Mencoba ojek termahal di Indonesia

Halo Sahabat. Selamat bertemu kembali di tahun 2016. Semoga semuanya dalam kondisi sehat dan baik-baik saja. Mengawali tahun ini, blog Cakrawala akan berbagi cerita tentang pengalaman penulis saat menyusuri jalur darat Seko-Masamba dengan sepeda motor. Selamat membaca. Semoga bermanfaat…ūüôā

Berkemas-kemas

Pertengahan September 2015, kegiatan saya dan tim di Seko mendekati hari-hari terakhir. Bersama Rampi, Seko termasuk kecamatan paling terpencil di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Salah satu hal yang paling mendapat perhatian dari kami selama di Seko adalah tiket pesawat. Maklumlah, pesawat perintis di daerah ini hanya satu dan harus melayani beberapa rute seperti Makassar, Palu, Poso, Masamba bahkan hingga Toli-Toli. Itulah sebabnya, mengapa jadwal pesawat di bandara Seko seringkali tak menentu.

Akhirnya, kami berlima mendapat tiket Seko-Masamba setelah melakukan lobi intensif dengan pihak bandara. Pada tiket tertera tanggal 18 September 2015, hari Jum’at, ¬†jam 11.00. Harga tiket sekitar 355 ribu rupiah.

Petugas bandara menjelaskan bahwa jam keberangkatan bisa berubah bergantung kondisi cuaca. Perjalanan dengan pesawat dari Seko ke Masamba hanya memerlukan waktu sekitar 17 menit saja.

Beberapa hari sebelum pulang, di sela-sela waktu senggang, saya sering duduk melamun di teras basecamp memperhatikan motor-motor ojek yang berlalu lalang.

Ojek Seko-16-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Motor Pengojek Seko. Motor ini berasal dari motor bebek yang dimodifikasi. Sumber: dokumentasi pribadi.

Entah mengapa, tiba-tiba muncul keinginan untuk mencoba perjalanan ke Masamba dengan menggunakan ojek. Saya mendiskusikan ide ini dengan ketua tim serta Papa-Mama Kembar, sebuah keluarga yang rumahnya kami jadikan sebagai basecamp di Seko. Ketua tim mendukung penuh ide konyol saya ini dan akan membantu menguruskan pembatalan satu tiket pesawat yang sudah kami bayar.

Mama Kembar menjelaskan bahwa musim kemarau merupakan saat yang paling aman untuk melakukan perjalanan ke Seko dengan ojek. Sebab kondisi jalan tidak licin dan berlumpur.

Kebetulan, om Lukas, salah satu keluarga Papa Kembar yang juga tinggal di basecamp akan pulang ke Palopo menggunakan sepeda motor. Saya pun bertanya,”Om Lukas, boleh ya, saya ikut numpang ke Masamba naik motor Om”. Dengan senang hati Om Lukas menyetujuinya. ” Oke, bisa-bisa. Saya senang karena ada teman cerita di jalan”.

Hari Terakhir di Seko

Akhirnya, hari terakhir kami di Seko pun tiba. Kami semua sibuk mengemas barang sejak pagi-pagi sekali. Untuk menghindari overbagasi, barang tim yang berukuran besar dan berat sudah dikirim ke Masamba menggunakan jasa truk barang yang kebetulan ada di Seko.

Sejak pagi-pagi sekali, om Lukas juga sudah sibuk berkemas. Karung kecil berisi 15 kg kopi yang disangrai semalam diikatnya erat-erat. Satu jerigen madu Trigona ukuran 5 liter juga turut dibawa serta. Barang-barang ini rencananya akan dijual di kota Palopo.

Setelah berkemas, saya menitipkan sebuah ransel besar ukuran 80 liter dan tas ransel kecil pada rekan tim yang akan pulang dengan pesawat. Agar tidak lelah di perjalanan, Mama kembar menyarankan pada saya untuk tidak membawa barang apapun kecuali tas ringan berisi barang yang paling dibutuhkan. Saya juga diharuskan mengenakan masker penutup hidung dan mulut.

Berkemas-1-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Motor modifikasi yang parkir di depan basecamp. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya memutuskan untuk membawa sebuah tas pinggang kecil berisi sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi dan sabun pencuci muka. Satu tas lain yang saya bawa adalah tas khusus kamera berisi kamera saku dan kamera DSLR.

Selesai berkemas dan memeriksa semuanya, Om Lukas tersenyum dan menoleh kepada saya, “Oke. Semuanya sudah siap. Ayo kita berangkat !”. Saya melihat beberapa motor bebek yang sudah dimodifikasi tampak di parkir di halaman rumah. Tapi om Lukas berdiri disamping motor maticnya.

Entah karena gagal paham atau bloon, saya bertanya pada om Lukas, “Om, kita naik motor apa ya?”. Om Lukas segera menyahut, “Ya naik motor Matic ini”. Bagai disambar petasan tahun baru, saya kaget bukan kepalang, “Hah, naik matic ?. Memangnya bisa Om, ke Masamba naik Matic?”.

Ojek Matic-1-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Motor Matic Om Lukas. Sumber: dokumentasi pribadi.

Om Lukas tersenyum geli. Dengan sabar sambil berpromosi, Om Lukas menjelaskan, “Bisa. Saya khan ke Seko juga naik matic ini. Tenang saja, motor ini masih baru. Gak bakalan mogok.¬† Lagian om juga bawa ban dalam cadangan, pompa dan kunci-kunci buat jaga-jaga. Motif guratan di bannya juga sama dengan ban motor trail. shock breaker juga OK. Jadi jangan khawatir. Ayo, kita berangkat !”.

Akhirnya, setelah berpamitan dengan anggota tim, mama kembar dan penghuni rumah lainnya, saya pun beranjak dan duduk di belakang om Lukas. Kamera saku saya siapkan untuk memotret pemandangan di sepanjang jalan. Pupus sudah, impian naik motor modifikasi khas pengojek Seko yang legendaris itu.

Let’s go. Kita Berangkat. Taariiiik Mang…..

Bismillah. Tepat pukul 07.00 pagi, kami berangkat. Angin dingin menerpa wajah seketika, saat motor melaju di jalan berbatu. Debu-debu beterbangan di belakang kami. Sinar mentari mulai muncul perlahan, menembus kabut tipis yang menyelimuti jalan yang akan kami lalui

Sebenarnya, saya sudah beberapa kali naik motor bebek milik pengojek yang sudah dimodifikasi, saat melakukan pengambilan data di beberapa dusun berbeda di Seko. Untuk menggunakan jasa ojek Seko ini, masing-masing dari kami harus merogoh kocek sebesar 200 ribu rupiah.

Jarak antar dusun cukup jauh berkisar antara 10-15 km dengan medan yang cukup berat. Badan berguncang-guncang karena kondisi jalan yang tak rata dan berbatu-batu. Naik motor matic Om Lukas rasanya lebih nyaman. Meskipun melaju di atas jalan berbatu, guncangan tidak terlalu saya rasakan.

Seko-8.dody94.wordpress.com

Gambar 4. Padang rumput berbukit selepas dusun Bengke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah saya perhatikan, matic om Lukas berukuran lebih besar dibandingkan dengan matic biasa  yang berseliweran di jalan-jalan kota. Laju matic ini juga stabil, meskipun harus memuat beban yang berat.

Tidak berapa lama, kami telah keluar dari kampung Eno (Desa Padang Balua) dan melewati dusun Bengke (Desa Padang Raya). Suasana mulai terlihat sepi. Tak ada lagi deretan  rumah-rumah di tepi jalan. Pemandangan didominasi hamparan sawah yang luas dan padang rumput berbukit-bukit sejauh mata memandang.

Seko-4.dody94.wordpress.com

Gambar 5. Pemandangan sawah yang indah selepas dusun Bengke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Om Lukas mulai bercerita, bahwa pada musim hujan, pemandangan di daerah ini luar biasa indahnya. Bukit-bukit yang terlihat gersang itu akan menghijau hingga ke batas cakrawala, berpadu dengan hijaunya padi di sawah. Kerbau, sapi dan kuda merumput dengan lahapnya.

Namun, keindahan alam ini berbanding terbalik dengan kondisi jalan di seluruh kecamatan Seko yang berada dalam kondisi hancur sehancur-hancurnya. Atlet motocross profesional pun dijamin akan berpikir seribu kali sebelum melalui rute Seko-Masamba yang sangat ekstrim saat musim hujan.

Jika hujan berlangsung selama setengah hari, tidak terlalu memberi pengaruh pada kondisi jalan. Namun, jika hujan berlangsung selama dua hari dua malam, tekstur jalanan akan berubah menjadi “bubur tanah” hingga setinggi paha orang dewasa. Hanya pengojek bernyali besar yang berani melewati jalan berlumpur seperti itu.

Om Lukas dulu juga seorang pengojek, sebelum ia menjadi guru honorer ilmu Ekonomi dan Akuntansi di SMA Negeri 1 Seko. Om Lukas berhenti jadi pengojek karena dirinya merasa sudah tidak sekuat dulu lagi. Kini usia Om Lukas sekitar 45 tahun.

Seko-9.dody94.wordpress.com

Gambar 6. Jalan berlumpur di puncak musim kemarau. Sumber: dokumentasi pribadi.

Semakin lama, bukit-bukit terlihat semakin besar. Setelah melewati area persawahan, kami mulai memasuki daerah perbukitan. Kontur jalanan pun mulai menanjak. Tiba-tiba laju motor matic berhenti. Om Lukas meminta saya untuk turun karena ia harus melewati jalan berlumpur yang ada di depan sana.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Pada puncak musim kemarau seperti ini, masih saja ada bagian jalan yang berlumpur. Padahal di daerah ini hujan tak pernah turun selama 4 bulan lamanya. Rupanya genangan air ini berasal dari rembesan mata air yang berada di kaki bukit. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil beberapa gambar.

Jalan mulai Menanjak

Setelah melewati jalan berlumpur, om Lukas meminta saya naik kembali ke atas matic. Motor pun kembali melalui jalan menanjak secara perlahan. Jauh di belakang kami, terdengar beberapa suara motor meraung-raung. Setelah dekat, baru saya sadari bahwa suara itu berasal dari rombongan tukang ojek Seko yang membawa hasil bumi untuk dijual di Masamba.

Seko-10.dody94.wordpress.com

Gambar 7. Tersusul rombongan pengojek Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jalan semakin menanjak. Om Lukas menjelaskan bahwa dari dusun Bengke hingga ke Palandoang kondisi jalanan akan terus menanjak. Motor matic pun terasa semakin berat untuk melaju. Akhirnya, saya meminta turun, agar motor bisa melalui tanjakan. Om Lukas akan menunggu di atas kira-kira 500 meter dari posisi sekarang.

Saya pun turun dari motor. Sepatu saya tenggelam di tanah berdebu yang teksturnya menyerupai bedak bayi. Saya mencoba mengambil sedikit debu dan merasakannya. Tekstur debu ini sangat halus. Debu ini menutupi permukaan jalan dengan ketebalan 5-15 cm.

Satu per satu motor pengojek lewat di samping saya yang terengah-engah mendaki jalan berdebu. Para pengojek ini tersenyum ramah. Sebagian pengojek kemudian berhenti untuk menunggu anggota rombongan yang lain. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengambil lagi beberapa gambar sebagai bahan dokumentasi.

Kondisi tanjakan ini sungguh memprihatinkan. Permukaan jalan terlihat seperti adonan kering yang kusut. Tampak sebuah alur memajang sebesar selokan kompleks perumahan terpampang tepat di tengah jalan. Ditengahnya terdapat batu-batu besar.

Seko-11.dody94.wordpress.com

Gambar 8. Tanjakan pertama. Perhatikan jalur seperti selokan dan batu besar di dalamnya. Jalur ini digunakan oleh pengojek saat tekstur jalan ini dalam kondisi berlumpur di musim hujan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Adanya batu-batu besar di tengah jalan ini bisa sedikit memberi gambaran bagaimana kerasnya perjuangan pengojek Seko untuk melewati tanjakan ini saat musim hujan.

Sambil berjalan terengah-engah, saya terus berjalan melalui tanjakan. Rasa-rasanya napas ini hampir putus. Saya sering berhenti untuk mengatur napas sambil mengambil beberapa gambar pengojek yang lewat.

Semakin lama berjalan rasanya tanjakan ini semakin panjang saja. Tak ada habis-habisnya untuk dilalui. Debu-debu yang tebal beterbangan tertiup angin. Masker penutup hidung yang saya kenakan seperti tak berguna menghadapi serbuan debu ini.

Ojek Seko-5-dody94.wordpress.com

Gambar 9. Penuh debu. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah sekian lama berjalan, akhirnya motor matic om Lukas terlihat nun jauh di atas sana. Saya pun bergegas naik. Dengan tumbuh limbung, akhirnya saya sampai juga di depan om Lukas.

Saya menunduk dalam sambil memegang lutut untuk mengatur napas. Posisinya persis seperti orang yang sedang ruku’. Suara napas saya yang muncul satu-satu terdengar keras sekali. Lendir di dalam rongga mulut ini terasa sangat lengket.

Om Lukas bertanya tentang kondisi saya dengan sedikit rasa khawatir. Saya berusaha meyakinkan om Lukas bahwa kondisi saya baik-baik saja. Mungkin saya sedang beradaptasi menyesuaikan tekanan udara dan kandungan oksigen yang semakin menipis di tempat yang lebih tinggi.

Setelah istirahat yang cukup, saya naik ke atas matic. Motor ini pun melaju melalui jalanan yang terus menanjak.

Berbeda dengan dusun Bengke, pemandangan di tanjakan ini banyak didominasi oleh semak dan perdu. Kadang-kadang  tampak juga beberapa tegakan pohon yang cukup besar.

Padang Rumput-4-dody94.wordpress.com

Gambar 10. Semak dan perdu di puncak bukit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Akhirnya, setelah menyusur tepian bukit, tibalah kami di dekat puncak perbukitan yang tinggi.  Kami dapat melempar pandangan hingga jauh ke batas cakrawala tanpa halangan.

Deretan bukit-bukit ditumbuhi rumput kering sambung menyambung membentuk lansekap yang indah. Aliran sungai tampak mengalir berkelok-kelok di sela-sela bukit dan di dasar lembah.

Om Lukas pun bercerita bahwa daerah ini adalah lokasi favorit papa kembar untuk berburu rusa di malam hari. Selain rusa, sapi dan kerbau setengah liar milik penduduk setempat juga banyak merumput di daerah ini.

Bukit dan Padang Rumput yang indah

Motor terus saja melaju melewati bukit-bukit mirip di film anak-anak Teletubbies. Ketika jalan yang kami lalui tepat berada di puncak bukit, saya meminta om Lukas untuk berhenti. Saya pun mengambil foto dari tepi jalan. Setelah mengambil beberapa foto, saya kembali ke motor matic.

Om Lukas menjelaskan bahwa di sisi kiri jalan ke arah utara termasuk wilayah Desa Lodang. Om Lukas menunjukkan desa Lodang nun jauh di ujung sana. Atap-atap seng  yang sangat kecil terlihat berkilauan. Om Lukas kemudian berbalik dan menunjukkan perkampungan di bawah lembah tak jauh dari tempat kami berdiri. Kalau yang itu namanya dusun Lambiri termasuk dalam wilayah desa Embonatana.

Padang Rumput-1-dody94.wordpress.com

Gambar 11. Hamparan padang rumput yang indah. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kami pun melanjutkan perjalanan melalui jalan yang melewati puncak-puncak bukit. Sebagian puncak bukit ini tampak menghitam akibat di bakar oleh penduduk setempat. Saya menduga mungkin pembakaran ini sengaja dilakukan agar saat musim hujan nanti rumput dapat tumbuh lebih subur. Rumput yang baru tumbuh sangat disukai sapi, kerbau dan rusa. Padang Rumput-2-dody94.wordpress.com

Gambar 12. Padang rumput yang sengaja dibakar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah melalui bukit-bukit yang menghitam, kontur jalan mulai menurun. Vegetasi berganti dari padang rumput yang kering menjadi semak, kemudian perdu dan pohon-pohon besar. Kami pun melewati hutan perbukitan yang cukup lebat.

Om Lukas kemudian mengingatkan bahwa tidak lama lagi kami akan sampai di tanjakan Palandoang. Tanjakan ini lebih panjang dan lebih curam dari tanjakan pertama. Benar saja. Beberapa saat kemudian motor matic berhenti tepat di depan tanjakan. Saya harus turun lagi untuk yang ketiga kalinya.

Nyaris di Seruduk Kerbau

Butuh waktu cukup lama untuk mendaki tanjakan kedua ini. Stamina pun semakin terkuras. Napas bukan lagi tinggal satu-satu, tetapi sudah tinggal setengah setengah. Mulut megap-megap seperti ikan Mas Koki yang dikeluarkan dari dalam air.

Di pertengahan tanjakan saya bertemu dengan dua penggembala yang sedang menuntun beberapa ekor kerbau dan sapi Bali. Seekor kerbau betina muda yang masih terikat tali panjang berjalan di tepi tanjakan. Saya berjalan gontai beberapa meter di belakangnya sambil mengambil gambar.

Tiba-tiba kerbau ini berjalan ke tengah, berbalik arah dan menghadang saya dengan gerakan agresif. Kepalanya menunduk, siap mengambil ancang-ancang untuk menanduk. Ekornya berdiri tegak ke atas. “Eits…. loh..loh..loh.. ini kerbaunya kenapa ya Mas?. Galak bener. Lagi PMS ya… atau mau kenalan?”.

Kerbau-dody94.wordpress.com

Gambar 13. Kerbau muda yang agresif. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dengan gerakan refleks, saya memasang kuda-kuda silat, siap mengeluarkan jurus andalan “Langkah Seribu”. Penggembala yang berjalan beberapa meter di belakang saya tersenyum dan segera menarik tali yang terseret di tanah. “Gak apa-apa bang. Kerbaunya jinak kok”.

Saya segera bergegas berjalan di belakang penggembala yang telah memegang tali pengikat kerbau di dekat hidungnya. Kerbau itu menatap saya dengan tatapan nanar. Mungkin takut dengan masker yang saya kenakan atau takut dengan kamera yang saya bawa. Setelah agak jauh, saya melambaikan tangan sambil berteriak ” Makasih Mas”. Penggembala itu menyahut, “Iya bang. Sama-sama”.

Andai saja penggembala tadi tak ada, mungkin saya sudah diseruduk kerbau itu dengan suksesnya. Bisa dipastikan badan saya yang bulat, chubby dan sexy ini akan menggelinding sempurna sampai ke ujung jalan nun jauh di bawah sana. Sudah capek-capek mendaki setengah tanjakan, eh tiba-tiba diseruduk dan harus mendaki lagi… Nasib-nasib…

Seorang penduduk Seko yang berkunjung ke basecamp kami, pernah bercerita bahwa jika seekor kerbau mengangkat ekornya ke atas, ada tiga kemungkinan yang akan terjadi, yaitu kerbau itu mau pup, pipis atau sedang marah. Kerbau yang marah akan mengangkat ekornya sebagai sinyal peringatan untuk lawannya agar menjauh. Sama seperti ular derik yang ekornya terangkat ke atas dan berbunyi.

Bapak ini juga bercerita, salah satu hal yang paling ditakuti pengojek di Seko adalah kerbau jantan yang sedang birahi. Pernah suatu ketika, beberapa pengojek lari tunggang langgang meninggalkan motornya yang sarat muatan di tengah jalan. Hal ini terjadi karena secara tiba-tiba, dari arah yang berlawanan muncul seekor kerbau jantan sangat besar yang sedang mengejar kerbau betina.

Ojek Seko-14-dody94.wordpress.com

Gambar 14. Melepas lelah di puncak Palandoang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kerbau di Seko dipelihara dengan cara dilepas begitu saja di padang penggembalaan tanpa tali dan kekang. Sebagian populasi kerbau ini kemudian menjadi liar dan tak bertuan. Kerbau inilah yang paling ditakuti pengojek Seko.

Setelah tiba di puncak tanjakan saya menjumpai rombongan pengojek yang sedang beristirahat. Saya pun ikut beristirahat di sini. Saya juga meminta Om Lukas untuk berfoto bersama dengan pengojek tersebut.

Melintasi Hutan Belantara

Setelah tanjakan di Palandoang, kami melanjutkan perjalanan melintasi hutan belantara. Meskipun berada pada puncak musim kemarau, sebagian jalan di tepi hutan ini tetap bertekstur lunak bahkan becek dan ada yang terendam air.

Kami juga harus melewati sebuah sungai yang airnya cukup deras karena tak ada jembatan. Sebuah rakit dari bambu tampak terparkir di tepian sungai, namun tak seorang tukang rakit pun yang terlihat saat kami melintas. Beruntung, debit air sungai sangat rendah, sehingga motor Matic Om Lukas dengan bersusah payah dapat melewatinya.

Ojek Seko-2-dody94.wordpress.com

Gambar 15. Sungai deras pun diseberangi. Sumber: dokumentasi pribadi.

Untuk menghindari masuknya air ke dalam knalpot, om Lukas memutar gas dengan kencang pada kecepatan konstan. Sulit dibayangkan bagaimana perjuangan pengojek melintasi sungai ini saat musim hujan.

Bekas pohon yang tumbang juga sering kami temukan di tepi jalan. Pohon tumbang berpotensi mencelakakan pengojek saat melintas. Jika pohon yang tumbang terlalu besar, maka terpaksa pengojek harus menginap atau mencari cara lain untuk melaluinya.

Jika sangat terpaksa, membuat jembatan dari bulatan batang kayu kecil dapat dilakukan agar dapat melewati batang pohon besar yang tumbang. Hanya saja, penebangan kayu kecil ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena hutan belantara di sekitar jalan termasuk hutan kawasan cagar alam yang dilindungi.

Hutan Seko-2-dody94.wordpress.com

Gambar 16. Jalan berkelok di sekitar hutan belantara. Sumber: dokumentasi pribadi.

Tepat pukul 1 siang, kami tiba di Mabusa untuk beristirahat, sholat dan makan siang. Mabusa adalah kampung pertama dari kecamatan Limbong yang akan kita temui saat melakukan perjalanan dari Seko ke Masamba.

Mabusa juga menjadi perbatasan antara Kecamatan Seko dan Limbong. Letaknya tepat dipertengahan rute Seko-Masamba dengan jarak kurang lebih 60-70 km dari Seko. Seluruh pengojek Seko yang melintas akan berkumpul, beristirahat bahkan menginap di sini.

Hutan Seko-3-dody94.wordpress.com

Gambar 17. Jalan dibangun menyusur lereng gunung. Sebagai pembanding, tampak motor matic om Lukas di bagian depan foto. Sumber: dokumentasi pribadi.

Di Mabusa hanya terdapat bangunan warung yang sangat sederhana namun memiliki fasilitas lengkap. Ada tempat makan, ruangan untuk sholat, tempat menginap dan toilet.

Menurut pengojek Seko yang kami temui, jalur Mabusa hingga Eno (Seko) adalah medan yang paling berat untuk dilalui saat musim hujan. Jalannya dipenuhi lumpur pekat yang dalam hingga setinggi paha orang dewasa. Mengangkat motor yang terjebak lumpur merupakan pekerjaan yang paling menguras tenaga dan emosi. Disinilah dibutuhkan kerjasama dan solidaritas antar sesama pengojek.

Sawah bertingkat yang Spektakuler

Dari Mabusa, kami terus menyusuri jalan melintasi hutan belantara menuju Desa Limbong. Di jalur ini, laju motor sudah mulai cepat karena kondisi jalan sudah diperkeras dengan pasir dan batu. Kami melalui banyak sungai kecil. Kami juga sering menemukan jembatan yang sedang dibangun.

Memasuki Desa Limbong, kami disambut pemandangan yang spektakuler. Dari atas ketinggian di tepi jalan, kami melihat sebuah lembah dengan hamparan sawah bertingkat yang indah. Sebuah kampung kecil berdiri di tengah-tengah sawah tersebut. Saya meminta pak Lukas untuk berhenti.

Salu Rante-5-dody94.wordpress.com

Gambar 18. Kampung Salu’ Rante di Kecamatan Limbong. Sumber: dokumentasi pribadi.

Segera saja saya mendokumentasikan pemandangan ini. Intensitas matahari yang tinggi di siang hari membuat saya kesulitan mengambil foto yang baik. Setelah bertanya pada penduduk setempat, saya baru tahu jika kampung tersebut bernama Salu’ Rante.

Penduduk mengatakan bahwa kampung ini akan terlihat indah pada musim hujan saat hamparan padi sedang hijau-hijaunya. Saat pagi kabut yang tipis menyelimuti daerah sekitar. Puas memotret, kami melanjutkan perjalanan. Kami meninggalkan Salu’ Rante yang ikonik itu.

Minanga-4-dody94.wordpress.com

Gambar 19. Sawah Terasering di Desa Minanga Kecamatan Limbong. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pemandangan sawah bertingkat yang spektakuler juga kami temukan tak jauh dari Salu Rante’. Tepatnya di Desa Limbong sekitar kampung Salu’ Tallang. Di sini pun kami berhenti sejenak untuk mengambil gambar.

Meliuk-liuk di Tepi Jurang

Mulai dari Desa Limbong, jurang-jurang di tepian jalan mulai terlihat semakin jelas. Jalan yang kami lalui meliuk-liuk mengikuti tepian jurang. Setelah Limbong, kami melintasi desa Rinding Allo. Nun jauh di bawah sana, sawah bertingkat terhampar luas di dasar lembah. Di sela-sela sawah terdapat satu dua gubuk-gubuk kecil.Di Tepi Jurang-dody94.wordpress.com

Gambar 20. Jalan di tepi jurang Kampung Salu’ Tallang Desa Limbong. Sumber: dokumentasi pribadi.

Selanjutnya, kami melewati Desa Minanga. Disini, sawah bertingkat terlihat semakin memesona, mulai dari dasar lembah, mendaki hingga mencapai bagian atas kaki gunung. Dari kejauhan, sawah-sawah ini tampak seperti diukir di kaki gunung.

Jalan meliuk-liuk dan menurun tajam mulai kami temukan di Desa Komba dan Kanandede. Motor dan truk yang melintas disini harus berhati-hati dan berjalan lambat. Meskipun jalan disini telah diaspal dan dibeton, namun badan jalan yang sempit membuat kendaraan harus ekstra hati-hati, terutama saat bertemu dengan kendaraan lain dari arah yang berlawanan.

Melaju di Tepian Sungai Rongkong

Lepas dari kawasan hutan belantara yang dilindungi, tepat sore hari kami masuk kecamatan Sabbang. Saat mencapai Salu’ Anase kami beristirahat sejenak, sholat, mencuci muka, makan dan tentu saja foto-foto.

Disini terdapat deretan warung-warung yang luas dan representatif, lengkap dengan tempat sholat, televisi, tempat makan, kios makanan ringan dan tempat menginap. Suasananya sejuk dan asri karena berada di sisi tebing yang dialiri sungai kecil berarus deras.

Tak lama singgah, kami melanjutkan perjalanan. Hamparan sawah yang menghijau di sisi sungai mulai terlihat dari tepi jalan. Menurut Om Lukas, sungai ini bernama Sungai Rongkong, salah satu sungai terbesar di Luwu Utara.

Salu' Ase-Tandung-dody94.wordpress.com

Gambar 21. Sawah bertingkat di tepi Sungai Rongkong Desa Tandung Kecamatan Sabbang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Hari semakin sore. Om Lukas pun memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Bahkan sering mencapai kecepatan 80 km/jam. Jalanan di sisi sungai Rongkong ini lebih luas dengan aspal yang mulus.

Sungai Rongkong berarus deras. Saya melihat banyak sekali batu-batu besar bertebaran di tengah-tengah sungai. Ukuran batu bervariasi, mulai dari seukuran kambing, sebesar kerbau hingga segede rumah.

Suasana di tepi sungai Rongkong ini lebih ramai. Banyak permukiman dan sawah. Pohon-pohon durian berukuran raksasa kerap ditemui di tepi jalan. Saya mulai merasakan lelah dan mengantuk. Hari yang mulai gelap membuat saya kesulitan untuk memotret. Beberapa kali, pak Lukas memberi kesempatan untuk berhenti agar saya dapat memotret, namun saya menolaknya.

Tiba di Masamba

Laju motor Om Lukas semakin menggila. Semakin dekat ke arah muara, kondisi jalan semakin mulus. Akhirnya, saat adzan maghrib kami tiba di pertigaan jalan trans-Sulawesi dengan Sabbang yang ditandai sebuah tugu besar.

Motor pun langsung berbelok ke kiri, laju motor Om Lukas semakin cepat. Kami singgah sejenak di SPBU untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu, kami tancap gas menuju Masamba. Tepat pukul 6.30 malam kami tiba di hotel.

Saya segera ke resepsionist, meminta kunci dan menuju kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Om Lukas menunggu di Lobby Hotel. Saya pun segera mandi, berganti baju, sholat dan kembali ke Lobby.

Beberapa saat kemudian saya menerima telepon dari ketua tim. Saya dan Om Lukas pun menuju ke rumah pak Franky di seberang hotel untuk mengambil barang yang dibawa dengan truk. Rupanya semua rekan tim telah menunggu di sana.

Om Lukas kemudian memohon diri pamit menuju Palopo. Kami memaksanya untuk bersama-sama makan malam, namun ia menolak dengan halus. Saya pun memasukkan amplop berisi uang ke dalam saku Om Lukas. Kali ini saya memaksa tanpa memberinya kesempatan untuk menolak.

Akhirnya, Om Lukas berpamitan dengan kami menuju Palopo. Saya mengucapkan terima kasih yang sangat kepada Om Lukas karena telah berbaik hati dan begitu sabar mengantarkan saya dari Seko hingga Masamba.

Saat makan malam, saya merasa pegal di seluruh tubuh. Persendian tulang terasa nyeri. Tubuh ini seperti remuk redam. Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak karena kami harus berangkat ke Makassar jam 09.00 malam ini juga.

Salu' Anase-dody94.wordpress.com

Gambar 22. Deretan Warung makan di Salu’ Anase Kecamatan Sabbang. Tampak Om Lukas sedang memarkir motor. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saya menghabiskan biaya sekitar 850 ribu rupiah untuk perjalanan ini. Dengan rincian, 150 ribu rupiah untuk makan, minum dan bahan bakar serta 700 ribu rupiah untuk Om Lukas sebagai ungkapan terima kasih. Sebenarnya saya ingin memberi lebih dari itu, hanya saja anggaran tim dan anggaran pribadi sudah tak tersisa lagi. Hiks..Hikss..

Ongkos jasa pengojek Seko-Masamba berkisar antara 500 ribu hingga 600 ribu rupiah sekali jalan di musim kemarau saat kondisi trek kering. Harga ini akan naik saat musim hujan karena kondisi jalan yang berat.

Rata-rata pengojek menempuh jalur Seko-Masamba sepanjang 126 km selama 7-8 jam. Namun, saya dan Om Lukas menempuh perjalanan selama hampir 12 jam karena kami sering berhenti untuk mengambil foto pemandangan yang indah sepanjang perjalanan.

Jujur saja, saya agak khawatir saat tahu akan menjajal rute Seko-Masamba dengan motor Matic. Sebab harus melewati jalan berlumpur, sungai dan tanjakan. Namun, setelah melihat kondisi terakhir, sudah ada  upaya peningkatan kualitas jalan, terutama di sekitar Sabbang dan Limbong. Hal ini dapat dilihat dari dibangunnya beberapa buah jembatan. Sayangnya, jalur Seko yang paling parah medannya, belum diperbaiki.

Ojek Seko-15-dody94.wordpress.com.jpg

Gambar 23. Berpose bersama pengojek Seko di puncak Palandoang. Meski harus berjibaku dengan medan yang ekstrim, mereka sangat ramah dan bersahabat. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dengan tubuh remuk redam, saya tertidur nyenyak di atas bus menuju Makassar. Perasaan saya campur aduk. Sedih rasanya melihat pengojek berjibaku menantang maut untuk menjual hasil bumi ke kota. Sulit pula membayangkan naik ojek di musim hujan dengan jalan penuh lumpur. Di jalan kering saja, badan ini rasanya seperti mau rontok.

Senangnya, saya mendapat kesempatan untuk merasakan ojek Seko yang tersohor itu, melintasi medannya yang ekstrim dan menantang, melihat kearifan lokal serta keramahan masyarakat daerah terpencil. Alam di sepanjang perjalanan dari Seko ke Masamba ini luar biasa indahnya.

Mungkin saja, jika jalan Seko-Masamba sudah dibangun dengan baik, profesi ojek dengan bayaran termahal di Indonesia ini akan sirna ditelan masa.

Bagaimana sahabat, berminat mencoba Ojek Seko?.

nb: Tulisan ini didedikasikan untuk pengojek Seko yang terus berjuang untuk menembus keterisolasian daerahnya.

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.