Menengok Harimau Bali Terakhir

Atmosfir Bali di pertengahan abad ke-19 masih didominasi oleh era kolonialisme Belanda. Penduduk menjalani keseharian dengan bertani, berdagang atau melakukan ritual adat dan budaya dengan kontrol ketat dari penguasa. Alam pulau Bali kala itu masih liar.

Di hutan sebelah barat, Jalak Bali yang indah masih dapat ditemukan dengan mudah. Rusa, Ular dan Babi Hutan pun dapat hidup dengan bebasnya. Seekor pemangsa terlihat sedang mengendap-endap di atas bebatuan yang tertutup lebatnya rerumputan. Kuku yang besar di kaki depannya telah keluar, melengkung tajam, siap merobek kulit korbannya.

Terdorong oleh rasa lapar yang sangat, hewan buas ini dengan sigap melompat menerkam mangsanya. Namun, secara tiba-tiba, beberapa utas kawat membelit tubuhnya. Sang pemangsa meronta-ronta. Tubuhnya bergerak liar, melompat ke kanan dan ke kiri. Apa daya, semakin kuat ia berontak, semakin erat kawat itu menjerat tubuhnya.

Rupanya sang pemangsa telah masuk dalam jeratan perangkap yang telah diberi umpan. Kambing yang diterkamnya lepas, namun tak dapat berlari jauh karena kakinya terikat seutas tali. Hewan bertanduk yang nyaris disantap pemangsa ini pun mengembik-ngembik ketakutan.

Akhirnya, sang pemangsa ini hanya bisa menggeram dan mengaum sekuatnya. Suaranya menggema ke seluruh pelosok hutan. Tak lama kemudian terdengar suara daun bergerak-gerak dan dooooorrr…

Pemangsa ini merasakan sakit yang luar biasa di bagian belakang tubuhnya. Seketika ia melompat dan meronta-ronta. Suara-suara serasah yang terinjak dan daun-daun yang tersibak semakin mendekat. Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening, senyap seketika dan dooorrr…. suara keras yang memekakkan telinga terdengar lagi.

Bersamaan dengan suara yang keras ini, sang pemangsa bersimbah darah. Tubuhnya berkelojotan dan bergetar hebat. Ia tampak sedang menahan sakit yang teramat sangat. Sang pemangsa pun meregang nyawa. Tak lama kemudian, tubuhnya lunglai dan tak bergerak lagi. Rupanya peluru terakhir telah menghujam dalam hingga menembus kepalanya.

Tak berapa lama, seorang tuan Bule yang memegang senapan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tersenyum penuh kemenangan. Beberapa orang pendamping pribumi, menusuk-nusuk tubuh pemangsa dengan tongkat untuk memastikan kematiannya. Setelah yakin sang pemangsa telah mati, mereka pun mengikat keempat kakinya pada sebatang kayu, berfoto bersama dan menggotongnya ke kota.

Harimau Bali berwarna-dody94.wordpress.com.jpg

Gambar 1. Kegiatan perburuan harimau Bali.

Setibanya di kota, tubuh pemangsa kemudian dikuliti. Kulitnya dijadikan hiasan dinding, permadani bahkan dijadikan keset kaki… !!!.  Awetan kulit ini biasanya akan dipamerkan di ruang tamu sebagai bukti (trophy) dan bahan cerita untuk menunjukkan betapa hebat dan pemberaninya sang pemburu. Kisah tentang Samong, makhluk buas penguasa hutan-hutan Bali pun, berakhir untuk selama-lamanya.

Beruntung, salah satu kulit harimau Bali ini disumbangkan ke sebuah Museum Zoologi di Kota Bogor. Penulis pun mencoba mengunjungi museum untuk melihat secara langsung awetan harimau Bali ini. Ternyata, awetan harimau Bali di museum zoologi benar-benar ada. Awetan ini dipajang dalam ruang pamer berlapis kaca yang dapat dilihat oleh pengunjung.

Sampel asli harimau Bali ini dipajang bersama-sama dengan beberapa ekor harimau Sumatera dan Benggala. Di sebelahnya tampak awetan Banteng berdiri dengan gagahnya. Sayangnya, awetan harimau Jawa tidak ada di ruang display ini. Menurut petugas Museum, sampel kulit asli harimau Jawa disimpan di pusat penelitian Zoologi milik LIPI di Cibinong dan hanya dapat dilihat dengan izin khusus untuk penelitian.

Kini, kondisi awetan harimau Bali ini cukup mengkhawatirkan. Beberapa bagian kulit di kepala, telinga dan tubuhnya tampak mengelupas. Dari pengamatan Cakrawala, tubuh harimau Bali tergolong mungil dibandingkan harimau Sumatera dan Benggala.

Berbeda dengan harimau Jawa, kulit harimau Bali berwarna lebih gelap. Hal ini terjadi karena pola loreng harimau Bali lebih tebal dan lebar. Jumlah garisnya pun lebih sedikit. Diantara belang ini terdapat garis bintik-bintik seperti bertotol-totol membujur dari atas ke bawah.

bali tiger-1-dody94.wordpress.comGambar 2. Awetan (taxidermi) dari sampel asli Harimau Bali di Museum Zoologi-Kebun Raya Bogor. Sumber: dokumentasi pribadi.

Menurut keterangan yang tertera di bilik kaca ruang display, harimau Bali adalah sub-spesies harimau terkecil di dunia. Rambut pendek berwarna kuning-jingga tua. Memangsa Babi Hutan, Rusa, Monyet, Ayam Hutan dan biawak.

Betina mengandung 2-3 anak selama 103 hari. Bayi dilahirkan dalam kondisi belum dapat melihat. Lama pengasuhan 1 tahun dan dewasa pada umur 1,5 tahu, Di habitat aslinya, Bali dapat hidup hingga usia 8-10 tahun.

Harimau Bali termasuk salah satu megafauna kharismatik yang telah lama punah dari bumi nusantara.  Ilmuwan meyakini populasi hewan pemangsa ini sejatinya memang tak pernah banyak, mengingat dimensi pulau Bali yang kecil.

bali tiger-2-dody94.wordpress.comGambar 3. Deskripsi harimau Bali yang tertera di dinding kaca ruang pamer Museum Zoologi-Kebun Raya Bogor. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dalam salah satu tulisannya, G. Suyasa menjelaskan bahwa cara yang paling poluler untuk memburu harimau Bali adalah dengan menggunakan perangkap kaki begerigi dari besi dengan umpan seekor kambing atau menjangan. Jika telah kena perangkap, harimau yang malang ini kemudian dieksekusi dengan tembakan senjata api ke arah kepala dari jarak dekat.

Kepunahan harimau Bali dipercepat dengan adanya wisata perburuan gaya Inggris, Shikari, yang dilakukan oleh orang-orang Belanda yang datang ke Bali dari Jawa. Pemburu harimau ini umumnya merupakan orang-orang yang mahir menggunakan senjata berburu.

Berburu harimau Bali dianggap sebagai kegiatan olahraga pada masa itu. Kegiatan perburuan ini dipandu oleh seorang “mir shirkar”, atau master pemburu yang seringkali direkrut dari suku atau orang pedalaman lokal yang mengenal daerahnya dengan baik.

Sejatinya, masyarakat tradisional Jawa dan Bali sangat menghormati keberadaan harimau di lingkungannya. Di Jawa, penduduk lokal sering menyebut harimau dengan nama si Mbah atau Kyaine.

Seekor betina dewasa yang ditembak mati di daerah Sumbar Kima Bali Barat pada tahun 1937, diyakini sebagai individu harimau Bali terakhir. Empat puluh tahun kemudian, harimau juga dinyatakan punah dari tanah Jawa. Kini, harimau Sumatera menjadi satu-satunya harimau milik kita yang masih tersisa. Populasinya pun kian menyusut akibat perburuan, penebangan hutan dan konversi habitat menjadi kebun kelapa sawit dan permukiman. Oleh karenanya, marilah kita dukung upaya pelestarian harimau sumatera dengan tidak merusak hutan yang menjadi habitatnya.

Referensi:

Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , . Tandai permalink.