Jejak-jejak misterius di pantai Tanakeke

Pulau Tanakeke beriklim kering dan panas, terletak di sudut jazirah selatan Sulawesi yang menjadi tempat bertemunya Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores. Letak pulau yang unik ini menyebabkan Tanakeke dikelilingi perairan berombak besar dan berarus kuat.

Tanakeke sejatinya terbentuk dari beberapa pulau kecil yang saling berdekatan. Pulau-pulau ini dipisahkan oleh sungai-sungai kecil yang menjadi bagian dari sistem pengairan alami di pulau tersebut. Jika dilihat dari citra satelit Google Earth, kepulauan Tanakeke tampak membulat dengan beberapa pulau satelit di sekitarnya seperti Bauluang, Satanga dan Dayang-Dayangan.

Tanakeke-1

Gambar 1. Peta Pulau Tanakeke.Sumber: Google Maps (modified)..

Masyarakat setempat membagi kepulauan Tanakeke menjadi dua kawasan, yaitu: Tanakeke daratan yang mencakup seluruh bagian dari Pulau Tanakeke dan Tanakeke pesisir yang mencakup pulau-pulau kecil seperti Lantang Peo, Rewatayya dan Tompo Tana.

Nama Tanakeke sendiri berasal dari bahasa Makassar. Tana berarti “tanah atau daratan” dan keke berarti “gali”. Jadi, secara harfiah, Tanakeke dapat diartikan sebagai “tanah yang digali”.

Kuat dugaan, asal-usul nama ini berkaitan dengan sejarah ditemukannya sumber air di sumur besar (Bunging Lompoa) yang disakralkan oleh penduduk setempat. Kondisi iklim lokal yang kering menyebabkan persediaan air tawar di Tanakeke terbatas. Masyarakat di Tanakeke daratan umumnya mengambil air dari Bunging Lompoa yang tak pernah kering.

Ukiran Pasir-0-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Pola geometri misterius yang sangat luas di pantai selatan pulau Tanakeke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pulau Tanakeke didominasi oleh daratan dengan substrat tanah berbatu-batu. Sedangkan pulau-pulau terdekatnya didominasi oleh substrat berlumpur. Pantai di daerah ini banyak ditumbuhi mangrove, lamun atau dijadikan area tambak. Substrat pantai bervariasi, mulai dari lumpur, pasir berlumpur, karang hingga pasir putih.

Penjelajahan kali ini hanya mencakup sebagian dari pantai di sisi selatan pulau, tepatnya di pantai Desa Balandatu. Pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang luas, terutama di sekitar mercu suar.

Ukiran Pasir-1-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Berbagai motif pola ukiran pasir di permukaan pantai Pulau Tanakeke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Salah satu keunikan dari pantai ini adalah terbentuknya alur-alur gelombang dengan pola geometris yang indah pada permukaan pasir. Pola ini terbentuk oleh angin dan air saat pantai mengalami surut rendah. Namun, bagaimana tepatnya pola-pola ini terbentuk, masih menjadi misteri.

Pola alur geometris di permukaan pasir ini memiliki bentuk bermacam-macam, mulai dari bentuk garis, gelombang, garis ganda, garis bercabang-cabang dan kombinasi dari semua bentuk pola geometris tersebut.

Ukiran Pasir-2-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Pola Geometris di permukaan pasir ini mungkin dapat diadopsi untuk pola kerajinan tangan, produk-produk fashion, industri kecil, arsitektur, design dan lain-lain . Sumber: dokumentasi pribadi.

Dalam satu kawasan pantai, dapat ditemukan pola ukiran pasir yang bermacam-macam. Pola ini tersebar secara acak dan bergantung pada kondisi permukaan di sekitarnya. Pola dengan motif yang sangat berbeda seringkali letaknya saling berdekatan.

Kondisi permukaan pasir,  komposisi butiran penyusun pasir, kemiringan pantai, arah dan kecepatan angin serta tinggi pasang surut kemungkinan menentukan bentuk dari pola-pola geometris ini.

Bagi yang bekerja di bidang kerajinan tangan, kriya, ragam hias, seni ukir, fashion, tas dan lain-lain, pola geometris yang unik di pantai Tanakeke ini mungkin dapat menginspirasi.

Ukiran Pasir-3-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Pola Geometris di permukaan pasir. Sumber: dokumentasi pribadi.

Selain pola-pola geometris, di pantai Tanakeke juga ditemukan banyak sekali gundukan-gundukan pasir yang kecil. Gundukan pasir ini bentuknya mirip sekali dengan miniatur gunung berapi lengkap dengan kawahnya.

Siapa pembuat miniatur gunung berapi ini?.  Berdasarkan hasil penelusuran pustaka, gundukan-gundukan kecil ini dibuat oleh berbagai jenis udang yang tinggal di dalam pasir dan memakan bahan organik yang terkandung di dalamnya.

Berbagai jenis udang, mampu menggali lubang dan membuat sistem terowongan yang rumit di bawah pasir. Udang-udang pemakan pasir ini hanya sesekali saja muncul ke permukaan, karena menghindari ancaman pemangsa.

Sebagian besar hidup udang pasir dihabiskan untuk mencari makan dengan menyaring bahan organik yang ada di dalam pasir, memperbaiki terowongan serta bagi betina, merawat telur dan larva.

Ukiran Pasir-4-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Gundukan pasir seperti miniatur gunung berapi di pantai Pulau Tanakeke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kegiatan udang memakan pasir ini memiliki arti yang penting bagi ekosistem laut. Pasir-pasir yang memiliki kandungan bahan organik tinggi dapat memicu pertumbuhan bakteri patogen yang menyebabkan penyakit pada biota laut.

Adanya aktifitas memakan bahan organik ini secara tidak langsung akan mengurangi resiko biota laut yang ada di daerah tersebut dari serangan berbagai penyakit.

Aktifitas membuat lubang di dalam sedimen oleh udang akan meningkatkan kandungan oksigen di bawah permukaan pasir karena terjadinya aerasi dan pertukaran udara (oksigen) yang baik melalui lubang dan terowongan.

Kandungan oksigen yang cukup di dalam sedimen akan menjamin kelangsungan hidup biota laut yang tinggal dan hidup di dalam pasir. Bagaimana proses terbentuknya gundukan pasir dan apa jenis udang yang ada di bawah pasir, belum diketahui dan masih perlu dikaji lebih lanjut.

Ukiran Pasir-6-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Gundukan pasir dan lempengan pasir yang bergulung-gulung di Pantai Tanakeke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Selain udang, berbagai jenis cacing dan biota laut lainnya juga hidup di dalam pasir. Gundukan-gundukan dengan berbagai model dan bentuk di permukaan pasir adalah jejak-jejak yang menunjukkan adanya kehidupan di bawah sedimen.

Jejak kehidupan lain yang sering ditemukan di pantai adalah lempengan pasir yang berbentuk gulungan dengan tepi berlekuk-lekuk seperti tampak pada Gambar 7 (kiri bawah). Lempengan ini menjadi tempat persembunyian telur keong bulan Natica sp. Butiran-butiran pasir yang membentuk lempengan, dilekatkan dengan cairan lendir yang diproduksi oleh keong tersebut.

Saat surut paling rendah, seluruh dasar pantai selatan Tanakeke akan mengering untuk beberapa jam.  Ribuan gundukan serupa miniatur gunung berapi yang selama ini tak terlihat, akan muncul dan mendominasi lansekap pantai sejauh mata memandang (Gambar 8 kanan atas). Pemandangan menakjubkan ini belum pernah penulis temukan di pantai lain.

Ukiran Pasir-5-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Jejak alur memanjang di padang lamun Tanakeke (kiri). Gundukan pasir kecil sejauh mata memandang (kanan atas). Jejak kaki burung di permukaan pasir. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jejak burung dara laut dan bangau juga banyak ditemukan di pasir pantai. Burung-burung ini menjelajahi  pantai untuk mencari ikan, udang, kepiting, kerang dan keong yang terperangkap di lubang-lubang dangkal yang masih berisi air saat surut rendah.

Jejak lain yang menarik perhatian penulis adalah sebuah jejak mirip jalan setapak di padang lamun (Gambar 8 kiri). Jejak ini sekilas mirip bekas goresan baling-baling kapal. Jika dilihat lebih teliti, jejak ini memiliki bentuk yang tidak beraturan dan berukuran lebih lebar dibandingkan dengan diameter baling-baling kapal (jolloro‘).

Satu-satunya hewan yang dapat membuat jejak sebesar jalan setapak adalah sapi laut atau duyung. Jejak ini dikenal sebagai feeding trail yang menunjukkan bekas lamun atau rumput laut yang telah dimakan oleh duyung.

Dari jejak-jejak yang ditinggalkan, kita dapat belajar dan mengenal jenis-jenis hewan yang hidup di pantai Tanakeke. Jejak-jejak ini mungkin akan terhapus, seiring datangnya gelombang pasang. Namun, masih ada asa yang tertinggal dan harapan akan lestarinya hewan-hewan laut yang masih tersisa.

 

Pos ini dipublikasikan di Laut dan tag , , , . Tandai permalink.