Menjelajah di jantung Sulawesi (3)

Sehari setelah memposting tulisan “Menjelajah di jantung Sulawesi (2)“, kabar duka kami dapatkan dari media. Pesawat Aviastar yang berangkat dari Masamba menuju Makassar, hilang kontak pada hari Jum’at 2 Oktober 2015 sekitar pukul 15.36. Pesawat akhirnya ditemukan 2-3 hari kemudian di Bukit Bajaja, kawasan Pegunungan Latimojong dalam kondisi hancur dan terbakar.

Masih lekat di ingatan kami, tepat sebulan sebelum jatuh, pesawat inilah yang membawa kami dari Masamba menuju Seko. Bersama kami, turut serta kepala bandara Seko bernama bapak M. Natsir yang kini diketahui juga menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.

Kami bahkan sempat mengabadikan beliau saat menghadiri peresmian menara Telkomsel Seko yang diresmikan oleh bapak Gubernur Sulawesi Selatan. Tepat dua pekan sebelum jatuh, pesawat ini pula yang kami gunakan untuk pulang kembali  dari Seko ke Masamba.

Siapa sangka, pesawat yang pernah kami tumpangi akan berakhir dengan tragis. Mungkin ini sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa. Kami hanya bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini dan berdoa semoga seluruh penumpang yang gugur mendapatkan tempat yang terbaik disisi-Nya. Aamin.

Satu September 2015. Kami menuju kantor Kecamatan untuk memperkenalkan diri pada Pak Camat sekaligus melaporkan rencana kegiatan yang akan kami lakukan. Pak Camat menerima kami dengan ramah serta mengajak kami ke Aula Kecamatan untuk berdiskusi tentang kondisi Seko.

Sekitar tiga jam lamanya, kami berdiskusi di Aula Kecamatan. Sebelum kembali ke basecamp, pak Camat mengajak kami santap siang dengan beras Tarone, beras paling enak di Luwu Utara.

Setelah mengumpulkan berbagai informasi, keesokan harinya kami memutuskan untuk berangkat menuju dusun Bana di Desa Hono’. Kami mendengar bahwa di daerah ini banyak bermukim warga yang dulunya berasal dari suku terasing yang hidup di hutan-hutan pegunungan di jantung Sulawesi.

Kami berasumsi, penduduk di sana masih mengenal dengan baik budaya meramu dan menggunakan tumbuhan herbal sebagai bahan pengobatan.

Sekitar pukul tujuh pagi, kami berangkat ke dusun Bana Desa Hono’ menggunakan jasa ojek. Bersama kami turut pula Pak Rahmad, seorang tentara pembina dan pak Petrus seorang anggota Banpol. Keduanya menjadi pendamping kami. Bapak-bapak ini sangat ramah dan baik hati. Dengan keberadaan bapak-bapak ini, kami merasa sangat aman dan tenang.

1.tepi dusun-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Daerah tepian perkampungan di dusun Eno. Tampak bukit-bukit dan padang rumput terhampar luas di depan sana. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari basecamp, rombongan bergerak menuju arah bandara. Beberapa saat kemudian, rombongan berbelok kiri ke arah barat menjauhi bandara. Debu-debu jalanan beterbangan semakin tebal, saat kami melalui batas perkampungan di dusun Eno. Bukit-bukit dan padang rumput kecoklatan yang luas mulai terlihat jelas.

Tak lama kemudian kami harus menyeberangi sungai berarus deras menggunakan jembatan darurat dari susunan bambu-bambu. Jembatan di lokasi ini nampak mulai dibangun kembali setelah jembatan lama roboh diterjang banjir.

Dengan berhati-hati, Muhiddin, seorang pemuda asli Seko yang membonceng saya, menyeberangi jembatan bambu. Sebelum menyeberang, saya meminta turun dari motor dengan alasan untuk mengambil foto dokumentasi.

Terus terang, saya sedikit khawatir menyeberang berboncengan. Sebab, masing-masing dari kami berbobot di atas 75 kg. Kalau sampai jatuh, bisa-bisa kami berdua akan menjadi bahan tertawaan seantero Kecamatan. Malunya pasti tak tertahankan. Lagi pula, di belakang kami, tampak motor tim berderet-deret menunggu giliran menyeberang.

2.jembatan bambu-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Muhiddin di atas jembatan darurat. Sumber: dokumentasi pribadi.

Lepas dari sungai, kami melalui jalan berkelok dan mendaki. Beberapa saat kemudian, kami mendapati padang rumput yang luas. Jajaran bukit sambung menyambung di kiri dan kanan jalan membentuk lansekap yang indah.

Motor-motor tim kemudian bergerak melalui jalur yang membelah area persawahan. Matahari mulai meninggi dan semakin terik. Hembusan angin kering yang kencang dari arah depan membuat kami gerah. Wajah terasa panas. Tampak di kejauhan seorang penduduk terseok-seok menuntun kerbau setengah liar.

3.Lewat sawah-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Tak ada jalan sawah pun jadi. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya membayangkan bagaimana jadinya jika perjalanan ke dusun Bana dilakukan pada musim hujan. Area persawahan ini tentu mustahil untuk dilalui. Menurut Muhiddin,  saat musim hujan, motor hanya bisa melalui jalur pematang yang licin dan berlumpur.  Motor harus dikendarai dengan sangat hati-hati agar tidak jatuh ke dalam sawah.

Mengangkat motor dari dalam lumpur adalah pekerjaan yang sangat menguras stamina dan mental pengendara. Jalan licin dan resiko terjatuh membuat tidak semua pengojek berani membawa motor saat musim hujan. Wajar saja, jika ojek-ojek di daerah ini menerapkan tarif jasa yang tinggi, bahkan memegang rekor nasional sebagai ojek dengan bayaran paling mahal se-Indonesia.

Hubungan antar desa di Kecamatan Seko saat musim hujan umumnya sulit dan hanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki.  Sulitnya transportasi, menyebabkan harga bahan bangunan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari menjadi sangat mahal.

Menurut Mama Kembar, pernah pada tahun 1990-an, satu zak semen di Seko dibanderol dengan harga Rp 500 ribu. Bagi warga Seko, harga semen tersebut sungguh tidak masuk akal. Inilah alasannya, mengapa rumah-rumah di Seko masih banyak yang dibangun dari kayu. Selain lebih murah, kayu juga lebih mudah didapatkan.

4.Jembatan gantung-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Jembatan gantung Sungai Betue. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah area persawahan, tim tiba di sebuah perkampungan. Di sini, kami harus melalui sebuah jembatan gantung yang cukup panjang. Jembatan ini terbuat dari beberapa utas kawat baja yang menghubungkan tiang-tiang beton di tepian sungai Betue. Lantai jembatan terbuat dari balok dan papan yang mur dan bautnya mulai terlepas.

Sebelum melalui jembatan, Muhiddin meminta saya untuk tenang karena jembatan akan bergoyang-goyang saat dilalui motor. “Biasanya jembatan tidak terlalu goyang kalo kita lewat cepat-cepat….” kata Muhiddin. Dengan sigap, Muhiddin pun memacu motornya kencang-kencang.

Namun, belum sampai setengah perjalanan, jembatan bergoyang hebat. Rupanya dari seberang sana, sebuah motor dengan kencang melaju ke arah kami. Muhiddin pun menghentikan motornya dan memberi ruang, agar motor tersebut bisa lewat. Rupanya motor ini tidak sabaran, setelah melihat banyaknya antrian dari rombongan kami yang akan melintasi jembatan.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, saat motor berhenti, saya memegang kawat baja jembatan kuat-kuat.  Setelah motor melewati kami, jembatan kembali bergoyang hebat. Dengan hati-hati, Muhiddin memacu motor dengan kecepatan rendah. Kedua kakinya diturunkan ke samping untuk menjaga keseimbangan.

Akhirnya kami tiba di seberang sungai Betue dengan selamat. Saya tak bisa membayangkan jika harus menyeberangi jembatan ini dengan meniti kawat baja, seperti yang dilakukan murid-murid SD yang pemberani di Banten sana.

Setelah melewati kebun Coklat, kami tiba di dusun Tanete. Kami menuju ke rumah Pak Sudur, sekertaris Desa Hono’, untuk melapor sekaligus meminta beliau menjadi pemandu menuju dusun Bana. Dusun ini kecil. Hanya terdiri dari beberapa puluh rumah yang berpusat di seputar lapangan sepak bola.

5. Dusun Tanete-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Dusun Tanete. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebelum sampai di rumah pak Sudur, Muhiddin memarkir motor tepat di rumah penduduk dekat sudut lapangan yang berhadapan dengan mesjid. Satu motor anggota tim juga menyusul memarkir motor di belakang kami.

Tiba-tiba, pengojek yang baru menyusul mendekati saya sambil berbisik, “Pak… pak, itu ayahnya Evi Masamba”. Saya terkejut, “Masak sih pak, beneran nih, yang mana?”. Pengojek itu berusaha meyakinkan saya, “Betul pak, itu yang lagi parkir motornya di halaman rumah sebelah.  Ayo kita foto-foto sama dia”.

Tak berapa lama, motor-motor yang lain pun berdatangan dan parkir di belakang kami. Melihat saya berfoto dengan ayah Evi Masamba, mereka pun lari berhamburan dan segera mengambil tempat untuk berfoto bersama.

Teman-teman pengojek yang mengenal ayah Evi, memintanya untuk menyanyi. Namun ayah Evi, hanya tersenyum dan tersipu. Ayah Evi kemudian bercerita, saat diminta menyanyi bersama Saipul Jamil di sebuah stasiun TV swasta, dirinya merasa demam panggung dan malu.

Menurut rekan-rekan pengojek, ayah Evi memiliki suara yang bagus. Saat ini, ayah Evi berwirausaha dengan memasok barang-barang kebutuhan sehari-hari yang didatangkan dari Masamba ke Seko.

6.Ayah Evi-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Bertemu ayah Evi Masamba. Sumber: dokumentasi pribadi.

Tak berapa lama, perwakilan tim yang bertamu ke rumah Pak Sekdes segera meminta rombongan untuk berangkat menyusul pak Sekdes yang sedang ke kebun. Kebetulan kebun Pak Sekdes searah dengan jalan menuju dusun Bana.

Akhirnya, kami bisa bertemu pak Sekdes di tepi kebun. Pak Sekdes terkejut melihat banyaknya rombongan dalam tim kami. Beliau menyatakan tidak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya dari pihak Kecamatan sehingga tidak siap menyambut kedatangan kami. Ketua tim pun menjelaskan kendala yang dihadapi terkait distribusi surat akibat jauhnya jarak Masamba-Seko. Akhirnya, Pak Sekdes bisa memakluminya.

Ketua tim dan Mas Harto pun menjelaskan maksud, tujuan dan rencana kegiatan yang akan dilakukan di dusun Bana serta meminta kesediaan pak Sekdes menjadi fasilitator/pemandu. Dengan senang hati, Pak Sekdes menyatakan kesediaanya. Beliau pun mengambil sepeda motor yang diparkir di kebun dan langsung bergabung dengan tim menuju dusun Bana.

7.Menuju dusun Bana-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Jalan setapak menuju dusun Bana. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jalan setapak menuju dusun Bana berliku-liku, naik turun menembus hamparan kebun Kopi dan Coklat yang luas. Sadel dan shock breaker dari motor yang saya naiki, naik turun mengikuti irama jalanan yang ekstrim. Debu serupa bedak talc tebal yang menutupi permukaan jalan, segera beterbangan begitu kami melewatinya.

Menurut pengojek, jalan setapak yang kami lalui ini tergolong bagus. Jika musim hujan, jalan ini terlalu licin dan berlumpur untuk dilewati. Dusun Bana pun menjadi terisolir dan hanya dapat ditembus dengan berjalan kaki.

Saat kami memasuki dusun Bana, penduduk segera berlarian dan bersembunyi ke dalam rumah. Rupanya penduduk takut dengan seragam tentara yang dikenakan pak Rahmad dan seragam polisi pak Petrus.

Rombongan kami pun berhenti di depan rumah kepala Dusun Bana untuk melapor. Kepada beliau, pak Sudur menjelaskan maksud kedatangan tim. Kami pun meminta agar bisa ditunjukkan 3 orang yang sering melakukan pengobatan menggunakan ramuan herbal di dusun ini. Akhirnya, pak Dusun Bana merekomendasikan 3 warga setempat yang berprofesi sebagai Sando (dukun), yaitu: Pak Yohanis, Pak Semuel dan Ibu Naomi.

8.Tiba di dusun Bana-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Deretan rumah di Dusun Bana. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dusun Bana tak begitu luas. Rumah-rumah kayu beratap sirap dan seng berjejer di tepi jalan yang sempit. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan pekebun. Hewan ternak seperti Kerbau dan Sapi di lepas begitu saja di padang penggembalaan. Kadang-kadang penduduk mencari getah damar atau berburu Anoa gunung di hutan sekitar dusun untuk menambah lauk.

Anoa gunung adalah sebangsa kerbau kerdil berperangai temperamental. Meski bertubuh mungil, hewan bertanduk lurus dan runcing ini sangat ditakuti karena sifatnya yang pemarah. Saat terdesak, hewan ini akan menyerang pemburu secara membabi buta. Penduduk Bana umumnya menangkap Anoa menggunakan jerat.

Akibat perburuan dan alih fungsi hutan, populasi Anoa semakin menyusut. Saat ini, untuk menangkap seekor Anoa, pemburu harus memasang jerat kawat yang sangat banyak. Sekali berburu, penduduk bisa memasang 100 hingga 150 jerat dari kawat di dalam hutan belantara yang sering dijelajahi Anoa. Untuk memeriksa seluruh jerat, penduduk membutuhkan waktu 3 hari lamanya.

9.dusun Bana-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Kampung Bana. Sumber: dokumentasi pribadi.

Area persawahan juga banyak ditemukan di sekitar dusun Bana. Umumnya masyarakat menanam padi untuk kebutuhan sendiri. Jika berlebih, sisanya akan dijual. Gabah disimpan dalam lumbung yang terbuat dari kulit batang Sarihoa, sejenis palem penuh duri yang banyak ditemukan di sekitar hutan. Menurut Pak Yohanis, gabah yang disimpan di lumbung dari kulit batang Sarihoa takkan rusak hingga puluhan tahun.

Kegiatan tim di Dusun Bana meliputi wawancara dengan Sando (dukun) yang diikuti dengan kegiatan pengambilan sampel. Selama wawancara, Sando diminta untuk menjelaskan jenis penyakit yang diobati, jenis ramuan yang digunakan dan cara pengobatan yang dilakukan.

Tim bersama Sando kemudian melakukan pengambilan sampel dan dokumentasi terhadap jenis tumbuhan obat yang tumbuh di sekitar rumah Sando. Tim pun harus melakukan perjalanan yang jauh hingga ke area persawahan, kebun dan lereng-lereng bukit di tepian hutan untuk mengambil sampel tumbuhan obat.

11.Lumbung Bana-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Lumbung Padi (kiri atas), titian Bambu (kanan atas) dan Pak Yohanis yang sedang memeragakan penggunaan hiasan pengantin suku terasing di masa silam yang terbuat dari daun paku. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari hasil wawancara, kami mengetahui bahwa sudah banyak pengetahuan tentang obat-obat tradisional dan ramuan yang telah punah karena tidak diwariskan. Generasi muda sekarang sudah enggan belajar tentang pengobatan herbal karena dianggap sudah ketinggalan jaman. Selain itu, puskesmas dan puskesmas pembantu (Pustu) juga telah tersedia di desa-desa dan kecamatan.

Menurut pak Yohanis dan Pak Semuel, cikal bakal Dusun Bana telah ada saat Indonesia merdeka. Awalnya dusun ini hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Saat pemberontakan Kahar Muzakkar, seluruh penduduk Seko termasuk dusun Bana lari ke dalam hutan untuk menghindari perang.

10.Wanita Suku Kanteu-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Berfoto dengan salah seorang perempuan dari suku Kanteu (tengah-celana merah). Tampak dalam foto, wanita ini memiliki postur tubuh yang paling tinggi dibandingkan kami semua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sekitar tahun 1966, penduduk mulai keluar hutan dan kembali membangun dusun Bana. Mereka keluar hutan seiring dengan program pemerintah yang berupaya memberdayakan masyarakat yang telah mengungsi akibat gejolak politik di era 1950-an. Untuk ini, pemerintah mengerahkan tentara dari berbagai kesatuan, agar masyarakat yang dulunya kabur ke dalam hutan dapat bermukim kembali di kampung halaman.

Bersama pengungsi ini, turut serta beberapa kelompok suku terasing. Salah satunya adalah suku Kanteu, sebuah suku penjelajah di pedalaman hutan belantara Sulawesi Tengah. Suku ini tampak berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Tubuhnya sangat tinggi, rata-rata di atas 180 cm dan berkulit putih. Telapak tangan dan kakinya besar-besar. Kata seorang teman, rupanya mirip orang Vietnam atau Thailand.

Baru saya sadari, wajah orang-orang di dusun Bana dan sekitarnya memang mirip dengan orang-orang Dayak atau Mentawai. Oleh sebagian ahli Antropologi dan Arkeologi, orang Dayak dan Mentawai digolongkan dalam kelompok awal dari manusia yang bermigrasi dari utara ke seluruh Kepulauan Nusantara. Kelompok awal ini disebut Proto-Melayu.

Besar kemungkinan, orang-orang Bana merupakan penduduk asli yang telah mendiami pulau Sulawesi sejak ribuan tahun yang lalu. Keberadaannya mungkin telah ada, jauh sebelum munculnya suku Bugis dan Makassar yang berusia lebih muda. Kedua suku ini digolongkan dalam kelompok Deutero-Melayu.

13. Ojek Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 12. Melintasi padang rumput Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kegiatan tim di dusun Bana dilakukan selama dua hari. Hari pertama dilakukan perkenalan tim dan wawancara dengan Pengobat Tradisional (Sando). Sedangkan hari kedua dilakukan pengambilan sampel dan dokumentasi tumbuhan obat di sekitar dusun Bana.

Selama dua hari, kami bolak-balik Bana-Basecamp di dusun Eno menggunakan ojek. Dengan medan yang ekstrim, setiap anggota tim harus merogoh kocek sebesar Rp. 200.000,-/hari untuk membayar biaya ojek pergi-pulang ke Dusun Bana.

Tim pulang saat senja, kala mentari telah beranjak kembali ke peraduan. Kami menikmati suasana sore yang teduh dan sejuk. Pemandangan sepanjang perjalanan begitu indah, terutama saat melewati padang rumput di Desa Padang Balua.

14.Foto Tim Ristoja Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 13. Tim Ristoja 2015 di padang rumput Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Menurut Muhiddin, padang rumput Padang Balua sangat indah jika dilihat saat musim hujan. Rumput-rumput tumbuh menghijau sejauh mata memandang. “Seperti bukit Teletubbies yang ada di televisi” kata Muhiddin berpromosi. Sawah yang baru tumbuh setelah ditanam juga sangat indah memanjakan mata.

Saya menyarankan pada Muhiddin agar berpromosi di dunia maya. Generasi muda di Seko bisa menjadi pemandu wisata atau penyedia jasa pariwisata. Muhiddin pun menceritakan mimpi-mimpinya sejak lama, terutama tentang rencana membuka usaha di bidang wisata jika akses jalan dari Masamba ke Seko sudah baik. 

115.Foto Tim Ristoja Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 14. Beranjak pulang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagian anggota tim akhirnya memutuskan untuk singgah dan berfoto di padang rumput Padang Balua. Pemandangan padang rumput kering di sini mirip dengan bukit-bukit eksotis di sekitar Danau Sentani, Papua. Untuk beberapa saat, kami berfoto ria, bersenda gurau dan menikmati keindahan alam anugerah sang Pencipta. Tak berapa lama, langit senja berubah menjadi semakin gelap. Kami pun segera beranjak pulang….

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.