Kakaban: Danau Ubur-Ubur yang Unik dan Langka

Pernahkah anda membayangkan diri sedang menyelam di antara ratusan bahkan ribuan ubur-ubur ?. Jika anda sering menyelam atau bersnorkelling ria di tepi pantai atau di antara terumbu karang, tentu anda akan spontan menjawab : TIDAK…! .

Saya setuju dengan respon anda. Sengatan ubur-ubur yang menyebabkan rasa gatal dan perih memang seringkali menjengkelkan. Bahkan beberapa jenis diantaranya tidak dapat dipandang sebelah mata karena sengatannya yang mematikan.

Akan tetapi, kesan yang berbeda akan anda temukan, jika menyelam di danau Kakaban. Sebuah danau purba yang menjadi sarang bagi ribuan ubur-ubur tak bersengat.

Letak Danau Kakaban

Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, sebuah pulau kecil tak berpenghuni di pesisir timur Kalimantan. Posisinya sedikit di sebelah utara Tanjung Mangkalihat, tegak lurus ke arah laut lepas dari muara Sungai Berau.

Pulau ini memiliki panjang 6 km, lebar 2,5 km, dan  luas 774,20 ha. Sedangkan danau Kakaban memiliki panjang 2,6 km, lebar 1,5 km, luas sekitar 390 ha dengan kedalaman maksimum 11 m.

Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Bentuk pulau menyerupai angka 6 terbalik dan didominasi oleh dataran karst berbukit kecil dengan lapisan tanah permukaan yang dangkal (<10 cm). Vegetasi yang terdapat di dataran berbukit ini cukup lebat namun secara ekologis tergolong sangat rapuh.

Gambar 1. Posisi Pulau Kakaban (merah). Sumber: Google.com

Gambar 2. Letak Pulau Kakaban (lingkaran merah). Sumber:                 http://www.reefbase.org/ReefGIS/mapper.asp.

Gambar 3. Peta Pulau Kakaban.Sumber: http://www.starfish.ch/Zeichnung/Karten/Kakaban.gif (modified).

Proses Pembentukan Danau Kakaban

Danau Kakaban terbentuk dari sebuah pulau karang berbentuk cincin yang disebut atol. Umumnya, daratan  atol yang muncul ke permukaan laut berukuran sempit dan melingkar. Di tengah atol terdapat semacam kolam berisi air laut yang disebut laguna.

Adanya pergerakan lempeng kulit bumi dan berbagai aktifitas geologi yang kompleks di pesisir timur Kalimantan, menyebabkan karang atol perlahan-lahan mengalami pengangkatan setinggi 40-60 m di atas permukaan laut.

Akibatnya, air laut yang berada di tengah atol pun terjebak dan tidak dapat keluar lagi. Terbentuklah sebuah danau yang penampakannya seolah-olah dipeluk oleh daratan yang ada disekelilingnya.

Dari penampakan itulah pulau dan danau ini mendapatkan namanya: “Kakaban”. Dalam bahasa daerah setempat “kakaban” berarti “memeluk”.

Menurut Massin dan Tomascik (1996), danau atau laguna yang airnya terjebak dan tidak  memiliki hubungan dengan air dengan laut di sekitarnya (melalui permukaan) seperti Danau Kakaban, tergolong jarang ditemukan di alam.

Meskipun terisolir, Danau Kakaban masih tetap mempertahankan karakternya sebagai danau berair asin/payau, sebab di dasar danau terdapat berbagai macam lubang, terowongan, gua atau retakan kecil yang memungkinkan pertukaran air danau dengan lingkungan laut di sekitarnya.

Danau Kakaban dideteksi memiliki pasang surut sekitar 11-19 cm. Sedangkan perairan laut di sekitar pulau Kakaban memiliki pasang surut hingga 2,5 – 3 meter (Kott 1995, Tomascik, 1996). Danau yang memiliki ciri seperti diuraikan di atas, oleh Holthuis (1973) digolongkan sebagai danau Anchialine.

Tidak semua atol yang mengalami pengangkatan akan bernasib sama seperti Danau Kakaban.

Danau Tegano misalnya,yang ada di Pulau Rennell Kepulauan Solomon telah kehilangan sebagian besar ciri-cirinya sebagai danau yang berasal dari laut akibat tidak adanya pertukaran massa air dengan laut di sekitarnya.

Salinitas di danau ini hanya 4 psu (permil) saja. Sedangkan Danau Kakaban berkisar antara 24-26 psu (permil). Pasang surut juga tidak ditemukan di Danau Tegano. Salinitas yang rendah kemungkinan menjadi penyebab absennya ubur-ubur dari danau ini. Namun, jenis alga hijau berkapur Halimeda masih dapat ditemukan.

Beberapa atol lain yang mengalami pengangkatan bahkan hanya menyisakan cekungan tak berair, yang menunjukkan pernah eksisnya sebuah danau yang kemudian menjadi kering.

Salah satunya dapat ditemukan di Pulau Dana/Laut Sawu (Molengraaff, 1929) yang menjadi salah satu pulau terluar di sisi selatan Indonesia. Danau ini menjadi kering karena minimnya curah hujan dan tidak adanya pertukaran air dengan laut sekitarnya (Tomascik, 1994).

Ubur-Ubur Danau Kakaban

Danau Kakaban memiliki setidaknya empat jenis ubur-ubur, yaitu: Ubur-ubur bulan Aurelia aurita (5-50 cm), ubur ubur totol Mastigias cf papua (1-20 cm), ubur-ubur kotak Tripedalia cystophora (7-10 mm) dan ubur-ubur terbalik Cassiopea ornata (15-20 cm).

Ubur-ubur bulan merupakan jenis ubur-ubur terbesar. Tubuhnya dapat dikenali dari warnanya yang putih agak transparan dengan motif daun semanggi di ujung tudungnya. Struktur seperti daun semanggi ini sebenarnya adalah gonad dari ubur-ubur tersebut.

Gambar 4. Spesies Ubur-Ubur Danau Kakaban. A. Ubur-ubur terbalik (upside-down jellyfish) Cassiopea ornata (15-20 cm) B. Ubur-ubur bulan Aurelia aurita (5-50 cm) C. Ubur-ubur totol Mastigias cf papua (1-20 cm) D. Ubur-ubur kotak Tripedalia cystophora (7-10 mm). Sumber Gambar :http://www.art.com/products/p15273713-sa-i3636422/darlyne-a-murawski-upside-down-jellyfish-cassiopeia-ornate-in-a-unique-saltwater-lake.htm, http://www.panoramio.com/photo/1617358, http://abundancesecrets.com/motivational-posters/index.php?item=6015572, http://www.montereybayaquarium.org/animals/AnimalDetails.aspx?id=780784

Ubur-ubur totol (Gambar 4C) merupakan jenis ubur-ubur yang paling banyak jumlahnya di Danau Kakaban. Akibat isolasi selama ribuan tahun, ubur-ubur ini memiliki karakter fisik yang berbeda dengan saudaranya yang hidup di laut.

Kurangnya predator menyebabkan kelenjar sengat (nematosit) dari ubur-ubur ini mengalami reduksi sehingga berukuran sangat kecil. Dalam ekosistem danau Kakaban yang nyaris tanpa predator dan memiliki sumber makanan yang melimpah, keberadaan kelenjar sengat tidak diperlukan lagi.

Selain reduksi pada kelenjar sengat, pola totol pada tubuh ubur-ubur di danau Kakaban juga menghilang. Warna tudungnya pun berubah menjadi kemerahan/pink. Demikian pula dengan tentakel yang tereduksi menjadi lebih kecil sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 5. di bawah ini:

Gambar 5. Akibat isolasi selama ribuan tahun, spesies ubur-ubur totol Mastigias cf papua dari Danau Kakaban (kiri) menunjukkan perubahan morfologi yang drastis dibandingkan dengan saudaranya yang hidup di laut (kanan). Tampak hilangnya motif totol, warna lebih kemerahan/pink dan tentakel yang tereduksi (tanda panah) pada spesies ubur-ubur Kakaban (kiri). Sumber Gambar: http://k41.pbase.com/o4/90/294690/1/61079956.060525derawan156comp.jpg, http://www.oceanwideimages.com/categories.asp?cID=709&p=3

Jenis berikutnya adalah ubur-ubur kotak Tripedalia cystophora (Gambar 4D) yang merupakan spesies ubur-ubur terkecil di Danau Kakaban.

Meskipun ukurannya paling kecil, keluarga ubur-ubur ini (kelas Cubozoa) terkenal sebagai kelompok ubur-ubur dengan daya sengat paling mematikan.

Namun, sebagaimana jenis ubur-ubur sebelumnya, kelenjar nematosit ubur-ubur kotak telah tereduksi sehingga tidak lagi membahayakan bagi manusia.

Jenis ubur-ubur lainnya yang juga unik adalah ubur-ubur terbalik (upside-down jellyfish) Cassiopea ornata (Gambar 4A). Ubur-ubur ini tergolong hewan bentik yang terspesialisasi hidup di dasar perairan.

Berbeda dengan jenis sebelumnya yang memangsa zooplankton, ubur-ubur terbalik mendapatkan makanan dari zooxanthella yang “bersemayam” di dalam jaringan tubuhnya.

Zooxanthella termasuk protozoa berbulu cambuk yang mampu memproduksi makanannya sendiri melalui proses fotosintesis.  Sebagian besar zooxanthella pada ubur ubur ini terkonsentrasi di bagian bawah tudung dan tentakel sehingga untuk memaksimalkan proses fotosintesis,  ubur ubur ini membalik tubuhnya di dasar perairan.

Salah satu pemandangan bawah air yang menyolok dari Danau Kakaban selain ubur-ubur adalah dominannya alga hijau berkapur yang menutupi hampir seluruh dasar perairan.

Jenis alga utama adalah Halimeda opuntia forma triloba yang memiliki talus menyerupai trisula dan tumbuh membentuk hamparan hingga setebal 1,5 m.

Jenis alga lainnya, Halimeda tuna memiliki talus serupa kipas bersusun-susun. Jenis kedua ini lebih banyak tumbuh di sekitar akar bakau yang banyak tumbuh di tepi danau.

Gambar 6. Alga hijau berkapur dan sponges merupakan pemandangan bawah air yang paling dominan di Danau Kakaban. Tampak seorang penyelam sedang mengamati alga hijau dan sponges yang melekat di akar tunjang bakau. Sumber: http://www.panoramio.com/photo/1617358

Menurut Tomascik (1994), kedua alga berkapur yang ada di Danau Kakaban tergolong alga pembangun terumbu yang tahan terhadap suhu tinggi dan energi arus yang besar, sehingga  kuat dugaan, suhu air danau yang mencapai 31°C menjadi faktor pembatas yang menghalangi tumbuhnya jenis alga lain di danau Kakaban.

Kedua jenis alga ini juga diketahui menghasilkan senyawa metabolit sekunder (halimeda-tera-asetat dan halimeda-terial) yang tidak disukai hewan herbivor, sehingga kedua jenis Halimeda tersebut dapat tumbuh maksimal tanpa ada yang mengontrol.

Melimpahnya  jumlah individu dari beberapa spesies di Danau Kakaban menunjukkan adanya faktor pembatas yang menghalangi spesies lain untuk tumbuh dan berkembang.

Suhu dan salinitas kemungkinan menjadi faktor pembatas utama yang berpengaruh terhadap populasi berbagai jenis organism di Danau Kakaban.  Hanya spesies yang memiliki daya adaptasi tinggi dan toleransi lingkungan yang besar saja yang mampu bertahan.

Danau Kakaban termasuk ekosistem yang rapuh. Jika hutan di sekeliling danau ditebang, akan terjadi masukan lumpur dan tanah yang akan membuat danau menjadi dangkal. Pendangkalan danau akan menyebabkan suhu air menjadi cepat meningkat saat kemarau.

Hal ini sangat berbahaya bagi biota yang ada di dalam danau. Demikian pula jika musim hujan, masukan air tawar yang besar ke dalam danau akan menyebabkan fluktuasi salinitas yang drastis.

Gambar 7. Pemandangan Danau Kakaban. Tampak vegetasi mangrove dan hutan bukit kecil yang tumbuh di sepanjang tepian danau. Sumber: B.W. Hoeksema-Naturalis.

Saat ini Danau Kakaban yang menjadi bagian dari Kepulauan Derawan telah dimasukkan sebagai salah satu daerah Kawasan Konservasi Laut di Kabupaten Berau dan diusulkan sebagai salah satu situs warisan dunia.

Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, Danau Kakaban yang unik dan langka ini pun banyak diminati turis mancanegara.

Selain danau Kakaban, Indonesia juga memiliki danau ubur-ubur yang selama ini keberadaannya dirahasiakan dan baru saja terungkap, yaitu: Danau ubur-ubur Togean di utara Pulau Togean, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah.

Berenang di antara ribuan ubur-ubur tak bersengat tentulah menjadi sebuah pengalaman mengesankan yang layak untuk dicoba.

Jika anda berkunjung ke danau tersebut, ingatlah untuk tetap menjaga kelestariannya dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat, mematahkan ranting/cabang pohon yang ada atau mengambil dan membunuh hewan yang dijumpai di sepanjang perjalanan.

Selamat menikmati pesona Danau Kakaban……

Gambar 8. Berpose di antara ribuan ubur-ubur totol Mastigias cf papua Danau Kakaban (kiri) . Sumber Gambar: http://www.divetime.com/photos/Featured/Caroline_Istas/Jelly_Fish_Lake_5503.html

Gambar 9. Berenang di antara ribuan ubur-ubur Kakaban Sumber Gambar: http://www.waikikitravel.com.sg/Diving/Pictures/JellyfishLake.jpg

REFERENSI :

Kott P., 1995. A new colonial Styela (Ascidiacea: Styelidae) from an isolated marine habitat, Kakaban Island, East Kalimantan, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 43: 469-474.

Massin C, Tomascik T, 1996. Two new holothurians (Echinodermata: Holothuroidea) from an anchialine lagoon of an uplifted atoll, Kakaban Island, East Kalimantan, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 44: 157-172.

Ng PKL, Tomascik T, 1994. Orcovita saltatrix, a new genus and species of anchialine varunine crab (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Grapsidae) from Kakaban Island, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 42: 937-948.

Tomascik T, Mah AJ, 1994. The ecology of ‘Halimeda Lagoon’: an anchialine lagoon of a raised atoll, Kakaban Island, East Kalimantan, Indonesia. Tropical Biodiversity 2: 385-399.

Tomascik T, Mah AJ, Nontji A, Moosa MK, 1997: The Ecology of the Indonesian Seas 1: 438-440, 443-446, 474-477, 583-585; 2: 770-781. Periplus, Singapore.

Pos ini dipublikasikan di Kebumian dan tag , , . Tandai permalink.