Ojek Seko: menggadai nyawa di tengah rimba

Asal-usul Ojek Seko

Berapa tahun negara kita telah merdeka?. Lebih dari 70 tahun. Selama itulah masyarakat di Seko dan Rampi harus mengalami pahitnya isolasi dan keterpencilan. Kondisi geografis yang bergunung-gunung di jantung Sulawesi membuat daerah ini menjadi sangat sulit untuk diakses. Mereka seperti terpenjara di tanah kelahiran mereka sendiri.

Daerah terpencil di Indonesia sangatlah banyak dan bukan hanya Seko-Rampi semata. Papua misalnya, memiliki banyak daerah terpencil yang sangat sulit diakses karena jalan darat memang tidak pernah ada. Daerah seperti ini hanya memungkinkan dikunjungi menggunakan penerbangan perintis dengan pesawat ringan.

Namun, Seko misalnya hanya berjarak 126 km dari jalan nasional di Sabbang. Status jalan Seko-Rampi pun termasuk jalan propinsi yang keberadaannya sudah ada semasa jaman penjajahan Belanda.

Ojek Seko-13-dody94.wordpress.comGambar 1. Kondisi jalan di Palandoang saat musim kemarau. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sejak Indonesia merdeka, jalan Seko-Rampi sangat jarang diperbaiki. Malahan kondisinya semakin parah saja. Meskipun jumlah penduduk Seko termasuk kecil, namun potensi alamnya luar biasa. Dari pengalaman penulis menjelajah pelosok Sulawesi, tak ada jalan propinsi yang kondisinya lebih mengerikan dibandingkan Seko.

Kalau pun diperbaiki, kualitas jalan dan jembatan yang dibangun hanya seadanya saja. Satu atau dua tahun digunakan, pasti jalannya sudah hancur lagi.

Kondisi jalan yang ekstrim dan tak berubah selama berpuluh-puluh tahun menyebabkan sebagian masyarakat di Kecamatan Seko dan Rampi Kabupaten Luwu Utara menyiasati kebutuhan transportasi dan suplai logistik dengan mengandalkan ojek.

Kuda SekoGambar 2. Kuda pengangkut beban (Patteke’) di Seko. Sumber: tondokseko.blogspot.co.id.

Di masa lalu, untuk mengangkut hasil bumi ke kota Masamba, penduduk Seko mengangkut barang-barangnya dengan kuda selama 3-4 hari. Kegitan ini disebut Matteke’. Sedangkan kuda bebannya disebut Kuda Patteke’. Jika tidak ada kuda, penduduk harus berjalan kaki selama 3-5 hari.

Waktu tempuh dengan ojek yang lebih cepat dengan daya muat lebih banyak, membuat sebagian besar barang kini dikirim menggunakan jasa ojek. Begitu vitalnya jasa ojek sehingga dokumen negara seperti surat suara untuk pemilu/pilkada serta naskah dan lembar jawaban ujian nasional Sekolah Menegah Atas (SMA) pun dikirim menggunakan ojek.

Profil Ojek Seko

Untuk menyesuaikan dengan kondisi jalan yang licin dan berlumpur, motor bebek milik pengojek dimodifikasi sedemikian rupa. Ban motor diganti dengan ban khusus motor trail. Gir no 15 diganti dengan gir no 25. Knalpot ditinggikan hingga mendekati sadel. Shock-breaker depan dan belakang juga diperkuat.

Ojek Seko-16-dody94.wordpress.comGambar 3. Motor Ojek khas Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Memodifikasi motor belumlah cukup sebagai bekal untuk melintas di jalan Masamba-Seko. Pengojek juga harus membawa peralatan cadangan untuk berjaga-jaga seperti ban dalam, kunci-kunci, pompa angin, oli dan satu jerigen bensin isi 5 liter. Bahkan, pengojek membekali diri dengan parang untuk mengantisipasi binatang buas, membuat tenda darurat dan menyingkirkan pohon yang tumbang.

Agar dapat mengangkut beban berat dengan stabil, sadel bagian belakang diberi alas berupa papan kayu atau balok. Semua barang diikat dengan karet bekas ban dalam motor. Posisi barang di atas motor pun diatur sedemikian rupa hingga seimbang dan tidak mengganggu pengojek saat mengendarai motor.

Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang mantan pengojek di Desa Padang Raya bernama Rahmin. Usia pemuda ini saya taksir sekitar 30 tahunan. Menurut Rahmin, saat musim kemarau dengan kondisi jalan kering, pengojek berangkat dari Sabbang pukul 08.00 pagi dengan muatan berupa barang-barang material dan kebutuhan lainnya. Pengojek akan tiba di Seko pada pukul 15.00 sore setelah menempuh perjalanan sejauh 126 km selama 7-8 jam.

Ojek Seko-17-dody94.wordpress.comGambar 4. Nyaris terjatuh. Sumber: dokumentasi pribadi.

Satu motor pengojek biasanya mampu memuat 7-8 zak semen setara 280-320 kg, atau bensin sebanyak 35 liter  yang dibeli seharga Rp 400-450 ribu rupiah atau barang kelontong dengan volume yang disesuaikan. Pengojek bahkan sering diminta oleh pihak bandara Seko untuk memuat avtur yang akan digunakan untuk mengisi tangki bahan bakar pesawat terbang.

Sebaliknya, dari Seko, pengojek membawa berbagai hasil bumi untuk dijual di Masamba. Satu motor biasanya memuat 450 liter biji kopi atau 400 liter biji coklat atau 250 kg beras, beberapa jerigen madu, damar, gaharu dan hasil bumi lainnya.

Hewan ternak seperti sapi, kuda dan kerbau hanya dapat diangkut pada musim kemarau dengan menggunakan truk yang kini dapat masuk hingga Seko. Jika ingin dijual pada musim hujan, ternak harus digiring atau dituntun selama 3-4 hari hingga mencapai Masamba.

Jika musim hujan, dari Sabbang menuju Seko membutuhkan waktu 1-2 malam bahkan hingga 3-4 malam jika kondisi cuaca memburuk.

Mengapa Harga Ojek Seko Begitu Mahal?.

Bagi penumpang yang ingin menggunakan jasa ojek dari Sabbang ke Seko pada musim kemarau dikenakan tarif sebesar Rp. 600-700 ribu rupiah sekali jalan.

Biaya bisa dinegosiasikan jika pengguna jasa menanggung ongkos makan dan bensin pengojek. Saat musim hujan, tarif ojek bisa meningkat dua kali lipat hingga berkisar antara 1 juta hingga 1,5 juta rupiah sekali jalan.

Jalan Seko berlumpurGambar 5. Kondisi jalan di Seko yang berlumpur dalam saat musim hujan. Sumber: suarakomunitas.net.

Mengapa harga ojek Seko begitu mahal?. Beberapa pengojek menyatakan bahwa kondisi medan yang berat adalah penyebab utama tingginya tarif ojek. Sebab, perjalanan yang akan dilalui sangat menguras tenaga.

Perlu keterampilan khusus, pengalaman dan pengenalan medan yang mumpuni untuk melalui jalan berlumpur di Seko. Apalagi saat musim hujan. Resiko yang harus dihadapi pengojek di sepanjang perjalanan menjadi lebih besar.

Selain itu, kondisi medan yang berat menyebabkan ongkos perawatan/ penggantian suku cadang (spare parts) motor yang dikeluarkan pengojek juga tinggi. Jarak yang jauh juga menjadi pertimbangan utama dalam penentuan tarif jasa ojek.

Berjibaku dengan lumpurGambar 6. Motor didorong saat terjebak lumpur. Sumber: pulsk.com.

Suka Duka Pengojek Seko

Pengojek Seko umumnya berangkat bersama-sama dalam satu rombongan besar, apalagi saat musim hujan. Hal ini dikarenakan medan yang ditempuh luar biasa beratnya sehingga setiap pengojek harus saling membantu agar dapat melewati kubangan lumpur di sepanjang jalan. Untuk mengurangi resiko akibat licinnya jalan, pengojek kadang melapisi bannya dengan rantai.

Pecah lahar, ban bocor dan rantai putus sudah biasa bagi pengojek Seko. Jatuh dari motor akibat ban selip dianggap sebagai hiburan di tengah kerasnya medan. Tenggelam di jalan berlumpur pun menjadi menu harian.

Ojek Seko-111Gambar 7. Terjebak lumpur. Sumber: tondokseko.blogspot.co.id.

Hebatnya lagi, masing-masih pengojek Seko dapat memperbaiki motornya secara mandiri. Keahliannya nyaris menyamai montir bengkel sepeda motor. Seringkali, para pengojek meminjam cadangan onderdil motor milik temannya apabila pengojek yang bersangkutan kehabisan suku cadang.

Kadang-kadang pengojek harus menghadapi pohon tumbang, tanah longsor, masuk parit, jembatan putus dan bertemu kerbau liar. Acapkali pengojek juga harus bermalam di tengah jalan, berselimut kabut dan dinginnya malam.

Menyeberang sungai yang deras saat musim hujan juga memiliki resiko tinggi. Air bah yang berasal dari hulu bisa mengancam setiap saat. Meskipun pengojek tersebut menyeberang menggunakan rakit.

Menyeberang Sungai UroGambar 8. Menyeberang sungai Uro dengan rakit saat musim hujan. Sumber: sugeng.rahmanto.files.wordpress.com.

Kasus terceburnya pengojek ke dalam sungai, pernah terjadi saat jembatan gantung yang dilewati putus tepat di bagian tengah. Untungnya, pengojek yang jatuh mahir berenang, sehingga dapat menyelamatkan diri. Sebaliknya, motor yang dikendarai beserta muatannya terbawa arus sungai yang deras sehingga tak bisa diselamatkan lagi.

Menjalani profesi sebagai tukang ojek di Kecamatan Seko dan Rampi ibarat menggadai nyawa. Demi menafkahi keluarga, mereka harus rela berjibaku dengan kerasnya alam. Namun, para pengojek menjalaninya dengan tabah.

Peran para pengojek sangat vital dalam mengatasi keterisolasian dan keterpencilan Seko. Merekalah sejatinya pahlawan tanpa tanda jasa.

Para pengojek berharap, kondisi jalan Sabbang-Seko dapat segera diperbaiki atau dibangun dengan kualitas yang baik dan tahan lama agar daerah Seko bisa lebih berkembang.

Jika sobat masih penasaran dengan ojek Seko, dapat melihat langsung videonya di sini.

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.