Kipasan Kebun: burung genit nan pemberani

Kipasan Kebun Rhipidura leucophrys termasuk jenis burung yang paling mudah ditemukan di Halmahera. Burung ini sangat umum seperti halnya burung Gereja atau Kutilang di Jawa. Bertengger di bentangan kabel listrik di tepi jalan, berloncatan di ranting pohon-pohon di tepi pantai, di kebun dan kawasan permukiman.

Panjang sekitar 20 cm dengan bulu berwarna kontras. Bagian atas (kepala, punggung dan ekor) berwarna hitam dan bagian bawah (dada, perut dan pangkal ekor) berwarna putih. Jantan dan betina bentuk dan warnanya mirip sehingga sulit dibedakan. Saat berpasangan, burung jantan tampak lebih agresif. Bulu ekornya cukup panjang. Alis berwarna putih.

Di bagian pangkal paruh terdapat beberapa helai rambut hitam yang tegak seperti ijuk atau kumis. Rambut-rambut ini kemungkinan digunakan oleh burung untuk mendeteksi posisi serangga beberapa saat sebelum disergap.

Burung ini mudah dikenali di lapangan. Seringkali terbang bergelombang, menyambar serangga di atas vegetasi semak dan belukar di tepi hutan sekunder. Saat bertengger, ekor panjangnya sering bergerak naik turun, berkibas-kibas dengan genitnya. Oleh karenanya, masyarakat Halmahera menyebut burung ini dengan nama “Baikole” yang artinya pantat bergoyang.

Kipasan Kebun-1-dody94.wordpress.comGambar 1. Sepasang Kipasan Kebun. Burung ini mudah dikenali dari perilakunya yang selalu mengibaskan ekor naik turun (kiri). Jantan sering berperilaku atraktif untuk memikat burung betina (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Kipasan kebun kerap mengikuti hewan ternak yang sedang merumput. Saat hewan ternak melewati semak dan belukar, serangga yang terbang dari semak-semak akan disambar dan disergap. Bahkan, burung ini berani mengambil resiko terbang rendah hingga dekat sekali dengan permukaan tanah untuk menangkap serangga.

Kicauan Kipasan Kebun terdengar keras, parau, namun berirama, dan tersentak-sentak. Kadang mengeluarkan suara yang terdengar seperti suara orang tertawa parau, diselingi dengan nada yang lebih merdu atau suara crecetan panjang.

Meskipun terlihat hiperaktif dan lincah, Kipasan Kebun relatif mudah didekati dan diamati. Burung ini sering ditemukan berloncatan secara cepat diantara ranting-ranting pohon. Kadang sendirian. Namun, tak jarang ditemukan bertengger dengan pasangan.

Laju terbang Kipasan Kebun tak secepat burung layang-layang, namun manuver terbangnya sungguh luar biasa. Ekor panjangnya berfungsi seperti kemudi yang memungkinkan burung ini mampu melakukan gerakan-gerakan sulit saat meluncur di udara.

Kipasan Kebun-2-dody94.wordpress.comGambar 2. Genitnya burung jantan (kiri). Kipasan Kebun kerap mengusir burung lain dari daerah teritorialnya (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Seringkali, burung ini melakukan gerakan-gerakan akrobatik saat menangkap serangga atau menyerang burung lain yang memasuki daerah tertitorialnya atau berada di sekitar sarangnya.

Kipasan Kebun bahkan tidak ragu-ragu menyerang burung Rajawali atau Elang yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar. Di Australia, burung ini lebih dikenal dengan nama Willie Wagtail.

Berdasarkan daerah persebarannya, Kipasan Kebun dibagi menjadi tiga sub-spesies, yaitu:

  • melaleuca (Quoy & Gaimard, 1830): Maluku termasuk Halmahera, Kepulauan Papua bagian barat, Pulau Papua dan satelitnya (termasuk Goodenough, Fergusson dan Normanby, di Kepulauan D’Entrecasteaux), Kepulauan Aru, Kepulauan Bismarck, P. Buka, P.Bougainville, dan Kepulauan Solomon.
  • picata (Gould, 1848): seperempat bagian utara  Australia dari Kimberley (di Australia barat) dan setengah bagian utara wilayah Northern Territory ke timur sampai Queensland utara.
  • leucophrys (Latham, 1801): tiga-per-empat  daratan Australia selatan.

Kipasan Kebun-3-dody94.wordpress.comGambar 3. Kipasan Kebun terbang berpatroli (kiri). Bersarang di bawah atap (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Sarang kipasan Kebun berbentuk seperti mangkuk kecil dengan jumlah telur 1-2 butir. Sarang ini terbuat dari bagian tumbuhan dan daun rumput yang disusun sedemikian rupa dan direkatkan dengan jaring laba-laba. Sarang biasanya dibangun di atas ranting bercabang.

Suara Kipasan Kebun yang cukup merdu dengan penampilannya yang genit atraktif membuat burung ini layak dijadikan satwa peliharaan. Namun pada kenyataannya, burung ini sangat sulit dipelihara di dalam sangkar karena hiperaktif, sangat mudah stress dan harus diberi makan serangga setiap hari. Upaya pemeliharaan seringkali berakhir dengan kematian sang burung.

Dari sekitar 23 spesies burung Kipasan di Indonesia hanya tiga jenis yang dilindungi Undang-Undang, yaitu: Kipasan Merah Rhipidura phoenicura, Kipasan Bukit Rhipidura euryura dan Kipasan Belang Rhipidura javanica. Kipasan Kebun tidak termasuk dalam daftar spesies burung yang dilindungi.

Kipasan Kebun memiliki daerah sebaran yang luas dan jumlah yang melimpah sehingga oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah atau LC (Least Concern) terhadap kepunahan.

Referensi :

  1. Coates dan Bishop. 2000. Panduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan Wallacea (Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara). Birdlife-International Indonesia Programme dan Dove Publication Pty.Ltd.
  2. http://www.kutilang.or.id/2013/02/21/kipasan-kebun/
Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , . Tandai permalink.