Pasar Ikan Danau Tempe

Sebagai penutup tahun 2015,  Cakrawala akan berbagi cerita tentang kunjungan wisata ke pasar ikan Danau Tempe, sebuah danau legendaris di jazirah selatan Sulawesi.

Danau Tempe terletak di dataran rendah Sulawesi Selatan antara Kabupaten Wajo (70%), Sidrap dan Soppeng. Luas danau bervariasi antara 1000 Ha saat kemarau panjang,  15.000-20.000 Ha saat kondisi normal, hingga 48.000 Ha saat musim hujan mencapai puncak.

Perjalanan ke danau tempe kali ini sebenarnya tidak direncanakan. Setelah menyelesaikan suatu kegiatan di Kota Sengkang ibukota Kabupaten Wajo, saya dan teman-teman masih memiliki waktu dua jam sebelum kembali ke Makassar.

Ikan Danau Tempe-3-dody94.wordpress.com.jpg

Gambar 1. Pasar Ikan di tepi Danau Tempe. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebenarnya, kami ingin menjelajahi danau tempe untuk sekedar mengetahui kondisi terkini dari danau yang terancam sedimentasi ini. Namun, waktu yang sangat terbatas membuat kami memikirkan lokasi lain sebagai alternatif.

Untuk menjelajahi danau tempe dengan perahu, melihat flora fauna dan aktifitas masyarakatnya memerlukan waktu minimal setengah hari atau sehari penuh. Pada musim-musim tertentu, ratusan hingga ribuan burung air dapat ditemukan disini. Sebagian adalah jenis burung migran yang singgah mencari makan sebelum melanjutkan perjalanan.

Ikan Danau Tempe-4-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Ikan kering dijajakan di lapak-lapak di atas trotoar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Terakhir kali saya menjelajahi danau ini sekitar 14 tahun yang lalu. Bersama beberapa teman, kami menghabiskan waktu setengah hari menjelajahi danau tempe di sekitar Wajo. Sayang sekali, roll film yang berisi dokumentasi kegiatan ini hilang entah dimana.

Setelah diskusi singkat, akhirnya kami memutuskan untuk mencari oleh-oleh khas danau Tempe. Kami pun segera meluncur menuju pasar Ikan. Target kami adalah kue tradisional dan ikan kering, terutama ikan Gabus kering yang menjadi primadona di daerah ini.

Ikan Danau Tempe-5-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Penjual sedang membenahi lapaknya. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rupanya diantara kami, tidak ada yang menguasai jalan-jalan di sekitar kota Sengkang, sehingga sopir kami beberapa kali harus menepi untuk bertanya pada penduduk setempat. Penduduk menjelaskan bahwa jarak kota Sengkang ke danau Tempe sekitar 7 km. Kami disarankan mengikuti tepi sungai Walanae yang mengarah ke hulu.

Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya, sampailah kami di sebuah pasar ikan. Menurut tulisan yang tertera di tugu pembatas, pasar ini terletak di perbatasan kelurahan Mattirotappareng, Kecamatan Tempe.

Pasar ikan ini tidak terlalu besar. Hanya terdiri dari beberapa kios yang berjejer di sepanjang jalan. Bermacam jenis ikan kering dijajakan di lapak-lapak  di atas trotoar. Sedangkan ikan segar dijual di depan Kios. Sebagian ada yang telah dibersihkan sisik, sirip plus jeroannya dan disusun sedemikian rupa untuk menarik pembeli.

Ikan Danau Tempe-7-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Ikan yang sudah dibersihkan disusun sedemikian rupa untuk menarik pembeli. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jenis ikan segar yang dijual antara lain adalah: ikan Tawes, Nila, Sepat Siam, Gabus dan ikan Mas. Ikan-ikan tersebut juga dijual dalam bentuk kering. Telur ikan yang sudah dikeringkan dan ikan laut kering juga dijual di pasar ini.

Selain ikan, di pasar ini juga dapat ditemukan sayur mayur seperti kacang panjang, daun kacang, terong, cabe rawit, bayam, kangkung, jagung manis, mentimun hingga jantung pisang.

Sayur ini ditanam di dasar danau Tempe yang mengering saat musim kemarau. Endapan sedimen lumpur dan pasir mengandung banyak zat hara sehingga tanaman sayur tumbuh subur.

Rupanya, selain menghasilkan ikan,  danau Tempe juga menghasilkan sayur mayur yang dapat menjadi sumber penghidupan bagi penduduk sekitar.

Ikan Danau Tempe-6-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Aneka sayur, ikan kering dan telur ikan yang dijajakan di atas lapak. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari pasar ini, saya hanya berbelanja 3 kg ikan Gabus kering dan kue khas yang disebut Bolu Cukke’. Membeli ikan segar sangat tidak efisien, sebab kami harus ke Makassar yang jarak tempuhnya 6-7 jam dengan kendaraan roda empat.

Pada masa jayanya di tahun 1930-1970-an, danau Tempe mampu menghasilkan ikan air tawar hingga 20.000-50.000 ton per tahun. Ikan-ikan ini dikirim ke pulau Jawa. Namun, akibat pendangkalan, pencemaran dan masuknya spesies introduksi, produksi ikan terus merosot hingga 10.000-15.000 ton per tahun.

Jenis ikan di danau Tempe bervariasi. Ikan introduksi seperti Nila (Oreochromis niloticus) dan Nilem (Osteochillus hasseltii) populasinya kian bertambah. Ikan predator ini dikenal sebagai pemangsa telur dan juvenil ikan sehingga mendesak populasi ikan lain.

Ikan Danau Tempe-1-dody94.wordpress.com.

Gambar 6. Ikan Nila Oreochromis niloticus (kiri) dan Ikan Tawes Barbonymus gonionotus (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Ikan introduksi lain yang populasinya terus bertambah adalah Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis). Ikan yang oleh masyarakat setempat disebut ikan Tokek ini dianggap sebagai hama yang meresahkan karena selain tidak memiliki nilai ekonomi juga kerap merusak jaring nelayan. Sirip punggungnya yang keras dan kuat sering tersangkut dan memutus benang-benang jaring.

Populasi ikan lokal seperti Ikan Mas (Cyprinus carpio), Tawes/Kandea (Barbonymus gonionotus), Sepat Siam/Cambang-Cambang (Trichogaster pectoralis), Gabus/Ikan Jilo (Ophiocephalus striatus),  Lele (Clarias batracus), Belut/Lenrong (Monopterus alba) dan Sidat/Masapi (Anguilla marmorata) kian menurun akibat rusaknya habitat, persaingan dengan ikan introduksi dan penangkapan berlebih (over fishing).

Ikan Danau Tempe-2-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Ikan Sepat Siam Trichogaster pectoralis (atas) dan Ikan Gabus Opiocephalus striatus (bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Danau Tempe juga menjadi habitat bagi beberapa jenis ikan air payau/laut seperti: Bete-Bete (Leiognathus dussumieri), Belanak (Mugil vaigiensis) dan Ikan Bandeng/Bolu (Chanos chanos). Fauna lain yang cukup unik adalah udang air tawar bercapit panjang.

Ikan seperti Betok/Bale Balang (Anabas testudineus), Kepala Timah/Binisi’ (Aplocheilus panchax) dan Julung-Julung (Dermogenys pusillus) juga ditemukan di danau Tempe. Namun, ikan ini kurang memiliki nilai ekonomi.

Jenis ikan asli seperti Tambakan/Kissing Gourami (Helestoma temminckii) dan Belosoh/Bungo (Glossogobius giuris) populasinya kini nyaris punah. Ikan ini sudah jarang ditemukan lagi.

Revitalisasi Danau Tempe dengan pengerukan endapan, penataan sistem hidrologi, penanaman kembali daerah hulu/DAS dan restocking ikan asli kiranya sangat mendesak untuk dilakukan agar pendangkalan dan penyempitan danau serta hilangnya keanekaragaman hayati ekosistem air tawar dapat dicegah. Semoga saja, usaha ini dapat mengembalikan danau Tempe sebagai mangkuk ikan Nusantara.

Terima kasih sudah berkunjung ke Cakrawala. Sampai bertemu kembali di tahun 2016🙂.

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.