Mengenal varietas ayam lokal Indonesia (3)

Tulisan berikut ini adalah tulisan ke 3 atau bagian terakhir dari seri tulisan tentang varietas ayam lokal di Indonesia.

1. Ayam Nunukan

Ayam Nunukan tersebar di daerah Tarakan, Propinsi Kalimantan Utara. Menurut sejarahnya ayam Nunukan berasal dari daratan Cina bagian selatan dan masuk ke Tarakan sekitar tahun 1922 yang dibawa oleh perantau Cina lewat Tawao dan Nunukan (Murtidjo, 2000).

Sepintas, penampilan ayam Nunukan seperti ayam ras petelur berwarna coklat. Jantan dan betina memiliki bulu berwarna coklat atau kuning kecoklatan.

Jengger untuk betina warna merah muda dan jantan merah tua, kulit betina warna krem muda dan jantan kuning, untuk warna shank baik betina maupun jantan berwarna kuning.

Ayam Nunukan-ditjennak.deptan.go.id

Gambar 1. Ayam Nunukan.

Cuping ayam betina merah muda dihiasi warna putih sedangkan untuk jantan merah tua. Pada jantan bulu di daerah leher dihiasi warna jingga keemasan. Pola warna bulu polos, kerlip bulu keemasan dan corak bulu polos.

Ciri ayam Nunukan yang paling unik adalah lambatnya pertumbuhan bulu di bagian sayap dan ekor. Hal ini menyebabkan bulu sayap dan bulu ekor ayam Nunukan sangat pendek. Sebagian besar ayam Nunukan bahkan sama sekali tidak memiliki bulu pertama di bagian sayap dan ekor.

Ayam Nunukan sangat potensial dikembangkan sebagai ayam pedaging dan petelur. Bobot jantan sekitar 1,7 -2,8 kg. Sedangkan betina 1,5- 2 kg. Produksi telur dapat mencapai 182 butir/tahun.

Di daerah asalnya KalimantanTimur, harga seekor ayam Nunukan untuk upacara keagamaan etnis China cukup mahal, yaitu 125 ribu rupiah/kg berat hidup. Harga telur ayam Nunukan pun, sama dengan harga telur ayam Kampung. Sumber: Wafiatiningsih, Imam Sulistyono dan Ratna Ayu Saptati (2007).

2. Ayam Nusa Penida

Ayam ini berasal dari Pulau Nusa Penida yang terletak di sebelah tenggara Pulau Bali. Ayam Nusa Penida dilaporkan berpotensi untuk dikembangkan sebagai ayam petelur. Namun, informasi tentang ayam ini masih sangat minim.

3. Ayam Olagan

Ayam Olagan adalah ayam tanpa bulu yang berasal dari Pulau Dewata, Bali. Ayam ini berpotensi dimanfaatkan sebagai ayam penghasil telur dan daging (dwiguna). Ayam ini juga dapat dijadikan ayam koleksi dengan tujuan khusus karena keunikannya.

antarafoto-1276257305-

Gambar 2. Ayam Olagan. Sumber: Antara

Sebagian penduduk Bali mempercayai bahwa penganut ilmu hitam Leak tingkat tinggi, memiliki kemampuan untuk merubah bentuk menjadi berbagai jenis binatang. Salah satunya, ya, menjadi ayam Olagan ini. Hiii…..

4. Ayam Pelung

Ayam Pelung adalah galur ayam lokal asli dengan ukuran tubuh paling besar di Indonesia. Ayam ini berasal dari desa Bumi Kasih, Jambu Dipa, Songgom dan Tegal Lega, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Ayam Pelung dibudidayakan oleh masyarakat terutama untuk suara kokok pejantannya yang khas. Populasi ayam pelung pada tahun 1994 sekitar 5 – 6 ribu ekor dan di Jawa Barat diduga telah berkembang mencapai kurang lebih 30 ribu ekor pada tahun 2007 (Iskandar dan Susanti, 2007).

Pelung Merah Gambar 3. Pelung Merah.Sumber: tokobagus.com.

Ayam Pelung mulai dikenal masyarakat  Cianjur  sejak tahun 1850-an. Konon, ayam ini pertamakali dipelihara oleh seorang Kiai bernama H. Djarkasih alias Mama Acih (Alm).

Suatu hari beliau, yang tinggal desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, menemukan seekor anak ayam jantan besar, tinggi dan “turundul” (berbulu jarang). H. Djarkasih kemudian memelihara anak ayam temuannya ini dengan baik hingga dewasa.

Ayam tersebut tumbuh dengan pesat dan berkokok dengan suara besar, panjang dan berirama. Orang-orang pada masa itu,  sangat kagum mendengar suara kokoknya yang mengalun indah. Ayam ini kemudian disebut ayam “Pelung”.

Sejak saat itu, masyarakat mulai membudidayakan dan melestarikan ayam Pelung ini.

Pelung Putih.jpg

Gambar 4. Pelung Putih. Sumber: majalahburungpas.com.

Ayam Pelung mempunyai ukuran tubuh sangat besar dan tegap. Kaki panjang dan kuat berwarna hitam kebiru-biruan. Pahanya berdaging tebal. Dada berdaging tebal dan menonjol ke depan.

Pejantan berjengger tunggal dengan ukuran pial sangat besar, tebal, tegak, bergerigi dan berwarna merah. Kepala dan leher juga berukuran sangat besar dibandingkan dengan proporsi tubuh.

Warna bulu ayam Pelung juga bervariasi seperti ayam Kampung kebanyakan. Namun sebagian besar pejantan dan betina memiliki warna kombinasi merah dan hitam. Variasi warna lainnya adalah kombinasi kuning-hitam, putih-hitam dan kuning kehijauan-hitam.

Seekor ayam Pelung betina mulai bertelur pada usia 160-210 hari dan dapat menghasilkan telur hingga 70 butir/tahun.

Pelung Hitam

Gambar 5. Pelung Hitam.

Bobot rata-rata pejantan Ayam Pelung sekitar 4-5 kg. Bahkan dimasa lalu dapat mencapai 6-7 kg. Sedangkan bobot rata-rata betina berkisar antara 3-4 kg.

Pertumbuhan yang sangat pesat dan bobot yang tinggi menyebabkan ayam Pelung menjadi kandidat yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi ayam pedaging.

Namun, harga jual ayam Pelung sebagai ayam hias atau ayam kontes jauh lebih tinggi, sehingga masyarakat lebih memilih untuk membudidayakan ayam ini demi suara kokok pejantannya yang indah.

IMG-20121103-00558

Gambar 6. Pelung Kuning-Hijau (Wido).

Kelebihan sifat genetik ayam pelung yang bertubuh besar dan tumbuh cepat dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ayam lokal lainnya.

Hal ini disadari oleh masyarakat Sukabumi yang menyilangkan ayam pelung jantan dengan ayam kampung agar bobot ayam kampung setempat meningkat.

Ayam hasil silangan Pelung dan ayam kampung memiliki daging yang lebih tebal pada bagian dada dan paha. Namun tekstur dan cita rasanya tidak berubah dan sama seperti daging ayam kampung pada umumnya sehingga cukup digemari konsumen. Oleh masyarakat Sukabumi, ayam silangan ini disebut ayam Nagrak.

Sumber: Sofjan Iskandar dan Triana Susanti (2007).

5. Ayam Randah Batu

Randah Batu adalah varian ayam kampung yang tersebar di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Solok, Pesisir Selatan dan daerah lain yang terpencil.

Ayam ini memiliki keunikan pada bentuk paha, jari dan kakinya yang sangat pendek sehingga tubuhnya terlihat rendah (cebol atau ceper). Namun postur tubuhnya tetap seperti ayam kampung biasa.

Sebagian ahli berpendapat, bahwa ayam ini merupakan varian dari ayam Kukuak Balenggek.

Ayam Randah Batu

Gambar 7. Ayam Randah Batu. Sumber: Sinawa Bird Farm.

Gerakan ayam ini tidak selincah ayam kampung pada umumnya, sehingga daerah jelajahnya menjadi terbatas. Ayam ini juga lebih rentan diserang predator seperti ular Sanca (Phyton) dan musang (Luwak) jika hidup di alam liar.

Secara umum, tampilan ayam Randah Batu  mirip silangan ayam hutan merah Sumatera atau ayam brugo dengan beragam warna. Kokokannya lantang. Kadang ayam ini juga memiliki kokokan Balenggek.

Asal-usul nama ayam Randah Batu memiliki beragam versi. Sebuah sumber menyatakan bahwa ayam ini memiliki kebiasaan unik, yaitu: suka bertengger di atas batu sehingga dinamakan Randah Batu. Dalam dialek minang kata “Randah” berarti Rendah.

Ada pula yang berpendapat, ayam ini dinamakan Randah Batu sebab ayam ini dulunya banyak ditemukan di daerah Batu Bajanjang sehingga disebut Randah Batu yang berarti ayam rendah dari Batujanjang.

Beberapa hobiis dan penangkar menginformasikan bahwa si Randah Batu ini sulit berkembang biak, sehingga populasi di daerah asalnya pun tidak banyak. Informasi tentang aspek biologis, karakteristik, performans dan kekerabatan ayam ini dengan ayam hutan merah pun masih minim. Kiranya perlu dilakukan studi yang lebih mendalam untuk melestarikan varian ayam lokal yang sangat unik ini.

Salah satu penangkar yang memiliki koleksi ayam Randah Batu dan mencoba untuk mengembangkannya adalah Sinawa Bird Farm.

6. Ayam Sedayu

Ayam Sedayu adalah varietas ayam lokal yang berkembang di daerah Sedayu Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Informasi tentang aspek biologis, performans maupun populasi ayam ini tidak banyak diketahui. Dari penelusuran pustaka, penulis juga tidak menemukan informasi terlalu banyak tentang jenis ayam ini.

7. Ayam Sentul

Ayam Sentul adalah varietas ayam lokal yang dikembangkan masyarakat di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tubuhnya agak tinggi dengan kaki yang ramping dan kokoh. Kepala ayam Sentul tergolong kecil dengan  jengger bervariasi. Ekor agak panjang.

Bobot tubuh jantan berkisar antara 2-3 kg dengan tinggi tubuh 54 cm. Sedangkan bobot betina 1-2,5 kg dengan tinggi 46 cm. Ciri khas ayam Sentul terletak  pada warna dasar bulunya yang didominasi abu-abu. Bulu di bagian dada tersusun rapi seperti sisik naga. Kaki berwarna kelabu, putih dan kuning.

Ayam Sentul-Ciamis-1

Gambar 8. Ayam Sentul. A. Sentul debu. B. Sentul kelabu. C. Sentul emas. D. Sentul geni (api). E. Sentul batu. Sumber: iskandar (2007).

Berdasarkan corak bulunya, ayam Sentul dibagi menjadi 5 varietas, yaitu: Sentul Kelabu, Sentul Geni, Sentul Batu, Sentul debu dan Sentul emas. Sentul Kelabu didominasi warna abu-abu. Sentul Geni terdiri dari campuran warna abu-abu dan merah.

Sentul Batu memiliki warna bulu kombinasi abu-abu keputihan-putihan. Sentul debu berwarna abu-abu kecoklatan. Sedangkan Sentul Emas didominasi warna abu-abu keemasan. Performans ayam Sentul tergolong baik.

Produksi telur dapat mencapai 100 butir/ekor/tahun, lebih tinggi dari produksi telur ayam kampung yang mencapai 70 butir/ekor/tahun. Pertumbuhan juga cukup baik. Pada umur 10 minggu, bobot ayam dapat mencapai 1 kg, lebih tinggi 100-200 gram dari ayam kampung pada umur yang sama.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Muktisari Kabupaten Ciamis, Nurhayati (2001) melaporkan bahwa ayam Sentul memiliki bobot badan dewasa pada jantan sebesar 2.603,8 ± 207 g dan betina 1.408 ± 123 g, pertambahan bobot badan 70,30 ± 16,87 g/hari.

Jumlah telur 17 ± 1 butir dan daya tetas telur secara pengeraman alami sebesar 88,22 ± 10,2 % (waktu bertelur 21 ± 3 hari, mengeram 21 hari, mengasuh anak 60 hari dan masa istirahat 12 ± 1,5 hari).

Nataamijaya (2005) menyatakan, bahwa ayam Sentul mampu bertelur sampai sebanyak 26 butir/periode. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ayam Sentul memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai ayam pedaging dan petelur (dwiguna).

Sumber: Cecep Hidayat dan S. Sopiyana (2010).

8. Ayam Siem

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang ayam ini.

9. Ayam Sumatera

Ayam Sumatera termasuk varietas ayam asal Indonesia dengan tampilan yang paling  indah. Tubuhnya gempal, pendek dan kekar dengan bulu lebat mengkilap yang menyelubungi seluruh tubuh. Bulu leher, tunggir dan ekor tumbuh memanjang dan berkilau kehijauan saat diterpa cahaya (glossy). Ayam Sumatera dikenal hanya memiliki 2 tipe warna bulu, yaitu: hitam dan biru keabu-abuan (jarang).

Sosok Ayam Sumatera lebih menyerupai ayam liar dibandingkan dengan jenis ayam lainnya. Ayam ini termasuk varietas yang sudah sangat tua dan menjadi induk bagi beberapa varietas ayam lainnya. Namun asal-usulnya masih belum begitu jelas sehingga cukup banyak menimbulkan kontroversi di kalangan para ahli.

Ayam Sumatera-1-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Ayam Sumatera

Sebagian hobiis berpendapat, bahwa Ayam Sumatera merupakan hasil kawin silang antara ayam hutan merah dengan varietas ayam lainnya. Ayam Cemani atau Selasih diduga menjadi salah satu nenek moyang yang mewariskan warna hitam dominan pada ayam Sumatera. Namun, dugaan ini masih perlu diteliti dan diungkap lebih lanjut.

Ayam Sumatera diyakini berasal dari Sumatera bagian tengah. Penampilan perawakannya tegap, gagah, tetapi ukuran tubuhnya kecil. Jantan berkepala kecil, tetapi tengkoraknya lebar. Pipinya penuh (padat), keningnya tebal, dan pial kecil.

Paruh umumnya pendek dan kuku berwarna hitam, dengan cuping kecil dan berwarna hitam. Salah satu ciri yang unik yang dapat ditemukan pada seluruh Ayam Sumatera adalah tumbuhnya taji lebih dari satu pada masing-masing kaki.

Pergerakan ayam Sumatera cukup aktif.  Kadang-kadang bersifat agresif. Memiliki kemampuan terbang yang baik, jinak dan dikenal cerdas.

Ayam Sumatera-2

Gambar 10. Ayam Sumatera betina. Sumber: feathersite.com

Jengger berbentuk pea dan berwarna merah. Kulit muka juga berwarna merah atau hitam, ditumbuhi bulu halus yang jarang. Bobot ayam Sumatra jantan dewasa 2,25 Kg, sedangkan yang betina 1,8 Kg.

Produksi telur tergolong sedikit, yaitu 100 butir per tahun dengan warna telur putih. Daging ayam Sumatera sedikit berbintik-bintik hitam sehingga kurang diminati konsumen di Amerika. Ayam Sumatera diimpor ke Amerika Serikat tahun 1847 sebagai ayam sabung. Namun saat ini lebih berfungsi sebagai ayam hias.

Sebagai ayam hias, ayam Sumatera cukup populer di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda dan Jerman. Namun, ayam ini kurang begitu dikenal di Indonesia yang menjadi negeri leluhurnya.

Ayam Sumatera termasuk salah satu galur ayam yang telah memiliki standardisasi yang baik. Populasinya di Amerika cenderung menurun akibat agak sulitnya proses pengembangbiakan ayam ini. Oleh karena itu, pemerintah USA kini melarang ayam ini untuk di ekspor keluar dari negaranya.

10. Ayam Tabulangking

Ayam Tabulangking adalah ayam hutan liar yang hidup di hutan-hutan rimba Kalimantan Barat.

Menurut kepercayaan orang-orang tua dan Pemangku adat (Temenggung) Desa Karangan, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak, Ayam Tabulangking memiliki bentuk tubuh seperti burung puyuh, tanpa tungging atau tulang ekor, berbulu warna kuning serta memiliki kepala yang kecil.

Ayam ini merupakan nenek moyang Ayam Tukong. Dimasa lalu, kokokan ayam Tabulangking dijadikan penanda bagi masyarakat Dayak yang mengerjakan ladang, bahwa hari telah sore (Gufroni dan Ibrahim, 2007).

Saat senja menjelang (sekitar jam 4), Ayam jantan akan lebih sering berkokok mengajak betinanya jalan-jalan sore di sekitar semak atau hutan terbuka.  Pejantan akan berbunyi “Tur”, yang diikuti sahutan betinanya dengan suara ”King”. Besar kemungkinan dari sinilah ayam Tabulangking mendapatkan namanya.

Menurut penduduk setempat, ayam Tabulangking saat ini sudah sangat sulit dijumpai di habitat aslinya. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa status ayam hutan ini benar-benar telah punah.

11. Ayam Tolaki

Ayam Tolaki berasal dari Sulawesi Tenggara. Tubuh berukuran kecil hingga sedang dengan berat antara 1.5 kg hingga 3 kg. Badan langsing, kekar berotot dengan bentuk punggung agak panjang. Sayap menempel rapat di sisi badan.

Kepala kecil, bulat, berparuh pendek kuat dan melengkung pada ujungnya. Seringkali, pada bagian muka ditumbuhi bulu-bulu kecil hingga seolah-olah ayam ini terlihat seperti memiliki brewok atau cambang.

Ayam Tolaki Gambar 11. Ayam Tolaki

Jengger Ayam Tolaki berukuran kecil, bergerigi dan berbentuk pea. Cuping telinga dan pial juga kecil dan menempel rapat pada kepala. Leher panjang, tegak dan kokoh.

Mata berukuran sedang dan tajam dengan ekspresi berani. Bentuk kaki langsing, panjang dan kokoh dengan telapak kaki seimbang. Gerakannya gesit dan cepat sehingga sulit ditangkap (Nataamijaya et al., 1995).

Bulu ekor Ayam Tolaki melengkung panjang. Warna bulu pada ayam betina bervariasi mulai warna cokelat dengan kombinasi kuning, hitam serta campuran dari beberapa warna. Warna paruh kuning gelap atau kekuningan.

Ayam Tolaki berpotensi dikembangkan sebagai unggas penghasil daging dan telur. Produksi telur rata-rata adalah 20 butir setiap masa bertelur (Rahmat, 2003).

Dari postur tubuhnya, Ayam Tolaki juga cukup berpotensi dikembangkan sebagai ayam petarung. Namun, ada baiknya jika ayam-ayam ini tidak diadu. Kasihan ayamnya. Hehehe…

12. Ayam Tukong

Ayam Tukong adalah sejenis ayam kampung yang berkembang di daerah pedalaman Kalimantan Barat. Menurut Gufroni dan Ibrahim (2007), ayam Tukong tidak memiliki tungging, pangkal ekor tulang ekor atau “brutu” sehingga penampilannya lebih mirip burung puyuh.

Ayam Tukong memiliki bobot lebih ringan dibandingkan ayam kampung, yaitu: 1,7-2,5 kg untuk jantan dan 1,2-1,7 kg untuk betina. Di masa yang lalu, ayam Tukong berukuran sangat kecil, berkisar antara 0,5 kg-1 kg.

Ayam Tukong

Gambar 12. Ayam Tukong. Sumber: tokobagus.com

Jumlah telur yang dihasilkan per periode peneluran berkisar antara 6-12 telur. Berat telur 47 g, dengan warna putih kecoklatan/kemerahan, persentase DOC jantan: betina 34,78%: 65,22%, daya tetas 84,28 %,  lama mengeram 21 hari, umur mulai bertelur 5-6 bulan, interval masa bertelur 3 bulan, periode bertelur 4 kali setahun.

Warna bulu ayam Tukong bervariasi seperti pada ayam kampung, mulai dari hitam kehijauan, hitam kemerahan, hitam kebiruan, coklat bahkan putih.

Gufroni dan Ibrahim (2007) juga menambahkan, beberapa keunggulan ayam Tukong dibandingkan dengan ayam kampung adalah sifat yang lebih jinak, mudah dipelihara, tahan terhadap penyakit, komposisi karkas yang lebih baik dan memiliki citarasa yang lebih gurih.

Ayam Tukong tersebar di kabupaten Sambas, seperti daerah Selakau, Pemangkat, Tebas dan Sambas, wilayah Kabupaten Bengkayang, Wilayah Kota Singkawang, Wilayah Kabupaten Pontianak dan saat ini yang masih eksis terdapat di Kabupaten Landak Kecamatan Mempawah Hulu. Ayam Tukong juga tersebar di Kabupaten Sanggau, Sintang hingga Kapuas Hulu.

Menurut kepercayaan orang-orang tua dan Pemangku adat (Temenggung) Desa Karangan, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak, ayam Tukong diyakini berasal dari persilangan ayam Tabulangking dengan ayam kampung. Ayam Tabulangking adalah ayam hutan liar yang hidup di hutan-hutan Kalimantan Barat.

Populasi ayam Tukong semakin sedikit, akibat kurangnya informasi dan sosialisasi potensi keunggulan ayam Tukong. Ayam kampung lebih laku dijual untuk ritual adat dan keagamaan sebab bagian-bagian tubuhnya yang lengkap dan sempurna.

13. Ayam Walik

Ayam Walik adalah ayam lokal biasa yang memiliki gen unik sehingga bulu-bulu tubuhnya tumbuh terbalik (frizzle) atau tersingkap. Penampilan ayam ini cukup menarik dan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai ayam hias atau dijadikan induk untuk menciptakan untuk menciptakan varietas baru.

Ayam Walik tersebar di seluruh Indonesia dan dapat dijumpai pada hampir semua ras ayam. Berdasarkan tampilan bulunya, Ayam Walik dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  •  Walik Sekul:  seluruh bulu tumbuh terbalik.
  •  Walik Sura:   bulu warna hitam, keriting sedikit.
  •  Walik Tulak: seluruh bulu keriting di ujung sayap dan ekor ada   warna putih. Anak ayam ini peka terhadap dingin.

Ayam Walik-1-dody94.wordpress.com

Gambar 13. Ayam Walik Jantan (Remaja). Sumber: dokumentasi pribadi.

Adapun bentuk tubuh, berat, kebiasaan dan karakteristik ayam Walik tidak berbeda jauh dengan ayam kampung pada umumnya.

Penulis sempat menjumpai sepasang ayam Walik muda, diantara sekumpulan ayam kampung remaja dengan ukuran tubuh yang sama. Pejantan Walik tampak lebih inferior dan sering diusir oleh pejantan ayam kampung lainnya, saat memperebutkan makanan.

Kumpulan ayam milik warga setempat ini tampak mengais-ngais sisa makanan di sekitar tepian Danau Poso, Sulawesi Tengah. Ayam Walik terlihat menyolok diantara kelompok ayam tersebut, dengan bulu-bulu di sekujur tubuh yang melengkung terbalik.

Ayam Walik-2-dody94.wordpress.com

Gambar 14. Ayam Walik Betina (Remaja). Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat masih piyik, Ayam Walik dilaporkan cukup rentan suhu udara yang dingin. Sedangkan Ayam Walik dewasa, cukup tahan terhadap suhu dingin dan serangan penyakit.

14. Ayam Wareng

Asal-usul ayam Wareng Tangerang dimulai saat seorang peternak di desa Pasir Gadung, Kecamatan Cikupa, memperoleh 36 butir telur ayam Rusia di awal tahun 80-an.

Telur-telur yang menetas memperlihatkan sifat-sifat unggul ayam petelur yaitu berbentuk badan kecil, berproduksi telur tinggi, memiliki jengger dengan bulu mahkota, tetapi tidak memiliki sifat mengeram dan berpenampilan liar.

Melihat beberapa sifat unggul dari ayam tersebut, salah seorang peternak bernama Armin kemudian menyilangkan lagi dengan ayam buras asli Rusia hingga generasi ketiga.

Dari sini diperoleh turunan ayam dengan bentuk tubuh ramping dan menyerupai ayam Rusia. Turunan ayam inilah yang kemudian dikenal sebagai ayam Wareng Tangerang. Kata “Wareng” berasal dari bahasa Jawa yang berarti kecil.

Ayam Wareng Gambar 15. Ayam Wareng. Sumber: Majalah Trubus.

Iskandar et al. (2004) menyatakan bahwa bobot tubuh, warna bulu dan ukuran tubuh ayam Wareng Tangerang mirip dengan ayam Wareng Indramayu, hanya saja ayam Wareng Tangerang mempunyai ciri khas jambul di atas kepala betina dan memiliki warna bulu dan kulit yang dominan putih (Susanti et al., 2006).

Ayam lokal ini tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Suara kokoknya cukup nyaring. Gerakan Ayam Wareng sangat lincah sehingga agak sulit ditangkap.

Ukuran kepala dan leher pejantan kecil. Kakinya ramping dan panjang. Terdapat tiga warna bulu pada ayam ini yakni hitam, blorok (belang-belang putih dan hitam), dan putih. Berat tubuh ayam pejantan dewasa rata-rata 1,5 kg dan ayam betina sekitar 1 kg.

Umur kawinnya tergolong muda, yakni empat bulan. Produksi telurnya berkisar 15 butir per periode bertelur. Apabila dipelihara secara intensif produksi telurnya dapat mencapai 24-28 butir per periode bertelur, dikarenakan induk betina tidak memiliki sifat mengeram. Turunan ayam ini dapat direkomendasikan untuk jenis produksi telur seperti ayam Kedu.

Kesimpulan:

Dari 3 seri tulisan di atas, penulis berkesimpulan bahwa diperlukan upaya perlindungan dan pelestarian terhadap kekayaan plasma nutfah ayam Indonesia. Hal-hal yang harus dilakukan adalah :

      • Pengumpulan informasi dasar (inventarisasi dan identifikasi) terhadap seluruh jenis ayam lokal di Indonesia meliputi aspek biologis, sebaran dan populasinya
      • Pemurnian varietas ayam lokal, penangkaran dan pelestarian yang melibatkan masyarakat luas
      • Standardisasi varietas ayam lokal yang berlaku secara nasional (program nasional)
      • Sosialisasi dengan melakukan lomba atau kontes tingkat daerah/nasional
      • Promosi dan Standardisasi ke tingkat Internasional
Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , . Tandai permalink.