Duyung: mamalia laut yang terancam

Syahdan, jika mendengar kata duyung, seorang pelaut di masa yang lalu akan seketika teringat dengan sesosok  bidadari yang cantik,  bertubuh separuh manusia dan separuh ikan.

Kerasnya kehidupan laut, terombang-ambing di tengah gelombang samudera yang luas tak bertepi serta berbulan-bulan tak melihat seorang pun kaum hawa,  mungkin telah membentuk hasrat azasi yang kuat di alam bawah sadar para pelaut akan hadirnya sesosok makhluk yang dirindukan.

Di alam aslinya, duyung tergolong hewan besar yang ramah dan lembut. Gerakan renangnya cenderung lambat, memakan lamun yang tumbuh di dasar laut dangkal dengan tenang, sambil sesekali menghirup udara dari permukaan air dengan lubang hidungnya yang berpenutup.

Menurut Winger (2000), gerakan renang sirip depan dan sirip ekor duyung yang lambat, adanya glandula mammae serta sifatnya yang jinak dianggap seperti gambaran seorang putri yang berenang dengan anggun.

Masyarakat Melayu pesisir menyebut duyung dengan nama “dugong” yang berarti “putri laut”. Dari sinilah duyung mendapatkan nama ilmiahnya, Dugong dugon. ”. Dalam bahasa Inggris, duyung  dikenal dengan nama Sapi Laut atau “Sea cow”  (http://en.wikipedia.org wiki/Dugong).

Duyung bersama-sama dengan manati  termasuk ke dalam ordo sirenia,  suatu bangsa yang asal-usul namanya berhubungan dengan  legenda yunani kuno “Sirens”.

Dalam sebuah karya sastra yang terkenal berjudul “Odyssey”, Homer menyatakan bahwa Circe sang penyihir  istana memperingatkan Ullyses agar berhati-hati terhadap nyanyian sihir dari “Sirens” yang menggoda sehingga menyebabkan para pelaut terbuai.  Banyak kapal yang menabrak karang dan tenggelam akibat nyanyian “Sirens” tersebut. (http://en.wikipedia.org/wiki/Siren).

Sirens” merupakan dewi laut yang digambarkan memiliki wajah seperti gadis yang sangat cantik, berbadan seperti burung, memiliki kaki seperti sirip ekor ikan dan memegang alat musik seperti harpa yang disebut “Persephone”.

Duyung (Dugong dugon, Muller 1776) adalah satu-satunya jenis mamalia herbivor yang sepenuhnya hidup di laut dan satu-satunya spesies yang masih tersisa dari suku Dugongidae. Hewan ini umumnya hidup di daerah padang lamun yang dangkal.

Lembaga konservasi dunia “The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources” (IUCN), menyatakan bahwa duyung termasuk dalam daftar hewan yang berstatus langka hingga terancam punah dalam skala global. (Marsh et al. 2002).

Morfologi Duyung

Bentuk tubuh dan ukuran duyung umumnya hampir sama dengan seekor lumba-lumba, namun memiliki kepala yang lebih besar dan tidak memiliki sirip punggung.

Moncong duyung gemuk dan besar, mata kecil, daun telinga hanya berupa lubang dengan bukaan yang kecil dan lubang hidung beserta penutupnya terdapat pada bagian ujung atas (depan) dari moncongnya.

Leher duyung sangat pendek. Sirip dada pendek dengan ujung membulat tanpa kuku. Sirip ini digunakan untuk membantu pergerakan saat berenang ke depan, memutar arah (manuver) dan menjaga keseimbangan. Sepasang kelenjar susu pada betina terletak di bawah sirip dada. Sirip perut tidak ada.

Ekor bercagak mendatar seperti pada Paus yang digunakan untuk berenang. Tubuh duyung berwarna abu-abu hingga keperakan dengan warna perut lebih terang. Kulit duyung halus dan tebal dengan daerah tak berpigmen yang luas.

Rambut-rambut halus yang tumbuh jarang umumnya ditemukan di sekitar kepala dan punggung. Kadang-kadang terdapat banyak goresan-goresan pada kulit duyung yang lebih tua (http://fwie.fw.vt.edu/).

Panjang tubuh duyung dapat mencapai 3 meter dengan berat hingga 400 kg. Rata-rata berat duyung dewasa berkisar antara 250 – 300 kg (551-661 pounds) dengan panjang 2,7 meter (8,9 feet). Duyung betina umumnya memiliki ukuran tubuh lebih besar.

Anak duyung memiliki panjang 1 meter (3,3 feet) dan berat 20 – 35 kg (44 – 77  pounds) saat lahir (http://www.ifaw.org/). Tubuh duyung berukuran lebih kecil dibandingkan dengan kerabatnya di benua Amerika :  manati  yang memiliki panjang 2 – 3,6 m dengan berat hingga 1775 kg (http://en.Wikipedia. org /wiki/Dugong).

Duyung memiliki penglihatan yang lemah tetapi mempuyai pendengaran yang kuat. Tumbuhan lamun yang menjadi makanannya dideteksi dengan bantuan bulu-bulu agak kasar namun sensitif yang tumbuh pada bibir atas.

Sepasang gigi seri seperti gading kecil akan tumbuh pada jantan yang telah dewasa setelah berumur 12-15 tahun atau betina yang telah tua. Gigi tersebut digunakan sebagai senjata bagi duyung jantan untuk saling bertarung memperebutkan duyung betina saat musim kawin tiba (http://www.ifaw.org/).

Berbeda dengan manati, gigi duyung yang baru tidak tumbuh kembali secara kontinu melalui penggantian gigi secara horizontal. (http://en.Wikipedia.  org /wiki/Dugong).

Dari hasil penelitian terhadap sitokrom b pada mitokondria dan analisis DNA diketahui bahwa duyung berkerabat dekat dengan gajah dibandingkan dengan mamalia laut lainnya seperti lumba-lumba dan paus (Joger et al. 2001), tetapi cara hidupnya lebih dekat dengan manati, jenis mamalia laut yang hidup di sungai dan perairan pantai di Afrika Barat, Karibia, Amerika Selatan dan Florida.

Jenis mamalia laut lain yang berkerabat sangat dekat dengan duyung adalah Sapi laut Steller (Steller’s sea cow) Hydrodamalis gigas. Jenis ini sebelumya ditemukan di Pasifik Utara, namun diburu hingga punah oleh pelaut untuk diambil dagingnya sekitar tahun 1768. Sapi laut Steller berukuran sangat besar, dengan ukuran 3 kali lebih panjang daripada duyung dan memakan alga kelp (http://www.gbrmpa.gov.au/

Pos ini dipublikasikan di Laut dan tag , , , , . Tandai permalink.