Menjelajah di jantung Sulawesi (1)

Awal tahun 2015, seorang sahabat menawarkan kesempatan untuk bergabung dalam riset tumbuhan herbal yang disponsori Kementerian Kesehatan RI. Tanpa ragu, saya pun langsung setuju, karena sudah lama tak pernah menjelajahi kawasan pegunungan di Sulawesi.

Pertengahan Agustus 2015, saya diharuskan mengikuti pelatihan khusus di lembaga penelitian Universitas Hasanuddin, Makassar. Jumlah peserta pelatihan sebanyak 25 orang dari berbagai latar belakang seperti dari bidang Kesehatan, Farmasi, Biologi, Kehutanan, Pertanian, Sosial Politik, Antropologi dan lain-lain.

Saat pelatihan, seluruh peserta diajarkan cara mengumpulkan sampel tumbuhan obat, mengumpulkan data lapangan, membuat herbarium, menulis laporan riset, melakukan wawancara dengan pengobat tradisional dan membuat laporan keuangan.

Di awal pelatihan, panitia mengumumkan 5 suku pedalaman yang akan menjadi sasaran riset, yaitu: suku Konjo di Sinjai,  suku Pattae di Maros, suku Duri di Enrekang, suku Rongkong dan suku Seko di Luwu Utara. Semua lokasi berada di wilayah pegunungan. Penentuan anggota tim dan lokasinya akan diumumkan kemudian dan tidak dapat diganggu gugat.

Letak Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Peta lokasi Seko. Sumber: diadaptasi dari commons.wikimedia.org.

Mendengar pernyataan dari panitia, sontak seluruh peserta menjadi resah. Apalagi saat suku Seko dan Rongkong disebut-sebut. Saya pun mencari tahu mengapa sebagian besar peserta terlihat enggan ditempatkan di kedua suku tersebut.

Seorang bapak yang terlihat galau menjelaskan, bahwa Seko adalah salah satu wilayah ekstrim yang paling sulit dijangkau di Sulawesi. Tak ada sinyal telepon genggam, tak ada kendaraan selain ojek dan pesawat yang jadualnya tak menentu, tak ada toilet yang representatif dan yang lebih parah, konon, tak ada penerangan listrik.

Esok harinya, tim mengusulkan pada panitia agar keanggotaan tim ditentukan sendiri secara sukarela oleh peserta. Setelah lobi sana dan sini, peserta dan panitia pun akhirnya bersepakat tentang pembagian tim.

Anggota tim diutamakan berasal dari daerah yang paling dekat dengan suku yang akan dituju atau setidaknya mengerti bahasa yang digunakan oleh suku yang akan dituju. Misalnya: peserta yang kampungnya atau daerah asalnya dari Sinjai, Gowa atau Bulukumba akan diminta untuk bergabung dalam tim Konjo.

Untuk peserta yang lebih senior dan ibu-ibu akan ditempatkan di wilayah Sinjai, Maros dan Enrekang yang lokasinya lebih mudah diakses. Sedangkan tim yang akan menuju Rongkong dan Seko disi oleh peserta yang lebih muda.

Penjelasan simpang siur peserta pelatihan tentang kondisi di Seko membuat saya semakin penasaran. Akhirnya, beberapa hari sebelum pengumuman pembagian anggota tim, secara diam-diam, saya menawarkan diri pada panitia untuk ditempatkan di Seko.

1.Spanduk Ristoja dan peserta

Gambar 2. Spanduk kegiatan dan suasana ruangan saat pembagian kelompok. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dengan senang hati, sahabat saya yang menjadi panitia menyetujuinya. Saat pengumuman pembagian tim, saya benar-benar ditempatkan di sana. Jadilah, saya bergabung dengan tim Seko. Dalam tim ini ternyata telah bergabung tiga orang dari Farmasi, yaitu: Aminullah, Raihan dan Jabal. Satu orang anggota lainnya, Nurlin, berasal dari Antropologi. Dengan demikian, tim Seko lengkap menjadi 5 orang. Semuanya masih berusia muda, cakep dan single… Hahaha….

Tim yang mendapat posisi di Rongkong masih saja protes dan berdalih bahwa daerah Rongkong dan Seko kondisi alam dan masyarakatnya tak jauh berbeda. Mereka pun mengusulkan, agar daerah Rongkong diganti dengan Wotu yang masyarakatnya hidup di wilayah pesisir, untuk menambah keragaman wilayah dan keragaman sosial budaya. Akhirnya, pihak panitia menyetujui dan tim Rongkong pun dipindahkan ke daerah Wotu di Luwu Timur.

Sehari setelah pengumuman, panitia memberi waktu kepada masing-masing tim untuk mengadakan rapat dan menentukan ketua tim. Kami pun memilih Aminullah untuk menjadi ketua, karena kawan yang satu ini pernah mengawas ujian nasional SMA di wilayah Rampi yang bersebelahan dengan Seko.

Kami bergerak cepat. Pengambilan logistik dan anggaran riset kami selesaikan dengan panitia. Informasi pun kami kumpulkan. Beruntung, ketua tim masih menyimpan nomor kontak seorang polisi di Masamba yang ia kenal saat masih mengawas ujian SMA dulu.

2. Logistik

Gambar 3. Sebagian perlengkapan yang disiapkan panitia untuk setiap anggota tim. Sumber: dokumentasi pribadi.

Tiket pesawat ke Seko adalah hal yang paling sulit dipastikan. Butuh seminggu sejak hari terakhir pelatihan, untuk mendapatkan kepastian tentang tiket pesawat Masamba-Seko. Kami meminta pak Polisi yang menjadi kontak kami untuk memesan dan memastikan 7 tiket pesawat ke Seko. Lima tiket untuk anggota tim dan dua tiket untuk pengawas dari pusat.

Akhirnya, kami bisa memastikan tiket pesawat ke Seko pada hari Senin, tanggal 31 Agustus 2015. Kami memutuskan berangkat ke Masamba tanggal 28 Agustus malam agar memiliki waktu yang longgar untuk mengurus administrasi di Masamba. Ternyata tanggal 29-30 Agustus jatuh pada hari libur Sabtu-Ahad. Semua kantor tutup. Terpaksa, kami menitipkan surat pada pegawai di perumahan dinas sekitar kantor bupati/kecamatan.

Kami berangkat dengan bus Bintang Prima rute Makassar-Masamba dengan harga tiket Rp. 185.000,-. Di pool bus, turut bergabung mas Ivan dari Kemenkes yang bertugas mendokumentasikan kegiatan di Seko. Agar tidak terburu-buru, sehari sebelumnya, kami membawa dan menitipkan barang logistik yang jumlahnya sangat banyak ke pool bus.

3. pool bus bintang prima

Gambar 4. Menanti saat keberangkatan di pool bus Bintang Prima. Sumber: dokumentasi pribadi.

Bus Bintang Prima berangkat jam 10 malam. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk terlelap. Biasanya, 7-8 jam kemudian, bus tiba di Masamba. Namun, perjalanan kali ini berlangsung lebih lama. Kami tiba di Masamba jam 07.30 pagi setelah sebelumnya singgah untuk Sholat Subuh di Palopo. Perjalanan berlangsung selama 9,5 jam.

Untuk memudahkan perpindahan logistik dan mengurus administrasi, kami menginap di Wisma Sidenreng depan Polsek Masamba. Harga sewa kamar per malam sebesar Rp. 175.000,-. Sebenarnya, wisma dan penginapan di Masamba jumlahnya cukup banyak. Namun, kami memilih wisma Sidenreng karena lokasinya yang sangat dekat dengan pintu masuk bandara.

Di Masamba, kami menginap selama 3 hari. Warung makan jumlahnya tidak terlalu banyak. Menunya pun kurang beragam. Namun kami merekomendasikan sebuah rumah makan di jalan Syuhada yang letaknya tidak jauh dari Masjid Raya Masamba. Rumah makan ini bernama “Masamba Kuliner”.

4.tempat makan di masamba-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Rumah Makan ” Masamba Kuliner” di Jalan Syuhada di sekitar Mesjid Raya Masamba. Sumber: dokumentasi pribadi.

Selain menunya yang enak dengan banyak pilihan, harga per porsinya juga cukup terjangkau, yaitu berkisar antara Rp 15.000 – Rp 30.000,-. Harga minuman dan jus rata-rata sebesar Rp 10.000,-. Di rumah makan ini juga tersedia alat musik electone. Teman kami, Nurlin dan Jabal, sering memainkannya.

Sambil menunggu masakan dihidangkan, Nurlin dan Jabal akan segera mengambil tempat dan duduk di depan electon sambil mengatur posisi. Tak lama kemudian, terdengar lagu yang mendayu-dayu. “… dengar laraku… suara hati ini memanggil namamu… karena separuh… aku…. dirimu…”.

Sungguh, sulit dipercaya, duet maut berbadan atletis dari tim Seko ini, ternyata adalah penggemar Ariel Noah. Tapi, jujur saja saya akui, suara Nurlin dan Jabal itu memang merdu dan berkarakter.

Salah satu makanan khas Masamba adalah Kapurung yang terbuat dari gumpalan-gumpalan sagu sebesar sendok makan yang dimasak dan dicampur dengan aneka sayuran, udang, daging ayam, ikan dan lain-lain.

Untuk memberi sensasi rasa asam, biasanya ditambahkan patikala (buah kering dari Kecombrang). Jika memesan Kapurung di “Masamba kuliner”, kami akan diberi porsi satu mangkuk besar per orang. Terus terang, saya harus berjuang dan bersusah payah untuk menghabiskan porsi jumbo dari Kapurung itu. 

5.bandara masamba-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Menanti penerbangan ke Seko di bandara Masamba. Sumber: dokumentasi pribadi.

Hari Sabtu, koordinator teknis dari pusat, mas Harto Widodo menelepon dan menyatakan akan bergabung dengan kami di Wisma Sidenreng, setelah sebelumnya melakukan peninjauan dan pengawasan tim Wotu di Luwu Timur. Dengan bergabungnya mas Harto, anggota tim Seko kini bertambah menjadi 7 orang.

Hingga hari senin pagi, jadual keberangkatan pesawat masih tidak menentu. Jam 09.00 pagi hujan deras mengguyur Masamba. Untungnya hujan ini hanya sesaat. Saya terkejut karena saat ini adalah puncak musim kemarau. Belakangan baru saya ketahui jika Masamba memiliki kondisi iklim lokal yang berbeda dengan Makassar.

Senin pukul 07.00 pagi, kami mendapat kabar dari petugas bandara, bahwa penerbangan akan tertunda. Pukul 10.00 petugas bandara kembali menghubungi dan menyatakan bahwa semua barang logistik harus  ada di bandara pada pukul 12.00 siang. Kamipun bergegas mengepak barang dan mencari angkot menuju bandara. Setelah tiba di bandara, seluruh barang dipindai dengan sinar X dan ditimbang.

Mengingat kapasitas pesawat yang terbatas, maka setiap penumpang hanya diizinkan membawa bagasi sebesar 10 kg saja. Dengan demikian, tim kami hanya diizinkan membawa bagasi seberat 70 kg. Namun total berat barang logistik tim saat ditimbang mencapai 269 kg. Setelah dikurangi dengan jatah bagasi tim (70 kg), maka kami dinyatakan over bagasi  sebanyak 199 kg.

Kami terkejut dan segera melakukan negosiasi dengan pihak bandara. Tak lupa pula kami tunjukkan surat tugas dari Kementerian Kesehatan dan dari Unhas. Akhirnya, pihak bandara memberikan diskon dengan menambah lagi jatah bagasi anggota tim masing-masing sebesar 10 kg/orang. Dengan demikian, ada tambahan bagasi sebesar 70 kg. Over bagasi kami pun diturunkan dari 199 kg menjadi 129 kg.

Akhirnya kami harus membayar biaya over bagasi sebesar  Rp. 710.000,- dengan charge sebesar Rp 5.500,-/kg kelebihan barang.  Tiga jerigen Alkohol 70 % untuk pengawetan sampel tumbuhan, masing-masing sebanyak 10 liter juga nyaris disita pihak bandara. Namun, setelah dinegosiasikan, bahan cair mudah terbakar ini bisa kami bawa ke atas pesawat.

6.saat lepas landas-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Suasana di dalam pesawat. Sumber: dokumentasi pribadi.

Tepat pukul 14.00, kami dipersilahkan naik ke pesawat. Tidak tampak pramugari bak bidadari yang berdiri sambil tersenyum dan mengucapkan selamat datang. Uniknya lagi, kami dipersilahkan untuk memilih sendiri kursi yang kami sukai. Saya pun segera bergegas memilih tempat duduk di kursi paling depan sebelah kiri dekat jendela.

Pesawat yang saya tumpangi berasal dari maskapai swasta Aviastar. Dari kartu instruksi keselamatan yang terpampang di depan tempat duduk, tertulis model pesawat adalah Twin-Otter DHC-6-300.

Ada 21 kursi yang tersedia untuk penumpang. Kursi tersusun dalam tujuh deret. Masing-masing deret terdiri dari tiga kursi. Satu kursi di sisi kiri dan dua kursi di sisi kanan. Kami diminta mengenakan sabuk pengaman dan headset untuk melindungi telinga dari perubahan tekanan udara mendadak.

Tanpa ba…bi..bu… pesawat langsung melaju. Tak lama kemudian pesawat melesat di atas landas pacu dan terangkat ke udara. Tak ada  simulasi pemakaian sabuk pengaman dan pelampung dari pramugari nan cantik jelita. Semua penumpang terdiam membisu. Di belakang saya tampak seorang pemuda terkulai lemah. Tangan kirinya terbebat perban beralas papan kayu.

7.bandara Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Bandara Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya pun melepas pandangan keluar jendela. Tampak sawah,  perbukitan dan padang rumput kering terhampar luas sejauh mata memandang. Di antara ceruk-ceruk lembah, terlihat sungai kecil kecoklatan berkelok-kelok. Tak lama kemudian warna putih bak kapas menutupi pandangan. Kiranya pesawat ini telah memasuki gumpalan awan.

Tak lama berselang pandangan mulai jelas kembali. Perlahan pesawat mulai menurunkan ketinggian. Jalur-jalur beraspal terlihat samar di kejauhan. Bentuk daratan pun semakin terlihat jelas. Akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di bandara Seko. Ternyata penerbangan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 17 menit saja.

Sambil menunggu penumpang turun, saya mengambil kamera dan mengaktifkannya. Sesaat setelah menjejakkan kaki di Seko, saya meminta seorang teman untuk mengabadikan momen berkesan ini.

8.Di bandara Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Saat pertama menjejakkan kaki di Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Satu per satu petugas bandara datang untuk menurunkan muatan dari atas pesawat. Saya dan Mas Ivan kemudian sibuk memotret bandara serta beragam aktifitasnya. Salah satu momen yang berhasil saya abadikan adalah saat seseorang berjalan dari pesawat membawa beberapa tumpukan telur. Sulit dibayangkan, jika telur-telur ini dibawa ke Seko menggunakan ojek.

9.Bongkar muat Di bandara Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Bongkar muat bahan logistik. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya pun menyapukan pandangan ke sekeliling bandara. Terlihat deretan puncak-puncak bukit sambung menyambung hingga ke batas cakrawala. Sawah, ladang dan perkampungan terlihat nun jauh di seberang sana. Bandara ini saya perkirakan, memiliki landasan pacu beraspal sekitar satu kilometer.

10. Suasana Di sekitar bandara Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Kontur berbukit-bukit di sekitar bandara. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sejak menjejakkan kaki untuk pertama kalinya, fakta tentang Seko sedikit demi sedikit mulai terkuak. Ternyata, Seko tidaklah seburuk bayangan yang ada di benak. Kini saya telah berada di jantung Sulawesi dan akan menjelajahinya selama 3 pekan ke depan…. (bersambung).

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menjelajah di jantung Sulawesi (1)

  1. lombokceplus berkata:

    Perjalanan yg mengasyikkan sepertinya

    ***
    Kalau ada waktu mampir d rumah baru bang
    http://lombokceplus.com

  2. Cakrawala berkata:

    OK. Mas. Siip mas🙂

Komentar ditutup.