Udang Merah Pantai Koguna

Buton adalah pulau terbesar di jazirah tenggara Sulawesi. Rona alamnya didominasi oleh perbukitan kapur dan hutan tropis yang lebat. Membentang dari utara ke selatan, pulau Buton memiliki garis pantai yang panjang.

Tipe pantai yang ditemukan di Buton sangat bervariasi. Mulai dari pantai berpasir putih yang dangkal, pantai berlumpur, pantai berbatu hingga pantai tebing yang terjal. Salah satu pantai berpasir putih yang khas di pulau ini adalah pantai Koguna.

Pantai Koguna terletak di Desa Mopaano, Kecamatan Lasalimu Selatan Kabupaten Buton. Letak pantai ini sangat strategis karena dekat dengan Pulau Wangi-Wangi yang menjadi ibukota Kabupaten Wakatobi. Dari pantai Koguna, Wakatobi dapat dicapai menggunakan kapal dalam waktu satu jam saja.

Koguna-1-dody94.wordpress.comGambar 1. Pantai Koguna. Sumber: dokumentasi pribadi.

Berbeda dengan pantai lain yang banyak ditumbuhi kelapa, vegetasi pantai Koguna didominasi oleh pohon Cemara Laut Casuarina equisetifolia. Cemara ini berbatang besar, tumbuh tinggi membentuk hutan pantai yang teduh dan asri.

Pantai Koguna mempunyai garis pantai berpasir putih sepanjang 2 km. Airnya jernih kebiruan. Profil pantainya tergolong landai dengan hamparan pasir yang luas dan dangkal. Tipe pantai ini sangat cocok bagi keluarga yang ingin berlibur bersama anak-anak dengan bermain air, bola atau pasir di pantai.

Pengunjung tak perlu khawatir karena fasilitas toilet sedang dibangun. Deretan kios penjual makanan dan minuman serta balai-balai untuk beristirahat dapat ditemukan di sepanjang pantai.

Koguna-2-dody94.wordpress.comGambar 2. Cemara Laut Casuarina equisetifolia (kiri) dan papan petunjuk ke pantai Koguna (kanan) . Sumber: dokumentasi pribadi.

Tidak jauh dari garis pantai ke arah hutan bagian dalam, terdapat sebuah telaga berair payau berukuran 70 x 25 m. Tepian telaga tersusun dari bongkahan batu-batu karang berlubang-lubang yang tajam.

Di sela-sela bongkahan batu cadas ini, tumbuh bakau dari jenis Tanjang Merah Bruguiera gymnorrhiza yang akarnya kokoh mencengkeram karang. Dari ukuran batangnya yang besar, dapat diketahui bahwa pohon bakau yang tumbuh di telaga ini telah berusia tua.

Koguna-3-dody94.wordpress.comGambar 3. Kedai kecil penjual makanan/ minuman. Sumber: dokumentasi pribadi.

Telaga kecil ini menjadi habitat bagi ribuan ekor udang kecil seukuran jari kelingking orang dewasa. Seluruh tubuhnya berwarna merah seperti cabe/lombok besar. Udang ini pertamakali ditemukan oleh penduduk setempat sekitar tahun 1971.

Uniknya udang merah di pantai Koguna ini cukup jinak dan tidak takut dengan kehadiran manusia. Bahkan, jika kita memasukkan kaki ke dalam air, udang ini akan datang menghampiri dan mencubit kaki kita dengan sepasang capitnya.

Koguna-4-dody94.wordpress.comGambar 4. Telaga kecil habitat udang merah. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rasanya cukup menyakitkan, namun tidak sesakit gigitan semut merah. Walau terlihat jinak, udang merah mampu bergerak cepat sehingga sulit ditangkap. Selain udang merah,  di telaga kecil pantai Koguna juga ditemukan beberapa jenis keong dan kepiting.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, udang merah di pantai Koguna merupakan udang keramat yang berasal dari prajurit Kesultanan Buton yang dikutuk. Udang ini juga diyakini akan membawa musibah bagi orang-orang yang memakan atau mengambilnya.

Dari hasil pengamatan kami, perilaku udang merah ini mirip dengan udang pembersih yang hidup di laut. Udang pembersih di laut biasanya bersifat omnivora yang memakan hewan dan tumbuhan.

Udang ini memakan sisa bagian tumbuhan dan hewan yang telah mati. Oleh karenanya udang pembersih kerap digolongkan ke dalam hewan pemakan bangkai (scavenger).

Koguna-5-dody94.wordpress.comGambar 5. Akar dan batang bakau dari jenis Tanjang Merah Bruguiera gymnorrhiza. Tampak bongkahan karang di sepanjang tepi telaga. Sumber: dokumentasi pribadi.

Daun bakau Tanjang merah umumnya berguguran dan jatuh di dalam telaga. Serasah daun yang membusuk atau hewan kecil yang ada dalam serasah inilah yang mungkin menjadi sumber makanan udang merah.

Telaga udang merah dulunya mungkin berada di tepi laut atau memiliki hubungan dengan laut sebelum terputus oleh endapan pasir yang kemudian ditumbuhi hutan pantai. Namun air telaga yang asin atau payau menunjukkan masih adanya pengaruh laut terhadap telaga ini. Di dasar atau di tepi telaga mungkin terdapat saluran atau terowongan kecil yang menghubungkan telaga ini dengan laut.

Belum diketahui apakah terowongan atau saluran bawah tanah memungkinkan larva udang merah keluar menuju laut dan tersebar ke pulau lainnya. Sebab, udang merah serupa juga ditemukan di danau Sombano Pulau Kaledupa, Wakatobi. Penulis pernah berenang di danau asin Pulau Kapota (Kambode), namun tidak menemukan spesies udang merah yang sama.

Koguna-6-dody94.wordpress.comGambar 6. Daun bakau yang berguguran membentuk serasah di dalam telaga. Sumber: dokumentasi pribadi.

Udang pembersih yang hidup di laut, memiliki perilaku unik. Udang ini biasanya akan berkumpul di lokasi tertentu di daerah terumbu karang yang disebut “stasiun pembersih”. Ikan-ikan besar seperti Kerapu dan Penyu biasanya akan singgah berdiam diri sebentar di stasiun pembersih.

Parasit dan jaringan/sel-sel mati yang terdapat di kulit penyu atau di dalam mulut Kerapu akan dibersihkan oleh udang pembersih menggunakan sepasang capitnya. Salah satu jenis udang pembersih di laut yang berwarna merah cerah dan paling dikenal adalah Lysmata amboinensis.

Koguna-8-dody94.wordpress.com

Gambar 7. Udang merah berkumpul di sekitar kaki. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pantai Koguna berjarak sekitar 80 km dari kota Pasarwajo dan dapat ditempuh selama 2 jam menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Kondisi jalan sebagian telah di aspal dan sisanya masih berupa pengerasan.

Di sekitar jalan menuju pantai Koguna terdapat area kebun Jambu Mete yang luas. Pengunjung juga melewati perkampungan Bali dengan pura kecil di masing-masing pekarangan rumah yang eksotis.

Berinteraksi dengan udang merah merupakan pengalaman yang mengesankan. Rasanya, kami tak ingin cepat-cepat pulang. Kami merasakan sensasi berbeda, saat udang merah berjalan merayap dan menjelajah di atas dan sela-sela jari kaki.

Koguna-9-dody94.wordpress.comGambar 8. Udang merah membersihkan sel kulit mati yang ada di kulit kaki. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sungut udang yang panjang dan gerakan kaki-kaki udang yang merayap di atas kulit kaki menimbulkan rasa geli. Puncaknya terjadi, saat sepasang capit udang ini mencubit kaki untuk mengambil sel-sel kulit mati. Campuran rasa geli dan sakitnya membuat kelopak mata berkejap-kejap.

Untuk memancing udang merah agar berkumpul dalam jumlah banyak, pengunjung perlu memancingnya menggunakan remah-remah biscuit atau roti yang ditaburkan ke dalam telaga. Setiap kali saya membuang potongan kecil roti, sekitar 40-50 ekor udang merah akan berkumpul di dekat kaki.

Keberadaan udang merah seperti di telaga Pantai Koguna merupakan fenomena alam yang jarang ditemukan di tempat lain sehingga perlu dilestarikan. Belum diketahui apa penyebab warna merah menyolok pada udang merah ini. Nama spesies atau nama ilmiah udang ini pun tidak kami ketahui. Namun, udang yang cantik ini berpotensi untuk ditangkarkan dan dijadikan udang hias di akuarium.

Koguna-10-dody94.wordpress.comGambar 9. Udang merah pantai Koguna. Sumber: dokumentasi pribadi.

Berbeda dengan telaga kecil di Pantai Koguna yang berair gelap, danau Sombano berukuran cukup besar dengan perairan yang jernih. Dasar perairannya ditumbuhi alga berkapur dari jenis Halimeda opuntia forma triloba, Halimeda opuntia dan beberapa jenis alga lainnya. Vegetasi ini mirip dengan danau Kakaban di Kepulauan Derawan dan danau Mariona di Kepulauan Togean.

Ketiadaan predator pemangsa di danau berair asin yang terisolasi memungkinkan udang merah dapat berkembang hingga mencapai ribuan ekor. Kearifan tradisional yang menganggap udang merah beserta telaga/danau sebagai sesuatu yang keramat juga menjadi faktor tetap lestarinya spesies udang eksotis ini.

Udang Merah

Gambar 10. Udang merah danau Sombano pulau Kaledupa, Wakatobi. Sumber: lostpacker.com.

Telaga kecil ini termasuk ekosistem yang sangat rentan dan rapuh. Sebaiknya, pemerintah daerah/pihak pengelola membiarkan kondisi telaga secara alami apa adanya tanpa pembangunan yang berlebihan di sekeliling telaga.

Pembangunan dinding telaga menggunakan semen atau beton dikhawatirkan akan merubah kondisi kimiawi air sehingga berakibat buruk bagi populasi udang. Terlalu banyak bangunan permanen menggunakan semen dan tembok di sekitar telaga kurang disukai pengunjung.

Penghijauan di sekitar telaga, pengelolaan kebersihan, pemasangan papan petunjuk dan informasi tentang udang merah sangat diperlukan untuk menarik lebih banyak pengunjung. Semoga saja udang merah pantai Koguna dan telaga kecilnya tetap lestari.

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.