Wabula: desa juara di Sulawesi Tenggara

Sebagian besar penduduk pulau Buton hidup di daerah pesisir terutama di kota Bau-bau dan Pasarwajo. Salah satu desa nelayan yang sempat kami kunjungi saat menjelajahi pulau Buton adalah desa Wabula.

Desa ini berjarak sekitar 25 km dari Pasarwajo dan dapat ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Secara administratif, desa ini masuk dalam wilayah kecamatan Wabula, Kabupaten Buton.

Desa Wabula-buton-1-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Suasana yang asri di Desa Wabula di Kecamatan Wabula Kabupaten Buton. Deretan rumah panggung berjajar rapi dengan halaman yang bersih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Berbeda dengan desa pesisir yang umumnya saya kunjungi, Desa Wabula nampak bersih. Tepi pantai terlihat asri dengan banyaknya pohon dan tegakan kelapa yang menjulang tinggi. Di bawahnya banyak ditemukan balai-balai bambu dan Gazebo tempat warga beristirahat dan menikmati sejuknya hembusan angin laut.

Rumah panggung berjajar rapi di sepanjang pantai, dibangun di atas tiang-tiang kayu. Rumah panggung ini dibuat lebih rendah dibandingkan dengan rumah panggung di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

Desa Wabula-buton-3-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Papan himbauan COREMAP kabupaten Buton (kiri). Rumpon penduduk desa Wabula (kanan atas). Sampan Koli-koli (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Masyarakat desa Wabula, umumnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Ikan ditangkap secara tradisional menggunakan rumpon, jaring, pancing atau menyelam dan menembak menggunakan speargun. Salah satu hasil tangkapan utama nelayan disini adalah ikan layang yang dijual ke Pasarwajo.

Untuk menambah penghasilan keluarga, ibu-ibu dan gadis desa Wabula menghabiskan waktu siang hingga sore dengan menenun kain khas Buton. Kain Buton ini ditenun selama beberapa minggu. Harga jual kain ini berkisar antara Rp. 300 ribu hingga jutaan rupiah, bergantung pada bahan, motif, waktu pengerjaan dan tingkat kesulitan dalam proses penenunan.

Selain nelayan, masyarakat desa Wabula juga berkebun dengan menanam ubi jalar, ubi kayu, jagung dan jambu mete. Hasil kebun lainnya yang menjadi primadona adalah jeruk Wabula. Jeruk yang ditanam di daerah berkapur ini memiliki karakter khas dengan kulit yang tebal, tekstur bulir (pulpy) yang kering, tidak lengket dan rasa yang manis.

Desa Wabula-buton-4-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Meriam peninggalan VOC di desa Wabula (kiri atas). Jeruk Wabula (kanan atas). Pantai desa Wabula (bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan, pemerintah desa mengeluarkan peraturan desa (Perdes) yang melarang masyarakat membuang sampah ke laut. Jika ada yang melanggar akan didenda 50 ribu rupiah. Pekarangan dan halaman sekitar rumah yang kosong juga harus ditanami tumbuhan obat dan tanaman hias.

Setiap tahun, masyarakat desa Wabula menggelar dua pesta adat yang meriah, yaitu: Mata’ano Galampa yang dilaksanakan selama 3 hari setiap bulan Februari dan pesta adat Pidoaano Kuri yang dilaksanakan dua hari pada setiap bulan Juni.

Mata’ano Galampa dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan kepada warga desa. Sedangkan Pidoaano Kuri dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen ubi kayu (Kuri) yang melimpah.

Desa Wabula-buton-2-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Galampa Wabula, tempat musyawarah adat masyarakat desa Wabula. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kini kedua pesta adat yang sarat budaya khas Wabula ini menjadi event wisata tahunan yang semakin dikenal di pulau Buton. Pesta adat ini sekaligus sebagai berperan  sebagai sarana pelestarian budaya masyarakat desa Wabula. Berdasarkan capaian ini, pada tahun 2015, desa Wabula meraih juara 1 dengan menyisihkan sekitar 1800 desa lainnya di Sulawesi Tenggara.

Referensi :

http://www.butonkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=218: profil-desa-wabula-desa-paling-tua-di-kecamatan-wabula&catid=1:headline-news

http://rizalwabula14.blogspot.co.id/2014/10/mengenal-lebih-dekat-pidoano-kuri-pesta.html

http://travel.detik.com/read/2015/09/02/183022/3008360/1519/inilah-desa-paling-juara-di-sulawesi-tenggara

Dipublikasi di Budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar