Wisata sungai dan karst Rammang-Rammang

Pertengahan Oktober 2015, saya mendapat tawaran dari beberapa sahabat untuk bergabung mendampingi kegiatan praktek lapang mahasiswa di Rammang-Rammang. Setelah melihat jadual yang kosong di akhir pekan, saya pun menyetujuinya.

Kami berangkat dari kampus salah satu PTN terbesar di Makassar pukul 08.00 pagi dengan menyewa dua buah mobil mikrolet angkutan kota (Pete’-Pete’). Saya sendiri berada satu grup dengan teman-teman dalam satu mobil pribadi jenis Kijang.

Perjalanan kami tempuh selama satu jam melalui jalan utama yang melewati bandara Sultan Hasanuddin dan Balai Besar Veteriner Maros. Sekitar 40 km dari Makassar atau 20 km dari bandara, kami sampai di jembatan Sungai Pute (Maros).

Jembatan ini ditandai oleh struktur pembatas berupa lengkungan berbentuk setengah lingkaran yang besar. Di sini mobil, mulai berjalan pelan karena tak lama lagi akan ditemukan belokan/putaran yang mengarah ke Rammang-Rammang.

Jika anda ragu, ada baiknya bertanya pada penduduk setempat untuk memastikan jalan masuk ke rammang-rammang karena rambu penunjuk arah dari jalan utama belum terpasang.

Tak lama setelah masuk ke jalan menuju kawasan pabrik semen, saya melihat sebah papan kecil di sisi kiri jalan dengan tulisan “Hutan Batu”. Tulisan ini berada tepat di muka sebuah jalan kecil persis di samping gedung PLN.

Mobil kami terus bergerak hingga mendapati sebuah jembatan tak jauh dari gedung PLN tadi. Tepat sebelum mencapai jembatan, mobil yang saya tumpangi tiba-tiba berbelok ke kiri menuruni jalan yang curam hingga berhenti dan parkir di sebuah tanah terbuka. Sampailah kami di dermaga perahu Rammang-Rammang.

1.Dermaga-1-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Dermaga 1 Rammang-Rammang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Beberapa kios penjual makanan dan ruang tunggu dermaga dengan deretan bangku panjang di depan tempat parkir tampak ramai. Di belakangnya, mengalir sebuah sungai. Saya pun segera menjelajahi daerah di sekitar dermaga perahu yang sedang dibangun.

Setelah sampai, baru saya sadari bahwa dermaga ini terletak persis di samping jembatan di jalan menuju kawasan pabrik semen Bosowa.Tiap beberapa menit, truk-truk besar pengangkut semen berlalu lalang melalui jembatan.

Perahu-perahu kayu dengan panjang berkisar 5-10 meter berderet di sekitar dermaga. Perahu ini tak bercadik. Nama-nama unik tertera pada lambung kapal, seperti: lestarikan budaya kita, Noah, bintang akbar, bintang kejora dan lain-lain. Perahu di dermaga ini melayani rute bolak-balik Dermaga Rammang-Rammang ke kampung Berua.

Tarif antar-jemput yang dikenakan per perahu berbeda-beda, bergantung pada jumlah penumpang. Tarif sewa satu perahu sebesar Rp. 200.000 dikenakan untuk rombongan berjumlah  1-4 orang. Tarif  Rp. 250.000 untuk 5-7 orang dan  Rp. 300.000 untuk 8-10 orang. Di sini juga disewakan topi Caping khas petani dengan harga Rp. 3000,-.

2.Sungai Pute-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Perahu di Dermaga 1 Rammang-Rammang, siap mengantarkan penumpang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah briefing, satu-persatu mahasiswa yang didominasi remaja putri ini diperintahkan turun memasuki perahu. Saat menjejakkan kaki di perahu, terdengar jerit pekik ketakutan karena perahu tanpa cadik ini mendadak oleng ke kiri dan ke kanan.

Pemilik perahu kemudian meminta penumpang yang sudah masuk untuk duduk tenang di papan yang telah disediakan dan tidak berdiri di dalam perahu. Setelah terisi 8 hingga 10 orang, perahu pun mulai didayung menjauh dari dermaga.

Melihat momen-momen ini, saya kerap tersenyum geli. Sambil membidikkan lensa, saya melambaikan tangan ke arah perahu yang akan berangkat. Beberapa penumpang terlihat gugup dan malu. Namun satu dua diantaranya tersenyum ramah. Senyumnya terlihat manis sekali.

3.Berangkat-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Berangkat menuju kampung Berua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Akhirnya, tibalah giliran saya untuk turun. Ternyata, memang sulit bergerak di atas perahu tak bercadik karena harus fokus menjaga keseimbangan. Sedikit saja bergerak, badan perahu akan berguncang hebat.

Setelah terisi penuh, perahu saya pun berangkat menuju kampung Berua. Kondisi perahu mulai stabil saat mesin 5-15 PK dihidupkan dan melajukan perahu ke arah depan. Perahu bergerak lambat, meliuk-liuk menghindari batu-batu karang besar yang bermunculan di tengah-tengah sungai.

4.Batu Sungai-1-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Batu cadas besar-besar berbentuk unik dapat ditemukan di sepanjang sungai. Sumber: dokumentasi pribadi.

Perahu terus melaju menyusuri sungai Pute dengan kecepatan lambat. Suara mesin yang keras tampak memantul kembali setelah membentur vegetasi yang tumbuh rapat di sepanjang sungai.

Di belakang bakau, tampak bukit-bukit karst menjulang tinggi, berhiaskan ceruk-ceruk terjal, gua dan lubang-lubang menganga. Di atas bukit tumbuh beragam vegetasi seperti beringin Ficus spp., Dracaena spp., liana perambat dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Beberapa jenis burung air berlarian masuk ke dalam hutan saat melihat perahu kami.

Hamparan bakau dari jenis Rhizophora mucronata tumbuh di sepanjang tepian sungai. Bakau ini bercampur dengan beberapa jenis vegetasi khas rawa asin lainnya seperti Api-Api, Pedada dan jenis lainnya. Semakin jauh masuk ke arah dalam, vegetasi Nipah mulai mendominasi. Nipah-nipah ini tumbuh rapat di tanah berlumpur tebal yang terendam air.

5.Tegakan Nipah-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Tegakan Nipah (Nypa fruticans) dominan di sepanjang tepian sungai. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagian besar rumpun Nipah, terlihat mengering kecoklatan. Tangkai daunnya telah terpangkas. Satu dua tangkai muda berwarna kehijauan muncul dari tengah-tengah rumpun, menandakan bahwa tegakan Nipah-Nipah ini masih hidup.

Daun Nipah ini ternyata sengaja dipotong dan dipanen oleh penduduk setempat untuk berbagai keperluan. Diantaranya, sebagai bahan pembuatan atap, dinding rumah, tikar, topi, pagar pembatas dan lain-lain. Tangkai bunga Nipah juga dipotong, airnya disadap dan ditampung di batang bambu untuk dijadikan gula merah atau minuman keras (tuak) lokal.

Sungai Pute yang kami lalui ternyata menjadi salah satu jalur transportasi yang penting bagi masyarakat yang tinggal di dalam kampung Berua dan beberapa dusun di sekitarnya. Seringkali, perahu kami bertemu dengan penduduk yang mendayung sampan. Bahkan, anak-anak SD terlihat sangat terampil mendayung sampan yang tinggi dindingnya hanya sejengkal di atas permukaan air sungai.

6.Aktifitas-1-dody94.wordpress.com

Gambar 6. Rumah dari daun Nipah (kiri atas). Perahu menjadi alat transportasi utama (kanan atas). Murid SD yang mandiri dan semangat menuntut ilmu, pergi dan pulang ke sekolah dengan perahu sampan (bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Semakin ke dalam, badan sungai semakin menyempit dan berkelok-kelok. Bahkan, aliran sungai ini bercabang-cabang membentuk labirin yang membingungkan di antara sela-sela hamparan hutan bakau. Untungnya, di sisi sungai telah banyak terpasang rambu-rambu penunjuk arah berwarna biru, mirip dengan rambu lalu lintas di jalan raya.

Untuk menyeberang sungai, penduduk membuat jembatan bambu yang tinggi, sehingga perahu bisa lewat di bawahnya. Kami juga melalui dermaga 2 Rammang-Rammang, yang ditandai bangunan beratap biru dengan jembatan kayu yang panjang.

7.Dermaga 2-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Dermaga 2 Rammang-Rammang (atas). Jembatan bambu dan rambu penunjuk arah berwarna biru (kiri bawah). Tegakan Nipah yang semakin rapat.  Sumber: dokumentasi pribadi.

Mendekati kampung Berua, bukit-bukit Karst semakin mendekat ke sisi sungai. Bukit-bukit berbentuk menara ini menjulang tinggi, dengan dinding berlubang penuh ceruk dan gua, berhiaskan stalagtit dan stalagmit yang indah. Badan sungai di daerah ini semakin menyempit.

Kami juga melewati beberapa terowongan alami yang sangat eksotis dari batu karst. Terowongan ini  sangat sempit. Lebarnya mungkin tidak lebih dari dua meter.  Inilah alasannya, mengapa perahu di rammang-rammang tidak dilengkapi cadik. Jika dilengkapi cadik, tentu perahu kami takkan lolos dari terowongan ini.

8.Terowongan-dody94.wordpress.com

Gambar 8. Terowongan batu yang sempit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Menjelang kampung Berua, perahu kami melewati celah dinding  bukit batu berbentuk seperti lorong yang panjang. Bagian dasar alur ini melebar, sedang bagian atasnya sangat sempit.

Dinding bukit batu yang mengapit sungai sempit ini berlubang-lubang, terkikis aliran air selama ribuan tahun lamanya. Dasar bukit batu terlihat berundak-undak mirip anak tangga yang panjang.

9.Lorong Batu-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Selama ribuan tahun, air sungai membelah bukit batu ini menjadi dua. Dermaga Kampung Berua terletak di ujung lorong batu ini,  Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah melewati celah bukit berbatu yang panjang, akhirnya tibalah kami di dermaga kampung Berua. Dermaga ini bentuknya sederhana. Hanya berupa pematang di tepi sungai yang ditumbuhi beberapa pohon.

Akar-akar yang keluar dari pohon ini dijadikan tempat untuk menambatkan tali perahu. Kurang lebih sekitar 45 menit lamanya kami menyusuri sungai Pute ini dengan perahu.

10.Menjelang Dermaga Berue-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Tiba di Kampung Berua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah perahu menepi, satu per satu penumpang dipersilahkan naik ke atas pematang. Permukaan air semakin menurun. Rupanya air di sungai ini berhubungan dengan laut melalui muara sehingga masih mendapat pengaruh pasang surut.

Di sekitar dermaga kampung Berua terdapat beberapa rambu serta papan bertuliskan ucapan selamat datang bagi pengunjung Rammang-Rammang. Setelah bersusah payah naik ke atas pematang yang cukup terjal, saya pun mulai berkeliling melihat-lihat suasana di sekitar dermaga.

11.Tiba di Kampung Berua-1-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Dermaga Kampung Berua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jam di telepon genggam tepat menunjukkan pukul 10 pagi. Matahari terasa mulai menyengat. Sambil menunggu perahu lainnya merapat, saya pun menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari tempat berteduh. Tatapan mata langsung terpaku, saat melihat seorang pemilik perahu sedang duduk berteduh di bawah batu. Saya pun langsung menuju ke tempat itu.

Dengan bergegas saya segera berlindung di bawah batu. Saya terkejut melihat ruang di bawah batu ini yang ternyata cukup luas untuk menaungi beberapa puluh orang yang ingin berteduh. Sebuah balai-balai dari bambu yang cukup besar terhampar di bawah batu.

Saya pun mencoba meraba-raba langit-langit celah batu yang cukup rendah. Rasanya begitu kasar karena langit-langit celah batu itu penuh dengan lubang. Dasar batu besar ini rupanya telah terkikis oleh air dalam kurun waktu yang sangat lama.

12.Dermaga Berue-dody94.wordpress.com

Gambar 12. Batu melayang di dermaga Kampung Berua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rasa penasaran membuat saya bergerak keluar dari celah batu untuk mengambil gambar. Dari kejauhan, tampak celah dan bukit batu itu berbentuk seperti topi tentara atau tudung jamur merang. Celah batu itu terkikis begitu dalam, sehingga tampak batu ini, seolah-olah seperti melayang.

Batu melayang ini ternyata merupakan ujung dari bukit batu yang membentuk celah/lorong eksotis yang kami lewati dengan perahu.

Tak lama kemudian, seorang rekan memanggil saya dan memberikan sebungkus nasi sebagai bekal makan siang. Rupanya setelah briefing, panitia membagikan bekal makan siang berupa nasi bungkus kepada seluruh peserta. Rombongan mahasiswa pun segera bergerak memasuki kampung Berua.

Kampung Berua berukuran kecil. Isinya hanya terdiri dari beberapa rumah panggung yang letaknya saling berjauhan. Di antara rumah terdapat sawah dan tambak/empang.

Kampung, sawah dan tambak ini dikelilingi oleh bukit-bukit kapur yang tinggi menjulang. Pada sebagian bukit kapur terdapat lubang-lubang menganga yang sangat besar. Konon, gua-gua di sekitar rammang-rammang ini dulunya pernah dihuni oleh manusia purba.

Hal ini dapat dilihat dari adanya temuan peninggalan manusia purba berupa lukisan telapak tangan di dinding dan atap gua yang dibuat dari pewarna alami.  Pewarna ini terbuat dari semacam tanah berwarna merah yang banyak mengandung unsur besi yang disebut hematite dan akar-akaran.

13.Rombongan-dody94.wordpress.com

Gambar 13. Menuju kampung Berua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sawah di kampung Berua hanya ditanam setahun sekali saat musim hujan. Sedangkan tambak umumnya berisi ikan Bandeng yang menjadi lauk utama masyarakat Sulawesi Selatan.

Kami terus berjalan menyusuri pematang sawah dan tambak milik penduduk setempat. Tegakan pohon kelapa tumbuh berjajar di sepanjang pematang sawah. Sedangkan disekitar tambak ditumbuhi rumpun Nipah yang tumbuh rapat dan lebat.

Di tepi pematang terdapat petunjuk yang memudahkan pengunjung untuk berjalan menelusuri beberapa obyek wisata yang menarik. Beberapa diantaranya adalah: mata air, gua berlian dan gua baru.

Rombongan mahasiswa yang ditemani pendamping telah terlebih dahulu bergerak melakukan kegiatan praktek lapang. Mereka diminta untuk melakukan pendataan flora dan fauna, baik secara langsung maupun melalui wawancara dengan penduduk setempat. Saya hanya bertugas mendokumentasikan saja. Jepret sana jepret sini.

14.Kampung Berue-dody94.wordpress.com

Gambar 14. Gugusan bukit kapur dan tambak. Sumber: dokumentasi pribadi.

Menjelang pukul 11 siang, udara semakin gerah. Baju saya mulai basah oleh peluh yang bercucuran. Saya pun segera bergegas menuju sebuah saung yang terletak nun jauh di puncak bukit sana. Rupanya di saung itu seluruh rombongan telah berkumpul sembari menikmati makan siang.

Setelah mendaki di tengah panasnya terik mentari, saya berhasil menyusul rombongan. Dari atas puncak bukit batu ini seluruh lembah rammang-rammang terlihat jelas. Sawah-sawah tampak mengering kuning kecoklatan. Dasar tambak yang kering terlihat menghitam.

Saat beristirahat di saung saya berkenalan dengan seorang tokoh masyarakat yang menjadi pengelola saung ini. Namanya Haji Sikki. Isteri dan keluarga beliau bertugas menjaga kios yang menjual makanan dan minuman.

Saya pun banyak bertanya pada Haji Sikki tentang Rammang-Rammang. Menurut Haji Sikki, Rammang-Rammang berasal dari bahasa Makassar yang berarti kabut. Daerah ini terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

Orang-orang tua dulu bercerita, bahwa di sekitar tempat ini, saat pagi-pagi sekali, kabut sering turun hingga mencapai tanah. Hal ini sangat menarik karena biasanya, kabut turun di daerah pegunungan yang tinggi. Sedangkan daerah Rammang-Rammang letaknya dekat dengan laut.

15.Haji Sikki-dody94.wordpress.comGambar 15. Seorang penduduk kampung Berua sedang memanen ikan Bandeng (Bolu) di tambak (kiri). Haji Sikki, salah satu tokoh masyarakat kampung Berua (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Dulunya rammang-rammang merupakan daerah yang kaya akan jenis flora dan fauna. Di puncak-puncak bukit karst yang tinggi, masih banyak ditemukan burung Alo atau Julang Sulawesi  Rythiceros cassidix. Kini burung ini tak pernah terlihat lagi. Hewan liar yang masih sering terlihat adalah gerombolan kera hitam Macaca maura yang hidup di hutan sekitar perbukitan.

Kera-kera ini kerap menjadi hama yang memakan hasil kebun penduduk. Oleh karenanya, penduduk tidak menanam tanaman seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, pepaya dan tanaman lainnya.

Haji Sikki menyarankan agar datang ke rammang-rammang saat musim hujan atau saat padi telah ditanam. Hamparan padi dan hijaunya vegetasi akan menghasilkan pemandangan yang sangat indah untuk diabadikan dengan kamera. Atau jika ingin mendapatkan gambar yang bagus, bisa juga naik ke puncak bukit yang ada di sepanjang tepi jalan masuk menuju pabrik semen, setelah subuh sekitar jam 5-6 pagi.

Dari puncak bukit yang tinggi, pemandangan seluruh lembah Rammang-rammang yang mistis dan eksotis akan terlihat jelas. Bias-bias sinar mentari pagi akan muncul menembus kabut berlatar bukit-bukit menara yang berlapis-lapis dan berwarna gelap. “Kita seperti berada di suatu tempat yang berbeda”.

“Kalau mau ke gua atau ke mata air bisa menggunakan jasa penduduk lokal sebagai pemandu. Hitung-hitung sebagai konstibusi atau pemberdayaan buat masyarakat setempat”, demikian penjelasan Haji Sikki.

16.Saung di bukit-dody94.wordpress.comGambar 16. Saung di bukit batu yang dikelola Haji Sikki. Sumber: dokumentasi pribadi.

Cukup lama saya berdiskusi dengan Haji Sikki. Sayang sekali waktu yang terbatas membuat diskusi kami harus diakhiri. Masih banyak pertanyaan yang sebenarnya belum terjawab. Saat tengah hari, panas matahari mencapai puncaknya. Kami pun segera berkemas dan meninggalkan saung menuju dermaga untuk kembali pulang.

Di kejauhan, tampak kera-kera hitam berlompatan di pepohonan dan lereng-lereng bukit. Masih banyak tempat dirammang-rammang yang belum sempat saya kunjungi seperti hutan Batu, telaga bidadari, Gua Bulu’ Barakka, Gua Telapak tangan dan  Gua Pasaung.

Dari penelusuran beberapa literatur, diketahui bahwa gua-gua di sekitar rammang-rammang atau Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berjumlah 286 buah. Lansekap ekosistem karst berupa hutan batu yang ada di Rammang-Rammang ini tergolong langka.

Berdasarkan luas area, taman  hutan batu Rammang-rammang menempati posisi ketiga setelah taman hutan batu Tsyngi di pantai barat Madagaskar dan taman hutan batu Shilin (Guilin) di selatan China.

Dibandingkan taman hutan batu lainnya, rammang-rammang memiliki keistimewaan, karena menjadi satu dari sedikit taman hutan batu dan perbukitan karst di dunia yang memiliki jejak peninggalan manusia purba. Sayangnya, kawasan ini mulai terancam oleh alih fungsi lahan dan penambangan batu gamping untuk bahan baku industri semen dan Marmer.

Bukit kapur di Maros-pangkep ini terbentuk pada periode Eosen sampai Miosin awal sekitar 18-56 juta tahun yang lalu. Berasal dari bagian pantai yang mengalami pengangkatan. Ketebalan batu kapur dapat mencapai 3000 meter. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, air laut pernah naik lebih tinggi 65 cm dari sekarang.

Saya berjanji di dalam hati, suatu saat nati, saya akan kembali lagi. Kala rammang-rammang berada di puncak keindahannya, bersolek rupa, berhias semburat warna-warni pelangi.

 

 

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.