Asal-Usul Bukit Teletubbies di Pulau Buton

Setiap kali berangkat dari Pasarwajo menuju Bau-Bau, saya takjub melihat bukit-bukit hijau yang indah di salah satu ruas jalan yang dilalui. Bentuknya kerucut seperti nasi tumpeng. Anehnya, tak ada sebatang pohon pun yang tumbuh di atasnya.

Saya membayangkan dulunya bukit-bukit itu diselimuti hutan lebat. Lalu pohon-pohon besar yang ada ditebang habis hingga menyisakan permukaan tanah yang gundul merana. Akhirnya, bukit ini ditumbuhi hamparan rumput seperti sekarang karena lapisan humusnya telah hilang terbawa erosi. Ternyata, dugaan saya ini salah besar.

Bukit Teletubbies Buton-1-dody94.wordpress.com

Gambar 1. Bukit teletubbies di Pulau Buton. Sumber: dokumentasi pribadi.

Buton adalah sebuah pulau yang muncul dari dasar laut. Pulau ini berasal dari gugusan terumbu karang yang naik ke permukaan laut akibat aktifitas lempeng tektonik bumi yang berlangsung selama jutaan tahun. Keberadaan perbukitan dan tebing pantai dari batu kapur yang tersebar di seantero Buton menjadi buktinya.

Batu kapur yang menyusun perbukitan karst ini terbentuk dari ratusan jenis hewan karang yang menghasilkan kerangka kapur dengan bentuk, struktur dan kepadatan yang berbeda-beda.

Ada hewan karang yang tumbuh menghasilkan kerangka kapur secara cepat namun rapuh seperti karang bercabang Acropora. Ada pula hewan karang yang sangat lambat mengakumulasi zat kapur namun dapat membentuk rangka kapur sekeras batu gunung seperti pada hewan karang berbentuk bongkahan dari marga Porites.

Selama jutaan tahun, berbagai jenis hewan karang ini terus tumbuh, campur aduk, kemudian mati dan menjadi fosil atau membatu. Akhirnya, terbentuk lapisan-lapisan batu kapur yang memiliki kepadatan berbeda dengan ketebalan hingga ribuan meter. Lapisan batu kapur ini secara perlahan-lahan terangkat ke permukaan laut hingga membentuk sebuah pulau.

Bukit Teletubbies Buton-4-dody94.wordpress.com

Gambar 2. Bukit teletubbies di Pulau Buton. Tampak jalan raya Pasarwajo-Bau-bau yang beraspal mulus. Tanaman jagung terlihat di foto bagian depan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jauh di atas permukaan laut, lapisan batu kapur yang membentuk pulau sedikit demi sedikit menjadi lapuk akibat terpapar panas matahari, hujan dan angin. Suhu siang hari yang panas dan suhu malam hari yang dingin membuat batu kapur ini lama kelamaan menjadi retak.

Air hujan kemudian melarutkan sebagian zat kapur ini dan membuat retakan berubah menjadi rekahan yang lebih lebar. Lapisan yang lunak atau kurang padat dengan cepat akan larut oleh air hujan.

Akhirnya, lapisan dalam bentuk perbukitan batu kapur setebal ribuan meter ini akan berlubang-lubang membentuk ceruk, gua, stalagtit, stalagmit, sungai bawah tanah, terowongan, tebing, kolam bawah tanah, air terjun dan sebagainya.

Di atas permukaan laut, lapisan batu kapur setebal ribuan meter yang lapuk oleh panas matahari serta tergerus air hujan dan angin akan membentuk berbagai macam objek. Ada yang berbentuk perbukitan memanjang, bukit dengan dinding tebing yang terjal, bukit yang tegak berbentuk menara, bukit yang tergerus dasarnya hingga berbentuk seperti jamur dan sebagainya. Salah satu formasi batu kapur yang terbentuk secara unik adalah bukit-bukit kerucut yang kini kita kenal sebagai bukit teletubbies.

Bukit Teletubbies Buton-2-dody94.wordpress.com

Gambar 3. Pemandangan dari arah puncak salah satu bukit teletubbies di Pulau Buton. Sumber: dokumentasi pribadi.

Bukit kapur berbentuk kerucut secara perlahan-lahan akan ditumbuhi lapisan bakteri dan alga hijau-biru berlendir. Sebagian bakteri dan alga hijau-biru kemudian mati, membusuk dan menyisakan bahan organik di permukaan batu kapur. Benih (spora) lumut yang tertiup angin dan jatuh di permukaan bukit kemudian tumbuh memanfaatkan bahan organik yang berasal dari bakteri dan alga hijau-biru.

Sebagian lumut ini yang tumbuh kemudian mengering dan mati saat musim kemarau, membentuk lapisan organik yang lebih tebal. Setelah lapisan organik atau humus cukup tebal, rumput pun kemudian tumbuh dan mendominasi permukaan bukit. Saya belum tahu apakah rumput ini merupakan spesies klimaks dari proses suksesi tumbuhan di bukit teletubbies.

Dengan akarnya yang menjalar ke segala arah, rumput mampu membentuk suatu lapisan yang dapat menyimpan air. Daun rumput yang mati pun akan terperangkap kemudian membusuk dan berubah menjadi zat hara yang dapat dimanfaatkan kembali oleh rumput.

Pada musim kemarau yang sangat panas, rumput akan mengering. Gesekan antar rumput atau sambaran kilat dan petir dapat menyebabkan timbulnya percikan api yang membakar seluruh padang rumput. Abu yang tersisa dari kebakaran tadi menjadi zat hara baru.

Saat musim hujan, biji rumput yang tertiup angin dan jatuh di permukaan bukit yang terbakar atau sisa biji rumput yang selamat dari api akan tumbuh dengan cepat menyelubungi seluruh permukaan bukit.

Bukit Teletubbies Buton-3-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Industri pembuatan batako dari batu kapur (kiri atas). Kaki bukit teletubbies yang digali untuk diambil kapurnya (kiri bawah). Papan peringatan bahaya kebakaran lahan di bukit Teletubbies (kanan). Sumber: dokumentasi pribadi.

Lapisan tanah dan humus yang terbentuk di permukaan bukit akan cukup bagi rumput untuk hidup, namun terlalu tipis bagi tumbuhan yang lebih besar. Pohon yang besar membutuhkan bahan organik yang jauh lebih banyak.

Selain itu, permukaan bukit teletubbies sangat keras dan tidak memiliki kandungan air sehingga akar pohon tidak mampu menembus ke dalam lapisan batu kapur. Inilah sebabnya mengapa di atas bukit teletubbies tidak ditemukan pohon.

Pada suatu siang, saya dan beberapa teman singgah untuk menikmati keindahan bukit teletubbies. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang terus menanjak hingga puncak. Dari atas bukit, kami dapat melihat lebih jelas kondisi sekeliling. Beberapa bagian kaki bukit yang datar telah dipagar, ditanami ubi kayu dan jagung.

Di tepi jalan raya, tampak beberapa lokasi telah digali. Batu kapur yang ada di kaki bukit digerus dengan alat berat atau di tambang secara manual untuk dijadikan batako. Jika tidak dilakukan secara hati-hati dan terencana, kegiatan penambangan ini dapat merusak lansekap bukit teletubbies yang indah.

Jika area sekitar terus ditambang, maka bukit teletubbies yang terbentuk secara alami selama jutaan tahun ini akan hilang dalam sekejap. Adanya tambang di kaki bukit menjadi bukti bahwa bukit teletubbies di Pulau Buton terbentuk dari batu kapur.

chocolate-hills-1-exploratrip.wordpress.com

Gambar 5. Chocolate Hills di Pulau Bohol, Phillipines. Sumber: exploratrip. wordpress. com.

Salah satu negara yang berhasil mengelola bukit teletubbies menjadi obyek wisata andalan yang menghasilkan devisa besar adalah Filipina. Di sebuah pulau bernama Bohol, terdapat sebuah kawasan seluas 50 km persegi yang didominasi hamparan bukit teletubbies.

Jumlah bukit yang ada diperkirakan berkisar antara 1.200 hingga 1.800 bukit dengan tinggi mulai dari 50 meter hingga 120 meter. Kawasan ini dikenal dengan nama Chocolate Hills dan kini dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Disebut Chocolate Hills karena pada musim kemarau, bukit-bukit ini akan tampak berwarna coklat akibat rumput yang mengering.

Sebagaimana bukit teletubbies, bukit di Chocolate Hills juga terbentuk dari batu kapur. Hal ini terlihat dari bekas lereng bukit yang runtuh dan tersingkap yang menunjukkan endapan batu kapur berwarna putih sebagai penyusun dari bukit-bukit di kawasan Chocolate Hills.

Endapan batu kapur ini terdiri dari bekas-bekas kerangka hewan laut seperti hewan karang, foraminifera, moluska dan fosil biota laut lainnya. Saya belum tahu apakah jenis tanah atau tipe batuan lainnya dapat membentuk bukit teletubbies seperti bukit berkapur di pulau Buton.

chocolate-hills-1-broken-bohol.ph

Gambar 6. Chocolate Hill yang utuh (kiri) dan Cocholate Hill yang longsor memperlihatkan lapisan humus dan rumput yang sangat tipis serta batu kapur berwarna putih yang menjadi penyusun bukit. Sumber: bohol.ph.

Pengertian bukit dan gunung sendiri hingga kini tidak terlalu jelas. Di sebagian negara, bukit didefenisikan sebagai bentuk daratan yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya hingga ketinggian 1000 feet (304,8 meter).

Namun, beberapa pustaka seperti Kamus bahasa Inggris Oxford, menyatakan bahwa batasan bukit adalah hingga ketinggian 2000 feet atau 610 meter. Obyek berupa daratan yang lebih tinggi dari 610 meter dikategorikan sebagai gunung.

Menurut Wikipedia, USGS (United States Geological Survey) sendiri tidak mendefenisikan pengertian bukit dan gunung secara khusus. Saya pribadi lebih cenderung memilih definisi kedua, dimana puncak daratan yang berada di bawah 610 meter disebut bukit dan puncak daratan di atas 610 m disebut gunung.

Alasannya, pada ketinggian di atas 610 meter yang didefinisikan sebagai gunung, mulai tampak perubahan lingkungan akibat pengaruh ketinggian, baik itu menyangkut suhu, kelembaban maupun komposisi flora dan fauna.

Demikian kira-kira asal-usul terbentuknya bukit teletubbies yang ada di pulau Buton. Semoga bermanfaat.

Pos ini dipublikasikan di Kebumian dan tag , , . Tandai permalink.