Asal usul ayam ras di dunia

Saat hari raya Idul Fitri menjelang, pasar-pasar tradisional di Indonesia semakin ramai diserbu pengunjung. Hiruk pikuk tawar menawar penjual dan pembeli  terdengar begitu riuh. Semuanya demi memenuhi kebutuhan lebaran yang tak lama lagi.

Anyaman daun kelapa atau pandan pembungkus ketupat, aneka bumbu dan rempah, daging sapi dan ayam hidup adalah barang belanjaan yang paling banyak dicari.

Salah satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah dijualnya bermacam-macam model ayam hidup. Ada ayam potong (broiler), ayam petelur (Leghorn atau Rhode Island), ayam kampung, ayam bangkok dan jenis ayam lainnya.

Ayam kampung biasanya menjadi primadona. Dagingnya yang keras membuat  ayam ini tak mudah hancur saat dibuat opor dan rendang.  Harga ayam ini pun sudah meroket berkali-kali lipat jauh-jauh hari sebelum lebaran.

Mahalnya ayam kampung membuat sebagian pembeli beralih ke ayam potong. Harga ayam ini pun juga dapat dipastikan naik, meskipun tak semahal ayam kampung. Jika masih terlalu mahal, pembeli  akan beralih ke ayam petelur. Ayam  afkir ini biasanya dijual lebih murah karena sudah tak rajin bertelur lagi.

Kadang-kadang ayam bangkok juga ditemukan diantara ayam-ayam yang dijual. Mungkin ayam ini dijual oleh pemiliknya yang merasa frustrasi karena jagoannya tak pernah menang di medan laga.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah mengapa bentuk dan ciri-ciri ayam  yang  dijual ini begitu berbeda?. Ayam kampung bentuknya imut-imut seperti remaja yang penuh gairah hidup.

Ayam petelur dan ayam potong bentuknya bulat penuh lemak seperti emak-emak paruh baya. Sedangkan ayam Bangkok terlihat begitu gagah nan perkasa, bak Gatotkaca berotot kawat bertulang besi.

Rasa penasaran membuat saya segera melesat ke dunia maya. Satu persatu situs dan blog pun saya telusuri untuk mencari jawaban. Namun tak banyak informasi yang saya dapatkan.

Kebanyakan blog tentang ayam isinya sama. Bahkan gambarnya pun juga sama. Hehehe. Jangan tanya kenapa?. Saya memilih no comment saja. Apa boleh buat. Akhirnya, saya harus mencari sumber lain untuk segera memenuhi rasa keingintahuan yang tak tertahankan.

Pada postingan Cakrawala sebelumnya, para ahli dunia per-ayam-an bersepakat bahwa nenek moyang ayam peliharaan adalah ayam hutan merah.  Namun pada kenyataannya, postur dan penampilan ayam peliharaan sekarang memiliki ciri-ciri yang jauh berbeda dibandingkan dengan nenek moyangnya. Mengapa bisa begitu?.

Menurut ilmu genetika yang mempelajari seluk beluk pewarisan sifat pada makhluk hidup, karakter atau ciri dari kedua pasangan induk atau orangtua akan diwariskan pada anaknya.

Karakter yang diwariskan ini ada yang bersifat dominan dan ada yang resesif.  Karakter ini juga ada yang tampak dari luar (fenotip)seperti warna bulu, bentuk jengger/pial, ukuran tubuh dan ada yang tidak tampak (genotip) seperti sifat  tahan terhadap penyakit, perubahan suhu dan lain-lain. Faktor lingkungan seperti proses adaptasi dan mutasi juga dapat merubah karakter atau sifat makhluk hidup.

Di masa lalu, manusia dibedakan menjadi beberapa macam ras, yaitu: Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid.   Nah berdasarkan hal ini, seorang ahli genetika berkebangsaan Italia, Dr. Elio Corti dalam situsnya Summa Gallicana (Genetika Ayam), juga membagi tetua ayam peliharaan (ayam domestik) menjadi empat ras utama, yaitu: Bankivoid, Sumatroid, Malayoid dan Mongoloid. Sebagai tambahan, seluruh ayam berukuran mini (kate) dari keempat ras ini digolongkan dalam satu kelompok tersendiri yang disebut Bantam.

Bankivoid

Nama Bankivoid berasal dari varietas ayam hutan merah endemik Jawa Gallus gallus bankiva. Akhiran “oid” dapat berarti “menyerupai” atau “seperti”. Jadi ras Bankivoid artinya ayam yang bentuknya menyerupai atau seperti ayam hutan merah.

Ciri-ciri ras ayam ini diantaranya adalah berpial bilah atau pial lainnya, memiliki ukuran tubuh kecil hingga sedang, berbulu lemas (lunak), memiliki kemampuan terbang atau melompat yang baik, bergerak gesit dan lincah, memiliki kewaspadaan tinggi, sayap dan ekor berkembang baik, bentuk ekor melengkung seperti bulan sabit dan kaki sering mengais tanah.

Bankivoid-1

Gambar 1. Ayam Bankivoid.

Ayam Filipina yang berasal dari ayam laga Amerika terbentuk dari persilangan 4 ras berbeda. Warna bulu, kemampuan terbang yang baik, jengger tunggal/bilah (sebelum di potong) dan bentuk ekor bulan sabit diwarisi dari induk Bankivoid.

Bulu leher  yang lebat, kepala kecil,  agresifitas, akurasi dan kecerdasan ayam Filipina diwarisi dari induk Sumatroid. Postur tegap, kaki jenjang dan ekor tegak diwarisi dari induk Malayoid. Sedangkan badan yang sedikit gempal diwarisi dari induk Mongoloid.

Ras Bankivoid berasal dari tetua ayam hutan merah yang hidupnya di hutan rimba. Kondisi hutan yang lebat menyebabkan ayam ini harus memiliki tubuh yang kecil dan ramping agar dapat bergerak cepat di antara sela-sela tumbuhan hutan yang rapat.

Selain itu, ayam ini harus memiliki kewaspadaan yang tinggi dan memiliki kemampuan terbang yang baik agar dapat bertengger di cabang pohon untuk menghindari predator.

Beberapa ayam modern yang termasuk ras Bankivoid diantaranya adalah: ayam Kampung, ayam Leghorn (Petelur), English Old Game (EOG),  Cubalaya, Araucana, Minorca dan lain-lain.

Sebagian besar ayam lokal di Indonesia termasuk dalam ras ini. Ras turunan Bankivoid yang paling terkenal adalah ayam Filipina (American game) yang memiliki serangan cepat, lompatan tinggi dan pukulan akurat mematikan.

Bankivoid-2

Gambar 2. Contoh ras Ayam yang memiliki darah Bankivoid. Atas kiri-kanan: Blue Andalusian, Brown Leghorn, Red Carmine. Bawah kiri-kanan: White faced black Spain, Belgian Braekel, Lakenvelder. Perhatikan bentuk pial, ekor dan postur. Sumber: backyardchicken.com, feathersite.com.  etc.

Sumatroid

Nama Sumatroid merujuk pada ayam Sumatra, satu varietas ayam berpostur indah yang asal usulnya hingga kini masih menjadi misteri. Salah satu karakter ayam Sumatra yang menjadi tanda tanya adalah tumbuhnya taji ganda (multiple spur) karena karakter ini banyak ditemukan pada ayam pegar (pheasant) yang umumnya berukuran sangat besar.

Sebagian ahli berpendapat bahwa ayam Sumatra berasal dari ayam hutan yang hidup di pulau Sumatera, Indonesia. Ayam hutan ini kawin dengan ayam jenis lain yang belum diketahui dan kemudian diimpor oleh orang Inggris dan  Amerika pada abad 19. Oleh orang Amerika, ayam ini dikawinsilangkan dengan beberapa jenis ayam lainnya hingga terbentuk ras ayam Sumatra seperti yang ada saat ini.

Ayam Sumatroid dan Bankivoid memiliki habitat  yang sama, yaitu hutan rimba yang lebat. Ayam Sumatroid memiliki karakter serupa dengan ayam Bankivoid. Sumatroid bertubuh memanjang dan sedikit gempal seperti ayam brugo, kepala kecil namun lebar dengan pial dan jengger kecil, kaki agak pendek,  sayap berkembang baik,  bulu leher dan bulu ekor sangat panjang.

Ayam Sumatroid dikenal cerdas, pemberani dan memiliki kemampuan terbang yang baik. Di masa lalu, ayam ini diimpor oleh orang Eropa sebagai ayam laga karena gaya bertarungnya yang atraktif dan indah.

Sumatroid-1

Gambar 3. Contoh ras Ayam yang memiliki darah Sumatroid. Atas kiri-kanan: Black Sumatra, Cubalaya, Red Kraienköppe . Bawah kiri-kanan: Japanese Minohiki, Silver American game, Yokohama. Perhatikan bentuk pial, kepala, leher, bentuk badan yang memanjang, bulu tunggir dan ekor. Sumber: backyardchicken.com, feathersite.com. etc.

Beberapa ahli menyatakan bahwa ayam Sumatra merupakan satu-satunya ayam ras yang masih memiliki insting seperti ayam liar yang hidup di hutan rimba. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan terbangnya, gerakannya yang  aktif, kewaspadaan yang tinggi dan karakternya yang cerewet (talkactive).

Bagi ayam hutan, pembawaan yang cerewet sangat penting untuk berkomunikasi di habitat yang lebat. Dalam satu kelompok, ayam hutan harus selalu bersuara untuk mengetahui posisi anggota kawanan dan anak-anaknya.

Ayam jantan akan mengeluarkan nada tertentu untuk memperingatkan anggota kelompok saat bahaya datang mengancam. Kewaspadaan ini masih dimiliki oleh ayam Sumatra.

Ciri utama ayam Sumatra yang diwariskan kepada ras ayam lainnya adalah bulu leher dan ekor yang panjang. Ayam modern yang termasuk ras Sumatroid diantaranya adalah Onagadori, Phoenix, Yokohama dan ayam berekor panjang lainnya.

Malayoid.

Istilah Malayoid berasal dari kata “Malaya” atau “Melayu” nama lama negeri jiran Malaysia, tempat dimana pertama kalinya orang-orang eropa yang kapal dagangnya berlabuh mendapatkan dan mulai mengimpor ayam jenis ini.

Ayam ras Malayoid berasal dari turunan ayam hutan merah yang hidup di padang rumput yang luas dan  hutan-hutan peralihan tropis-subtropis yang lebih terbuka di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Habitat seperti ini banyak ditemukan di Pakistan, India, Burma, Thailand, Vietnam, Malaysia hingga Indonesia. Iklim di kawasan ini umumnya lebih kering dan panas. Daerah yang lebih terbuka dan terbentang luas menyebabkan jarak antar pohon lebih jauh.

Malayoid-1

Gambar 4. Contoh ras Ayam yang memiliki darah Malayoid. Atas kiri: Brazilian Indio Gigante. Kanan atas: English Modern Games. Kanan bawah: Japanese Shamo. Perhatikan bentuk kepala, leher, badan ekor. Perhatikan pula kaki yang jenjang dengan pertulangannya yang kuat. Sumber: backyardchicken.com, feathersite.com.  etc.

Semak belukar dan padang rumput menjadi lebih dominan sehingga ayam lebih sering menjelajah dengan berjalan kaki. Kemampuan terbang tidak terlalu dibutuhkan, karena di daerah terbuka kehadiran pemangsa lebih mudah diamati.

Agar dapat mendinginkan tubuh lebih cepat, bulu-bulu tumbuh lebih sedikit. Area tanpa bulu di sekitar dada dan perut sering ditemukan. Ekor juga tumbuh lebih pendek. Bulu ini lebih berminyak, lebih kaku dan keras. Postur tubuh sangat tegap, kaki panjang dan langsing dengan pertulangan yang besar dan kokoh.

Kadang-kadang ekor tumbuh lebih panjang untuk menjaga keseimbangan saat ayam berlari. Secara umum, postur tubuh ayam ras Malayoid mirip seorang model yang tinggi semampai di atas catwalk atau mirip burung unta yang tinggi langsing dengan kaki jenjang.

Malayoid-2

Gambar 5. Contoh ras Ayam laga yang memiliki darah Malayoid. Atas kanan-kiri: Indian Aseel, Shamo, Bangkok. Kiri bawah: Brazilian Indio Gigante. Kanan bawah: Ga Noi Vietnam.  Perhatikan bentuk kepala, leher, badan ekor. Perhatikan pula kaki yang jenjang dengan pertulangannya yang kuat. Sumber: backyardchicken.com, feathersite.com. etc.

Kondisi lingkungan yang ekstrim menyebabkan ayam Malayoid berpembawaan keras dan agresif. Otot-otot tubuhnya tumbuh kuat. Badannya tahan pukul. Ayam ini juga dikenal pantang menyerah. Oleh karenanya, sebagian besar turunan ras Malayoid ini dijadikan ayam tarung atau ayam laga.

Ayam modern yang termasuk ayam Malayoid diantaranya adalah ayam Asil, Kulang Asil, Bangkok, Saigon, Ga Noi, Ko Shamo dan Indio Gigante. Ayam lokal di Indonesia seperti ayam Ayunai, Banten, Sentul, Tolaki dan ayam lokal berpostur tinggi dan tegap lainnya juga termasuk ayam ras Malayoid ini.

Mongoloid (Oriental).

Mongoloid berasal dari kata “Mongol” sebuah daerah di utara China yang didominasi padang rumput dan gurun pasir yang luas membentang. Daerah di Asia Timur ini umumnya bergunung-gunung dan  memiliki suhu bervariasi sesuai musim.

Gunung dengan puncak bersalju banyak ditemukan di sisi barat, terutama di perbatasan China dengan Burma, Tibet, Nepal, India dan Kashmir. Suhu di wilayah ini umumnya sejuk hingga dingin sepanjang tahun, kecuali saat musim panas.

Ayam hutan di daratan China beradaptasi terutama terhadap suhu yang lebih dingin dibandingkan dengan kerabatnya dari daerah tropis. Untuk mempertahankan suhu tubuh, ayam mengakumulasi lemak lebih banyak dilengkapi bulu tubuh yang lebat dan rapat.

Hal ini menyebabkan tubuh ayam di daerah ini berpostur gemuk, besar, berat dan membulat. Untuk menghemat energi, ayam juga mengurangi aktifitas gerak sehingga terkesan lamban.

Mongoloid-1

Gambar 6. Contoh ras Ayam yang memiliki darah Mongoloid. Kiri atas: Brahma. Kanan atas: Cochin. Kiri bawah: Jersey Giant. Kanan bawah: Langshan Perhatikan bentuk pial, kepala, leher, bentuk badan  dan ekor. Perhatikan pula kaki dilengkapi dengan bulu atau tidak. Sumber: backyardchicken.com, feathersite.com. etc.

Bulu yang pendek membulat  tumbuh sangat lebat dan rapat mulai dari kepala hingga kaki. Bulu ekor tumbuh sangat pendek, namun melengkung rapat ke dalam untuk melindungi bagian belakang tubuh dari terpaan angin yang dingin.

Di daerah beriklim dingin, pemangsa lebih jarang ditemukan sehingga kemampuan terbang tidak terlalu dibutuhkan. Postur tubuh yang bongsor juga tidak memungkinkan ayam dari ras ini untuk terbang. Itulah sebabnya mengapa bulu sayap dan ekor pada ayam Mongoloid kurang berkembang sempurna.

Ayam ras Mongoloid adalah jenis ayam yang paling banyak dibudidayakan di daerah Eropa, Amerika Utara dan wilayah beriklim dingin lainnya. Ayam ras Mongoloid ini umumnya diternakkan sebagai ayam pedaging, petelur dan ayam hias.

Turunan dari ras ini juga mencakup ayam-ayam dengan ukuran tubuh terbesar di dunia seperti: Cochin, Langshan, Brahma, Orpington, Cornish, Jersey Giant, Java dan Sussex. Ayam lokal Indonesia yang dibawa imigran China di masa lalu seperti ayam Merawang dari Bangka dan Ayam Nunukan dari Kalimantan Timur juga termasuk dalam ras ini.

Bantam

Bantam adalah sebutan untuk seluruh varietas ayam yang berukuran mini atau kate. Istilah “Bantam” sendiri berasal dari kata “Banten” yang merujuk pada salah satu kota pelabuhan atau kerajaan di Jawa bagian barat yang terkenal pada abad 16-19.

Banten kini telah menjadi sebuah propinsi di Indonesia. Ayam kate mungkin pertama kali diimpor oleh orang Eropa melalui pelabuhan ini.

Ayam kate biasanya merupakan miniatur dari ayam ras yang lebih besar. Ukuran ayam kate ini sekitar seperempat atau seperlima dari ukuran ayam ras normal. Ayam ini diperoleh dengan cara menyilangkan individu ayam ras yang berukuran paling kecil.

Perkawinan ini dilakukan terus menerus pada individu-individu dengan ukuran terkecil sehingga diperoleh ayam yang ukuran mininya stabil tanpa perubahan karakter yang berarti.

Bantam-1

Gambar 7. Ayam Bantam (Ayam Kate). Atas kiri-kanan: Dutch Goldie, Serama, Langshan. Kiri bawah: Old English Game (OEG). Kanan bawah: Batik Poland.

Contoh ayam yang tergolong bantam adalah ayam Wareng dan Ayam Serama yang dinobatkan sebagai ayam terkecil di dunia. Istilah ayam “True Bantam” adalah jenis ayam kate yang tidak memiliki individu dengan size normal.

Perdagangan dan masa kolonialisme menjadi penyebab tersebarnya ayam hingga ke seluruh penjuru dunia. Untuk memperoleh ras ayam yang baru, para peternak melakukan budidaya dengan menyilangkan berbagai jenis ayam ras hingga diperoleh ras ayam baru sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Seluruh varietas ayam yang ditemukan di dunia saat ini berasal dari persilangan antara ayam-ayam ras seperti yang telah diuraikan di atas. Ayam Jersey Giant yang merupakan salah satu ayam terbesar di dunia berasal dari persilangan ayam Brahma hitam, Java hitam dan Langshan hitam.

Ayam Broiler yang dikenal sebagai ayam potong utama di Indonesia  berasal dari persilangan ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Ayam Orpington berasal dari persilangan ayam Minorca, Langshan dan Plymouth Rock.

Ayam Plymouth Rock sendiri merupakan ayam hasil persilangan antara Dominique, Black Java, Cochin, Malayoid dan Dorkings. Demikian seterusnya. Persilangan antar ras ayam ini akan menghasilkan ras atau varietas ayam yang baru.

Jadi, dapat dikatakan bahwa seluruh jenis ayam ras yang tersebar di dunia berasal dari hasil persilangan di  antara 4 ras ayam utama, yaitu: bankivoid, sumatroid, malayoid dan mongoloid.

 

Dipublikasi di Fauna | Tag , , , , , , , , , | 4 Komentar