Perbedaan harimau Sumatera, Jawa dan Bali (4)

Warna Tubuh dan Pola Belang

Salah satu ciri paling khas dari harimau adalah belang atau loreng pada tubuhnya. Setiap harimau memiliki warna tubuh dan pola lorengnya sendiri. Corak loreng/belang pada harimau mirip dengan sidik jari manusia yang menjadi ciri khas individu.

Warna bulu harimau yang unik berperan penting sebagai kamuflase saat berburu mangsa dan menjadi salah satu ciri yang digunakan para ahli harimau untuk menentukan jenisnya.

Gambar 1. Warna harimau.

Warna harimau terdiri atas tiga bagian: warna latar atau warna tubuh, warna garis belang dan warna area putih di sekitar perut bagian bawah dan sisi bagian dalam paha dan kaki. Garis belang umumnya berwarna hitam, namun ada juga yang berwarna coklat.

Berdasarkan polanya, garis belang harimau dibedakan menjadi dua, yaitu: loop (lingkaran memanjang yang terbentuk dari dua garis lengkung yang bertemu di kedua ujungnya) dan strip (garis tunggal memanjang) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 di atas.

Tabel 1. Tujuh Karakter Kunci Harimau. 

Untuk membedakan harimau Kontinenal dan harimau Sunda, British Museum of Natural History menggunakan kartu skor (score card) yang berisi tujuh karakter kunci sebagai patokan.

Tabel 2. Standar Tujuh Karakter Kunci Harimau.

Cara ini tergolong praktis dan sederhana, namun dianggap belum memenuhi standar ilmiah sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan subspesies harimau (Kitchener et al. 2010).

Gambar 2. Tujuh Karakter Kunci Harimau yang digunakan oleh British Museum of Natural History untuk membedakan spesimen awetan (taxidermi) harimau.

Harimau Sunda vs Harimau Kontinental

Harimau Sunda dan Harimau Kontinental memiliki perbedaan yang cukup menyolok. Selain dari ukuran, bobot, daerah sebaran dan habitat, keduanya dapat dibedakan dari karakter fisik seperti warna tubuh dan pola lorengnya.

Harimau Sunda umumnya memiliki warna dasar yang lebih gelap dan lebih kusam dibandingkan dengan harimau Kontinental. Hal ini disebabkan karena harimau Sunda hidup di hutan rimba yang rapat dan lembab.

Harimau Malaya termasuk kelompok harimau Kontinental, namun memiliki warna dasar gelap dan kusam seperti harimau Sumatera karena keduanya memiliki tipe habitat yang sama.

Tabel 2. Perbandingan Karakter Fisik Harimau Sunda dan Kontinental

Warna harimau Siberia dan Kaspia umumnya lebih pucat dibandingkan dengan harimau yang hidup di daerah selatan. Hal ini disebabkan karena habitat harimau tersebut berada di wilayah utara yang memiliki lebih sedikit waktu/periode pencahayaan dan bersuhu dingin. Warna pucat lebih baik dalam menyamarkan diri pada kondisi lingkungan bersalju. Bulu harimau Siberia dan Kaspia juga lebih tebal dibandingkan harimau lainnya.

Selain memiliki warna dasar lebih cerah, area berwarna putih di sekitar tubuh seperti di sekitar alis mata, pipi, leher, dada dan bawah perut pada harimau Kontinental terlihat lebih terang dan lebih lebar dibandingkan harimau Sunda. Harimau Bali memiliki area berwarna putih yang lebih terang dibandingkan harimau Sumatera dan Jawa.

Salah satu ciri utama harimau Sunda adalah jumlah garis belangnya yang banyak, lebih tebal dan lebih rapat dibanding harimau Kontinental. Pada harimau Sumatera dan Bali, garis belang umumnya lebih tebal dan berpola loop. Sedangkan harimau Jawa cenderung memiliki garis belang tipis berpola strip. Namun, pola belang harimau Sunda yang paling umum adalah campuran antara loop dan strip.

Tabel 4. Perbandingan Jumlah Garis Belang Harimau. Sumber: Mazak (1996) dalam Kitchener et al. (2010).

Ciri unik lainnya dari harimau Sunda adalah banyaknya spot atau bintik totol kecil berwarna hitam di antara garis belang.Hal ini terutama ditemukan pada harimau Jawa dan Bali. Pola garis belang berbentuk U di pangkal ekor juga menjadi penciri khusus dari harimau Sunda.

Garis belang di tubuh depan dan tubuh belakang juga lebih banyak dibanding harimau Kontinental. Pada harimau Jawa, garis belang di tubuh belakang (backquarter) berbentuk tipis memanjang dan tersusun sangat rapat.

Sebaliknya, pada tubuh bagian depan (forequarter), garis belangnya sangat minim, bahkan seperti menghilang. Pada harimau Sumatera dan Bali garis belang di tubuh depan dan belakang lebih tebal dan lebih banyak dibandingkan harimau Kontinental.

Harimau Sumatera vs Harimau Jawa vs Harimau Bali

Harimau Sumatera berwarna kuning hingga jingga gelap. Tubuh dihiasi dengan garis belang yang banyak, tebal dan rapat. Garis belang ini lebih tebal dibanding milik harimau Jawa. Hal ini menyebabkan warna tubuh harimau Sumatera terlihat lebih gelap. Warna dasar harimau Sumatera juga lebih kusam dibanding harimau Kontinental.

Gambar 3. Profil Harimau Sumatera

Ciri khas yang paling menonjol dari harimau Sumatera adalah rambut surai pejantan yang sangat lebat. Surai ini tumbuh di sekitar muka, berwarna putih. Satu garis belang hitam di sekitar muka yang lebar akan terlihat saat surai ini mengembang.

Surai harimau Sumatera termasuk salah satu yang paling lebat di antara seluruh subspesies harimau. Kadang-kadang, bulu yang panjang tumbuh di perut bagian bawah.

Tabel 5. Perbandingan Karakter Fisik Harimau Sumatera, Jawa dan Bali. 

Harimau Sunda (Harimau Sumatera, Jawa dan Bali) umumnya memiliki jumlah garis belang lebih banyak dan lebih rapat dibandingkan harimau Kontinental. Pola garis belang biasanya terdiri dari kombinasi antara garis tunggal (strip) dan garis berbentuk lingkaran memanjang (loop). Pada harimau Sunda, corak belang yang didominasi oleh garis tunggal jarang ditemukan. Sedangkan pada harimau Kontinental cukup umum ditemukan.

Gambar 4. Profil Harimau Jawa

Harimau Jawa merupakan subspesies harimau dengan jumlah belang paling banyak. Berbeda dengan kerabatnya di Sumatera, belang harimau Jawa lebih tipis dan sangat rapat, terutama di sekitar paha atas. Uniknya, tubuh bagian depan lebih polos dengan jumlah garis belang sangat sedikit. Bahkan, garis belang di tubuh bagian depan ini seolah-olah seperti menghilang secara tiba-tiba.

Harimau Bali identik dengan harimau Jawa. Meski demikian, beberapa perbedaan antara keduanya masih dapat dilihat dengan jelas. Pada harimau Bali garis belang lebih tebal. Namun, garis belang ini jumlahnya tidak jauh berbeda dengan harimau Jawa. Warna tubuh harimau Bali termasuk yang paling gelap di antara seluruh subspesies harimau.

Gambar 5. Profil Harimau Bali

Area berwarna putih di perut dan dada harimau Bali lebih lebar dan lebih terang dibandingkan harimau Jawa dan Sumatera. Area berwarna putih ini meluas ke arah samping perut. Bentuk perluasannya menyerupai lengkungan kurva.

Semua subspesies harimau Indonesia memiliki totol-totol atau bintik bintik (spot) kecil yang tersusun seperti garis lurus di lengan depan dan paha belakang. Totol-totol ini terdapat di antara garis belang. Namun, pada harimau Bali, totol-totol ini lebih terlihat jelas, terutama di sekitar paha.

Harimau China Selatan vs Harimau Indochina vs Harimau Malaya

Harimau China Selatan atau Amoy cukup mudah dibedakan dari harimau lainnya. Warna tubuh umumnya kuning terang hingga merah bata. Jumlah belangnya termasuk yang paling sedikit dibandingkan harimau lainnya. Pola belang berupa kombinasi antara loop dan strip. Pola belang berupa strip murni tanpa loop juga sering ditemukan.

Gambar 6. Profil Harimau China Selatan

Salah satu ciri paling khas dari harimau China selatan adalah area berwarna putih yang sangat lebar di bagian alis, rahang bawah hingga leher dan dada. Area berwarna putih di bagian-bagian tersebut termasuk yang paling lebar dibandingkan harimau lainnya. Uniknya, area putih di bawah perut tidak terlalu lebar.

Gambar 7. Profil Harimau Indochina

Harimau Indochina umumnya berwarna merah bata gelap dengan area putih yang sangat lebar di bagian perut. Area berwarna putih di sekitar alis, rahang bawah, leher dan dada tidak selebar dan seterang harimau China selatan.

Gambar 8. Profil Harimau Malaya

Warna dasar harimau Malaya umumnya kuning terang hingga merah bata. Sebagaimana harimau Sumatera yang hidup di hutan lebat, warna harimau Malaya cenderung lebih kusam dan tidak secerah harimau Indochina. Area berwarna putih di seluruh bagian tubuhnya juga tidak seterang harimau Indochina dan China selatan.

Harimau Siberia vs Harimau Kaspia vs Harimau Benggala

Harimau Siberia memiliki jumlah belang sedikit dengan garis tebal dan jarak yang renggang. Pola belang umumnya kombinasi antara loop dan strip, namun pola belang strip tanpa loop juga sering ditemukan.

Berkebalikan dengan harimau Siberia, garis belang pada harimau Kaspia berjumlah sangat banyak, tipis dan rapat. Pola belang umumnya kombinasi antara loop dan strip. Namun, pola belang strip tanpa loop lebih banyak dijumpai. Jumlah garis loop pada harimau kontinental umumnya lebih sedikit dibanding harimau Sunda.

Gambar 9. Profil Harimau Siberia

Pada harimau Benggala, jumlah garis belang tergolong sedikit dengan garis yang tebal dan tegas serta jarak antar belang yang renggang. Pola belangnya sangat bervariasi mulai dari loop tanpa strip, kombinasi keduanya hingga strip tanpa loop.

Beberapa individu harimau Benggala memiliki garis belang yang sangat hitam, tebal dan rapat yang mengakibatkan warna tubuh harimau menjadi sangat gelap. Hal ini timbul akibat kelainan gen yang memicu terjadinya produksi pigmen melanin berlebihan pada kulit.

Warna dasar harimau Siberia umumnya kuning pucat dengan area berwarna putih yang sangat lebar pada bagian perut. Bulu tubuh tumbuh rapat dan tebal. Ekor sangat tebal berwarna kuning pucat.

Gambar 10. Profil Harimau Kaspia

Harimau Kaspia berwarna kuning terang hingga merah bata. Area berwarna putih di sekitar alis, pipi, leher dada dan perut sangat lebar. Bahkan area berwarna putih ini lebih lebar dibandingkan harimau China selatan. Harimau yang hidup di daerah bersalju cenderung berwarna lebih pucat untuk menyesuaikan diri dengan warna dominan dihabitatnya.

Harimau Benggala memiliki warna dasar tubuh paling cerah, paling indah dan kaya akan variasi. Area berwarna putih umumnya lebih gelap dibanding harimau Siberia dan Kaspia. Harimau Benggala bahkan bisa berwarna putih polos dengan belang yang samar, putih berbelang hitam, atau berwarna keemasan.

Gambar 11. Profil Harimau Benggala

Variasi warna di atas sangat jarang ditemukan di alam dan hanya dapat dijumpai di penangkaran.Secara alami, harimau berwarna putih sulit hidup di alam bebas karena lebih sulit berkamuflase dan mudah terlihat oleh mangsa.

Harimau Kaspia dikenal memiliki rambut/bulu paling panjang dibanding subspesies harimau lainnya. Bulu tebal dan panjang terutama dapat ditemukan di bagian janggut, surai dan bawah perut. Surai yang lebat seperti milik harimau Sumatera juga ditemukan pada beberapa pejantan harimau Benggala.

Referensi :

Andreas Wilting, Alexandre Courtiol, Per Christiansen, Jürgen Niedballa, Anne K. Scharf, Ludovic Orlando,  Niko Balkenhol, Heribert Hofer, Stephanie Kramer-Schadt,Jörns Fickel, Andrew C. Kitchener. 2015. Planning tiger recovery: understanding intraspecific variation for effective conservation. Wilting et al. Sci. Adv. 2015;1:e1400175

Kitchener, A. C.; Breitenmoser-Würsten, C.; Eizirik, E.; Gentry, A.; Werdelin, L.; Wilting, A.; Yamaguchi, N.; Abramov, A. V.; Christiansen, P.; Driscoll, C.; Duckworth, J. W.; Johnson, W.; Luo, S.-J.; Meijaard, E.; O’Donoghue, P.; Sanderson, J.; Seymour, K.; Bruford, M.; Groves, C.; Hoffmann, M.; Nowell, K.; Timmons, Z.; Tobe, S. (2017). “A revised taxonomy of the Felidae: The final report of the Cat Classification Task Force of the IUCN Cat Specialist Group” (PDF). Cat News. Special Issue 11: 66–68.

Kitchener, A.C. and Nobuyuki Yamaguchi. 2010. Chapter 4. What Is a Tiger? Biogeography, Morphology, and Taxonomy. Tiger of The World. Page 53-84. Second Edition. Elsevier Inc.

Kostyria, Alexey, Pavel Fomenko, Vasily Solkin, Femke Hilderink. 2018. The Way of the Tiger: Report on Human—Tiger Conflicts in the Russian Far East. World Wide Fund For Nature (WWF), Vladivostok. 36 p.

Mazak, J. H. 2010. Craniometric variation in the tiger (Panthera tigris): Implications for patterns of diversity, taxonomy and conservation.  Mammalian Biology 75 (2010) 45-68.

Sunquist, F., Mel Sunquist and Terry Whittaker. 2014. The Wild Cat Book. Part: Tiger. Chicago University Press. pp 28-39.

Yamaguchi, Nobuyuki, Carlos A. Driscoll, Lars Werdelin, Alexei V. Abramov, Gabor Csorba, Jacques Cuisin, Bo Fernholm, Michael Hiermeier, Daphne Hills, Luke Hunter, Hiroyuki Itakura, Ulf S. Johansson, Vitaliy Kascheev, Katrin Krohmann, Thomas Martin, Malgosia Nowak-Kemp, Igor Ya. Pavlinov, Francis Renoud, Louise Tomsett, Steven van der Mije, Elena Zholnerovskaya, Colin Groves, Andrew C. Kitchener, Vincent Nijman and David W. Macdonald. 2013. Locating Specimens of Extinct Tiger (Panthera tigris) Subspecies: Javan Tiger (P. T. sondaica), Balinese Tiger (P. T. balica), and Caspian Tiger (P. T. virgata), Including Previously Unpublished Specimens. Mammal Study, 38(3):187-198. 2013. Mammal Society of Japan.

Iklan
Dipublikasi di Fauna | Tag , , , ,