Burung gosong si penimbun telur

Indonesia memiliki keragaman spesies burung yang tinggi. Beberapa jenis diantaranya memiliki perilaku bersarang yang unik. Salah satunya adalah burung gosong si penimbun telur.

Burung Gosong termasuk avifauna berukuran sedang (30-40 cm). Sepintas bentuk tubuhnya mirip ayam peliharaan.  Kepalanya kecil, dilengkapi jambul mini pada spesies tertentu. Sayapnya lebar dengan ekor pendek.

Dibandingkan dengan proporsi tubuhnya, kaki burung Gosong tergolong jumbo sehingga ilmuwan memberinya nama: Megapodius (mega=besar, poda=kaki). Kaki digunakan untuk menjelajah dan mengais serasah di lantai Hutan.

Burung Gosong termasuk satwa pemalu sehingga cukup sulit diamati. Saat didekati, burung ini akan lari atau terbang melesat dengan cepat dan menghilang dibalik rimbunnya hutan.

Burung Gosong juga dikenal mengeluarkan suara-suara ganjil yang mendirikan bulu kuduk pada malam hari.

Makanan utama burung Gosong terdiri dari biji-bijian, buah-buahan yang jatuh di tanah, serangga dan hewan kecil yang bersembunyi di balik serasah dedaunan.

Habitat burung Gosong umumnya adalah hutan pantai atau daerah berhutan di pulau-pulau kecil. Daerah sebaran burung Gosong meliputi kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia), Australia dan Kepulauan Pasifik Barat.

Burung Gosong Indonesia

Gambar 1. Jenis-Jenis Burung Gosong di Indonesia. A. Gosong Abu-Abu, B. Gosong Filipina, C. Gosong Sula, D. Gosong kaki Jingga, E. Gosong Biak dan F. Gosong Papua. Sumber: Oriental bird Images dan lain-lain.

Indonesia memiliki 7 spesies burung Gosong dari 12 jenis yang dikenal dunia ilmu pengetahuan. Empat jenis tersebar luas, yaitu: Gosong Abu-Abu (Megapodius freycinet), Gosong Filipina (Megapodius cumingii), Gosong Kaki Jingga (Megapodius reinwardt) dan Gosong Papua (Megapodius decollatus).

Tiga spesies berikutnya tergolong endemik dan hanya dapat ditemukan di Indonesia, yaitu: Gosong Sula (Megapodius bernsteini), Gosong Tanimbar (Megaposius tenimberensis) dan  Gosong Biak (Megapodius geelvinkianus).

Perilaku unik burung Gosong yang paling dikenal adalah kebiasaannya menimbun telur dalam gundukan serasah di dasar hutan. Burung ini memanfaatkan panas yang ditimbulkan oleh pembusukan serasah daun dan ranting untuk menetaskan telurnya. Suhu dalam sarang dapat mencapai 33° Celcius.

Sarang Burung Gosong

Gambar 2. Sarang Burung Gosong. A. Bahan sarang dari ranting dan serasah, B. Sarang raksasa Gosong Tanimbar, C. Sarang Gosong Abu-Abu di Halmahera dan D. Sarang yang telah diambil telurnya. Sumber: A,C,D (dokumentasi pribadi) B (Oriental Bird Images).

Sarang dibangun dengan mengais dan mengumpulkan sampah hutan dengan kaki hingga terbentuk gundukan yang besar. Gundukan sarang ini berbentuk seperti bukit dengan tinggi dapat mencapai 4,5 meter dan lebar hingga 9 meter. Sarang digunakan sepanjang tahun.

Telur burung Gosong berukuran cukup besar, yaitu kira-kira sama dengan setengah genggam tangan orang dewasa. Telur burung yang berkerabat dekat dengan Maleo ini berisi cadangan makanan/kuning telur yang banyak (50-70%). Telur akan berada di dalam sarang selama 3-4 pekan.

Telur-1Gambar 3. Telur burung Gosong. Sumber: Flickr.

Saat menetas, anak burung yang berukuran cukup besar akan keluar dari sarang. Bulu tumbuh lengkap dan sempurna sehingga anak burung dapat langsung hidup mandiri tanpa asuhan induknya (superprecocial).

Anak burung Gosong bahkan dapat terbang beberapa jam setelah ditetaskan. Secara naluriah, burung ini telah mampu mencari makan sendiri dan berlindung dari predator pemangsa.

Meskipun tersebar luas, populasi burung Gosong diketahui terus menurun akibat berkurangnya habitat, pengambilan telur dan perburuan. Burung Gosong umumnya ditangkap menggunakan jerat yang diberi umpan.

Megapodius-1-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Gosong Kaki Jingga asal Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara (A-C). Sumber: A-C (dokumentasi pribadi) dan D (Flickr.com).

Berdasarkan Lampiran PP No.7 Tahun 1999, seluruh jenis burung Gosong (Familia Megapodidae), dikategorikan sebagai jenis satwa yang dilindungi undang-undang.

Oleh IUCN, Gosong Sula, Gosong Tanimbar dan Gosong Biak dikategorikan rentan terhadap kepunahan (vulnerable) karena daerah sebarannya yang terbatas dan populasinya yang cenderung terus menurun.

Gosong Abu-Abu dan Gosong kaki Jingga memiliki daerah sebaran yang luas sehingga dikategorikan berisiko rendah (Least Concern) dari kepunahan.

Untuk menyelamatkan burung unik ini dari kepunahan, kiranya perlu dilakukan berbagai upaya, seperti perlindungan habitat, penegakan hukum, sosialisasi dan penyadaran masyarakat (public awareness).

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , . Tandai permalink.