Badak Jawa semakin langka

Update Posting:

Hari ini, 26 Oktober 2010, berita duka datang dari Vietnam. WWF Internasional dan International Rhino Foundation (IRF) menyatakan bahwa  subspesies Badak Jawa di Vietnam (R. s. annamiticus) dinyatakan telah punah untuk selamanya. Individu terakhir ditemukan dalam keadaan mati pada tahun 2010, dengan luka tembak di kaki dan luka di sekitar hidung akibat cula yang telah dipotong.

Gambar 1. Badak Jawa asal Vietnam (Rhinoceros sondaicus annamiticus). Sumber: http://blogs.scientificamerican.com/extinction-countdown/files/2011/10/Javan-Rhino-Vietnam-1b-300×170.jpg

Menurut beberapa peneliti Konservasi, nasib Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon juga tinggal menghitung hari. Dari sekitar 30-50 individu Badak Jawa yang masih hidup, diperkirakan hanya terdapat 4-5 ekor badak Jawa yang berkelamin betina. Tidak seimbangnya rasio kelamin populasi badak ini mempertinggi resiko kepunahan badak yang sudah sangat kritis ini.

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/10/26/181920/1753352/10/duh-badak-jawa-di-vietnam-dinyatakan-punah

Posting Utama:

Syahdan, suatu ketika, hiduplah sepasang badak di  hutan daerah Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat.  Konon, pasangan badak ini hidup bahagia. Mereka menghabiskan waktu dengan menerabas semak dan perdu untuk mencari makan, bermain petak umpet, berkubang dan menjelajahi alam liar yang segar menghijau sejauh mata memandang.

Tahun 1914, satu peristiwa tragis menimpa pasangan badak tersebut. Tubuh badak betina ditemukan mati membusuk, diterjang peluru pemburu liar. Tinggallah sang badak jantan. Sendirian. Kesepian.

Gambar 1. Badak jantan, individu terakhir dari populasi badak Jawa di luar Ujung Kulon, ditembak mati tanggal 31 Januari 1934, di daerah Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sumber: P. F. Frank (1934).

Dua puluh tahun kemudian, dengan berbagai pertimbangan, sebuah tim dari Museum Zoologi Buitenzorg, dikirim untuk mengakhiri derita sang Badak jantan. Tim ini berusaha mendahului pemburu liar yang terus mengincar cula badak tersebut. Akhirnya, tanggal 31 Januari 1934, P. F. Frank dkk, berhasil menembak mati sang badak. Sesaat setelah terdengar suara letusan, badak itu jatuh tersungkur dan menghembuskan napas yang terakhir, tertembus sebutir peluru Senapan Mauser kaliber 9,3 mm (Gambar 1 dan 2). Sedihnya, badak ini dinyatakan sebagai individu terakhir dari populasi Badak Jawa yang ada di luar Taman Nasional Ujung Kulon. Saat terbunuh, berat badak diperkirakan mencapai 2280 kg.

Gambar 2. Kepala badak jantan yang ditembak mati di daerah Karangnunggal. Sumber: P. F. Frank (1934).

Demi kepentingan dunia ilmu pengetahuan, tim akhirnya memutuskan untuk mengawetkan kulit utuh badak tersebut dengan Arsenik, suatu zat pengawet paling ampuh sekaligus paling beracun yang pernah dikenal. Kini, spesimen Badak Jawa jantan tersebut, dapat dilihat dalam sebuah kotak kaca besar di Museum Zoologi Bogor (Gambar 3).

Gambar 3. Seorang pengunjung sedang berpose dengan spesimen Badak Jawa di Museum Zoologi Bogor (MZB), Jawa Barat. Sumber: Dokumentasi Blog Cakrawala-dody94.wordpress.com (2010).

Bersama dengan Gajah, Harimau, Singa dan Jerapah, Badak termasuk salah satu megafauna yang paling dikenal. Hewan purba bertubuh tegap dan tambun ini identik dengan kulitnya yang tebal, serudukannya yang mengundang maut serta satu atau dua buah tanduk (cula) yang tumbuh di bagian muka (Gambar 4).

Gambar 4. Deskripsi grafis Badak Jawa. Sumber: Kementerian riset dan teknologi (2010).

Berdasarkan catatan fosil yang ditemukan, sekitar 30 spesies badak diperkirakan pernah hidup di bumi. Sebagian besar telah punah dan saat ini hanya tersisa 5 spesies badak saja yang masih bertahan, yaitu:

  1. Badak Putih Ceratotherium simum Burchell, 1817
  2. Badak Hitam Diceros bicornis Linnaeus, 1758
  3. Badak India Rhinoceros unicornis Linnaeus, 1758
  4. Badak Sumatera Dicerorhinus sumatrensis Fischer, 1814
  5. Badak Jawa Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822

Gambar 5. Jenis-jenis badak dunia. Searah jarum jam: Badak India, Badak Jawa, Badak Sumatera dan Badak Putih beserta anaknya. (Sumber: indiaforever.org; rrc.com; billybear4kids.com; arkive.org; dody94.wordpress.com-modified)

Badak putih dan badak hitam hidup di padang rumput dan sabana Afrika. Tubuh badak Afrika ini dikenal berukuran sangat besar dengan cula yang panjang. Sebaliknya, badak Asia memiliki ukuran tubuh lebih kecil dengan cula yang pendek (Gambar 5 dan 6). Umumnya hidup menyendiri di rawa-rawa berumput tinggi, hutan terbuka di dataran rendah atau pun hutan pegunungan tropis bervegetasi lebat.

Gambar 6. Badak Hitam Diceros bicornis di padang sabana Afrika. Jenis badak ini dikenal sangat agresif dan lebih temperamental dibandingkan spesies badak lainnya. Sumber: true-wildlife.blogspot.com.

Di antara semua jenis badak, Badak Jawa adalah spesies yang paling langka dan memiliki resiko kepunahan paling tinggi. Badak Jawa memiliki ukuran sedikit lebih besar dari Badak Sumatera yang ditetapkan sebagai spesies badak terkecil di dunia (Gambar 7).

Gambar 7. Perbandingan tinggi tubuh spesies badak. Sumber: wikimedia.org.

Hubungan Kekerabatan

Analisis hubungan kekerabatan (filogenetik) dari 5 spesies badak berdasarkan sitokrom b mitokondria dan gen-gen 12 rRNA, menunjukkan bahwa Badak Jawa memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan Badak India dibandingkan dengan jenis badak lainnya (Tougard et al. 2001). Hal ini sesuai dengan perkiraan sebelumnya, mengingat kedua jenis badak ini masih tergolong ke dalam satu marga, yaitu: Rhinoceros (Gambar 8).

Gambar 8. Hubungan kekerabatan (filogenetik) Badak Jawa dengan spesies Badak lainnya. Diadaptasi dari Tougard et al. (2001).

Sebaliknya, hubungan kekerabatan Badak Sumatera dengan spesies badak lainnya menunjukkan fakta yang menarik. Meskipun Badak Sumatera bercula dua, hasil riset Tougard et al. (2001) menunjukkan bahwa jenis badak terkecil di dunia tersebut, memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dengan Badak India dan Badak Jawa yang hanya memiliki satu cula. Kedekatan daerah sebaran, diduga menjadi sebab lebih dekatnya hubungan kekerabatan di antara jenis-jenis badak Asia (Gambar 8).

Taksonomi Badak Jawa

Studi tentang Badak Jawa, dilaporkan telah dimulai sejak tahun 1787, ketika dua ekor badak berhasil ditembak di Pulau Jawa. Beberapa tahun kemudian, Alfred Duvaucel, seorang penjelajah asal Perancis berhasil menembak mati seekor badak di Sumatera dan mengirim sampel tengkoraknya ke Georges Cuvier (ilmuwan Perancis yang terkenal). Sampel tersebut kemudian diidentifikasi lebih lanjut oleh Desmarest dan diberi nama Rhinoceros sondaicus pada tahun 1822.

Nama ilmiah Badak Jawa berasal dari bahasa Yunani. Rhino = hidung, ceros = tanduk, sondaicus = sunda,  suatu daerah biogeografi yang sangat luas (paparan sunda) meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan pulau- pulau kecil di sekitarnya.

Daerah Sebaran

Di masa lalu, Badak Jawa tersebar luas di Asia Tenggara meliputi: Bangladesh, Myanmar, Thailand, Vietnam, Semenanjung Malaya hingga Pulau Sumatera dan Jawa. Berdasarkan daerah sebarannya, dikenal 3 subspesies Badak Jawa, yaitu:

  • Rhinoceros sondaicus sondaicus, tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa.
  • Rhinoceros sondaicus annamiticus, tersebar di Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand hingga Semenanjung Malaya. Populasi subspesies ini tergolong sangat kritis dengan jumlah diperkirakan kurang dari 10 ekor. Lokasi terakhir badak ini dilaporkan berada di sekitar aliran Sungai Dong Nai, Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Berdasarkan dimensi jejak kaki, badak ini diketahui memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan dengan kerabatnya di Taman Nasional Ujung Kulon.
  • Rhinoceros sondaicus inermis, tersebar di Bangladesh hingga Burma. Badak ini memiliki ukuran tubuh paling besar dibandingkan subspesies badak Jawa lainnya. Anehnya, cula badak ini sangat kecil dan tidak berkembang dengan baik. Inermis= tak bersenjata (tak bercula).

Gambar 9. Daerah sebaran Badak Jawa. Sumber: wikimedia.org.; dephut RI; rrc.com; dody94.wordpress.com-modified).

Antara tahun 1600-1700, badak Jawa masih tersebar luas di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera dan Jawa. Berbeda dengan kerabatnya Badak Sumatera, Badak Jawa tidak ditemukan di Pulau Kalimantan. Badak Jawa juga tidak ditemukan di daerah Jawa Timur yang beriklim lebih kering (Gambar 9).

Beberapa catatan menunjukkan, daerah pegunungan besar dan terpencil di Jawa tengah dan Jawa Barat, menjadi habitat terakhir bagi Badak Jawa, sebelum seluruh populasinya disapu bersih oleh pemburu hingga punah di awal abad ke 20.

Gambar 10. Badak Jawa dari populasi terakhir yang hidup di hutan-hutan Sumatera, ditembak mati sekitar Tahun 1920-an. Sumber: T. Schilling (1925-1930).

Hingga akhir abad ke-19, populasi Badak Jawa dilaporkan masih ditemukan di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat, diantaranya adalah: Wonosobo (1833), Nusakambangan (1834), Telaga Warna (1866), Gunung Slamet (1867), Tangkuban Perahu (1870), Gede Pangrango (1880), Papandayan (1881), Bandung (1895), Ciremai (1897) dan daerah Karawang Jawa Barat (1912).

Antara tahun 1925-1930, 12 ekor badak yang menjadi populasi terakhir Badak Jawa di Pulau Sumatera, dibantai hingga punah oleh pemburu Eropa. Para pemburu ini mengandalkan pemandu lokal yang mengenal dengan baik daerah pedalaman Sumatera (Gambar 10).

Kini seluruh populasi Badak Jawa hanya terpusat di Semenanjung Ujung Kulon, suatu tonjolan daratan berbentuk segitiga seluas 30,000 ha di ujung barat Pulau Jawa (Gambar 9 dan 12). Sebagian kecil lainnya terdapat di Taman Nasional Cat Tien, di bagian selatan Vietnam. Hampir dapat dipastikan, subspesies Badak Jawa di aliran sungai Dong Nai ini akan punah dalam waktu dekat.

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) adalah Taman Nasional pertama di Indonesia yang diresmikan pada tahun 1980.Pada tahun 1991, UNESCO menetapkan TNUK sebagai situs warisan dunia. Taman Nasional ini meliputi wilayah seluas 1206 km² (termasuk laut seluas 443 km²), mencakup Semenanjung Ujung Kulon (Gambar 9 dan 12), Gunung Honje, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Pulau Handeleum dan beberapa pulau kecil lainnya. Perlu ditegaskan disini, bahwa seluruh populasi Badak Jawa, saat ini hanya dapat ditemukan di Semenanjung Ujung Kulon saja. Daerah Gunung Honje, Pulau Panaitan dan pulau-pulau kecil lainnya tidak dihuni oleh Badak Jawa.

Morfologi Badak Jawa

Badak Jawa termasuk spesies badak terkecil. Ukuran tubuhnya sedikit lebih besar dari Badak Sumatera. Panjang tubuh dari ujung moncong hingga ekor mencapai 392 cm (3-4 m). Panjang kepala sekitar 70 cm. Sedangkan tinggi dari telapak kaki hingga bahu antara 168-175 cm. Berat tubuh berkisar antara 900 hingga 2.300 kg. Warna tubuh abu-abu kehitaman dengan kulit polos tanpa rambut, kecuali pada bagian telinga dan ekor (Gambar 11).

Kulit badak Jawa tergolong tebal berkisar antara 2-3 cm. Pada bagian leher dan punggung terdapat  lipatan kulit yang sangat unik berbentuk seperti pelana kuda. Adanya lipatan kulit ini, memberi kesan seolah-olah Badak Jawa mengenakan pakaian perang berlapis baja, seperti Ksatria dalam film-film laga kolosal ber-setting abad pertengahan. Permukaan kulit terlihat kasar karena terdiri dari mosaik-mosaik kecil yang menyerupai sisik bagian belakang kaki ayam (Gambar 11).

Mata yang relatif kecil membuat Badak Jawa kurang dapat melihat dengan baik (rabun dekat). Akan tetapi, indera pendengaran dan penciuman badak jawa, sangat peka, sehingga sulit didekati oleh manusia (Gambar 11).

Gambar 11. Bagian kepala spesimen Badak Jawa di Museum Zoologi Bogor. Sumber: Dokumentasi Blog Cakrawala-dody94.wordpress.com (2010).

Badak jawa memiliki mulut seperti paruh burung kakatua (Gambar 11). Bentuk mulut seperti ini mempermudah badak jawa menggapai pucuk daun muda yang menjadi makanannya. Gigi seri bagian bawahnya panjang dan tajam yang digunakan untuk menggigit, saat bertarung. Rahang bawah juga dilengkapi dengan enam pasang gigi geraham yang kuat untuk mengunyah makanan. Di alam liar, badak jawa dapat hidup hingga mencapai usia 35-40 tahun.

Ukuran cula Badak Jawa juga paling kecil diantara semua jenis badak, dengan panjang maksimum 30 cm. Berbeda dengan cula badak Afrika yang digunakan untuk bertarung, cula badak jawa lebih sering digunakan untuk menggali dan memindahkan lumpur dalam kubangan, menggapai pucuk perdu serta membuka jalur/jalan melalui vegetasi yang lebat (Gambar 11).

Habitat

Menurut Putro (1997), Badak Jawa hidup di hutan dataran rendah yang selalu menghijau dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Di masa lalu, Badak Jawa dapat ditemukan dengan mudah di hutan-hutan yang dibuka manusia untuk perkebunan. Populasinya yang masih banyak dirasakan cukup mengganggu, sehingga badak ini dianggap sebagai hama pertanian. Bahkan, antara tahun 1747-1749 dan 1820, pemerintah kolonial Hindia Belanda memberikan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh Badak Jawa.

Hutan-hutan di Pulau Sumatera termasuk satu dari sedikit wilayah di dunia yang didiami oleh 2 spesies badak sekaligus, yaitu Badak Jawa dan Badak Sumatera. Meskipun hidup di daerah yang sama (simpatrik), populasi Badak Jawa cenderung lebih banyak ditemukan di hutan dataran rendah. Sebaliknya, Badak Sumatera yang berambut lebih tebal, lebih memilih untuk menyepi di hutan pegunungan.

Dari hasil studi yang telah dilakukan, Rahmat et al. (2008), melaporkan bahwa penyebaran Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), lebih cenderung mengelompok. Badak Jawa umumnya menyukai habitat berupa hutan terbuka yang landai dengan jumlah tumbuhan pakan yang melimpah, memiliki sumber air serta daerah berkubang. Dengan demikian, tidak semua wilayah di Taman Nasional Ujung Kulon dihuni oleh Badak Jawa.

Gambar 12. Peta Habitat utama Badak Jawa di Semenanjung Ujung Kulon. Sumber: (2010).

Lebih lanjut, Rahmat et al. (2008), menyatakan bahwa keberadaan Badak Jawa di TNUK cenderung terkonsentrasi di Semenanjung Ujung Kulon. Di daerah ini, populasi Badak Jawa terpecah menjadi 2 kelompok besar, yaitu di bagian utara semenanjung yang meliputi daerah Cigenter, Cikarang, Tanjung Balagadigi, Nyiur, Citelanca serta Citerjun dan bagian selatan mencakup daerah Cibandawoh, Cikeusik, Citadahan dan Cibunar (Gambar 12).

Putro (1997), menambahkan bahwa habitat Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon sangatlah bervariasi dan memiliki keragaman jenis tumbuhan yang tinggi. Dari hasil analisis vegetasi yang dilakukannya, tercatat setidaknya ada 6 tipe vegetasi yang mencirikan habitat Badak Jawa, yaitu: Asosiasi Langkap (Arenga obtusifolia), Nibung (Oncosperma horridum), Jambu-jambuan (Eugenia sub-glauca), Daun Salam (Eugenia polyantha), Lampeni (Ardisia humilis) dan Cangcaratan (Neonauclea calycina).

Sebagaimana jenis badak lainnya, Badak Jawa membutuhkan daerah berair dalam jumlah yang mencukupi untuk berendam dan berkubang. Sumber garam (salt lick) juga sangat vital bagi kehidupan Badak Jawa. Dimasa yang lalu, alih fungsi hutan dataran rendah menjadi daerah pertanian dan pemukiman, menyebabkan populasi Badak Jawa di luar Ujung Kulon terdesak hingga ke wilayah gunung-gunung terpencil, sebelum akhirnya punah sama sekali di awal abad ke-20.

Perilaku

Badak Jawa memulai aktivitasnya dengan mencari makan saat hari masih pagi-pagi sekali. Menjelang siang, sang Badak akan menuju sungai untuk minum dan berendam. Sebagian lainnya akan berkubang untuk mendinginkan tubuh. Meskipun berkulit tebal, Badak Jawa tidak terlalu tahan dengan panas terik di siang hari, sehingga akan terus beristirahat hingga sore hari. Saat malam tiba, badak akan kembali menjelajah hutan untuk mencari makan.

Badak Jawa hidup menyendiri (soliter) kecuali saat musim kawin atau menyusui.  Kadang, beberapa ekor badak akan berkumpul  bersama di sekitar sumber garam dan kubangan lumpur. Garam merupakan salah satu sumber mineral  paling penting bagi proses fisiologi dan metabolisme Badak Jawa. Jika sumber garam tidak ditemukan di daratan, Badak Jawa dan juga Banteng, akan menuju tepi pantai untuk meminum air laut sesuai kebutuhan.

Gambar 13. Badak Jawa berendam di sebuah sungai di TN Ujung Kulon untuk mendinginkan suhu tubuh. Foto: Nardelli (1986).

Selain  mencari garam, aktifitas berkubang atau mandi lumpur merupakan kegiatan penting bagi Badak Jawa. Tujuannya adalah untuk mendinginkan suhu tubuh dan melindungi kulit dari parasit atau sumber penyakit lainnya.  Badak Jawa biasanya memanfaatkan kubangan lumpur yang dibuat oleh hewan lain. Agar sesuai dengan ukuran tubuhnya, kubangan lumpur digali lebih dalam dan lebar oleh badak menggunakan culanya (Gambar 13 dan 14).

Di kubangan yang becek dan beraroma tajam, Badak Jawa menghabiskan waktu selama 1-3 jam untuk merawat diri dengan mandi lumpur. Selain digunakan oleh badak, kubangan berlumpur juga digunakan oleh hewan lain seperti Babi hutan dan biawak (Gambar 14).

Salah satu perilaku yang unik dari Badak Jawa adalah aktifitas penandaan batas teritorial. Badak Jawa diketahui, sering membanjiri kubangan lumpur dengan air seninya sendiri. Campuran air seni dan lumpur ini kemudian diaduk-aduk, saat sang badak berkubang. Saat kembali menjelajahi hutan, Badak Jawa akan menggesek-gesekkan bagian tubuhnya yang penuh lumpur pada batang pohon tertentu. Hal ini memiliki dua tujuan, yaitu membersihkan kulit dari lumpur dan parasit yang masih melekat di kulit serta menandai batas daerah jelajah. Bau lumpur dan air seni yang menempel di batang pohon, akan bertahan cukup lama dan tidak mudah menguap.

Gambar 14. Badak Jawa berkubang di TN Ujung Kulon. Foto: Nardelli (1986).

Pola Makan dan Jenis Tumbuhan Pakan

Badak Jawa termasuk jenis mamalia herbivor. Berbeda dengan Badak Afrika yang merumput (grazer), Badak Jawa cenderung memakan pucuk dan semak (peragut atau browser).  Spesies ini dikenal memiliki kemampuan paling baik dibandingkan jenis badak lainnya dalam beradaptasi dengan jenis makanan yang berbeda-beda. Makanan Badak Jawa umumnya terdiri dari bagian tunas/pucuk, daun muda, ranting, kulit batang, rumput-rumputan dan berbagai macam buah yang jatuh di tanah (Rahmat et al. 2008). (Gambar 15).

Lebih dari 200 jenis tumbuhan, tercatat menjadi makanan Badak  Jawa. Sebagian besar didominasi oleh vegetasi semak dan perdu yang tumbuh di hutan terbuka yang sedikit ditumbuhi pohon-pohon besar. Spesies ini, setidaknya membutuhkan makanan sekitar 50 kg setiap hari (Gambar 15).

Gambar 15. Badak Jawa meraih pucuk daun di TN Ujung Kulon. Foto: van Strien (2001).

Badak Jawa makan dengan cara menggapai pucuk daun muda menggunakan mulutnya yang mirip paruh burung Kakatua. Jika pucuk/tunas yang diincar terlalu tinggi, maka badak akan berupaya mematahkan batang perdu tersebut dengan gigi seri bawahnya yang tajam atau menabrakkan diri ke perdu/pohon kecil tersebut hingga batangnya roboh (Gambar 15).

Gambar 16. Beberapa jenis tumbuhan yang disukai Badak Jawa. Searah jarum jam: Lampeni (Ardisia humilis), Segel (Dillenia excelsa), Daun Kedondong (Spondias pinnata), Daun Salam (Eugenia polyantha) dan Areuy Leuksa (Poikilospermum suaveolens). Foto: Dari berbagai sumber.

Menurut Putro (1997) dan Rahmat et al. (2008), beberapa jenis tumbuhan yang tercatat sering dikonsumsi Badak Jawa diantaranya adalah: Daun Salam (Eugenia polyantha), Cente (Lantana camara), Sulangkar (Leea sambucina), Lampeni (Ardisia humilis), Tepus (Amomum coccineum), Areuy Leuksa (Poikilospermum suaveolens), Areuy Kawao (Agelaea macrophylla), Bangban (Donax cannaeformis), Kedondong Hutan (Spondias pinnata), Waru (Hibiscus tiliaceus), Segel (Dillenia excelsa), Jeunjeung Kulit (Caesalpinia sp.), Rotan Seel (Daemonorops melanochaetis), Kukuheulang (Uncaria ferrea), Ki Endog (Cynocroches axillaris) serta Glochidion macrocarpum (Gambar 16).

Keragaman jenis makanan yang tinggi dari Badak Jawa, diduga merupakan hasil adaptasi terhadap kondisi habitat. Makanan yang beragam, memungkinkan Badak jawa memperoleh asupan mineral dalam jumlah cukup. Musim berbuah yang berbeda-beda dari tiap-tiap jenis pohon hutan, juga memungkinkan Badak Jawa memperoleh suplai buah sepanjang tahun.  Selain itu, beragamnya makanan, juga mencegah badak Jawa mengalami keracunan akibat terlalu banyak mengonsumsi satu atau dua jenis tumbuhan tertentu (Gambar 16).

Daerah Jelajah

Untuk menjamin ketersediaan makanan, Badak Jawa memiliki daerah teritorial yang dipertahankan. Daerah ini ditandai dengan semprotan air seni (urine) dan kotoran (faeces). Seringkali, garukan kaki di tanah atau patahan pucuk perdu/semak juga digunakan sebagai sarana komunikasi dengan individu badak lainnya.

Daerah jelajah badak jantan berkisar antara 12–20 km² (5–8 miles²). Sedangkan betina memiliki daerah jelajah seluas 3–14 km² (1–5 mi²). Badak Jawa tergolong mamalia yang kalem. Badak ini dikenal jauh lebih sedikit mengeluarkan suara (vocalizing) dibandingkan dengan sepupunya, Badak Sumatera.

Badak Jawa memiliki peran yang penting dalam ekosistem hutan tropis. Mamalia berkulit tebal ini dikenal suka menerobos semak dan perdu, sehingga membentuk suatu lorong/jalur kosong di tengah tegakan vegetasi hutan yang rapat. Lambat laun, bekas jalur yang dilalui badak ini, dimanfaatkan oleh jenis hewan lainnya seperti: rusa, kijang dan banteng sebagai jalan setapak untuk menjelajah hutan.

Reproduksi

Reproduksi Badak Jawa tergolong lambat. Badak jantan mencapai usia dewasa setelah berumur 6 tahun. Sedangkan Badak betina dewasa pada usia 3-4 tahun. Badak betina melahirkan setiap 3-5 tahun sekali. Lama mengandung 16 bulan dengan jumlah anak seekor saja. Anak badak akan disapih setelah berumur 2 tahun atau lebih. Badak betina mulai mengalami menopause pada usia 30 tahun. Menurut Rinaldi et al. (1997), musim kawin Badak Jawa terjadi tiap tahunnya pada sekitar bulan Agustus.

Sensus Badak Jawa

Hingga kini, populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon belum dapat dipastikan jumlahnya.  Daerah jelajah yang luas (25 km²), sifatnya yang penyendiri (soliter), naluri alamiahnya untuk menghindari manusia serta kebiasaannya yang lebih aktif pada malam hari (nokturnal), membuat spesies badak ini sangat sulit dipelajari (Gambar 18).

Status Badak Jawa sebagai mamalia besar yang paling terancam punah, membuat upaya pengamatan populasi secara langsung, juga tidak direkomendasikan, karena dikhawatirkan akan mengganggu/mempengaruhi perilaku satwa ini. Dengan demikian, estimasi jumlah individu badak ini, hanya dapat dilakukan secara tidak langsung, dengan memasang kamera atau video jebak di sepanjang jalur yang diduga dilalui sang badak atau mengamati jejak-jejak yang ditinggalkan (Gambar 17).

Menurut R. Uus Sudjasa,  yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Rhino Monitoring & Protection Unit (RMPU) Taman Nasional Ujung Kulon, sebagaimana dikutip Blog Cakrawala dari Adji Kurniawan (travelplusindonesia.blogspot.com), populasi Badak Jawa pada tahun 2003 diperkirakan berjumlah 58 ekor. Sebagian besar dari populasi ini, didominasi badak berjenis kelamin jantan.

Lebih lanjut, Uus menjelaskan, bahwa estimasi populasi Badak Jawa dilakukan berdasarkan kombinasi dari 3 metode, yaitu sistem belt transect (transek sabuk), camera trap (kamera jebak) dan Analisis DNA.

Gambar 17. Jejak kaki Badak Jawa di pasir (kiri) dan di tanah berlumpur (kanan). Sumber: Adji Kurniawan (travelplusindonesia.blogspot.com).

Metode transek sabuk dilakukan dengan membuat jalur di dalam hutan sepanjang 2 km dengan lebar 1 m. Jejak kaki badak yang berada di dalam/sekitar transek di ukur dimensinya, dihitung jumlahnya dan dicatat arah pergerakannya (Gambar 17).

Berdasarkan dimensi ukuran jejak, umur badak dapat diperkirakan. Jejak kaki badak dewasa berukuran 29-30 cm (Gambar 17), badak remaja berukuran 16-17 cm dan anak badak berukuran di bawah 16 cm.

Metode kedua dilakukan dengan memasang kamera jebak infra merah pada batang pohon di sepanjang daerah yang diperkirakan menjadi jalur lintasan badak. Pergantian kamera atau baterei dilakukan dalam selang waktu beberapa pekan. Dari hasil foto infra merah, dilakukan penghitungan populasi berdasarkan ciri-ciri khusus yang dikenali dari tiap-tiap individu badak.

Pengamatan bentuk cula berdasarkan hasil foto kamera jebak, juga dilakukan untuk membedakan badak jantan dan betina. Badak jantan biasanya memiliki cula yang tumbuh meruncing dengan panjang sekitar 15-20 cm (Gambar 11). Sedangkan badak betina memiliki cula membulat yang tumpul seperti batok (tempurung) kelapa. Jenis kelamin anak badak tidak dapat dideteksi dengan metode ini karena culanya belum tumbuh sempurna.

Cula badak terbentuk dari sekumpulan serabut rambut (bukan tulang) yang mengeras dan terdiri dari zat tanduk (keratin). Zat tanduk pada cula badak ini ternyata sama dengan zat tanduk yang menyusun rambut dan kuku jari kita.

Gambar 18. Badak Jawa sedang mejelajahi pedalaman hutan di Taman Nasional Ujung Kulon.

Hasil analisis data transek sabuk menunjukkan adanya perubahan pada pola jelajah Badak Jawa. Jika dulunya, daerah jelajah badak terkonsentrasi di pantai utara, saat ini daerah jelajah tersebut bergeser ke wilayah pantai bagian selatan yang mencakup Cibandawoh, Cikeusik dan Cibunar (Gambar 12).

Untuk memperoleh hasil estimasi yang lebih akurat, Hariyadi et. al. (2011), melakukan pengambilan data populasi Badak Jawa menggunakan metode Penandaan dan Pelepasan (mark-recapture) berdasarkan identifikasi video dan kamera jebak. Metode ini cukup berhasil diterapkan sebelumnya, dalam menghitung populasi Harimau India yang juga berhabitat di hutan lebat.

Berdasarkan data yang diperoleh dari video jebak selama bulan April 2008- September 2009, populasi Badak Jawa diperkirakan hanya berjumlah 32 individu dengan kisaran populasi antara 29-47 individu (Hariyadi et. al. 2011). Rasio jantan vs betina 3 : 2 dengan pertumbuhan populasi sebesar 1 % per tahun. Dengan demikian, populasi Badak Jawa yang tersisa, masih sangat terancam kepunahan karena hanya mencapai setengah dari persyaratan populasi minimum sebesar 100 individu.

Populasi

Estimasi populasi yang dilakukan oleh berbagai pihak dari tahun 1967 hingga 2009 menunjukkan bahwa jumlah individu Badak Jawa di TNUK berfluktuasi antara 24 hingga 64 individu. Sebagian ahli ekologi satwa liar menyatakan bahwa populasi Badak Jawa ini tergolong stagnan dan kemungkinan telah mencapai batas daya dukung ekologinya. Agar suatu populasi dapat berkembang dengan baik, setidaknya dibutuhkan populasi dengan jumlah individu minimal sebesar 100 individu (Alikodra 2002). Meskipun Ujung Kulon masih dinyatakan layak sebagai habitat bagi Badak Jawa, namun dengan rata-rata populasi sebesar 48 individu, spesies tersebut masih berada pada resiko kepunahan yang tinggi.


Gambar 19. Estimasi Populasi Badak Jawa Tahun 1967-2009. Sumber: Balai TNUK dan lain-lain (2011).

Dari penelitian yang dilakukan, Putro (1997) menyatakan bahwa berbagai faktor lingkungan dapat menyebabkan kepunahan Badak Jawa. Ancaman perburuan, degradasi habitat, bencana alam tsunami, letusan gunung berapi, perubahan iklim, penularan penyakit dari hewan ternak serta berkurangnya keragaman genetik akibat kawin sedarah (inbreeding) menjadi ancaman utama bagi populasi Badak Jawa yang masih tersisa.

Dari hasil penelitiannya, Putro (1997) menemukan bahwa serbuan invasif palem Langkap (Arenga obtusifolia), Rotan Seel (Daemonorops melanochaetis) dan Bambu (Dinocloa scandens) menyebabkan terdesaknya jenis-jenis tumbuhan yang menjadi makanan Badak Jawa, akibat kalah bersaing dalam memperebutkan ruang untuk tumbuh. Jumlah biji yang banyak, pertumbuhan kecambah yang cepat serta laju pertumbuhan semai yang tinggi menyebabkan Langkap mendominasi vegetasi hutan terbuka di Ujung Kulon (Gambar 20).

Gambar 20. Langkap (Arenga obtusifolia) beserta buahnya. Jenis palem ini bersifat sangat invasif dan tumbuh cepat menutupi ruang sehingga menyebabkan terdesaknya jenis tumbuhan lain yang menjadi makanan Badak Jawa. Foto: Kerry Crosbie (2010).

Konservasi

Penemuan 2 ekor Badak Jawa yang menjelajah hingga ke Kalejetan, suatu tempat di sekitar Gunung Honje yang sudah lama ditinggalkan, mengindikasikan adanya gangguan habitat. Berkurangnya tumbuhan pakan akibat invasi Langkap dan persaingan intraspesifik dengan Banteng, diduga menjadi penyebab menyebarnya Badak Jawa hingga keluar dari habitat permanennya.  Terpusatnya Badak Jawa di satu lokasi, juga mempertinggi resiko kepunahan Badak Jawa dari bencana alam dan faktor eksternal lainnya (Tim peneliti badak JKSH 1997).

Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengelolaan habitat agar tetap mendukung populasi Badak Jawa yang masih tersisa. Pembabatan langkap secara hati-hati dan terencana, juga diperlukan untuk merangsang pertumbuhan pakan alami badak. Wacana pemindahan sebagian populasi Badak Jawa secara alami ke lokasi kedua di Gunung Honje atau translokasi badak secara sangat hati-hati dan terencana ke Gunung Salak dan Halimun kiranya perlu didukung oleh semua pihak.

Semoga saja, populasi Badak Jawa yang semakin langka dapat bertambah, agar kelak anak cucu kita, masih dapat menyaksikannya menjelajahi nusantara.

Gambar 21. Badak Jawa diabadikan dalam uang kertas RI pecahan Rp.100,- yang diterbitkan tahun 1977. Sumber: rrc.com (2010)

Sumber: https://dody94.wordpress.com.

Referensi

Alikodra, HS . 2002. Pengelolaan Satwaliar. Jilid I. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bogor. 363 hlm.

Hariyadi ARS, Priambudi A, Setiawan R, Daryan D, Yayus A dan Purnama H. 2011. Estimating the population structure of Javan rhinos (Rhinoceros sondaicus) in Ujung Kulon National Park using the mark recapture method based on video and camera trap identification. Pachyderm No.49 January-June 2011.

http://en.wikipedia.org/wiki/Javan_rhinoceros

Kurniawan A. 2006.  http://travelplusindonesia.blogspot.com/2010/06/melacak-sang-primadona-ujung-kulon.html

Putro, HR. 1997. Heterogenitas habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desm. 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Media Konservasi Edisi Khusus, 1997 : Hal.17-40.

Rahmat UM, Santosa Y, Kartono AP. 2008. Analisis Preferensi Habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. JMHT Vol. XIV, (3): 115-124, Agustus 2008.

Rinaldi D, Mulyani YA dan Arief H. 1997. Status Populasi dan Perilaku Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Media Konservasi Edisi Khusus, 1997 : 41 – 47.

Schenkel R and Schenkel-Hullinger, L. (1969). The Javan rhinoceros in Ujung Kulon Nature Reserve: its ecology and behavior. Acta Tropica 26:98–135.

Tim Peneliti Badak Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan IPB. 1997. Panduan Pengelolaan Habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Media Konservasi Edisi Khusus, 1997 : Hal. i – 15

Tougard C,  Delefosse T, Hanni C, and Montgelard. 2001. Phylogenetic Relationships of the Five Extant Rhinoceros Species (Rhinocerotidae, Perissodactyla) Based on Mitochondrial Cytochrome b and 12S rRNA Genes. Molecular Phylogenetics and Evolution Vol. 19, No. 1, April, pp. 34–44.

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , . Tandai permalink.