Kabaena yang Memesona (1)

Pada seri tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang salah satu daerah yang sangat indah dan memiliki banyak potensi wisata di Sulawesi Tenggara: Pulau Kabaena. Seri tulisan kali ini akan dibuat dalam tiga postingan.

Postingan pertama lebih banyak bercerita tentang profil dan potensi sumberdaya alam. Postingan kedua tentang budaya lokal. Sedangkan postingan ketiga atau terakhir akan bercerita tentang destinasi wisata yang dapat dikunjungi di Kabaena. Selamat membaca.

Profil Kabaena

Pulau Kabaena berukuran cukup luas, sekitar 873 km persegi dan menempati sisi paling barat dari gugusan kepulauan di jazirah tenggara Sulawesi.Bentang alam Kabaena bervariasi. Bagian tengah pulau didominasi oleh deretan pegunungan karst yang menjulang hingga lebih dari seribu meter. Karst di sisi utara memanjang ke arah barat laut. Sedangkan di sisi selatan memanjang ke arah barat daya.

Kabaena juga dikelilingi pulau-pulau satelit yang lebih kecil seperti: Lawoto, Baleara, Talinga, Mataha, Sagori, Telaga Besar, Telaga Kecil, Damalawa besar, Damalawa kecil dan Dahudahu.

Peta Pulau Kabaena-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Peta Pulau Kabaena. Sumber: Google Map dan Peta Dishidros (modified).

Di sisi timur juga banyak ditemukan pulau sangat kecil dan gosong yang terbentuk dari karang dan pasir. Misalnya: Karang Pasiwulu, Pasigama, Pasiburi, Pasiiti dan Pasipandolangi.

Perjalanan ke Kabaena

Kunjungan ke Kabaena diawali dari ibukota propinsi,  Kendari. Ada dua pilihan rute perjalanan dari Kendari menuju Kabaena. Pertama melalui jalur darat yang lebih singkat dari Kendari-pelabuhan Kasipute Bombana (3 jam) terus menyeberang ke pelabuhan Sikeli di Kabaena Barat (3 jam). Atau jalur laut yang lebih lama dengan rute Kendari-Baubau (6 jam) terus Bau-Bau-Talaga (2 jam) atau Baubau-Sikeli (3 jam).

Saya dan teman-teman memilih jalur darat dengan 2 alasan. Pertama: lebih singkat. Kedua: lebih banyak obyek yang dapat dilihat buat difoto. Dari sini saya dan beberapa teman menyewa mobil dengan tujuan pelabuhan penyeberangan di Bombana. Perjalanan darat ditempuh selama 4 jam melalui hutan lindung, kebun, sawah dan daerah permukiman transmigrasi.  Tepat jam 12 siang kami tiba di Pelabuhan Kasipute.

Pelabuhan Kasipute-1

Gambar 2. Pelabuhan Kasipute di Bombana. Sumber:dokumentasi pribadi.

Kami harus menunggu selama 2 jam sebelum kapal yang akan kami tumpangi mengangkat sauh. Awak kapal dan buruh pelabuhan sibuk melakukan bongkar muat.

Bermacam muatan mulai dari barang bawaan penumpang, tabung gas, galon air mineral, barang kelontong hingga sepeda motor dinaikkan satu per satu ke atas kapal. Kami pun menunggu sambil istirahat, sholat, makan siang dan mencari tiket kapal tujuan Sikeli, Kabaena Barat.

Tepat pukul 2 siang kapal berangkat menuju Kabaena. Ombak sepanjang perjalanan cukup tenang. Hanya saja, saat melewati selat yang berarus deras, laju kapal diperlambat. Menurut penumpang yang kerap menyeberang, laju kapal kali ini cukup lambat karena muatan yang sarat.

Pelabuhan Kasipute-2

Gambar 3. Suasana Pelabuhan Kasipute. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sepanjang perjalanan, kami banyak bertanya kepada penumpang yang ada di sekitar kami untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang pulau Kabaena. Kami juga berkunjung ke ruang kemudi untuk mengumpulkan informasi dari nahkoda kapal tentang Pulau Kabaena.

Menurut Nahkoda, ombak bulan April relatif tenang karena berada di akhir musim penghujan. Musim hujan di Kabaena berlangsung antara bulan Oktober hingga April. Sedangkan musim kemarau berlangsung antara Mei hingga September.

Perairan Kabaena berombak besar dan tidak dapat dilalui saat puncak musim angin barat dan angin timur. Musim barat terjadi pada bulan Desember-Januari, Sedangkan musim timur berlangsung antara bulan Juni-Juli.

Pada kondisi cuaca yang ekstrim, tinggi ombak di sekitar perairan Kabaena bisa mencapai 3-4 meter sehingga dapat membahayakan pelayaran. Biasanya, nelayan mengantisipasi hal ini dengan cara berangkat dini hari saat ombak masih tenang.

Nahkoda juga bercerita bahwa hingga awal 1980-an, Kabaena masih diselimuti hutan yang luas dan sangat lebat. Hingga akhirnya datang beberapa perusahaan pemilik HPH yang kemudian melakukan penebangan secara masif. Hutan pulau Kabaena pun kini musnah dan nyaris tak tersisa lagi.

Masih menurut nahkoda, penduduk pulau Kabaena bervariasi. Banyak pendatang dari berbagai daerah di penjuru tanah air yang menetap di Kabaena untuk mencari penghidupan. Namun penduduk terbesar adalah orang dari suku Moronene.

Dahulunya, Moronene adalah salah satu suku tertua yang mendiami daratan Sulawesi Tenggara. Namun, seiring kedatangan Suku Tolaki dari utara Sungai Konawe, suku Moronene terdesak ke arah barat dan selatan hingga akhirnya menyeberang dan menetap di Kabaena. Selain Moronene di Kabaena juga terdapat masyarakat pendatang dari suku Jawa, Bugis, Bajo, Makassar dan suku lainnya.

Gunung Kembar-2

Gambar 4. Gunung Batu Sangia dan Pelabuhan Sikeli tampak di kejauhan. Foto diambil saat perjalanan pulang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari pengalamannya selama bertahun-tahun membawa kapal bolak-balik Kabaena-Bombana dan membawa berbagai jenis muatan, nahkoda kapal banyak mengetahui perkembangan Kabaena.

Sumberdaya Alam

Dulu Kabaena adalah pulau yang kaya akan hasil alam. Komoditas utamanya adalah gula aren, kopra, jambu mete dan kayu jati. Selain itu juga ada kopi, kemiri, kakao (coklat) dan rumput laut. Bahkan hingga seabad yang lalu, Kabaena menjadi salah satu lumbung beras utama bagi Kesultanan Buton. Kata Kabaena berasal dari bahasa Buton “kobaena” yang berarti pemilik beras.

Kini hasil alam Kabaena kian menurun. Kebun-kebun dan hutan berubah menjadi area pertambangan nikel, besi, tembaga, pasir dan batu (bahan galian C).

Saat asyik bercerita, secara tiba-tiba, nahkoda yang sedang duduk mengubah posisi dengan memiringkan tubuhnya lurus ke depan hingga dadanya rapat ke kemudi. Sambil memicingkan mata, nahkoda menunjuk ke batas cakrawala, memberitahukan kepada kami sebentuk garis abu-abu yang samar di kaki langit. “Itu Kabaena”, katanya setengah berteriak.

Kami berusaha mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjukkan nahkoda. Namun sejauh mata memandang, yang kami lihat hanyalah warna abu-abu bercampur biru dan putih. Kami tak melihat garis abu-abu yang dimaksud.

Gunung Kembar-1

Gambar 5. Gunung Batu Sangia dari dekat. Tampak vegetasi pohon dan kebun-kebun tumbuh subur di kaki gunung.  Foto diambil saat perjalanan pulang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Benar saja, tak lama kemudian sosok daratan yang bergunung-gunung mulai samar terlihat di kejauhan. Semakin lama bentuk daratan semakin jelas terlihat. Sebuah gunung berbentuk aneh mulai terlihat jelas. Gunung itu terlihat memiliki puncak kembar yang indah.

Nahkoda kapal menjelaskan bahwa itu adalah gunung Batu Sangia yang menjadi penanda utama pulau Kabaena dan pelabuhan Sikeli. Gunung ini memiliki tinggi hingga 1.140 m di atas permukaan laut.

Di masa lalu, gunung ini menjadi penanda terutama bagi kapal-kapal yang berlayar dari arah barat seperti Kapal Phinisi dari Bulukumba. Saat kapal mendekat, hari menjadi semakin gelap. Sosok gunung Sangia dan pelabuhan Sikeli tak terlihat jelas.

Kapal tepat merapat saat adzan maghrib berkumandang. Suasana begitu khidmat dan syahdu. Tak lama berselang, kesibukan mulai terlihat di sekitar kapal. Beberapa orang kru kapal mulai membantu menurunkan penumpang dan muatan kapal.

Kami memutuskan turun lebih awal  untuk mencari kendaraan, rumah makan dan penginapan. Maklumlah, penginapan yang representatif di Sikeli tidak terlalu banyak. Kami khawatir tidak mendapat kamar, khususnya bagi dua anggota wanita dari tim kami.

Pelabuhan Sikeli-2

Gambar 6. Pemandangan indah di sekitar Pelabuhan Sikeli.  Foto diambil saat perjalanan pulang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat pagi hari, sosok Gunung Batu Sangia terlihat jelas dari tepi pelabuhan. Gunung ini termasuk gunung batu kapur (karst) berselimut vegetasi lebat. Kebun kelapa dan mete tumbuh subur di kaki gunung yang dekat dengan pantai.

Posisi pelabuhan Sikeli sangat strategis karena berada di daerah pantai yang terlindung. Pulau Mataha yang berbentuk memanjang dan beting-beting karang yang luas di sekitarnya berperan sebagai penghalang saat ombak besar. Kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Sikeli didominasi oleh kapal penyeberangan dan pengangkut barang. Ukurannya berkisar antara 50-100 Gross Ton (GT).

Pelabuhan Sikeli-1

Gambar 7. Suasana pelabuhan Sikeli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kebun Jambu mete banyak ditemukan di Kabaena. Jambu mete ini umumnya ditanam dari biji. Selama masa pertumbuhan, kebun mete harus diberi pagar dan selalu dijaga. Sebab tanaman muda kerap dimakan babi hutan yang jumlahnya masih banyak.

Babi hutan yang menjadi hama ini akan turun ke ladang dan kebun begitu hari mulai gelap. Saat fajar menjelang, rombongan babi hutan akan kembali masuk ke dalam hutan. Pohon akan menghasilkan buah setelah berumur 5-6 tahun.

Menurut penduduk setempat, agar dapat berbuah dengan baik, jambu mete membutuhkan durasi musim kemarau yang panjang. Buah jambu mete tidak akan berkembang dengan baik saat musim hujan. Bunga mete akan serentak berguguran jika terkena air hujan.

Satu pohon jambu mete dapat menghasilkan biji mete mentah senilai Rp. 150.000- Rp. 200.000. Jambu mete asal Sulawesi Tenggara dikenal memiliki kualitas terbaik di seantero Nusantara. Biji jambu mete kupas memiliki harga yang mahal di pasaran. Satu kilogram kemasan jambu mete mentah dengan biji utuh tanpa pecah dijual dengan harga Rp. 80.000 – Rp. 120.000.

Kebun Jambu Mete Kabaena

Gambar 8. Kebun Jambu Mete berusia 20-30 tahun. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kebun Kelapa juga banyak ditemukan di Kabaena. Kelapa ini banyak dikeringkan dan dibuat kopra. Selain kelapa, Sagu dan Aren juga banyak ditemukan. Kedua jenis palem ini tumbuh secara alami di sekitar aliran sungai-sungai kecil di kaki gunung.

Selain mete, gula aren termasuk produk pulau Kabaena yang terkenal.  Gula ini terbuat dari cairan dari tangkai bunga aren yang dipotong dan disadap. Air yang keluar kemudian ditampung di wadah-wadah bambu.

Selanjutnya, air ini diolah menjadi gula kelapa dengan cara dipanaskan dan dicampur kelapa muda. Setelah dimasak, campuran gula yang telah mengental kemudian dicetak dengan cetakan khusus dan keringkan. Gula yang telah kering kemudian dibungkus dengan daun pisang.

Kelapa Kabaena

Gambar 9. Kebun Kelapa di Sikeli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Hewan ternak utama yang ditemukan di Kabaena, diantaranya adalah Sapi, Kerbau, Kambing dan Kuda. Menurut beberapa sumber, di masa lalu, populasi kerbau sangat melimpah di Kabaena. Bahkan, Kerbau dijadikan sebagai mahar dalam proses perkawinan.

Mahar seorang gadis di Kabaena adalah 12 ekor Kerbau. Sedangkan mahar janda sebanyak 8 ekor kerbau. Uniknya, saat menelusuri pedalaman Kabaena, tidak seekor Kerbau pun yang penulis temui. Kuda lebih sering terlihat merumput di padang terbuka dan lapangan yang luas.

Luda Kabaena

Gambar 10. Kuda lokal di Kabaena. Kuda ini termasuk dalam kelompok kuda Poni yang tahan cuaca panas dan toleran terhadap kondisi pakan yang minim. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya dan beberapa teman juga menyempatkan diri untuk mengunjungi pasar tradisional yang menjadi jantung perekonomian di Sikeli. Tujuannya untuk mencari oleh-oleh khas Kabaena dan melihat dari dekat aktifitas masyarakatnya. Pasar ini berukuran cukup besar dengan aneka barang dagangan.

Salah satu bagian pasar yang menarik perhatian saya adalah los yang menjual hasil laut. Beragam jenis ikan dapat ditemukan disini, mulai dari ikan teri hingga ikan kembung, kerapu, barakuda dan ikan asin. Ikan yang dijual masih sangat segar karena berasal dari hasil tangkapan nelayan yang disetor ke pasar ini saat dini hari.

Dari macam jenis ikan yang dijual dapat diketahui bahwa populasi ikan di sekitar perairan Kabaena masih melimpah. Stok ikan yang banyak menandakan kondisi perairan yang baik.  Sedangkan dari kondisi kesegarannya, dapat diketahui bahwa ikan yang dijual memang benar-benar berasal dari perairan sekitar Kabaena dan bukan dari daerah lain.

Selain ikan, hasil laut lain yang dijual di pasar Sikeli adalah cumi-cumi, sotong, gurita, udang dan berbagai jenis kerang. Pedagang di pasar ini didominasi pendatang dari beragam daerah seperti Bugis, Makassar, Jawa dan Buton.

Pasar Ikan Kabaena

Gambar 11. Pasar di Sikeli. Tampak ikan yang dijual masih dalam kondisi segar. Fresh from the Sea. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kami begitu menikmati interaksi dengan pedagang di pasar ini. Mereka sangat terbuka dan ramah terhadap pendatang. Beberapa ibu-ibu pedagang tampak begitu bersahaja.

Ibu-ibu itu menggelar jualannya di nampan plastik yang diletakkan di atas ember bekas cat berukuran besar.  Dagangan ikannya hanya beberapa ekor saja. Namun ikannya masih sangat segar. Rupanya ikan ini hasil tangkapan suami yang melaut dari malam hingga dini hari.

Kadang ada rasa haru melihat perjuangan mereka dalam mengarungi kerasnya hidup. Tak kenal lelah. Tak terdengar keluh kesah. Canda tawa mereka begitu renyah berpadu dengan wajah sumringah. Bermacam logat dan dialek bahasa bercampur aduk. Semua mengalir seperti apa adanya. Begitu humanis.  Inilah salah satu alasan mengapa kami senang “berwisata” ke pasar lokal.

Setelah ke pasar, kami menjelajah daerah sekitar Kabaena Barat. Kami beruntung karena seorang sahabat lama kami yang berdomisili di sini bersedia mengantarkan kami berkeliling daerah sekitar Sikeli.

Sungai Kalimbula Kabaena

Gambar 12. Sungai Lakambula. Salah satu sungai terbesar di Kabaena. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sahabat kami kebetulan bekerja di salah satu perusahaan tambang nikel. Pihak perusahaan pun mengizinkan kami untuk memasuki area tambang nikel di sekitar Sikeli setelah sebelumnya, kami mengajukan permohonan izin pada pemilik perusahaan untuk memasuki kawasan.

Dengan mobil gardan ganda milik perusahaan, kami berkeliling. Kami mengunjungi area kebun mete, kebun kelapa, hutan di kaki bukit, hutan jati dan menyusuri sungai Lakambula, salah satu sungai terbesar di Kabaena.

Selanjutnya, kami diajak memasuki area pertambangan nikel. Musim hujan di akhir April membuat aktifitas penambangan nikel di daerah ini berkurang drastis. Jalan yang licin dan curam amat berbahaya bagi truk pengangkut hasil tambang.

Penambangan Nikel

Gambar 13. Aktifitas penambangan nikel di Kabaena. Sumber: dokumentasi pribadi.

Di area tambang nikel ini kami melihat alat berat beroperasi menggali tanah dan memindahkan material menuju truk pengangkut. Bongkahan batu-batu besar terlihat bermunculan di sekitar daerah yang digali.

Material tanah yang telah digali selanjutnya dibawa dan ditimbun di dekat pantai sebelum diangkut ke kapal tongkang melalui pelabuhan khusus. Material tambang yang banyak mengandung nikel ini akan dibawa ke Pomaala untuk diolah lebih lanjut.

Tulang Paus Biru Kabaena

Gambar 14. Rangka Paus di Pelabuhan Sikeli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Di pelabuhan Sikeli terdapat rangka paus yang sangat besar. Dari model kepala dan tulang rahang, diketahui bahwa rangka ini berasal dari kelompok paus balin yang memakan plankton dan organisme kecil lainnya.

Kuat dugaan rangka berukuran 20 meter ini milik paus biru dari sub-spesies terkecil, brevicauda yang memang sering dijumpai di seputar perairan Nusa Tenggara seperti Laut Timor, Laut Sawu, Laut Flores dan Laut Banda.

Sayang sekali rangka paus ini mulai rapuh terkena uap air laut. Ada baiknya rangka ini dipindahkan ke ruangan yang lebih tertutup atau ke museum agar mendapat perawatan lebih baik.

Perahu Bagang Kabaena

Gambar 15. Bagang ikan di Kabaena. Adanya kapal penangkap ikan ini menunjukkan perairan Kabaena memiliki populasi ikan yang melimpah. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kegiatan pertambangan menjadi isu yang hangat di Kabaena dalam beberapa tahun terakhir. Ada yang pro dan ada yang kontra. Terlepas dari semua persoalan yang ada, kiranya perlu perencanaan yang matang, hati-hati dan bervisi jauh ke depan untuk mengembangkan pulau Kabaena.

Bagaimanakah budaya masyarakat dan obyek wisata yang ada di Kabaena?. Nantikan postingan kami berikutnya….

 

Dipublikasi di Wisata | Tag , , , , , , , , | 1 Komentar