Menembus Awan Cumulonimbus

Saat ini kasus jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 di Selat Karimata sedang ramai diperbincangkan. Penyebab jatuhnya burung besi bertarif murah tersebut belum diketahui dengan pasti. Namun, cuaca buruk diduga menjadi salah satu penyebab kecelakaan ini. Awan tebal bernama Mr. Cumulonimbus pun sering, disebut-sebut oleh pakar transportasi udara di layar kaca.

Terus terang saya penasaran dengan awan yang sering disebut-sebut itu. Kira-kira ada hubungan keluarga nggak ya dengan penemu benua Amerika, kok namanya pakai bus, bus begitu. Atau, jangan-jangan itu merk sapu terbang terbaru milik Harry Potter pengganti Nimbus 2000.  Saya pun teringat sesuatu dan segera membuka file foto. Satu demi satu saya lihat foto-foto itu. Akhirnya, lahirlah tulisan ini.

Awan-1-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Fajar merekah di batas cakrawala. Foto diambil dari pesawat ATR 200 Wings Air rute Makassar-Ternate. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pekan kedua November 2014, saya kembali melakukan perjalanan dengan teman-teman menuju Halmahera Timur via Ternate. Ini adalah perjalanan kelima kalinya bagi saya ke daerah tersebut. Kami tiba di bandara Makassar pukul 03.00 dinihari dan melanjutkan perjalanan ke Ternate dengan ATR-200 Wings Air jam 04.00 pagi.

Di awal perjalanan, rasa lelah membuat saya terlelap seketika.  Tepat pukul 05.00, teman yang duduk di sebelah, membangunkan saya dan mengingatkan sudah waktunya untuk sholat Subuh. Saya pun bertayammum dan sholat 2 rakaat sambil duduk.

Suhu dingin dan rasa kantuk yang belum hilang membuat saya nyaris kembali terlelap. Namun, saat sekilas menatap jendela, samar-samar terlihat pendar sinar yang halus berwarna jingga. Saya pun merapatkan muka ke jendela pesawat untuk melihat kondisi cuaca.  Mata pun terpukau dan terpaku pada fajar indah yang merekah dibatas cakrawala.

Awan-2-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Saat pagi menjelang gumpalan awan mulai menebal. Warna awan pun berubah dari jingga, menjadi putih dan semakin kelam. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rasa kantuk seketika menghilang berganti rasa penasaran untuk segera mengabadikan. Kamera saku digital pun saya nyalakan. Semua teman dalam rombongan kami sudah memahami dan memaklumi kebiasaan burukku yang satu ini. Bahkan mereka semua sepenuhnya mendukungku. Kebiasaan buruk itu adalah memotret obyek menarik secara terus menerus dan berulang-ulang.

Saya bukan fotografer dan sebagai seorang  amatir, memotret sekali tidaklah cukup. Saya lebih suka memotret sepuluh kali dan memilih satu foto terbaik, karena bagi saya momen adalah segalanya. Sekali sebuah momen terlewatkan, hal yang sama takkan pernah terulang kembali.

Rasa malu karena dianggap katro pun sudah lama saya buang jauh-jauh. Saya berprinsip asal tidak mengganggu penumpang lain yang masih terlelap, saya akan terus memotret. Saya hanya ingin belajar dan mengungkap apa yang ada di sekitar.

Awan-3-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Gumpalan Awan semakin merapat. Sumber: dokumentasi pribadi.

Baru kali ini, saya begitu antusias mengabadikan gumpalan awan yang ada di luar jendela pesawat. Biasanya, pemandangan seperti ini saya lewatkan karena rasa kantuk  yang tak tertahankan. Bentuk awan yang terlihat bermacam-macam. Umumnya seperti gumpalan kapas yang bergerak beriringan dan saling merapat.

Awan-4-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Bias jingga sang fajar yang mulai tampak memudar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pada mulanya gumpalan awan ini terpencar-pencar dan berwarna putih bersih berlatar birunya langit. Namun semakin lama, awan bergerak semakin merapat. Warnanya pun berangsur-angsur berubah menjadi kelabu. Bias-bias jingga sang fajar semakin lama semakin memudar.

Awan-5-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Warna jingga telah menghilang. Langit tampak bertumpuk-tumpuk, saling tumpang tindih dan semakin kelabu. Sumber:  dokumentasi pribadi.

Kumpulan awan yang tadinya kecil-kecil, kini terlihat semakin merapat dan bergabung membentuk gumpalan awan yang lebih besar. Warna gumpalan ini masih putih bersih dengan tepi awan berwarna lebih kelam. Gumpalan awan ini saling mendekat seolah-olah ada yang menggerakkan. Saya sangat yakin akan hal ini.

Awan-14-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Gumpalan awan yang tadinya kecil-kecil semakin merapat dan bergabung menjadi gumpalan awan yang lebih besar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Gumpalan awan yang besar terus menerus saling mendekat dan bergabung membentuk gumpalan awan yang lebih besar lagi. Saya terus saja memotret. Pesawat mulai memasuki gumpalan awan yang besar. Kadang-kadang,  dalam beberapa puluh detik, jendela pesawat tertutup oleh awan yang sangat tebal berwarna putih. Saya hanya dapat melihat warna putih yang pekat. Bentuknya seperti asap kabut yang tebal. Rasanya saya ingin menyentuh dan masuk menari-nari di dalam gumpalan awan itu.

Awan-10-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Gumpalan awan semakin membesar dan berwarna putih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kali ini gumpalan awan yang sangat besar saling bergabung. Rasanya pesawat kami seperti terbang di antara dinding yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih atau di antara gunung yang besar dan tinggi menjulang. Dimana-mana yang terlihat hanyalah gumpalan awan yang semakin rapat dan semakin gelap.

Awan-11-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Gumpalan awan semakin besar dan gelap. Sumber: dokumentasi pribadi.

Gumpalan awan terus saja bergerak. kali ini semakin cepat dan bergulung-gulung. Entah mengapa, secara tak sadar ada rasa khawatir yang mulai muncul di dalam hati. Tiba-tiba terlihat kilatan cahaya petir di kejauhan.

Pramugari melalui pengeras suara segera memberi peringatan agar penumpang segera duduk, melipat meja di depan dan mengenakan sabuk pengaman (safety belt). Pramugari itu juga mengingatkan bahwa pesawat akan memasuki daerah dengan kondisi cuaca yang buruk. Kali ini suara pramugari terdengar agak kurang merdu dibandingkan sebelumnya.

Awan-12-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Gumpalan awan bergerak semakin cepat, bergulung-gulung. Tampak pada gambar, tepian awan berwarna sangat hitam. Sumber: dokumentasi pribadi.

Beberapa menit setelah suara merdu sang pramugari berlalu, hujan yang deras mulai terlihat. Air ini seperti tercurah dari celah-celah awan. Alirannya tampak deras di jendela pesawat. Saya merasakan pesawat mulai terbang berbelok-belok ke kiri dan ke kanan. Kadang naik ke atas, kadang turun. Tiba-tiba, dari bagian atas pesawat terdengar satu dua suara keras seperti suara atap yang dijatuhi benda-benda keras.

Tidak lama kemudian, secara mendadak pesawat seperti bergerak jatuh ke bawah dengan keras. Hal ini membuat perut saya terasa mual. Suasana di dalam pesawat semakin mencekam. Nyali saya pun semakin ciut. Saya merasa takut. Saya berdo’a di dalam hati, agar perjalanan ini berjalan lancar. Pikiran-pikiran buruk saya tepis jauh-jauh. Untungnya, peristiwa ini hanya terjadi sebentar saja.

Awan-13-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Pergerakan awan semakin melambat. Hujan dan petir tampak berkilat-kilat nun jauh di arah belakang pesawat. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya kembali melihat ke arah jendela. Tampak gumpalan awan bergerak semakin melambat. Nun jauh di belakang pesawat, terlihat gumpalan awan menghitam bergulung-gulung disertai kilatan-kilatan cahaya.

Saya merasakan pesawat bergerak naik perlahan-lahan. Dari jendela pesawat gumpalan awan hitam mulai menjauh di bawah sana. Gumpalan awan di bagian atas terlihat lebih terang, berwarna putih.

Awan-15-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Gumpalan awan berangsur-angsur bergerak melambat dan berwarna lebih putih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Agak lama pesawat bergerak di antara gumpalan-gumpalan awan yang ukurannya semakin kecil dan terpencar-pencar. Pandangan di luar jendela berangsur-angsur menjadi lebih cerah. Langit kembali berwarna biru. Gumpalan awan putih semakin sedikit. Saat melihat ke arah bawah, terlihat sebuah pulau berpasir putih dengan rataan terumbu memanjang seperti ekor di belakangnya.

Awan-16-dody94.wordpress.com

Gambar 12. Pulau kecil di Maluku Utara. Sumber: dokumentasi pribadi.

Suara merdu pramugari pun terdengar lagi. Kali ini menginformasikan bahwa beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di bandara Sultan Baabullah, Ternate. Rasa syukur terbersit di dalam hati karena yang Maha Kuasa melindungi dan memberikan keselamatan kepada kami semua.

Pesawat menurunkan ketinggian secara perlahan-lahan. Tampak bentuk daratan semakin jelas. Pesawat melewati beberapa pulau berukuran cukup besar. Selat di antara pulau-pulau juga terlihat. Kapal-kapal yang bergerak di perairan terlihat kecil dengan jejak pergerakan baling-baling terlihat seperti ekor putih yang panjang.

Awan-9-dody94.wordpress.com

Gambar 13. Pulau Ternate, Tidore dan Maitara terlihat di kejauhan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pesawat mulai bergerak menurun dan berputar-putar. Relief pegunungan, lembah, sungai dan rupa bumi lainnya terlihat semakin jelas. Tampak hutan yang lebat berselimut kabut mendominasi lansekap di bawah sana.

Awan-6-dody94.wordpress.com

Gambar 14. Hutan pegunungan berselimut kabut. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pesawat terbang semakin rendah. Deretan pegunungan, lembah, sungai, pesisir pantai dan bangunan-bangunan terlihat semakin jelas. Terus terang saya agak bingung saat melihat-lihat pulau-pulau yang ada di bawah sana. Saya masih saja merasa sulit untuk membedakan nama pulau yang satu  dengan lainnya.

Awan-7-dody94.wordpress.com

Gambar 15. Salah satu daerah pesisir di Maluku Utara. Sumber dokumentasi pribadi.

Akhirnya setelah melalui perjalanan selama kurang lebih dua jam, kami mendarat di Bandara Sultan Baabullah di Ternate. Bandara utama di Maluku Utara ini relatif baru dan masih dalam tahap pembangunan.

Dari penelusuran berbagai literatur, baru saya pahami bahwa penerbangan ini adalah perjalanan yang beresiko tinggi. Tanpa kami sadari, kami menghadapi kondisi cuaca yang mengkhawatirkan selama perjalanan tersebut.

Ciri-ciri awan yang saya ceritakan dalam tulisan di atas ternyata cocok dengan ciri-ciri awan Cumulonimbus yang dijelaskan dalam berbagai sumber referensi. Dari apa yang saya baca dapat disimpulkan bahwa awan Cumulonimbus yang saya temui masih dalam proses pembentukan dan belum mencapai tahap puncak (final). Jika sudah mencapai tahapan puncak, saya sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.

Dengan demikian, tanpa saya sadari, saya telah bertemu awan Cumulonimbus. Saya telah menembus awan Cumulonimbus.

Awan-8-dody94.wordpress.com

Gambar 16. Bandara Sultan Baabullah Ternate. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dalam Al-Qur’an Surah An Nur Surah ke 24 Ayat 43, Allah SWT menjelaskan tentang awan Cumulonimbus ini.

” Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya. kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampri menghilangkan penglihatan.

Ayat di atas sangat pas menggambarkan apa yang saya lihat dan rasakan saat berada di atas pesawat. Maha Suci Engkau ya Allah. Maha benar Firman-Mu. Subhanallah….

 

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Kebumian dan tag , , , , . Tandai permalink.