuh liar di hutan-hutan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada ketinggian di bawah 600 m dpl., terutama di tanah-tanah yang berbatu, tidak subur, dan kering secara berkala. Tumbuh berkelompok, namun tidak terlalu banyak, di hutan-hutan musim yang menggugurkan daun-daunnya di waktu kemarau.

Sonokeling tergolong ke dalam kayu keras kualitas nomor I-II dengan bobot sedang hingga berat. Berat jenisnya antara 0,77-0,86 pada kadar air sekitar 15%. Teksturnya cukup halus, dengan arah serat lurus dan kadang kala berombak. Kayu ini juga awet; tahan terhadap serang rayap kayu kering dan sangat tahan terhadap jamur pembusuk kayu.

Gambar 16. Pohon Sonokeling.

Kayu terasnya berwarna coklat agak lembayung gelap, dengan coreng-coreng coklat sangat gelap hingga hitam. Kayu gubal berwarna keputih-putihan hingga kekuningan, 3–5 cm tebalnya, terbedakan dengan jelas dari kayu teras. Di luar negeri, kayu Sonokeling dikenal dengan nama Indian Rosewood atau Indonesian Rosewood.

Kayu Sonokeling termasuk jenis kayu berharga mahal. Kayu ini banyak disukai orang karena tekstur dan warnanya yang indah. Penebangan yang berlebihan menyebabkan Sonokeling sudah semakin langka di habitat alaminya. Oleh IUCN, Sonokeling dikategorikan dalam tingkatan vulnerable atau rentan terhadap kepunahan. Namun,pembudidayaannya secara tumpangsari dengan tanaman lain kini sedang populer.di Pulau Jawa.

Sonokeling memiliki daya adaptasi yang baik. Dapat tumbuh di daerah beriklim kering hingga basah. Batangnya kuat dan tidak mudah patah. Daunnya dapat dijadikan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau. Akarnya mengandung bakteri yang dapat mengikat nitrogen sehingga dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah.  Dengan demikian, Sonokeling sangat direkomendasikan untuk ditanam  sebagai tanaman peneduh di tepi jalan.

  1. TANJUNG Mimusops elengi

Tanjung termasuk salah satu jenis tumbuhan yang telah lama ditanam sebagai pohon peneduh di Indonesia. Tumbuhan yang masih berkerabat dekat dengan Sawo (Sapotaceae) ini berukuran sedang, batang tumbuh lurus hingga ketinggian 15 m. Pada varietas parvifolia, pohon dapat tumbuh hingga 25 m.

Tajuk berbentuk bulat yang rindang dan indah dengan ukuran sedang. Bunganya berbau harum sehingga banyak menarik serangga dan burung pengisap madu. Pohon asal India ini juga menghasilkan benih berupa buah dan biji dalam jumlah besar sehingga mudah diperbanyak.

Di masa lalu, bunga Tanjung yang wangi dan mudah rontok, kerap dikumpulkan orang di pagi hari untuk mengharumkan pakaian, ruangan dan untuk hiasan. Buah Tanjung tidak beracun dan dapat di makan. Air rebusan pepagannya dapat mengatasi diare dan demam.

Daun segar yang digerus halus dapat dioleskan didahi untuk menobati sakit kepala. Daun yang dirajang seperti tembakau, dicampur serutan kayu secang (sappang) dan dilinting dengan daun pisang dapat dijadikan rokok untuk mengatasi sariawan mulut. Akar yang dicampur cuka dapat digunakan mengatasi sakit tenggorokan.

Gambar 17. Pohon Tanjung menjadi salah satu pohon peneduh terbaik.

Berdasarkan berat jenis dan keawetannya, kayu Tanjung termasuk kayu kelas I dengan berat jenis 0,92-1,12.  Kayunya padat, berat dan keras. Kayu Tanjung yang sudah diolah dan dikeringkan cukup tahan terhadap jamur pelapuk, namun agak rentan terhadap serangan rayap. Daya tahan terhadap faktor lingkungan juga tinggi.

Sebagaimana pohon berkayu keras lainnya, pertumbuhan pohon Tanjung tergolong lambat sehingga tidak perlu terlalu sering dipangkas. Cabang-cabang pohonnya berukuran sedang dan tidak mudah patah. Akar Tanjung juga tidak berbanir sehingga tidak merusak trotoar jika ditanam di pedestrian.

Kulit batang pohon Tanjung tidak bergetah dan beracun. Serbuk sari yang dihasilkan juga tidak menimbulkan alergi bagi orang yang berada disekitarnya.  Pohon ini juga cukup tahan terhadap cuaca panas dan kering. Tanjung diketahui berumur panjang dan dapat tumbuh hingga usia puluhan tahun.

Jenis pohon berukuran sedang dengan kualitas seperti Tanjung tergolong  jarang, sehingga pohon ini sangat direkomendasikan untuk ditanam sebagai pohon peneduh tepi jalan, taman kota, perkantoran, area parkir, pabrik, kompleks militer dan fasilitas umum lainnya.

  1. CEMPAKA Magnolia champaca

Cempaka adalah salah satu jenis pohon yang popular di Indonesia. Berukuran besar dengan tinggi hingga 50 m. Tajuk seperti payung yang tidak terlalu lebar, berada jauh di ujung atas batang. Diameter batang dapat mencapai 190 cm. Tumbuh di hutan-hutan primer tropis dan subtropis Asia dengan elevasi berkisar antara 200-1600 mdpl.

Pohon Cempaka digemari banyak orang terutama karena bunganya yang indah dan berbau sangat harum. Masyarakat Aceh misalnya, mengekspresikan kecintaannya terhadap bunga ini dalam bait-bait lagu Bungong Jeumpa yang tersohor.

Bunga Cempaka memiliki warna bervariasi mulai dari kuning muda hingga kuning jingga. Kerap dikunjungi serangga penyebuk dan burung pengisap madu. Buah berbentuk bulat telur berisi 2-4 biji. Musim buah berlangsung selama bulan September Oktober. Daging buah atau salut biji Cempaka sangat disukai burung-burung pemakan buah (frugivor).

Masyarakat Asia umumnya memanfaatkan bunga Cempaka dalam ritual keagamaan di kuil, penghias rambut wanita, pengharum ruangan dan kamar pengantin serta bahan pembuatan parfum. Salah satu merk parfum terkenal yang menggunakan saripati minyak Cempaka adalah Jean Patou. Parfum ini bahkan dikenal sebagai parfum terlaris dunia setelah Chanel No. 5.

Gambar 18. Pohon Cempaka sebagai tanaman peneduh tepi jalan di Amerika Serikat.

Kayu Cempaka tergolong kuat, bertekstur halus dan berwarna coklat gelap. Kayu ini umumnya digunakan untuk bahan baku pembuatan furniture dan konstruksi. Tegakan Cempaka berukuran besar kini semakin langka. Oleh penganut Hindu dan Budha di beberapa wilayah di India, pohon dari suku Magnoliaceae ini dianggap suci sehingga tidak boleh ditebang.

Populasi pohon Cempaka berukuran besar juga sudah jarang ditemukan di Indonesia. Salah satu tegakan Cempaka berukuran besar masih dapat ditemukan di sekitar jalan masuk dalam kawasan Taman Wisata Alam Batu Putih di Bitung yang menjadi bagian dari Taman Nasional Tangkoko Duasudara, Sulawesi Utara. Tinggi pohon Cempaka di tempat ini mencapai lebih dari 50 meter.

Saat ini, Cempaka banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias. Bibit umumnya diperbanyak melalui biji.  Di beberapa negara bagian Amerika Serikat seperti California, Cempaka menjadi salah satu pohon peneduh yang popular ditanam sepanjang tepian jalan.

  1. KENANGA Cananga odorata

Kenanga termasuk pohon berukuran sedang dari suku Annonaceae. Ada tiga varietas yang umum ditemukan. Kenangan biasa Cananga odorata var. macrophylla adalah jenis kenanga yang paling umum ditemukan, memiliki daun berukuran besar, tumbuh cepat hingga mencapai ketinggian 12 meter.

Batangnya lurus dengan kayu keras. Daunnya panjang, halus dan berkilau. Bunganya hijau kekuningan (ada juga yang bersemu dadu, tetapi jarang), menggelung seperti bentuk bintang laut, dan mengandung minyak wangi yang kerapdisuling menjadi bahan pembuatan parfum.

Varietas kedua adalah kenanga Filipina Cananga odorata var. genuine atau disebut Ilang-ilang.  Kenanga ini mampu tumbuh besar meskipun tidak sebesar kenanga biasa. Memiliki kandungan miyak cukup tinggi sehingga bunganya kerap disuling untuk menghasilkan bahan parfum yang harum.

Varietas ketiga adalah Cananga odorata var. fruticosa yang berbentuk semak atau perdu. Kenanga ini berukuran paling kecil, umumnya di tanam sebagai tanaman hias di halaman rumah. Pertumbuhan batang maksimum mencapai 3 meter. Bunganya sangat harum.

Gambar 19. Pohon Kenanga dijadikan tanaman peneduh tepi jalan di Hawaii, USA.

Bunga Kenanga umumnya digunakan dalam upacara keagamaan, pengharum tempat tidur pengantin baru dan bahan baku campuran parfum. Minyak Kenanga digunakan dalam aromateraphy. Dipercaya dapat menurunkan tekanan darah, memperbaiki sel-sel kulit bahkan memiliki sifat afrodisiak.

Bunga Kenanga Filipina diekstrak dan  digunakan dalam campuran merk parfum Chanel No. 5 yang termasuk deretan parfum paling laris di dunia. Wangi harumnya kaya akan rasa dan dapat menyatu dengan baik pada berbagai parfum yang beraroma floral, buah dan kayu.

Kenanga termasuk tumbuhan asli Indonesia, Filipina dan Malaysia. Tumbuh di hutan-hutan tropis beriklim semi-kering. Menyukai daerah yang tanahnya cenderung asam. Membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi. Buahnya sangat disukai burung pemakan buah terutama berbagai jenis merpati hutan seperti Pergam, Punai dan Walik. Rangkong Sulawesi juga diketahui menggemari buah Kenanga.

Gambar 20. Bunga Kenanga.

Pohon Kenanga juga banyak dibudidayakan di Madagaskar, Polynesia, Melanesia, Mikronesia, dan  Kepulauan Komoro. Minyak Kenanga menjadi sumber ekspor yang penting di negara-negara tersebut. Pohon ini menjadi flora identitas Aceh dan Sumatera Utara.

Aroma bunga Kenanga disukai banyak orang. Oleh karenanya di negara bagian Hawaii, pohon ini kerap digunakan sebagai tanaman peneduh jalan. Berjalan kaki di pedestrian sambil menikmati aroma bunga yang harum dipercaya berdampak baik bagi warga kota.

  1. KEPEL/BURAHOL Stelecocharpus burahol

Kepel termasuk tumbuhan asli Indonesia yang berkerabat dekat dengan Sirsak dan Srikaya (Annoceae). Pohon berukuran sedang ini dapat mencapai tinggi 25 m. Tajuknya indah berbentuk kubah meruncing ke atas (seperti cemara) yang terbentuk dari cabang-cabang yang tumbuh mendatar ke samping secara teratur ke segala arah. Tajuk ini tumbuh menghijau sepanjang tahun.

Daun baru berwarna merah muda akan muncul di seluruh permukaan tajuk, sesaat setelah musim berbuah berakhir. Daun baru ini muncul secara serentak dan mengalami beberapa fase perubahan warna  dari merah muda pucat menjadi merah keunguan sebelum berubah lagi menjadi hijau cemerlang. Batang Kepel tumbuh tegak dengan diameter dapat mencapai 40 cm, berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan yang besar-besar.

Salah satu keunikan pohon Kepel adalah letak bunga jantan dan bunga betinanya yang terpisah, namun masih tetap berada dalam satu pohon yang sama. Bunga jantan berbau harum, tumbuh pada cabang-cabang dan ranting di bagian atas. Sedangkan bunga betina muncul dari benjolan-benjolan besar yang ada pada batang utama di bagian bawah. Setelah mengalami penyerbukan, bunga betina berangsur-angsur akan berkembang menjadi buah.

Keunikan lainnya  terletak pada buahnya yang muncul bergerombol menyelubungi batang utama (cauliflora). Pada pohon yang sudah besar, batangnya sering tidak tampak karena tertutup oleh lebatnya buah. Jumlahnya bisa 2 – 8 butir tiap tandan. Padahal tandannya banyak.

Buah Kepel memiliki daging buah berupa salut biji (arillus) yang digemari puteri keraton-keraton di Jawa karena dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Pohon ini dinamakan Kepel karena ukuran buahnya yang sebesar satu kepal tangan orang dewasa. Orang Sunda mengenal buah ini dengan nama Burahol.

Saat matang, buah kepel dapat dibelah dan dimakan langsung. Daging buahnya berwarna jingga dan mengandung sari buah yang memberikan aroma seperti bunga mawar bercampur buah Sawo pada ekskresi tubuh (seperti air seni, keringat, dan napas). Buah kepel dianggap matang bila digores kulitnya terlihat bagian bawahnya berwarna kuning atau coklat muda (jika berwarna hijau, buah masih belum matang).

Untuk menjaga kualitas, buah kepel dibungkus 1-2 bulan sebelum dipanen, menggunakan anyaman bambu atau daun kelapa atau kantung plastik. Buah dikemas dalam keranjang atau karung dan hendaknya diperlakukan dengan hati-hati; buah kepel dapat bertahan disimpan 2-3 minggu pada suhu ruang.

Gambar 21. Pohon Burahol sangat direkomendasikan sebagai  tanaman peneduh tepi jalan di Indonesia

Buah Kepel dapat dipetik kira-kira empat bulan sejak berbunga. Musim buahnya dua kali setahun, yaitu Desember – Febmari, dan Juni – Juli. Buah di musim hujan Desember – Februari paling banyak, tetapi rasanya kurang manis karena kebanyakan air. Sebaliknya, buah di musim kemarau Juni – Juli, tidak sebanyak pada musim sebelumnya, tetapi rasanya lebih manis.

Dalam dunia pengobatan, daging buah Kepel berfungsi sebagai peluruh kencing, mencegah radang ginjal dan menyebabkan kemandulan (sementara) pada wanita. Jadi, kepel ini oleh para wanita bangsawan digunakan sebagai parfum sekaligus alat kontrasepsi. Konsumsi buah ini di pulau Jawa secara tradisional masih terbatas di Kesultanan Yogyakarta.

Kepel tumbuh liar pada tanah lembap dan dalam, di hutan-hutan sekunder di Jawa. Dibudidayakan sebagai pohon buah pada ketinggian mencapai 600 m dpl. Jenis ini dapat tumbuh baik di sela-sela rumpun bambu,dimana di tempat itu pohon-pohon lain tidak mampu bersaing.

Kayu Kepel dikenal kuat dan tahan lama.Kayu Kepel sering dijadikan perkakas rumah tangga; batangnya yang lurus setelah direndam beberapa bulan dalam air, digunakan untuk bahan bangunan rumah dan diberitakan tahan lebih dari 50 tahun.

Kepel umumnya diperbanyak dari biji yang diambil dari buah matang dan disemaikan secepatnya. Penyetekan dan pencangkokan sudah pernah dicoba, tetapi tidak berhasil. Kepel baru akan berbunga setelah berumur 6-9 tahun.

Kepel menjadi sangat langka di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena di masa lalu, pohon ini dianggap sebagai pohon keraton yang buahnya tidak boleh dimakan oleh orang kebanyakan. Pohon ini dipercaya akan mendatangkan kutukan jika ditanam dan dipelihara oleh rakyat biasa. Sebaliknya, di Jawa Barat, pohon ini dianggap tidak bernilai dan diabaikan karena daging buahnya yang sedikit.

Mengingat keunikan, kelangkaan dan potensinya yang besar, maka Cakrawala merekomendasikan pohon Kepel sebagai pohon hias di taman dan pohon peneduh jalan.

Demikian uraian tentang jenis-jenis pohon yang direkomendasikan oleh Cakrawala sebagai pohon peneduh di tepi jalan. Semoga Bermanfaat.

Referensi:

http://www.natureloveyou.sg/Canarium%20vulgare/

http://victorlawatan.e-monsite.com/guestbook/

https://biodiversitywarriors.org/m/article.php?idj=5388 (Gayam)

http://intisari.grid.id/read/0398552/burahol-alias-kepel-si-langka-penyedap-bau-keringat-para-putri-keraton?page=all

https://ouncesofprevention.me/2017/02/01/single-essential-oils-ylang-ylang-cananga-odorata-ecuatoriana/

http://mekarsari.com/web/agro/gayam

https://id.wikipedia.org/wiki/Kersen

https://id.wikipedia.org/wiki/Trengguli_wanggang

https://id.wikipedia.org/wiki/Ketapang_kencana

https://id.wikipedia.org/wiki/Pulai_Hitam

https://id.wikipedia.org/wiki/Jambu_bol

https://id.wikipedia.org/wiki/Gayam

https://id.wikipedia.org/wiki/Sawo_kecik

https://id.wikipedia.org/wiki/Mahoni

https://id.wikipedia.org/wiki/Kenari

https://id.wikipedia.org/wiki/Tamarindus_indica

https://id.wikipedia.org/wiki/Sonokeling

https://id.wikipedia.org/wiki/Tanjung_(pohon)

https://id.wikipedia.org/wiki/Cempaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Kenanga

https://id.wikipedia.org/wiki/Kepel

Iklan
Dipublikasi di Flora | Tag , , , , , ,