Burung-Burung Halmahera (4)

Setelah postingan sebelumnya tentang burung endemik, burung paruh bengkok, burung pantai dan burung pemangsa, kali ini penulis akan berbagi cerita tentang burung pemakan serangga (insectivor), pemakan buah (frugivor) atau biji-bijian (granivor) yang berhasil diamati di Halmahera Timur.

  1. Tepekong Kumis (Hemiprocne mystacea).

Tepekong Kumis (Hemiprocnidae) sepintas mirip Walet sehingga burung ini dikenal juga dengan nama Walet Pohon atau Treeswift. Ekor berbentuk gunting, sangat panjang. Sayap ramping dan panjang abu-abu. Perut, alis dan “kumis” putih mencolok. Anakan memiliki beberapa palang merah karat dan putih, khususnya di tubuh bagian bawah.

Untuk ukuran Walet, Tepekong Kumis berukuran besar, yaitu sekitar 29 cm. Berbeda dengan Walet biasa, burung ini senang bertengger di dahan dan pucuk pohon mati. Penulis mendapati burung ini saat sedang bertengger di pucuk pohon bakau yang mati di Moronopo.

Dari sisi kekerabatan, Tepekong Kumis (Hemiprocnidae) berbeda suku dengan Walet (Apodidae). Burung Tepekong sendiri mencakup 4 jenis, yaitu: Hemiprocne coronata, H. longipennis, H. comata dan H. mystacea. Tiga jenis terakhir ditemukan di Indonesia.

33.Tepekong Kumis-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Tepekong Kumis Halmahera (ras confirmata). Sumber: dokumentasi pribadi.

Suara Tepekong Kumis berupa lengkingan tunggal, keras, bernada tinggi yang makin merendah seperti binatang mainan plastik yang diremas. Juga siulan yang tiba-tiba berhenti, semakin meninggi dan lembut.

Tepekong Kumis sering bertengger di puncak bagian pohon yang tinggi di tepi hutan atau terbang melambung indah di kebun-kebun serta habitat terbuka lainnya. Biasanya muncul sendirian atau berpasangan, tetapi kadang berkumpul dalam kawanan yang terdiri dari ratusan ekor. Aktifitas terbang terutama dilakukan sebelum senja dan di dini hari.

Serangga seperti kumbang, semut, kutu, dan lebah adalah makanan favorit Tepekong Kumis. Seringkali, burung ini bertengger di cabang terbuka pohon, mengawasi sekeliling mendeteksi serangga, kemudian terbang menyambar mangsa dan kembali lagi ke tempat bertengger.

Berbiak sepanjang tahun, tercatat hanya pada bulan Maret tidak ditemui sedang bersarang. Sarang berbentuk seperti tatakan gelas kecil, yang diletakkan di ujung cabang tertinggi pohon. Jumlah telur 1 butir setiap periode berbiak.

Terdiri dari 6 sub-spesies, dengan daerah persebaran:

  • confirmata Stresemann, 1914 – Maluku (tidak ada di Kai dan Sula) sampai Kep. Aru.
  • mystacea (Lesson, 1827) – Daratan Papua; kepulauan di Teluk Cendrawasih dan kepulauan di Papua barat.
  • aeroplanes Stresemann, 1921 – Kepulauan Bismarck (selain Kepulauan Admiralty dan Kepulauan Feni).
  • macrura Salomonsen, 1983 – Kepulauan Admiralty.
  • woodfordiana (Hartert, 1896) – Kepulauan Feni dan sebagian besar Kepulauan Solomon (termasuk Kepulauan Bougainville).
  • carbonaria Salomonsen, 1983 – Pulau Bauro (Solomon).

Daerah sebaran yang luas dengan populasi melimpah menyebabkan IUCN menggolongkan burung ini dalam kategori beresiko rendah (LC) untuk punah. Tepekong Kumis juga tidak masuk dalam lampiran Appendiks CITES dan tidak termasuk jenis satwa yang dilindungi di Indonesia.

  1. Kepodang-sungu Kartula (Coracina papuensis).

Kepudang-sungu Kartula (Campephagidae) berukuran sedang (25 cm). Tubuh pucat abu-abu dengan tenggorokan, dada, dan perut keputih-putihan. Wajah bertopeng hitam kecil. Remaja bertotol kusam di tubuh bagian bawah dan dada.

Suku Campephagidae mencakup 49 spesies yang tersebar di Asia dan Australia. Burung ini sering disebut Cuckooshrike atau Cicadabird. Kepudang-sungu Kartula juga disebut White-bellied Cuckooshrike.

Bunyi “whee-eeyu” atau “wee-yeer” lemah, memekik, memelas, dan mengalir agak seperti nuri, suara diulang-ulang. Juga campuran nada lebih panjang yang kualitasnya sama, seperti suara lonceng terkena angin.

Tersebar di seluruh dataran rendah dan kawasan tinggi tertentu. Di savana, kawasan hutan terbuka, hutan pantai, mangrove, serta kawasan urban. Memasuki beberapa kawasan dataran tinggi di habitat yang terganggu.

26.Kepudang Sungu Kartula-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Kepudang-sungu Kartula (ras papuensis). Sumber: dokumentasi pribadi.

Kepudang-sungu ini sering ditemukan sendirian, atau dalam kelompok kecil, mengumpulkan serangga sedikit demi sedikit dari dedaunan, kadang menyerang mendadak. Paling sering terlihat ketika terbang.

Cara terbang jelas naik turun, mengepakkan sayap untuk mencapai ketinggian, kemudian melayang, sambil menahan sayapnya dengan kaku ke arah bawah. Ketika bertengger, suka memperagakan kibasan sayapnya dengan berlebih-lebihan.

Kepudang-sungu Kartula tersebar luas di Indonesia, Papua dan Australia. Burung ini terbagi menjadi 14 sub-spesies. Spesies yang ditemukan di Halmahera tergolong dalam ras papuensis. Oleh IUCN, burung ini dikategorikan beresiko rendah (LC), tidak masuk dalam daftar lampiran Appendiks CITES dan tidak dilindungi di Indonesia.

  1.  Kepodang-sungu Miniak  (Coracina tenuirostris)

Kepudang-sungu Miniak (Suku Campephagidae) berukuran sedang (25 cm). Jantan hitam sabak gelap, bagian muka paling gelap, dan tepi bulu-bulu sekunder pucat. Betina sangat berbeda: tubuh bagian atasnya coklat abu-abu pasir, alis pucat, tubuh bagian bawah lebih pucat, dengan palang halus yang tidak jelas. Paruh ramping dan hitam.

Betina mirip dengan Kapasan sayap-putih betina yang terlalu besar. Jantan sangat mirip dengan Kepudang-sungu desin, Kepudang-sungu bahu-hitam, dan Kepudang-sungu kelek-coklat. Jenis ini sedikit lebih besar dan lebih ramping daripada ketiga jenis di atas, dengan paruh memanjang dan ramping, tepi bulu-bulu sekundernya pucat, dan “bahunya” biru abu-abu.

Suara berupa rangkaian nada merdu yang sama diulang tiga kali per detik selama setengah menit, sedikit meninggi. Populasi penetap di Trans-Fly dan Barat Daya terdengar bersuara mendengung seperti jangkrik.

7.Kepodang Halmahera-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Kepudang-sungu Miniak Betina. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pendatang musim dingin yang lebih sering terdengar suaranya daripada terlihat. Mengunjungi tepi hutan dan hutan sekunder di dataran rendah dan perbukitan, juga di savana dan hutan mangrove, dari ketinggian permukaan laut sampai 1500 m. Terlihat sendirian atau berpasangan, berburu serangga untuk dimakan.

Kepudang-sungu Miniak dikategorikan beresiko rendah (LC) oleh IUCN. Burung ini tidak termasuk dalam lampiran Appendiks CITES dan tidak termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia.

4.  Brinji Emas (Ixos affinis).

Brinji Emas Ixos affinis, Thapsinillas affinis atau Alophoixus affinis termasuk spesies burung endemik Indonesia. Burung ini termasuk keluarga Kutilang (Suku Pycnonotidae) yang memiliki sebaran terbatas di sub-kawasan Sulawesi dan Maluku.

Berukuran cukup besar (21-26 cm). Tubuh bagian atas diselimuti bulu zaitun-kekuningan dan tubuh bagian bawah seluruhnya atau sebagian kuning. Iris coklat-tua hingga kemerahan atau jingga. Paruh berwarna keputih-putihan. Brinji Emas dikenal juga sebagai Golden Bulbul.

5.Brinji Emas-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Brinji Emas Halmahera (ras chloris). Sumber: dokumentasi pribadi.

Endemik Indonesia atau hanya hidup di sub kawasan Sulawesi, Kepulauan Sula dan Maluku. Terdiri atas 9 sub-spesies, dengan daerah persebaran:

  • mysticalis (Wallace, 1863): Pulau Buru.
  • affinis (Hombron & Jacquinot, 1841): Pulau Seram. Memiliki bintik-kekang kuning, tubuh bagian bawah zaitun-kekuningan lebih terang, ujung bulu-bulu ekor luar kuning-terang lebar
  • flavicaudus (Bonaparte, 1850): Pulau Ambon. Sangat mirip dengan T. a. affinis.
  • longirostris (Wallace, 1863): Kepulauan Sula (Taliabu, Mangole dan Sanana)
  • platenae (Blasius, WH, 1888): Pulau Sangihe. Mirip dari T. a. longirostris tetapi memiliki bintik-kekang kuning-terang, coretan pada tangkai bulu bagian atas agak terang, dan sisi-sisinya zaitun
  • aureus (Walden, 1872): Kepulauan Togian. Warna bulu di tunggir lebih kuning dari T. a. longirostris dan bulu bagian bawah kuning-keemasan
  • harterti (Stresemann, 1912): Kepulauan Banggai (Peleng, Banggai, Labobo dan Banda). Warna bulu dada lebih zaitun dari T. a. longirostris
  • chloris (Finsch, 1867): Pulau Morotai,  Halmahera, Bacan dan Kasiruta. Bulu tubuh bagian atas, dada, dan sisi-sisinya lebih hijau, kekang dan bulu bagian bawah mata agak gelap.
  • lucasi (Hartert, E, 1903): Pulau Obi. Warna bulu-bulunya lebih terang dan lebih kuning dari T. a. chloris, serta memiliki warna bintik-kekang kuning keemasan

Brinji Emas menyukai daerah terbuka dengan pohon yang tidak terlalu tinggi seperti daerah pantai dan tepi hutan yang didominasi tumbuhan semak-perdu. IUCN memasukkan Brinji Emas dalam kategori beresiko rendah terancam punah (Least Concern). Burung ini tidak masuk daftar Appendiks CITES dan tidak masuk spesies yang dilindungi di Indonesia.

5.  Perling Maluku (Aplonys mysolensis).

Perling Maluku (Suku Sturnidae) termasuk jenis burung yang cukup umum di Maluku Utara. Berukuran sedang (20 cm) dengan ekor berbentuk baji. Seluruh bulunya berwarna kehijauan mengkilap; iris mata merah-kusam. Tubuh bagian bawah burung muda berwarna putih berbintik hitam.

Perling Maluku menyukai habitat terbuka berupa bekas hutan yang telah di tebang, semak belukar, hutan mangrove, hutan pantai dan tepian sungai. Hidup dalam kelompok kecil, menghuni semak dan tepi hutan yang ada di pulau-pulau kecil. Memakan buah-buhan, mungkin juga memakan serangga dan nektar.

Biasanya mencari makan secara berkelompok terlihat bergabung dengan Jalak ungu, meskipun kadang berpasang atau sendirian. Bersarang bersama koloni sampai 50 pasang lebihan dalam lubang-lubang pohon yang telah mati.

10.Perling Maluku-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Perling Maluku (ras mysolensis).  Burung Remaja (kiri) dan Burung Dewasa (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Salah satu ciri khas dari keluarga burung Jalak ini adalah matanya yang berwarna merah menyala sehingga oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “burung mata merah”. Burung ini bersifat omnivor dengan memakan buah dan serangga.

Perling Maluku tersebar luas, mulai dari Kepulauan Banggai dan Kepulauan Sula, di ujung timur Sulawesi; Morotai, Halmahera, Ternate, Bacan, Obi, Buru, Seram, Ambon, Haruku dan Saparua, di Maluku; dan di kelompok Pulau Papua Barat; meliputi Gebe, Ajoe, Waigeo, Batanta, Salawati, Misool, dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya.

. Berdasarkan sebaran dan ciri fisiknya, Perling Maluku dibagi menjadi 2 ras, yaitu:

  • mysolensis (G. R. Gray, 1862): Pulau-pulau kecil di Maluku dan Papua
  • sulaensis (Sharpe, 1890): Kepulauan Banggai (Peleng dan Banggai) dan Kepulauan Sula (Taliabu, Seho, Mangole, dan Sanana)

f. Perling Maluku-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Batang pohon mati dipenuhi sarang Perling Maluku.  Sumber: dokumentasi pribadi.

Perling Maluku tidak termasuk dalam daftar Apendiks CITES dan dikategorikan beresiko rendah (Least Concern) oleh IUCN. Burung ini juga tidak masuk dalam daftar flora dan fauna yang dilindungi di Indonesia. Populasi di Halmahera cenderung menurun akibat konversi habitat.

6.  Kirik-Kirik Australia (Merops ornatus).

Kirik-kirik Australia (Suku Meropidae) berukuran sedang (25 cm) termasuk perpanjangan pita pada ekor tengah). Berwarna kehijauan, garis hitam melalui mata dibatasi oleh garis biru di atas dan di bawahnya. Mirip kirik-kirik Laut. Perbedannya: ada garis hitam pada tenggorokan, ekor hitam, sayap bawah yang jingga terlihat mencolok sewaktu terbang.

Remaja: tidak ada warna hitam pada tenggorokan dan tanpa pita ekor. Iris merah, paruh hitam, kaki abu-abu. Ringan, berdering “pirr pirr pirr”, biasanya dikeluarkan sewaktu terbang.

28.Kirik Kirik Australia-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Kirik-kirik Australia. Sumber: dokumentasi pribadi.

Berbiak di Australia, bermigrasi ke Papua dan Indonesia bagian timur. Khas sukunya, berburu dari tenggeran di padang rumput terbuka. Pada musim panas pengembara yang jarang di Bali.

Memakan serangga terutama lebah sehingga disebut Rainbow Bee-eater, juga memakan capung, kumbang, kupu-kupu, dan ngengat. Bersarang dalam lubang pada gigir teras tanah yang diberi bantalan rumput. Telur dan anakan dirawat oleh kedua orang tua.

Kirik-kirik Australia dikategorikan beresiko rendah (Least Concern) untuk punah. Burung ini tidak termasuk dalam daftar Appendiks CITES dan tidak termasuksatwa yang dilindungi di Indonesia.

7Tiong-lampu Biasa (Eurystomus orientalis)

Tiong-lampu Biasa (Suku Coraciidae) berukuran sedang (30 cm), berwarna gelap. Paruh merah lebar (remaja: hitam). Warna bulu keseluruhan adalah abu-abu kebiruan gelap, kecuali kerongkongan biru terang. Sewaktu terbang, terlihat bercak bulat biru muda yang kontras di tengah sayap, sehingga jenis ini dikenal dengan “Dollar Birds”.

Iris coklat, paruh  merah dengan ujung hitam, kaki merah-jingga. Suara berupa kuakan parau “krek-krek” sewaktu terbang atau dari tenggeran. Terdiri dari 10 sub-spesies, dengan daerah persebaran: Maluku ras orientalis.

28b.Tiong Lampu Biasa-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Tiong-lampu Biasa. Sumber: dokumentasi pribadi.

Ras penetap dan migran terdapat di seluruh Sunda Besar. tersebar merata tetapi tidak pernah umum, di daerah setengah terbuka di pinggir hutan sampai ketinggian 1200 m. Biasanya terlihat duduk pada pohon mati di daerah terbuka.

Kadang-kadang terbang mengejar serangga atau menukik mengejar serangga di tanah. Cara terbang aneh, mirip cabak, mengepak-ngepak berat. Kadang-kadang 2-3 ekor terbang dan menukik bersama pada senja hari, terutama saat bercumbu. Kadang-kadang dikerubuti burung kecil karena kepala dan paruhnya terlihat seperti burung pemangsa.

Tiong-lampu Biasa dikategorikan beresiko rendah untuk punah (Least Concern) oleh IUCN. Burung ini tidak masuk dalam daftar Appendiks CITES dan tidak dilindungi di Indonesia.

8Bubut Alang-Alang (Centropus bengalensis)

Bubut Alang-alang (Suku Cuculidae)  berukuran besar (42 cm), berwarna coklat kemerahan dan hitam dengan ekor panjang. Mirip Bubut besar, tetapi lebih kecil dan berwarna lebih suram, hampir kotor. Mantel berwarna coklat berangan pucat, tersapu hitam. Burung muda bergaris-garis coklat. Terdapat pola warna peralihan. Iris merah; paruh dan kaki hitam.

Suara “hup” dengan nada rendah yang diulang dengan tempo yang semakin cepat, seperti bunyi air tertuang dari botol. Lebih cepat dari suara Bubut besar. Bunyi selanjutnya berupa tiga bunyi “hup” yang terpecah menjadi tiga rangkaian “logokok, logokok, logokok

29c. Bubut Alang-Alang-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Bubut Alang-alang Halmahera (ras medius). Sumber: dokumentasi pribadi.

Tersebar luas di  India, Cina, Asia Tenggara, dan Filipina. Terdiri dari 5 sub-spesies:

  • bengalensis (J. F. Gmelin, 1788): India dan Nepal melalui Bangladesh, Myanmar dan Thailand sampai Indochina.
  • lignator (Swinhoe, 1861): Cina selatan dan tenggara, Hainan dan Taiwan.Lokal: Kalimantan, Sumatera dengan pulau-pulau kecil di bagian timurnya, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.
  • javanensis (Dumont, 1818): Semenanjung Malaysia melalui Sumatera, Riau dan Kep. Lingga, Bangka dan Belitung sampai Jawa, Bali, Kalimantan dan Filipina.
  • sarasinorum (Stresemann, 1912): Sulawesi dan Sunda kecil.
  • medius (Bonaparte, 1850): Maluku.

Dari 5 subspesies di atas, ras medius yang tersebar di Halmahera memiliki ukuran tubuh yang paling besar.

Umum ditemukan di dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m, jarang di pegunungan sampai ketinggian 1.500 m. Menyukai habitat belukar, payau, dan daerah berumput terbuka termasuk padang alang-alang.

Sering mencari makan di tanah atau terbang jarak pendek dengan mengepak-ngepak rendah di atas vegetasi. Makanan terdiri dari serangga, katak, kadal, dan ular. Berburu di sela-sela tumbuhan bawah, menangkap dan membunuh mangsa menggunakan paruhnya yang kuat.

Sarang besar dan membulat, tersusun dari ranting dan rerumputan, dengan satu pintu masuk besar disisinya. Terkadang sarang diperbarui dengan merajut daun dan rerumputan yang masih hijau. Telur 2-3 butir, berwarna putih.

Bubut Alang-alang dikategorikan beresiko rendah (LC) untuk punah oleh IUCN. Tidak masuk dalam lampiran Appendiks CITES dan tidak termasuk spesies yang dilindungi di Indonesia.

9. Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis)

Tekukur biasa (Suku Columbidae) berukuran sedang (30 cm), berwarna coklat kemerahjambuan. Ekor tampak panjang. Bulu ekor terluar memiliki tepi putih tebal. Bulu sayap lebih gelap daripada bulu tubuh terdapat garis-garis hitam khas pada sisi-sisi leher (jelas terlihat), berbintik-bintik putih halus. Iris jingga, paruh hitam, kaki merah.

Suara berupa nada merdu yang diulang-ulang: “te-kuk-kurr”, dengan nada terakhir memanjang (berdasarkan bunyi inilah asal nama Indonesianya). Burung ini banyak di pelihara di Indonesia dan tercatat sebagai spesies introduksi di Halmahera.

Saat pengamatan di Halmahera, burung ini terlihat sedang bertengger di akar bakau dan di daerah terbuka di tepian hutan.

30.Tekukur Biasa-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Tekukur Biasa (ras tigrina). Sumber: dokumentasi pribadi.

Tersebar luas dan umum terdapat di Asia tenggara sampai di Nusa Tenggara. Diintroduksi ke tempat lain sampai Australia dan Los Angeles (AS). Secara global memiliki 3 sub-spesies dengan daerah persebaran:

  • suratensis (J. F. Gmelin, 1789) – Pakistan, Nepal dan India Selatan. Juga di Sri Lanka, Bhutan dan Assam.
  • chinensis (Scopoli, 1786) – Myanmar, China Timur & Tengah (Sichuan, Yunnan,  Hainan dan Hebei) juga di Taiwan.
  • tigrina (Temminck, 1810) – Bangladesh, India ekstrim timur-laut, Myanmar, Thailand, Indochina, Filipina, Sunda Besar, Sunda Kecil, Timor.

c. Tekukur-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Tekukur Biasa mencari makan di lahan terbuka. Sumber: dokumentasi pribadi.

Mudah dijumpai di daerah terbuka, perkampungan, dan perkotaan. Hidup bersama manusia di sekitar desa dan sawah. Mencari makan di atas permukaan tanah. Sering berpasangan di jalan yang terbuka. Bila terganggu, terbang rendah di atas tanah dengan kepakan sayap pelan yang khas.

Meskipun banyak dipelihara, tekukur masih dikategorikan beresiko rendah untuk punah (LC). Burung ini juga tidak termasuk dalam lampiran Appendik CITES dan tidak termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia.

Referensi:

Untuk mendengarkan suara atau melihat gambar yang lebih jelas dari jenis burung yang diuraikan di atas, kami rekomendasikan untuk mengunjungi website: http://www.kutilang.or.id

 

 

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , . Tandai permalink.