Menjelajah di jantung Sulawesi (2)

Setelah tiba di bandara Seko, kami disambut pak Absalom, keluarga pak Frengki, polisi yang menjadi kontak kami di Masamba. Pak Absalom mengantar kami menuju rumah beliau yang berjarak sekitar  500 m dari bandara dengan sepeda motor. Beberapa sepeda motor lain juga menjemput  dan mengantar anggota tim menuju rumah pak Absalom.

Tepat jam 15.00 sore, kami tiba dirumah pak Absalom. Rumah ini akan menjadi basecamp kami selama 3 pekan ke depan.  Kami pun dipersilahkan masuk ke dalam rumah oleh isteri pak Absalom. Setelah duduk di ruang tengah, kami bertujuh pun memperkenalkan diri satu per satu.

Basecamp Ristoja-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Rumah yang menjadi Base Camp Tim Ristoja di Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Isteri pak Absalom menjelaskan bahwa dirinya lebih dikenal warga desa dengan sebutan mama kembar. Sedangkan pak Absalom dikenal sebagai papa Kembar. Disebut demikian, karena mereka memiliki anak pertama kembar. Menurut mama kembar, orang Seko menyebut nama orang lain dengan sebutan mama atau papa ditambah dengan nama anak pertamanya atau anak sulungnya.

Mama kembar masuk ke dapur dan kembali dengan membawa beberapa gelas kopi dan teh. Kami dipersilahkan untuk meminumnya. Saya pun mengambil segelas kopi dan mencobanya. Ternyata rasa kopi ini enak sekali. Seperti kopi toraja yang pernah saya beli di supermarket.  Bahkan, kopi ini rasanya jauh lebih enak.

Koordinator teknis sekaligus pengawas kegiatan, mas Harto Widodo kemudian menjelaskan maksud dan tujuan serta rencana kegiatan yang akan dilakukan tim Ristoja di Seko. Selanjutnya, kami banyak bertanya kepada mama kembar tentang kondisi desa seperti listrik, sumber air, toilet,  alat komunikasi, pasar, sekolah, sarana ibadah, kantor desa dan lain-lain.

depan puskesmas-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Jalan Desa di depan Puskesmas . Sumber: dokumentasi pribadi.

Mama kembar menjelaskan bahwa  sumber listrik berasal dari tenaga mikro hidro dan waktu menyalanya tidak menentu. Biasanya, listrik akan menyala saat senja hingga pagi hari namun tidak stabil dan sering padam. Listrik benar-benar stabil  setelah jam 10 malam.

Kadang-kadang jika ada hajatan, listrik akan menyala sepanjang hari. Kadang pula listrik menyala hingga siang hari. Listrik di rumah ini juga dibantu oleh panel surya yang dipasang di luar rumah. Panel surya ini digunakan untuk men-charge dua aki besar yang terdapat di ruang samping.

Air untuk mandi dan minum dialirkan langsung dari gunung melalui selang panjang. Setiap rumah umumnya telah memiliki toilet atau jamban. Alat telekomunikasi masih menggunakan frekuensi gelombang radio atau break atau radio amatir (ORARI). Pasar ada di dekat kantor desa, namun tidak digunakan. Pasar di Seko hanya setahun sekali yaitu sekitar tanggal 10-17 Agustus setiap tahun.

Siswa SD Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Siswa TK-SD yang mandiri. Sekecil ini berangkat ke sekolah tanpa di antar orang tua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kini di Seko telah tersedia sekolah mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA. Letak sekolah-sekolah ini berada di jalan poros desa. Puskesmas juga ada. Masjid dan Gereja sedang dibangun. Mayoritas warga beragama Kristen. Namun warga yang muslim juga banyak. Warga Kristen dan muslim umumnya masih memiliki hubungan keluarga, sehingga persatuan dan toleransi warga di Seko sangat baik.

Tak terasa satu jam lamanya kami berdiskusi dengan mama kembar. Kami pun kemudian menanyakan rumah kepala Desa untuk melapor. Ternyata, rumah kepala desa berada tepat di seberang jalan. Kami pun bergegas menuju rumah tersebut dan disambut dengan ramah oleh seorang ibu. Betapa terkejutnya kami, karena ternyata ibu bernama Ruth Taely ini adalah kepala Desa yang kami cari.

Siswa Sekolah Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Siswa SMP dan SMA di Seko berangkat ke Sekolah. Tampak kabut masih terlihat di ujung jalan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah memperkenalkan diri, mas Harto kemudian menjelaskan maksud, tujuan dan rencana kegiatan tim di Seko. Ibu Kepala Desa mendengarkan dengan seksama kemudian memberikan  beberapa masukan. Kami pun kemudian banyak bertanya tentang informasi seputar sejarah, adat, budaya dan profil desa.

Ibu kepala Desa dengan bersemangat menjelaskan dan menjawab pertanyaan. Kami dibuat terkesima oleh detail informasi dan cara ibu Kepala Desa dalam memberikan penjelasan yang runtut dan sistematis.

Tampak beliau sangat menguasai sejarah, adat istiadat, budaya setempat. Beliau juga mampu mengidentifikasi berbagai permasalahan didesanya dan tahu bagaimana solusi untuk mengatasinya. Hal ini dapat dilihat dari penetapan program Desa dan Peraturan desa.

Kepala Desa Padang Balua-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Kepala Desa Padang Balua Ibu Ruth Taely bersama ketua tim Ristoja Seko.  Sumber: Nurlin (Ristoja 2015).

Menurut Ibu Kepala Desa, Seko atau Wono adalah kecamatan terluas di Kabupaten Luwu Utara. Seko dibagi menjadi dua wilayah utama, yaitu Seko Timur dan Seko Barat. Dalam bahasa setempat kata Seko berarti sahabat.

Seko Timur hanya terdiri dari satu wilayah: Seko Padang. Sedangkan Seko Barat mencakup dua wilayah, yaitu: Seko Tengah dan Seko Lemo. Bahasa yang digunakan termasuk dalam rumpun bahasa Toraja. Orang yang berasal dari Seko Padang disebut Tu Padang, dari Seko Tengah disebut To Sau, sedangkan dari Seko Lemo disebut To Lemo.

Secara administratif, Kecamatan Seko terdiri dari 12 desa. Wilayah Seko Padang mencakup desa Padang Balua, Padang Raya, Lodang, Marante (Parahaleang), Hono’ dan Taloto. Wilayah Seko Tengah meliputi desa Embona Tana, Tana Makaleang dan Hoyane’. Wilayah Seko Lemo terdiri dari: Malimongan, Peroppa dan Tirobali.  Secara adat, daerah Seko terbagi menjadi 9 wilayah.

Seko Padang mencakup empat wilayah adat, yaitu:

  • Turong (mencakup Desa Turong)
  • Hono’ (mencakup Desa Padang Balua, Hono’ dan Marante atau Parahaleang)
  • Lodang (mencakup Desa Lodang)
  • Taloto (mencakup Desa Taloto)

Pemangku adat di Turong, Hono’ dan Lodang disebut Tu barak. Sedangkan pemangku adat di daerah Taloto disebut To Kei. Desa Taloto umumnya dihuni oleh penduduk yang berasal dari Kecamatan Rampi sehingga memiliki bahasa tersendiri.

Orang dari suku Rampi biasanya menggunakan nama yang berawalan Hi misalnya, Hi Tani, Hi Yana dan lain-lain. Sedangkan orang dari suku Seko umumnya memiliki nama dengan awalan Ta, misalnya: Tappasuku’, Tasamping, Taely, Talotong dan Tarame.

Pemangku adat Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 6. To Kei, Pemangku Adat desa Taloto (kiri). To Makaka, Pemangku Adat dari Seko Lemo (kanan).  Sumber: Aminullah (Ristoja 2015).

Seko Tengah terbagi menjadi tiga wilayah adat, yaitu:

  • Ambalong
  • Hoyane
  • Poholeang

Pemangku adat di Ambalong, Hoyane dan Poholeang semuanya disebut To Barak.

Seko Lemo terbagi menjadi dua wilayah adat, yaitu:

  • Beroppa
  • Kariango

Pemangku adat di Beroppa dan Kariango disebut To Makaka.

Tarian adat Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Tarian adat dan tarian perang saat menyambut kedatangan Gubernur Sulawesi Selatan di Seko (13 September 2015) .  Sumber: Aminullah (Ristoja 2015).

Hukum adat masih berlaku di Seko. Hukuman yang diterapkan secara adat di Seko umumnya dalam bentuk denda. Barang yang digunakan untuk untuk membayar denda adalah kerbau.

Seseorang yang menebang pohon besar di daerah ulayat tanpa izin misalnya akan dikenakan denda seekor kerbau. Berselingkuh di denda 5 ekor kerbau dan seterusnya. Hukuman paling berat di Seko adalah diasingkan dan diusir dari kampung halaman untuk selama-lamanya.

Bahasa yang digunakan di Seko bermacam-macam. Diantaranya adalah bahasa Seko Padang, Bahasa Seko Tengah dan Bahasa Rampi. Daerah Seko Lemo menggunakan bahasa dari selatan yang mirip dengan bahasa di Malangke.

Konon, orang suku Lemo berasal dari daerah Malangke dan bermigrasi ke Seko sejak tahun 1700-an. Malangke adalah daerah penghasil jeruk, sehingga pendatang dari Malangke disebut To Lemo. Dalam bahasa setempat, Lemo berarti jeruk.

Bahasa di Seko termasuk rumpun bahasa Toraja. Salah satu rumpun bahasa Toraja yang tersebar luas di Luwu bahkan hingga ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat disebut bahasa Tae’.

Pakaian adat Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Remaja Seko dengan pakaian adatnya.  Sumber: Aminullah (Ristoja 2015).

Desa yang menjadi basecamp kami bernama desa Padang Balua yang berarti padang yang luas. Desa ini terbagi menjadi tiga dusun, yaitu: Eno Barat (rumah kepala desa), Eno Timur (bandara) dan Kampung baru yang dihuni oleh pendatang dari Seko Lemo. Kampung baru berjarak 2,5 km dari dusun Eno Barat.

Desa padang Balua lebih dikenal dengan nama lama Kampung Eno. Dalam bahasa Seko Padang, Eno berarti kalung.

Konon, pada jaman dahulu di lokasi ini sering terjadi perang antar suku. Jika suku Tu Padang menang, maka kepala musuh yang telah dipenggal akan diuntai menjadi satu sehingga berbentuk kalung kepala atau kalung tengkorak. Ornamen mengerikan ini selanjutnya akan dikalungkan di sebuah batu keramat yang disebut Hatu Eno sebagai simbol kemenangan suku.

Dusun Eno dari puncak bukit-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Dusun Eno dari puncak bukit.  Sumber: Raihan (Ristoja 2015).

Penduduk Padang Balua dulunya berasal dari sebuah kampung tua bernama Lippu Matua. Perpindahan terjadi akibat sulitnya mengakses kampung tua karena harus menyeberangi dua buah sungai, yaitu sungai Betue dan sungai Kasummong.

Diperkirakan, hingga akhir abad ke-19, masyarakat Seko masih menganut kepercayaan pada nenek moyang dan alam atau animisme dan dinamisme. Tak lama berselang, agama islam dan kristen mulai masuk ke Seko.

Untuk mengakomodir kedua agama tersebut, dua orang bersaudara yang termasuk penghuni pertama di desa Padang Balua bernama Ta Passuku’ (perempuan) dan Ta Samping (laki-laki) memilih keyakinan berbeda. Ta Passuku’ memilih menjadi seorang muslimah dan Ta Samping memilih jadi penganut kristiani.

Rumah Adat Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Rumah adat di Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Akhirnya, hingga saat ini, meskipun berbeda keyakinan, toleransi dan kerukunan beragama dan persatuan antar warga di Seko masih sangat kuat. Sebagian besar penduduk Seko masih berkerabat dan memiliki hubungan darah antara satu dengan lainnya.

Kami tak menyangka, sebuah desa yang sangat terpencil  dan tersembunyi jauh  di tengah pegunungan, dipimpin oleh seorang wanita yang memiliki visi kuat, berwawasan luas dan cerdas. Berdiskusi dengan beliau sangat membuka wawasan kami. Sambil geleng-geleng kepala, teman yang duduk di sebelah berbisik kepada saya, bahwa orang yang kita hadapi ini mungkin adalah camat atau bupati atau wakil rakyat dan bukan seorang kepala Desa

Makam di puncak bukit-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Area pemakaman di puncak bukit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Di akhir pertemuan, barulah ibu mengakui bahwa beliau adalah seorang sarjana hukum dan aktif di LSM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Tak terasa dua jam lamanya kami berdiskusi dengan ibu Kepala Desa. Kami pun segera memohon diri karena adzan maghrib telah berkumandang (bersambung).

Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.