Burung-Burung Halmahera (3)

Pada edisi kali ini, penulis akan berbagi cerita tentang jenis burung pantai serta burung pemangsa (raptor) yang berhasil diamati di daerah pesisir Tanjung Buli, Halmahera Timur.

  1. Dara-laut Kumis (Chlydonias hybridus).

Dara-laut ini ditemukan saat sedang terbang bolak-balik seperti sedang bermain-main di sekitar pantai. Tubuh berukuran agak kecil (25 cm), berwarna pucat dengan dahi putih (pada musim dingin) dan ekor sedikit menggarpu. Dewasa tidak berbiak: dahi putih, mahkota bergores hitam, mahkota belakang dan tengkuk hitam. Tubuh bagian bawah putih. Sayap, punggung, dan penutup ekor atas abu-abu.

Dara-laut Kumis merupakan pengunjung tetap pada musim dingin  ke wilayah pantai  di seluruh Indonesia.  Kadang-kadang burung ini juga ditemukan pada musim panas. Berdasarkan sebarannya burung ini terbagi menjadi 6 sub-spesies. Burung yang ada pada gambar di bawah ini tergolong ras  fluviatilis (Gould, 1843), yang tersebar di Maluku dan Papua. Ras ini umumnya berasal dari Australia.

37.Dara Laut-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Dara-laut Kumis. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dara-laut Kumis hidup dalam kelompok kecil atau kadang-kadang dalam kelompok besar. Sering terbang sampai sejauh 20 km ke daratan, untuk mencari makanan di tanah yang tergenang dan di sawah. Mengambil makanan dengan cara menyambar atau terbang rendah di atas perairan.

Burung ini dikategorikan beresiko rendah untuk punah (LC) oleh IUCN. Termasuk jenis burung yang dilindungi di Indonesia berdasarkan  UU No. 5/1990 dan PP No. 7/1999

2. Trinil Pantai (Actitis hypoleucos).

Susah susah mudah, kau kudekati. Ku cari engkau lari, ku diam kau hampiri. Sepenggal lirik lagu Iwan Fals tadi mungkin bisa menggambarkan perilaku burung kecil (20 cm) yang menggemaskan ini.

Trinil Pantai berwarna coklat dan putih, paruhnya pendek. Bersifat tidak kenal lelah dengan menjelajahi tepian pantai berpasir untuk mencari makan. Bagian atas coklat, bulu terbang kehitaman. Bagian bawah putih dengan bercak abu-abu coklat pada sisi dada. Ciri khas sewaktu terbang adalah garis sayap putih, tunggir tidak putih, ada garis putih pada bulu ekor terluar.

Salah satu perilaku yang khas dari burung ini adalah tubuh bagian belakang dan ekornya yang selalu digerak-gerakkan naik-turun berulang-ulang. Hmm.. dasar burung genit. Meski bertubuh kecil, suara Trinil Pantai terdengar nyaring dan melengking tinggi. Wii-wii-wii-wii.

Trinil Pantai berbiak di Eropa, Kamchatka, Sakhalin dan Jepang. Musim dingin bermigrasi ke Eropa barat dan Afrika melalui Timur Tengah, juga ke Asia selatan sampai Indonesia dan Australia. Pengunjung yang sangat umum di Indonesia, dapat dilihat hampir sepanjang tahun.

38.Trinil Pantait-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Trinil Pantai. Sumber: dokumentasi pribadi.

Trinil Pantai sering mengunjungi habitat yang sangat luas, dari giosong lumpur pantai dan beting pasir sampai ke sawah di dataran tinggi (sampai ketinggian 1.500 m), sepanjang aliran, dan pinggir sungai.

Berjalan dengan cara menyentak tanpa henti disertai gerakan mematuk berulang-ulang unruk mencari serangga dan udang-udangan sebagai mangsa. Terbang dengan pola yang khas, melayang dengan sayap yang kaku.

Oleh IUCN, Trinil Pantai dikategorikan beresiko rendah untuk punah karena daerah sebarannya yang luas dan populasinya yang banyak. Burung ini tidak termasuk dalam Appediks CITES dan tidak termasuk jenis burung yang dilindungi UU di Indonesia.

3. Kuntuk Karang (Egretta sacra)

Kuntul Karang termasuk burung spesialis pulau-pulau kecil.  Tubuh berukuran agak besar (58 cm). Bodinya mirip Blekok Sawah. Nah, sampai di sini penulis masih belum ngerti-ngerti juga, kenapa sebagian orang di”bully” secara verbal dengan ungkapan “Blekok Sawah”.

Uniknya lagi, Kuntul Karang memiliki 2 versi warna berbeda, yaitu: Abu-abu dan Putih, baik pada jantan maupun betina. Hehehe… kayak mobil aja pake versi warna  segala. Warna abu-abu lebih sering ditemukan. Diduga,warna ini berkaitan dengan proses kamuflase agar lebih mudah berburu mangsa.

Burung ini memiliki jambul pendek dan dagu keputihan (sering tidak terlihat di lapangan). Perbedaannya dengan Kuntul kerbau: ukuran lebih besar, kepala dan leher lebih langsing, dengan kuntul lainnya: tungkai kehijauan dan relatif lebih pendek, paruh pucat. Iris kuning, paruh kuning pucat, kaki kuning kehijauan. Kuakan mendengkur parau sewaktu makan dan “arrk” ketika terkejut.

Kuntul Karang senang bermain dan memiliki perilaku yang unik saat berburu. Kadang-kadang burung ini bergerak tiba-tiba, meloncat dan berlarian ke sana ke mari kemudian diam. Saat tengah hari yang terik,  burung ini merentangkan kedua sayapnya hingga bertemu di sisi kepala. Kepala menghadap ke bawah untuk mencari-cari, jika ada ikan kecil yang berteduh dibawahnya dan siap untuk disergap. Haaap….

39.Kuntul Karang-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Kuntul Karang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kuntuk Karang tersebar luas di kawasan pesisir Asia timur, Pasifik barat, Indonesia hingga Papua, Australia, dan Selandia baru.
Terdiri dari 2 sub-spesies :

  • sacra (Gmelin, 1789) – Kawasan pantai di Asia tenggara sampai Jepang, Indonesia, Filipina, Pasifik selatan & barat-daya, Australia hingga Selandia Baru.
  • albolineata (G. R. Gray, 1859) – Kaledonia Baru dan Kepulauan Loyalty.

Umumnya terdapat di terumbu karang (bila air surut) dan pantai pasir di pulau-pulau lepas pantai. Hampir selalu ditemukan di sepanjang pantai. Beristirahat pada karang atau pada pinggirnya yang curam. Berburu di tepi air, memangsa ikan kecil diambil berdiri diam atau berjalan-jalan di air dangkal. Jarang ditemukan pada gosong pasir di muara sungai. Bersarang di atas tanah pada tumpukan karang, di atas semak, atau pada pohon pendek.

Kuntul Karang memiliki jumlah melimpah dan tersebar luas sehingga dikategorikan beresiko rendah untuk punah (LC) oleh IUCN. Burung ini juga tidak termasuk dalam lampiran Appendiks CITES. Meskipun berstatus aman, burung ini termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan  UU No. 5/1990 dan PP No. 7/1999.

4. Cikalang Kecil (Fregata ariel).

Cikalang dikenal sebagai Perompak Laut yang Ulung, karena kegemarannya merampas makanan dari burung lain yang sedang terbang. Burung ini didesain oleh Sang Pencipta, sebagai penerbang sejati, dengan rentang sayap yang lebar, sehingga dapat terbang melayang dengan nyaman dan mampu melakukan manuver yang spektakuler.

Berukuran besar (76 cm), berwarna gelap. Jantan: seluruh bulu kehitaman, kecuali bercak-bercak putih pada sisi lambung dan di bawah pangkal sayap serta kantung paruh merah.

Burung betina berwarna hitam dengan kepala kecoklatan, dada putih, bercak putih cekung pada perut, serta sedikit warna putih pada pangkal sayap bawah, lingkar mata merah jambu atau abu-abu kebiruan, serta dagu hitam. Suara burung ini mirip suara tepukan, terutama saat musim berbiak.

Pada Cikalang remaja, tubuh bagian atas hitam kecoklatan, tetapi kepala, leher, dada, serta sisi lambung keputih-putihan dan merah sawo matang. Perbedaannya dengan Cikalang besar: ukuran lebih kecil, bercak putih pada bagian bawah berbentuk cekung, dan lebih banyak warna putih pada pangkal sayap bawah. Iris coklat, paruh abu-abu, kaki merah tua.

36.Cikalang Kecil-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Cikalang Kecil. Sumber: dokumentasi pribadi.

Burung Cikalang kecil hidup di laut bebas. Berbiak di pulau-pulau terpencil di daerah tropis dan sub-tropis, bersarang di semak, bakau, dan bahkan di atas tanah. Terbang tinggi mengikuti aliran udara atau terbang berputar di atas kelompok ikan yang mencari makan di permukaan air.

Kadang-kadang terbang cepat dan rendah di atas permukaan laut dengan kepakan sayap yang berat. Menangkap makanan dari permukaan laut, tanpa mendarat atau mengganggu koloni burung laut yang lain.

Makanan utamanya ikan terutama ikan terbang, juga memakan cumi-cumi, telur dan anakan burung-laut dan bangkai ikan. Memiliki perilaku kleptoparasitic (mencuri makanan) terutama betina meskipun tidak sering. Kadang-kadang bertengger atau beristirahat di atas bagan bambu atau pepohonan di pulau-pulau kecil.

Meskipun termasuk  penerbang yang handal, burung ini kurang lincah berjalan di daratan karena ukuran kakinya yang pendek dan kecil. Juga bukan perenang yang baik, mengingat bentuk jarinya yang tidak berselaput dan bulunya yang tidak kedap air.

Cikalang Kecil tersebar di lautan tropis. Tempat berbiak paling dekat yang diketahui adalah Pulau Cocos Keeling, Pulau Christmas di Samudera Indonesia, dan pulau-pulau di sekitar Laut Arafuru  serta Australia utara (Laut Coral). Diperkirakan juga  berbiak di Indonesia, tetapi masih belum dapat dibuktikan.

Burung Cikalang tersebar di seluruh Sunda Besar, kadang-kadang terlihat dalam jumlah besar (diperkirakan dalam perjalanan migrasi dari Pasifik barat). Sering ditemui di seluruh perairan Papua. Terdapat tiga subspesies yang sudah dikenal:

  • iredalei Mathews, 1914 – Samudra Hindia bagian barat.
  • ariel (G.R.Gray, 1845) – Samudra Hindia bagian timur dan tengah, Samudra Pasifik bagian barat dan tengah.
  • trinitatis Miranda Ribeiro, 1919 – Samudra Atlantik bagian selatan

Ciakalang Kecil memiliki jumlah melimpah dan tersebar luas sehingga dikategorikan beresiko rendah untuk punah (LC) oleh IUCN. Burung ini bukan jenis burung peliharaan, sehingga perdagangannya tidak diatur dalam lampiran CITES. Burung ini juga bukan termasuk jenis yang dilindungi di Indonesia.

5. Elang Bondol (Haliastur indus).

Elang Bondol termasuk salah satu jenis burung pemangsa yang paling umum dan tersebar luas di Indonesia. Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dinamakan Elang Bondol karena warna dan penampilan burung ini mirip burung bondol (pipit/emprit) terutama Bondol Haji atau Emprit Kaji Lonchura maja.

Elang dewasa memiliki ciri: kepala, leher, dan dada putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga.

Suara Elang Bondol berupa jeritan bernada meringkik iiuw-wir-r-r-r-r saat terbang berpasangan. Memekik keras piiiii-yah ketika mengejar pendatang atau penyusup yang memasuki daerah kekuasaannya.

Elang Bondol dikenal burung pemangsa yang agresif dalam mempertahankan daerah teritorialnya.  Pada satu kesempatan, penulis mendapati burung ini terbang berputar-putar secara menyolok di puncak bukit Pulau Pakal untuk mengusir Elang Laut yang mendekati sarangnya.

Daerah sebaran Elang Bondol mencakup daerah pantai di Asia Tenggara, Cina, dan Australia. Sedangkan di Indonesia dan India, masih dapat ditemukan di daerah pedalaman.
Burung yang umum dan tersebar di seluruh Indonesia, namun sudah jarang ditemui di Jawa dan Bali.

Habitat Elang Bondol terutama di sekitar pantai dan Pulau-pulau kecil di daerah tropis. Juga masih dapat ditemukan di lahan basah dan hutan dataran rendah sampai ketinggian 2000 m di pedalaman yang jauh dari pantai. Terdapat empat sub-spesies yang dikenal secara global:

  • indus (Boddaert, 1783) – Pakistan, India dan Sri Lanka, juga di Asia Tenggara dan China selatan.
  • intermedius Blyth, 1865 – Semenanjung Malaysia, Sunda Besar, Sunda Kecil, Sulawesi beserta kepulauannya, Kep. Sula, serta Filipina.
  • girrenera (Vieillot, 1822) – Maluku, Papua, Gugus Kepulauan Bismarck dan Australia.
  • flavirostris Condon & Amadon, 1954 – Kep. Solomon.

35.Elang Bondol-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Elang Bondol ras girrenera dari Pulau Pakal Halmahera Timur. Sumber: dokumentasi pribadi

Biasanya sendirian, tetapi di daerah yang makanannya melimpah dapat membentuk kelompok sampai 35 individu. Ketika berada di sekitar sarang, sesekali memperlihatkan perilaku terbang naik dengan cepat diselingi gerakan menggantung di udara, kemudian menukik tajam dengan sayap terlipat dan dilakukan secara berulang-ulang.

Terbang rendah di atas permukaan air untuk berburu makanan, tetapi terkadang juga menunggu mangsa sambil bertengger di pohon dekat perairan, dan sesekali terlihat berjalan di permukaan tanah mencari semut dan rayap. Menyerang burung camar, dara laut, burung air besar, dan burung pemangsa lain yang lebih kecil untuk mencuri makanan.

Makanan sangat bervariasi. Di perairan diantaranya memakan kepiting, udang, dan ikan; juga memakan sampah dan ikan sisa tangkapan nelayan. Di daratan memangsa burung, anak ayam, serangga, dan mamalia kecil.

Berbiak pada musim kemarau di daerah tropis, sekitar bulan Januari-Juli di Kalimantan, Mei-Oktober di Jawa dan Sulawesi. Bentuk sarang tidak rapi, tersusun atas patahan batang, rumput, daun, rumput laut, sisa makanan dan sampah.

Sarang terletak di bangunan atau percabangan pohon yang tersembunyi, 6-50 m dari permukaan tanah. Sedangkan di hutan mangrove, sarang hanya setinggi 2-8 m. Jumlah telur biasanya 2 (1-4 butir), dierami selama 28-35 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 40-56 hari, menjadi dewasa mandiri setelah 2 bulan kemudian.

Sebagaimana burung pemangsa lainnya, Elang Bondol termasuk jenis satwaliar yang dilindungi Undang-Undang (PP  No. 7/1999). Daerah sebaran yang luas dan jumlah yang masih banyak menyebabkan burung ini oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah (LC) untuk punah. CITES memasukkan burung ini dalam Appendiks II sebagai jenis satwa yang masih dapat diperdagangkan secara internasional dengan aturan tertentu.

6. Elang-laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster).

Salah satu pengalaman yang paling mendebarkan saat mengamati burung di Halmahera (Pulau Pakal) adalah ketika secara tiba-tiba, entah dari mana, seekor Elang laut yang sangat besar, terbang melesat rendah di atas kepala penulis.

Sayap hitam-putih yang terbentang lebar, ekor pendek berbentuk baji dan kaki yang kokoh terlihat jelas sekali. Dalam sekejap, burung besar itu telah membubung tinggi mengikuti aliran udara. Gerakan sayapnya lembut dan anggun. Benar-benar burung pemangsa yang indah dan membuat takjub.

Elang-laut Perut-putih berukuran besar (70 cm). Berwarna putih, abu-abu, dan hitam. Dewasa: kepala, leher, dan bagian bawah putih, sayap, punggung dan ekor abu-abu, bulu primer hitam.

Burung remaja: warna putih pada dewasa diganti dengan warna coklat pucat dan warna abu-abu diganti warna coklat gelap. Bentuk ekor yang menyerupai baji merupakan ciri khasnya. Iris coklat, paruh dan sera abu-abu, tungkai tanpa bulu dan kaki abu-abu coklat. Suara berupa teriakan nyaring seperti rangkong “kah-kah-kah-…”

Elang-laut Perut-putih tersebar luas mulai dari India, Asia tenggara, Filipina, Indonesia sampai Australia.Secara lokal, penetap yang umum di sekitar daerah pantai, danau besar, dan sungai dekat pantai, di seluruh kawasan sunda Besar sampai Papua dengan pulau-pulau satelitnya.

34.Elang Laut-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Elang Laut Perut-putih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Elang yang indah ini sering terlihat bertengger dengan sangat tegak pada pohon di pinggir perairan, di daerah karang, atau di atas bagan-bagan. Melayang-layang dan meluncur dengan indah dan anggun, dengan sayap terangkat membentuk huruf V.

Terbang dengan kepakan sayap yang pelan, tetapi kuat. Menangkap mangsa di permukaan laut dengan tukikan dan gerakan menyambar yang menakjubkan, tubuh hampir-hapir tidak basah saat ikan atau ular laut ditangkap dengan cakarnya.

Membangun sarang yang kokok pada pohon tinggi, terbuat dari cabang dan ranting. Sarang digunakan selama bertahun-tahun. Memakan ikan dan ular laut. Sarang yang besar pada pohon yang tinggi terbuat dari ranting dan dahan, sering digunakan setiap tahun. Sarang berlapis daun tempat meletakkan dua butir telur berwarna putih. Di Jawa berbiak pada bulan April, Mei, dan Juni.

Saat bertarung di udara, dua ekor elang akan saling mengaitkan cakarnya dengan cakar lawan hingga keduanya berputaran seperti puting beliung dan terjun bebas dengan kecepatan tinggi. Kedua burung akan terus meluncur ke bawah dan baru terpisah saat mendekati permukaan tanah/laut.

Elang-laut Perut-putih tersebar luas. Populasinya juga masih cukup banyak, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil yang belum terganggu. Berdasarkan hal tersebut, IUCN mengkategorikan burung ini beresiko rendah dari kepunahan (LC).

CITES memasukkan elang ini dalam Appendiks II sebagai satwa yang bisa diperdagangkan secara internasional di bawah aturan tertentu. Namun, Elang ini dilindungi pemerintah berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999, sehingga tidak dapat diperdagangkan di Indonesia.

7. Elang-alap Abu (Accipter novaehollandiae).

Berukuran besar (41-50 cm). Memiliki dua fase bulu: fase putih yang khas dan fase abu-abu yang mirip dengan Elang-alap Coklat tetapi tidak memiliki kerah merah-karat. Sera jingga kuning, tubuh bagian bawah merah-karat polos. Remaja: tubuh bagian bawah keputih-putihan atau bungalan ber-strip dan berpalang tebal.

Suara berupa serangkaian nada yang terdiri dari delapan sampai sepuluh nada samar, lambat, tinggi, nada lemah, maninggi atau menurun.

g. Elang Alap Abu-dody94.wordpress.com

 Gambar 7. Elang-alap Abu. Sumber: dokumentasi pribadi.

Burung ini lebih banyak ditemukan di Indonesia bagian timur terutama Papua dan sekitarnya yang juga mencakup: Kepulauan Bismarck, Solomon, dan Australia. Secara lokal tersebar di Nusa Tenggara, Maluku dan seluruh kawasan Papua. Dari ketinggian 500 – 1450 m di habitat yang terganggu. Terdapat 23 sub-spesies yang dikenal. Burung yang berhasil diamati penulis tergolong ras griseogularis.

Elang-alap yang umum di tepi hutan di sebagian besar kawasan Papua. Bertengger di pepohonan yang teduh, menyusuri tepi hutan di puncak kanopi, jarang terbang tinggi. Terkadang melakukan gaya terbang berguling-guling mirip dengan Elang-alap Jambul. Memakan burung, mamalia kecil, reptil, katak, dan antropoda.

Musim berbiak Mei-November di Australia utara. Sarang tersusun atas ranting dan dijalin dengan dedaunan. Terletak 15 m di atas permukaan tanah, biasanya di puncak tajuk pohon. Telur 2-4 butir, dengan waktu pengeraman 31-34 hari. Anakan belajar terbang meninggalkan sarang pada umur 30-42 hari.

Oleh IUCN, burung ini dikategorikan beresiko rendah untuk punah (LC). CITES memasukkannya dalam daftar Appendiks II sebagai satwa yang dapat diperdagangkan dengan pwngawasandan aturan tertentu. Namun, burung ini tidak dapat diperjualbelikan di Indonesia karena termasuk dalam PP. No. 7 Tahun 1999.

8. Alap-alap Layang (Falco cenchroides).

Berukuran kecil (30 cm), duduk tegak, berwarna coklat, berekor panjang. Mirip Alap-alap Erasia, tetapi berwarna lebih pucat dan tanda hitam kurang tebal. Jantan : dahi abu – abu dan tenguk coklat.Remaja : mirip betina, tetapi lebih suram, bagian bawah merah karat lebih keabu-abuan dan bagian atas bergaris-garis hitam lebih tebal.

Iris Coklat, paruh  abu-abu dengan ujung hitam dan sera kuning, tungkai dan kaki kuning.
Suara Kee kee kee kee yang cepat. Mirip suara Alap-alap Erasia.
Belum tersedia rekaman suara yang diambil dari wilayah Indonesia.

Penetap di Australia dan  Papua bagian selatan (Pegunungan Jayawijaya), bermigrasi ke utara pada musim dingin sampai ke Nusa Tenggara dan Maluku. Kadang – kadang ditemukan tersesat sampai Jawa dan Bali. Terdiri atas dua sub-spesies dengan daerah persebaran sebagai berikut:

  • cenchroides Vigors & Horsfield, 1827 – Australia, Tasmania, P. Lord Howe, P. Norfolk dan P. Christmas. Musim dingin bermigrasi ke Sunda Kecil dan Maluku melalui Kep. Aru dan Papua selatan; kadang juga ke Selandia Baru.
  • baru Rand, 1940 – Jajaran Pegunungan Tengah Papua.

h. Alap Layang-dody94.wordpress.com

 Gambar 8. Elang-alap Abu. Sumber: dokumentasi pribadi (kiri).

Menghuni padang rumput alpin yang tinggi di Pegunungan Jayawijaya (3.400m). Bulan April, Agustus dan September mengunjungi pedesaan yang terbuka dan lahan budidaya di dataran rendah Maluku dan Nusa Tenggara.

Bertengger di pohon mati atau tiang listrik yang berada di daerah terbuka, atau terbang melayang di atas padang rumput untuk mencari mangsa. Makanan bervariasi, terutama serangga tetapi juga memakan burung kecil, reptil, dan tikus.

Sebagaimana burung pemangsa lainnya, Elanmg ini dilindungi Undang-Undang berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Dikategorikan beresiko rendah (LC) oleh CITES dan masuk Appendiks II CITES.

9. Pergam Laut (Ducula bicolor).

Agak besar (35 cm), secara umum diselimuti bulu berwarna hitam dan putih. Tubuh seluruhnya putih-krem, kecuali bulu-bulu sayap primer dan ekor yang hitam.
Iris coklat, paruh abu-abu, kaki abu-abu kebiruan. Pergam Laut merupakan avifauna yang dominan di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Suara burung ini berupa derukan menggema keras dan dalam, “Hu-hu-hu-hu-hu”, dan “cek” yang tajam sewaktu berkelahi, serta “kru-kruuuu” yang keras. Suara lainnya seperti suara merpati peliharaan.

32.Pergam Laut-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Pergam Laut. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pergam Laut tersebar luas, mulai dari Semenanjung Malaya, Filipina hingga seluruh Indonesia.

Berdasarkan daerah sebarannya, Pergam Laut memiliki dua sub-spesies :

  • bicolor (Scopoli, 1786) – Pesisir dan kepulauan kecil di Andaman dan Nikobar, Myanmar barat, Semenanjung Malaysia, hailan, Kamboja; Juga di Filipina dan di Indonesia sampai kawasan barat P. Papua.
  • melanura (G. R. Gray, 1860) – Maluku: Bacan, Halmahera, Obi, Seram, Buru, Ambon, Kep. Kai, Moti dan Muor; juga di P. Komodo dan Kep. Tanimbar di Sunda Kecil.

Masih sering dijumpai bertengger di pohon-pohon tinggi dan mencari makan dalam kelompok-kelompok kecil di Pulau-pulau kecil di lepas pantai, terutama di hutan mangrove dan hutan pantai. Kadang juga ditemukan di daratan pulau-pulau utama dan terbang melintas antar pulau-pulau kecil.

Pergam Laut tersebar luas dan memiliki populasi melimpah sehingga belum dilindungi oleh pemerintah. Burung ini juga tidak termasuk dalam daftar merah terancam punah dari IUCN dan juga tidak termasuk Appendiks II CITES.

Saat dilakukan pengamatan di bulan Mei, ditemukan sebagian besar betina sedang bertelur. Sarang terbuat dari ranting-ranting kering yang kasar. Pergam Laut termasuk jenis burung daerah pesisir dan tergolong burung spesialis penghuni pulau-pulau kecil.

Referensi:

Untuk mendengarkan suara atau melihat gambar yang lebih jelas dari jenis burung yang diuraikan di atas, kami rekomendasikan untuk mengunjungi website: http://www.kutilang.or.id

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Burung-Burung Halmahera (3)

  1. Halim Santoso berkata:

    Lengkap sekali baca jenis-jenis burung di Halmahera ini. Nice share😀

Komentar ditutup.