Mengenal varietas ayam lokal Indonesia (2)

Tulisan berikut ini adalah lanjutan dari edisi sebelumnya tentang varietas ayam lokal di Indonesia.

1. Ayam Gaok

Ayam Gaok termasuk ayam lokal berukuran besar dari Madura dan Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.  Keistimewaan ayam Gaok terletak pada suara kokoknya yang mengalun panjang mirip ayam Pelung. Ayam Gaok jantan dewasa memiliki bobot badan mencapai 4 Kg, sedangkan betinanya 2 – 2,5 Kg.

Ayam Gaok-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Ayam Gaok dari Madura

Ayam Gaok jantan memiliki tampilan tubuh besar, tegap dan gagah. Jengger dan gelambirnya besar dan berbentuk wilah (single comb). Kakinya berwarna kuning. Bulunya didominasi oleh warna kuning kehijau-hijauan (wido), namun ada juga yang berwarna lain, seperti merah dan hitam.Ayam Gaok memiliki potensi dikembangkan sebagai ayam hias.

Sumber: Tike Sartika, S. Sulandari, MSA. Zein, S. Paryanti (2007).

2. Ayam Jantur

Ayam Jantur adalah ayam lokal Jawa Barat yang berkembang secara alamiah di Desa Rancahilir, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang. Penampilan morfologi ayam Jantur jantan lebih mendekati postur ayam sabung (Bangkok). Perawakannya masif dengan tungkai yang kokoh.

Aspek yang membedakan ayam Jantur dengan ayam Bangkok adalah keberagaman warna bulu dan bentuk jengger dan/atau pialnya. Penampilan ayam betina dewasanya pun lebih mendekati ayam Bangkok betina.

Ayam Jantur jantan dewasa memiliki berat badan 2,50 – 3,50 kg, sedangkan betina dewasanya memiliki berat badan sekitar 1,70 kg. Ayam betina mulai bertelur pada umur 5 – 6 bulan dengan berat telur sekitar 37 gram/butir.

Sumber: Soeparna, K. Hidajat dan T.D. Lestari (2006).

3. Ayam Kalosi

Ayam Kalosi adalah strain ayam lokal  yang dikembangkan sekitar tahun 1990-an oleh Pemerintah Sulawesi Selatan untuk meningkatkan kualitas genetik dan produktifitas ayam setempat.

Ayam lokal yang dikembangkan meliputi 3 galur sekaligus, yaitu: Kalosi Lotong (hitam), Kalosi Pute (putih) dan Karame Pute (Wido-Putih). Pengembangan strain ayam lokal ini sangat didukung oleh Gubernur Sulawesi Selatan kala itu (HZB Palaguna), sehingga strain ini sering pula disebut dengan nama “Ayam Gubernur”.

Pembentukan strain ayam Kalosi ini tergolong rumit dan melibatkan beberapa indukan ayam lokal yang memiliki sifat-sifat khusus seperti ayam Kampung, Arab Silver, Bangkok, Kedu Hitam, Leghorn Putih dan lain-lain. Indukan ayam yang berbeda varietas ini kemudian dikawinkan satu sama lain.

Tahap awal dilakukan dengan seleksi ayam lokal unggulan dari Sulawesi Selatan. Setelah itu, dilakukan kawin silang (Grading Up) dengan ayam ras putih (Leghorn ?), ayam Bangkok dan ayam Kedu Hitam. Proses kawin silang ini dilakukan sampai generasi ke-4 (F4) bahkan hingga generasi ke 6 (F6) untuk memperoleh galur baru yang stabil dan murni.

Proses kawin silang ayam lokal dengan ayam introduksi ternyata berhasil meningkatkan performans turunannya. Ayam kalosi lebih cepat bertelur (135-150 hari) dibanding ayam kampung (paling cepat 150 hari) dan masa bertelur juga cukup panjang. Pada umur 24-30 bulan ayam kalosi masih dapat menghasilkan telur sekitar 30% Hen Day.

Ayam Kalosi Lengkap

Gambar 2. Ayam Kalosi dari Sulawesi Selatan. Kalosi Lotong (kiri), Kalosi Pute (tengah), Karame Pute (kanan).

Pertumbuhan ayam kalosi lebih cepat dibandingkan ayam kampung, pada umur 3 bulan bobot ayam kalosi telah mencapai 900 g (karame pute), 850 g untuk kalosi pute, dan 800 g untuk kalosi lotong. Ketiganya cukup prospektif dikembangkan sebagai ayam potong terutama karame pute, selain sebagai ayam petelur.

Produksi telur rata- rata per tahun sekitar 170 butir untuk kalosi lotong, 180 butir untuk kalosi pute dan 160 butir untuk karame pute. Produksi telur tersebut masih lebih tinggi dibanding ayam kampung yang hanya mencapai 115 butir/tahun (yang digunakan sebagai pembanding).

Produksi telur ayam ras dapat mencapai 259 butir/tahun dan ayam kedu 215 butir/tahun, tetapi tidak digunakan sebagai pembanding. Ayam tersebut diperbaiki mutu genetiknya hanya untuk meningkatkan jumlah telur ayam kampung (lokal) tetapi performans telur tetap seperti telur ayam  kampung.

Sebagai ayam petelur, ukuran telur, bentuk, warna kulit telur, dan warna serta ukuran kuning telur ayam kalosi cukup memenuhi selera konsumen lokal yang selama ini terbiasa mengkonsumsi telur ayam kampung.

Sumber: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP).2011.Performans ayam Kalosi di Sulawesi Selatan.  Dinas Peternakan Sulawesi Selatan.

4. Ayam Kampung

Ayam Kampung adalah ayam lokal yang paling dikenal masyarakat Indonesia dan tersebar luas di seluruh pelosok Nusantara. Ayam ini banyak dipelihara secara tradisional di perdesaan. Ayam kampung memiliki warna bulu yang sangat bervariasi.

Bentuk dan ukurannya pun bermacam-macam. Beragamnya karakter ayam kampung ini disebabkan karena proses perkawinan berlangsung secara alami tanpa pengawasan pemelihara.

Menurut Sumanto et al. (1990),  ayam kampung banyak dipelihara karena relatif mudah, tidak memerlukan modal besar serta berperan dalam memanfaatkan sisa-sisa buangan dapur maupun sisa-sisa hasil pertanian. Berbeda dengan ayam ras, ayam kampung  termasuk tipe dwiguna yang tidak dibedakan berdasarkan tipe pedaging atau petelur.

buras epetani.deptan.go.id

Gambar 3. Ayam Kampung. Sumber: deptan.go.id.

Budidaya ayam kampung biasanya dilakukan secara sederhana dengan melepas unggas di sekitar halaman dan permukiman (ekstensif). Hal ini menyebabkan produksi telur dan daging ayam kampung jauh lebih rendah dibandingkan dengan ayam ras petelur dan pedaging.

Meskipun produktifitasnya relatif rendah, daging dan telur ayam kampung sangat digemari oleh konsumen di Indonesia. Daging ayam kampung memiliki cita rasa yang gurih dan enak, tekstur lebih kenyal dan tidak mudah hancur saat di masak dalam waktu yang lama. Telur ayam kampung pun dinilai lebih banyak mengandung gizi dan khasiat sehingga harganya lebih mahal dibandingkan telur ayam ras.

Pemeliharaan secara intensif dapat menghasilkan ayam Kampung yang mempunyai rataan bobot badan jantan 1.815 ± 353 g dan betina 1.382 ± 290 g (Mulyono dan Pangestu, 1996). Sumanto et al. (1990) menyatakan bahwa perbaikan tatalaksana ayam Kampung menghasilkan bobot badan umur lima bulan meningkat dari 625 g menjadi 677 g.

Frekuensi bertelur dari tiga kali/tahun meningkat menjadi lima kali/tahun, menurunkan mortalitas dari 51% menjadi 34% dan waktu bertelur setelah mengeram dari rata-rata 70 hari turun menjadi 20 hari.

Sinurat et al. (!992) juga menyatakan bahwa umur pertama bertelur pada ayam Kampung 7,5 bulan, produksi telur   80,3 butir/induk/tahun, frekuensi bertelur 7,5 kali/tahun dan daya tetas telur 83,7% pada pemeliharaan secara intensif.

Hasil pembibitan open nucleus yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak Ciawi, ayam Kampung berproduksi telur selama 12 minggu sebesar 43,24% hen day, jumlah telur 36,32 butir/ekor/12 minggu, bobot telur 30 g/butir dan rataan bobot telur selama 12 minggu sebesar 40 g/butir (Zainuddin et al., 2005).

Seleksi indukan yang memiliki sifat-sifat unggul dan pemeliharaan secara intensif  ternyata dapat meningkatkan produktifitas ayam kampung. Ayam kampung yang telah diseleksi dan dipelihara secara intensif ini biasanya disebut ayam Buras (bukan ras).

5. Ayam Kedu

Ayam Kedu adalah strain ayam lokal berukuran cukup besar yang berkembang di daerah Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Ayam ini memiliki banyak variasi warna bulu, yaitu: Cemani, Kedu hitam, Kedu Merah, Kedu Putih dan Kedu Blorok. Bobot ayam jantan dapat mencapai 3-3,5 kg. Sedangkan betina 1,2-2,5 kg. Jengger besar dan selalu berpial tunggal (single comb).

Cemani Jantann

Gambar 4. Ayam Kedu Cemani. Sumber: kisuta.com.

Cemani merupakan satu-satunya varietas ayam di dunia yang memiliki warna hitam sempurna. Akibat ekspresi fenotip dari gen unik yang dimiliki menyebabkan ayam ini berwarna hitam legam nyaris di seluruh bagian tubuhnya.

Oleh karenanya, ayam Cemani memiliki harga pasaran yang tinggi dan berpotensi dibudidayakan sebagai ayam hias. Daging ayam Cemani yang berwarna hitam cenderung kurang diminati oleh konsumen sehingga ayam ini tidak cocok dijadikan ayam pedaging.

kedu putih-1

Gambar 5. Ayam Kedu Putih. Sumber: pemkabtemanggung.go.id.

Selain Cemani juga terdapat varian Kedu hitam. Ayam ini memiliki jengger berwarna merah dan kaki berwarna hitam kekuningan. Varian lain seperti Kedu Putih, Kedu merah dan Blorok memiliki ciri fisik yang sama dengan Kedu hitam. Perbedaan hanya terdapat pada warna bulunya.

Kedu Hitam-1

Gambar 6. Ayam Kedu Hitam. Sumber: pemkabtemanggung.go.id.

Ayam Kedu sangat potensial dikembangkan sebagai ayam petelur dan pedaging (dwiguna). Jika dipelihara secara intensif, dalam umur 5 bulan ayam Kedu jantan dapat mencapai bobot 1,3-1,4 kg. Sedangkan ayam betina mencapai bobot 1,2-1,3 kg. Produksi telur pun cukup tinggi mencapai 215 butir/tahun. Hasil ini hanya sedikit di bawah rata-rata ayam ras petelur yang mencapai 259 butir/tahun.

6. Ayam Ketawa

Ayam Ketawa adalah strain ayam hias lokal yang tersebar di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan. Konon kabarnya, dahulu kala ayam jenis ini merupakan satwa peliharaan kesayangan raja-raja Sidenreng dan Rappang.

Ayam Ketawa bukan hanya sebagai unggas peliharaan semata, akan tetapi dipercaya pula memiliki indera khusus untuk mengetahui akan ada kejadian berupa banjir, kebakaran dan bencana alam di kerajaan tersebut. Selain sebagai unggas kesayangan raja, ayam ini juga sering diperlombakan oleh para bangsawan di kedua kerajaan tersebut.

Ayam Ketawa-1-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Ayam Ketawa tipe bulu Koro'(kiri) dan Bakka’ (kanan).

Ciri-ciri ayam ketawa tidak berbeda jauh dengan ayam kampung. Jengger ayam ini umumnya berpial tunggal (single comb) dengan warna bulu yang sangat bervariasi. Keistimewaan ayam ini baru akan terlihat saat mengeluarkan suara kokok yang terpenggal-penggal mirip orang gagap atau orang tertawa.

Di daerah asalnya, ayam ini disebut Manuk Gaga’. Manuk berarti ayam dalam bahasa Bugis dan gaga’ berarti Gagap. Sebagian orang meyakini suara ayam ini mirip dengan suara ayam Kukuak Balenggek dari Sumatera Barat.

Ayam Ketawa-2-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Ayam Ketawa tipe bulu Kelleng (kiri) dan Ara (kanan).

Penamaan ayam ketawa itu sendiri tercetus setelah komunitas pencinta unggas asal pulau Jawa menamainya dengan sebutan ayam ketawa. Ayam ini menjadi begitu populer setelah disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Berdasarkan jenis suaranya, hobiis membagi ayam ketawa ke dalam 3 kategori :

  1. Jenis ayam Garetek : Dinamai seperti itu karena jenis ini memiliki interval suara yang agak cepat, yang masyarakat pencinta ayam memakai istilah jenis dangdut.
  2. Jenis ayam Gaga’ : Dinamai seperti itu karena tempo suaranya yang agak lambat dan seperti orang yang gagap. Biasanya disebut pula dengan tempo pop slow.
  3. Jenis ayam Do’do : Dinamai seperti itu karena tempo suaranya yang sangat lambat dan mendayu-dayu.

Ayam Ketawa-3-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Ayam Ketawa tipe bulu Lappung (kiri) dan Ceppaga (kanan).

Selain suara, warna bulu juga menjadi salah satu kriteria bagus tidaknya kualitas ayam ketawa. Beberapa kategori warna bulu yang menjadi standar bagi hobiis, yaitu:

  1. Bulu Bakka : warna dasar bulu berwarna putih mengkilap, biasanya ada beberapa warna lain yang tak dominan seperti hitam, merah maupun jingga. Warna bulu ini disebut sebagai bulu kelas satu karena banyaknya orang yang menggemari.
  2. Bulu Lappung : Warna dasar bulu berwarna hitam kombinasi dengan warna merah hati.
  3. Bulu Ceppaga : Warna dasar hitam kombinasi dengan warna putih.
  4. Bulu Koro: warna dasar hitam kombinasi hijau dan warna putih dan kuning mengkilap.
  5. Bulu Ara: warna dasar hitam kombinasi warna jingga terang dan merah.
  6. Bulu Ijo buata : warna dasar ijo kombinasi merah dan hitam sedikit.
  7. Bulu Bori: warna dasar merah dan warna bintik-bintik kuning mengkilap.
  8. Bulu Kelleng  : warna dasar abu-abu, biasa di selingi dengan warna lain yang tak dominan seperi merah, hitam maupun jingga. Warna ini tergolong sebagai kelas yang paling rendah.

7. Ayam Lamba

Ayam Lamba termasuk strain ayam lokal asal Kabupaten Garut, Jawa Barat. Informasi tentang karakteristik dan performans ayam ini belum banyak diketahui.

8. Ayam Melayu

Ayam Melayu adalah ayam lokal asal Sumatra Utara yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai penghasil daging dan telur (dwiguna). Informasi tentang ayam ini masih sangat terbatas.

9. Ayam Merawang

Ayam Merawang berasal dari Kecamatan Merawang di Pulau Bangka, Propinsi Bangka Belitung.

Ayam ini didominasi warna cokelat, merah dan kuning keemasan, dengan bulu-bulu columbian (warna bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam). Warna kulit paruh dan ceker (shank) putih atau kekuningan, sedangkan warna mata kuning.

Sepasang Ayam Merawang

Gambar 10. Sepasang Ayam Merawang.

Ayam Merawang diduga pertama kali dibawa oleh imigran asal China daratan yang bekerja sebagai penambang timah pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sepintas, bentuk ayam Merawang yang bertumbuh gempal ini mirip dengan ayam Lingnan dari China.

Beberapa ciri ayam Merawang diantaranya adalah Jengger jantan berbentuk wilah tunggal (single comb) berukuran besar, tegak, terbagi menjadi 6-7 gerigi yang meruncing . Bobot badan dewasa jantan sekitar 1,8─2,7 kg dan betinanya sekitar 1,2─1,7 kg.

Ayam Merawang dan Lingnan

Gambar 11. Ayam Lingnan dari China (kiri) dan Ayam Merawang asal Pulau Bangka (kanan).

Ayam Merawang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ayam petelur dan terutama sebagai ayam pedaging. Bila dipelihara secara intensif pertumbuhannya relatif cepat. Ayam Merawang betina bertelur pertama kali pada umur 5,5 bulan. Bobot telur  berkisar antara 38─45 g. produksi telur dapat mencapai 120─125 butir/ekor/tahun.

10. Ayam Nagrak

Ayam Nagrak merupakan hasil silangan antara ayam pelung dengan ayam kampung di Sukabumi Jawa Barat. Upaya Persilangan ayam Pelung jantan dan ayam kampung betina ini bertujuan  untuk menghasilkan varian ayam kampung baru yang memiliki bobot tubuh lebih baik.

Iskandar dan Susanti (2007), melaporkan bahwa kualitas ayam kampung hasil persilangan dengan ayam pelung menjadi lebih baik, terutama pada meningkatnya bobot daging pada bagian paha dan dada. Kedua bagian ini merupakan bagian utama dari sumber daging untuk kebutuhan konsumsi. Dengan demikian ayam Nagrak sangat potensial dikembangkansebagai ayam pedaging.

Sumber: Iskandar dan Susanti (2007).

Bersambung ke tulisan berikutnya……. (3).

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , . Tandai permalink.