Mengenal jenis-jenis rumput laut Indonesia (4)

Rumput Laut Jarum Suntik (Syringodium isoetifolium)

Rumput laut Jarum Suntik termasuk jenis rumput laut perairan dangkal yang cukup umum ditemukan. Rumput laut ini seringkali tumbuh bersama jenis rumput laut lainnya di daerah pasang surut dengan substrat berpasir atau campuran pasir-lumpur. Daun berbentuk silindris dengan bagian tengah berlubang seperti jarum suntik.

SI-1

Gambar 1. Rumput laut Jarum Suntik (Syringodium isoetifolium). Sumber:singaporewild.com.

Rumput Laut Duyung (Thalassia hemprichii)

Rumput laut duyung termasuk spesies rumput laut yang umum dan tersebar luas di Indonesia. Sering tumbuh membentuk komunitas campuran bersama rumput laut Tropika Enhalus acoroides  dan rumput laut berujung bulat Cymodocea rotundata. Jika berukuran sama, ketiga jenis rumput laut ini agak sulit dibedakan.

TH-1

Gambar 2. Rumput laut Duyung (Thalassia hemprichii). Sumber: singaporewild.com.

Rumput laut duyung memiliki daun berbentuk pita yang lebar dan melengkung. Ujung daun membulat. Sisa pelepah daun yang membusuk seringkali masih menempel di pangkal batang.

Permukaan daun memiliki motif khas berupa urat daun berbentuk kotak-kotak seperti jala yang tidak beraturan. Rumput laut ini merupakan makanan utama dari duyung. Rimpang yang banyak mengandung zat tepung adalah bagian yang paling disukai duyung.

Rumput Laut Kayu (Thalassodendron ciliatum)

Rumput laut Kayu Thalassodendron ciliatum  adalah jenis rumput laut khas pulau-pulau terpencil. Rumput laut ini tergolong unik karena menyukai dasar perairan berkarang yang keras dan berarus deras sebagai tempat hidupnya. Rumput laut Kayu juga membentuk padang rumput laut sendiri yang tidak bercampur dengan jenis rumput laut lainnya (monospesifik).

Rumput laut Kayu tersebar luas di Indonesia, namun populasinya terpencar-pencar pada lokasi tertentu. Pulau-pulau dan Atol yang jauh dari daratan utama seperti Kepulauan Togean menjadi habitat yang disukai jenis rumput laut ini. Di Sulawesi Selatan, rumput laut Kayu ditemukan di Pantai Bira Bulukumba, Kepulauan Selayar, Takabonerate dan pulau-pulau di Laut Flores seperti Tanajampea, Kalao, Bonerate dan Kayuadi.

TC-1

Gambar 3. Rumput Laut Kayu (Thalassodendron ciliatum) Sumber: singapore wild.com.

Rumput laut Kayu juga tersebar di Pulau Kangean, ke arah timur mulai dari Bali, Nusa Penida hingga Nusa Tenggara. Daerah atol di Kepulauan Wakatobi dan atol lainnya di Indonesia timur juga ditumbuhi jenis rumput laut ini.

Beberapa ciri khas rumput laut Kayu adalah helaian daun berjumlah 6-12 tersusun bertumpuk seperti kipas di ujung batang. Kumpulan daun ini disatukan oleh pelepah berbentuk segitiga berwarna merah muda. Batang sangat panjang, muncul dari rimpang yang menjalar di permukaan dasar perairan berkarang. Rimpang ini sangat liat dan kuat seperti kayu karena banyak mengandung  lignin.

Akar rumput laut juga liat, mencengkeram karang dengan kuat.Rumput laut ini tumbuh cepat ke arah atas. Namun, rimpangnya yang keras berkayu tumbuh jauh lebih lambat.

Rumput laut memiliki peran ekologis dan ekonomis yang penting. Secara ekologis, rumput laut berperan dalam mengurangi energi gelombang, menstabilkan substrat, mencegah abrasi, menjebak zat hara, sebagai tempat memijah, berlindung dan mencari makan bagi banyak jenis biota laut. Rumput laut juga menjadi habitat bagi hewan langka seperti kimaduyung dan penyu.

Daun rumput laut dapat diolah menjadi topi, keset kaki, lemari, wadah berbagai keperluan, dinding rumah, atap rumah, pupuk organik dan lain-lain. Rumput laut menjadi habitat bagi berbagai jenis kerang bernilai ekonomis.

Bersama terumbu karang dan mangrove, padang rumput laut memiliki fungsi yang penting. Dari arah darat, rumput laut menjebak dan mengurangi partikel lumpur yang dapat menyebabkan tertutupnya polip terumbu karang. Sedangkan dari arah laut, rumput laut berperan mengurangi energi gelombang, sehingga benih mangrove yang masih rentan dapat tumbuh dengan baik.

Hilangnya padang rumput laut, secara langsung menyebabkan gangguan yang parah pada hutan mangrove dan terumbu karang. Partikel lumpur dari darat yang tak tersaring dan terendap karena hilangnya rumput laut akan menyebabkan tertutupnya polip-polip karang.

Kandungan zat hara dari daratan yang berlebih akan memicu pertumbuhan ganggang laut yang secara cepat menguasai kolom air. Polip dan jaringan terumbu karang pun akan ditempeli dan ditumbuhi ganggang laut. Polip ini akhirnya mati karena ditempeli ganggang dan zooxanthelae yang menjadi simbion karang tidak mendapatkan cahaya matahari. Jadi, rumput laut ini tak boleh di pandang sebelah mata.

Sekali padang rumput laut hilang, tak akan pernah dapat kembali lagi. Restorasi padang rumput laut sangatlah mahal dan dihindari, karena dianggap kurang memiliki imbal balik secara ekonomi bagi masyarakat. Nilai ekologinya pun dianggap kecil oleh kebanyakan orang sehingga padang rumput laut seringkali diabaikan.

Pos ini dipublikasikan di Flora dan tag , , . Tandai permalink.