Padang Balua: desa juara di tengah belantara (2)

Pertanian

Salah satu keunggulan Desa Padang Balua adalah hasil pertaniannya yang melimpah. Bersama beberapa desa lainnya, Padang Balua adalah sentra penghasil beras utama di Kecamatan Seko.

Menurut BPS (2015) area sawah yang ditanami di Desa Padang Balua seluas 464 Ha dengan hasil panen 2.320 ton. Rata-rata produksi gabah sekitar 5 ton per hektar per musim tanam. Desa lainnya yang menjadi sentra penghasil beras adalah Desa Lodang dengan produksi 3.580 ton gabah dari 716 Ha luas sawah yang ditanam.

Masyarakat desa Padang Balua umumnya menanami sawah dengan padi varietas lokal. Isolasi yang cukup lama serta kondisi Seko yang bergunung-gunung dengan topografi, kondisi habitat dan mikroiklim yang bervariasi menyebabkan munculnya beragam varietas padi lokal.

Hingga saat ini tercatat sekitar 23 varietas padi lokal yang dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat Seko. Banyaknya ragam varietas padi lokal ini merupakan sumber plasma nutfah yang tak ternilai harganya. Padi-padi ini umumnya ditanam setahun sekali di sawah tadah hujan karena sistem irigasi belum terbangun luas.

SawahTarone-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Hamparan Sawah di desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Varietas padi lokal yang terkenal di Seko diantaranya adalah jenis padi Tarone’ dan Dambo. Kedua varietas padi ini ditanam secara organik tanpa pupuk kimia dan pestisida. Padi lokal di daerah ini memiliki masa siap panen yang panjang yaitu hingga 6 bulan lamanya. Kebutuhan air untuk penanaman padi masih bergantung pada hujan.

Masyarakat umumnya tidak menjual seluruh hasil panen. Sebagian gabah dan padi akan disimpan di lumbung untuk persediaan konsumsi sehari-hari serta untuk persediaan bibit pada musim tanam berikutnya. Setiap rumah tangga atau keluarga umumnya memiliki lumbung padi. Jumlah lumbung di desa Padang Balua mencapai 300 buah dengan berbagai ukuran dan volume.

Lumbung Padi Seko-1-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Lumbung Padi di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari 330 KK hanya 30 KK saja yang tidak memiliki lumbung. Dengan demikian, masyarakat telah memiliki persediaan yang memadai jika terjadi paceklik atau gagal panen. Berbagai masalah pertanian biasanya akan dibahas dalam suatu musyawarah khusus yang disebut “Mukobu”. Musyawarah ini biasanya dilakukan saat musim panen.

Harga beras Tarone di Seko berkisar antara Rp. 5000-Rp. 6000 per liter. Namun setelah tiba di Sabbang atau Masamba, harga beras Tarone dijual oleh pengepul dan pedagang sebesar Rp.8000 hingga Rp.10.000 per liter. Akses yang sulit dan mahalnya transportasi menyebabkan masyarakat sulit menjual hasil panen ke kota.

Perkebunan

Selain sawah, di Desa Padang Balua juga ditemukan area perkebunan dengan tanaman utama berupa cokelat dan kopi. Area kebun coklat yang diusahakan oleh masyarakat setempat seluas 150 Ha dengan produksi biji coklat 300 ton pertahun atau rata-rata 2 ton per hektar.

Di kecamatan Seko, selain Padang Balua, Desa Tanamakaleang dan Hoyane merupakan sentra utama penghasil biji Coklat. Desa Hoyane memiliki area kebun coklat seluas 190 Ha dengan produksi 570 ton biji coklat per tahun. Sedangkan Desa Tanamakaleang memiliki kebun coklat seluas 250 Ha dengan produksi 750 ton per tahun (BPS, 2015).

Coklat Seko-dody94.wordpress.comGambar 3. Coklat di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Selain Coklat atau Kakao, hasil perkebunan yang menonjol di kecamatan Seko adalah Kopi. Desa Tirobali adalah sentra utama penghasil kopi dengan produksi 750 ton dari kebun seluas 250 Ha.

Desa produsen kopi lainnya adalah Embonatana dengan produksi 570 ton biji kopi per tahun dari kebun seluas 190 Ha diikuti Beroppa dengan produksi 540 ton dari area seluas 180 Ha dan Malimongan dengan produksi produksi 520 ton dari area seluas 170 Ha.  Luas kebun kopi di Desa Padang Balua hanya mencapai 18 Ha dengan produksi 54 ton biji kopi per tahun.

Area perkebunan di Desa Padang Balua dan Desa Lodang tidak seluas desa lainnya karena di kedua desa tersebut, sebagian besar lahannya digunakan untuk tanaman padi. Sebagian besar produksi kopi di kecamatan Seko berasal dari jenis Kopi Robusta. Sisanya berasal dari jenis Kopi Arabika.

Kopi Seko-dody94.wordpress.comGambar 4. Kopi di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Biji kopi yang telah di panen dan dikeringkan umumnya dikirim ke Masamba dan Toraja. Ironisnya, kopi asal Seko ini lebih terkenal di Indonesia bahkan di mancanegara dengan nama “Kopi Toraja”.

Peternakan

Selain beras, kopi dan coklat, kecamatan Seko juga terkenal dengan hasil ternaknya, terutama kerbau. Pada tahun 2014, populasi kerbau di kecamatan Seko sebanyak 4.138 ekor, Sapi 1.833 ekor dan ayam buras 4.371 ekor. Sebagian besar ternak tersebar di 3 desa yaitu Padang Balua, Padang Raya dan Lodang (BPS 2015).

Jumlah Kerbau di  desa Padang Balua sebanyak 600 ekor, Sapi 420 ekor dan kuda 140 ekor. Desa Padang Raya memiliki kerbau 450 ekor, sapi 250 ekor dan kuda 30 ekor. Sedangkan desa Lodang memiliki ternak terbanyak dengan kerbau 1.400 ekor, sapi 510 ekor dan kuda 30 ekor (BPS 2015).

Kerbau Seko 2-dody94.wordpress.comGambar 5. Kerbau di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Hewan ternak di Seko dipelihara secara tradisional dengan cara dilepas. Kerbau ini mencari makan dan berkembangbiak secara alami di alam bebas. Bentang alam Seko yang didominasi padang rumput sangat mendukung populasi hewan ternak yang ada.

Meskipun dilepas di alam bebas dan menjadi liar, kawanan kerbau ini mengenali pemiliknya dan akan datang jika dipanggil dengan cara tertentu. Setiap satu pekan atau dua pekan sekali, pemilik kerbau akan datang untuk memberi garam pada kerbau-kerbaunya.

Kerbau merupakan hewan ternak yang penting dalam budaya masyarakat Seko. Selain digunakan untuk membajak sawah dan menjadi sumber protein, kerbau juga menjadi alat tukar atau mata uang. Kerbau seringkali dijadikan sebagai mahar dalam perkawinan dan alat barter untuk membeli berbagai kebutuhan.

Hewan ternak seperti kerbau dan Sapi juga berlaku seperti tabungan bagi penduduk desa untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak seperti membayar biaya sekolah anak di kota, membiayai pesta pernikahan dan lain-lain.

Kuda menjadi hewan yang vital sebagai pengangkut beban hasil panen dari Seko menuju kota. Kuda juga digunakan sebagai tunggangan untuk perjalanan lintas antar desa atau antar kecamatan  yang jaraknya seringkali berjauhan dengan kondisi medan yang sulit.

Sapi Seko-dody94.wordpress.comGambar 6. Sapi di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Di masa lalu, kerbau dijadikan alat pembayar denda bagi warga atau pendatang yang melanggar hukum adat. Seseorang yang kedapatan menebang pohon di hutan terlarang misalnya, akan di denda seekor kerbau. Seseorang yang mencuri di denda 3 ekor kerbau dan sebagainya.

Hukuman ini diputuskan oleh para pemangku adat. Seluruh kerbau yang menjadi pembayar denda biasanya akan disembelih, di masak dan dagingnya akan dimakan oleh seluruh warga desa. Dengan demikian, akan terjadi pemerataan protein hewani di seluruh masyarakat.

Hasil ternak seperti kerbau umumnya dijual ke Kecamatan Sabbang, Masamba bahkan hingga Toraja dan Makassar. Selain Nusa Tenggara, Seko merupakan pemasok ternak kerbau bagi kabupaten Tana Toraja. Pasar Bolu di Rantepao dikenal sebagai pasar kerbau terbesar di Tanah Air. Kerbau merupakan hewan penting dalam budaya masyarakat Toraja.

Kuda Seko-dody94.wordpress.comGambar 7. Kuda di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Kasus pencurian ternak di Seko sangat jarang terjadi. Sulitnya akses transportasi menuju Seko menyebabkan pencuri ternak harus berpikir dua kali untuk mencuri ternak di daerah ini. Kerbau Seko yang hidup di alam bebas pun umumnya bersifat setengah liar, agresif dan hanya dapat didekati oleh pemiliknya sehingga akan sulit ditangkap oleh pencuri ternak.

Untuk menghindari hewan ternak masuk ke lahan pertanian dan perkebunan masyarakat, maka sejak tahun 2008, pemerintah desa mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) No 6 tahun 2008 tentang aturan pemeliharaan hewan ternak dimana pemilik hewan ternak diwajibkan membangun ranch dan memelihara ternaknya di dalam ranch.

Upaya ini patut diapresiasi, namun penerapannya masih membutuhkan waktu karena hewan ternak di Seko telah terbiasa hidup di alam bebas.

Perikanan

Sulitnya transportasi menyebabkan masyarakat Seko masih mengandalkan ikan air tawar sebagai sumber protein sehari-hari. Sebagian besar ikan air tawar diperoleh dari kolam-kolam yang sengaja dibangun di dekat sawah atau permukiman.

Beberapa jenis ikan yang dipelihara di kolam diantara adalah ikan Mas, Lele, Gabus, Sepat rawa dan Sidat Anguilla marmorata. Ikan ditangkap menggunakan pancing atau jala.

Ikan Seko-dody94.wordpress.comGambar 8. Ikan Mas, Lele dan Sepat Rawa hasil tangkapan Om Petrus menggunakan pancing dan jala. Sidat Anguilla marmorata (kanan atas). Sumber: dokumentasi Pribadi.

Salah satu cara menangkap ikan secara tradisional di Seko disebut Sammuloku. Cara ini dilakukan sambil menyelam oleh dua atau tiga orang. Satu atau dua orang menyelam bertugas memasang pukat dan menggiring ikan. Satu orang lagi bertugas menyelam dan menembak ikan dengan panah kecil.

Kehutanan

Hutan di sekitar Seko memiliki fungsi yang penting bagi masyarakat setempat. Hutan menjadi sumber kayu untuk bahan bangunan dan kayu bakar, sumber bahan baku pangan, obat-obatan dan hasil hutan bernilai ekonomi tinggi seperti kayu gaharu, damar dan madu. Hutan juga berperan menjamin suplai air tawar saat musim kemarau, melindungi erosi dan tanah longsor.

Daerah tepian sungai di Seko banyak ditumbuhi rumpun-rumpun bambu. Ada yang berukuran besar seperti bambu betung, ada yang berukuran sedang dan kecil. Bambu yang multiguna sangat penting bagi masyarakat Seko. Biasanya bambu dibuat menjadi rakit untuk menyeberang sungai, bahan baku pembuatan rumah, jembatan, lumbung, kandang ternak, pagar, kerajinan rumah tangga dan lain-lain.

Bambu Seko-dody94.wordpress.comGambar 9. Rumpun Bambu banyak ditemukan di sepanjang tepian sungai Kasummong. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Salah satu hasil hutan yang biasa dibawa menggunakan jasa ojek adalah madu hutan. Madu ini berasal dari lebah liar Apis dorsata. Lebah ini ukurannya lebih besar, berwarna gelap dengan racun bisa yang sangat menyakitkan. Sarang madunya berbentuk setengah lingkaran yang pipih dan menggantung di dahan/cabang pohon yang tinggi.

Pohon yang banyak ditempeli sarang, umumnya berupa pohon yang berkulit batang halus dan bersih, berukuran raksasa dan tinggi menjulang. Salah satunya adalah pohon Kempas atau Tualang Koompasia excelsa. Menurut penduduk setempat, lebah hutan ini tidak dapat dijinakkan dan dipelihara sebagaimana lebah madu pada umumnya.

Madu hutan Seko-dody94.wordpress.comGambar 10. Madu dan Lebah hutan Apis dorsata. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Selain lebah hutan, masyarakat Seko juga memelihara jenis lebah lain yang tidak menyengat. Lebah ini disebut Trigona. Ukuran tubuhnya sangat kecil dan menghasilkan madu berbentuk gelembung.

Lebah Trigona umumnya dipelihara dalam wadah berupa batang bambu atau batang kayu berongga yang besar. Meskipun jumlah madu yang dihasilkan sedikit, namun mutu propolis yang dihasilkan berkualitas tinggi.  Sarang Trigona peliharaan umumnya disimpan di sekitar lumbung atau di simpan belakang rumah.

Rasa madu yang dihasilkan oleh lebah hutan dan Trigona bermacam-macam dan bergantung pada jenis bunga yang menjadi sumber nektarnya. Ada madu yang rasanya manis, asam, hambar bahkan pahit.

Satu jerigen ukuran lima liter dijual dengan harga Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu rupiah. Dengan demikian, satu liter madu harganya Rp. 100 ribu rupiah. Untuk madu asli, harga ini tergolong sangat murah. Menurut penduduk setempat, jenis madu yang rasanya pahit sangat baik digunakan sebagai obat.

Bahan Tambang dan Energi

Menurut Dinas Pertambangan, Energi dan Lingkungan hidup Kabupaten Luwu Utara (2015), bumi Seko kaya akan bahan tambang. Deposit Emas ada di daerah Hune dan Kariango. Deposit biji besi ditemukan di Sahe.  Sungai di Seko juga memiliki deposit bahan galian C seperti pasir dan batu dalam jumlah yang cukup banyak.

Kabut Seko-2-dody94.wordpress.comGambar 11. Jaringan Listrik di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Salah satu kendala yang dihadapi masyarakat Seko terkait energi adalah masih terbatasnya ketersediaan pasokan listrik. Sebagian besar sumber energi berasal dari pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang kapasitasnya masih sangat terbatas dan belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh rumah tangga.

Sungai Betue-dody94.wordpress.com

Gambar 12. Sungai Betue-sungai terbesar  yang melintasi desa Padang Balua. Sungai ini memiliki panjang 83 km yang melintasi beberapa desa dan kecamatan. Sumber: dokumentasi Pribadi.

Adanya penggalian bahan tambang dapat memicu terjadinya pencemaran logam berat. Efek yang akan timbul dari kegiatan tambang di Seko akan berdampak sangat luas mengingat Seko adalah daerah hulu dari sungai-sungai besar yang mengalir ke Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan (bersambung).

Referensi

  1. Badan Pusat Statistik (BPS). 2015. Kecamatan Seko dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  2. http://suarakomunitas.net/baca/78690/tarone–beras-asli-seko/
  3. http://www.mahirtakaka.com/2011/07/beras-tarone-varitas-local-di-tanah.html
  4. http://rakyatsulsel.com/tak-dikemas-baik-beras-tarone-kalah-saing.html

 

 

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.