Cupang: ikan rawa yang mendunia

Cupang dikenal sebagai salah satu ikan hias paling indah di dunia. Bentuk sirip dan warna tubuhnya sangat menarik. Perilaku bersarang dan bertarungnya pun juga tak kalah unik. Pada edisi kali ini, Cakrawala ingin bercerita tentang asal-usul ikan rawa yang mendunia ini.

Semasa kecil dulu, saya tinggal di sebuah pinggiran kota yang berkontur rendah. Rawa dan sawah adalah pemandangan lumrah yang ada di sekeliling rumah. Saat musim penghujan tiba, bisa dipastikan air setinggi tumit hingga betis akan bersilaturrahim ke setiap rumah. Bagi kami, anak-anak kecil, musim hujan adalah anugerah karena kami dapat bermain air sepuas hati.

Salah satu aktifitas kegemaran kami semasa kecil adalah bermain layang-layang dan menangkap ikan Cupang di rawa-rawa Eceng Gondok dan Kangkung. Rawa-rawa itu dalamnya setinggi paha hingga pinggang orang dewasa, berair hitam dan berbau busuk. Ikan Cupang kami tangkap dengan tudung saji plastik dan penutup makanan yang kami ambil secara diam-diam dari dapur ibu.

Ikan yang menjadi buruan utama kami adalah Cupang liar berekor panjang, bersirip merah dan biru. Kebanyakan Cupang yang kami temukan berekor pendek, bersirip merah dan hijau. Cupang yang kami tangkap dimasukkan ke dalam kantong plastik berisi air rawa dan  dibawa pulang. Jika cukup besar, Cupang jantan ini akan kami adu dengan Cupang jantan yang lain.

Sesampai di rumah, ibu saya telah menunggu di ambang pintu. Mukanya merah menahan amarah karena saya seharian tak pernah ada di rumah. Tanpa kata, telinga kiri saya ditarik paksa agar mengikutinya menuju sumur di belakang rumah. Sambil menimba air, ibu meminta saya membuka seluruh pakaian dan berjongkok. Tubuh hitam dekil berbau busuk ini pun diguyur air bertimba-timba.

Seperti tak pernah bosan, sambil mengguyur air, mulailah ibu berceramah tentang kiat sukses menjadi anak sholeh yang berguna bagi nusa dan bangsa. Saya yang sudah hapal nasehat ibu, tak pernah bisa mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Dalam kondisi lapar dan menggigil kedinginan, pikiran saya melayang jauh, membayangkan betapa senangnya mencari ikan bersama kawan sepermainan. Kini, rawa-rawa dan sawah sudah tak ada lagi, berganti rumah-rumah tembok berpagar tinggi.

Asal Usul Ikan Cupang

Cupang  Betta spp. termasuk jenis ikan air tawar yang hidup perairan dangkal seperti rawa-rawa, saluran air, danau kecil, kolam kecil dan persawahan di dataran rendah Asia Tenggara. Iklim di wilayah ini sangat dinamis. Saat musim hujan, jumlah air yang melimpah menggenangi dataran rendah yang luas. Sedangkan saat kemarau, genangan air akan menyusut hingga menyisakan kolam-kolam kecil berair dangkal dan keruh.

Betta hybrid-1

Gambar 1. Ragam bentuk dan warna Cupang hias/kontes. Sumber: aquafisher.org.ua; sirinut bettafarm.com; bettafishawarenessday. blogspot.com; alessio.pointnet.eu

Ikan-ikan berukuran kecil termasuk ikan Cupang akan terjebak di kolam atau genangan berair dangkal saat kemarau panjang. Kondisi ini mendorong ikan-ikan ini untuk beradaptasi terhadap perairan dangkal yang memiliki kandungan oksigen terbatas. Ikan ini pun mengembangkan organ khusus yang disebut labirin. Dengan organ ini, si ikan dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Kondisi lingkungan yang terbatas juga mendorong ikan ini bersifat lebih agresif untuk mempertahankan daerahnya dari ikan lainnya.

Penggunaan pestisida dan pupuk buatan sejak awal tahun 1980-an, menyebabkan populasi ikan Cupang musnah dari sawah-sawah di Asia Tenggara. Selain pencemaran, konversi habitat menjadi permukiman dan peruntukan lainnya menyebabkan habitat alami ikan Cupang kian menyusut.

Masyarakat umumnya mengenal ikan Cupang sebagai ikan laga yang berasal dari Thailand. Ikan ini populer sebagai satwa aduan di negeri Gajah Putih itu sejak 250 tahun yang lalu. Bahkan, pada masa itu, ikan Cupang dijadikan ajang judi gila-gilaan yang mempertaruhkan uang, rumah bahkan istri dan anak. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Raja Siam pun turun tangan menetapkan aturan tentang aduan ikan Cupang bahkan menerapkan pajak.

Untuk memperoleh Cupang laga terbaik, masyarakat Thailand melakukan seleksi dan menyilangkan ikan-ikan Cupang yang telah menjadi juara. Bahkan, Cupang aduan ini disilangkan dengan spesies cupang lain yang diambil dari alam untuk memperoleh turunan yang lebih agresif, cepat dan tahan pukul.

Betta hybrid-2

Gambar 2. Ragam warna Cupang Laga. Sumber: bettafish.com; flickr.com; aquariumfish.net; grandaquatic.com.

Cupang jawara umumnya memiliki ciri: sirip pendek, tubuh gempal, bibir tebal, gigi tajam, bersisik keras dan agresif.  Cupang alam biasanya hanya mampu bertarung selama beberapa menit saja. Namun, Cupang laga yang telah diseleksi dan dibudidayakan secara khusus dapat bertarung hingga lebih dari setengah jam lamanya.

Pertarungan menyebabkan ikan Cupang mengalami banyak luka dan kelelahan. Seringkali, ekor dan sirip anal robek tercabik-cabik, bibir terluka, sisik terlepas bahkan sirip perut dan sirip dada putus. Seekor Cupang dinyatakan sebagai pemenang, jika hingga di akhir laga masih bersifat agresif memburu lawan dan masih menunjukkan kemauan untuk bertarung.

Cupang dinyatakan kalah, jika selalu bergerak lari menghindari lawan, tidak punya kemauan untuk bertarung, tidak memberikan respon atau tidak bergerak sama sekali.

Berdasarkan asal-usul dan peruntukannya, Cupang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

  • Cupang liar/cupang alam
  • Cupang Laga/Aduan
  • Cupang Kontes

Cupang liar mencakup semua spesies ikan cupang yang hidup di alam atau ditangkap dari alam. Cupang aduan dan Cupang kontes berasal dari hasil budidaya dan proses kawin silang antar spesies berbeda dalam satu genus/marga.

Cupang Kontes memiliki bentuk dan ukuran sirip menyolok serta warna yang sangat cerah. Ciri-ciri ini muncul akibat mutasi, seleksi dan perkawinan yang diatur secara sengaja oleh peternak untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan.

Secara alami, bentuk dan warna cupang kontes hias tidak mungkin ditemukan di alam karena warna yang menyolok akan mudah terdeteksi oleh pemangsa. Sirip dan ekor ikan Cupang yang sangat panjang, lebar dan berjumbai-jumbai pun juga memperlambat pergerakan sehingga cupang kontes/hias ini akan mudah disergap pemangsa.

Berdasarkan cara bereproduksi, Cupang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

  • Cupang pembuat sarang busa (bubble nest)
  • Cupang pengeram telur di mulut (mouthbrooder)

Ikan Cupang berkerabat dekat dengan ikan Gurami Osphronemus goramy. Keduanya masuk dalam suku Osphronemidae yang anggotanya memiliki organ labirin. Sirip perut anggota suku ini juga termodifikasi menyerupai pita atau dasi yang panjang.

Hingga saat ini, sebanyak 83 spesies ikan Cupang telah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan. Sebagian besar tersebar di Asia Tenggara. Keanekaragaman hayati dan daerah sebaran ikan Cupang berpusat di Indonesia yang tercatat memiliki 52 spesies ikan cupang. Dari jumlah ini, 32 jenis diantaranya tergolong spesies Cupang endemik Indonesia yang memiliki sebaran terbatas dan tidak ditemukan di negara lain (Kottelat 2014).

Beberapa spesies yang kerap dijadikan ikan aduan adalah Betta splendens, Betta imbellis dan Betta smaragdina. Diantara ketiga spesies tersebut, Betta splendens atau Siamese fighting fish adalah jenis yang paling dikenal.

Dibawah ini beberapa spesies ikan Cupang dalam kelompok splendens complex yang dikawinsilangkan oleh peternak untuk memperoleh Cupang hibrida dengan warna cemerlang.

Splendens complex-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Spesies Cupang alam yang menjadi tetua Cupang Kontes dan Cupang Laga modern. Sumber: eriouslyfish.com; bettaplus.com; reurnthai.com;  ultimatebettas.com.

Betta splendens (Siamese Fighting Fish).

Jika membicarakan ikan Cupang, hampir dapat dipastikan bahwa ikan yang dimaksud adalah spesies Betta splendens. Secara alami, ikan ini tersebar luas di sekitar daerah aliran Sungai Mekong seperti: Thailand, Laos, Vietnam dan Kamboja. Ikan ini dideskripsikan oleh Regan tahun 1910 dengan sampel alam yang diambil dari Sungai Mae Nam atau Chao-Phraya, Thailand (Kottelat 2014).

Kata “splendens” berasal dari bahasa latin “splendeo” yang berarti: cemerlang, berkilau, bersinar. Sedangkan nama genus “Betta” berasal dari nama sebuah suku pemberani yang disebut “Bettah”.

Cupang Siam ini hidup pada kisaran suhu 24ºC- 30ºC, pH 6-8, panjang tubuh hingga 6,5 cm dan masa hidup 2-3 tahun. Makanan utamanya adalah zooplankton, nyamuk dan larva serangga lainnya. Bersifat agresif terhadap sesamanya. Berbiak dengan sarang busa. Telur dijaga oleh pejantan.

Salah satu ciri Cupang siam asli yang hidup di alam adalah ujung penutup insang (operculum) yang berwarna merah. Warna sirip punggung hijau dengan loreng-loreng hitam. Sirip anal dan ekor berwarna merah dengan garis-garis hijau. Sisik di punggung berbintik hijau.

Oleh IUCN, populasi Betta splendens diseluruh habitat alaminya dikategorikan rentan (Vulnerable) dari kepunahan akibat pencemaran, degradasi dan konversi habitat.

Perbedaan Splendens Complex-1-dody94.wordpress.comGambar 4. Perbedaan warna dan bentuk Cupang Merah:  Betta splendens, B. imbellis dan B. siamorientalis. Sumber: seriouslyfish.com.

Betta imbellis (Crescent Betta)

Jika dilihat sepintas tampilan Betta imbellis sangat mirip dengan Betta splendens. Namun keduanya memiliki perbedaan yang jelas jika dilihat lebih jeli. Berbeda dengan jenis sebelumnya, Betta imbellis memiliki sirip punggung, ekor dan anal berwarna merah dengan garis-garis biru yang tebal, tegas dan berbentuk bulan sabit. Penutup insang berwarna biru menyolok.

Pada betina Betta splendes, dua garis horizontal di bagian perut lebih tebal. Sedangkan pada betina Betta imbellis garis horizontal di sisi tubuh memiliki ukuran yang lebih seragam. Ukuran jantan dan betina sekitar 50-60 mm.

Betta imbellis pertama kali dideskripsikan oleh Ladiges tahun 1975 berdasarkan sampel ikan yang diambil dari rawa-rawa di sekitar  Kuala Lumpur, Malaysia. Ikan ini secara alami tersebar mulai dari Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaya dan Sumatera Utara. Populasi feral ikan ini ditemukan di Singapura yang berasal dari ikan peliharaan yang lepas.

Habitat Betta imbellis berupa daerah perairan berlumpur seperti sawah, rawa-rawa, saluran air, sungai kecil dan tambak/empang hingga rawa berair payau di dekat pantai. Habitat ikan ini umumnya ditumbuhi oleh vegetasi gulma di tepi air yang cukup lebat dengan dasar perairan berlumpur tebal yang mengandung sedikit oksigen terlarut. pH 5,5-7,5. Telur yang ditetaskan biasanya akan tenggelam ke dasar perairan yang kemudian diambil oleh induknya dan ditempatkan di sarang busa.

Populasi ikan ini masih cukup banyak di alam liar sehingga oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah (Least Concern) untuk punah dalam waktu dekat.

Betta siamorientalis (Eastern Siam Betta)

Ikan ini memiliki bentuk dan warna yang sangat mirip dengan Betta imbellis sehingga dulunya dianggap sebagai salah satu varian imbellis dengan nama Black imbellis. Ciri khas spesies ini adalah warna tubuh yang sedikit lebih hitam dan penutup insang berwarna merah dan hitam. Ujung sirip anal tidak memiliki warna merah menyolok seperti pada Betta imbellis. Panjang tubuh berkisar antara 25-33 mm.

Seperti namanya, Eastern Siam Betta ditemukan di beberapa propinsi di sisi timur Thailand seperti:  Chachoengsao, Sa Kaeo, Prachin Buri dan Chon Buri. Selain itu juga ditemukan di propinsi Banteay Meanchey di barat Kamboja dan beberapa lokasi di Vietnam. Habitat ikan ini adalah aliran air yang lambat dengan vegetasi yang lebat di sekitarnya. Ikan ini dideskripsikan oleh Kowasupat dan kawan-kawan pada tahun 2012.

Perbedaan Splendens Complex-2-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Perbedaan warna dan bentuk Cupang Biru:  Betta smaragdina, B. mahachaiensis dan B. stiktos. Sumber: bettaplus.com; reurnthai.com;  ultimatebettas.com;

Betta smaragdina (Emerald Betta)

Betta smaragdina tersebar di Thailand timur dan Laos bagian tengah. Betta smaragdina pertama kali dideskripsikan oleh Ladiges tahun 1972 dari sampel ikan alam yang diambil dari anak sungai Mekong di propinsi Nakhon Rachasima, Thailand. Kata “smaragdina” berasal dari bahasa latin yang berarti Emerald atau Zamrud, sejenis mineral berharga berwarna kehijauan.

Berbeda dengan spesies sebelumnya, Emerald betta memiliki permukaan sisik berwarna biru yang lebih terang. Sisik biru ini nyaris menutupi seluruh tubuh. Penutup insang juga berwarna biru. Sirip ekor biru dengan semburat merah. Salah satu ciri paling khas dari ikan ini adalah warna jingga pada sirip anal yang tidak ditemukan pada spesies lainnya.  Panjang tubuh 50-60 mm.

Habitat Emerald Betta berupa sawah tanpa pestisida, rawa-rawa, saluran air di tepi jalan, sungai kecil hingga kolam/tambak air tawar. Suhu perairan 24-28 ºC dan pH 5,5-7,5. Dasar perairan berupa serasah sisa vegetasi yang membusuk, lumpur, pasir hingga sedimen yang tebal. Ikan ini juga berkembangbiak dengan membuat sarang busa. Oleh IUCN, status konservasi ikan ini dikategorikan Data Deficient (DD) karena kurangnya data.

Betta mahachaiensis (Mahachai Betta)

Betta mahachaiensis berasal dari beberapa daerah di Thailand tengah seperti Bangkok, Samut Sakhon, Samut Songkhram dan Samut Prakan. Propinsi ini terletak di sekitar Teluk Thailand. Populasi ikan ini di beberapa daerah sebarannya kian menurun akibat degradasi habitat.

Bentuk tubuh dan warna Betta mahachaiensis mirip dengan Betta smaragdina. Perbedaan yang paling menyolok terletak sirip anal dan ekornya. Pada Betta smaragdina sirip anal berwarna jingga dengan tepi biru. Sedangkan Betta mahachaiensis memiliki sirip anal bergaris-garis biru dengan sedikit semburat merah dan ekor berurat melengkung kemerahan.

Populasi pada beberapa habitat yang berbeda menunjukkan perbedaan bentuk ekor. Ada yang membulat, oval, meruncing dan lain-lain. Populasi Mahachai Betta sebaiknya tidak dihibridisasi untuk menghindari polusi genetik. Ikan ini umumnya berukuran 50-60 mm. Dideskripsikan pertamakali oleh Kowasupat dkk tahun 2012. Ikan ini belum dievaluasi oleh IUCN, sehingga dikategorikan Not Evaluated (NE).

Habitat ikan ini adalah rawa-rawa payau, rawa pasang surut dan rawa pantai yang dicirikan dengan tegakan nipah Nypa fruticans yang tumbuh rapat. Ikan jantan membangun sarang busa diantara tegakan tangkai daun Nipah. Meskipun B. splendens dan B. imbellis juga diketahui hidup di rawa pantai berair payau, namun B. mahachaiensis merupakan satu-satunya spesies Cupang yang diketahui hidup secara khusus di sekitar rawa-rawa Nipah.

Betta mahachaiensis hidup pada habitat dengan pH bervariasi antara 6.87-7.80 dan salinitas 1.1-10.6 ppt. Panjang tubuh dapat m3ncapai 50-60 mm. Ikan lain yang hidup bersama dengan Betta mahachaiensis  diantaranya adalah Trichopsis vittata, Trichopodus trichopterus, Anabas testudineus, Aplocheilus panchax, Oryzias javanicus, Dermogenys siamensis, Channa striata, and Boraras uropthalmoides.

Betta stiktos (Cambodian Betta)

Betta stiktos termasuk salah satu spesies Cupang alam yang paling indah. Ikan ini paling dicari hobiis ikan air tawar, baik untuk dikembangkan maupun dijadikan indukan silang dengan cupang lainnya.

Tan dan Ng mendeskripsikan ikan ini untuk pertamakalinya pada tahun 2005 dari sampel yang diambil dari aliran rawa kecil daerah sekitar Sungai Mekong tepatnya di Stung Treng dan Ban Lung dekat jembatan Tonle Srepok.

Cupang ini dibedakan dari spesies lainnya oleh warna sisik biru cemerlang yang sangat dominan dan nyaris menyelubungi seluruh tubuh. Ekor berwarna biru dengan garis-garis merah yang lurus. Sedangkan sirip anal berwarna biru dengan semburat merah.

Sebagaimana Cupang Thailand lainnya Betta stiktos berkembangbiak dengan sarang busa. Belum banyak informasi yang diketahui tentang ikan ini sehingga dikategorikan Data Deficient (DD) oleh IUCN.

Demikian cerita asal-usul ikan Cupang yang pertama kali muncul di negeri Siam. Semoga bermanfaat dan berkenan di hati sahabat pembaca semua.

Referensi:

  1. seriouslyfish.com
  2. fishbase.org
  3. iucnredlist.org
  4. bettafish.com
  5. bettasource.com
  6. Kottelat (2014). The Fishes of Inland Waters of South-east Asia: a Catalogue and Core Bibliography of The Fishes Known to Occur in Freshwaters, Mangroves and Estuaries. The Raffless Bulletin of Zoology. Supplement No. 27 (22 November 2013).

 

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cupang: ikan rawa yang mendunia

  1. lombokceplus berkata:

    Wah mantap ya masih bisa cari cupang d rawa2, kalau d tempat saya dulu harus beli, yang tersisa tinggal wader, sepat, sanggaringan, dan mbetol.

    Unik nya ikan ini bisa berantem🙂

Komentar ditutup.