Eksotisnya padang rumput Seko

Seko adalah kecamatan terluas di Luwu Utara. Letaknya tepat di jantung Sulawesi yang didominasi pegunungan dengan ketinggian 1000-1200 m di atas permukaan laut.  Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan Seko adalah pemandangan lansekap padang rumputnya yang indah.

Padang rumput Seko cukup unik. Berbentuk bukit-bukit dengan puncak membulat. Lerengnya memiliki kemiringan sedang. Di antara puncak bukit diselingi dataran berumput yang luas.

Padang Rumput Seko-13-dody94.wordpress.comGambar 1. Padang rumput Seko yang berbukit-bukit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Berbeda dengan padang Sabana Afrika yang diselingi pohon-pohon besar, padang rumput Seko sama sekali tidak ditumbuhi pohon. Jika ada pohon di padang rumput, biasanya tumbuh mengelompok di tepi sungai atau di antara ceruk lembah di kaki bukit.

Sewaktu pertama kali mendengar nama Seko yang letaknya di pedalaman Sulawesi, saya membayangkan suatu daerah dengan hutan yang lebat, sungai besar yang berarus deras dan gunung-gunung terjal yang sulit didaki. Dilembahnya terhampar area persawahan yang luas. Di tengah persawahan, berdiri beberapa bangunan yang berkelompok membentuk perkampungan kecil.

Padang Rumput Seko-8-dody94.wordpress.comGambar 2. Sawah dan perbukitan selepas dusun Bengke. Sumber: dokumentasi pribadi.

Ternyata imajinasi saya tentang Seko sama sekali tak ada yang benar. Seko adalah kecamatan yang luas. Menurut data BPS Kabupaten Luwu Utara,  luas Seko lebih dari 2100 Km persegi. Daerahnya terdiri dari padang rumput, sawah, kebun dan hutan. Mungkin kalau di Jawa, daerah seluas ini sudah bisa menjadi sebuah Kabupaten.

Jika dilihat dari Google Earth, daerah Seko tampak berwarna kecoklatan dikelilingi oleh kawasan berhutan lebat berwarna kehijauan. Dari atas pesawat, Seko terlihat seperti daerah berbukit-bukit yang gersang.

Padang Rumput Seko-10-dody94.wordpress.comGambar 3. Dusun Melambir di dasar lembah. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Seko muncul begitu banyak pertanyaan di benak. Kenapa ya di daerah pedalaman hutan tropis Sulawesi ada padang rumput?. Apa dulunya disini hutan rimba terus pohon-pohonnya ditebang?. Ataukah memang padang rumput ini sudah ada sejak dulu?. Setelah menanyakan pada penduduk setempat, akhirnya terungkap bahwa padang rumpur ini memang sudah ada sejak dulu.

Iseng-iseng, saya mencari info tentang Seko di dunia maya. Ternyata daerah ini dulunya lebih dikenal dengan nama Wono. Sebuah foto hitam putih dokumentasi KITLV Leiden Belanda dari tahun 1900-an menunjukkan gambar padang rumput dan sungai yang mengalir di daerah Wono. Foto ini menjadi bukti bahwa padang rumput Seko sudah ada sejak masa yang sangat lampau.

Padang Rumput Seko-4-dody94.wordpress.comGambar 4. Padang rumput sejauh mata memandang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Lantas, bagaimana padang rumput di Seko terbentuk?. Dari peta Google Earth dapat dilihat bahwa daerah Seko dikelilingi oleh rangkaian pegunungan yang tinggi terutama di sisi barat, utara dan timur. Musim hujan biasanya terjadi saat angin muson yang berasal dari arah barat daya di kawasan Asia Timur-Selatan/Himalaya membawa banyak uap air yang akhirnya jatuh dalam bentuk hujan di Indonesia.

Adanya rangkaian pegunungan tinggi di sekitar Seko membuat awan yang membawa uap air terhalang dan tidak sampai ke Seko. Akibatnya, curah hujan di Seko relatif lebih kecil dibandingkan daerah sekitarnya. Seko pun menjadi daerah bayangan yang kurang mendapatkan hujan.

Padang Rumput Seko-1-dody94.wordpress.comGambar 5. Awan hitam terhalang pegunungan tinggi. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rendahnya curah hujan menyebabkan berubahnya tekstur tanah menjadi lebih keras. Kemampuan menyerap dan melewatkan air pun berkurang. Jika turun hujan, air hanya lewat di permukaan bukit dan langsung turun ke lembah dan sungai. Erosi di permukaan menyebabkan bentuk bukit di Seko memiliki puncak yang tampak membulat.

Tidak terserapnya air hujan menyebabkan kandungan air dalam tanah sedikit. Hal ini menyebabkan sulitnya pohon-pohon besar untuk tumbuh. Satu-satunya vegetasi yang dapat tumbuh hanyalah rumput.

Padang Rumput Seko-6-dody94.wordpress.comGambar 6. Berlatar gunung Kambuno (belakang). Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat musim kemarau yang panjang, rumput ini akan mengering dan gugur. Seiring waktu, sisa-sisa rumput yang gugur ini akan lapuk membusuk, diuraikan bakteri dan jamur menjadi zat hara yang akan diserap lagi oleh rumput untuk tumbuh.

Rumput yang tumbuh di padang luas ini sangat disukai oleh hewan herbivor besar seperti Kerbau, Sapi dan Kuda.  Hewan liar seperti rusa juga ditemukan di padang rumput Seko. Menurut penduduk setempat, di masa lalu, Rusa masih dapat ditemukan dengan mudah di padang rumput Seko. Namun, akibat perburuan, populasi rusa di Seko semakin berkurang.

Padang Rumput Seko-5-dody94.wordpress.comGambar 7. Padang rumput dan hutan kecil. Sumber: dokumentasi pribadi.

Om Lukas, seorang guru SMA di Seko, bercerita bahwa daerah padang rumput di sekitar dusun Melambir dan Lodang adalah lokasi favorit penduduk untuk berburu rusa di malam hari. Berbekal senter dan senapan berburu, para pemburu akan menyusur daerah ini untuk mencari rusa.

Susahnya, rusa, kerbau dan sapi di sini kerap merumput bersama-sama di malam hari. Jadi saat membidik dan menembak harus berhati-hati. Jangan sampai menembak sapi atau kerbau milik penduduk.

Padang Rumput-1-dody94.wordpress.comGambar 8. Habitat rusa Timor. Sumber: dokumentasi pribadi.

Membidik rusa harus melihat posisi. Kita harus membelakangi arah tiupan angin, agar bau kita tidak tercium oleh rusa. Saat disinari senter, mata Sapi, Kerbau dan Rusa akan menyala. Bedanya, kepala rusa akan naik dan turun saat waspada. Sedangkan kepala sapi dan kerbau tidak.

Untuk melumpuhkan rusa dengan cepat, pemburu biasanya membidik bagian jantung atau bagian vital lainnya dari dekat. Setelah rusa aman terbidik, pelatuk senapan ditekan dan door… peluru pun melesat menuju sasaran.

Padang Rumput Seko-9-dody94.wordpress.comGambar 9. Pengojek Seko melintasi lereng bukit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rusa termasuk hewan yang kuat, jarang sekali roboh hanya dengan sekali tembakan. Perlu sekitar tiga hingga lima kali tembakan untuk melumpuhkan seekor rusa. Seorang pemburu disini bahkan pernah menghabiskan sembilan butir peluru untuk melumpuhkan seekor rusa jantan yang sangat besar. Begitu kuatnya rusa jantan itu, sehingga si pemburu sempat ketakutan, karena mengira rusa itu sebagai jelmaan makhluk halus atau rusa jadi-jadian.

Setelah roboh, rusa harus segera disembelih, agar layak untuk disantap. Pekerjaan yang paling berat adalah menggotong rusa. Berat rusa bisa mencapai lebih dari 100 kg.  Setelah tiba di rumah, rusa ini dikuliti dan dibagikan keseluruh teman-teman yang ikut berburu. Demikian penjelasan om Lukas tentang proses perburuan yang dilakukan oleh orang-orang Seko.

Padang Rumput Seko-11-dody94.wordpress.comGambar 10. Padang rumput Seko  yang berbukit-bukit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Masyarakat Seko memelihara kerbau secara tradisional. Ternak ini di lepas begitu saja di padang rumput tanpa diberi tanda atau cap. Setiap pekan, pemilik kerbau akan membawa garam untuk diberikan pada kerbau-kerbaunya. Uniknya, kerbau-kerbau yang hidup semi liar ini mengenali tuannya dan akan datang saat pemilik kerbau memanggil.

Meskipun kerbau dilepas begitu saja di padang rumput, kondisi hewan ternak ini sehat dan gemuk-gemuk. Kerbau bebas berpetualang antara padang rumput yang satu dengan  padang rumput yang lain untuk mencari makanan segar. Penduduk Seko memiliki jumlah kerbau yang bervariasi. Satu keluarga umumnya memiliki kerbau lebih dari satu ekor. Bahkan, ada seorang bapak di Desa Lodang yang memiliki kerbau lebih dari 400 ekor.

Padang Rumput Seko-7-dody94.wordpress.comGambar 11. Makam-makam di atas Bukit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pemeliharaan kerbau dengan cara di lepas di padang rumput juga tak lepas dari masalah. Saat musim betina birahi, kerbau jantan dari suatu kelompok akan menyeberang dan kawin dengan kerbau betina dari kelompok lain. Jika terjadi perselisihan antara pemilik kerbau maka status kepemilikan akan dimusyawarahkan secara kekeluargaan.

Kasus kerbau yang memisah dari kelompok dan berubah menjadi liar (feral) juga kerap terjadi. Upaya desersi dari kelompok ini biasanya dilakukan kerbau jantan muda yang diusir oleh kerbau jantan alpha atau kerbau jantan yang lebih dominan. Bisa juga karena pejantan muda ingin menantang dan merebut tampuk pimpinan dari kelompok lain.

Padang Rumput Seko-2-dody94.wordpress.comGambar 12. Menjelajah di Padang Rumput. Sumber: dokumentasi pribadi.

Padang rumput Seko tersebar di desa Padang Balua, Padang Raya, Lodang dan beberapa Desa lainnya. Pada musim kemarau, Mei-Oktober, padang rumput Seko dapat dijelajahi menggunakan jasa ojek atau kendaraan bermotor. Sedangkan pada musim hujan, area padang rumput Seko yang luas hanya dapat dijelajahi dengan berjalan kaki.

Warna rumput Seko berubah-ubah mengikuti perubahan musim. Saat memasuki musim kemarau, tunas-tunas rumput berwarna hijau terang mulai tumbuh. Tunas muda dari rumput ini sangat disukai hewan perumput seperti Kerbau, Sapi dan Rusa. Seiring berlangsungnya musim hujan, warna hijau rerumputan semakin gelap. Akhirnya, saat memasuki musim kemarau, warna rumput berubah kekuningan kemudian mengering kecoklatan.

Padang Rumput Seko-3-dody94.wordpress.comGambar 13. Padang rumput Seko yang dibakar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat akhir musim kemarau, penduduk biasanya membakar area padang rumput. Abu dari rumput yang terbakar diyakini dapat menyuburkan rumput dan memicu tumbuhnya tunas rumput di awal musim penghujan.

Menurut Pak Lukas, sore hari adalah saat yang paling tepat untuk menikmati keindahan padang rumput Seko. Setelah turunnya rinai-rinai hujan, biasanya muncul pelangi yang sangat indah.

Setiap orang yang saya tanyai tentang Padang Rumput Seko memiliki persepsi yang berbeda-beda. Ada yang membayangkan padang rumput Mongolia, lansekap pedalaman Pulau Sumbawa, Padang Golf raksasa, rumah Teletubbies, pekarangan Shaun The Sheep, Ranch Sapi di Texas bahkan hingga lokasi syuting film India.

Senja di Seko-dody94.wordpress.comGambar 14. Menikmati Senja di Padang rumput Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Berdiri di puncak bukit dan menikmati senja di Padang Rumput Seko sungguh mendatangkan kedamaian. Apalagi jika bersama dengan orang-orang tersayang. Bagaimana denganmu, Sobat?.

 

 

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.