Sapi Laut di Indonesia terancam punah

Sapi Laut di Indonesia terancam punah. Populasi di seluruh Indonesia diperkirakan terus menurun akibat perburuan dan rusaknya habitat.

Marsh et.al (2002) memperkirakan bahwa jumlah total populasi Sapi Laut di seluruh Indonesia tidak lebih dari 1000 ekor dan terus menurun.

Kurangnya monitoring dan survei terhadap Sapi Laut, membuat populasi dan sebaran hewan ini tidak diketahui dengan pasti. Sapi Laut sudah sangat sulit ditemukan saat ini.

Sapi Laut tergolong hewan mamalia berukuran besar yang hidup di laut dangkal di wilayah tropis Asia dan Australia. Makanan utamanya adalah daun dan rimpang “Lamun”, sejenis tumbuhan laut yang bentuknya seperti rumput (seagrass).

Duyung-dody94.wp.com-1

Gambar 1. Induk Sapi Laut dan anaknya. Sapi Laut muda berwarna lebih terang dibandingkan dengan Sapi Laut Dewasa. (Gambar: Myers, W.-ADW. 2002)

Sepintas, bentuk tubuh Sapi Laut mirip dengan lumba-lumba. Kepalanya besar dengan moncong yang besar dan menekuk ke bawah. Matanya kecil, telinga berbentuk seperti lubang kecil.  Hidungnya juga kecil, seperti lubang yang dilengkapi dengan penutup.

Leher Sapi Laut sangat pendek. Kaki depan berubah jadi sirip yang digunakan untuk berenang, bermanuver dan menjaga keseimbangan.

Berbeda dengan lumba-lumba, Sapi laut tidak memiliki sirip punggung. Sepasang kelenjar susu tersembunyi di bawah sirip dada. Sirip perut tidak ada. Ekor bercagak mendatar seperti pada Paus yang digunakan untuk berenang

Tubuh Sapi Laut dewasa berwarna abu-abu hingga keperakan. Sedangkan Sapi Laut remaja berwarna campuran antara merah muda dan abu-abu. Warna di bagian perut lebih terang. Kulitnya halus dan tebal dengan daerah tak berpigmen yang luas.

Rambut-rambut halus yang tumbuh jarang dapat ditemukan di sekitar kepala dan punggung. Sapi Laut yang tua seringkali memiliki kulit yang tergores-gores.   

Duyung-dody94.wp.com-2Gambar 2. Sapi Laut sedang merumput lamun. Perhatikan kulit yang memiliki banyak goresan-goresan. Banyak kasus kematian Sapi Laut terjadi akibat infeksi yang disebabkan oleh luka tergores baling-baling kapal (Foto: D. Yates).

Panjang tubuh Sapi Laut dapat mencapai 3 meter dengan berat hingga 400 kg. Berat rata-rata dewasa berkisar antara 250 – 300 kg (551-661 pounds) dengan panjang 2,7 meter (8,9 feet).

Jenis betina memiliki ukuran tubuh lebih besar. Anak Sapi Laut memiliki panjang 1 meter (3,3 feet) dan berat 20 – 35 kg (44 – 77  pounds) saat lahir.

Mata yang kecil membuat Sapi Laut memiliki penglihatan yang lemah. Akan tetapi pendengarannya sangat peka. Tumbuhan lamun yang menjadi makanannya dideteksi dengan bantuan rambut-rambut agak kasar namun sensitif yang tumbuh pada bibir atas.

Duyung-dody94.wp.com-kepala lengkap

Gambar 3. Bagian kepala Sapi Laut. Pada Gambar kiri atas tampak Telinga (A), Mata (B) dan Hidung (C). Tampak depan moncong Sapi Laut (kanan atas). Rambut di sekitar bibir untuk mendeteksi makanan (kiri bawah). Hidung dan lubang penutup hidung (kanan bawah). Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Sepasang gigi seri seperti gading kecil akan tumbuh pada jantan yang telah dewasa setelah berumur 12-15 tahun atau betina yang telah tua.

Gigi tersebut digunakan sebagai senjata bagi duyung jantan untuk saling bertarung memperebutkan duyung betina saat musim kawin tiba. Gading ini seringkali dijadikan semacam alat pengisap tembakau atau Cangklong oleh pengrajin.

Duyung-dody94.wp.com-utuh dan ekor

Gambar 4. Badan utuh Sapi Laut. Hewan ini tidak memiliki sirip punggung (kiri). Kepala dan sirip depan (kanan atas). Ekor pipih, lebar dan menggarpu (kanan bawah). Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Meskipun dapat hidup hingga usia 70 tahun, siklus reproduksi Sapi Laut tergolong sangat lambat. Mamalia ini mulai siap bereproduksi setelah berumur 16-17 tahun. Masa mengandung 13-14 bulan, menyusui 14-18 bulan, pengasuhan 3-7 tahun dan masa remaja 6 -17 tahun.

Dengan demikian, betina akan melahirkan satu ekor anak  setiap 3-5 tahun sekali. Dari seluruh populasi betina, hanya 5 % yang bereproduksi setiap tahun dan dari seluruh anak yang lahir, hanya 5 % saja yang dapat mencapai usia dewasa.

Duyung-dody94.wp.com-riset

Gambar 5. Warna kulit yang terang menunjukkan bahwa kemungkinan Sapi Laut dalam Gambar tergolong masih remaja. Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Sapi Laut dapat ditemukan di seluruh perairan Indonesia. Namun populasinya sangat kecil dan terpencar-pencar, hanya berkisar 3-7 ekor pada setiap lokasi.

Marst et. al. (2002) melaporkan bahwa Sapi Laut pernah ditemukan di Riau, Bangka, Belitung (Sumatera), Pantai Ujung Kulon, Cilegon, selatan Cilacap, tenggara Blambangan (Jawa), Balikpapan, Kota Waringin, Karimata, Teluk Kumai, Derawan (Kalimantan).

Dugong-range

Gambar 6. Daerah sebaran Sapi Laut. Sumber: Wikipedia.

Sapi Laut ditemukan tersebar di seluruhIndonesia. Di Sulawesi, sapi laut di Bunaken, Selat Lembeh, Kepulauan Togian, Wakatobi,  Takabonerate, Selayar, Kepulauan Spermonde tepatnya: P. Barrang lompo, Barrangcaddi, Samalona, Sanrobengi dan Kapoposang.

Di Nusa Tenggara, Sapi Laut tersebar di Bali Selatan, Uluwatu, Pantai Padang-padang (Bali), Sikka, Semau, Sumba, Lembata, Flores, Kupang, Pantai Taman Nasional Komodo.

Di Papua, Sapi laut tersebar di Kepulauan Aru, Kepulauan Lease (Haruku, Saparua, Nusa Laut, Seram, Halmahera Selatan (Maluku) dan Biak, Padaido, Sorong, Fakfak, Taman Nasional Laut Cendrawasih, Pantai Taman Nasional Wasur.

Sapi Laut tergolong hewan yang dilindungi di Indonesia. IUCN menggolongkan Sapi Laut dalam kondisi rentan terhadap kepunahan (Vulnerable). Sedangkan CITES memasukkan Sapi Laut dalam Appendix I, sebagai hewan yang tidak boleh diperjualbelikan dalam bentuk apapun di pasar Internasional.

Sapi Laut secara kultural sangat penting bagi penduduk asli (“indigenous people”) di berbagai wilayah di mana mamalia laut tersebut berada.

Duyung umumnya diburu dan ditangkap oleh penduduk setempat untuk diambil dagingnya, minyaknya (lemaknya), untuk bahan pembuatan obat-obatan, jimat dan berbagai produk lainnya (Marsh et al, 2002).

Di Australia, pada tahun 1990-an penduduk asli menangkap sebanyak 1000 ekor Sapi Laut setiap tahun.

Hak untuk menangkap Sapi Laut bagi penduduk asli (Aborigin) sebagai bagian dari kebuadayaan mereka dijamin oleh undang-undang di Australia, namun tidak diberikan kepada perorangan atau tertentu secara eksklusif maupun untuk tujuan komersial (Marsh et al, 2002).

Australia adalah negara yang memiliki populasi Sapi Laut tertinggi di dunia dengan jumlah total diperkirakan berkisar antara 70.000-80.000 ekor. Sebagian besar populasi hewan ini tersebar di perairan Australia Utara.

Perburuan duyung

Gambar 7. Pemanfaatan Sapi Laut secara tradisional di Tanzania (Sumber foto: Muir, C.E. et al. 2003).

Dalam dunia ilmu pengetahuan, Sapi Laut dikenal dengan nama Dugong dugon Muller 1776, Sea Cow (Inggris) dan duyung (Indonesia). Mamalia tambun ini termasuk dalam suku Dugongidae dan Bangsa Sirenia. Kata dugong diduga berasal dari bahasa Melayu yang berarti putri laut.

Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa Sapi Laut lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan gajah dibandingkan dengan lumba-lumba dan paus (Joger et al. 2001), tetapi cara hidupnya lebih dekat dengan manati, jenis mamalia laut yang hidup di sungai dan perairan pantai di Afrika Barat, Karibia, Amerika Selatan dan Florida.

Pada tahun 2010 silam, penulis pernah bertemu dan mengadakan wawancara singkat dengan nelayan di Kepulauan Spermonde yang berhasil menangkap seekor Sapi Laut muda.

Menurut penduduk setempat, daging Sapi Laut rasanya sangat enak seperti daging sapi yang ada di darat. Harga dagingnya pun sangat murah, yaitu sekitar Rp. 10.000/kg. Mereka juga menginformasikan bahwa saat ini, Sapi Laut sudah sangat jarang ditemukan.

Ironisnya, meski sudah sangat langka, penduduk setempat tetap akan menangkap Sapi Laut yang dijumpai. Sebab mereka merasa rugi untuk membiarkan hewan tersebut tetap hidup dan pada akhirnya akan ditangkap juga oleh nelayan lainnya. “Dari pada orang lain yang tangkap, lebih baik saya yang tangkap duluan. Itu kan rejeki… “.

Pandangan masyarakat lokal ini ini tidak  bisa disalahkan sepenuhnya, sebab lautan adalah wilayah milik umum (common property) dan sebagian besar masyarakat setempat tidak mengetahui, jika Sapi Laut termasuk fauna yang dilindungi.

Jika tidak ada tindakan lebih lanjut dari semua pihak, besar kemungkinan, dalam beberapa dekade mendatang, Sapi Laut akan punah dari Indonesia, menyusul kerabatnya Sapi Laut Steller Hydrodamalis gigas yang lebih dulu punah dibantai para pemburu paus di Selat Bering, Pasifik Utara, pada tahun 1768.

Referensi :

Borum, J.,  C. M. Duarte, D. Krause-Jensen dan T. M. Greve. 2004. European Seagrass : An Introduction   to monitoring and management. The M & MS Project.

Cox, N. 2002. Observation of The dugong (Dugong dugon) in Con Dao National Park, Vetnam and recommendations for further research.

De Iongh, H. H. 1996. Current status of dugongs in Aru, E. Indonesia, In: The Aru archipelago: Plants, Animals, People and Conservation, Publication No.30 of the Netherlands Commission for International Nature Protection, H.P. Nooteboom(ed), 75-86.

Gales, N., R. D. McCauley, J. Lanyon and D. Holley. 2004. Change in abundance of dugongs in Shark Bay, Ningaloo and Exmouth Gulf, Western Australia : evidence for large-scale migration.Wildlife Research 31, 283-290.

GBRMPA (Great Barrier Reef Marine Park Authority). 2007. Dugongs. http://www. gbrmpa. gov.au/corp_site/key_issues/conservation/natural_values/dugongs/dugong_conservation_status

HSUS (The Human Society of United States). A closer look at Marine Mammal. Dugongs. 2007. (http://www.hsus.org/marine_mammals/)

IFAW (International Fund for Animal Welfare) 2007. Dugong Facts and Dugong Endangered Species information at http://www.ifaw.org/ifaw/general/ (diakses tanggal 1 November 2007).

Ilangakoon, A.D. and Tint Tun. 2007. Rediscovering the dugong (Dugong dugon) in Myanmar and capacity building for research and conservation. The Raffles Bulletin of Zoologi 55 (1) : 195-199.

IUCN. 2007. The IUCN red list of threatened species. Dugong dugon -Vulnerable at http://www.iucn.org/ (diakses tanggal  1 November 2007).

Joger, U. and G. Garrido. 2001. Phylogenetic position of Elephas, Loxodonta and Mammuthus, based on molecular evidence. The World of Elephants-International Congress. Rome. Italy.

Lanyon, J. M. 2003. Distribution and abundance of dugongs in Moreton Bay, Queensland Australia. Wildlife Research 30, 397-409.

Lanyon, J. M. and G. D. Sanson. 2006. Mechanical disruption of seagrass in the digestive tract of the dugong. Journal of Zoology 270 277 : 289.

Lanyon, J. M., T. John and H. L. Sneath. 2005. Year-round presence of dugong inpumicestone passage, south-east Queensland, examined in relation to water temperature and seagrass distribution. Wildlife Research 32, 361-368.

Lawler, I., Helene Marsh, Brenda McDonald and Tony Stokes.2002. Dugong in The Great Barrier Reef. Current State of Knowledge. The Australian Governments Cooperative Research Centers Program (CRC Australia).

Marsh, H., Helen Penrose, Carole Eros and Joanna Hugues. 2002. Dugong Status Report and Action Plans for Countries and Territories. Early warning and assesment report series. UNEP/DEWA/RS.02-1

Muir, C.E., A. Sallema, Omari Abdullah, D. De Luca, T.R.B. Davenport. 2003. The Dugong (Dugong dugon) in Tanzania : A national assesment of status, distribution and threat. Wildlife Conservation Society.

Myers, P. 2002. “Dugongidae” (On-line), Animal Diversity Web (ADW). Diakses tanggal 01 November  2007 di  http://animaldiversity.ummz.  umich.edu/  site/accounts/ information /Dugongidae.html. (diakses tanggal  1 November 2007).

Preen, A. 1995. Impact of dugong foraging on seagrass habitat: observational and experimental evidence for cultivation grazing. Marine ecology Progress Series Vol. 124 : 201-213.

SACOAST (South Africa  Coastal Management Office, Marine and Coastal Management, Department of Environmental Affairs and Tourism) 1998. Dugongs. Coastal and Marine Life-Animal ; Vertebrates- Mammals.Website: http://sacoast.wcape.gov. z a

Short, F.T., McKenzie, L.J., Coles, R.G., Gaeckle, J.L. (2004) SeagrassNet Manual for Scientific Monitoring of Seagrass Habitat – Western Pacific Edition. (Univ. of  New  Hampshire, USA; Queensland Department of Primary Industries, (QDPI) Northern Fisheries Center-Australia.

Sirenews. Newsletter of the IUCN/SSC Sirenia Specilalist Group. 2006. Discussion on effective management of Dugongs and Manatees. Number 46 October 2006.

Smithsonian National Zoological Park. 2007. What’s in a Name ?. Manatees and Dugong  at  http://nationalzoo.si.edu/default.cfm.

Sozzani, R. 2007. The Dugong. At http://www.robertosozzani.it/index.html. (diakses  tanggal  1 November 2007).

US status and Law. 1996. Dugong, Taxonomy, Habitat and Evironmental Condition (http://fwie.fw.vt.edu/ WWW /esis/lists/e051011.htm).

Waycott, M., Kathryn McMahon, Jane Mellors, Ainsley Calladine danDiana Kleine. 2004. A guide to tropical seagrasses of the Indo-west Pasific. James Cook University. Townsville. Queensland. Australia.

WDCS (Whale and Dolphin Conservation Society). 2007. Bottlenose dolphin description at http://www.wdcs.org:/dan/publishing.nsf/allweb/(diakses tanggal  1 Nov. 2007).

Winger, J.  2000. What’s in a name (Manatees and dugong) Smithsonian National Zoological Park. Zoo Goer 34 (6) 2000. http://nationalzoo.si.edu /publications/zoogoer/1998 /1/ manateesadapted endagered.cfm. (diakses tanggal  1 November 2007.

Pos ini dipublikasikan di Laut dan tag , , , . Tandai permalink.