Pieter Bleeker (1819-1878): Bapak Ikan Nusantara

Sosok Pieter Bleeker mungkin kurang dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun, tokoh ini memiliki konstribusi besar dalam menyingkap misteri keragaman hayati nusantara.  Pieter Bleeker atau Pieter von Bleeker, dikenal sebagai ilmuwan besar di bidang Zoologi khususnya sistematik ikan (Ichthyologi) pada abad ke-19.

Salah satu karya monumental Bleeker yang masih digunakan hingga saat ini adalah beberapa volume buku yang berjudul Atlas Ichthyologique des Indes Orientales Neerlandaises, berisi deskripsi ikan laut yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Hingga saat ini,  Bleeker tercatat sebagai  ilmuwan yang paling banyak mendeskripsikan spesies ikan laut di wilayah Indo-Pasifik. Atas konstribusinya tersebut, bolehlah kita menyebut Bleeker sebagai: Bapak Ikan Nusantara.

Gambar 1. Pieter Bleeker (1819-1878) Sumber: Wikimedia.com

Masa Remaja (1819-1842)

Pieter Bleeker lahir dari keluarga kelas menengah di Zandaam, satu kota kecil sedikit di utara Amsterdam, Belanda, pada tanggal 10 Juli 1819. Masa kecil dihabiskan dengan bersekolah hingga usia 12 tahun. Selepas itu, keluarga tidak sanggup lagi membiayai sekolah hingga salah seorang sahabat keluarga yang berprofesi sebagai ahli farmasi (pharmacist) turun tangan membantu pendidikan Bleeker.

Beberapa tahun kemudian, Bleeker mendapatkan ijazah pertamanya sebagai seorang pharmacist dan melanjutkan studinya hingga mendapatkan sertifikasi juru bedah. Bleeker terus bersekolah hingga pada usia 22 tahun dinyatakan lulus sebagai dokter umum.

Semangat belajar Bleeker tidak pernah berhenti dan ia memutuskan untuk terus bersekolah. Pada tahap ini, Bleeker mulai tertarik pada bidang fisiologi dan zoologi serta banyak membaca referensi tentang kedua bidang tersebut di perpustakaan Haarlem.Bleeker semakin tertarik pada sejarah alam dan memutuskan untuk melamar pekerjaan di Museum Sejarah alam Leiden (Rijksmuseum). Namun pihak museum menyatakan belum ada lowongan pekerjaan yang terbuka pada saat itu, sehingga Bleeker memutuskan untuk melanjutkan studi kedokterannya di Paris selama 6 bulan.

Setelah kembali ke Belanda, Bleeker sekali lagi mencoba melamar pekerjaan di Rijksmuseum, namun hasilnya tetap nihil karena memang belum ada lowongan  yang terbuka pada saat itu.  Akhirnya, Bleeker berketetapan hati untuk melamar pekerjaan sebagai dokter militer di Hindia Belanda (Indonesia).

Menetap di Batavia (1842-1860)

Bleeker tiba di Batavia (Jakarta) pada tahun 1842, dan mulai bekerja sebagai juru bedah kelas tiga. Bleeker digambarkan sebagai seseorang yang cerdas, tidak bisa tinggal diam dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Beberapa tahun hidup di Batavia, Bleeker mengusulkan diri membuat jurnal ilmiah di bidang kedokteran dan sejarah alam untuk merangsang publikasi dan kegiatan riset ilmiah di Hindia Belanda yang masih kurang pada saat itu.

Untuk memenuhi rasa keingintahuannya, Bleeker sering kali berjalan-jalan di berbagai tempat di Batavia. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah pasar ikan. Bleeker kemudian mencoba mengidentifikasi beberapa jenis ikan yang diperoleh dari pasar ikan tersebut. Dengan cepat, Bleeker menyadari bahwa beberapa jenis ikan tersebut termasuk spesies baru yang belum dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan pada saat itu.

Bleeker kemudian memutuskan untuk fokus pada identifikasi ikan karena peluang untuk menemukan jenis-jenis ikan yang baru masih sangat besar. Selain itu, mengumpulkan sampel dari pasar ikan tergolong murah, tidak memakan biaya dan waktu yang banyak.

Bleeker menghabiskan sebagian besar waktunya di Batavia. Dalam beberapa tahun posisinya meningkat menjadi ajudan dari kepala departemen kesehatan Hindia Belanda. Selain itu, ia juga menjadi anggota perpustakaan masyarakat Batavia (Batavian Society) dan menjadi editor jurnal ilmiah yang baru dibentuknya. Posisinya yang semakin kuat secara politik dan ketertarikannya pada dunia ilmu pengetahuan sering kali menimbulkan konflik dengan para petinggi Hindia Belanda.

Suatu ketika, data statistik populasi yang dikemukakan oleh Bleeker (salah satu hasil risetnya selain ikan) tidak dipercaya oleh pejabat petinggi gubernur. Bahkan kritik terbukanya terhadap pengeluaran biaya pos yang tinggi membuat berang pihak pemerintah Hindia Belanda sehingga ia tidak diperkenankan lagi untuk tinggal di Batavia selama 2 tahun (1847-1849).

Bleeker kemudian bekerja sebagai juru bedah di beberapa tempat di pulau Jawa (luar Batavia). Penelitiannya tentang ikan pun mengalami masa-masa sulit.  Sekembalinya ke Batavia (1849), Bleeker membangun kembali perkumpulan masyarakat ilmiah yang terbengkalai saat ditinggalkan. Ia pun semakin intensif melakukan studi tentang ikan.

Bleeker yang memiliki jaringan pergaulan sangat luas di Hindia Belanda meminta dengan kerendahan hati agar para koleganya bersedia mengirimkan sampel ikan untuknya. Spesimen ikan untuk Bleeker pun kemudian mengalir deras ke Batavia dari seluruh penjuru Nusantara.

Selama 18 tahun di Hindia Belanda (Indonesia), Bleeker hanya tercatat satu kali keluar pulau Jawa, yaitu saat menemani rombongan gubernur Hindia Belanda melakukan ekspedisi ke Celebes (Sulawesi) dan Maluku pada tahun 1855. Pada tahun tersebut, Bleeker mengumpulkan sampel ikan dalam jumlah yang besar.

Kembali ke Belanda (1860-1878)

Tahun 1860, Bleeker mengajukan pensiun dini dan kembali ke negeri Belanda untuk menyusun dan mempublikasikan  bukunya yang diberi judul Atlas Ichthyologique. Bleeker juga  menghabiskan waktu di museum-museum Belanda untuk mempelajari sampel ikan yang berasal dari daerah lain di luar Hindia Belanda sebagai perbandingan. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan yang diadakan perkumpulan masyarakat ilmiah Belanda serta berkunjung dan berkorespondensi ke sejumlah ilmuwan tenar Eropa di bidang taksonomi ikan (Ichthyologi).

Selama di Batavia, Bleeker mengumpulkan sampel ikan dan mengirimkannya ke seluruh museum di Eropa. Ia juga menjual koleksi khusus (termasuk type specimen dan duplikatnya) ke British museum. Namun sebagian besar koleksi sampel masih  tetap menjadi milik pribadi Bleeker hingga akhir hayatnya. Bleeker meninggal dunia di Hague, pada tanggal 24 Januari 1878 dalam usia 58 tahun. Setelah meninggal, seluruh koleksi sampel ikan Bleeker (sekitar 18.000 spesimen… !!!) dibeli oleh Rijksmuseum Leiden.

Konstribusi Ilmiah

Pieter Bleeker diakui dunia internasional sebagai salah satu ilmuwan yang berkonstribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang taksonomi ikan (Ichthyologi). Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penghargaan yang diperolehnya semasa hidup.

Selama hidupnya, Bleeker menemukan dan mendeskripsikan tidak kurang dari  1.925 spesies ikan baru yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Jumlah temuan Bleeker ini jauh lebih banyak dari ilmuwan ikan manapun. Jumlah spesies ikan yang dinyatakan valid (diterima) oleh sistematika modern saat ini juga sangat besar, yaitu: 743 spesies, hanya kalah oleh Albert Gunther (847 spesies) yang juga seorang ilmuwan terkenal dibidang taksonomi ikan.

Pada tingkat genera, Bleeker berhasil menemukan dan mendeskripsikan sekitar 520 marga ikan baru (298 diantaranya dinyatakan valid/diterima oleh taksonomi modern). Jumlah genera yang valid dari Bleeker ini juga lebih banyak dari ilmuwan ikan manapun.

Pencapaian lainnya yang juga luar biasa dari Bleeker adalah publikasi ilmiahnya. Semasa hidup, Bleeker telah mempublikasikan tidak kurang dari 518 artikel ilmiah (jurnal, laporan dan lain-lain) dalam bahasa Perancis, Belanda, Latin dan Inggris. Bleeker juga  membentuk/menerbitkan 2 jurnal ilmiah dan menjadi editor dari 22 volume diantaranya.

Selain artikel tentang ikan, Bleeker juga mempublikasikan tulisannya yang terkait dengan vertebrata terrestrial, invertebrate darat dan laut, botani, kedokteran, geologi, antropologi, pemerintahan, agama, sejarah, pertanian, statistik dan beberapa artikel lainnya. Dengan demikian, Bleeker juga tergolong ilmuwan prolific (ilmuwan yang menguasai beberapa bidang ilmu).

Akibat kematiannya pada tahun 1878, Bleeker tidak sempat menyelesaikan keseluruhan volume Atlas Ichthyologique. Dari 14 jilid (volume) yang direncanakan, Bleeker hanya sempat menyelesaikan bukunya hingga volume 8 dan sebagian volume 9. Sebagian volume lainnya yang direncanakan telah hilang, namun dapat ditelusuri dan dibuat lengkap kembali. Keseluruhan gambar dan deskripsi buku Bleeker  kemudian diterbitkan ulang oleh Smithsonian Institution antara tahun 1977 hingga 1983 dalam 10 volume.

Berawal dari juru bedah kelas tiga yang tingkatannya rendah, dalam kurun waktu 20 tahun, Bleeker menjelma menjadi sosok yang dihormati dan menduduki kasta tertinggi dalam struktur kehidupan sosial masyarakat ilmiah Eropa. Kerja keras, kegigihan, sifat rendah hati dan jiwa sosial Bleeker telah menjadikannya sebagai salah satu ilmuwan terbesar sepanjang masa.

Gambar 2. Giant Moray (Gymnothorax javanicus), spesies moray terbesar ini pertama kali “ditemukan”, dideskripsikan dan diberi nama ilmiah oleh Bleeker pada tahun 1859. Predator ini hidup di lubang-lubang besar dalam terumbu karang daerah tropis. Panjang maksimum 3 meter dan berpotensi  menyerang penyelam jika merasa terganggu. Sumber: http://www.scuba-equipment-usa.com/marine/DEC03/images/Gymnothorax_javanicus.jpg

Referensi :

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari jurnal di bawah ini (dengan beberapa tambahan) :

Kent E. Carpenter. 2007. A Short Biography of Pieter Bleeker. The Raffless Bulletin of Zoology 2007. Supplement No. 14: 5-6. 31 Januari 2007. National University of Singapore.

http://en.wikipedia.org/wiki/Pieter_Bleeker

Pos ini dipublikasikan di Laut dan tag , , . Tandai permalink.