Batu Bacan Batu Impian (3)

Tujuh November 2014. Di suatu siang yang panas menyengat, saya bersama rombongan tiba di bandara Buli, sebuah bandara perintis di kota kecil Buli, Halmahera Timur. Perjalanan sebelumnya kami awali sejak dini hari dari Makassar selanjutnya, transit selama beberapa jam di Kota Ternate.

Setelah menunggu beberapa waktu, mobil penjemput datang dan mengantar kami menuju Kota Buli. Jarak bandara ke kota sekitar 20 km yang dapat ditempuh selama 30 hingga 45 menit. Kali ini, kami menginap di Hotel Kurnia yang lokasinya tepat di seberang Mesjid At-Taqwa, mesjid terbesar di Kota Buli.

Di sepanjang perjalanan kami banyak bertanya kepada penjemput kami seputar perkembangan kota Buli. Kami pun mendapat kabar bahwa kota ini telah menjadi kota mati, sejak diberlakukannya UU minerba yang baru. Ribuan orang kehilangan pekerjaan dan hengkang dari Buli akibat berhentinya aktifitas tambang yang menjadi urat nadi perekonomian.

Masyarakat setempat  menjadi pihak yang paling terpukul dengan kondisi ini. Banyak usaha mengalami gulung tikar mulai dari hotel, penginapan, rumah makan, rumah kost, binatu, tukang cukur hingga tukang ojek dan becak motor.

Sebagian masyarakat yang sebelumnya bekerja di tambang pun beralih profesi. Salah satunya adalah dengan menjadi pencari batu bongkahan, bahan baku utama pembuatan batu akik. Batu-batu ini pun dijual pada pengrajin batu akik.

Para pengrajin ini pun membentuk suatu komunitas, mendapat pembinaan dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah setempat dan salah satu perusahaan tambang milik negara yang beroperasi di sekitar Buli.

Batu Bacan Batu Impian-4-1-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Spanduk Sentra Kerajinan Batu Akik di Kecamatan Maba Kota Buli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Komunitas pengrajin batu akik ini ditempatkan di salah satu gedung milik pemda setempat. Masyarakat mengenalnya sebagai gedung putih karena seluruh bangunan di cat berwarna putih. Ada sekitar 6 petak los pengrajin yang ada ditempat ini.

Beberapa lemari kaca terpajang di depan los. Lemari ini merupakan tempat pengrajin memajang cincin koleksi hasil produksi. Ada pula pengrajin yang memajang dalam bentuk bahan mentah berupa batu bongkahan.

Batu Bacan Batu Impian-4-4-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Lemari kaca berisi cincin akik hasil produksi dan kolam berisi batu bongkahan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagian batu bongkahan dipajang di atas meja beralas terpal plastik. Sebagian lagi direndam dalam kolam berisi air yang juga terbuat dari terpal plastik. Bongkahan direndam air agar warna bongkahan terlihat lebih mengilap dan lebih terang.

Bermacam-macam warna dan corak bongkahan batu dapat ditemukan di sentra ini. Sebagian besar berasal dari daerah setempat. Ukurannya pun bermacam-macam. Mulai dari sebesar ujung jari, sekepal tangan orang dewasa hingga sebesar kepala.

Batu Bacan Batu Impian-4-5-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Aneka warna dan corak motif bongkahan batu yang dipajang di atas meja. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagian besar bongkahan yang direndam berbentuk lempeng pipih tak beraturan. Harga lempeng sangat bergantung pada ukuran, corak, warna dan kelangkaan. Namun, harga bongkahan batu biasa rata-rata dipatok sebesar 50 ribu rupiah.

Satu bongkahan dapat dijadikan beberapa buah batu cincin. Setiap pembeli batu bongkahan dapat meminta perajin untuk membuat cincin batu akik sesuai dengan selera dan keinginan pembeli.

Batu Bacan Batu Impian-4-6-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Aneka warna dan corak motif bongkahan batu yang direndam di atas meja. Sumber: dokumentasi pribadi.

Ongkos pemotongan dan penggosokan batu cincin di sentra ini dipatok sebesar 20-40 ribu rupiah.  Sedangkan harga cincin pengikat berkisar antara 70-80 ribu rupiah. Pengikat berbahan besi putih umumnya dipatok lebih mahal.

Rata-rata harga cincin batu akik di sentra ini dijual mulai dari 100 ribu rupiah. Harga cincin akan semakin mahal jika bahan baku cincin berasal dari batu berkualitas tinggi. memiliki corak yang unik dan jarang ditemukan.

Batu Bacan Batu Impian-4-7-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Aneka warna dan corak motif bongkahan batu yang direndam di atas meja. Sumber: dokumentasi pribadi.

Menurut perajin batu akik di sentra ini, sebagian besar stok batu berkualitas tinggi umumnya dijual ke pengepul bermodal besar yang berani membeli bongkahan dengan harga mahal.

Bongkahan ini kemudian dijual ke Jakarta dengan harga berkali-kali lipat. Keuntungan akan semakin besar jika batu bongkahan itu telah berubah wujud menjadi cincin batu akik. Wajar kiranya, jika harga sebuah cincin batu akik di ibukota dapat mencapai nilai jutaan rupiah.

Batu Bacan Batu Impian-4-9-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Aneka warna dan corak motif bongkahan batu yang direndam di atas meja. Sumber: dokumentasi pribadi.

Perajin juga menjelaskan, bahwa orang-orang dari Jakarta sering datang ke sentra ini untuk memilih dan memborong bongkahan batu berkualitas tinggi. Untuk bongkahan batu Bacan dan Obi, sentra di Buli sudah tidak memiliki stok lagi, sebab pasokan batu tersebut dari pulau asalnya sudah mulai berkurang atau mungkin di jual langsung ke pengepul yang menjual bongkahan ini ke ibukota.

Sebagian besar batu bongkahan yang ada di sentra kerajinan Buli tergolong batu lokal dengan corak dan motif bergaris. Banyak pula batu kombinasi yang memiliki beberapa campuran warna.

Batu Bacan Batu Impian-4-2-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Aktifitas pemotongan dan penggosokan batu akik di sentra kerajinan batu akik Buli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Batu-batu yang ditemukan sebagian besar tergolong jenis batu agate. Ada juga jenis batu hematite (badar besi), granit, fosil karang (kembang teratai) dan jenis batu lokal seperti giok/jade (batu Buli).

Proses pembuatan cincin batu akik di sentra kerajinan Buli diawali dengan pemilihan bahan baku cincin berupa bongkahan. Corak dan motif cincin yang diinginkan oleh pembeli dapat didiskusikan dengan perajin. Setelah disepakati, perajin akan memotong bongkahan sesuai dengan ukuran yang diminta.

Batu Bacan Batu Impian-4-3-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Aktifitas pembuatan cincin batu akik di sentra kerajinan batu akik Buli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Langkah selanjutnya adalah menempelkan potongan batu akik pada pegangan kayu. Potongan batu kemudian diolesi minyak khusus, digosok dan dibentuk menjadi mata cincin hingga halus menggunakan mesin gerinda listrik.

Bacan-4-14

Gambar 9. Salah satu gerinda listrik yang digunakan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah halus, batu akik yang telah menjadi mata cincin kemudian ditempelkan pada cincin pengikat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Cincin yang sudah jadi ini kemudian ditempatkan di lemari kaca, menunggu pemesan yang akan datang untuk mengambilnya.

Batu Bacan Batu Impian-4-10-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Mata cincin batu akik Giok Buli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Salah satu jenis batu akik yang berasal dari daerah setempat adalah Giok Buli.  Batu ini berwarna hijau muda seperti warna hijau telur asin. Jenis batu lokal lainnya adalah batu Lolobata yang berwarna merah seperti warna hati ayam. Badar besi yang memiliki sifat magnetik juga ditemukan di salah satu los.

Batu Bacan Batu Impian-4-11-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Ragam cincin batu akik di lemari kaca. Sumber: dokumentasi pribadi.

Menurut perajin batu akik di sentra kerajinan ini, harga batu akik di Buli masih tergolong murah. Kualitas cincin pengikat dan ukirannya juga masih lebih baik dibandingkan dengan cincin pengikat dari daerah lain di luar Maluku Utara.

Cincin batu akik yang baik sangat dipengaruhi oleh kualitas mata cincin serta cincin pengikatnya. Batu cincin dengan perpaduan warna-warni kontras yang membentuk corak unik dapat dipilih.

Untuk pengikat, sebaiknya dipilih cincin yang memiliki ukiran menarik serta sesuai dengan ukuran jari kita. Jangan memilih pengikat yang terlalu tebal, besar atau terlalu longgar. Batu cincin pun sebaiknya dipilih yang ukurannya proporsional dengan jari kita. Tidak terlalu besar atau terlalu kecil.

Batu Bacan Batu Impian-4-12-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Cincin termahal yang dipajang di sentra kerajinan Buli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Salah satu cincin yang sangat menarik perhatian saya adalah sebuah cincin dari batu bacan non kristal yang memiliki campuran warna-warna coklat, hijau muda, hitam dan putih. Cincin ini dipasang di suatu wadah piringan yang berputar-putar.

Warna-warna pada cincin ini berpadu membentuk corak yang indah sekali. Sayangnya, perajin membandrol cincin ini dengan harga 2,5 juta rupiah. Harga ini merupakan harga cincin termahal di sentra kerajinan ini.

Menurut perajin, harga cincin batu bacan dengan kualitas seperti ini termasuk sangat murah. Namun, bagi saya harga tersebut terlalu mahal. Apa daya, harga memang tak pernah bohong. Batu berkualitas pastilah punya harga yang berkualitas pula.

Dipublikasi di Kebumian | Tag , , , , , , | Tinggalkan komentar