Pemandian alam Kali Topa

Setelah Benteng Lipuogena dan Kali biru, tempat wisata yang menjadi target kunjungan selanjutnya adalah Wabula. Dari informasi yang diperoleh, ada banyak spot wisata menarik di sepanjang pesisir selatan yang berjarak 25 km dari Pasarwajo ini. Kami memutuskan untuk berangkat jam 14.00 siang karena lokasi yang dituju dapat ditempuh dalam waktu 30-45 menit menggunakan mobil.

Berangkat dari Pasarwajo, kami menyusuri jalan beraspal mulus sepanjang pantai melewati Takimpo, Kondowa dan Takawa. Dari sini, kami berbelok kanan menyisir perbukitan karst menuju Wabula. Kami tidak meneruskan jalan melewati pesisir Tanjung Dongkala yang ramai.

Selepas daerah Takawa yang padat penduduk, pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan berganti menjadi kebun dan hutan. Jalan yang dilalui, kini tak lagi beraspal, namun dalam kondisi bagus karena baru saja diperluas dan diperkeras dengan tanah berkapur.

Mobil terus melaju melewati daerah berkapur dan kebun Jambu Mete yang luas. Jalanan semakin menanjak. Setelah melewati salah satu puncak bukit, jalan terus menurun. Pemandangan di sisi kiri dan kanan masih didominasi kebun Jambu Mete dan ubi kayu.

Kondisi jalan sejauh ini relatif bagus dan masih dalam tahap pengerasan serta perluasan sebelum di aspal. Material berupa tanah berkapur yang digunakan untuk membangun jalan memiliki kelebihan dibandingkan tanah biasa, karena tidak mudah becek dan tidak menyebabkan ban kendaraan selip saat hujan.

Setelah jalan berkapur yang sedang dalam pembangunan ini berganti menjadi jalan tanah, barulah kami sadar bahwa kami telah mencapai pesisir pantai dan mulai masuk pinggiran daerah permukiman penduduk Desa Wabula. Di sini, tegakan puluhan batang kelapa mendominasi pandangan kami.

Kali Topa-1-dody94.wordpress.comGambar 1. Pemandian Kali Topa. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kami langsung berbelok ke sebuah pemandian alam yang disebut Kali Topa. Disebut demikian, karena pemandian ini terletak di dusun Topa, Desa Wabula, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton. Lokasinya persis di samping sebuah sekolah dasar.

Hadirnya berbagai jenis pohon besar dan tegakan kelapa yang menjulang tinggi membuat rindang daerah sekitar kolam. Bebatuan karst terlihat menyembul dari dasar kolam di beberapa titik.

Jam di telepon genggam menunjukkan pukul 15.00. Suasana sangat sepi. Tak ada seorang pun yang ada di sekitar kolam. Permukaan air kolam terlihat hanya beberapa jengkal saja karena laut sedang surut sangat rendah.

Pemandian ini berbentuk kolam panjang seperti sungai kecil yang bermuara ke laut. Airnya jernih, berwarna kehijauan dan terasa payau. Dasar kolam terlihat sangat jelas, terdiri dari pasir berkapur berwarna putih.

Kali Topa-2-dody94.wordpress.comGambar 2. Tangga turun menuju kolam. Sumber:dokumentasi pribadi.

Tidak adanya endapan lumpur di dasar kolam menunjukkan bahwa kemungkinan sumber air tawar berasal dari mata air yang ada di sepanjang kolam dan bukan dari hulu sungai.

Air menjadi payau karena bercampur dengan air laut yang masuk ke dalam kolam melalui muara saat pasang tinggi.

Sebuah dinding buatan seperti benteng dibangun sepanjang sisi kanan kolam. Tembok ini difungsikan sebagai tempat duduk bagi pengunjung. Sebuah tangga berundak-undak yang cukup panjang juga dibangun untuk memudahkan akses memasuki kolam.

Di sisi seberang, berdiri dinding karst berlubang-lubang yang memperkuat kesan alami dari kolam ini. Kolam bermuara ke sebuah pantai berpasir yang sangat luas dan dangkal.

Kali Topa-3-dody94.wordpress.comGambar 3. Dinding karst di seberang kolam. Sumber: dokumentasi pribadi.

Menurut pak Ismail, warga asli pasarwajo yang mengantarkan kami, kolam ini dulunya merupakan pemandian umum yang digunakan oleh warga desa. Tempat mandi laki-laki dan perempuan terpisah.

Adanya dinding karst yang berlekuk-lekuk dan bahkan menyembul di tengah kolam dapat menjadi tempat untuk “berlindung” bagi pengunjung yang malu mandi di depan umum. Rasa payau dan ketinggian air kolam berubah-ubah setiap waktu karena bergantung pada pasang surut air laut.

Kini, pemandian Kali Topa semakin populer. Di musim liburan, banyak pengunjung dari luar seperti Pasarwajo dan Bau-Bau yang datang untuk mandi dan berenang di kolam ini.

Selain ke Kali Topa, pengunjung dari luar kota umumnya juga mendatangi beberapa obyek wisata lain yang ada diantara  Pasarwajo-Desa Wabula seperti: Benteng Lipuogena di Takimpo, Kampung nelayan di Dongkala, Kampung Bajo Berese di Desa Holimombo hingga pantai tebing Tanjung Pemali yang sangat indah dan menjadi titik paling selatan dari Pulau Buton.

Kali Topa-4-dody94.wordpress.comGambar 4. Suasana asri dan luasnya pantai berpasir yang dangkal saat surut. Sumber: dokumentasi pribadi.

Suasana yang masih alami dan akses terbuka menjadi kelebihan dari pemandian ini. Air kolam yang segar, jernih, selalu berganti setiap saat dan bebas bahan kimiawi menjadi bonus tersendiri. Perubahan suhu air kolam dan salinitas (kadar garam) yang terjadi setiap hari, membuat mikroorganisme penyebab penyakit lebih sulit berkembangbiak.

Akhirnya, setelah puas mendinginkan badan dan menikmati angin laut yang berhembus sejuk di pemandian ini, kami melanjutkan perjalanan memasuki desa Wabula.

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.