Sempidan: ayam hutan berparas indah (1)

Sempidan adalah kelompok burung berukuran besar dari keluarga Phasianidae. Burung ini hidup di habitat hutan primer yang jarang terjamah manusia. Sering ditemukan menjelajah dan mengorek serasah daun yang jatuh di dasar hutan untuk mencari makan. Makanannya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, larva, serangga, cacing dan hewan invertebrata kecil lainnya.

Bentuk tubuh Sempidan seperti campuran antara ayam dan pheasant sehingga sering disebut gallopheasant. Panjang tubuh berkisar antara 40-90 cm atau seukuran ayam Kalkun. Jantan umumnya berbulu panjang dan berparas indah, memiliki ornamen berwarna menyolok di sekitar muka yang akan mengembang saat musim berbiak.

Betina berwarna coklat suram yang berguna untuk menyamar saat mengerami telur di sarang yang terletak di atas tanah. Sempidan mampu berlari cepat untuk menghindari pemangsa. Burung besar ini juga mampu terbang rendah dalam jarak yang dekat.

Sempidan tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara dengan jumlah total sebanyak 11 spesies. Enam jenis diantaranya ada di Indonesia. Semuanya berada dalam satu marga yang disebut Lophura. Uniknya, jenis-jenis Sempidan Indonesia ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan (termasuk Brunei, Sabah dan Serawak).

Demi kenyamanan pembaca, maka postingan ini kami bagi menjadi dua. Bagian pertama mencakup jenis-jenis Sempidan yang ada di Indonesia dan bagian kedua memuat jenis-jenis Sempidan dari negara lainnya.  Selamat membaca.

Sempidan Sumatera (Lophura inornata)

Sempidan Sumatera Lophura inornata (Salvadori’s Pheasant) merupakan satu-satunya burung Sempidan endemik di Pulau Sumatera. Berbeda dengan jenis lainnya, Sempidan Sumatera lebih menyukai hutan primer dengan elevasi yang lebih tinggi.

Habitat utama berupa hutan perbukitan dan pegunungan yang rapat mulai dari ketinggian 650 m hingga 2200 m dpl. Burung ini sering dijumpai pada ketinggian 800 m dpl di sepanjang bukit barisan yang membentang dari Aceh hingga Lampung.

Sepintas, warna Sempidan Sumatera sangat mirip Sempidan Edward dari Vietnam. Perbedaannya terletak pada jambul putih, ekor panjang dan kaki merah yang tidak ditemukan pada Sempidan Sumatera. Burung ini berwarna hitam dengan kulit muka merah tanpa ornamen yang menyolok sama sekali. Ciri khasnya hanya berupa bintik kuning kecil di belakang mata. Berukuran Sedang. Jantan 55 cm dan betina sekitar 46 cm.

Lophura inornata-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Sempidan Sumatera. Sumber: arkive.org.

Burung lain yang sangat mirip dengan Sempidan Sumatera adalah Sempidan Aceh Lophura hoogerwerfi  yang hidup di bagian utara Sumatera terutama di sekitar TN Gunung Leuser. Pejantan dari kedua jenis Sempidan ini sangat sulit dibedakan. Namun, Sempidan betina memiliki perbedaan. Betina Sempidan Sumatera memiliki bulu berwarna coklat gelap dengan totol-totol coklat kekuningan. Sedangkan betina Sempidan Aceh berwarna coklat gelap tanpa totol.

Oleh Birdlife, Sempidan Aceh dianggap sebagai subspesies dari Sempidan Sumatera. Populasi total dari keduanya diperkirakan berkisar antara 7.500 hingga 30.000 individu. Aktifitas perburuan dan penebangan hutan menyebabkan populasi Sempidan Sumatera mengalami penurunan. IUCN menetapkan status burung ini dalam kategori hampir terancam (Near Threatened= NT).

Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri)

Sempidan Kalimantan atau Bulwer’s Pheasant termasuk spesies burung endemik yang hanya ditemukan di Pulau Kalimantan. Di masa lalu, burung ini tersebar luas dan sangat umum dijumpai di pedalaman hutan primer Kalimantan yang tak terganggu. Namun populasinya kini terus menurun dan terpencar-pencar akibat penebangan hutan yang tak terkendali.

Burung ini memiliki perbedaan ciri kelamin (dimorfisme seksual) yang sangat kontras. Jantan memiliki panjang 80 cm dengan tubuh berbulu hitam. Ekor panjang melengkung berwarna putih menyolok. Sedangkan betina berukuran 55 cm berwarna coklat gelap. Jantan dan betina memiliki kulit muka berwarna biru. Kaki berwarna merah.

Lophura bulweri-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Sempidan Kalimantan. Sumber:

Sempidan Kalimantan menyukai hutan pegunungan bawah dan hutan perbukitan dengan ketinggian di atas 300 m.  Saat ini hanya dapat ditemukan jauh di hutan pedalaman pada kawasan perbukitan dan pegunungan yang dilindungi seperti di Pegunungan Meratus, Taman Nasional Kayan Mentarang, hutan di Sabah, Sarawak dan Brunei. Sempidan Kalimantan merupakan Sempidan terbesar dan paling langka di Indonesia.

Hanya sedikit kebun binatang yang mengoleksi burung ini, mengingat sulitnya proses perkembangbiakan di luar habitat aslinya. Oleh IUCN burung ini dikategorikan rentan terhadap kepunahan (Vulnerable).                                                               

Sempidan Merah Sumatera (Lophura erythropthalma)

Sempidan merah atau Malay Crestless Fireback adalah sempidan terindah di Indonesia. Tubuh berukuran sedang. Jantan memiliki panjang 47-51 cm dan betina 42-44 cm. Tubuh umumnya berwarna hitam glossy bercampur ungu kebiruan. Pejantan berekor pendek seperti ekor ayam betina. Warna bulu ekor kuning kecoklatan seperti warna karamel. Pangkal ekor berwarna hitam. Kepala tanpa hiasan jambul.

Bulu di punggung, sayap dan dada dilengkapi motif batik yang halus dengan pola seperti labirin yang rumit (finely vermiculated). Kulit muka merah terang. Tunggir berwarna ungu kemerahan. Sedangkan kaki berwarna hitam. Tubuh betina berwarna hitam.

Lophura erythropthalma-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Sempidan Merah. Sumber: arkive.org.

Habitat alaminya berupa hutan primer dataran rendah yang tak terganggu di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Di Sumatra, populasi Sempidan Merah  terkonsentrasi di Propinsi Riau dan Jambi. Burung ini cenderung menghindari hutan primer berelevasi tinggi serta hutan primer yang menjadi habitat Sempidan biru Sumatra yang ukurannya lebih besar. Sempidan merah juga banyak ditemukan di hutan rawa gambut dan karst.

Populasi Sempidan Merah dipastikan terus menurun akibat konversi hutan dataran rendah di Sumatera. Kini populasinya terpencar-pencar dengan jumlah total berkisar 15 ribu hingga 30 ribu individu.  Oleh IUCN, burung ini dikategorikan rentan (Vulnerable) terhadap kepunahan.

Sempidan Merah Kalimantan (Lophura pyronota)

Sempidan Merah Kalimantan atau Bornean Crestless Fireback adalah burung endemik yang tersebar luas di seluruh dataran rendah Kalimantan termasuk Sabah dan Sarawak. Burung ini dulunya diperlakukan sebagai subspesies dari Sempidan Merah yang ada di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Namun kini dianggap sebagai spesies yang terpisah.

Secara umum, ciri fisik dan ukuran burung ini mirip dengan Sempidan Merah. Perbedaan menyolok terletak pada warna bulu yang bercoret putih terutama di bagian leher dan dada. Warna hitam pada bagian pangkal ekor juga lebih luas.

Lophura pyronota-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Sempidan Merah Kalimantan. Sumber: Jeff Berger (2003).

Warna bulu di sekujur tubuh merupakan campuran antara warna hitam dan putih keperakan sehingga terlihat lebih terang dibandingkan dengan Sempidan merah. Kepala tanpa hiasan jambul. Betina berwarna kehitaman mirip betina Sempidan Merah.

Penebangan dan alihfungsi hutan menyebabkan populasi Sempidan Merah Kalimantan kian menyusut dan terpencar-pencar. Oleh IUCN, burung ini dinyatakan rentan (Vulnerable) terhadap kepunahan.

Sempidan Biru Kalimantan (Lophura ignita)

Sempidan biru atau Bornean Crested Fireback  termasuk salah satu ayam hutan berukuran besar. Jantan mencapai 70 cm dan betina 65 cm. Kulit muka berwarna biru pucat dengan jambul kepala hitam.

Tubuh berwarna hitam kebiruan dengan dada kecoklatan. Ekor atas berwarna coklat kayu manis dan ekor bawah hitam. Kaki berwarna kuning dengan taji yang besar dan runcing.  Betina berwarna coklat dengan warna bulu di bagian dada dan perut bercoret putih.

Lophura ignita-dody94.wordpress.comGambar 5. Sempidan Biru Kalimantan sub-spesies nobilis. Sumber: arkive.org

Sempidan biru dibagi menjadi 3 sub-species, yaitu: Lophura ignita ignita (Lesser Bornean Crested Fireback) yang tersebar di Kalimantan dan Pulau Bangka, Lophura ignita nobilis (Greater Bornean Crested Fireback) tersebar di Kalimantan  dan Lophura ignita macartneyi (Delacour’s Crested Fireback) yang tersebar di Sumatera bagian tenggara.

Satu sub-spesies lainnya, Lophura ignita rufa (Malay Crested Fireback) kini ditetapkan sebagai spesies tersendiri dengan nama Lophura rufa.

Lophura ignita ssp-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Sempidan Biru Kalimantan. Subspesies ignita (kiri atas). Subspesies nobilis (kanan atas). Subspesies macartneyi (kiri bawah) dan spesies rufa (kanan bawah). Perhatikan perbedaan pada bulu dada, bulu punggung dan bulu ekor. Sumber: arkive.org.

Subspesies ignita mirip dengan nobilis hanya saja ukurannya lebih kecil. Warna bulu juga sedikit lebih cemerlang dibandingkan dengan nobilis. Keduanya memiliki warna bulu coklat di dada dan warna coklat karamel pada bagian ekor.

Spesies Lophura rufa memiliki perbedaan yang sangat jelas dimana bagian dada bercoret putih dengan ekor atas berwarna putih. Sedangkan subspesies macartneyi memiliki ciri yang sama dengan subspesies ignita. Hanya saja ekornya berwarna putih seperti Lophura rufa. Kuat dugaan subspecies macartneyi merupakan hasil persilangan alami (hybrid) antara subspesies ignita dan Lophura rufa.

Lophura ssp betina-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Sempidan Biru Kalimantan betina. Subspesies ignita (kiri atas). Subspesies nobilis (kanan atas). Subspesies macartneyi (kiri bawah) dan spesies rufa (kanan bawah). Perhatikan perbedaan pada bulu dada, bulu punggung dan bulu ekor. Sumber: arkive.org.

Betina dari semua subspesies memiliki ciri serupa berupa kulit muka biru. Bulu atas tubuh dan jambul berwarna coklat dan bulu dada bercoret putih.

Sempidan biru hidup di hutan primer dataran rendah. Kadang-kadang juga ditemukan di hutan sekunder yang telah ditebang. Populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat. IUCN menetapkan status konservasi Sempidan Biru dengan kategori hampir terancam (Near Threathened).

Sempidan Biru Sumatra (Lophura rufa)

Sempidan Biru Sumatera Lophura rufa (Malay Crested Fireback) berukuran besar. Panjang jantan mencapai 70 cm dan betina 65 cm. Tersebar luas di Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaya hingga pulau Sumatra. Populasi di Myanmar diduga telah punah.

Burung ini dulunya termasuk salah satu subspesies Sempidan Biru Lophura ignita yang tersebar luas di Kalimantan hingga pulau Bangka. Namun, kini ditetapkan sebagai spesies terpisah.

Dibandingkan dengan subspesies Lophura ignita lainnya, Sempidan biru Sumatera memang memiliki perbedaan yang paling kontras. Warna bulu dadanya bercoret putih. Bulu ekor atasnya juga berwarna putih. Daerah sebarannya juga terpisah jauh. Berdasarkan hal ini para ahli menjadikannya sebagai spesies tersendiri.

Lophura rufa-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Sempidan Biru Sumatera. Sumber: arkive.org

Habitat utama Sempidan Biru Sumatera adalah hutan primer dataran rendah yang tak terganggu. Burung ini jarang ditemukan pada ketinggian 1000 m dpl, namun habitatnya dipastikan mencapai elevasi yang lebih tinggi dibandingkan Sempidan Merah. Oleh IUCN, populasi burung ini belum di analisis secara pasti, namun dikategorikan hampir terancam (Near Threatened) akibat menyusutnya hutan primer dan perburuan menggunakan jerat.

Referensi:

  1. Birdlife.org.  http://www.birdlife.org/datazone/species/factsheet
  2. del Hoyo, J.; Collar, N. J.; Christie, D. A.; Elliott, A.; Fishpool, L. D. C. 2014. HBW and BirdLife International Illustrated Checklist of the Birds of the World. Barcelona, Spain and Cambridge UK: Lynx Edicions and BirdLife International.
Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , , , , . Tandai permalink.