Palem tertinggi di dunia ada di Indonesia

Matahari mulai beranjak tinggi, saat seorang ibu yang berprofesi sebagai pengobat tradisional, mengantarkan kami menuju dusun Bengke, sebuah bekas perkampungan yang ditinggalkan warganya. Dusun ini merupakan bagian dari Desa Padang Raya, desa terdekat dari Padang Balua, Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Dusun Bengke dikelilingi oleh sebuah sungai yang cukup besar. Sekitar 20 tahun yang lalu, belum ada jembatan yang menghubungkan sungai dengan desa induk.  Kondisi ini membuat warga dusun Bengke  kerap terisolasi dari luar, terutama saat musim hujan.

Aliran sungai yang deras membuat warga tak berani menyeberang. Akhirnya, tokoh-tokoh masyarakat setempat berinisiatif mengambil keputusan untuk memindahkan dusun ini seluruhnya ke lokasi sekarang yang letaknya persis di depan kantor kecamatan Seko.

Hal ini dilakukan, agar warga dusun tak lagi terisolasi. Kantor kecamatan sendiri letaknya tepat berada di perbatasan desa Padang Balua dengan Padang Raya.

Lumbung Padi Seko-1-dody94.wordpress.comGambar 1. Lumbung padi dari kulit batang palem Sarihoa di Seko. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat kami tiba, bekas dusun Bengke tampak begitu sepi. Hanya ada beberapa ekor kuda yang merumput di sebuah lapangan bola yang juga berfungsi sebagai alun-alun kecil. Di sekeliling lapangan inilah, dulunya, deretan rumah-rumah warga dusun berada. Kini yang tersisa hanyalah tiang-tiang kayu, dinding lapuk dan semak-semak belukar yang tinggi.

Ibu pemandu kami kemudian terus berjalan menuju tanah kosong bekas rumahnya. Setelah semua anggota tim berkumpul, si Ibu menjelaskan pada kami, jenis-jenis tumbuhan obat disekitarnya yang kerap digunakan untuk membuat ramuan herbal.

Tiba-tiba, mata saya tertuju pada sebatang palem aneh yang tumbuh tak jauh dari bekas rumah ibu tersebut. Setelah bertanya, ibu pemandu menjelaskan, di daerah Seko, palem ini disebut “Sarihoa”. Kulit batangnya dijadikan dinding lumbung dan batang kayunya yang keras sering digunakan untuk membuat tiang rumah.

Pigafetta elata-4-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Palem Sarihoa di habitat aslinya dan Ibu Pemandu (kiri). Pelepah dipenuhi duri berwarna hitam (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Palem ini belum begitu tinggi, bagian bawah pelepahnya penuh duri halus panjang berwarna hitam yang mendirikan bulu kuduk. Batangnya berwarna hijau, seperti beruas-ruas, penuh bintil-bintil akar. Si ibu menjelaskan bahwa palem ini masih sangat muda.

Palem dewasa dapat tumbuh hingga tinggi sekali. Namun, palem seperti itu, di Seko hanya dapat ditemukan di hutan-hutan lereng pegunungan terpencil. Di sekitar desa, palem seperti itu tidak ditemukan. Demikian penjelasan si Ibu.

Pada kesempatan berikutnya, di dusun Hono’ saya melihat palem Sarihoa yang telah dewasa dari kejauhan. Batangnya berwarna hijau kecoklatan.  Palem ini tumbuh cukup tinggi. Bentuk tajuknya indah dengan pelepah daun melengkung. Sayang sekali, karena terbatasnya waktu, saya tidak mendapat kesempatan untuk mengambil foto palem ini dari dekat.

Setelah menelusuri beberapa situs seperti palmweb dan palmpedia, barulah kami ketahui bahwa palem ini bernama Pigafetta elata. Di Sulawesi Utara, palem ini disebut Wanga. Menurut situs yang saya kunjungi, palem Sarihoa atau Wanga ini termasuk spesies palem yang istimewa.

Pigafetta elata-5-dody94.wordpress.comGambar 3. Batang dan pelepah palem Sarihoa. Pangkal batang ditumbuhi akar serabut (kiri). Duri pada pelepah daun (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Sarihoa dikenal sebagai spesies palem endemik yang secara alami hanya dapat ditemukan di Sulawesi. Sarihoa termasuk jenis palem berumah dua (dioecious), artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat pada pohon yang terpisah, mirip pohon Salak.

Bersama dengan palem Quindio (Ceroxylon quindiuense) asal Kolombia dan Peru, Palem Sarihoa atau Wanga ini dinyatakan sebagai spesies palem tertinggi di dunia. Keduanya dapat tumbuh hingga 50 m. Bahkan, beberapa individu palem Quindio dapat tumbuh hingga mencapai 60 m (jarang ditemukan).

Sarihoa atau Wanga juga memegang rekor sebagai palem dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia. Rata-rata, tinggi palem ini akan bertambah 2 meter setiap tahunnya. Foto-foto pertumbuhan Sarihoa oleh Mike Galvin dan foto-foto tegakan palem Sarihoa yang tinggi dapat dilihat di sini.

Palem Sarihoa tidak membentuk rumpun. Batang tumbuh tegak lurus ke atas, berwarna hijau mengkilap yang berubah menjadi kecoklatan seiring bertambahnya usia. Bekas perlekatan pelepah cukup lebar dan terlihat jelas. Bagian bawah pelepah ditutupi oleh duri halus yang rapat dan panjang berwarna kehitaman. Duri-duri ini berfungsi untuk melindungi pucuk batang dari serangan hewan pengganggu.

Pigafetta elata-1-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Tegakan palem Sarihoa Pigafetta elata di Seko berlatar pegunungan To Kalekaju. Sumber: dokumentasi pribadi.

Buah berbentuk oval, menggantung dalam beberapa tandan dan bersisik seperti buah rotan. Uniknya, dibandingkan pohonnya, buah palem ini berukuran sangat kecil dengan diameter hanya sekitar 12 mm saja.

Habitat palem Sarihoa berupa lereng-lereng di hutan perbukitan, hutan sekunder hingga hutan primer dengan ketinggian antara antara 300 m hingga 1.500 m di atas permukaan laut. Palem ini sangat menyukai lingkungan yang terkena sinar matahari penuh.

Pengamatan penulis menunjukkan, palem ini tumbuh dengan baik di sekitar kebun dan sawah penduduk di Seko (Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan) yang beriklim kering dengan ketinggian 1.300-1.500 m di atas permukaan laut.

Di lereng-lereng terbuka yang terjal dengan kondisi iklim yang cukup kering, palem ini masih dapat tumbuh dengan baik. Dengan demikian, palem Sarihoa dapat berperan sebagai tumbuhan perintis. Palem ini juga sering dijadikan indikator yang mencirikan daerah terbuka yang telah terganggu oleh aktifitas manusia.

Pigafetta elata-2-dody94.wordpress.comGambar 5. Palem Sarihoa muda mendapat paparan sinar matahari penuh di kebun penduduk (kiri). Pelepah pohon muda dipenuhi duri (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Di lantai hutan-hutan sekunder dan primer yang terbuka dan mendapat sinar matahari, anakan palem Sarihoa akan tumbuh dengan cepat. Pada hutan berpohon tinggi dengan kanopi yang lebih rapat, palem ini akan tumbuh hingga mencapai 50 m untuk menjangkau cahaya matahari. Di habitat aslinya, palem ini tersebar merata di perbukitan dan pegunungan Sulawesi dengan suhu berkisar antara 10º C-35º C.

Sarihoa termasuk palem yang cantik dan unik. Ukuran batangnya yang masif, pertumbuhannya yang cepat, duri-duri halus yang banyak pada pelepahnya serta warna batang yang menarik dan bentuk tajuknya yang indah menjadikan Sarihoa sebagai salah satu koleksi favorit di kebun raya dan taman-taman pribadi di berbagai negara. Palem ini juga menjadi buruan hobiis tanaman hias.

Menurut palmpedia, Sarihoa telah tersebar ke seluruh dunia dan ditanam di kebun raya di banyak negara. Di Thailand misalnya, palem Sarihoa dijadikan tanaman hias di tepi jalan, di Hawaii Amerika Serikat, palem ini banyak di koleksi di kebun-kebun pribadi. Di Costarica dan Australia, palem Sarihoa menjadi penghias taman-taman kota.

Pigafetta elata-3-dody94.wordpress.comGambar 6. Tampilan duri palem Sarihoa dari dekat. Sumber: dokumentasi pribadi.

Di habitat aslinya di Sulawesi, palem Sarihoa kian terancam oleh alih fungsi lahan. Palem Sarihoa juga banyak ditebang untuk diambil kayu batangnya. Kulit batang Sarihoa tidak terlalu keras, namun bagian dalam batang Sarihoa tersusun dari zat kayu yang sangat keras. Batang tumbuhan yang sangat tinggi rawan patah, sehingga palem ini beradaptasi dengan mengembangkan batang berkayu sangat keras.

Palem dari marga Pigafetta mencakup 2 jenis, yaitu: Pigafetta elata yang merupakan spesies endemik Sulawesi dan Pigafetta filaris yang tersebar luas di Maluku dan Papua. Dimasa lalu, kedua jenis palem ini dianggap sebagai satu spesies dengan nama Pigafetta filaris. Baru pada tahun 1998, Pigafetta elata dianggap sebagai spesies terpisah.

Kedua jenis palem ini dapat dibedakan secara jelas dari karakter pelepahnya. Pada Pigafetta elata pelepahnya memiliki duri yang lebih banyak, rapat dan berwarna hitam. Sedangkan pada Pigafetta filaris, pelepahnya memiliki lapisan lilin yang lebih banyak dengan duri-duri yang lebih jarang.                                                                                     Pigafetta elata-6-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Kulit batang Sarihoa yang dibuat lumbung. Tampak bekas duduk daun dan alur-alur tempat melekatnya pelepah masih terlihat jelas. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari pengamatan penulis di Tanjung Buli, Halmahera Timur, jenis Pigafetta filaris sangat umum ditemukan di hutan sekunder dan daerah terbuka mulai dari ketinggian 100 m di atas permukaan laut. Sebaliknya, di Seko, Luwu Utara (ketinggian 1.300 m dpl), Pigafetta elata (Sarihoa) kurang umum ditemukan. Menurut penduduk setempat, Sarihoa lebih banyak tumbuh di hutan-hutan lereng pegunungan yang cukup jauh dari permukiman.

Di Indonesia, palem Sarihoa kurang dikenal dan mungkin masih dianggap sebagai tumbuhan liar. Hal ini terlihat dari absennya palem ini dari taman-taman kota, jalan protokol dan kantor-kantor instansi pemerintah.

Sebaliknya, di mancanegara, palem Sarihoa (Wanga) sangat dicari dan banyak diburu untuk dikoleksi karena keunikannya. Di berbagai kebun raya, palem ini dilestarikan dan dikembangkan dengan baik. Adapun foto-foto palem Sarihoa yang ditanam di berbagai negara, dapat dilihat di sini dan di sini.

Referensi

  1. http://www.palmweb.org/cdm_dataportal/taxon/298b6aaa-3dd7-495b-bc10-81bd86223225
  2. http://www.palmpedia.net/wiki/Pigafetta_elata
Pos ini dipublikasikan di Flora dan tag , , , , , . Tandai permalink.