Senja di Kampung Bajo Pulau Buton

Hari sudah sangat sore, saat mobil kami dengan kencang mendaki tanjakan bukit dalam perjalanan pulang ke Pasarwajo. Sepanjang siang tadi, kami menjelajahi kampung di pesisir Wabula untuk melihat lebih dekat kehidupan nelayan setempat.

Dari puncak bukit, pantai yang surut terlihat jelas. Deburan ombak silih berganti menghantam karang di tepi tubir rataan terumbu yang berjarak ratusan meter dari bibir pantai.

Sebuah struktur serupa pagar kayu membentang tegak lurus dari garis pantai. Di sisi kiri dan kanannya juga terdapat pagar serupa.  Ketiga ujungnya bertemu di satu titik membentuk formasi anak panah. Struktur seperti pagar kayu ini disebut Sero, sebuah perangkap ikan yang mengandalkan pasang surut air laut.

Sero-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Sero terlihat dari atas bukit. Sumber: dokumentasi pribadi.

Saat pasang, ikan –ikan dari laut akan berenang menuju pantai untuk mencari makan, memijah atau menghindari pemangsa. Ketika air beranjak surut, ikan-ikan ini akan berenang kembali ke laut. Sebagian ikan akan menyusuri dinding pagar kayu yang telah dipasangi jala hingga mencapai laut.

Tanpa sadar, ikan terus berenang hingga masuk ke ujung pagar. Di ujung pagar ini terdapat kepala sero yang berbentuk melingkar. Pintu masuk ke kepala sero berukuran kecil hingga ikan yang telah masuk dan terperangkap, sulit untuk keluar. Nelayan kemudian menangkap ikan yang terperangkap di ujung sero menggunakan jala, menusuk dengan tombak atau menebasnya dengan parang.

Selepas puncak bukit yang tinggi,  jalan mulai menurun tajam menyusur bagian atas perbukitan.  Ketika mobil kami tiba di sebuah pertigaan,  dari arah pantai terlihat deretan bangunan seperti terapung di atas laut, berpadu rona senja jingga kebiruan, membias di atas cakrawala. Segera saja mobil kami berbelok arah menuruni lereng menuju pantai.

Bajo Berese Holimombo Wabula Buton-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Senja di Kampung Bajo Berese, Desa Holimombo, Kecamatan Wabula, Pulau Buton. Sumber: dokumentasi pribadi.

Tepat di depan kantor kepala desa Holimombo, terpampang sebuah pemandangan yang sangat  indah. Sebuah kampung Bajo berdiri megah di atas air. Berbeda dengan kampung Bajo di Teluk Tomini (Togean) dan Wakatobi yang pernah penulis kunjungi, kampung Bajo ini tampak lebih modern.  Kampung ini dihubungkan dengan daratan melalui jalan kecil dari semen dengan tiang-tiang listrik berjajar ditepinya.

Sebagian besar penduduk kampung Bajo ini berprofesi sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan, teripang dan keong Lola untuk dijual. Mereka mengidentifikasikan diri sebagai suku Bajo Berese yang dulunya berasal dari Teluk Bone. Nenek moyang mereka kemudian pindah ke Bau-bau terus ke Pasarwajo dan akhirnya menetap di Desa Holimombo (Kecamatan Wabula).

Suku Bajo terkenal sebagai pelaut ulung. Mereka berani mengarungi lautan hingga ke Philipina, Nusa Tenggara Timur dan bahkan hingga ke Australia untuk mencari teripang hanya dengan menggunakan perahu kecil saja.

Jalan Kampung Bajo-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Jalan menuju kampung Bajo Berese. Sumber: dokumentasi pribadi.

Salah satu video dari BBC di youtube menunjukkan bagaimana kemampuan menyelam seorang nelayan Bajo. Dengan hanya bermodalkan kacamata dan speargun sederhana, nelayan ini berenang turun dengan sangat santai hingga ke dasar laut pada kedalaman 20 meter.

Nelayan ini kemudian berdiri dan berjalan di dasar laut mencari ikan yang akan ditembak. Setelah ikan yang menjadi target ditemukan, nelayan Bajo ini pun membidik dan menembak ikan tersebut.

Tak lama berselang, seekor ikan yang cukup besar terlihat berenang menggelepar tak tentu arah, setelah tertembus anak panah spear gun. Nelayan ini pun kemudian mengambil ikan tersebut dan berenang naik ke permukaan dengan santai.

Mengolah Landak Laut-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Mengumpulkan gonad/telur Landak Laut Tripneustes gratilla. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah memarkir mobil, kami langsung berjalan menuju Kampung Bajo. Saat tiba di ujung jalan semen, kami bertemu sekelompok ibu-ibu yang sedang memecahkan cangkang landak laut untuk diambil telurnya. Telur-telur ini akan dijual di pasar. Masyarakat Buton khususnya suku Bajo telah terbiasa mengonsumsi telur landak laut.

Di Kepulauan Wakatobi, saat nelayan berhenti melaut karena musim ombak besar, penduduk akan mencari dan mengonsumsi telur landak laut sebagai pengganti ikan. Telur landak laut memiliki protein yang tinggi. Landak laut yang dikonsumsi umumnya berasal dari jenis Tripneustes gratilla yang banyak ditemukan di padang lamun.

Hanya sekitar 30 menit saja kami singgah di Desa Holimombo. Kami tak sempat masuk ke kampung Suku Bajo karena hari sudah semakin gelap. Kami pun beranjak menuju mobil untuk kembali pulang. Di tengah jalan, kami mendengar sayup-sayup suara adzan berkumandang dari Kampung Bajo.

Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.