Burung-Burung Halmahera (1)

Burung termasuk salah satu hewan di alam yang paling menarik perhatian. Kemampuan terbangnya, warna bulunya, suara kicauannya dan tingkah lakunya banyak menginspirasi kehidupan bangsa Indonesia semenjak dahulu.

Burung Rangkong (Enggang, Alo, Ruai, Arue), merepresentasikan spirit dan kehidupan suku Dayak di Kalimantan. Cendrawasih menjadi figur yang penting dalam budaya masyarakat Papua. Burung berkicau seperti Jalak, Beo, Anis dan Cucak Rawa, menjadi satwa kesayangan masyarakat Jawa. Sedangkan negara kita, mengambil burung Garuda sebagai simbol negara.

Salah satu daerah di Nusantara yang banyak memiliki spesies burung endemik adalah Pulau Halmahera. Isolasi selama jutaan tahun, menjadikan Halmahera dan pulau-pulau kecil di sekitarnya memiliki spesies burung yang unik dan tidak ditemukan di belahan dunia manapun.

Pada edisi kali ini, Cakrawala akan memuat seri tulisan tentang burung-burung yang berhasil didokumentasikan oleh penulis saat melakukan beberapa kali kunjungan ke Halmahera, Maluku Utara.

Seri pertama bercerita tentang spesies burung endemik Maluku Utara, seri kedua mengulas tentang burung hutan dataran rendah, seri ketiga berhubungan dengan burung daerah pesisir, dan seri keempat akan banyak membahas jenis-jenis burung pemakan serangga.

Menurut Avibase (Lepage 2013), jumlah total jenis burung yang ditemukan di Pulau Halmahera seluruhnya ada 236 spesies. Dari jumlah tersebut, 37 jenis diantaranya tergolong endemik Indonesia, 27 jenis endemik Maluku Utara dan 5 jenis endemik Halmahera.

Spesies endemik Halmahera terdiri dari: Mandar Gendang Habroptila Wallacei, Cekakak Murung Todiramphus fenubris, Kepudang-Sungu Halmahera Coracina parvula, Kepudang Halmahera Oriolus phaeochromus dan Burung Cabai Halmahera Dicaeeum schisthaceiceps.

Berdasarkan kategori IUCN, beberapa jenis burung di Halmahera terancam punah, yaitu satu jenis berstatus kritis (Critically endangered), dua jenis berstatus genting (Endangered), 10 jenis berstatus rentan (Vulnerable), dan 8 jenis beresiko rendah untuk terancam punah (Near Threatened). Satu jenis burung lainnya, Tekukur biasa Streptopelia chinensis tergolong spesies introduksi.

Dari 27 spesies burung yang tergolong endemik di Maluku Utara, 9 jenis diantaranya berhasil didokumentasikan. Burung yang berhasil difoto, termasuk jenis umum yang memiliki populasi melimpah dan tersebar luas. Dari lima jenis burung endemik Halmahera, tidak ada satu pun yang kami temukan pada saat pengamatan di lapangan.

1. Gagak Halmahera (Corvus validus).

Gagak Halmahera (Suku Corvidae) termasuk salah satu jenis burung gagak terbesar di Indonesia. Tubuhnya berukuran panjang 46-53 cm. Terbang berkelompok hingga 5 ekor dan bertengger di atas pohon yang tinggi. Suaranya keras, Kaaooooowwwkk, Kaaooooowkk berulang-ulang. Gagak ini didokumentasikan oleh penulis di sekitar pantai Pulau Pakal, Teluk Buli, Halmahera Timur.

i. Gagak Halmahera-1-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Gagak Halmahera (Corvus validus) sedang mencari material untuk membuat sarang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Salah satu ciri khas yang mudah dikenali dari Gagak Halmahera adalah bentuk paruhnya yang sangat panjang dan kokoh sehingga dalam versi Inggris disebut Long-billed Crow. Berbeda dengan jenis gagak lainnya, iris mata Gagak Halmahera berwarna putih.

Gagak Halmahera termasuk hewan omnivor dan oportunistik sehingga memiliki pilihan makanan yang sangat beragam, mulai dari berbagai jenis hewan berukuran kecil, bangkai, buah-buahan hingga makanan sisa yang dibuang di tempat sampah.

j. Gagak Halmahera-2-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Gagak Halmahera (Corvus validus) terbang meninggalkan pohon tenggeran. Sumber: dokumentasi pribadi.

Gagak Halmahera termasuk fauna endemik yang memiliki daerah sebaran terbatas dan hanya dapat ditemukan di Maluku Utara seperti: Halmahera, Kayoa, Morotai, Kasiruta, Obi dan Bacan. Gagak ini tidak termasuk dalam daftar Apendiks CITES. Populasi yang masih melimpah, menyebabkan jenis gagak ini oleh IUCN, dikategorikan beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern).

2. Cendrawasih Gagak (Lycocorax pyrrhopterus).

Cendrawasih Gagak (Suku Paradisaeaidae) termasuk jenis burung berukuran sedang (30-35 cm). Tubuh berwarna hitam dengan bulu yang halus seperti sutera. Sayap berwarna kecoklatan. Paruh kokoh kehitaman. Postur tubuh sangat mirip dengan burung Gagak sehingga dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Paradise Crow atau Silky Crow.

Cendrawasih Gagak termasuk jenis pemakan buah dan serangga. Umumnya menyukai habitat berupa hutan primer, hutan sekunder, lahan terbuka dan lahan budidaya mulai dari permukaan laut hingga ketinggian 500 m. Berbeda dengan Cendrawasih pada umumnya, burung ini termasuk spesies yang setia pada pasangannya (monogami).

Burung ini didokumentasikan sore hari saat sedang bertengger di sebatang pohon di tepi jalan raya Moronopo-Tanjung Buli. Pada awalnya penulis sedikit mengalami kesulitan mengidentifikasi burung ini karena postur tubuhnya sangat mirip dengan burung gagak.

3.Cendrawasih Gagak-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Cendrawasih Gagak (Lycocorax pyrrhopterus). Sumber: dokumentasi pribadi.

Pulau Halmahera dan sekitarnya merupakan wilayah paling barat dari daerah sebaran kelompok burung Cendrawasih yang berpusat di Papua. Dua jenis Cendrawasih yang ada di daerah ini diwakili oleh Bidadari Halmahera yang legendaris dan Cendrawasih Gagak yang kurang dikenal.

Hingga saat ini dikenal 3 subspesies Gagak Cendrwasih berdasarkan daerah sebarannya, yaitu:

  • Lycocorax pyrrhopterus pyrrhopterus — Halmahera, Kasiruta dan Bacan
  • Lycocorax pyrrhopterus morotensis — Morotai dan Rau
  • Lycocorax pyrrhopterus obiensis — Pulau Obi dan Pulau Bisa

Cendrawasih Gagak termasuk jenis burung endemik Maluku Utara yang dilindungi undang-undang. Burung ini masuk dalam daftar Apendiks II CITES, namun dikategorikan beresiko rendah (Least Concern) oleh IUCN. Populasi di Halmahera cenderung stabil yang menunjukkan bahwa burung ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan seperti konversi habitat dan sebagainya.

3. Kakatua Putih (Cacatua alba).

Kakatua Putih (Suku Cacatuidae) berukuran besar dengan panjang 46 cm. Bulu tubuh berwarna putih. Bulu sayap dan bulu ekor bagian bawah yang berwarna kekuningan akan terlihat jelas saat burung ini terbang. Saat terkejut, burung ini akan menegakkan jambulnya yang besar dan berbentuk semisirkular seperti paying. Dalam bahasa Inggris, burung ini disebut White Cockatoo atau Umbrella Cockatoo.

Struktur tubuh Kakatua cukup unik. Paruhnya bengkok. Jari tersusun khas dengan dua jari menghadap ke depan dan dua ke belakang (Zygodactyly). Bentuk jari seperti ini sangat cocok digunakan untuk memegang biji-bijian. Jantan dapat mencapai bobot 800 gram dan betina 400 gram. Paruh jantan lebih besar dan kepala lebih lebar dibandingkan betina.

Di alam, Kakatua diperkirakan dapat mencapai usia 10 tahun. Sedangkan di kebun binatang dapat mencapai usia 40-60 tahun. Makanan utama berupa buah-buahan hutan, biji-bijian, kacang-kacangan dan akar-akaran. Saat bersarang, Kakatua juga memakan serangga dan larva.

Kakatua Putih bersarang di lubang pohon yang besar. Telur menetas setelah dierami secara bergantian oleh kedua induknya selama 28 hari. Anak Kakatua akan meninggalkan sarang setelah berumur 84 hari dan mandiri setelah berumur 15-18 pekan. Kakatua dewasa setelah berumur 3-4 tahun.

Selain Kasturi Ternate, Kakatua putih adalah jenis burung yang paling banyak dipelihara oleh penduduk di sekitar Tanjung Buli. Burung ini sering terbang berkelompok. Makanan utamanya adalah biji-bijian, buah-buahan dan nektar.

4.Kakatua Putih-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Kakatua Putih (Cacatua alba). Kakatua peliharaan (kiri) dan Kakatua liar (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Kakatua Putih tergolong burung endemik Maluku Utara. Daerah sebaran meliputi: Halmahera, Bacan, Ternate, Tidore, Kasiruta dan Mandioli. Burung ini juga diintroduksi ke Pulau Obi dan Bisa. Habitat Kakatua Putih meliputi: hutan primer, hutan sekunder, lahan terbuka, lahan pertanian, kebun kelapa dan daerah mangrove dengan ketinggian 0-900 m di atas permukaan laut.

IUCN menggolongkan Kakatua Putih sebagai spesies yang terancam punah (endangered). Sedangkan CITES memasukkan burung ini dalam Appendiks II sebagai spesies yang memiliki kuota terbatas untuk keperluan ekspor/impor.

Kakatua Putih termasuk burung yang cerdas dan mudah dilatih. Burung ini juga lebih jinak dibandingkan dengan jenis Kakatua lainnya. Bersama Kasturi Ternate, Kakatua Putih termasuk jenis burung yang paling banyak dipelihara masyarakat di Halmahera. Burung ini juga popular di Kebun Binatang/Taman Safari di seluruh dunia. Kakakatua Putih umumnya ditangkap dengan cara di perangkap.

Burung paruh bengkok merupakan salah satu ciri khas dari hutan hujan tropis di wilayah timur Indonesia. Di Maluku Utara, jenis-jenis burung paruh bengkok mendominasi hutan dataran rendah dan menjadi salah satu komponen utama ekosistem hutan hujan tropis Halmahera. Sebagai pemakan nektar, biji dan buah-buahan, burung ini membantu proses penyerbukan bunga dan pemencaran biji-bijian sehingga berperan penting dalam regenerasi hutan.

4. Kasturi Ternate (Lorius garrulus)

Kasturi Ternate (Suku Psittaculidae) adalah burung Nuri berukuran sedang (30 cm) yang didominasi warna merah. Paruh berwarna jingga. Kekang mata berwarna hitam. Sayap berwarna hijau dan hitam. Ekor bawah berwarna kekuningan. Kaki berwarna abu-abu. Berdasarkan daerah sebaran dan ciri fisiknya, Kasturi Ternate dibagi menjadi 3 sub-spesies:

  • Lorius garrulus flavopalliatus  Salvadori 1877 – Yellow-backed Lory
  • Lorius garrulus garrulus  (Linnaeus) 1758
  • Lorius garrulus morotaianus  (Bemmel) 1940

2.Kasturi Ternate-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Kasturi Ternate (Lorius garrulus). Sumber: dokumentasi pribadi.

Kasturi Ternate merupakan burung endemik Maluku Utara yang memiliki sebaran terbatas di Pulau Halmahera dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Subspesies flavopalliatus memiliki ciri khas berupa bulatan besar berwarna kuning pada bagian punggungnya. Kasturi ternate memakan nectar, kacang-kacangan, buah-buahan dan serangga. Dalam bahasa Inggris burung ini dikenal sebagai Chattering Lory.

Kasturi Ternate termasuk dalam Apendiks II dalam CITES dan dikategorikan rentan (Vulnerable) oleh IUCN akibat menurunnya populasi. Burung ini ditangkap dengan menggunakan perangkap. Kasturi Ternate merupakan burung yang popular sebagai satwa peliharaan di Maluku Utara. Burung ini juga digemari sebagai satwa peliharaan di pasar internasional dan satwa koleksi kebun binatang.

5. Kapasan Halmahera (Lalage aurea)

Kapasan Halmahera (Suku Campephagidae) termasuk jenis burung berukuran kecil dengan panjang tubuh sekitar 18 cm. Burung ini termasuk spesies endemik Maluku Utara dengan daerah sebaran meliputi: Morotai, Halmahera, Ternate, Kayoa, Bacan, Kasiruta dan Obi.

Kapasan Halmahera sangat mudah dibedakan dari spesies Kapasang yang lain dari warna bulu di bagian perut yang didominasi warna merah karat kecoklatan. Dalam Bahasa Inggris burung ini disebut Rufous-bellied Triller.

8a.Kapasan Halmahera-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Kapasan Halmahera (Lalage aurea) Jantan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Populasi Kapasan Halmahera relatif banyak dan mudah ditemukan. Habitatnya berupa hutan primer dan sekunder. Hutan terbuka hingga pesisir dan mangrove. Dari ketinggian 0-500 m. Burung liar tergolong jinak dan mudah didekati untuk dipotret. Sering ditemukan terbang dan berloncatan diantara ranting-ranting perdu.

Kapasan Halmahera menggemari buah, ulat dan serangga sebagai makanannya. Jantan bersuara keras dan merdu Chiif chiif deet deet deet. Sedangkan betina jarang bersuara.

Burung jantan memiliki muka lebih gelap dan aktif berkicau. Burung betina lebih pasif dengan warna bulu lebih suram. Bulu di punggung, mahkota dan pipi berwarna abu-abu.

8.Kapasan Halmahera-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Kapasan Halmahera (Lalage aurea) Betina. Sumber: dokumentasi pribadi

Kapasan Halmahera umumnya terbang sendirian atau berkelompok di sekitar daerah tepi hutan pantai. Burung ini termasuk spesies endemik yang hanya ditemukan di Maluku Utara.

Kapasan Halmahera tidak termasuk dalam daftar Apendiks CITES dan memiliki populasi yang masih melimpah di habitatnya sehingga dikategorikan beresiko rendah untuk terancam punah (Least Concern) oleh IUCN.

6. Kacamata Halmahera (Zosterops atriceps)

Kacamata Halmahera (Suku Zosteropidae) termasuk burung berukuran kecil (12 cm). Kepala berwarna hitam-kecoklatan, tenggorokan dan perut putih dan penutup ekor bagian bawah kuning-pucat. Dalam Bahasa Inggris burung ini dikenal dengan nama Cream-throated white-eye.

Habitat Kacamata Halmahera umumnya berada di hutan primer, hutan pamah sekunder  dan hutan perbukitan, tepi hutan dan lahan budidaya, juga hutan Mangrove sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut kecuali di Pulau Obi yang tidak ditemukan di bawah ketinggian 220 m di bawah permukaan laut.

6.Kacamata Halmahera-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Kacamata Halmahera (Zosterops atriceps). Sumber: dokumentasi pribadi.

Memiliki daerah sebaran yang terbatas, Kacamata Halmahera tergolong spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di Maluku Utara. Berdasarkan daerah sebarannya, burung ini dibagi menjadi 3 sub-spesies :

  • dehaani (van Bemmel, 1939) – Morotai, di Maluku utara. Ciri: warna bulu pada mahkota kehitaman
  • fuscifrons (Salvadori, 1878 ) – Halmahera. Ciri: warna bulu pada mahkota hijau-zaitun.
  • atriceps (G. R. Gray, 1861) – Bacan dan Obi.Catatan: Populasi di Bacan memiliki warna bulu di mahkota zaitun-lembayung-kemerahan-tua.

Kacamata Halmahera umumnya terbang berkelompok di sekitar daerah tepi hutan pantai.Burung ini termasuk spesies endemik yang hanya ditemukan di Maluku Utara.

Kacamata Halmahera tidak termasuk dalam daftar Apendiks CITES dan dikategorikan beresiko rendah untuk terancam punah (Least Concern) oleh IUCN. Namun, saat ini populasinya di Halmahera cenderung menurun.

7. Cekakak Biru-putih (Todiramphus diops)

Cekakak Biru-putih (Suku Halcyoninidae/Alcedinidae) termasuk jenis burung endemik Maluku Utara dengan daerah sebaran di Morotai, Ngelengele, Halmahera, Damar, Ternate, Tidore, Moti, Bacan, Obi, Obilatu.

Burung ini umumnya menghuni hutan sekunder, tepi hutan, tepi mangrove, lahan budidaya yang pohonnya sedikit, habitat yang rusak, kebun kelapa. Dari ketinggian 0 meter hingga 700 m. Makanan berupa reptil kecil seperti kadal dan ikan. Bersarang dalam lubang di tanah atau pohon.

40.Cekakak Biru Hitam-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Cekakak Biru-putih (Todirhampus diops). Sumber: dokumentasi pribadi.

Tubuh berukuran sedang (19-21 cm). Burung jantan memiliki kepala biru hitam dengan bintik-kekang putih besar. Punggung dan tunggir biru terang. Tenggorokan dan tubuh bagian bawah putih terang. Pada betina, leher dan dada berpita biru besar melintang.

Populasi Cekakak Biru-putih masih cukup banyak. Burung ini dikategorikan beresiko rendah (Least Concern=LC) oleh IUCN dan tidak tercantum dalam daftar Appendiks CITES. Burung ini termasuk spesies yang dilindungi undang-undang, yaitu: UU. No. 5/1990 dan PP No.7 Tahun 1999.

8. Pergam Boke (Ducula basilica)

Pergam Boke (Suku Columbidae) berukuran besar dengan panjang 40-42 cm. Kepala berwarna pucat dengan sayap hjau gelap. Bagian perut berwarna merah karat. Ujung ekor berwarna abu-abu dan lebar.

Habitat Pergam Boke mencakup hutan primer, hutan rusak dan lahan budidaya yang pohonnya jarang. Habitat dari 0 hingga 1040 m. Pergam Boke bersifat arboreal. Lebih sering berada di pohon-pohon hutan dan mencari buah-buahan. Jarang turun ke tanah.

Suara Pergam Boke terdiri dari satu atau dua nada yang sangat panjang, sangat dalam, agak sendu, menggeram (selama 3,0 detik). Burung ini memiliki sebaran terbatas (endemik) di Maluku Utara. Berdasarkan sebarannya terbagi menjadi dua ras (sub-spesies), meliputi:

  • basilica Bonaparte, 1854 – Maluku Utara: Morotai, Halmahera, Kasiruta, Ternate dan Bacan.
  • obiensis (Hartert, 1898) – Maluku Tengah: Obi

11.Pergam Boke-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Pergam Boke (Ducula basilica). Sumber: dokumentasi pribadi.

Pergam Boke masih memiliki populasi yang banyak dan cukup mudah ditemukan, sehingga IUCN memasukkan burung inidalam kategori beresiko rendah untuk punah (Least Concern). Burung ini juga tidak masuk daftar Appendiks CITES dan belum termasuk jenissatwa yang dilindungi undang-undang.

Kelompok burung merpati-merpatian (Columbidae) termasuk jenis burung utama dalam ekosistem hutan tropis di Indonesia. Suku Columbidae umumnya terdiri dari jenis-jenis Merpati (Columba spp.), Pergam (Ducula spp.), Walik (Ptilinopus spp.), Tekukur (Streptopelia spp.), Tekukur merah (Macropygia spp.) dan Merpati Mahkota (Goura spp.).

Kelompok burung ini terspesialisasi menjadi beberapa kelompok berdasarkan habitat dan pemanfaatan sumberdaya alam yang berbeda. Jenis Tekukur dan Merpati misalnya, merupakan jenis burung yang khusus memakan biji-bijian. Jenis Walik dan Pergam lebih menyukai buah-buahan kecil di tajuk pohon yang tinggi. Sedangkan Merpati Mahkota lebih menyukai buah dan serangga yang jatuh di lantai hutan.

9. Walik Kepala-kelabu (Ptilinopus hyogastrus)

Walik Kepala-kelabu (Suku Columbidae) mungkin merupakan salah satu burung merpati tercantik di Maluku Utara. Burung ini berukuran sedang (23-24 cm) dengan ciri utama pada kepalanya yang berwarna abu-abu.

Seluruh tubuh Walik Kepala-kelabu berwarna hijau. Sayap hijau dengan kombinasi 2 garis berwarna abu-abu. Perut berwarna ungu dan bulu ekor bagian dalam (tunggir) berwarna kuning. Ujung Paruh berwarna kuning dengan pangkal abu-abu. Suara berupa nada “who-huu” agak sendu, rata-rata dua nada per detik.

9.Walik Kepala-Kelabu-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Walik Kepala-kelabu (Ptilinopus hyogastrus). Sumber: dokumentasi pribadi.

Daerah sebarannya meliputi: Morotai, Halmahera, Ternate, Tidore, Kasiruta dan Bacan. Burung ini menyukai habitat berupa tepi hutan, hutan sekunder, pohon-pohon yang tersebar di padang rumput, lahan budidaya yang pohonnya jarang dan mangrove. 0-1000 m.

Meskipun tergolong endemik, Walik Kepala-kelabu mudah ditemukan dan masih memiliki populasi yang besar. IUCN memasukkan burung ini dalam kategori beresiko rendah (Least Concern) untuk punah. Burung ini juga tidak masuk dalam lampiran Appendiks CITES dan bukan termasuk jenis burung yang dilindungi Undang-Undang.

Referensi

Untuk mendengarkan suara kicauan atau melihat gambar/foto yang lebih jelas dari spesies burung yang diuraikan di atas, kami rekomendasikan untuk mengunjungi Website: http://www.kutilang.or.id.

 

 

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , . Tandai permalink.