Beras Tarone’ yang melegenda

Beras termasuk salah satu makanan pokok orang Indonesia. Budaya bercocok tanam padi telah dilakukan selama berabad-abad lamanya.  Masing-masing daerah memiliki varietas padi yang khas sesuai dengan kondisi iklim setempat. Keragaman plasma nutfah varietas padi yang tinggi di Indonesia merupakan kekayaan plasma nutfah yang tak ternilai nilainya.

Salah satu beras/padi yang menjadi legenda di Sulawesi Selatan tepatnya di Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara adalah beras/padi varietas Tarone’. Beras ini berbulir kecil-kecil, berwarna putih terang. Bentuk bulirnya agak pendek dan cembung. Saat dimasak, beras ini akan mengeluarkan bau harum seperti beras aromatik pada umumnya.

Saat mencoba beras Tarone’ yang sudah ditanak, saya merasakan sensasi bulir nasi yang pulen, harum, bercampur sedikit rasa legit khas ketan dan gurih santan. Rasanya seperti makan nasi uduk bercampur nasi ketan.

Proporsi campuran rasa legit ketan, gurih santan dan bau harumnya begitu seimbang sehingga rasa beras Tarone’ ini sangat enak saat dikunyah. Menurut penduduk setempat, beras Tarone’ yang paling enak berasal dari daerah Seko Padang.

Tanam padi di Seko-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Menanam padi secara gotong royong di desa Padang Balua Kecamatan Seko. Sumber: Courtesy Mamanya Mallika.

Penanaman padi varietas Tarone’ oleh penduduk setempat masih dilakukan secara sederhana. Langkah pertama adalah menyiapkan bibit dengan menebar bulir gabah Tarone’ di lahan khusus. Tiga pekan kemudian, semaian padi akan tumbuh membentuk bibit siap tanam.

Semaian kemudian dipindahkan dan ditanam secara tradisional di sawah secara bergotong royong. Selama  pemeliharaan, padi dibiarkan tumbuh tanpa pupuk dan racun pembasmi serangga (insektisida). Panen akan dilakukan setelah padi berusia 5 hingga 6 bulan.

Panen juga dilakukan secara tradisional. Petani disini biasanya hanya memotong tangkai bulir padi dan membiarkan batang dan rumpun padi tetap tegak dan hancur dengan sendirinya. Sebagian petani membakar batang-batang padi yang masih tegak. Pada musim kemarau, tidak dilakukan penanaman padi. Selain karena ketiadaan air, masyarakat menganggap bahwa musim kemarau adalah waktu bagi tanah/sawah untuk beristirahat.

Menurut Mahir Takaka, di masa lalu, saat padi Tarone’ telah menguning dan siap untuk dipanen, masyarakat akan melakukan ritual adat memulai panen yang disebut “mingngulu”. Setelah panen berlangsung selama 1-2 pekan, akan dilakukan upacara adat memakan beras baru yang disebut “manne hea’ baru”. Selanjutnya, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah masyarakat melakukan upacara adat yang disebut ‘mantado’i”.

Hasil panen ini kemudian dibagi menjadi dua: satu bagian untuk dijual dan bagian lain disimpan di lumbung untuk persediaan pangan hingga musim panen berikutnya. Sebagian padi yang berbulir besar dan bagus dipisahkan dan disimpan di lumbung sebagai bahan baku pembuatan bibit untuk musim tanam berikutnya.

Pigafetta elata-4-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Palem Sarihoa di Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Lumbung padi di Seko sangat khas, berbentuk kotak atau bulat. Lumbung ini terbuat dari kulit batang sejenis palem yang disebut “Sarihoa”. Palem ini berbatang besar dan kokoh dengan duri-duri yang panjang dan runcing dibagian pelepah daunnya.

Pembuatan lumbung diawali dengan penebangan batang palem Sarihoa. Kulit palem yang tebal dipisahkan dari batangnya. Kulit batang yang berbentuk melingkar  ini kemudian dipotong sesuai ukuran lumbung yang akan dibuat. Setelah dipotong batang palem ini dipukul-pukul hingga menjadi pipih dan dibuat menjadi dinding lumbung.

Di Seko, lumbung padi umumnya dibangun di belakang rumah atau dekat sawah. Masyarakat meyakini bahwa gabah atau padi yang disimpan di dalam lumbung ini tidak mudah rusak. Bahkan, padi/gabah yang disimpan masih layak dikonsumsi meskipun telah disimpan selama lebih dari 10 tahun.

Mahir Takaka menambahkan, pada tahun 1980-an keberadaan Beras Tarone ini mulai terancam seiring masuknya program intensifikasi pertanian yang memperkenalkan jenis padi unggul berumur genjah.  Dalam waktu 3 bulan padi jenis ini sudah dapat dipanen sehingga penanaman padi dapat ditingkatkan menjadi dua kali setahun.

Lumbung Padi Seko-1-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Lumbung padi di Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Akibatnya, minat masyarakat menanam padi varietas lokal mulai menurun. Plasma nutfah padi lokal pun kian terancam punah. Kebergantungan pada pupuk kimia dan insektisida semakin meningkat. Hal ini memberikan pengaruh pada lingkungan dan secara tidak langsung kian menggerus kearifan tradisional dan tradisi adat budaya masyarakat setempat.

Padi Tarone’ merupakan jenis padi gunung yang unik karena hanya tumbuh di kecamatan Seko. Padi ini telah dicoba untuk ditanam dan dikembangkan di luar habitat aslinya, namun belum dapat memberikan hasil yang memuaskan. Oleh karenanya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan jenis padi ini.

Ditingkat pengepul di Seko, beras Tarone’ dijual dengan harga Rp 4.000-Rp. 5.000 per kg. Beras ini kemudian dijual kembali dengan harga Rp. 8.000 hingga Rp. 10.000 per kg di Sabbang. Menurut pengojek yang sering mengangkut beras dari Seko ke Sabbang, beras Tarone’ banyak diminati oleh masyarakat di Sabbang dan Masamba karena rasanya yang enak.

Beras ini termasuk jenis beras yang laris dan selalu dicari di pasaran meskipun dijual dengan harga di atas rata-rata harga jenis beras lainnya. Dengan demikian, prospek pasaran beras Tarone’ sebagai beras berkualitas sudah baik karena telah di kenal secara luas oleh masyarakat.

Beras Tarone'-dody94.eordpress.com

Gambar 4. Beras hitam Toraja-bukan ketan (kiri atas), Beras merah Toraja (kanan atas), Beras Bulog (kiri bawah) dan Beras Tarone’ Seko (kanan bawah). Ukuran bulir beras Tarone’ lebih kecil dibanding beras lainnya. Warnanya pun lebih putih (kanan bawah) . Sumber: dokumentasi pribadi.

Menurut pemerintah daerah setempat, beras Tarone perlu diberi kemasan yang lebih baik untuk menambah daya saing dan nilai jual. Pengelolaan pasca panen, promosi hingga skala nasional dan manajemen penjualan yang baik dapat meningkatkan nilai jual berasTarone sehingga gairah masyarakat untuk menanam padi Tarone’ akan semakin tinggi.

Beras Tarone’ dapat ditingkatkan menjadi beras kelas premium karena rasanya yang enak dan ditanam secara organik sehingga dapat dijual di supermarket, mal dan toko-toko besar dengan harga mahal. Beras merah organik yang dikemas khusus dan diberi label” beras untuk orang diabetes” misalnya, di supermarket dihargai hingga Rp 100 ribu per 5 liter atau Rp. 20.000 per liter.

Semoga saja, beras Tarone’ dapat dikembangkan lebih baik dan naik kelas menjadi beras premium nasional yang dikenal di seluruh nusantara. Orang Seko pasti bisa.

Referensi

  1. http://suarakomunitas.net/baca/78690/tarone–beras-asli-seko/
  2. http://www.mahirtakaka.com/2011/07/beras-tarone-varitas-local-di-tanah.html
  3. http://rakyatsulsel.com/tak-dikemas-baik-beras-tarone-kalah-saing.html
Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.