Indahnya sawah bertingkat di Limbong

Pada postingan kali ini penulis akan bercerita tentang pemandangan lansekap sawah bertingkat yang indah di Limbong. Gambar-gambar di bawah ini diabadikan oleh penulis pada puncak kemarau bulan September 2015 saat melakukan perjalanan dari Seko ke Masamba menggunakan ojek.

Limbong adalah sebuah kecamatan di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Letaknya antara kecamatan Seko dan Sabbang, sekitar 50 km arah barat kota Masamba. Kondisi geografis didominasi oleh pegunungan dengan ketinggian antara 900 m dpl hingga 1500 m dpl.

Kecamatan Limbong memiliki luas 686,5 km persegi terbagi menjadi tujuh desa, yaitu: Marampa, Limbong, Rinding Allo, Pengkendekan, Mianga, Komba dan Kanandede. Masyarakat Limbong bersifat agraris dengan mata pencaharian utama bertani dan berkebun. Kondisi lingkungan yang bergunung-gunung membuat sistem pertanian dibuat dalam bentuk sengkedan atau terasering yang bertingkat-tingkat.

Minanga-4-dody94.wordpress.comGambar 1. Sawah bertingkat di Desa Minanga. Sumber: dokumentasi pribadi

Dusun Salu’ Rante Desa Limbong

Salu’ Rante adalah sebuah dusun kecil dengan 26 rumah, 1 masjid dan 50 lumbung padi. Dusun ini terletak di tengah lembah berpemandangan indah. Sawah bertingkat-tingkat seluas 25 hektar terhampar luas di sekitarnya.

Salu’ Rante akan terlihat semakin elok saat musim hujan. Lekuk-lekuk pematang sawah bersusun-susun, berlatar hijaunya padi menciptakan pemandangan yang indah menyejukkan mata. Dalam bahasa setempat, Salu’ Rante berarti kampung yang dikelilingi sungai.

JIka berangkat dari Masamba atau Sabbang menuju Seko, Salu’ Rante berada di sisi kanan jalan. Salu Rante’ berjarak kurang lebih 45 km dari Kota Masamba.

Terasering merupakan sebuah peninggalan kebudayaan yang sudah tua. Suku Inca di Peru telah mempraktekkan penggunaan sengkedan ini sejak lama untuk tanaman jagung. Demikian pula di China, Vietnam Utara, Filipina dan Indonesia. Teknik bercocok tanam dengan metode sawah bertingkat telah dikenal sejak lama.

Salu Rante-3-dody94.wordpress.comGambar 2. Kampung Salu’ Rante di musim kemarau. Kampung ini terletak di Desa Limbong, Kecamatan Limbong, Kabupaten Luwu Utara. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pembuatan sawah dilakukan secara bertingkat untuk menyiasati kondisi lahan yang miring di daerah Limbong. Untuk meningkatkan kesempatan meresapnya air ke dalam tanah, area di sekitar lereng diperluas dengan penggalian dan penimbunan tanah. Model sengkedan dibuat menyerupai tangga berundak-undak.

Jenis Sengkedan umumnya bergantung pada struktur guludan, saluran air dan tanaman penahan erosi. Sawah bertingkat memiliki banyak manfaat, diantaranya: menambah stabilitas lereng, memperluas daerah resapan air, mengurangi kecepatan aliran permukaan, mencegah erosi, mempertahankan zat hara di permukaan tanah dan membantu proses pengendapan zat hara.

555dcf1d0423bd4d508b456bGambar 3. Foto Salu’ Rante saat musim hujan. Foto ini sangat dikenal di dunia maya dan kerap dianggap sebagai foto pemandangan sawah di Seko (tetangga Kecamatan Limbong). Sumber: kompasiana.com.

Berdasarkan strukturnya dikenal beberapa jenis teras atau sengkedan, yaitu:

Teras Kridit (ridge terrace)
Teras kridit dibuat pada tanah yang landai dengan kemiringan 3 – 10 %, bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Pembuatan teras kridit di mulai dengan membuat jalur penguat teras sejajar garis tinggi dan ditanami dengan tanaman seperti caliandra.

Teras Guludan (contour terrace)
Teras guludan dibuat pada tanah yang mempunyai kemiringan 10 – 50 % dan bertujuan untuk mencegah hilangnya lapisan tanah

Teras Bangku (bench terrace)
Teras bangku dibuat pada lahan dengan kelerengan 10 – 30 % dan bertujuan untuk mencegah erosi pada lereng yang ditanami padi dan palawija. Sebagian besar sawah bertingkat di Limbong tergolong teras bangku.

Salu Rante-2-dody94.wordpress.comGambar 4. Kampung Salu’ Rante dilihat dari arah yang berbeda. Sumber: dokumentasi pribadi

Teras Individu
Teras individu dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng antara 30 – 50 % yang direncanakan untuk areal penanaman tanaman perkebunan di daerah yang curah hujannya terbatas dan penutupan tanahnya cukup baik sehingga memungkinkan pembuatan teras individu.

Teras Kebun
Teras kebun dibuat pada lahan-lahan dengan kemiringan lereng antara 30 – 50 % yang direncanakan untuk areal penanaman jenis tanaman perkebunan. Pembuatan teras hanya dilakukan pada jalur tanaman sehingga pada areal tersebut terdapat lahan yang tidak diteras dan biasanya ditutup oleh vegetasi penutup tanah. Ukuran lebar jalur teras dan jarak antar jalur teras disesuaikan dengan jenis komoditas. Dalam pembuatan teras kebun, lahan yang terletak di antara dua teras yang berdampingan dibiarkan tidak diolah.

Teras Saluran

Teras saluran atau lebih dikenal dengan rorak atau parit buntu adalah teknik konservasi tanah dan air berupa pembuatan lubang-lubang buntu yang dibuat untuk meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimen dari bidang olah.

Teras Batu
Adalah penggunaan batu untuk membuat dinding dengan jarak yang sesuai di sepanjang garis kontur pada lahan miring.

Limbong-dody94.wordpress.comGambar 5. Sawah bertingkat di lembah Desa Limbong. Sumber: dokumentasi pribadi

Dusun Salu’ Tallang Desa Limbong

Saat melintasi Desa Limbong, penulis mendapatkan sebuah pemandangan unik yang mengingatkan penulis saat pelajaran menggambar jaman TK dan SD dulu.

Sewaktu kecil, penulis sering menggambar pemandangan gunung yang diberi warna coklat atau hijau. Jalan raya terletak di tengah dengan model perspektif yang lebar di depan kemudian mengecil di ujung. Di bagian depan, penulis menggambar rumah, sawah dan pohon. Matahari yang bulat bersinar tepat di sisi gunung.

Nah, lansekap di Desa Limbong ini kira-kira mirip dengan gambar pemandangan yang sering dibuat semasa kecil dulu. Terutama jalan, rumah dan gunungnya.

Desa Limbong terletak di kaki gunung di sebuah lembah yang luas. Lansekap di daerah ini didominasi oleh sawah bertingkat yang luas, kolam  air tawar dan permukiman. Dibandingkan dengan lokasi lainnya, lembah di Desa Limbong ini relatif lebih landai.

Rindingallo-2-dody94.wordpress.comGambar 6. Sawah bertingkat di Desa Rinding Allo. Sumber: dokumentasi pribadi.

Desa Rinding Allo

Lansekap sawah di desa Rinding Allo lebih bervariasi dibandingkan dengan Desa Limbong. Sawah di daerah ini juga menempati lembah yang luas. Selain itu, sawah juga dibuat hingga di kaki gunung dengan tingkat kemiringan yang lebih tinggi.

Desa Minanga

Berbeda dengan lokasi lainnya, sawah bertingkat di Desa Minanga dibuat di kaki gunung dengan kemiringan berkisar 30-50%. Kondisi terasering tergolong ekstrim dengan bidang penanaman yang sempit namun memajang mengikuti kontur lereng.

Minanga-1-dody94.wordpress.comGambar 7. Sawah bertingkat di Desa Minanga Kecamatan Limbong. Sawah ini terletak di lereng kaki gunung yang curam. Sumber: dokumentasi pribadi

Bagi penggemar fotografi lansekap dan alam, pemandangan sawah di Desa Minanga ini sangat layak didokumentasikan. Ekslorasi terhadap hotspot yang menarik untuk fotografi tentu menjadi kegiatan yang mengasyikkan mengingat daerah ini sangat jarang dipublikasikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan minimnya informasi yang dapat diperoleh tentang lokasi ini di dunia maya.

Minanga-2-dody94.wordpress.comGambar 8. Sawah bertingkat yang spektakuler di Desa Minanga Kecamatan Limbong. Sumber: dokumentasi pribadi

Penggunaan drone untuk fotografi tentu menjadi suatu kegiatan yang sangat menarik dilakukan di Limbong, terutama saat musim hujan kala hamparan padi dan pematang sawah berpadu membentuk mosaik alam yang indah. Pengambilan gambar dari udara dengan drone tentu akan memberikan hasil yang berbeda.

Jika tidak ada drone, pengambilan gambar dari tempat yang tinggi dapat menjadi solusi. Hanya saja, kegiatan ini membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih banyak. Oleh karenanya, eksplorasi titik hotspot yang menarik perlu dilakukan terlebih dahulu.

Minanga-3-dody94.wordpress.comGambar 9. Sawah bertingkat di tepi jalan Desa Minanga Kecamatan Limbong. Sumber: dokumentasi pribadi

Sebagian besar sawah di desa Minanga terletak di kaki gunung yang curam. Sawah bertingkat ini tersusun sangat tinggi dari dasar lembah hingga bagian atas kaki gunung. Sawah di sini berada di seberang jalan propinsi, dibatasi oleh lembah yang luas dan dalam sehingga harus menggunakan kamera dengan lensa tele untuk menjangkaunya.

Sawah bertingkat di seberang gunung ini juga dapat diakses melalui jembatan gantung yang menghubungkan gunung di seberang dengan gunung yang dilalui oleh jalan propinsi.

Minanga-5-dody94.wordpress.comGambar 10. Sawah bertingkat Desa Minanga dari sudut yang berbeda. Sumber: dokumentasi pribadi

Desa Komba

Sawah bertingkat di desa Komba juga dibuat di sisi lereng gunung yang curam. Jalan propinsi di Komba sangat bervariasi dengan banyak tanjakan dan turunan yang berkelok-kelok tajam. Dari arah Seko, ketinggian di Desa Komba berangsur-angsur menurun dari 1500 m hingga 900 m di atas permukaan laut (m dpl).

Komba-dody94.wordpress.comGambar 11. Sawah bertingkat di Desa Komba Kecamatan Limbong. Sumber: dokumentasi pribadi

Desa Kanandede

Desa Kanandede dan Komba dibatasi oleh jembatan dan sebuah sungai kecil. Sawah bertingkat di Desa Kanandede umumnya dibuat di sisi sungai. Padi ditanam saat musim kemarau, memanfaatkan endapan lumpur dan pasir di tepian sungai yang mengering. Pada musim hujan, luapan banjir membuat luasan sawah bertingkat di sisi sungai berkurang.

Kanandede-2--dody94.wordpress.comGambar 12. Sawah bertingkat di tepi Sungai Limbong (Rongkong) Desa Kanandede. Sumber: dokumentasi pribadi

Desa Tandung Kecamatan Sabbang

Hamparan sawah yang dibuat di tepi sungai semakin mudah ditemukan di tepi jalan poros Seko-Masamba mulai dari Desa Tandung, Parara, Tulak Tallu hingga Malimbu. Sawah bertingkat di Sabbang umumnya memanfaatkan endapan lumpur, tanah dan pasir yang mengering di tepi sungai Rongkong saat musim kemarau.

Salu' Ase-Tandung-dody94.wordpress.comGambar 13. Sawah bertingkat di tepi Sungai Rongkong Desa Tandung/ Sabbang. Sumber: dokumentasi pribadi

Sawah bertingkat di sepanjang hulu (Limbong) dan hilir (Sabbang) sungai Rongkong sangat indah dan memiliki ciri khas sesuai dengan topografi daerah masing-masing. Selain sawah bertingkat, daerah ini juga banyak memiliki air terjun, sumber air panas dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai daerah wisata arung jeram.

Kawasan Limbong-Sabbang juga kaya akan hasil bumi berupa sayur mayur dan buah-buahan seperti durian Durio zibethinus, rambutan Nephelium lappaceum dan langsat Lansium domesticum. Tenun Rongkong yang khas juga ditemukan di daerah ini.

Pada musim hujan, Limbong masih dapat diakses dengan mobil dan motor. Sebagian jalan Masamba-Seko telah diaspal hingga daerah Salu’ Anase (perbatasan Sabbang-Limbong). Sedangkan di daerah Limbong, kondisi jalan sudah diperkeras dengan pasir dan batu hingga daerah perbatasan Limbong-Seko bernama Mabusa. Mulai dari Mabusa hingga-Eno kondisi jalan rusak berat dan tidak dapat dilewati saat musim hujan.

Menurut penduduk setempat, pemandangan sawah bertingkat yang paling indah adalah saat musim tanam atau dua pekan sebelum panen yang berlangsung antara bulan Februari hingga Mei. Untuk obyek fotografi, Pre-wedding ekstrim, syuting kegiatan petualangan di alam bebas dan sebagainya, lansekap alam di Limbong cukup menjanjikan. Bagaimana sobat?. Berminat menjelajahi sawah bertingkat di Limbong?.

Referensi :

caraberbagis.blogspot.co.id; id.wikipedia.org/wiki/Terasiring

 

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Indahnya sawah bertingkat di Limbong

  1. Anonim berkata:

    wah, untungnya d pulau kalimantan tdk seprti ini

Komentar ditutup.