Bonggakaradeng: negeri di atas awan yang terabaikan

Dua tahun yang lalu, tepatnya pertengahan April 2012, penulis mendapat kesempatan mengunjungi pedalaman Sulawesi Selatan. Daerah tersebut bernama Bonggakaradeng, sebuah kecamatan di sisi barat daya Kabupaten Tana Toraja.

Bonggakaradeng-2

Gambar 1. Lokasi Pegunungan Bonggakaradeng. Sumber: Google Earth.

Berbeda dengan Makale atau Rantepao yang tersohor, lokasi yang penulis kunjungi kali ini berada di wilayah yang sangat terpencil dan tidak banyak dikenal orang. Namun, dibalik keterpencilannya, daerah ini menyimpan berjuta pesona. Keindahan alamnya begitu luar biasa. Anda tak percaya?. Silahkan simak tulisan berikut ini.

Profil

Bonggakaradeng didominasi oleh pegunungan dengan elevasi rata-rata sekitar 1200 m di atas permukaan laut. Letaknya yang berada di ketinggian, menyebabkan wilayah ini selalu berselimut kabut tebal. Oleh karenanya, masyarakat setempat kerap menjuluki daerah ini dengan sebutan “negeri di atas awan”.

Bonggakaradeng-2-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Negeri di atas Awan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pengamatan citra satelit melalui Google Earth, menunjukkan profil yang unik dari pegunungan di Bonggakaradeng. Puncak pegunungan umumnya tandus berwarna kecoklatan.

Lereng pegunungan berlipat-lipat, tegas, seperti  lipatan kertas yang dibuat alas obat nyamuk bakar. Di antara lereng ini terdapat banyak sekali ceruk-ceruk lembah berwarna kehijauan.

Proses erosi selama ribuan tahun oleh air dan angin menyebabkan terbentuknya lereng-lereng terjal ini. Pada elevasi yang lebih rendah tampak aliran sungai memanjang berkelok-kelok.

Pegunungan Bonggakaradeng-1

Gambar 3.. Topografi Bonggakaradeng. Sumber: Google Earth.

Musim hujan di Bonggakaradeng berlangsung antara bulan Oktober-Maret dan musim kemarau bulan April-September. Curah hujan berkisar antara 1700-2500 mm/tahun. Dibandingkan dengan wilayah Tana Toraja lainnya, iklim di Bonggakaradeng cenderung lebih kering.

Bonggakaradeng dibentuk menjadi kecamatan berdasarkan Peraturan Daerah No. 18 Tahun 2000 dengan luas wilayah 206,76 km2. Daerah ini berbatasan dengan Kecamatan Malimbong Balepe di sisi utara dan Kabupaten Enrekang di selatan.

Untuk sisi timur, Bonggakaradeng berbatasan dengan tiga kecamatan sekaligus, yaitu: Rano, Rembon dan Makale Selatan. Sedangkan di sisi barat berbatasan dengan Kecamatan Simbuang.

Selain Kelurahan Ratte Buttu yang menjadi pusat administrasi pemerintahan, Kecamatan Bonggakaradeng terbagi lagi menjadi lima desa, yaitu: Lembang Mappa’, Lembang Poton, Lembang Buakayu, Lembang Bau dan Lembang Bau Selatan.

Berdasarkan sensus tanggal 28 Februari 2010, jumlah penduduk Bonggakaradeng mencapai 7.612 jiwa terdiri dari 3.980 Laki-Laki dan 3.632 Perempuan.

Pegunungan Bonggakaradeng-2

Gambar 4. Lereng terjal berlipat-lipat di Bonggakaradeng. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sejarah

Menurut sejarahnya, nama Bonggakaradeng berasal dari 2 suku kata menurut bahasa daerah setempat. Kata Bongga berarti besar dan kata Karadeng berarti Karaeng (bangsawan berkasta tinggi).

Konon, Bonggakaradeng adalah nama orang yang pertama kali membuka daerah tersebut dengan menanam rotan di sepanjang tepian sungai. Rotan yang ditanam terakhir/paling ujung, ditetapkan sebagai batas wilayah Kecamatan.

Potensi Alam

Bonggakaradeng memiliki pemandangan yang indah. Salah satu fenomena alam yang selalu membuat penulis takjub adalah saat kabut turun di pagi hari. Kumpulan uap air ini menyelimuti lereng-lereng gunung dan menutupi lembah, hingga seolah-olah, tempat yang penulis tinggali, seperti melayang di atas awan.

Bonggakaradeng-1-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Kabut di pagi hari. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat sore menjelang, setelah usainya rintik-rintik hujan, rangkaian pegunungan di sisi timur menjadi semakin meriah berhiaskan semburat warna-warni pelangi. Busur alam ciptaan Ilahi itu membentang indah, bak helaian selendang bidadari surga.

Bonggakaradeng-3-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Pelangi di Bonggakaradeng. Sumber: dokumentasi pribadi.

Di akhir musim penghujan di bulan April, lereng gunung dan lembah di Bonggakaradeng tampak menghijau sejauh mata memandang. Kerbau dan Sapi merumput di padang penggembalaan dengan lahapnya.

Salah satu lokasi yang menarik untuk dikunjungi adalah beberapa bukit kecil berbentuk unik di sekitar SMA Negeri 1 Bonggakaradeng. Bukit-bukit ini sebenarnya merupakan padang rumput tempat menggembalakan Sapi dan Kerbau.

Masyarakat setempat menyebut bukit-bukit ini dengan nama Bukit Teletubbies karena bentuknya mirip dengan latar sebuah film anak-anak berjudul sama yang populer beberapa tahun yang lalu.

Bonggakaradeng-17-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Bukit Teletubbies. Tampak rekan penulis (berjaket hitam) terlihat begitu kerdil di sisi kanan gambar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari puncak bukit Teletubbies ini, kita dapat melempar pandangan ke tempat yang jauh hingga ke batas cakrawala. Rangkaian bukit dan gunung, nampak sambung menyambung tak henti-henti. Awan dan kabut berarak mengikuti hembusan angin. Petak-petak sawah, kampung, jalan dan atap-atap rumah panggung, berpadu bagai mosaik alam, nun jauh di bawah sana.

Bonggakaradeng-5-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Pemandangan dari puncak bukit Teletubbies. Sumber: dokumentasi pribadi.

Di antara lereng-lereng terjal, tampak sungai Sa’dan terlihat mengalir deras, berkelok-kelok, bak naga raksasa yang meliuk-liuk membelah pegunungan. Beragam jenis pohon seperti Jati, Bambu, Nira, Sagu, Kopi, Kakao dan lain-lain tumbuh di kebun-kebun sekitarnya. Kumpulan batu-batu besar juga tampak di kiri dan kanannya.

Bonggakaradeng-4-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Kabut tebal di pagi hari. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagian besar penduduk Bonggakaradeng mencari penghidupan dengan bertani dan berkebun. Komoditas yang menjadi andalan diantaranya adalah padi dan kopi. Padi yang dihasilkan berasal dari sawah tadah hujan yang dipanen setahun sekali.

Sawah di sini masih dikelola secara tradisional. Petani sering menggunakan bentangan tali plastik yang digantungi kaleng berisi kerikil-kerikil kecil  atau tali yang dihubungkan dengan orang-orangan sawah untuk mengusir burung.

Kearifan lokal seperti di atas sudah semakin langka, di tengah maraknya penggunaan pupuk dan pestisida yang merusak lingkungan.

Bonggakaradeng-11-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Sawah tadah hujan di lereng gunung. Sumber: dokumentasi pribadi.

Daerah ini juga dikenal sebagai pemasok utama minuman tuak tradisional (Ballo’) bagi Kota Makale dan Rantepao. Tuak ini berasal dari sadapan air nira Aren, Arenga pinnata yang difermentasi sedemikian rupa hingga mengandung alkohol.

Konon, rasa tuak ini pahit dan memabukkan. Namun bagi masyarakat setempat, minuman ini dianggap berkhasiat untuk menghangatkan badan serta menambah stamina.

Aren tumbuh subur dan melimpah di Bonggakaradeng. Pohonnya besar-besar dan tinggi. Bahkan di beberapa kebun milik masyarakat setempat, pohon-pohon aren ini nyaris membentuk tegakan murni.

Penyadap nira Aren berangkat pagi-pagi sekali, bermodalkan parang dan beberapa tabung bambu. Untuk memanjat pohon aren, penduduk setempat menggunakan satu batang bambu besar yang diberi lubang sebagai tempat pijakan kaki.

Tabung bambu yang dipasang hari sebelumnya di periksa satu per satu. Jika, tabung ini sudah penuh dengan air Nira, maka akan diganti dengan tabung bambu yang baru.

Tabung yang penuh air nira dibawa ke rumah untuk diolah menjadi arak (Ballo’). Kadang-kadang, air nira aren ini dipanaskan hingga mengental dan dicetak dengan tempurung kelapa menjadi gula merah.

Bonggakaradeng-16-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Menyadap nira (aren). Sumber: dokumentasi pribadi.

Untuk memenuhi kebutuhan akan protein, penduduk setempat memelihara ikan Mas di sawah-sawah. Bersama ikan Mas ini juga hidup hewan lain yang disebut Belut. Belut ini hidup secara alami di sawah-sawah bebas pestisida milik penduduk dan ditemukan dalam jumlah yang melimpah.

Belut Sawah Monopterus albus sejatinya adalah seekor ikan. Bentuk tubuhnya bulat memanjang. Sebagian besar sirip-siripnya telah menyusut (mengalami rudimentasi) sehingga sepintas lalu bentuknya mirip seekor ular. Belut senang hidup di perairan dangkal berlumpur seperti di sawah-sawah karena makanannya, seperti: ikan, katak, serangga dan udang kecil tersedia dalam jumlah melimpah.

Agar dapat hidup di dalam lumpur, belut banyak membuang sifat-sifatnya sebagai ikan yang dulunya hidup air. Celah insang, sirip, mata, kantung renang dan tulang rusuknya mengecil. Sisik bahkan menghilang. Sebagai gantinya, belut memiliki banyak kelenjar mukosa penghasil lendir di kulit. Lendir ini berfungsi seperti minyak pelumas agar tubuhnya dapat meliuk-liuk dengan bebas di dalam lumpur.

Bonggakaradeng-10-dody94.wordpress.com

Gambar 12. Memanen belut dan ikan Mas. Sumber: dokumentasi pribadi.

Belut adalah predator tangguh. Hewan ini masih dapat hidup di dalam lapisan lumpur yang lembab, meskipun sawah di atasnya sudah mengering berbulan-bulan lamanya akibat kemarau panjang. Bahkan, di daerah beriklim subtropis, hewan ini mampu melewati ganasnya musim dingin.

Akibat hidup di dalam lumpur, mata belut tidak berkembang. Namun, indera penciuman belut sangat peka. Di dalam lumpur yang berbau tajam, belut masih dapat mendeteksi mangsanya. Belut bersifat hermafrodit. Dalam satu individu bisa terdapat dua jenis kelamin sekaligus.

Saat menetas dari telur, semua larva belut berjenis kelamin betina. Saat dewasa, beberapa ekor belut berubah menjadi jantan. Proses perubahan kelamin ini membutuhkan waktu satu tahun lamanya.

Belut memiliki beberapa nama daerah. Di Jawa disebut Welut. Orang Betawi menyebutnya Moa, di Makassar disebut Lenrong. Sedangkan di Bonggakaradeng dan Tana Toraja pada umumnya disebut Lendong.

Bonggakaradeng-18-dody94.wordpress.com

Gambar 13. Menikmati wisata dengan menangkap belut. Sumber: dokumentasi pribadi.

Belut Sawah merupakan hewan asli Indonesia. Ikan dari suku Synbrachidae ini dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1,5 meter. Warna belut sangat bervariasi sesuai dengan kondisi lingkungannya. Belut di Bonggakaradeng berwarna indah. Warna di bagian perut terlihat sangat menyolok berwarna kuning cerah.

Menangkap belut di sawah merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Belut yang licin sangat sulit ditangkap, karena kulitnya penuh lendir yang licin. Seringkali, mengejar dan berlomba menangkap belut di dalam lumpur menimbulkan kelucuan dan kegembiraan. Kegiatan ini mungkin dapat menjadi salah satu atraksi yang menarik, jika pemda setempat ingin mengembangkan kegiatan ekowisata berbasis pedesaan.

Melimpahnya belut menunjukkan masih sehatnya kondisi lingkungan di Bonggakaradeng. Sebab belut tidak bisa hidup di lingkungan yang tercemar pestisida.

Bonggakaradeng-12-dody94.wordpress.com

Gambar 14. Hasil panen setahun sekali. Sumber: dokumentasi pribadi.

Selain sawah dan kebun, tempat lain yang menarik dikunjungi di Bonggakaradeng adalah Sungai Sa’dan (Saddang). Menurut beberapa referensi, sungai sepanjang 182 km dengan 294 anak sungai ini sudah sering digunakan sebagai lokasi arung jeram (rafting). Tingkat kesulitan (grade) bervariasi dari 3-5. Titik start mulai dari Desa Buakayu di Kecamatan Rantepao hingga Desa Pappi di Kabupaten Enrekang.

Bonggakaradeng-8-dody94.wordpress.com

Gambar 15. Melepas penat berlatar jeram sungai Sa’dan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagaimana, Rantepao, Ke’te Kesu, Londa dan Makale, Bonggakaradeng juga memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Lansekap alamnya sangat indah, belum lagi hamparan sawah, kebun dan sungainya. Namun, perlu dilakukan kajian multidisplin yang mendalam terlebih dahulu, untuk menilai kelayakan daerah ini, sebagai salah satu tujuan wisata di Sulawesi Selatan.

Bonggakaradeng-7-dody94.wordpress.com

Gambar 16. Aliran deras sungai Sa’dan sangat menantang ditelusuri dengan arung jeram (rafting). Sumber: dokumentasi pribadi.

Sarana dan Prasarana

Saat penulis berkunjung ke Bonggakaradeng, kondisi jalan sangat memprihatinkan. Sarana air bersih sulit diperoleh, meskipun listrik dan jaringan BTS untuk telekomunikasi telah tersedia. Akomodasi seperti penginapan dan makan belum tersedia. Satu-satunya cara memperoleh akomodasi adalah dengan menyewa kamar atau rumah penduduk.

Akses menuju Lokasi

Bonggakaradeng berjarak sekitar 20 km dari Kota Makale dan dapat ditempuh dengan jalan darat selama 2-3 jam atau 3-4 jam dari Rantepao. Waktu tempuh bisa lebih lama jika terjadi hujan, banjir dan longsor.

Beberapa angkutan lokal rute Bonggakaradeng dapat ditemukan di terminal kota hingga jam 11-12 siang. Lepas tengah hari, angkutan menuju Bongkaradeng biasanya sudah tidak ada lagi.

Bonggakaradeng-14-dody94.wordpress.com

Gambar 17. Jalan sempit dua arah di Bonggakaradeng. Tampak tebing curam dengan batu yang telah longsor di sisi kanan dan jurang di sisi kiri. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rute Makale-Bonggakaradeng lebih tepat disebut sebagai arena uji nyali. Jalan ini berada di lereng pegunungan yang tinggi, sangat sempit, naik-turun dan berkelok-kelok tajam, mengikuti aliran sungai Sa’dan (Saddang) yang berada di sampingnya.

Jalan ini diapit dinding tebing yang curam di sisi kanan dan jurang yang dalam di sisi kiri. Saat musim hujan, jalan sempit ini menjadi licin, berlumpur dan rawan longsor. Batang pohon dan batu besar dapat meluncur setiap saat dari atas tebing yang rapuh.

Bonggakaradeng-15-dody94.wordpress.com

Gambar 18. Di tepi jalan Makale-Bonggakaradeng. Sungai Sa’dan (Saddang) tampak meliuk-liuk nun jauh di bawah sana. Sumber: dokumentasi pribadi.

Penulis yang berangkat dengan angkutan lokal dari terminal Makale, acapkali menahan napas, saat mobil yang ditumpangi melalui jalan menurun penuh lumpur yang licin dan berliku.

Bertemu dengan mobil dari arah berlawanan adalah saat yang paling mendebarkan dan mendirikan bulu kuduk, sebab posisi mobil penulis berada di sebelah kiri, tepat di bibir jurang.

Salah perhitungan sedikit saja, dapat menyebabkan ban selip. Mobil pun dipastikan langsung terjun bebas ke jurang. Untungnya, pengemudi angkutan umum di daerah ini sangat mahir dan mengenal medan dengan baik.

Bonggakaradeng-13-dody94.wordpress.com

Gambar 19. Menguji nyali di jalur Makale-Bonggakaradeng. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jika hujan deras turun dalam waktu yang lama, kondisi jalan berubah menjadi jalur neraka. Badan jalan menjelma menjadi kolam lumpur yang dalam, bahkan seringkali berubah menjadi saluran air (got) yang besar.

Lubang-lubang besar di sepanjang jalan menjadi tidak kelihatan karena tertutup air dan siap menjatuhkan korban.

Menurut penduduk setempat, rute jalan ini sering memakan korban. Mobil yang dikendarai umumnya jatuh ke jurang karena mengalami ban selip akibat licin dan sempitnya jalanan. Pengemudi yang menjadi korban, umumnya orang dari daerah luar yang tidak mengenal kondisi jalan.

Pegunungan Bonggakaradeng-3

Gambar 20. Pemandangan indah sepanjang perjalanan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Berdasarkan pertimbangan di atas, saat kembali ke Makale, penulis memutuskan untuk bergabung dengan rombongan rekan-rekan yang mengendarai sepeda motor. Penulis sudah tak punya nyali lagi, melewati rute maut tersebut dengan kendaraan beroda empat.

Bonggakaradeng-19-dody94.wordpress.com

Gambar 21. Rekan-rekan seperjalanan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Bonggakaradeng nampaknya sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata. Sungguh disayangkan, jika potensi negeri di atas awan yang indah ini, tersia-sia dan terabaikan.

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.