Secangkir Kopi di Kali Biru

Hari merambat sore, saat kami tiba di kali biru Kali biru, sebuah kolam permandian dan rekreasi air di desa Banabungi, Pasarwajo, Kabupaten Buton.

Setelah turun dari kendaraan, dua orang kawan putri kami bergegas menuju kedai, memesan sarabba susu (sejenis bandrek khas Makassar) dan gorengan. Saya dan teman lainnya melenggang menuju gazebo di samping kolam.

Saya melihat lokasi kolam permandian ini sangat strategis, yaitu di tepi jalan poros Baubau-Pasarwajo-Takawa. Disampingnya terdapat pelabuhan Banabungi yang sering disinggahi kapal pesiar. Di sisi lainnya, terdapat pelabuhan pengapalan aspal buton.

Kali biru-buton-1-dody94.wordpress.comGambar 1. Kali biru. Tampak pelabuhan pengapalan aspal buton di belakang kali biru (bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Selama berkelana ke banyak tempat, baru kali ini saya menjumpai tempat minum-minum kopi yang berkolaborasi dengan tempat rekreasi air di alam terbuka. Enaknya lagi, kita tak perlu membayar karcis masuk dan uang parkir karena semuanya gratis.

Kolam permandian ini berbentuk memanjang, mirip sungai yang salah satu sisinya dibendung. Beberapa anak tampak mengayuh kapal berbentuk bebek mengelilingi kolam. Satu kapal bebek lainnya dikayuh oleh seorang bapak beserta anak-anaknya. Anak-anak lainnya bermain air dan berenang menggunakan ban dalam besar yang diisi udara.

Dinding kolam dibangun setinggi satu-tiga meter. Bagian atas tembok dibentuk naik turun, berselang-seling menyerupai tembok benteng. Seluruh tembok ini di cat dengan warna biru muda. Dari sinilah kolam rekreasi ini mendapatkan namanya, kali biru.

IMG_20160731_162749Gambar 2. Fasilitas hiburan di kali biru. Tampak dinding tembok di cat berwarna biru muda. Sumber: Courtesy: Pak Ismail.

Air kolam ini rasanya payau. Dasar kolam berwarna abu-abu seperti campuran pasir laut dan pecahan batu karang yang halus. Kolam ini berair sangat jernih, bersih tanpa sampah. Dua pohon Ki Hujan Samanea saman yang besar dan rindang berdiri kokoh disamping kolam, memberi suasana teduh, sejuk dan asri.

Di seberang gazebo kami, berjejer kios-kios yang menjual aneka makanan dan minuman. Menu yang dapat dipesan bermacam-macam, mulai dari pisang goreng, ubi goreng, tempe goreng, nasi goreng, mie siram, kopi, sarabba, teh, kopi susu, kopi instan dan lain-lain.

Sambil menunggu kudapan yang telah dipesan, kami bercerita banyak hal tentang lokasi wisata di sekitar Pasarwajo.

Salah seorang teman yang menjadi pemandu kami bernama Pak Ismail menjelaskan, bahwa dahulunya kolam ini bernama Lasolo, kemudian berganti menjadi Kali Lakua. Salah satu bank pemerintah kemudian merenovasi Kali Lakua hingga seperti sekarang ini.

Kali biru-buton-3-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Gazebo dan jejeran kios penjual makanan dan minuman. Suasananya terlihat teduh, asri dan bersih. Sumber: Courtesy: Pak Ismail.

Meskipun kolam ini berbentuk memanjang seperti sungai, namun saya tak melihat dari mana aliran air dari arah daratan yang masuk menuju sungai ini.

Pak Ismail menduga, kemungkinan air yang ada bersumber dari mata air di dasar kolam. Air dari kali biru ini terus mengalir membentuk sungai kecil hingga bermuara di teluk Pasarwajo.

Daerah Pasarwajo merupakan daratan karst yang didominasi batu kapur. Rembesan air tawar dari darat dan  dan air asin dari laut kemungkinan memancar keluar di dasar kolam, bercampur dan menyatu membentuk semacam sungai sehingga air ini rasanya payau.

Bisa juga, saat pasang di musim kemarau, sebagian air laut mengalir berbalik arah melalui muara dan masuk hingga mencapai kolam ini.

Diskusi kami semakin seru hingga tak terasa, ibu pemilik kios telah berdiri di depan kami dan meletakkan beberapa gelas sarabba susu, dua piring gorengan beserta satu piring kecil sambal. Kami pun segera menyerbu gorengan dan membasahi kerongkongan yang kering dengan sarabba susu.

Kali biru-buton-2-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Kolam di kali biru. Sumber: Courtesy: Pak Ismail.

Rasa hangat terasa nikmat menjalar di leher hingga lambung. Kami pun menghentikan diskusi, untuk merasakan nikmatnya sensasi hangat dari sarabba yang mengalir seteguk demi seteguk.

Tiba-tiba, seorang pengamen tunanetra muncul dan duduk di kursi tepat di belakang kami. Dengan ramah dan santun, bapak itu menyapa, “Sore, boleh saya menyanyikan sebuah lagu ?”. Teman kami yang mengenal bapak itu segera mengiyakan.

Dalam sekejap,  suasana menjadi hening dan senyap. Spontan, kepala kami tertunduk seperti ingin mengheningkan cipta. Langsung saja bapak itu memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu balada yang membuat hati kami porak-poranda.

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika ia ku tanya mengapa
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut ku kabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit                                                                                            
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita yang selalu
Salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
C0ba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Suara bapak itu mengalun merdu, merintih sedih dan mengharu biru. Entah mengapa, seperti ada rasa pilu menyesak di dada, saat mendengar lagu Ebiet G. Ade yang dinyanyikannya. Nada-nada itu terasa seperti menghujam kalbu.

Setelah selesai, seorang teman kami meraih tangan si bapak dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam genggamannya. Bapak pengamen ini pun segera beranjak sambil berkata “Terima kasih dek. Semoga cepat dapat jodoh… !!!”.

Spontan kami tertawa terbahak-bahak, karena sebagian besar dari teman-teman kami ini telah berkeluarga. Suara tawa kami terdengar keras sekali.

Akhirnya bapak yang jenaka itu berkata sambil tersipu, “Kalo begitu, semoga rejekinya adek bertambah banyak”. Kami kembali tertawa dan mengaminkannya. Aamiin. Bapak itu pun tertawa lebar dan segera berlalu.

Saya pun menanyakan perihal bapak itu. Teman kami menjelaskan bahwa bapak pengamen itu bernama Pak Abdul. Dia tinggal di sekitar kali biru dan memang sering mengamen di sini. Saya terkesan dengan pak Abdul ini, karena selain suaranya yang merdu, orangnya juga ramah dan jenaka.

Kali biru-buton-5-dody94.wordpress.com

Gambar 5. Menikmati senja di kali biru. Sumber: Courtesy: Pak Ismail.

Kami pun melanjutkan diskusi tentang kali biru. Pak Ismail menjelaskan bahwa tempat ini merupakan lokasi kumpul-kumpul favorit bagi masyarakat Pasarwajo.

Mulai dari para pemuda, remaja, keluarga, hingga pejabat pemerintah kabupaten sering berkumpul menikmati senja dan malam di sini. Kali biru juga sering dijadikan lokasi reuni, tempat janjian, mencari hiburan dan lain-lain.

Tak terasa, hari beranjak semakin sore, suasana kali biru semakin ramai. Rombongan muda-mudi bermotor dan pengunjung yang membawa keluarga mulai berdatangan. Rasanya, saya belum puas menikmati senja di sini. Namun apa daya, saya harus segera pulang. Semoga saja, dilain kesempatan, saya bisa kembali lagi, untuk menikmati secangkir kopi di kali biru.

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.