Padang Balua: desa juara di tengah belantara (3)

Pendidikan

Berjalan-jalan keliling desa Padang Balua jam 6-7 pagi adalah saat yang menyenangkan bagi penulis, terutama di sekitar jalan pusat desa.  Anak-anak mulai dari usia 5 tahun hingga remaja terlihat bercampur baur dalam kelompok, hilir mudik menuju sekolah masing-masing.

Warna seragam yang beraneka semakin menambah semarak suasana pagi. Uniknya, tidak terlihat orang tua atau keluarga yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Semuanya berangkat ke sekolah secara mandiri dengan berjalan kaki.

Sekolah di Seko-dody94.wordpress.comGambar 1. Sekolah SD dan SMA di Desa Padang Balua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Desa Padang Balua memiliki 1 Taman Kanak-Kanak (TK), 2 Sekolah dasar (SD), 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 1 Sekolah Menegah Atas (SMA). Sebagian besar siswa berasal dari Desa Padang Balua. Namun ada pula siswa yang berasal dari desa-desa yang letaknya jauh di pelosok. Siswa ini umumnya dititipkan di rumah keluarga atau kerabat yang ada di Desa Padang Balua.

Remaja yang telah lulus SMA umumnya melanjutkan studi ke kabupaten Palopo dan Toraja bahkan hingga ke kota Makassar. Di kedua Kabupaten ini banyak bertebaran perguruan tinggi atau sekolah tinggi yang didominasi oleh swasta.

Siswa SD Seko-dody94.wordpress.comGambar 2. Siswa TK dan SD berangkat menuju Sekolah secara mandiri tanpa didampingi orang tua. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagian remaja memilih sekolah di akademi profesi seperti akademi kesehatan, keperawatan dan pelayaran agar lebih cepat mendapat kerja setelah lulus. Mendaftarkan diri sebagai tentara dan polisi juga masih menjadi pilihan favorit bagi sebagian remaja.

Sosok Tentara dan Polisi yang gagah dengan pistol terselip dipinggang mungkin merupakan impian dan cita-cita mereka sejak masih kanak-kanak. Profesi seperti dokter, hakim, jaksa, pengacara, pilot, apoteker dan insinyur kurang begitu dikenal oleh anak-anak di desa ini.

Sebagian remaja lainnya tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan memilih untuk meneruskan profesi orang tuanya sebagai petani, peternak, pekebun, pedagang atau menjadi pengojek.

Siswa Sekolah Seko-dody94.wordpress.comGambar 3. Siswa SMP dan SMA berangkat ke sekolah di pagi hari. Kabut tipis masih tampak di ujung jalan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kesehatan

Fasilitas kesehatan dalam bentuk sebuah Puskesmas sudah ada di desa Padang Balua, namun tenaga dokter umum belum tersedia. Puskesmas ini didukung oleh 5 puskesmas pembantu (Pustu) dan 6 Poskesdes. Menurut Kepala Puskesmas setempat, penyakit yang paling sering diderita di Desa Padang Balua adalah diare dan infeksi saluran pernapasan.

Sarana transportasi yang sangat terbatas membuat sebagian masyarakat masih mengandalkan pengobat tradisional (dukun) untuk berobat dan melahirkan. Tenaga kesehatan dan pengobat tradisional umumnya bekerjasama untuk menangani pasien yang akan melahirkan.

Pengobat tradisional (dukun) di Desa Padang Balua berkisar antara 5-10 orang. Masing-masing memiliki spesialisasi. Ada pengobat yang khusus membantu persalinan dan merawat bayi yang baru lahir, ada yang membantu salah urat dan patah tulang serta ada pula yang khusus menangani luka di bagian luar tubuh. Pengobat perempuan umumnya menangani persalinan. Namun ada juga pengobat laki-laki yang membantu proses melahirkan.

Rata-rata pengobat menggunakan berbagai jenis ramuan herbal dari tanaman yang ada di sekitar desa. Ada pula beberapa jenis tumbuhan obat yang harus dicari di dalam hutan. Para pengobat ini mengaku tidak menggunakan matra atau jampi-jampi saat mengobati pasien.

Pengobat tradisional di Seko rata-rata telah berusia di atas 50 tahun. Tidak semua pengobat memiliki asisten atau murid yang membantu proses pengobatan atau mempelajari ramuan yang digunakan. Generasi muda di Padang Balua sudah tidak mau mempelajari ilmu pengobatan tradisional karena dianggap kuno atau ketinggalan jaman.

Pendokumentasian, inventarisasi serta pencatatan jenis ramuan dan tumbuhan obat yang digunakan oleh pengobat di Seko nyaris tidak pernah dilakukan. Jika tidak dilakukan penelitian dan studi lebih lanjut tentang seluk beluk pengobatan tradisional Seko, dikhawatirkan, pengetahuan tentang pengobatan tradisional yang sangat berharga ini akan punah.

Budaya

Masyarakat Seko khususnya Desa padang Balua masih mempertahankan budaya Gotong Royong dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya, kegiatan ini dilakukan saat musim tanam padi, panen, membangun rumah dan membangun infrastruktur desa seperti jalan, saluran air, pagar, ranch ternak serta kegiatan budaya seperti pesta adat atau pesta perkawinan.

Gotong Royong di sawah Seko-dody94-wordpress.comGambar 4. Gotong Royong saat musim tanam padi. Sumber: Courtesy Mamanya Mallika.

Penulis sempat mendokumentasikan kegiatan Gotong Royong penduduk desa saat mendirikan tiang rumah panggung dari salah seorang warga desa. Saat gotong royong, warga desa membagi diri menjadi beberapa kelompok.

Ada yang mengangkat balok kayu, ada yang membuat pondasi tiang dari batu dan kayu, ada yang memasang tiang dan balok kayu pada tempat yang sesuai, ada yang memasak, menyiapkan konsumsi, menarik tali, memberikan komando dan sebagainya.

Gotong Royong-Seko-dody94.wordpress.comGambar 5. Gotong Royong membangun rumah. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kegiatan Gotong Royong ini dilakukan dengan gembira dan penuh kekeluargaan. Peserta gotong royong saling melempar canda, senyum dan tawa. Suara hiruk pikuk yang saling bersahutan, teriakan komando diringi raungan gergaji mesin, pukulan balok kayu dan dentuman palu saling bersahutan silih berganti.

Tak terasa, hanya dalam beberapa jam saja, rangka dan tiang rumah telah tegak berdiri. Pemasangan dinding, atap dan pintu rumah selanjutnya dilakukan oleh tukang bangunan. Seiring dengan tegaknya rangka rumah, kegiatan gotong royong pun berakhir sudah.

Nyaris dua pekan lamanya, kami (saya dan tim) berada di desa Padang Balua. Banyak pelajaran berharga yang kami peroleh. Diantaranya adalah bahwa dalam setiap keterbatasan dan masalah selalu ada jalan keluar untuk mengatasinya.

Tarian adat Seko-dody94.wordpress.comGambar 6. Pesta adat penyambutan Bapak Gubernur Syahrul Yasin Limpo saat meresmikan masuknya pemancar telekomunikasi Telkomsel di Desa Padang Balua. Sumber: Courtesy Aminullah.

Desa di tengah belantara dan padang rumput yang luas ini telah berhasil membangun kemandirian, baik dari segi sandang, pangan dan papan berdasarkan potensi alam, adat istiadat dan sumberdaya manusia yang dimilikinya. Jadi, sudah sewajarnya jika Desa Padang Balua menjadi juara. Juara di tingkat nasional serta menjadi juara di hati kami (Habis).

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.