Pohon Peneduh Jalan Tak Sekedar Rindang (1)

Berjalan kaki atau bersepeda bersama keluarga di pagi/sore yang cerah, tentulah menjadi satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Apalagi jika dilakukan di pedestrian yang aman,  luas dan teduh di bawah rindangnya pepohonan.

Sayangnya, melakukan kegiatan akhir pekan seperti di atas masih menjadi sebatas impian, mengingat buruknya kualitas jalan dan pedestrian di Indonesia.

Selain jalan berlubang, banyaknya pohon yang tumbang saat musim hujan di jalan-jalan kota Jakarta dan kota lainnya,  menunjukkan, ada sesuatu yang salah dengan sistem pengelolaan  infrastruktur jalan di negeri ini.

Jalan raya merupakan  fasilitas umum yang paling vital bagi masyarakat (selain instalasi listrik dan air), sehingga harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Ibarat urat nadi, jalan raya sangat menentukan hidup matinya suatu bangsa.

Peningkatan kualitas jalan dapat dilakukan dengan peningkatan spesifikasi/mutu bahan material pembuatan jalan, penambahan rambu dan marka petunjuk jalan dan yang tak kalah pentingnya: pohon peneduh jalan.

Menurut Direktoral Jenderal Bina Marga (1996), penanaman pohon ditepi jalan bertujuan untuk memisahkan pejalan kaki dari kendaraan demi keselamatan dan kenyamanan serta memberi ruang bagi utilitas ataupun perlengkapan jalan lainnya.

Memilih jenis pohon untuk peneduh jalan tidaklah mudah, karena harus memenuhi banyak kriteria. Pohon peneduh jalan haruslah dari jenis yang kuat, tahan terhadap pengaruh cuaca ekstrim dan dapat beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan yang berbeda.

Beberapa kriteria pohon peneduh jalan yang baik adalah:  memiliki kayu yang kuat, daunnya rimbun dan rapat serta tidak mudah gugur, cabang dan ranting tidak mudah patah, batang tegak  lurus dengan daerah bebas cabang di atas 3 meter, sistem perakaran  yang kuat dan dalam serta  tidak melebar sehingga tidak merusak jalan/saluran air.

Selain itu, pohon peneduh jalan yang baik  tidak  menghasilkan getah beracun, tidak berduri, serbuk sari tidak menimbulkan alergi, tidak bersifat invasif (berbiak cepat dan mendominasi), memiliki nilai estetika (keindahan) yang tinggi dan akan menjadi nilai tambah jika jenis pohon tersebut menjadi icon daerah atau identitas suatu propinsi.

Menurut Carpenter (1975) dalam Wungkar (2005), pohon peneduh jalan memiliki banyak fungsi. Diantaranya sebagai kontrol visual, pengarah angin, mendinginkan suhu udara dan mengurangi kelembaban, perlindungan dari terik matahari dan hujan, penyaring polutan, mengurangi kebisingan, mencegah erosi, sebagai habitat alami bagi hewan, memiliki fungsi estetika  serta dapat menjadi ciri khas bagi suatu daerah.

Dari pengamatan penulis, beberapa jenis pohon yang banyak digunakan sebagai tanaman peneduh jalan saat ini, seperti: trembesi (Samanea saman), Angsana (Pterocarpus indicus), Kiara Payung (Filicium decipiens) dan beringin (Ficus spp.) memiliki banyak kelemahan sehingga tidak layak dijadikan pohon peneduh jalan.

Pohon Trembesi misalnya, memiliki sistem perakaran yang tumbuh melebar sehingga merusak  badan jalan dan saluran air. Kayu batang dan cabang Trembesi juga tergolong lunak sehingga mudah patah. Tajuk umumnya tumbuh melebar sehingga mengganggu kabel listrik di tepi jalan.

Pohon Kiara Payung juga kurang cocok dijadikan pohon peneduh jalan karena batangnya yang rapuh serta daunnya yang mudah rontok sehingga mengotori jalan.

Pohon Angsana memiliki batang dan sistem perakaran yang rapuh sehingga mudah tumbang di terjang angin kencang. Sebagian besar pohon Angsana yang di tanam di tepi jalan, berasal dari bibit yang diperbanyak dengan stek sehingga tidak memiliki akar tunggang. Akibatnya, akar pohon ini tidak mampu menahan berat pohon di atasnya yang mendapat tekanan dari hembusan angin yang kuat.

Trembesi sebenarnya merupakan pohon besar yang indah. Tajuk kubahnya tumbuh sempurna sehingga terkesan agung dan berwibawa. Oleh karenanya, pohon ini lebih cocok di tanam sebagai pohon peneduh di pinggir alun-alun, lapangan atau taman terbuka yang luas.

Demikian pula dengan pohon beringin yang  memiliki bentuk dan sifat yang menyerupai Trembesi. Pohon ini juga lebih cocok di tanam di alun-alun terbuka. Kelebihan pohon Beringin terletak pada buahnya yang sangat disukai oleh berbagai jenis burung dan hewan lain sehingga pohon ini akan sangat baik jika di tanam dalam hutan kota atau daerah konservasi.

Pada postingan berikutnya, akan kami uraikan beberapa contoh jenis pohon yang baik untuk dijadikan sebagai pohon peneduh jalan di Indonesia.

Referensi :

Wungkar, MM. 2005. Evaluasi Aspek Fungsi dan Kualitas Estetika Arsitektural Pohon Lanskap Jalan Kota Bogor. Tesis. Sekolah Pascasarjana IPB Bogor. 142 halaman.

Pos ini dipublikasikan di Flora dan tag , , . Tandai permalink.