Kicau Lara si Wiwik Rimba

Suatu waktu, di akhir bulan Mei yang panas, saya menelusuri sebuah jalan berbatu di sekitar perbukitan Tanjung Buli, Halmahera Timur untuk mendokumentasikan kegiatan lapangan yang dilakukan teman-teman.

Bongkahan batu beraneka bentuk dan ukuran terhampar di sisi kanan jalan. Secara iseng, saya berjalan mengikuti sebuah alur longsoran besar di tepi jalan, untuk memeriksa bebatuan yang tersingkap. Mungkin saja disitu ada bongkahan yang mengandung urat emas atau batu akik yang siap untuk ditemukan.

Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam berkelebat dari bagian tanah yang longsor. Bayangan itu melesat cepat menuju rimbunan pohon Sengon yang letaknya agak jauh di seberang sana. Saya pun membalikkan badan untuk melihat-lihat bagian tanah longsor yang ditinggalkan oleh bayangan tersebut.

Saat mendekat, tampak sebuah sarang dari ranting-ranting kecil tergeletak di dalam sebuah ceruk tepat di dinding tanah yang longsor. Sarang itu berisi sebuah telur berwarna putih. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi lengkingan dari arah pohon Sengon. Suaranya sahut menyahut, bernada tinggi, silih berganti, tak henti-henti.

Dengan tergopoh-gopoh, saya pun beranjak dari alur tanah longsor berbentuk parit dan memanjat dinding tanah yang cukup terjal untuk melihat asal suara. Semakin mendekat, suara kicauan terdengar semakin keras.

Saat tiba di bawah pohon Sengon yang tidak terlalu tinggi, saya pun segera mengarahkan kamera tele untuk melihat jenis burung apa yang berkicau sangat keras tersebut. Agak sulit untuk melihatnya, karena burung selalu bergerak berpindah-pindah. Posisinya pun terhalang daun-daun yang rapat.

Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, saya mendapat area bidikan yang cukup bersih. Setelah fokus, saya pun memotret burung itu berkali-kali. Cukup lama saya memotret hingga menyadari bahwa di atas pohon itu bertengger tiga ekor burung. Dua burung berwarna sama dan satu burung lainnya berwarna loreng-loreng coklat kehitaman.

Wiwik Rimba-1

Gambar 1. Sepasang Wiwik Rimba  Cacomantis variolosus. Jantan dan betina belum diketahui oleh penulis. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dua burung di atas pohon ini berukuran sedang. Berbulu kusam. Tenggorokan dan dada berwarna bungalan abu-abu polos, tubuh bagian atas lebih gelap, kadang bertotol, lingkaran-mata dan iris gelap. Satu burung lainnya berwarna coklat, bergaris-garis kehitaman melintang.

Setelah menelusuri beberapa referensi, barulah saya tahu bahwa burung ini disebut Wiwik Rimba atau Brush Cuckoo Cacomantis variolosus. Burung ini sering ditemukan berkelompok dengan jumlah tiga ekor. Sepasang burung dewasa dan satu burung anakan (juvenil). Burung coklat bergaris-garis hitam itu ternyata anak dari sepasang burung dewasa yang menyertainya.

Nada Wiwik Rimba di pohon itu terdengar jernih, satu-satu, melengking  tinggi, mirip suara seekor anak ayam yang  ditinggal induknya. Nada dan volume suara itu secara bertahap semakin meningkat dan semakin cepat hingga tiba-tiba berhenti dan berulang lagi.

Bagi saya, suara Wiwik Rimba terdengar seperti suara burung yang sedang menanggung lara dan berputus asa. Mungkin ini sebabnya, di beberapa daerah, kemunculan burung ini dianggap sebagai pembawa berita kematian.

Wiwik Rimba punya kebiasaan yang janggal, karena selalu bertelur di sarang milik burung lain. Burung ini menitipkan telurnya agar dierami dan diasuh oleh burung lainnya. Oleh karenanya, burung ini kerap mendapat julukan sebagai burung parasit.

Jika di sebuah sarang ada dua telur, maka telur Wiwik Rimba akan menetas lebih dahulu. Anak Wiwik Rimba juga akan tumbuh lebih cepat dibandingkan anak burung induk semangnya.

Seringkali, anak Wiwik Rimba akan mendesak dan mendorong anak burung lain hingga keluar dan jatuh dari sarang. Akhirnya, anak Wiwik Rimba ini akan dibesarkan sendirian tanpa pesaing oleh induk semangnya.

WIWIK RIMBA-2

Gambar 2. Anakan (juvenil) Wiwik Rimba (kiri). Telur Wiwik Rimba di  sekitar ceruk tanah yang longsor (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Wiwik Rimba hampir tidak pernah ditemui di bagian dalam hutan, menghuni taman-taman, hutan sekunder, savana, dan kawasan hutan terbuka sampai ketinggian 1300 mdpl.

Burung ini kerap terbang naik turun, memangsa ulat, seperti jenis-jenis Wiwik yang lain. Sering bertelur di sarang burung Cikrak-peri bahu putih, Isap-madu telinga-hitam, dan Sikatan perut-kuning.

Wiwik Maluku yang langka Cacomantis heinrichi memiliki ciri yang mirip dengan Wiwik Rimba. Perbedaannya terletak pada bagian perut dan dada yang berwarna merah karat. Wiwik Maluku termasuk burung endemik Maluku Utara. Burung ini menghuni hutan pegunungan dengan ketinggian di atas 1000 mdpl sehingga kurang dikenal dan jarang dijumpai (Coates dan Bishop, 2000).

Menurut Kutilang Indonesia, Wiwik Rimba terdiri dari 11 sub-spesies, dengan daerah persebaran mencakup: Indonesia, Australia, Kepulauan Bismarck, Kepulauan Solomon, Filipina dan Kepulauan Admiralty. Adapun subspesies dan daerah sebaran Wiwik Rimba adalah sebagai berikut:

  • everetti (Hartert, 1925): Filipina barat daya (Basilan dan Kepulauan Sulu).
  • blandus (Rothschild & Hartert, 1914): Kepulauan Admiralty.
  • macrocercus (Stresemann, 1921): Kepulauan Bismarck (kecuali pulau New Hanover), dan Pulau Tabar.
  • websteri (Hartert, 1898): New Hanover.
  • addendus (Rothschild & Hartert, 1901): Kepulauan Solomon.

Lokal: Sulawesi, Maluku, dan Papua

  • virescens (Brüggemann, 1876): Sulawesi.
  • aeruginosus (Salvadori, 1878): Maluku barat dan tengah (Sula, Buru, Ambon, Seram).
  • infaustus (Cabanis & Heine, 1863): Maluku utara dan timur (Morotai, Tidore, Ternate, Halmahera, Bacan, Obi, Seram Laut, Watubela, Kai), Pulau Papua dan pulau-pulau di timur laut.
  • oreophilus (Hartert, 1925): Dataran tinggi Pulau Papua tengah dan selatan.
  • variolosus (Vigors & Horsfield, 1827): Berkembangbiak di Australia utara dan timur; saat musim dingin bermigrasi ke utara sampai kepulauan Aru, Kepulauan Kai, Maluku, Pulau Papua, pulau-pulau di Papua barat dan Sunda Kecil (Timor, Kisar).

Wiwik Rimba memiliki populasi yang cukup umum di Halmahera Timur dan tersebar luas. Oleh IUCN, burung ini dikategorikan tidak terancam punah (Least Concern/LC). Burung ini juga tidak masuk dalam kategori burung yang dilindungi, baik di Indonesia maupun internasional (CITES).

Referensi:

  1. Coates dan Bishop. 2000. Panduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan Wallacea (Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara). Birdlife-International Indonesia Programme dan Dove Publication Pty.Ltd.
  2. http://www.kutilang.or.id/2012/05/20/wiwik-rimba
Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , . Tandai permalink.