Menelusuri Benteng Lipuogena di Pulau Buton

Selain keindahan alam dan hasil tambangnya, Pulau Buton juga kaya dengan peninggalan sejarah dan budaya. Salah satunya adalah benteng Lipuogena yang terletak di Kelurahan Takimpo, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton.

Lokasi benteng ini mudah ditemukan, tepatnya berada di sekitar jalan besar dari pusat kota Pasarwajo menuju Takawa.  Dalam bahasa setempat, Lipuogena berarti Kampung Besar.

Benteng Lipuogena-1-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Benteng Lipuogena dari arah luar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kondisi jalan menuju benteng agak sempit, namun telah diaspal sehingga mudah di akses. Di kiri kanan jalan banyak ditemukan kebun jambu mete milik penduduk. Lokasi benteng tepat berada di ujung jalan. Dari jalan besar yang baru dibangun, benteng ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit.

Benteng di Pulau Buton umumnya dibangun dari tumpukan batu karang dan batu kapur. Batu karang ini disusun membentuk dinding. Agar bongkahan batu kapur menyatu dengan kokoh, diantara batu kapur diberi putih telur. Selain putih telur,  sebagian benteng di Indonesia juga menggunakan beras ketan yang lengket sebagai bahan perekat.

Benteng Lipuogena-3-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Kursi batu untuk pelantikan tetua adat. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah memasuki pintu gerbang benteng, akan ditemukan beberapa bangunan, diantaranya adalah baruga, Mesjid tua dan makam. Sebuah kursi dari batu dengan beberapa anak tangga yang dikelilingi oleh empat buah tiang juga terlihat di depan baruga.

Menurut penduduk setempat, kursi batu ini digunakan saat pelantikan Parabela, yaitu kepala adat/ kepala kampung. Benteng ini juga sering dijadikan lokasi pelaksanaan upacara adat.

Benteng Lipuogena-4-dody94.wordpress.comGambar 3. Makam (depan) dan tempat pelaksanaan upacara adat (belakang). Sumber: dokumentasi pribadi.

Area di dalam benteng Lipuogena ini cukup luas. Tanahnya berbukit-bukit dengan banyak bongkahan batu kapur berukuran besar menyebar di berbagai sisi. Diantara batu-batu ini terdapat banyak makam-makam tua. Penduduk sekitar memanfaatkan lahan di dalam benteng untuk berkebun.  Pohon Pulai Alstonia scholaris yang besar tampak tumbuh di sekitar pelataran Mesjid.

Benteng Lipuogena-5-dody94.wordpress.comGambar 4. Masjid tua di dalam benteng. Sumber: dokumentasi pribadi.

Benteng ini memiliki lima pintu kecil yang disebut lawa. Kelima pintu itu adalah Lawa Kolowundanga, Lawa Naemata, Lawa Nawakeke, Lawa Pibuni dan Lawa Sampu. Sekeliling benteng terdapat dinding dari bongkahan batu karang yang kokoh.

Benteng Lipuogena-6-dody94.wordpress.comGambar 5. Dinding benteng (atas), makam tua (kiri bawah), pintu kecil (lawa) dan tanaman ubi kayu (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Jika diukur dari luar benteng, tinggi dinding mencapai 5-7 meter. Sedangkan dari dalam benteng, tinggi dinding mencapai 2-4 meter. Di bagian dalam dinding benteng, terdapat setapak jalan selebar satu meter yang telah disemen. Adanya jalan ini memudahkan pengunjung untuk mengitari benteng.

Benteng Lipuogena-7-dody94.wordpress.comGambar 6. Jalan setapak mengelilingi benteng. Sumber: dokumentasi pribadi.

Benteng ini dibangun di atas bukit yang terjal. Suasana di sekitar benteng tampak hijau oleh rimbunnya pohon jambu mete. Beberapa ekor burung kacamata, beterbangan dengan ributnya di antara semak-semak tinggi

Benteng Lipuogena-8-dody94.wordpress.comGambar 7. Pintu utara benteng. Sumber: dokumentasi pribadi.

Burung lainnya terlihat terbang dan bertengger di antara pohon di sekitar kami. Jaraknya cukup dekat. Namun, lebatnya dedaunan membuat kami kesulitan mengamati jenis burung tersebut. Tampaknya, daerah di sekitar benteng merupakan spot yang bagus untuk pengamatan burung (bird watching). Sayang sekali, saya tak membawa kamera.

Benteng Lipuogena-9-dody94.wordpress.comGambar 8. Pemandangan di luar benteng. Teluk Pasarwajo dapat dilihat dari benteng (kiri atas). Pintu kecil benteng (kanan). Jalan menuju batu mengaum (kanan bawah). ke arah Sumber: dokumentasi pribadi.

Pada salah satu pintu, terdapat jalan setapak menuju sebuah bongkahan batu karang berukuran besar yang disebut batu mengaum. Batu ini berbentuk seperti kepala naga yang sedang membuka mulutnya. Di kiri dan kanan jalan yang telah di semen dengan baik, banyak pohon jambu mete yang rimbun.

Benteng Lipuogena-10-dody94.wordpress.comGambar 9. Batu mengaum. Batu ini menyerupai kepala seekor naga yang sedang terbuka. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jika berkunjung ke Pasarwajo, jangan lupa ke Benteng Lipuogena. Selain lokasinya yang relatif dekat, berwisata ke benteng ini juga tidak dikenakan biaya apapun.

Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.