Bakau Raksasa Halmahera

Awal November 2012, kami mendapat kesempatan menjelajahi satu kawasan yang masih alami di pantai timur Halmahera, Maluku Utara. Daerah tersebut berupa hutan mangrove yang jarang terjamah.

Udara lembab dan bau khas daerah rawa terasa begitu menyengat, saat memasuki hutan payau di pesisir Teluk Buli ini. Akar yang tumbuh tak beraturan di sana sini, kerap menjadi penghalang dan memaksa kami untuk berhati-hati. Lumpur sedalam paha dan lutut pun selalu siap menyambut, jika tak pandai meniti jalan.

dody94.wordpress.com-2

Gambar 1. Tegakan mangrove tua di Halmahera Timur yang didominasi Tanjang Merah Bruguiera gymnorrhyza dan bakau Rhizophora mucronata. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat terjebak dan tak bisa bergerak, ratusan adas dan nyamuk serentak menyerbu dari segala penjuru. Segala jurus pun dikeluarkan untuk menghalau serangga pengganggu ini. Belum lagi ancaman ular dan buaya muara, mengintai kami setiap saat.

Meskipun daerah yang akan dikunjungi dijamin bebas dari kedua reptil buas tersebut, perasaan khawatir dan takut tetaplah ada. Untunglah ada pemandu lokal yang selalu mengawal, sehingga hati menjadi lebih tenang. Perjalanan di tengah belantara mangrove yang penuh akar dan lumpur memang tak pernah mudah.

dody94.wordpress.com-1

Gambar 2. Akar Tunjang Bakau Rhizophora mucronata. Sumber: dokumentasi pribadi.

Perjuangan dan rasa lelah kami akhirnya terbayar sudah, saat berada di tengah-tengah hutan mangrove.  Kami dibuat takjub oleh ratusan pohon bakau berukuran besar yang tumbuh tegak, lurus, tinggi menjulang.

Akar-akarnya tumbuh berjuntai dari batang utama, jauh di atas kepala kami. Akar ini kemudian tumbuh melengkung, menghujam bumi dan menjadi penopang bagi sang bakau yang tumbuh di atas tanah berlumpur yang labil.

dody94.wordpress.com-3

Gambar 3. Pengumpulan data ekologi. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kesunyian hutan mendadak pecah, saat puluhan ekor burung beraneka jenis secara tiba-tiba  hinggap di pucuk-pucuk mangrove tertinggi. Burung khas Halmahera seperti Nuri, Kasturi, Betet, Perkici, Kakatua, Gagak dan Pergam Laut secara nyaris bersamaan mengeluarkan suara-suara parau dan lengkingan tinggi yang memekakkan telinga.

Dalam sekejap, ada rasa haru dan bahagia yang kami rasakan, saat melihat burung-burung ini berkelebat dengan riang di atas dahan-dahan yang tinggi.

Fauna mangrove-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Fauna Mangrove Halmahera. Pergam Laut Ducula bicolor (kiri atas), Nuri Pipi Merah Geoffroyus geoffroyi (kiri bawah), Kakatua Putih Cacatua alba (tengah atas), Ular Phyton Phyton reticulatus (tengah bawah) dan Gagak Halmahera Corvus validus (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Selanjutnya, kami melakukan beberapa aktifitas untuk pengumpulan data ekologi. Dari hasil pengukuran yang kami lakukan, lingkar batang mangrove di hutan ini rata-rata mencapai lebih dari 40 cm dengan tinggi pohon lebih dari 30 meter.

Menurut pemandu, tegakan bakau yang kami amati ini termasuk hutan bakau tua dengan umur diperkirakan lebih dari 50 tahun. Di masa lalu, hutan bakau dengan ukuran seperti ini masih banyak tersebar di Halmahera. Namun saat ini, hutan bakau tua sudah semakin jarang ditemukan akibat alih fungsi lahan dan penebangan untuk arang dan kayu bakar.

Bakau dewasa-Bruguiera gym-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Pengukuran lingkar batang Bakau. Sumber: dokumentasi pribadi.

Penjelajahan kami lanjutkan dengan perahu kayu ke Pulau Pakal, sebuah pulau di Teluk Buli dengan luas sekitar 500 hektar. Pulau ini berbukit-bukit dan kelihatan tak berpenghuni. Hutan mangrove yang tumbuh tergolong tipe mangrove tepi (fringing mangrove) dan mangrove sungai (riverine mangrove).

Tim memutuskan menyisir sisi barat pulau. Dari kejauhan, sebuah lembah di antara bukit tampak ditumbuhi vegetasi mangrove. Kami pun sepakat mendarat di sana.

Hal pertama yang kami jumpai adalah vegetasi hutan pantai yang didominasi oleh tumbuhan penutup tanah Ipomoea pes-caprae, semak dan Pandan.

Pada jarak 50 m dari pantai, kami mendapati sebuah aliran sungai kecil berair tawar yang disekitarnya banyak ditumbuhi tegakan bakau minyak Rhizophora apiculata. Agak sedikit ke dalam, terlihat rawa yang luas ditumbuhi tegakan sagu yang rapat.

Kami memutuskan untuk menjelajahi area di sekitar bakau saja, karena tegakan sagu terlalu rapat untuk dilewati. Genangan air pun relatif dalam. Sebuah habitat yang sangat ideal untuk reptil yang kami takuti: buaya.

Saat berjalan di sekitar hutan bakau ini, kami mengambil sikap ekstra waspada. Mata melirik ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan tempat yang dituju benar-benar bukan sarang buaya. Sesaat kemudian, tatapan mata terpaku pada sebuah pemandangan yang tak biasa.  Beberapa akar tunjang terlihat menyolok di ujung sana.

Halmahera-2

Gambar 6. Akar Tunjang yang sangat besar dari jenis Bakau Minyak Rhizophora apiculata. Sumber: dokumentasi pribadi

Betapa terkejutnya kami, saat melihat dari dekat ukuran akar tunjang yang begitu besar. Akar ini menopang sebatang pohon bakau minyak yang sangat lurus dan besar, 30 meter tingginya. Usia bakau ini kami perkirakan: 75-80 tahun.

Penasaran, salah seorang anggota tim memanjat dan mengukur lingkar batang pohon tersebut. Hasilnya: lingkar batang 201 centimeter (2,01 m) dan diameter batang 63,70 cm. Boleh dikata, bakau ini benar-benar bakau raksasa.  Setidaknya di buku catatan kami.

Halmahera-1

Gambar 7. Pengukuran lingkar batang (kiri) dan tegakan bakau raksasa yang tumbuh lurus dan tinggi melebihi pohon lainnya. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pemandu kami tertawa geli. Menurutnya, untuk sebuah bakau raksasa, bakau minyak di atas, tergolong masih terlalu muda. Di Halmahera selatan masih banyak pohon bakau yang ukurannya jauh lebih besar dan usianya lebih tua. Wadduuhhh…. !!!.

Sayang sekali, perjalanan kali ini tidak mencakup wilayah Halmahera Selatan. Namun kami cukup puas, karena untuk pertama kalinya, dapat melihat pohon bakau raksasa di habitat alaminya.

Mudah-mudahan di lain kesempatan, kami dapat berjumpa lagi dengan bakau lain yang ukurannya jauh lebih besar.

Bakau Raksasa Asia Tenggara dan Australia

Asia Tenggara termasuk salah satu pusat sebaran mangrove di dunia. Beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura memiliki kawasan mangrove alami yang dikelola dengan sangat baik untuk tujuan konservasi, wisata dan edukasi.

Indonesia juga sudah mengembangkan beberapa daerah konservasi atau rehabilitasi hutan mangrove seperti di Cagar Alam Muara Angke Jakarta dan Mangrove Information Center di Jalan By Pass Ngurah Rai Km 21 Bali yang disponsori JICA.

Beberapa pohon bakau raksasa di Asia Tenggara tumbuh di kawasan yang telah dilindungi. Misalnya: sebatang pohon bakau minyak yang tumbuh di Hutan Mangrove Matang, Kuala Sepetang, Perak, Malaysia, memiliki ukuran yang sangat besar dengan lingkar batang 176 cm, diameter 55,6 cm dan usia 65 tahun.

Halmahera-3

Gambar 8. Bakau Minyak raksasa Rhizophora apiculata di Malaysia (kiri dan kanan bawah). Api-Api Raksasa Avicenia lanata di Filipina (kanan atas).

Bakau raksasa dari jenis Api-Api Avicenia lanata juga dapat ditemukan di Hutan Mangrove Cagar Alam Bongsalay, Bgry di Batuan Pulau Masbate, Filipina. Bakau ini memiliki lingkar batang setara 3 pelukan orang dewasa. Umur Api-Api ini diperkirakan sekitar 125 tahun.

Sedangkan bakau raksasa dari jenis pedada, Sonneratia alba ditemukan di Indonesia, tepatnya di Pantai Bama, Kabupaten Situbondo. Daerah ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

Bakau Raksasa Baluran-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Bakau raksasa dari jenis Pedada Sonneratia alba di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Sumber: Trans 7/detik TV.

Pedada ini memiliki lingkar batang 8 meter atau setara 6 pelukan orang dewasa. Diameter batang sekitar 254 cm dengan tinggi pohon 30 m. Pohon ini diperkirakan berusia lebih dari 200 tahun dan diklaim sebagai salah satu pohon bakau terbesar di Asia.

Menurut Mangrove Watch, rekor pohon bakau terbesar di dunia, saat ini dipegang oleh jenis Api-Api Avicennia marina dari Short Island di bagian selatan Moreton Bay Australia. Diameter pohon ini mencapai 300 cm.

Rekor bakau tertua juga berasal dari jenis Api-Api, Avicennia marina berdiameter 270 cm. Bakau ini ditemukan di sekitar sungai Mary, Queensland, Australia. Berdasarkan hasil analisis Karbon, diketahui bahwa bakau tersebut telah berumur 730 tahun.

Beberapa daerah seperti Halmahera Selatan, Teluk Bintuni dan daerah sekitar Taman Nasional Lorentz di Papua memiliki kawasan Mangrove yang luas dan belum terjamah. Tidak menutup kemungkinan, tegakan-tegakan bakau berukuran raksasa masih dapat ditemukan di sana.

Kegiatan riset dan survei mendalam terhadap keanekaragaman hayati kawasan Mangrove di Indonesia perlu lebih intensif dilakukan untuk mendokumentasikan seluruh potensi sumberdaya alam yang ada.

Edukasi, manajemen pengelolaan, penyadaran masyarakat dan penegakan hukum perlu dilaksanakan dengan baik untuk menjamin lestarinya ekosistem mangrove di negeri kita.

Pos ini dipublikasikan di Flora dan tag , . Tandai permalink.