Buah susu berdaun emas

“Berbuah susu. Berdaun emas. Apakah itu?”. Seorang teman bertanya dengan tatapan menggoda. Saya yang sedang sibuk, menjawab sekenanya “Buah plastik.. !”. “Loh, kenapa buah plastik..?”. Sang penanya bingung. “Mana ada buah seperti itu?”. kataku protes. “Ada”, kata temanku. “Mana?”, Aku balik bertanya. “Nih.” jawabnya kalem.

Sesosok buah sebesar genggaman tangan itu disodorkan padaku. “Ini Apel khan?” aku bertanya untuk memastikan. “Bukan !”. jawabnya singkat sambil berlalu. “Terus buah apa?. Bisa dimakan?.”, aku sedikit berteriak semakin penasaran. “Cari sendiri. Buat bahan tulisan diblogmu. Hahaha”. suaranya terdengar semakin menjauh. Teman yang satu ini memang selalu jahil padaku. Gak puas kalo gak berantem, walau sehari saja.

Aku baru ingat kalo punya sebuah blog. Sudah lama gak pernah ditengok. Waktu 24 jam rasanya belum cukup untuk menuntaskan semua pekerjaan. Kadang aku berfikir untuk berhenti menulis saja. Akhir-akhir ini  rasanya begitu sulit untuk membagi waktu.

Aku juga tak mau menulis hanya sekedar memenuhi  kewajiban, mengejar target, rating atau pageview. Aku hanya ingin menulis sesuai kata hatiku. Sesuai dengan apa yang aku lihat, aku alami dan aku rasakan. Aku ingin menulis sebaik yang aku mampu. Aku ingin menikmatinya. Bukan terbebani olehnya.

Bagiku, blog ini adalah representasi diriku, proses pembelajaranku, dan pemenuhan atas rasa keingintahuanku. Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Hahaha. Ngelantur. Terus bagaimana dengan pembaca?. Aku berpinsip, jika aku menikmatinya, pembaca pun pasti akan menikmatinya. Positive thinking aja. Hehehe.

Akhirnya aku beranjak ke sebuah meja di luar ruangan. Sekantong plastik buah mirip apel itu tergeletak di sana. Buah yang diberikan temanku sudak agak matang. Aku mengambil lagi satu buah dari kantong plastik. Sengaja aku mencari dan memilih buah yang paling muda. Dua buah inipun kubawa pulang.

Sawo Apel-1

Gambar 1. Buah muda dari kantong plastik (kiri) dan buah apel dari China (kanan).

Sesampai di rumah, aku mengambil kamera saku, piring putih, bantal sofa dari ruang tamu dan sebuah apel. Buah dari temanku dan buah apel itu aku susun sedemikian rupa dan aku potret. Taraaaa.  Hasilnya ada di Gambar 1. Aku mengambil lagi gambar buah temanku dari sisi atas dan sisi bawah. Hasilnya tampak di Gambar 2.

Sawo Apel-2

Gambar 2. Buah dari temanku yang sudah agak matang. Tampak atas (kiri). Tampak bawah (kanan).

Buah pemberian temanku ini bentuknya seperti apel. Tangkainya mengeluarkan getah. Warna sisi atas hijau pucat dan sisi bawah keungu-unguan. Saat ditekan, kulitnya tidak terlalu keras seperti apel. Lebih lunak. Segera saja buah ini aku belah. Hasilnya tampak di Gambar 3. Bagian dalamnya berwarna putih. Bijinya hitam. Agak pipih. Lebih besar dari biji Apel. Bentuk biji ini sangat mirip dengan biji Sawo.

Saat buah yang masih muda aku belah, daging buahnya masih berselimut getah kental berwarna putih seperti susu. Tak salah memang, jika temanku tadi menyebut buah ini sebagai buah susu.

Penasaran, aku pun mencoba mencicip buah yang agak matang. Daging buahnya terasa kenyal, mirip Kolang Kaling atau Nata de Coco. Rasa buahnya mirip dengan buah Lontar Borassus flabellifer, sejenis palem besar yang banyak tumbuh di daerah beriklim kering. Rasa buah ini unik dan tak biasa. Kulit buah yang tebal, tidak aku makan. Aku tak berani mengambil resiko, mulut menjadi gatal karena getah.

Sawo Apel-4

Gambar 3. Buah susu yang sudah terbelah. Tampak kulit buah yang tebal berwarna putih, daging buah berwarna putih kekuningan dan biji.

Langkah selanjutnya adalah mencari tahu identitas buah ini. Soalnya bikin penasaran. Iseng-iseng aku masukkan kata kunci “buah susu daun emas” di mesin pencari. Mudah-mudahan yang muncul bukan info atau gambar yang aneh-aneh. Ternyata yang muncul adalah buah pisang, sawo, pepaya dan satu lagi mirip dengan buah yang saya cari. Ahaa. jebreeeeet. Akhirnya, sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air, aku tahu nama buah ini.

Ternyata, buah unik  ini berasal dari dari Kepulauan Greater Antilles dan Hindia Barat nun jauh di Amerika Tengah sana. Kawasan ini lebih terkenal dengan nama Karibia. Buah ini kemudian tersebar luas ke seluruh dunia termasuk ke negara kita.  Jenis tumbuhan ini,  Chrysophyllum cainito memiliki beragam nama di banyak negara.

Di Amerika tengah dan selatan disebut cainito, caimito, star apple, golden leaf tree, abiaba, pomme du lait, estrella, milk fruit dan aguay. Di Vietnam disebut vú sữa yang artinya buah ASI (Air Susu Ibu). Di India disebut “Swarnapathry”  yang berarti pohon berdaun emas. Sedangkan di Jawa Timur disebut “Kenitu”. Di Indonesia tumbuhan dari suku Sapotaceae ini disebut Sawo Apel, Sawo Hijau, Sawo Duren atau Kenitu. Chrysophyllum sendiri berasal dari dua kata Yunani kuno  Chryso berarti emas dan phyllum berarti daun.

Chrysophyllum cainito adalah jenis tumbuhan unik.  Pohon ini tumbuh cepat dengan tinggi hingga 20 m. Di Indonesia, pohon ini kerap dijadikan sebagai tanaman hias pekarangan dan tanaman peneduh di tepi jalan.

Sawo duren umumnya dikonsumsi sebagai buah segar, meski juga dapat digunakan sebagai bahan baku es krim atau serbat (sherbet). Pohon sawo duren menghasilkan buah setelah berumur 5-6 tahun, dan biasanya musim puncak buah itu di Jawa terjadi pada musim kemarau.

Banyak bagian pohon yang berkhasiat obat misalnya kulit kayunya, getah, buah dan biji. Rebusan daunnya dipakai untuk menyembuhkan diabetes dan rematik. Dari pepagannya (kulit kayu) dihasilkan obat kuat dan obat batuk.

Pohonnya kerap digunakan sebagai tanaman hias dan peneduh di taman-taman dan tepi jalan. Kayunya cukup baik sebagai bahan bangunan. Cabang-cabangnya yang tua dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan anggrek.

Sobat pembaca penasaran khan, pengen mencoba juga?. Dijamin, rasanya unik dan tak biasa. Sungguh berbeda dengan “buah” yang biasanya ada di rumah.

Referensi:

http://naturindonesia.com/tanaman-pangan/tanaman-buah-dan-sayuran-s/837-sawo-apel.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Chrysophyllum_cainito

Pos ini dipublikasikan di Flora dan tag , , , , , . Tandai permalink.