Batu Bacan Batu Impian (4)

Pada masa perang dunia Kedua, Pulau Morotai yang berada di bibir Samudera Pasifik menjadi salah satu wilayah strategis yang diperebutkan oleh berbagai pihak yang bertikai. Tentara pendudukan Jepang dan pasukan Sekutu silih berganti saling serang untuk menguasai daerah Maluku Utara ini.

Saat perang usai, ribuan sisa-sisa wahana tempur teronggok di seantero pulau. Hingga awal tahun 80-an, bangkai kendaraan sisa perang seperti tank, jeep, motor, truk, kapal hingga pesawat udara masih dapat ditemukan dengan mudah mulai dari kebun-kebun penduduk hingga di kedalaman samudera. Kini semuanya nyaris tak tersisa lagi.

Bacan-4-1

Gambar 1. Spanduk selamat datang di sentra kerajinan besi putih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya mencoba menelusuri jejak-jejak peninggalan perang dunia kedua itu dalam bentuk yang lain. Di sepanjang Jalan Busoiri Kota Ternate, terdapat deretan toko-toko yang menjual bermacam komoditas. Tepat di sisi minimarket Gloria, dapat ditemukan satu gang kecil yang menjadi sentra kerajinan tangan.

Sebuah spanduk terpampang jelas, menjadi penanda sekaligus memberi ucapan selamat datang bagi pelancong yang ingin membeli souvenir khas Maluku Utara. Dalam gang kecil beratap seng ini berjejer puluhan kios yang menjual aneka asesoris penghias tubuh berbahan dasar besi putih.

Bacan-4-2

Gambar 2. Gang kecil sentra kerajinan besi putih di kota Ternate. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat masuk ke dalam gang, udara panas yang terperangkap di bawah atap seng yang rendah menyergap seketika. Beberapa kios (stan) masih dalam kondisi tertutup. Berbagai jenis aksesoris seperti cincin, giwang, kalung, gelang dan hiasan lainnya tertata rapi di los-los kecil.

Dari manakah besi putih ini berasal?. Menurut salah seorang penjual yang saya temui, sebagian besar bahan baku dan hasil kerajinan besi putih ini dipasok dari Pulau Morotai. Besi putih ini diambil dari berbagai barang rongsokan (besi tua) sisa perang dunia kedua.

Penjual tersebut menambahkan bahwa besi putih yang digunakan ini memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan besi biasa. Diantaranya adalah sifatnya yang ringan, kuat, tahan karat dan tidak menimbulkan alergi di kulit. Oleh karenanya, penduduk setempat mendaur ulang besi putih ini menjadi bahan baku utama pembuatan kerajinan tangan.

Bacan-4-3

Gambar 3. Suasana di dalam gang kecil sentra kerajinan besi putih di kota Ternate. Sumber: dokumentasi pribadi.

Harga kerajinan yang dijual ini bervariasi, mulai dari cincin besi biasa seharga 15 ribu rupiah hingga gelang dan kalung yang dihargai 150 ribu rupiah. Harga ini bergantung pada jenis bahan baku asesoris, motif dan ukurannya.

Asesoris berbahan baku besi biasanya dijual lebih murah. Sedangkan asesoris berbahan besi putih yang dilengkapi permata imitasi biasanya memiliki harga yang paling mahal.

Bacan-4-5

Gambar 4. Pengunjung di sentra kerajinan besi putih di kota Ternate. Sumber: dokumentasi pribadi.

Penjual tersebut mengaku, saat ini bahan baku besi putih sudah mulai sulit ditemukan. Harganya pun menjadi semakin mahal. Jika menggunakan besi putih murni, harga asesoris akan menjadi sangat mahal dan dikhawatirkan tidak terjangkau oleh pembeli.

Agar harga asesoris tetap terjangkau, pengrajin pun terpaksa menekan ongkos produksi dengan mencampur besi putih dengan material lain yang lebih murah. Otomatis, kualitas bahan baku yang digunakan juga menurun. Tidak sebaik asesoris yang menggunakan besi putih murni.

Bacan-4-6

Gambar 5. Asesoris besi putih yang ditawarkan di kota Ternate. Sumber: dokumentasi pribadi.

Bagaimana membedakan besi putih murni dengan besi putih campuran?. Menurut penjual tersebut, membedakan besi putih murni dan campuran secara kasat mata sulit dilakukan oleh orang awam.

Secara visual, besi putih memiliki warna yang cerah dan sangat keras seperti baja. Meskipun tipis, besi putih sulit dibengkokkan.

Untuk menentukan asli tidaknya besi putih, penjaga stan tersebut memberi tips sederhana. Tempelkan sehelai rambut pada asesoris yang akan diuji, kemudian sulut rambut tersebut dengan api atau rokok. Jika rambut tidak putus, maka dapat dipastikan, asesoris tersebut terbuat dari besi putih asli. Namun, jika helaian rambutnya putus, maka asesoris tersebut pasti bukan dari besi putih asli.

Bacan-4-7

Gambar 6. Berbagai model gelang dan cincin dari besi putih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Gelang besi putih yang dijual memiliki motif bermacam-macam. Ada yang memiliki ujung berhias kepala lumba-lumba, motif bunga, sulur daun yang terpilin dan berlekuk-lekuk, motif permata imitasi atau gelang tipis biasa dengan ujung bulat.

Kalung yang dipajang juga memiliki motif dan warna beragam. Ada kalung yang bermotif abjad, asmara, keagamaan, flora, fauna, tetes air, nama, inisial dalam bentuk huruf tertentu dan sebagainya. Uniknya, pasar disini juga menawarkan jasa tindik telinga.

Bacan-4-8

Gambar 7. Berbagai model kalung dari besi putih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Cincin juga memiliki motif yang beragam. Mulai dari cincin polos, motif bergaris hingga cincin berukir dengan motif yang lebih rumit.

Bagaimana proses pembuatan asesoris ini?. Mula-mula besi rongsokan dipotong sesuai dengan bentuk perhiasan yang akan dibuat. Kemudian potongan besi ini ditempa dan dibentuk menjadi asesoris yang diinginkan. Besi ini kemudian diamplas lebih lanjut hingga halus dan dibentuk sedemikian rupa menjadi bermacam-macam perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, giwang dan perhiasan lainnya.

Bacan-4-9

Gambar 8. Bermacam jenis cincin dari besi putih. Sumber: dokumentasi pribadi.

Batu akik, cincin dan pengikatnya juga ditawarkan kepada pengunjung. Namun kualitas batu akik yang dijual tidak sebaik batu akik di sentra kerajinan kota Buli. Ragam batu akik yang dijual juga terbatas, sehingga tidak banyak memberikan pilihan bagi pengunjung. Jenis perhiasan yang terbuat dari besi putih memang menjadi komoditas utama di pasar ini.

Bacan-4-10

Gambar 9. Ragam batu akik yang ditawarkan pada pengunjung. Sumber: dokumentasi pribadi.

Bongkahan batu Bacan dan Obi juga cukup banyak di pajang di pasar ini. Harga bongkahan bervariasi, bergantung ukuran dan kualitas. Bongkahan batu Bacan dan Obi berukuran kecil mulai dijual dengan harga 100 ribu rupiah. Bongkahan ukuran sedang dijual dengan harga 300 ribu rupiah. Sedangkan harga bongkahan besar bisa mencapai kisaran antara 500 ribu hingga jutaan rupiah.

Bacan-4-11

Gambar 10. Cincin besi putih dan bongkahan batu bacan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dengan kreatifitas dan sentuhan seni, sisa-sisa rongsokan Perang Dunia ke- II di Maluku Utara dapat disulap menjadi berbagai macam perhiasan besi putih yang indah dan mampu menghidupi banyak orang hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Namun warisan dari perang yang mengubah dunia itu, kini nyaris tak tersisa lagi.

Bacan-4-12

Gambar 11. Indutri kerajinan besi putih ini menjadi tumpuan hidup bagi banyak orang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Andai saja sebagian besar sisa-sisa kendaraan perang ini dilestarikan dan menjadi obyek wisata, tentu dapat menjadi sumber pendapatan yang besar bagi daerah setempat dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.

Generasi muda pun dapat belajar dan memahami, betapa mengerikannya akibat dari sebuah peperangan dan betapa mahalnya harga sebuah perdamaian.

Pos ini dipublikasikan di Kebumian dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Batu Bacan Batu Impian (4)

  1. Nin S. berkata:

    Wah… info bagus nih… terima kasih ya dah di share di sini…

  2. Cakrawala berkata:

    Iya mbak Nin. Sama-sama. Terima kasih juga sudah berkunjung di sini🙂

Komentar ditutup.